Rabu, 11 September 2019

Kasih dan Persaudaraan


BACAAN ALKITAB

Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat. Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan".(Roma 12:10)

PENGAJARAN 

Tuhan Yesus pernah berbicara kepada para ahli Taurat perihal arti penting kasih. Ia mengatakan, “Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi." 

Dari bacaan bagian Alkitab di atas, Rasul Paulus menekankan lagi apa yang diajarkan Tuhan Yesus, tentang arti kasih persaudaraan dan bagaimana kita hendaknya dapat menghargai orang lain dengan berusaha untuk terlebih dahulu memberi hormat. Diharapkan, dengan dapat tumbuh dan terjaganya kasih persaudaraan dan saling menghargai, pergaulan yang ramah dan penuh kasih, satu dengan yang lain, akan tercipta persekutuan, kebersamaan, kerukunan di dalam sidang jemaat Tuhan, meskipun anggota sidang jemaat Tuhan berasal dari latar belakang sosial dan ras yang berbeda-beda. Sikap ini adalah sikap yang selaras dengan apa yang diajarkan Tuhan. Jadi inilah sebenarnya dasar dari seluruh pengajaran Injil, yaitu kasih kepada Allah dan sesama.

Tidaklah senantiasa mudah untuk berpegang pada perintah ini, karena kita sebagai manusia, sering kali cepat sekali membuat keputusan yang tidak berdasar pada kasih. Padahal, Allah mengasihi setiap orang, sama. marilah kita memusatkan diri dan menjumpai sesama kita dengan penuh kasih, sebagaimana Allah mengasihi semua orang. Kita ingin memusatkan diri pada Tuhan Yesus Kristus, yang mengatakan dan mengajarkan kepada kita tentang, siapakah sesamamu manusia itu (band. Luk. 10:36,37).

Marilah kita berusaha untuk mempraktekkan dan melakukan hukum kasih ini yaitu mengasihi Allah dan sesama, dan mengusahakan perdamaian dengan setiap orang. Ini harus menjadi ciri khas kita, sebagai seorang anak Allah. 

Berikut adalah beberapa contoh sikap hidup yang hendaknya hidup dan tumbuh dalam diri kita sebagai perwujudan dan implementasi dari upaya kita untuk mengetrapkan kasih kepada Allah dan sesama

1. Penghormatan dan Penghargaan

Kita tidak ingin hanya melihat kepada diri kita sendiri saja, melainkan juga hendaknya dapat memberikan perhatian lebih pada kesejahteraan orang lain. Di dalam hal ini kita hendaknya dapat senantiasa berusaha menghadapi dan menjumpai orang lain dengan penuh pengertian, pemahaman, rasa empati dan penghargaan yang selayaknya kepada mereka.

Sikap hidup yang sedemikian ini hendaknya dapat ternyata dan dirasakan serta menjadi ciri khas dalam kehidupan bersama kita di dalam sidang jemaat Tuhan, meskipun kita semua berasal dari keadaan-keadaan dan altar belakang yang berbeda. Perbedaan-perbedaan yang ada tidak boleh memisahkan, melainkan hendaknya makin memperkaya kebersamaan kita. Hal ini akan berhasil, jika kita senantiasa berusaha memahami atau mengerti akan kekurangan dan kelemahan orang lain, serta mampu untuk menghargai keistimewaan-keistimewaan dan bakat-bakat orang lain, yaitu menjumpainya dengan penuh “penghormatan dan penghargaan”. 

Dengan demikian “saling mendahului dalam memberi hormat”, berarti juga, menghargai talenta-talenta dan kemampuan-kemampuan orang lain lebih tinggi dari pada diri sendiri. Selanjutnya penghormatan dan penghargaan yang sejati ini, akan memampukan dan mendorong kita untuk memiliki kerendahan hati, karena tanpa kerendahan hati, tidak mungkin kita akan dapat menghormati dan menghargai orang lain
.
Banyak pendapat bahwa ketika kita merendahkan diri kita sendiri, maka kita seolah olah telah memberikan terlalu banyak penghargaan kepada orang lain. Namun yang sebenarnya terjadi adalah sebaliknya, yaitu: Semakin banyak kita memberi penghargaan kepada orang lain, semakin banyak kita menerimanya kembali.

2. Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor

Banyak orang berpikir dan merasa, bahwa tidak ada gunanya untuk mengerahkan talenta-talenta yang kita miliki di dalam sidang jemaat Tuhan. Perasaan yang sedemikian itu dapat timbul karena kurangnya kerendahan hati. Bacaan bagian Alkitab di atas justru berkata sebaliknya. Nas itu dengan jelas menghimbau kita untuk tidak mengutamakan aktualisasi diri kita, melainkan lebih untuk dapat melayani di dalam sidang jemaat dan kepada Tuhan. Dalam hal ini bukan berarti kita tidak boleh memberikan apa yang terbaik dari talenta-talenta yang kita miliki, kepada sidang jemaat dan kepada Tuhan. Tetapi marilah, dalam upaya kita memberikan talenta yang terbaik yang kita miliki, hendaknya selalu dan tetaplah menaruhkan hormat dan penghargaan yang tinggi kepada talenta-talenta yang dimiliki oleh saudara-saudari yang lain, sehingga kita tidak mendominasinya sendiri. Jika kita dapat bersikap dengan cara yang sedemikian, dalam kehidupan sidang jemaat dan menggunakan talenta-talenta kita miliki untuk pelayanan dalam sidang jemaat dan melayani Tuhan, maka, begitulah sebenarnya cara melayani Tuhan, yang benar.

3. Menyala-nyala di dalam roh

“Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia” (Kol. 2:23). Jadi semua sukacita dan keikutsertaan kita, hendaknya berasal dari kasih kita kepada Allah dan pekerjaan-Nya, dan itu dinyatakan kepada kita melalui kinerja Roh Kudus.

Petunjuk-petunjuk ini hendaknya dapat menjadikan hubungan kita dengan Allah dan sesama menjadi semakin erat. Karena itulah kita tidak ingin menjadi kendor di dalam perbuatan. Di dalam hal ini kita juga tidak ingin membiarkan diri kita disimpangkan oleh keadaan-keadaan yang tidak menguntungkan
.
Demikianlah kita ingin melayani Tuhan dan saling melayani satu dengan yang lain, sehingga kehidupan dalam sidang jemaat akan dipenuhi dengan berkat ilahi dan menjadi suatu persekutuan yang bersukacita, dalam menantikan kedatangan Tuhan Yesus Kristus kembali.

Amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Indahnya Memberi - Indahnya Berbagi. Bahagianya Memberi

Seorang dosen yang dikenal bijaksana, tengah berjalan santai bersama seorang mahasiswa di taman kampus. Tidak lama keduanya melihat ada sepa...