BACAAN ALKITAB
Tetapi ibu Yesus berkata kepada pelayan-pelayan: “Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!” (Yohanes 2:5)
PENGAJARAN
Beberapa percayawan Yahudi, sadar, bahwa suatu perjamuan besar dikaitkan dengan tampilnya Mesias. Kitab Yesaya menjadi acuan untuk hal ini (Yes. 25:6-9). Di sana kita membaca bahwa ketika Juruselamat datang untuk menyelamatkan umat manusia, Ia akan mempersiapkan sebuah perjamuan besar bagi mereka dengan anggur yang baik. Dan, pada awal sekali aktivitas-Nya di muka umum, Yesus datang dan menunjukkan jatidiri-Nya: Ia mengadakan mukjijat, membuat anggur yang baik dari air, pada perjamuan kawin di Kana. Yesus menunjukkan: “Akulah Juruselamat yang diutus oleh Allah, yang telah datang untuk menyelamatkan umat manusia.”
Ketika Maria melihat bahwa anggur untuk para tamu sudah habis,
Dalam hal ini, janganlah kita ikut menghakimi, mengapa mereka mengalami kesemuanya itu? Kita hendaknya mampu untuk menahan diri terhadap ucapan--ucapan yang mendakwa, mencela atau menghakimi mereka. Kita semua dalam satu sidang jemaat, sebagai gereja Kristus, alangkah indahnya jika kita dapat bersikap dan bertindak sebagaimana Maria, yaitu untuk memperantarakan dan memohon kepada Allah untuk menolong mereka. Mengapa kita memohon pertolongan kepada Allah? Karena kita yakin dan percaya, Ia adalah Allah yang baik, Allah yang Mahakasih, Allah yang Mahamurah dan Ia mampu melakukan hal itu.
Memang ketika Yesus merespon apa yang diinginkan Maria, Yesus tampaknya bereaksi agak kasar. Sebenarnya hal itu menunjukkan bahwa Yesus tidak dapat dipaksa. Demikian juga halnya dengan kita. Kita juga tidak bisa memaksa Allah untuk melakulan sesuatu. Kehendak-Nya-lah yang jadi. Semuanya hanya berdasarkan kasih karunia dan kehendak-Nya. Ia menawarkan keselamatan kepada siapa yang Ia inginkan, kapan pun yang Ia mau dan dengan cara yang Ia inginkan.
Seperti halnya Maria, kita hanya bisa memperantarakan permohonan-permohonan ini kepada Allah, melalui doa-doa perantara kita. Hal ini dapat terjadi karena kita memiliki kedekatan dengan Allah. Ia adalah Bapa kita, dan kita adalah anak-anak-Nya. Doa-doa perantara kita ini hendaklah benar-benar sebagai ungkapan kasih kita kepada sesama kita dan pengandalan kita pada kasih Allah.
Maria membedakan dirinya, melalui pengandalannya yang besar kepada Allah (Luk. 1:38). Ia yakin bahwa Yesus akan menolong. Itulah sebabnya ia mendesak pelayan-pelayan di tempat perjamuan kawin itu untuk melakukan apa pun yang akan Ia katakan kepada mereka. Pengandalan kita kepada Allah hendaknya juga harus tercermin di dalam perkataan dan perbuatan kita. Hanya dengan cara inilah kita dapat memberi semangat kepada sesama kita untuk menerapkan Injil, dalam kata, sikap dan perbuatan.
Untuk meraih hidup yang kekal, seseorang harus meninggalkan dosa, menyelaraskan
hidupnya sesuai Injil, mengikuti Yesus, dan menerima sakramen-sakramen. Bagi mereka yang percaya kepada Yesus Kristus dan mengikut Dia, Ia akan menyediakan segala sesuatu yang sungguh-sungguh mereka perlukan dalam hal tenaga, sukacita, dan keselamatan!
Marilah kita pastikan bahwa Injil sungguh-sungguh meresap dalam kehidupan kita!
