Rabu, 24 Februari 2021

Menilaikan Sebuah Hadiah


Ketika seseorang sedang berulang tahun, merayakan kenaikan kelas atau suatu kelulusan, Tidak jarang, orang tua kita atau orang-orang yang dekat dengan kita, memberikan suatu hadiah. Seberapa pun nilai hadiah itu, pastilah akan mendatangkan sukacita yang besar. Tetapi ketika menginjak usia yang lebih besar atau dewasa, hadiah yang diberikan pada masa-masa lalu akan berbeda lagi maknanya, bahkan mungkin sudah tidak memiliki nilai lagi bagi kita. 

Hadiah mobil mainan saat masih kecil, pastilah sangat menyukakan. Tapi ketika sudah semakin besar apalagi sudah menginjak usia dewasa, mobil mainan tsb sudah tidak lagi bernilai bagi anak atau orang tersebut. Itulah sebabnya, pada anak-anak yang sudah cukup besar atau menginjak dewasa, hadiah yang diberikan sering kali berupa uang. Alasan sederhana yang mendasarinya adalah, "biar saja uang itu dibelikan apa yang diinginkannya."

Nah bagi orang tua atau kakek, nenek, yang memberikan uang sebagai hadiah kepada mereka, tidak jarang kemudian akan bertanya, "Uangmu engkau gunakan untuk apa? Mereka bertanya demikian karena mereka in
gin agar uang yang diberikan dapat bergu
na untuk membeli sesuatu yang benar-benar mereka sukai, yang sesuai dengan keinginan mereka, yang bermanfaat atau bernilai.

Dalam setiap kebaktian, kita menerima hadiah-hadiah yang sangat berharga dari Allah. Kita masing-masing, dapat menggunakan dan memanfaatkan hadiah tersebut dengan cara yang sangat pribadi. Sebagai contoh, dalam kebaktian, kita menerima kekuatan yang berasal dari Perjamuan Kudus. Tergantung kepada kita masing-masing, kita pergunakan untuk apa kekuatan yang berasal dari Perjamuan Kudus tersebut? Tidak akan ada yang meminta kita untuk memberikan penjelasan tentang apa yang telah kita lakukan dengan kekuatan yang kita peroleh dari Perjamuan Kudus. 

Tetapi kita justru harus sering bertanya pada diri sendiri, "apa yang telah engkau benar-benar lakukan dengan hadiah yang kita terima ini?" Sebenarnya, mungkin sudah ada kesempatan untuk mempergunakan atau mengeluarkan kekuatan yang ada pada Perjamuan Kudus ini, dengan cara yang sangat spesifik. 

Sebagai contoh, ketika kita mengalami ketidakadilan, ketika kita mengalami masa-masa pencobaan, mari kita ingat kekuatan dari Perjamuan Tuhan ini. Biarlah kita dapat tetap bertahan dalam pengetahuan, bahwa kita dapat menguasai situasi ini dengan pertolongan Tuhan! Bahkan jika kita telah gagal untuk kesekian kalinya dalam mencoba untuk memperbaiki diri atau melakukan yang lebih baik, mari kita tetap mencoba lagi dan mulai dari awal lagi dengan menggunakan tenaga kekuatan yang berasal dari Perjamuan Kudus.


Jadi, kita memiliki kesempatan tak terbatas untuk menerapkan kekuatan yang k
ita terima dari Perjamuan Kudus. Marilah kita melakukan sesuatu, dengan hadiah yang telah diberikan kepada kita oleh Allah, yaitu kekuatan yang ada pada Perjamuan Kudus!

Selasa, 23 Februari 2021

Kintsugi

Apa yang akan kita lakukan dengan satu barang yang rusak? Apalagi jika barang tersebut tidak dapat dipergunakan lagi seperti mangkuk yang jatuh dan pecah berkeping-keping. Tempat akhir dari benda tidak berguna itu, seringkali ada di tempat sampah. Kadang kita berusaha memperbaikinya, tapi karena tidak bisa kembali seperti semula maka kita akan membuangnya. 

Tidak demikian halnya dengan seni “kintsugi” yang telah berkembang sejak lebih dari 400 tahun yang lalu. Kintsugi adalah seni memperbaiki bejana tanah liat, mangkuk keramik yang pecah, untuk coba disatukan dan direkat lagi dengan menggunakan emas sehingga menjadi karya seni yang bermutu tinggi dan bernilai. 

Kata kintsugi berarti memperbaiki / menyatukan dengan emas. Seni ini menjadi sejarah seni unik, yang menonjolkan pecahan dan retak, bukan justru menyembunyikannya. 

Menurut catatan sejarah, seni kintsugi dimulai secara tidak sengaja sekitar abad 15 ketika Shogun Ashikaga Yoshimasa memecahkan cawan teh kesayangannya, lalu ia mengirimkan cawan itu ke Tiongkok untuk diperbaiki. Tapi hasilnya ternyata kurang baik dan mengecewakan. 

Seorang tukang di Jepang kemudian mengisi retakan cawan tadi dengan cairan emas dan menjadikan cawan itu sangat indah dan memiliki nilai seni yang tinggi, sehingga cawan yang jatuh pecah itu justru menjadi kesayangan Shogun. 

Seni kintsugi berkembang di berbagai negara seperti Vietnam, Korea dan Tiongkok, selain tentunya di Jepang sendiri. Seni ini memiliki filosofi yang tinggi untuk menghargai keramik yang pecah menjadi benda seni yang bernilai tinggi. 

Filosofi ini ternyata juga bisa dikaitkan dengan kehidupan manusia, baik secara psikologis maupun spiritual religius. 

Apakah saat ini Anda sedang merasakan situasi yang sulit? 

Masing-masing memiliki kisah kehidupan yang berbeda-beda. Mungkin kisah hidup Anda lebih buruk dari kisah hidup saya, tapi mungkin sebaliknya. Kita tidak pernah tahu apa yang sebenarnya dialami, dirasakan dan digumuli oleh seseorang. Apa yang tampak  hanya dari luar, tapi kesusahan dan kerapuhan tidak tampak. Ya betul, setiap orang memiliki kisahnya sendiri. Namun seberapa besar masalah dalam hidup yang sedang dihadapi? Kita mungkin pernah kecewa dengan banyak peristiwa, kecewa pada diri sendiri atau lingkungan. 

Percayalah, meskipun kehidupan kita hancur seperti bejana yang pecah, Tuhan dapat merekatkan kembali kepingan-kepingan kehidupan kita, bahkan bukan saja kembali berfungsi, tapi lebih dari itu, bisa menjadi bejana yang lebih bernilai, "cawan yang retakannya terbalut emas". 

Saat ini seni kintsugi bukan saja mereparasi cawan yang tidak sengaja pecah karena jatuh, tapi malahan benda keramik sengaja dipecahkan berkeping-keping untuk mendapat “retakan yang dinginkan” untuk direkatkan menjadi benda seni yang lebih bernilai tinggi. 

Tuhan lebih memahami kehidupan kita, dan Dia mempunyai rencana yang indah. Jangan menyerah, ketika kita merasa seperti bejana yang pecah. Dia dapat “merekatkan” kita kembali menjadi sesuatu, bahkan dapat menjadikan kita sebagai bejana yang lebih bernilai. 

"Apabila bejana, yang sedang dibuatnya dari tanah liat di tangannya itu rusak, maka tukang periuk itu mengerjakannya kembali menjadi bejana lain menurut apa yang baik pada pemandangannya.” ‭‭Yeremia‬ ‭18:4‬.


Indahnya Memberi - Indahnya Berbagi. Bahagianya Memberi

Seorang dosen yang dikenal bijaksana, tengah berjalan santai bersama seorang mahasiswa di taman kampus. Tidak lama keduanya melihat ada sepa...