Ekumenisme menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti usaha untuk mendapatkan kembali persatuan penuh semua orang yang beriman Kristen. Istilah ini berasal dari bahasa Yunani, yaitu oikos, yang berati rumah dan menein yang berati tinggal, sehingga iokoumene berarti rumah yang ditingali atau dunia yang didiami.
Istilah ini kemudian banyak dipakai sebagai istilah dalam kaitan dengan agama Krsiten, yang merujuk pada gerakan untuk mencapai suatu kemanunggalan atau persekutuan dari berbagai denominasi Kristen, yang saat ini terpecah-pecah karena berbagai kepentingan, latar belakang, doktrin, pengajaran, liturgi dan sejarah.
Dari sejarah, kita dapat membaca, bahwa adanya Konsili Efesus (tahun 431), Konsili Khalsedon (tahun 451), Skisma Timur-Barat (tahun 1054), adanya reformasi pada abad ke-XVI dan lainnya, memiliki peran atau andil yang cukup besar pada terjadinya perpecahan dan munculnya berbagai denominasi-denominasi Kristen hingga pada masa sekarang ini
Banyak upaya telah dilakukan untuk mencapai ekumeisme ini, yaitu kemanunggalan atau persekutuan, antara lain dengan cara meningkatkan upaya kerja sama, saling memahami antar denominasi, doa, dan dialog, dengan menghapus tembok-tembok pemisah.
Di kalangan Kristen Protestan, gerakan Ekumenisme ini diawali pada tahun 1910 dengan diadakannya Konferensi Misionaris Edinburgh yang dipimpin oleh John R. Mott, seorang Methodis awam. Tujuan konferensi itu adalah sebagai upaya mengembangkan kerja sama lintas denominasi untuk mengadakan misi-misi sedunia. Ekumenisme ini diwujudkan antara lain dengan dibentuknya Dewan Gereja-gereja, baik ditingkat nasional maupun internasional, seperti Dewan Gereja-gereja Sedunia, Gereja-gereja Menyatu di dalam Kristus, dan sebagainya. Dan berdasarkan dekrit unitatis Redintegratio oleh Konsili Vatikan II, Gereja Katolik juga membuka diri untuk bekerja sama dengan Dewan Gereja-gereja.
Istilah ini kemudian banyak dipakai sebagai istilah dalam kaitan dengan agama Krsiten, yang merujuk pada gerakan untuk mencapai suatu kemanunggalan atau persekutuan dari berbagai denominasi Kristen, yang saat ini terpecah-pecah karena berbagai kepentingan, latar belakang, doktrin, pengajaran, liturgi dan sejarah.
Dari sejarah, kita dapat membaca, bahwa adanya Konsili Efesus (tahun 431), Konsili Khalsedon (tahun 451), Skisma Timur-Barat (tahun 1054), adanya reformasi pada abad ke-XVI dan lainnya, memiliki peran atau andil yang cukup besar pada terjadinya perpecahan dan munculnya berbagai denominasi-denominasi Kristen hingga pada masa sekarang ini
Banyak upaya telah dilakukan untuk mencapai ekumeisme ini, yaitu kemanunggalan atau persekutuan, antara lain dengan cara meningkatkan upaya kerja sama, saling memahami antar denominasi, doa, dan dialog, dengan menghapus tembok-tembok pemisah.
Di kalangan Kristen Protestan, gerakan Ekumenisme ini diawali pada tahun 1910 dengan diadakannya Konferensi Misionaris Edinburgh yang dipimpin oleh John R. Mott, seorang Methodis awam. Tujuan konferensi itu adalah sebagai upaya mengembangkan kerja sama lintas denominasi untuk mengadakan misi-misi sedunia. Ekumenisme ini diwujudkan antara lain dengan dibentuknya Dewan Gereja-gereja, baik ditingkat nasional maupun internasional, seperti Dewan Gereja-gereja Sedunia, Gereja-gereja Menyatu di dalam Kristus, dan sebagainya. Dan berdasarkan dekrit unitatis Redintegratio oleh Konsili Vatikan II, Gereja Katolik juga membuka diri untuk bekerja sama dengan Dewan Gereja-gereja.
Gerakan Ekumenisme ini didasari adanya suatu kesadaran bahwa perpecahan dalam gereja, merupakan suatu permasalahan yang besar dan juga didasari kesadaran dan pemahaman bahwa kita semua adalah satu tubuh Kristus. "Karena sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, dan segala anggota itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus" (1 Korintus 12:12). "Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya." (ayat 27).
Karena kelompok Kristen Protestan sendiri terdiri dari berbagai macam aliran, maka pemahaman kelompok Kristen Protestan terhadap Ekuminisme juga berbeda-beda. Kalau toh beberapa aliran bisa menerima dan ambil bagian dalam gerakan Ekuminisme, hal ini sering hanya terbatas pada kegiatan-kegiatan tertentu, sebagai wujud toleransi, saling menghormati dan dalam bentuk kerjasama, penggunaan gedung gereja secara bergantian, bahkan pelayanan mimbar secara bergiliran. Jadi tidak menjadi satu denominasi, melainkan lebih pada kumpulan dari pluralisme denominasi-denominasi.
Di kalangan Dewan Gereja-gereja Sedunia, dikenal apa yang dinamakan dokumen Baptisan, Ekaristi dan Pelayanan, yang berisi dokumen tentang saling mengakui di antara anggota-anggotanya. Sedangkan di Indonesia sendiri, dikalangan Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), dikenal dokumen Piagam Saling Menerima dan Saling Mengakui, yang merupakan Lima Dokumen Keesaan Gereja.
Di kalangan Dewan Gereja-gereja Sedunia, dikenal apa yang dinamakan dokumen Baptisan, Ekaristi dan Pelayanan, yang berisi dokumen tentang saling mengakui di antara anggota-anggotanya. Sedangkan di Indonesia sendiri, dikalangan Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), dikenal dokumen Piagam Saling Menerima dan Saling Mengakui, yang merupakan Lima Dokumen Keesaan Gereja.
Oleh karena itu gerakan Ekuminisme lebih bertujuan sebagai upaya untuk meningkatkan hubungan yang lebih baik dan mempromosikan toleransi, saling menghargai antar denominasi mapun dengan agama-agama yang lain, dan bukan gerakan untuk mempersatukan para pengikut berbagai macam denominasi ke dalam satu denominasi tertentu. Selain itu, Ekuimenisme juga menjadi sarana untuk mempertemukan orang-orang dari berbagai denominasi agama Kristen. Dari hal ini sebenarnya dapat dilihat bahwa ada suatu kerinduan bagi orang-orang Kristen untuk berada dalam suatu kebersamaan dan persekutuan.
Meski demikian gerakan Ekumineisme ini, dibeberapa negara memberikan dampak yang lebih positif, dimana gereja-gereja di negara tersebut membentuk gereja bersatu dan menyatu, seperti Uniting church of Australia. Di tempat yang lain, meski keinginan untuk melakukan Ekimenisme ini cukup besar, tetapi karena adanya berbagai alasan yang terkait dengan doktrin, liturgi dan sebagainya, kesatuan yang formil belum dapat dilakukan.
Meski demikian gerakan Ekumineisme ini, dibeberapa negara memberikan dampak yang lebih positif, dimana gereja-gereja di negara tersebut membentuk gereja bersatu dan menyatu, seperti Uniting church of Australia. Di tempat yang lain, meski keinginan untuk melakukan Ekimenisme ini cukup besar, tetapi karena adanya berbagai alasan yang terkait dengan doktrin, liturgi dan sebagainya, kesatuan yang formil belum dapat dilakukan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar