Rabu, 14 Agustus 2019

Menyembah Allah saja, dan tidak pada berhala

BACAAN ALKITAB

Ketika bangsa itu melihat, bahwa Musa mengundur-undurkan turun dari gunung itu, maka berkumpullah mereka mengerumuni Harun dan berkata kepadanya: "Mari, buatlah untuk kami allah, yang akan berjalan di depan kami sebab Musa ini, orang yang telah memimpin kami keluar dari tanah Mesir--kami tidak tahu apa yang telah terjadi dengan dia. Lalu berkatalah Harun kepada mereka: "Tanggalkanlah anting-anting emas yang ada pada telinga isterimu, anakmu laki-laki dan perempuan, dan bawalah semuanya kepadaku." Lalu seluruh bangsa itu menanggalkan anting-anting emas yang ada pada telinga mereka dan membawanya kepada Harun. Diterimanyalah itu dari tangan mereka, dibentuknya dengan pahat, dan dibuatnyalah dari padanya anak lembu tuangan. Kemudian berkatalah mereka: "Hai Israel, inilah Allahmu, yang telah menuntun engkau keluar dari tanah Mesir! Ketika Harun melihat itu, didirikannyalah mezbah di depan anak lembu itu. Berserulah Harun, katanya: "Besok hari raya bagi TUHAN!". Dan keesokan harinya pagi-pagi maka mereka mempersembahkan korban bakaran dan korban keselamatan, sesudah itu duduklah bangsa itu untuk makan dan minum; kemudian bangunlah mereka dan bersukaria.  Berfirmanlah TUHAN kepada Musa, “Pergilah, turunlah, sebab bangsamu yang kaupimpin keluar dari tanah Mesir telah rusak lakunya. Segera juga mereka menyimpang dari jalan yang Kuperintahkan kepada mereka; mereka telah membuat anak lembu tuangan, dan kepadanya mereka sujud menyembah dan
mempersembahkan korban, sambil berkata: Hai Israel, inilah allahmu yang telah menuntun engkau keluar dari tanah Mesir." (Kel. 32:1-8)

PENGAJARAN

Sementara Musa berada di gunung Sinai dan menerima dua loh batu yang berisi hukum-hukum yang diperintahkan Allah untuk dilaksanakan oleh umat Israel (Kel. 31:18), di kaki gunung bangsa Israel mendirikan patung anak lembu dari emas dan mengagungkan serta menyembahnya sebagai allah. Di dalam 1 Raj. 12:28 juga diberitakan kejadian yang sama, bahwa raja Kerajaan Israel Utara, yaitu Yerobeam, memerintahkan untuk mendirikan dua patung anak lembu jantan dari emas, yang satu diletakkan di Betel dan satunya lagi diletakkan di Dan. Perbuatan raja Yerobeam ini menyebabkan umat Israel yang ada di wilayahnya menjadi berbuat kejahatan di mata Allah, karena mereka menyembah patung yang telah dibuatnya dan menjadikannya sebagai berhala.

Pada kedua kasus ini, patung-patung yang mereka buat, hendak mereka gunakan untuk menggantikan Allah yang hidup. Harun mendirikan patung yang sedemikian itu, karena Musa, hamba Allah, pergi untuk waktu yang lama tanpa ada kabar berita dan kejelasan (Kel. 32:1). Sedangkan, Yerobeam ingin agar orang-orang yang ingin pergi ke Yerusalem untuk menuju Bait Allah, tidak perlu harus menempuh perjalanan yang jauh dan sulit, cukup di Betel dan di Dan saja. Hal ini juga dilakukan oleh Yerobeam, untuk mencegah jangan sampai orang-orang berbalik kepada raja Rehabeam dan juga berbalik untuk memusuhi dirinya.

Penyembahan pada patung-patung yang melambangkan kekuatan dan daya hidup, adalah hal yang biasa, baik di Mesir, Mesopotamia, maupun  di Kanaan. Penyembahan terhadap hewan-hewan atau anak lembu sebagai perwujudan yang ilahi, adalah merupakan pelanggaran terhadap Perintah Kesatu, dan itu adalah suatu kejahatan di mata Allah. Meski umat pilihan, seringkali melakukan kejahatan dan perbuatan buruk di mata Allah, tetapi Allah di dalam kesetiaan-Nya tidak berpaling dari mereka.

Ketika orang-orang menyembah berhala, secara otomatis
  • mereka akan mengabaikan Allah, mereka tidak lagi peduli akan kehendak Allah.
  • mereka tidak lagi mau untuk berusaha mengorientasikan hidup dan pandangannya pada Allah. Fokus mereka hanya akan ada pada patung berhala tersebut sebagai allah mereka.
Dan itu merupakan suatu kejahatan di mata Allah, yang pada akhirnya, kejahatan tersebut akan menentukan keputusan-keputusan dan perilaku mereka. Padahal di dalam Perintah Kesatu, dari 10 Perintah Allah disebutkan: “Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku”. Di sini Allah menegaskan bahwa Allah tidak memberikan alternatif kepada manusia. Ia adalah Tuhan atas kehidupan, dan hanya kepada-Nyalah kita berhutang atas keberadaan kita, kehidupan kita dan diri kita sebagaimana kita adanya saat ini, yaitu sebagai anak-anak Allah, sebagai ahli watis kerajaan sorga dan sebagai pengantin perempuan sidang jemaat Tuhan. Oleh karena itu, layaklah dan adalah menjadi hak Allah untuk dapat senantiasa dipermuliakan, diperagungkan. Segala puji dan kehormatan hanyalah bagi Allah. 

