Bacaan Alkitab :
Api yang di atas mezbah itu harus dijaga supaya terus menyala, jangan dibiarkan padam. Tiap-tiap pagi imam harus menaruh kayu di atas mezbah, mengatur korban bakaran di atasnya dan membakar segala lemak korban keselamatan di sana. Harus dijaga supaya api tetap menyala di atas mezbah, janganlah dibiarkan padam." (Imamat 6:12-13)
Penjelasan
Firman di atas merupakan sebagian hukum yang diberikan Allah melalui Musa, kepada Harun dan anak-anaknya, terkait korban bakaran. Allah menghendaki agar api di atas mezbah itu tetap menyala.
Dalam perspektif rohani, api ini di artikan atau dilambangkan sebagai keberadaan Allah. Keberadaan Allah di atas Mezbah-Nya, di dalam rumah-Nya, di dalam gereja-Nya dan di dalam sidang jemaat-Nya. Sebagai tempat dimana Allah berada dan bersemayam, tentulah tempat itu, juga merupakan suatu tempat yang suci atau yang kudus. Oleh kerena itu, siapa pun yang masuk ke tempàt itu, juga harus menjaga kekudusannya atau kesuciannya. Itulah sebabnya para imam agung, yang masuk ke Mezbah dan akan berada di tempat yang maha kudus, mereka harus berganti baju.
Selanjutnya kita akan mencoba memahami lebih jauh akan makna keberadaan Allah di atas mezbah-Nya, yang dilambangkan sebagai nyala api.
Allah sebagai Terang
Nyala api sebagai gambaran akan keberadaan Allah di atas mezbah-Nya, dapat menjadi sumber terang bagi kita semua, khususnya dimasa-masa yang "gelap", seperti masa pandemic Covid-19 saat ini. Melalui terang ini, kita dapat melihat, ternyata kita tidak sendiri. Boleh dikata, semua orang di dunia, juga mengalami hal yang sama. Ini memberi penghiburan kepada kita, bahwa ternyata kesulitan ("kegelapan") pada masa pandemic ini, bukan karena dosaku sehingga Allah menghukum aku, tetapi Allah ingin menunjukkan bahwa Ia ada, Ia dekat, Ia menyertai dan Ia menolong kita dalam masa-masa yang sulit dan gelap ini.
Pemahaman dan pengertian akan hal ini, hendaknya dapat memberikan kemampuan kepada kita untuk tetap menaruhkan iman, pengandalan dan pengharapan kita kepada Allah, bahwa bersama dengan Allah kita akan mampu menjalani dan melewati masa-masa yang berat di masa pandemic ini dengan penuh keyakinan, karena Allah terus menyertai dan menolong aku. Hal ini hendaknya juga dapat menimbulkan semangat dalam diri kita, untuk terus berjalan di atas jalan kebenaraan Allah. Melalui terang Ilahi ini, kita juga dapat lebih jelas lagi melihat, jalan dan tujuan kita yang agung dan mulia, yaitu persekutuan yang kekal dengan Allah Tritunggal.
Selanjutnya, Allah sebagai terang, yang nyata melalui firman-firman-Nya, dapat menjadi sarana bagi kita untuk bercermin dan melakukan instropeksi, akan apa yang masih menjadi kekurangan dan kelemahan kita, serta apa saja yang masih belum berkenan dihadapan Allah. Dari sinilah kita dapat belajar untuk lebih menyesuaikan hidup kita dengan apa yang telah diajarkan Allah kepada kita.
Kemudian, jika kita bertanya kepada seseorang, "lebih suka mana, berada pada situasi terang atau gelap." Pasti orang akan menjawab, "aku suka berada di lingkungan yang terang." Ini menggambarkan kepada kita, keberadaan Allah sebagai sumber terang yang keberadaan-Nya di dekat kita, hendaknya mampu memberikan rasa nyaman, rasa sukacita dan ketentraman bagi siapa pun yang ada disekitar-Nya.
Allah memberi Kehangatan
Bagaikan api unggun, kehangatan kasih Allah yang terpancar dari nyala api yaitu keberadaan Allah dalam sidang jemaat, hendaknya menjadi daya tarik bagi siapa pun untuk mendekat kepada Allah. Tidak peduli, asal-usul, latar belakang dan karakteristik dari mereka yang datang, kehangatan kasih Allah ini hendaknya benar-benar menjadi sarana daya tarik yang kuat untuk membawa kita pada satu persekutuan dan kebersamaan dan kemanunggalan dengan Allah. Allah tidak pernah melarang siapa pun untuk mendekat dan merasakan kehangatan kasih Allah.
Api Kasih Allah Membakar dan Memurnikan
Api yang ada di Mezbah Allah digunakan untuk membakar korban bakaran. Ini juga dapat dimaknai bahwa api kasih Allah dalam sidang jemaat, mampu untuk membakar segala dosa dan kesalahan kita. Seberapa pun besar dosa kita, api kasih Allah akan mampu membakar habis dosa dan kesalahan kita tersebut, sehingga kita dapat dimurnikan lagi, bagaikan emas yang dimurnikan dalam api.
