BACAAN ALKITAB
Karena itu buanglah dusta dan berkatalah benar seorang kepada yang lain, karena kita adalah sesama anggota (Efesus 4:25).
PENGAJARAN
Bacaan Alkitab di atas menjelaskan, bagaimana hendaknya perilaku orang-orang Kristen, khususnya dalam kehidupan di sidang jemaat Kristen, dan dalam kaitannya dengan pelaksanaan Perintah Kedelapan.Yesus mengatakan, "...Akulah jalan dan kebenaran dan hidup..."(Yoh. 14:6). Di sisi lain, kita adalah anggota tubuh Kristus. Kita menjadi anggota tubuh Kristus melalui baptisan suci yang kita terima, dan pengakuan iman kita kepada Yesus Kristus. Dan oleh karena kita adalah anggota tubuh Kristus, maka secara khusus, adalah kewajiban bagi kita untuk bersikap, berperilaku dan hidup secara benar.
Kalau manusia konsekuen dan semakin konsekuen mengikut Kristus, maka akan tercermin dalam perkataan dan perbuatan mereka, yang semakin tulus dan benar.
Pada bacaan Alkitab di atas tertulis, "karena itu buanglah dusta..." Mengapa kita harus membuang dusta? Kaena dusta dapat merusak kehidupan dalam sidang jemaat. Kepercayaan dan kedekatan antara satu dengan yang lainnya dapat hancur oleh karena dusta atau ketidakbenaran. Karena itu buanglah dusta dan berkatalah benar seorang kepada yang lain, karena kita adalah sesama anggota
Dalam hubungan dan kebersamaan antar manusia, orang-orang Kristen memiliki
kewajiban moral kepada setiap orang. Hati nurani yang didukung oleh akal dan iman, akan membantu kita untuk mengarahkan diri kita sesuai kehendak Allah dan dengan demikian memberi diri untuk diarahkan pada kebaikan.
Tapi sayang, oleh karena kelemahan dan ketidaksempurnaannya, manusia seringkali sulit untuk mengatakan kebenaran. Meski demikian, Allah tetap menuntut kita ada dalam kebenaran, karena hal ini akan memungkinkan kita untuk menghindari dosa.
Kebenaran terhadap sesama
Dasar untuk hidup dalam kebenaran, adalah menuruti dan berorientasi pada kehendak Allah. Salah satu yang menjadi kehendak Allah adalah, kasihilah sesamamu manusia. Perintah untuk mengasihi sesama ini, termasuk di dalamnya adalah untuk menyatakan kebenaran kepada sesama, dan kita hendaknya juga senantiasa berpikir serta memperhatikan perasaan orang lain. Ketika kebenaran itu harus dinyatakan seringkali akan membawa kita kepada situasi yang menyakitkan. Sebagai contoh:
- LYesus, Sang Kebenaran dan Pemberita kebenaran itu sendiri, harus mati oleh karena kebenaran. Keberanian untuk berkata benar, bertumbuh dari pengandalan kepada Allah. Hal itulah yang juga dilakukan oleh para ? Rasul Tuhan ketika tampil dihadapan mahkamah agama (Kisah. 4:5-22). Keberanian para Rasul Tuhan untuk berkata-kata ini, sesuai dan selaras dengan apa yang menjadi kehendak Tuhan Yesus: “Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak” (Mat. 5:37).
- Berbohong untuk menyembunyikan kesalahan sendiri begitu menggoda. Dari nasihat Rasul Petrus kepada Ananias dapat dikenali, betapa pentingnya untuk memikirkan dengan menyeluruh, sunguh-sungguh dan secara mendasar, akan tindakan-tindakan serta perkataan-perkataan kita (Kis. 5:4). Jangan sampai kita mengalami sebagaimana Ananias. Dusta yang dilakukan banyak orang saat ini, nampaknya sudah menjadi hal yang biasa dan banyak dilakukan oleh masyarakat pada umumnya, meskipun hal ini tetap melanggar perintah Allah.
- Yesus juga tidak menyembunyikan terhadap murid-murid-Nya bahwa pengikutan kepada-Nya harus disertai dengan penyangkalan terhadap diri sendiri (Luk. 9:23). Dari apa yang disampaikan oleh Tuhan Yesus, Kita hendaknya juga harus bisa dan berani menyatakan kebenaran dan tidak menyembunyikannya, bahwa menjadi seorang Kristen, bisa jadi akan membawa kerugian-kerugian bagi kita.
Kebenaran tidak hanya diperlukan di dalam kehidupan sehari-hari, melainkan juga suatu kebutuhan iman. Sebagai contoh, iman kita, baru dapat dianggap benar, jika iman kita dibentuk oleh kebenaran dan ketulusan. Termasuk di dalamnya adalah, agar kita tidak memalsukan iman dan mencampuradukkan dengan unsur-unsur esoterik dan gagasan-gagasan agama atau pengajaran-pengajaran, yang bukan Kristen. Peringatan akan bahaya ini, sudah disampaikan sejak masa orang-orang Kristen yang awal (2 Tim. 4:4). Menyangkal kematian kurban Yesus atau ke-
bangkitan-Nya, dapat diartikan memalsukan Injil. Dam hal ini adalah juga suatu contoh tentang dusta (1 Kor. 15:15).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar