BACAAN ALKITAB
Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: "ya Abba, ya Bapa" Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah. Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia." (Roma 8:15-17)PENGAJARAN
Melalui kelahiran baru dengan air dan Roh, seseorang mendapat keanakan di dalam Allah, dan oleh Roh itu, kita berseru: "ya Abba, ya Bapa". Keanak-Allah-an yang diberikan kepada kita, menjadikan hubungan kita dengan Allah tidak lagi seperti seorang hamba atau budak dengan majikan, yang selalu dihantui dengan perasaan takut, melainkan seperti seorang anak kepada bapanya.
Dalam kehidupan sehari-hari, akan sangat berbeda, hubungan antara majikan dengan seorang hamba dibandingkan hubungan seorang anak dengan bapanya. Secara psikologis, ada jarak yang memisahkan seorang hamba dengan majikan. Seorang hamba tidak memiliki hak untuk bertanya, tidak memiliki hak untuk memohonkan sesuatu, terlebih lagi, seorang hamba tidak memiliki hak untuk memperoleh warisan. Seorang hamba, seringkali diperlakukan semena-mena oleh majikannya, sehingga yang senantiasa ada dalam hati dan pikirannya, perasaaan takut dan penuh kekawatiran akan nasibnya.
Berbeda sekali dengan hubungan antara anak dan bapa. Disini ada hubungan yang begitu dekat, begitu erat, ada rasa kehangatan di dalamnya. Seorang anak dapat bertanya kepada sang bapa. Ia dapat dan boleh memohonkan apa yang menjadi keinginannya. Bahkan ia memiliki hak untuk memperoleh warisan dari bapanya. Kedekatan yang sedemikian ini, begitu hangat dan menyukakan, tidak ada ketakutan, tidak ada kekhawatiran dan tidak ada jarak diantaranya. Seorang bapa akan menjaga dan melindungi anak-anaknya. Ia akan senantiasa memperlakukan anaknya dengan penuh kasih. Seorang bapa, akan siap sedia untuk menolong dan membantu anak-anaknya
Setelah mendapatkan kelahiran baru dengan air dan Roh, hubungan kita dengan Allah, bukan lagi seperti seorang hamba atau budak dengan majikannya, melainkan lebih daripada itu, seperti seorang anak kepada bapanya. Terdapat kedekatan yang begitu erat dengan Allah, sehingga kita dapat menyebutnya, "ya Abba, ya Bapa".
Sebagai seorang anak Allah, kita dapat bertanya kepada Allah, kita dapat memohonkan apa yang kita inginkan, sebab Allah adalah Bapa yang maha baik, Bapa yang maha sayang kepada anak-anak-Nya. "Adakah seorang dari padamu yang memberi batu kepada anaknya, jika ia meminta roti, atau memberi ular jika ia meminta ikan? Jadi, jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya." (Matius 7:9-11). Oleh karena itu bermohonlah kepada Allah, karena Allah adalah Bapa yang maha kaya, Bapa yang maha baik.
Saat kita dalam ketakutan atau kekuatiran, berserulah kepada Allah, karena Ia adalah Bapa yang maha kuat. Dia-lah perisai dan pelindung kita. Ia akan menyertai kita. Oleh karena itu, taruhkanlah pengandalan dan pengharapanmu kepada Dia.
Dikala kita dalam kesesakan atau penderitaan, larilah dan berserulah kepada Allah, karena Ia adalah Bapa yang maha penolong. Ia akan menolong kita dan Ia akan menguatkan kita. Oleh karena itu berpautlah kepada Allah Sang Bapa.
Lebih daripada itu semua, bersama-sama dengan Kristus, sebagai yang sulung, Allah Sang Bapa mengaruniakan warisan kemuliaan bagi kita semua, anak-anaknya.
Semuanya itu akan kita alami, jika kita memiliki kemenurutan kepada Sang Bapa. Oleh karena itu, marilah kita memiliki kesukaan untuk melakukan apa yang menjadi kehendak-Nya. Allah adalah Bapa kita. Marilah kita tumbuhkan iman--kepercayaan, pengharapan dan pengandalan kita kepada Allah, Sang Bapa kita.
Bermohonlah, berserulah, dan larilah kepada Allah, karena Ia adalah Bapa yang maha baik, bagi kita semua, anak-anak-Nya.
Amin
Dalam kehidupan sehari-hari, akan sangat berbeda, hubungan antara majikan dengan seorang hamba dibandingkan hubungan seorang anak dengan bapanya. Secara psikologis, ada jarak yang memisahkan seorang hamba dengan majikan. Seorang hamba tidak memiliki hak untuk bertanya, tidak memiliki hak untuk memohonkan sesuatu, terlebih lagi, seorang hamba tidak memiliki hak untuk memperoleh warisan. Seorang hamba, seringkali diperlakukan semena-mena oleh majikannya, sehingga yang senantiasa ada dalam hati dan pikirannya, perasaaan takut dan penuh kekawatiran akan nasibnya.
Berbeda sekali dengan hubungan antara anak dan bapa. Disini ada hubungan yang begitu dekat, begitu erat, ada rasa kehangatan di dalamnya. Seorang anak dapat bertanya kepada sang bapa. Ia dapat dan boleh memohonkan apa yang menjadi keinginannya. Bahkan ia memiliki hak untuk memperoleh warisan dari bapanya. Kedekatan yang sedemikian ini, begitu hangat dan menyukakan, tidak ada ketakutan, tidak ada kekhawatiran dan tidak ada jarak diantaranya. Seorang bapa akan menjaga dan melindungi anak-anaknya. Ia akan senantiasa memperlakukan anaknya dengan penuh kasih. Seorang bapa, akan siap sedia untuk menolong dan membantu anak-anaknya
Setelah mendapatkan kelahiran baru dengan air dan Roh, hubungan kita dengan Allah, bukan lagi seperti seorang hamba atau budak dengan majikannya, melainkan lebih daripada itu, seperti seorang anak kepada bapanya. Terdapat kedekatan yang begitu erat dengan Allah, sehingga kita dapat menyebutnya, "ya Abba, ya Bapa".
Sebagai seorang anak Allah, kita dapat bertanya kepada Allah, kita dapat memohonkan apa yang kita inginkan, sebab Allah adalah Bapa yang maha baik, Bapa yang maha sayang kepada anak-anak-Nya. "Adakah seorang dari padamu yang memberi batu kepada anaknya, jika ia meminta roti, atau memberi ular jika ia meminta ikan? Jadi, jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya." (Matius 7:9-11). Oleh karena itu bermohonlah kepada Allah, karena Allah adalah Bapa yang maha kaya, Bapa yang maha baik.
Saat kita dalam ketakutan atau kekuatiran, berserulah kepada Allah, karena Ia adalah Bapa yang maha kuat. Dia-lah perisai dan pelindung kita. Ia akan menyertai kita. Oleh karena itu, taruhkanlah pengandalan dan pengharapanmu kepada Dia.
Dikala kita dalam kesesakan atau penderitaan, larilah dan berserulah kepada Allah, karena Ia adalah Bapa yang maha penolong. Ia akan menolong kita dan Ia akan menguatkan kita. Oleh karena itu berpautlah kepada Allah Sang Bapa.
Lebih daripada itu semua, bersama-sama dengan Kristus, sebagai yang sulung, Allah Sang Bapa mengaruniakan warisan kemuliaan bagi kita semua, anak-anaknya.
Semuanya itu akan kita alami, jika kita memiliki kemenurutan kepada Sang Bapa. Oleh karena itu, marilah kita memiliki kesukaan untuk melakukan apa yang menjadi kehendak-Nya. Allah adalah Bapa kita. Marilah kita tumbuhkan iman--kepercayaan, pengharapan dan pengandalan kita kepada Allah, Sang Bapa kita.
Bermohonlah, berserulah, dan larilah kepada Allah, karena Ia adalah Bapa yang maha baik, bagi kita semua, anak-anak-Nya.
Amin
Tidak ada komentar:
Posting Komentar