Amin
Maria sebagai sebuah gambaran untuk gereja Kristus
Di sisi lain, dalam tradisi Kristen, Maria, ibu Yesus, dianggap sebagai suatu lambang gereja Kristus. Sikap dan tindakannya pada saat perjamuan kawin di Kana dapat menjadi contoh, bagaimana kita dapat bersumbangsih sebagai perantara untuk dapat menolong, menghibur dan berbagi sukacita dengan orang lain.Ketika Maria melihat bahwa anggur untuk para tamu sudah habis,
- Ia menunjukan kepedulian dan kepekaannya akan apa yang dibutuhkan tuan rumah dan ia ingin menolong mereka.
- Ia tidak berusaha untuk mencari siapa yang bersalah, siapa yang bertanggung jawab atas kelalaian tersebut, dan ia juga tidak mencela siapa pun.
- Tapi ia memperantarakan kepada Yesus, atas nama tuan rumah, dengan suatu keyakinan bahwa Yesus akan menolong mereka.
Dalam hal ini, janganlah kita ikut menghakimi, mengapa mereka mengalami kesemuanya itu? Kita hendaknya mampu untuk menahan diri terhadap ucapan--ucapan yang mendakwa, mencela atau menghakimi mereka. Kita semua dalam satu sidang jemaat, sebagai gereja Kristus, alangkah indahnya jika kita dapat bersikap dan bertindak sebagaimana Maria, yaitu untuk memperantarakan dan memohon kepada Allah untuk menolong mereka. Mengapa kita memohon pertolongan kepada Allah? Karena kita yakin dan percaya, Ia adalah Allah yang baik, Allah yang Mahakasih, Allah yang Mahamurah dan Ia mampu melakukan hal itu.
Memang ketika Yesus merespon apa yang diinginkan Maria, Yesus tampaknya bereaksi agak kasar. Sebenarnya hal itu menunjukkan bahwa Yesus tidak dapat dipaksa. Demikian juga halnya dengan kita. Kita juga tidak bisa memaksa Allah untuk melakulan sesuatu. Kehendak-Nya-lah yang jadi. Semuanya hanya berdasarkan kasih karunia dan kehendak-Nya. Ia menawarkan keselamatan kepada siapa yang Ia inginkan, kapan pun yang Ia mau dan dengan cara yang Ia inginkan.
Seperti halnya Maria, kita hanya bisa memperantarakan permohonan-permohonan ini kepada Allah, melalui doa-doa perantara kita. Hal ini dapat terjadi karena kita memiliki kedekatan dengan Allah. Ia adalah Bapa kita, dan kita adalah anak-anak-Nya. Doa-doa perantara kita ini hendaklah benar-benar sebagai ungkapan kasih kita kepada sesama kita dan pengandalan kita pada kasih Allah.
Maria membedakan dirinya, melalui pengandalannya yang besar kepada Allah (Luk. 1:38). Ia yakin bahwa Yesus akan menolong. Itulah sebabnya ia mendesak pelayan-pelayan di tempat perjamuan kawin itu untuk melakukan apa pun yang akan Ia katakan kepada mereka. Pengandalan kita kepada Allah hendaknya juga harus tercermin di dalam perkataan dan perbuatan kita. Hanya dengan cara inilah kita dapat memberi semangat kepada sesama kita untuk menerapkan Injil, dalam kata, sikap dan perbuatan.
Keselamatan melalui kepercayaan kepada Yesus Kristus
Yesus meminta pelayan-pelayan untuk mengisi enam tempayan dengan air. Tempayan-tempayan tersebut biasanya digunakan untuk ritual pembersihan. Ketika mereka sudah melakukan hal ini, Ia berkata kepada mereka untuk mencedok air itu dan mereka sadar bahwa air itu telah berubah menjadi anggur yang baik. Kita melihat suatu makna yang lebih dalam pada peristiwa ini: bahwa kelepasan tidak dihasilkan dari menaati Hukum Musa, tetapi melalui kepercayaan kepada Yesus Kristus.Untuk meraih hidup yang kekal, seseorang harus meninggalkan dosa, menyelaraskan
hidupnya sesuai Injil, mengikuti Yesus, dan menerima sakramen-sakramen. Bagi mereka yang percaya kepada Yesus Kristus dan mengikut Dia, Ia akan menyediakan segala sesuatu yang sungguh-sungguh mereka perlukan dalam hal tenaga, sukacita, dan keselamatan!
Marilah kita pastikan bahwa Injil sungguh-sungguh meresap dalam kehidupan kita!
Amin
Tidak ada komentar:
Posting Komentar