Kemurnian hati dan jiwa kita dapat terjadi kalau kita mau merendahkan diri, mau mengorbankan ego kita dan kemunafikan diri kita, yang tercermin pada kesediaan kita untuk saling mengampuni, kesediaan kita untuk merukunkan diri, kesediaan kita untuk bertobat dan untuk dapat menyadari bahwa kita adalah pendosa yang membutuhkan kemurahan dan kasih Allah.
Kita sebagai Bait Allah
Kalau apa yang disampaikan di atas, mengajarkan kepada kita akan keberadaan Allah dalam Bait Allah, gereja Tuhan dan sidang jemaat Tuhan, mari hal ini kita coba tarik pada diri kita.
Pada 1 Kor. 3:16, Rasul Paulus menyatakan, "Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah Bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?" Hal ini menandaskan kepada kita bahwa, Api itu, yaitu Keberadaan Allah, hendaknya juga dapat senantiasa menyala di dalam diri kita. Jangan sampai api itu padam dalam diri kita, yang berarti jangan sampai keberadaan Allah dalam diri kita menjadi hilang.
Sebagai bait Allah, suatu tempat yang kudus atau suci, dimana Allah berkenan tinggal di dalamnya, maka mau tidak mau kita juga harus menjaga kekudusan dan kesucian diri kita yang dinyatakan pada sikap, perilaku, perkataan, dan kepikiran kita.
Kita Sebagai Terang
Dengan keberadaan Allah dalam diri kita, terang Ilahi hendaknya juga dapat terpancar dari dalam diri kita, sehingga kita pun dapat menjadi pembawa terang dimasa yang gelap atau sulit ini, bagi sesama kita.
Selain itu, dengan terang yang terpancar, kita dapat menunjukkan bahwa mereka tidak sendirian melewati masa yang sulit ini. Kita hendaknya juga dapat jadi orang yang dapat diharapkan dan diandalkan untuk bersama-sama berjalan melewati masa yang sulit, tentunya juga bersama dengan Allah. Kita diharapkan untuk dapat tetap menunjukkan arah dan tujuan iman kepercayaan kita kepada sauadara-saudari kita.
Sikap, tingkah laku dan perkataan kita hendaknya menjadi terang / cermin bagi sikap, perilaku dan perkataan saudara-saudari kita, tanpa kita harus menghakimi, menyalahkan dan merendahkan mereka.
Kehadiran kita menghangatkan
Selain itu, kita sebagai Bait Allah, dimana api itu menyala di dalamnya, hendaknya senantiasa dapat menghangatkan persekutuan diantara kita sebagai anak-anak Allah. Kehangatan kasih kita hendaknya dapat dirasakan oleh saudara-saudari yang telah beku hatinya, yang putus asa, yang merasa sendiri. Kehangatan kasih kita hendaknya menjadi daya tarik bagi sesama untuk dapat membina suatu persekutuan dan kebersamaan diantara kita, tanpa melihat latar belakang dan asal usul mereka. Keberadaan kita hendaknya dapat menjadi daya tarik bagi sesama untuk dapat memiliki persekutuan dengan Allah Tritunggal.
Selain itu kehadiran kita hendaknya mampu membakar segala kesalahan yang dilakukan saudara-saudari kita. Kita hendaknya juga mampu membakar segala dendam yang ada pada diri kita terhadapa apa yang telah diperbuat oleh saudara-saudari kita, bahkan jangan sampai menyisakannya lagi dalam hati kita.
Firman Allah dan Sakramen-sakramen, sebagai "kayu bakar"
Sebagaimana yang tertulis dalam nas Alkitab di atas, "...Tiap-tiap pagi imam harus menaruh kayu di atas mezbah...". Kayu-kayu inilah yang menjaga agar api di atas Mezbah Allah. Firman-firman Allah dan sakramen-sakramen yang kita terima setiap kali kebaktian adalah sebagai "kayu-kayu bakar" yang dapat menjaga api di atas Mezbah Allah dan di dalam diri kita dapat tetap menyala. Di sini menunjukkan kepada kita betapa pentingnya kehadiran kita dalam setiap kebaktian. Selain kita dapat merasakan kehadiran Allah sebagai api yang menyala, di sisi lain kita dapat mengumpulkan "kayu-kayu bakar", yaitu firman-firman Allah dan Sakramen-sakramen yang dapat kita pergunakan agar api dalam diri kita, yang berarti keberadaan Allah dalam diri kita, juga dapat tetap menyala.
Demikianlah, keberadaan kita sebagai Bait Allah, dimana di dalamnya "Api" itu tetap menyala, hendaknya dapat menjadi Terang dan Berkat bagi sesama kita, khususnya dimasa-masa yang sulit dan gelap seperti saat ini. Selain itu, dengan keberadaan Allah di dalam diri kita, hendaknya juga memampukan diri kita untuk dapat melewati masa-masa yang sulit ini.
Yakinlah dengan keberadaan Allah di dalam diri kita, yang berarti juga bersama-sama dengan Allah, kita akan mampu untuk melewati masa-masa yang sulit dan gelap ini dan bahkan kita masih dapat menjadi terang dan berkat bagi sesama kita.
Amin
Tidak ada komentar:
Posting Komentar