Senin, 19 April 2021

Apa Yang Dikerjakan Tuhan Itu, Baik

Kisah Inspirasi

Di sebuah negeri, hiduplah seorang raja, yang memiliki hobby atau kegemaran berburu. Setiap kali berburu, ia ditemani oleh seorang bujangnya yang setia. Saat bersama Sang Raja, bujang ini sering mengatakan, "Apa yang dikerjakan Tuhan itu, baik". Dalam setiap kesempatan mereka saling berbicara, si bujang ini tidak lupa mengatakan, "Apa yang dikerjakan Tuhan itu, baik".

Suatu hari, seperti biasanya, ketika hari senggang, Sang Raja mengajak bujangnya untuk berburu. Mereka berangkat berdua dan mulai memasuki hutan tempat mereka berencana berburu. Meskipun sudah terbiasa menghadapi serangan atau gangguan dari berbagai binatang buas, hari itu mereka juga kebetulan mendapat serangan dari seekor binatang buas. Meskipun mereka selamat dari serangan binatang buas, tetapi naas bagi Sang Raja, ia harus kehilangan salah satu jari tangannya. Melihat hal ini, kembali si bujang ini mengatakan kepada Sang Raja, "Apa yang dikerjakan Tuhan itu, baik".

Mendengar si bujangnya mengatakan demikian, marahlah Sang Raja kepada bujangnya.

"Bagaimana kamu dapat mengatakan bahwa apa yang dikerjakan Tuhan itu, baik?"

"Lihatlah..."

"Kalau apa yang dilakukan Tuhan itu, baik, mengapa aku sampai kehilangan salah satu jariku, ujar Sang Raja, dengan nada marah."

Tetapi si bujang ini tetap mengatakan kepada Sang Raja, "Tuan, apa yang dikerjakan Tuhan itu, baik"

Mendengar hal ini semakin meledaklah amarah Sang Raja. Dengan menahan amarah yang menyesakkan dada, Sang Raja pun memutuskan untuk pulang. Dan sesampainya mereka kembali ke kerajaan, Sang Raja pun memerintahkan kepada para pengawal kerajaan, 

"Tangkap bujang ini dan jebloskan dia ke penjara"

Mendapat perlakuan seperti ini, tanpa melakukan pembelaan si bujang ini mengikuti para pengawal yang menggiringnya masuk ke penjara. Sayub-sayub, Sang Raja masih mendengar, si bujang itu mengatakan, "Apa yang dikerjakan Tuhan itu, baik". Maka semakin mendongkol dan geramlah hati Sang Raja.

Setelah beberapa lama tidak berburu, suatu hari, timbulah keinginannya untuk berburu kembali. Karena  bujangnya sedang ia penjarakan, maka Sang Raja pun berangkat berburu sendiri. Ketika sampai dihutan yang dituju, bukannya hewan buruan yang ia peroleh, tetapi, ia sendiri justru malah tertangkap oleh orang-orang primitif yang ada dan bermukim di dalam hutan itu serta dibawa ke pemukiman mereka.

Celakanya lagi, tidak lama kemudian mereka merayakan hari pemujaan kepada dewa mereka, dimana pada upacara pemujaan tersebut, biasanya dipersembahkan korban bakaran bagi dewa mereka. Dan sebagai korbannya, manusialah yang biasanya dipersembahkan sebagai korban bagi dewa mereka.

Ketika upacara berlangsung dan ritual persembahan segera dimulai, dibawalah Sang Raja tersebut, dan dibaringkan ke tempat persembahan korban bakaran. Pada saat itulah baru diketahui bahwa ada satu jari dari Sang Raja yang hilang. Melihat akan hal ini, Sang Raja itu diturunkan kembali dari tempat persembahan korban bakaran tadi, karena dianggap sebagai korban persembahan yang tidak sempurna, dan diganti dengan orang lain. Sang Raja tersebut dilepaskan kembali dan pulang ke kerajaannya.

Sesampai di kerajaan ia dengan segera memerintahkan kepada pengawalnya untuk melepaskan bujangnya dari penjara dan membawanya ke hadapannya. Setelah si bujang ini ada di hadapannya, dengan hati yang penuh sukacita dan gembira, karena ia tidak jadi mati sebagai korban persembahan, ia mengatakan kepada bujangnya, 

"Benar apa katamu. "

"Apa yang dikerjakan Tuhan itu, baik"

Dengan rasa keheranan, si bujang bertanya kepada Sang Raja.

" Mengapa tuanku bisa mengatakan demikian?"

Sang Raja pun menceritakan akan apa yang ia alami saat ia sedang berburu sendiri dan tertangkap oleh orang-orang primitif yang ada di tengah hutan. Kembali Sang Raja mengatakan, "benar... benar..., apa yang dilakukan Tuhan itu, baik."

Si bujang pun mengangguk dan sekali lagi menandaskan, "Ya, apa yang dikerjakan Tuhan itu, baik.

"Tapi kalau apa yang dikerjakan Tuhan itu, baik, mengapa Tuhan memperkenankan aku memenjarakan dirimu? tanya Sang Raja .

Si bujang menjawab, "Tuan, apa yang dilakukan Tuhan, memang baik."

"Sebab kalau tuan tidak memenjarakan saya, pastilah tuan akan mengajak saya untuk berburu lagi. Dan ketika tertangkap oleh orang-orang primitif itu, pastilah saya yang akan dipersembahkan sebagai korban bakaran menggantikan tuan, karena jari-jari saya lengkap. Maka saya akan mati. Tetapi dengan tuan memenjarakan saya, saya masih dapat hidup."

Sang Raja pun mengangguk-angguk sambil tersenyum bahagaia, akan penjelasan bujangnya itu.

Saudara-saudaraku, janganlah kita selalu menggerutu dan gelisah, jika apa yang terjadi dalam hidup kita atau jalan hidup kita, seolah-olah tidak seperti yang kita harapkan. Percayalah, "Apa Yang Dikerjakan Tuhan Itu, BAIK"

Tetap Semangat, dan taruhkanlah pengharapanmu pada Tuhan Allah Sang Bapa kita.

Amin...

 



 



Jumat, 16 April 2021

Buah Yang Bagaimana, Yang Engkau Hasilkan

Kisah Inspirasi

Di sebuah negeri hiduplah seorang yang sudah tua, yang memiliki keahlian, yang mungkin tidak dimiliki oleh orang lain. Ia mampunyai keahlian memasukan benang ke dalam lubang jarum yang sangat kecil itu, dari jarak 100m. 

Keahlian orang ini tersiar sampai ke seluruh negeri, dan akhirnya sampai juga ke telinga Sang Raja. Mendengar hal ini, Sang Raja pun mengundang orang tersebut ke istana, untuk mempertunjukkan keahliannya. Sesampai di istana, orang tua ini, segera menunjukkan keahliannya tersebut di hadapan Sang Raja. Tidak tanggung2-tanggung, orang ini mampu memasukkan 100 benang ke dalam lubang jarum yang sangat kecil itu, dari jarak 100m. 

Orang-orang yang menyaksikan hal ini bersama Sang Raja, ikut berdecak kagum dan ikut bersorak-sorai. Setelah ia menunjukkan keahliannya tersebut, Sang Raja kemudian memberikan hadiah kepada dirinya uang senilai 101 dirham. Ia pun segera menerima hadiah dari Sang Raja dengan penuh rasa gembira dan ia pun segera mohon untuk undur diri. 

Sang Raja mempersilahkan orang tersebut untuk kembali pulang ke tempat asalnya.

Tetapi ketika ia baru berputar balik dan akan melangkah untuk berjalan pulang, ia mendengar suara Sang Raja. 

 “Tangkap orang itu....” 

Kemudian ia merasakan ada seorang pengawal yang mencengkeram leher bajunya. Dan ia mendengar lagi suara Sang Raja, 

 “Ambil kembali uang 100 dirham yang telah ia terima dan cambuk dia 100 kali”

Kemudian sang pengawal pun melakukan apa yang diperintahkan Sang Raja, mengambil kembali uang 100 dirham, dan hanya menyisakan 1 dirham untuk orang itu, dan kemudian mencambuk orang itu 100x. 

Setelah orang itu mendapat 100x cambukan, orang itu memberanikan diri bertanya kepada Sang Raja, 

 “Wahai Sang Raja..., Mengapa Tuan memberikan kepadaku 101 dirham, tetapi Tuan mencambuk hamba 100x dan mengambil kembali uang 100 dirham dari pada hamba?”

Sang Raja pun menjawab, 

 “Wahai paman, dengarlah...” 

 “Utk apa paman menghabiskan seluruh hidup paman hanya untuk dapat melakukan hal ini. Apa manfaat keahlian paman bagi orang lain?” 

Saudara-saudaraku, seringkali kita menghabiskan seluruh waktu kita untuk melakukan sesuatu yang “hanya” berdampak sangat kecil bagi orang lain dan kita sudah merasa puas dengan apa yang kita kerjakan. 

Kita sering mendengar, bahwa kita diharapkan untuk menghasilkan buah-buah Roh bagi Yang Maha Tinggi. 

Benar, kita semua mungkin dapat mengatakan, “Aku suddh menghasilkan buah” Tapi mari kita bertanya, buah yang bagaimanakah yang telah dapat aku hasilkan. Apakah benar buah yang aku hasilkan, buah yang dapat bermanfaat, dapat dinikmati dan dirasakan oleh orang lain? 

Apakah buah yang aku hasilkan sudah berguna bagi kemuliaan Yang Mahatinggi? Saudara-saudaraku, mari kita berusaha untuk menggunakan waktu dalam kehidupan kita untuk berkarya bagi Allah dan sesama. Jangan merasa puas dengan apa yang sudah kita lakukan selama ini. Teruslah berkarya dan tetap semangat.

Salam sehat untuk semua.

Indahnya Memberi - Indahnya Berbagi. Bahagianya Memberi

Seorang dosen yang dikenal bijaksana, tengah berjalan santai bersama seorang mahasiswa di taman kampus. Tidak lama keduanya melihat ada sepa...