Yesus memberikan suatu contoh yang sedemikian agung, ketika Ia dicobai oleh iblis, "... Semua itu akan kuberikan kepada-Mu, jika Engkau sujud menyembah aku. Maka berkatalah Yesus kepadanya: "Enyahlah, Iblis. Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti! (Mat. 4:9-10). Hubungan kita dengan Allah Tritunggal hendaknya dibentuk sedemikian rupa, sehingga jangan sampai ada tempat bagi berhala-berhala apapun. Kita adalah anak-anak-Nya, kita mengasihi Dia dan mengandalkan diri kepada Dia.

Bahaya dalam kehidupan sehari-hari

Meski kita memiliki hubungan yang istimewa dengan Allah, tetapi kita harus tetap waspada, karena hubungan dan persekutuan kita dengan Allah, dapat saja terganggu. Harun dan umat Israel berpendapat, bahwa mereka sudah ditinggalkan begitu saja oleh Musa dan Allah, sehingga mereka mulai mencari sebuah alternatif.

Pada masa sekarang ini, ketika kita terkadang merasa sendiri, merasa ditinggalkan, merasa dipinggirkan, tidak bisa memahami tindakan Allah, atau memiliki perasaan bahwa Allah tidak lagi mau mendengarkan doa-doa kita, maka akan dengan mudah iblis masuk ke hati dan kepikiran kita, mengganggu dan mendorong kita untuk menjadikan keinginan-keinginan dan harapan-harapan kita, menjadi lebih
penting bagi kita daripada kehendak Allah, dan itu, bahkan dapat berkembang menjadi “berhala-berhala”, yang mungkin tidak kita sadari, sebagai contoh:
  • Keinginan-keinginan, ide-ide, gagasan-gagasan, harapan-harapan, dorongan-dorongan yang demikian kuat dan menggebu-gebu, bahkan mendominasi seluruh pandangan, fokus dan kepikiran kita, bisa menjadi berhala bagi kita sendiri. Kita tidak lagi bisa mengenali kehendak Allah, bahkan tidak menutup kemungkinan kita akan mengabaikan kehendak Allah. Tidak jarang, untuk "melegalisasikan" keinginan, ide, gagasan dan harapan kita tadi, kita menggunakan ayat-ayat dalam kitab Injil sebagai "pembenar" cara berpikir kita. Dan ini bisa berakibat fatal.
  • Harga diri dan kehormatan. Adalah sangat dipahami kalau ada seseorang yang ingin untuk dapat mencapai suatu posisi tertinggi dalam karir dan hidupnya. Karena kalau kita mengacu pada teori Maslow, maka puncak dari keinginan manusia adalah harga diri atau kehormatan. Hanya perlu kita sadari bahwa keinginan yang terlalu kuat untuk mencapai kehormatan diri dapat menjauhkan manusia dari Allah. Mereka mengabaikan kehendak Allah. Mereka akan menggunakan segala cara untuk mencapai. Mereka tidak peduli la. gi dengan sesamanya dan bahkan tidak peduli dengan Allah. Bila terjadi yang sedemikian, harga diri dan kehormatan dapat menjadi berhala bagi kita. Jika terjadi hal ini marilah kita senantiasa ingat firman Tuhan dalam Matius 16:24.
  • Kekayaan duniawi. Adalah tidak salah ketika seseorang ingin hidup enak, layak dan kaya. Tetapi marilah kita hendaknya dapat menempatkan prioritas hidup kita, pada tempat yang benar. Dalam kitab matius 6:33, dinyatakan, "Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu." Ketika kita berusaha untuk mendapatkan kekayaan dengan segala cara atau ketika kita sudah memiliki kekayaan yang sedemikian besar, sehingga menggunakan kekuatan harta ini untuk melakukan memenuhi keinginan kita, maka akan menjadi bahaya besar bagi kita, karena akan menjadikan harta kekayaan itu sebagai berhala. Kita menjadi tidak peduli lagi dengan kehendak Allah bahkan mungkin kita akan berpikir, bahwa kita tidak lagi membutuhkan Allah, kaena apa yang kita inginkan, semua dapat kita peroleh dengan harta kita.
Dari ketiga contoh di atas, kita jadi mengerti, mengenali dan bisa memahami, bahwa berhala pada masa sekarang ini, bukanlah semata-mata hanya berupa patung melainkan berbagai hal yang dapat mengalihkan fokus dan pandangan kita dari Allah dan menjadikan hal itu sebagai fokus dan perhatian utama dalam hidup kita, itulah berhala.

Tujuan kita

Tujuan kita mengikut Tuhan Yesus, sebenarnya adalah untuk masuk ke dalam per-
sekutuan yang kekal dengan Allah Tritunggal, yang diawali oleh para sulung pada peristiwa kedatangan Kristus kembali untuk menjemput umat milik-Nya, pengantin perempuan sidang jemaat Tuhan. Barangsiapa tetap memiliki dan dapat menjaga hubungan dan persekutuan yang erat dengan Allah, melalui firman dan sakramen, maka ia akan senantiasa dapat menempatkan Allah pada tempat yang utama dan pertama dan ia tidak akan berada dalam bahaya, untuk menggantikan Allah dengan berhala.

Amin.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Indahnya Memberi - Indahnya Berbagi. Bahagianya Memberi

Seorang dosen yang dikenal bijaksana, tengah berjalan santai bersama seorang mahasiswa di taman kampus. Tidak lama keduanya melihat ada sepa...