Minggu, 18 Agustus 2019

Keindahan itu, tidak jauh dari kita

Pada tahun 2007, The Washington Post pernah melakukan sebuah eksperimen yang cukup menarik. Mereka meminta seorang pemain biola ternama, Joshua Bell, untuk menunjukkan kebolehannya di sudut sebuah stasiun.

Tidak tanggung-tanggung, sang violinis mempersembahkan lagu yang paling sulit dimainkan, berjudul Chaconne, Partita No 2 in D Minor karya maestro Sebastian Bach. Biola yang digunakan pun tidak main-main, yaitu biola termahal miliknya yang nyaris sempurna menghasilkan nada paling merdu.

Bagaimana hasilnya? Selama satu jam permainannya, dengan lebih dari seribu orang yang melewati jalan tersebut, namun hanya tujuh orang saja yang berhenti sejenak dan menikmati sajian indah dan gratis itu.

Padahal, tiga hari sebelumnya, Joshua Bell baru saja menggelar pertunjukan tunggal di sebuah teater musik yang kursi penontonnya terjual habis, meski tiket dijual seharga seratus dolar per lembar!

Eksperimen ini dilakukan untuk menunjukkan dan membuktikan kepada kita semua, bahwa sebenarnya keindahan itu dapat dengan mudah kita temui di mana saja, bahkan keindahan itu ada sangat dekat dengan kita. Namun, terkadang justru kita mengacuhkannya dan tidak menyadari keberadaannya.

Berapa banyak keindahan yang kita lewati. Kita sering kali menyangka apa yang ada di sekitar kita, tidak ada sesuatu yang berharga, padahal kenyataannya adalah kita yang tidak peduli. Hanya karena permainan biola itu dibawakan di stasiun, bukan berarti menjadi kehilangan keanggunannya.

Mari kita mulai belajar untuk menghargai. Temukanlah segala keindahan melalui segala apa yang diciptakan Allah, "Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik" (Kej. 1:31). Jika kita dapat mengamini apa yang dinyatakan Allah, maka pastilah dalam segala sesuatu yang menjadi ciptaan-Nya akan terdapat keindahan. Tugas kita adalah untuk menemukan keindahan tersebut.

Sadarilah, bahwa apapun yang kita temukan, dimana pun kita berada, baik di rumah, di tempat kerja, atau pun di tempat lainnya, sebetulnya punya keindahannya sendiri-sendiri. Mungkin karena kita yang terlalu banyak mengeluh, sehingga kita tidak menyadarinya.

Rasakanlah dalam wajah-wajah anggota keluarga kita di rumah, tersimpan keindahan yang kita butuhkan. Hanya saja waktu kita habis untuk smartphone, atau pun kesibukan kerja lainnya, sehingga kita tidak bisa lagi merasakannya.

Ketika kita membaca Alkitab, bernyanyi, bersenandung dan berdoa, terkandung keindahan yang sangat menentramkan hati bagi pembaca maupun pendengarnya. Sebagaimana yang banyak kita baca di kitab Mazmur dan Kidung Agung.

Dari sana kita akan kembali sadar bahwa keindahan hanyalah berasal dari Allah dan hanya kepada-Nyalah kita layak untuk memuji dan mengagungkan nama-Nya.

Semoga dengan renungan ini, kita akan senantiasa memperbaiki ibadah kita kepada Allah, yang hendaknya ternyata dalam tutur kata, cara berpikir dan berbuat yang baik dan benar di hadapan Allah.

Amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Indahnya Memberi - Indahnya Berbagi. Bahagianya Memberi

Seorang dosen yang dikenal bijaksana, tengah berjalan santai bersama seorang mahasiswa di taman kampus. Tidak lama keduanya melihat ada sepa...