Sabtu, 04 Januari 2020

Menahan keinginan Daging

BACAAN ALKITAB

Maksudku ialah: hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging. Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging - karena keduanya bertentangan - sehinga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang kamu kehendaki. Akan tetapi jikalau kamu memberi dirimu dipimpin oleh Roh, maka kamu tidak hidup di bawah hukum Taurat. Perbuatan daging telah nyata, yaitu percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan. sebagainya. Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu, seperti yang telah kubuat dahulu - bahwa barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah. (Galatia 5:16-21)

Renungan

Suku Bashkir yang berada di Rusia memiliki tradisi yang aneh dalam menjual tanah mereka. Jika orang-orang di banyak belahan dunia menjual tanah menurut ukuran luas, namun mereka menjualnya menurut ukuran waktu.

Harga tanah di wilayah suku Bashkir adalah 1000 rubel per-hari. Unik kan? Bukan per-meter ataupun per-hektar.

Maksudnya begini, calon pembeli cukup membayar 1000 rubel kepada kepala suku, kemudian ia dipersilahkan berlari sejauh-jauhnya saat matahari terbit dan ia harus kembali lagi ke titik semula saat matahari terbenam. Maka luas tanah yang berhasil ia kelilingi sepanjang hari itu akan menjadi miliknya!

Suatu hari seorang lelaki bernama Pahom datang dari negeri jauh, demi mendapatkan tanah yang luas dengan harga yang terjangkau. Ia lantas melakukan transaksi kepada kepala suku sebesar 1000 rubel, lalu disepakatilah hari pengukuran tanahnya.

Pada saat hari yang ditentukan itu tiba, seluruh penduduk suku Bashkir berkumpul di titik awal. Tepat saat matahari terbit, Pahom mulai berlari. Ia bersemangat sekali karena sepanjang tanah yang ia pijak itu kelak akan menjadi miliknya. Alangkah mudahnya!

Lelaki itu sesekali melihat ke belakang, ternyata titik awal sudah begitu jauh. Betapa gembira rasanya melihat calon tanah kekayaannya akan seluas itu. Cukup untuk membangun rumah yang sangat besar dengan pekarangan yang amat lebar.

Pahom ingin mengakhiri perjalanannya. Ia tinggal berlari membentuk rute melingkar ke arah pulang. Tetapi dilihatnya di depan sana kebun-kebun suku Bashkir yang subur dan ranum buahnya. Bukankah ia cukup berlari melewati kebun itu, nanti secara otomatis akan menjadi miliknya?

Maka Pahom memutuskan berlari maju kembali. Semakin terkejut saat di depan kebun terhampar sungai indah yang jernih airnya. Tentu ia semakin tergiur. Rumah besar, kebun ranum, dan sungai jernih akan menjadi miliknya. Pahom terus berlari.

Di seberang sungai, berdiri kokoh bukit hijau yang sedap dipandang mata. Pahom masih punya waktu sampai matahari tenggelam, ia hanya perlu berlari lebih jauh lagi, maka ia akan menjadi pemilik bukit! Pahom terus berlari dan berlari. Hingga akhirnya napasnya tersengal-sengal. Ia terjatuh kelelahan. Tak lama kemudian ia meninggal dunia kehabisan napas!

Demikianlah ringkasan dari sebuah cerpen fiksi karangan sastrawan Rusia, Leo Tolstoy, yang berjudul How Much Land Does A Man Need. Nilai moral dari cerpen tersebut adalah manusia yang tidak pernah puas, ternyata justru tidak mendapatkan apa-apa.

Di sini adalah penting untuk memahami apa yang dimaksud dengan keinginan daging. Sebab dengan memahami maksud dari keinginan daging, maka kita akan mengerti bagaimana hidup menurut Roh. Dalam Roma 8:5-8, tertulis: "Sebab mereka yang hidup menurut daging, memikirkan hal-hal yang dari daging; mereka yang hidup menurut Roh, memikirkan hal-hal yang dari Roh. Karena keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera. Sebab keinginan daging adalah perseteruan terjadap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya. Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah."

Kata " keinginan" dalam teks aslinya adalah phroneo, yang berarti "the way of thinking" (cara berpikir) atau mindset (pola pikir), yaitu cara menerima sesuatu, memproses, menganalisa dan mempertimbangkan untuk selanjutnya membuat keputusan.

Selanjutnya, seperti yang telah tersebut di atas, yang dimaksud keinginan daging, tidak hanya dimaksudkan gairah, hasrat seksual, tetapi lebih pada cara bertindak sebagai tindak lanjut dorongan kebutuhan daging, jasmani atau nafsunya. Sebagai akibatnya, tindakan-tindakan yang dilakukannya tidaklah sesuai dan sejalan dengan kehendak dan pikiran Allah.

Orang yang hidup menurut daging, berarti tidak hidup dalam pimpinan Roh kudus, sehingga ia bukanlah atau tidak dapat disebut sebagai anak-anak Allah (Roma 8:14). Meskipun demikian bukan berarti bahwa mereka pasti orang jahat. Mereka mungkin masih bisa berbuat baik sesuai dengan norma yang ada atau adat-istiadat maupun tradisi yang ada. Tetapi apa yang dipikirkan, tidaklah sejalan dengan kepikiran Allah.

Sebenarnya kita semua bisa hidup bahagia dengan apa yang kita miliki saat ini. Namun karena keinginan daging yang tertuang dalam pola pikir atau cara berpikir yang tidak sejalan dengan kehendak Allah, maka yang muncul adalah sifat yang tak pernah merasa cukup, kita selalu menginginkan apa yang tidak kita miliki. Akibatnya, kebahagiaan tersebut menjadi pudar.

Oleh karena itu, mari belajar menghargai setiap karunia kenikmatan yang telah Allah berikan kepada kita. Jangan melihat besar kecilnya karunia kenikmatan tersebut, karena akan membuat kita tidak pernah bersyukur. Tetapi lihatlah siapa Sang Pemberi karunia kenikmatan itu, maka kita akan mengerti betapa besar karunia itu dan itu adalah bukti kasih sayang Allah kepada anak-anak-Nya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Indahnya Memberi - Indahnya Berbagi. Bahagianya Memberi

Seorang dosen yang dikenal bijaksana, tengah berjalan santai bersama seorang mahasiswa di taman kampus. Tidak lama keduanya melihat ada sepa...