Setiap kali pulang dari rumah duka, tidak jarang kita diajak untuk merenung lebih dalam tentang kehidupan. Di rumah duka, sering kali kita disadarkan, bahwa dunia ini ibarat sebuah terminal, di mana kita semua sedang duduk menunggu giliran. Ketika nama kita dipanggil, kita mau tidak mau, suka tidak suka, siap tidak siap, harus berangkat.
Kanker, serangan jantung atau penyakit lainnya, termasuk juga kecelakaan atau bencana alam, hanyalah sebuah jalan atau sarana. Lucunya, meskipun kita semua tahu tentang kebenaran ini, tapi kita tidak pernah sungguh-sungguh menyadarinya. Kita kadang menganggap, bahwa hidup kita masih akan lama di dunia ini atau juga, seperti kata seorang sahabat saya, "Kita berpikir kematian itu hanya milik orang lain..."
Di tengah-tengah waktu yang berlari dengan sangat cepat, kehidupan kita - anda dan saya - sedang melaju dengan pasti menuju titik akhir. Kita bahkan tidak tahu sama sekali, kapan dan dimana titik akhir itu berada. Mungkin ia berjarak 30 tahun, 20 tahun, 10 tahun atau jangan-jangan malah hanya tinggal hitungan hari. Siapa yang bisa tahu? Tidak ada satu manusia pun yang bisa mengandalkan kesehatan, kekuatan dan kekayaannya untuk menangguhkan kematiannya.
Saya tidak tahu anda berusia berapa. Tapi, jika saat ini ada yang berusia 20-an tahun dan anda tengah mengagungkan kemudaan anda, percayalah, anda sedang berada di dalam mimpi. Dan saat Anda tersadar tentang fananya dunia kehidupan ini, Anda akan melihat rambut Anda mulai memutih, menipis dan pasti menua di dalam proses kehidupan.
Tiga puluh tahun lalu saya adalah seorang anak muda yang enerjik, penuh cita-cita, dan hampir tidak pernah berpikir tentang kematian. Lalu semuanya berlalu dengan amat sangat cepat. Dulu orang-orang memanggil saya dengan sebutan nama, lalu Mas, Bang, atau Koh, dan kemudian berubah menjadi Om. Tak lama lagi, orang-orang mungkin akan memanggil saya dengan sebutan kakek atau opa.
Saya punya seorang teman yang kini berusia 50 tahun lebih. Beberapa tahun lalu, ia terperangah karena tiba-tiba orang-orang mulai menyebut dia sebagai Om. Ia tidak bisa menerima kenyataan ini.. Tiap kali orang-orang memanggil dia Om, entah itu pelayan restoran atau penjaga toko, ia marah besar. Ia belum bisa menerima kenyataan. Ya, kenyataan yang tidak bisa dibantah adalah kita semua.
Seberapa pun banyaknya harta, tingginya ilmu kita, atau pengetahuan kita, setiap hari kita semua akan bertambah tua. Menua setiap hari adalah kodrat kita sebagai manusia. Saat kita melihat di depan cermin, kita mungkin akan melihat sosok diri kita yang sama seperti yang kemarin. Namun, sesungguhnya perubahan sedang terjadi dalam diri kita, yaitu perubahan menjadi tua.
Tidak ada yang sama antara kemarin, hari ini dan esok. Bukan hanya tubuh kita, tapi juga semua benda yang ada di sekeliling kita. Semua barang kita : rumah, televisi, jam tangan, lemari, pakaian, mobil, sepeda motor, semuanya sedang berada dalam proses penuaan. Memang kita mungkin tidak melihat apapun, tetapi kemerosotan sedang terjadi di dalam barang-barang tersebut. Begitu juga dengan tubuh kita. Tidak ada yang abadi di dunia ini.
Lalu, jika kemerosotan secara fisik setiap saat berproses dalam diri kita dan kematian hanya soal waktu, apakah kita akan menjalani kehidupan ini dengan ratapan dan tangisan?
Kita memang tidak bisa melawan proses penuaan tubuh kita. Namun kita bisa melawan kemerosotan dari sesuatu yang justru menghidupi tubuh kita, yakni batin, jiwa dan roh kita. Jika tubuh kita berubah menjadi tua dan lemah setiap hari, mengapa kita tidak berusaha mengubah batin, jiwa dan roh kita menjadi lebih baik dan lebih baik setiap harinya? Tidak ada yang tetap sama dalam kehidupan ini. Begitu juga dengan pola pikir dan paradigma kita.
Sementara tubuh kita mengalami kemerosotan, meri kita memperbaharui cara berpikir dan hati kita dari hari ke hari. Pemahaman yang sungguh-sungguh, bahwa kehidupan ini hanya sangat sementara dan karena itu waktu yang tersisa amatlah sangat bernilai, akan membuat kita benar-benar menghargai kehidupan ini.
Tidak ada yang lebih baik dalam kehidupan ini, selain setiap hari terus belajar untuk mengisi kehidupan ini dengan hal-hal yang baik:
- Mencintai dengan lebih baik
- Mengerti orang lain dengan lebih baik
- Mencoba bijaksana dalam berpikir
- Mampu mengampuni dengan lebih baik
- Membantu orang lain dengan lebih baik
Dengan itulah kematian akan menganugerahkan kehidupan yang jauh lebih baik buat kita. HIdup adalah persiapan untuk kekekalan. Gunakanlah waktu yang kita miliki, untuk melakukan yang terbaik untuk batin, jiwa dan roh kita.
*So much to do*-_ _*If I only had time*_ _*If I only had time*
Mari kita renungkan 🙏🙏