Minggu, 01 September 2019

Menghargai dan Menghormati

BACAAN ALKITAB

Dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama daripada dirinya sendiri dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga. (Filipi 2:3-4)

PENGAJARAN

“Setiap orang hanya memikirkan dirinya sendiri, hanya saya yang memikirkan diri saya…” Ungkapan sedemikian ini, merupakankan perilaku banyak orang sejak lama, dan sayangnya, banyak pemimpin negara dan pembentuk opini pada masa sekarang ini, justru seringkali memberikan contoh yang negatif.

Sikap mementingkan diri sendiri, tidak mau merukunkan diri, egoisme dan individualisme yang berlebihan, nampaknya juga membahayakan keharmonisan di dalam sidang jemaat Kristen yang masih muda, di Filipi (Flp. 1:17-27).

Hidup dalam persekutuan dengan Kristus

Rasul Paulus tahu dan sadar bahwa di dalam sidang jemaat, ada banyak karunia, tetapi ia menekankan bahwa semuanya dipimpin dan berada dalam satu Roh (1 Kor. 12:4). Dalam hal ini, Paulus tidak berbicara bagaimana untuk menyeragamkan semua orang atau menyeragamkan semua karunia itu, tetapi ia justru ingin melihat bagaimana keragaman karunia yang dimiliki oleh masing-masing individu, didorong untuk dapat lebih berkembnag. Setiap orang hendaknya menyumbangkan karunia-karunia dan kemampuan-kemampuan yang berbeda, yang dimilikinya untuk kepentingan seluruh sidang jemaat. Dengan demikian hidup dalam kebersamaan dan persekutuan dengan Kristus, akan dapat juga menjadi teladan bagi orang lain.

Kelemahan manusia

Paulus melihat dari dekat dan merasakan bahwa di sidang jemaat Efesus, kelemahan dan ketidak-sempurnaan manusiawi dapat menimbulkan dan menjadi penyebab ketegangan-ketegangan. Ia menunjuk dengan konkret beberapa hal yang dapat membahayakan kebersamaan dan persekutuan dalam sidang jemaat:
  • Egoisme, berarti menjadikan kepentingan pribadi sebagai sesuatu yang diutamakan. Orientasi pada kepentingan pribadi yang berlebihan, menjadikan seseorang mati rasa terhadap penderitaan sesama. Perilaku sedemikian menunjukkan egoisme yang tidak terkendali, dan hal ini merupakan musuh besar dalam hubungan antarpribadi dalam kemanusiaan. Terhadap hal itu Yesus menyerukan kasih kepada Allah dan kepada sesama – bahkan kepada musuh (Mat. 22:38-39; 5:44). Yesus peduli terhadap kesejahteraan semua orang. Ia berusaha menunjukkan dan mengajar mereka bagaimana mengasihi Allah dan sesama. Ia berpaling kepada orang-orang yang membutuhkan.
  • Kesombongan berarti penilaian berlebihan terhadap bakat dan kemampuan diri sendiri. Perilaku sedemikian, menjadikan orang lain sulit memiliki kesempatan untuk mempersembahkan bakat dan kemampuan mereka bagi kesejahteraan orang lain. Pendirian Yesus sangat jelas terhadap sikap yang sedemikian ini, dengan memberikan contoh dalam perumpamaan tentang orang Farisi dan pemungut cukai di Bait Allah (Luk 18:9-14).
Sebenarnya Yesus tidak melarang seseorang untuk mengungkapkan sukacita mereka atas bakat dan kemampuan yang dimilikinya. Tetapi Ia ingin menunjukkan suatu sikap hati yang benar:
  • Kerendahan hati - adalah suatu sikap yang berhubungan dengan kesiapsediaan untuk melayani. Seseorang tidak akan mungkin bisa melayani Allah dan sesama, jika ia tidak mampu untuk merendahkan diri. Tanpa kerendahan hati, tidak mungkin seseorang bisa menghargai dan menghormati orang lain. Yesus menjadikan diri-Nya sebagai contoh kerendahan hati dan memuji mereka yang berbahagia, yang suci hatinya (Mat. 11:29; 5:8). Sama seperti Yesus yang peduli terhadap kesejahteraan semua orang, kita hendaknya juga memiliki keinginan untuk memperhatikan dan menghormati sesama kita. Ini dapat dinyatakan dengan cara yang paling indah, ketika kita mampu untuk melayani Allah dan orang lain.
  • Menghargai sesama. Suatu sikap yang membutuhkan kemampuan untuk menerima orang lain, sebagaimana adanya. Yesus kembali memberikan contoh kepada kita. Ia mampu menerima setiap orang yang datang kepada-Nya. Sejelek dan seburuk apapun, sikap, karakter dan perbuatan seseorang, Yesus berkenan untuk menerima mereka yang datang kepada-Nya. Bahkan Ia berkenan untuk menyambut anak-anak yang datang kepada-Nya, meski orang banyak belum bisa menghargai seorang anak. Perlu kita sadari bahwa, sehina-hinanya seseorang, serendah-rendahnya seseorang, semiskin-miskinnya seseorang dan sebodoh-bodohnya seseorang, mereka tetap memiliki harga diri, yang perlu kita hargai. Sebagai umat milik Allah, perlu kita pahami bahwa apapun yang kita lakukan kepada seseorang, pada dasarnya kita memperlakukan hal itu kepada Tuhan Yesus. Ketika kita tidak bisa menghargai orang lain, berarti pada saat yang sama, kita juga tidak bisa menghargai Tuhan Yesus. Dengan kata lain, ketika kita merendahkan orang lain, pada saat yang sama kita juga merendahkan Tuhan Yesus, " Dan raja itu akan menjawab mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu kakukan untuk salah satu dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku." (Matius 25:40) Hal ini dapat kita lakukan, jika kita mampu untuk merendahkan diri. Penghormatan dan penghargaan kepada orang lain dapat kita lakukan, jika kita mampu untuk merendahkan diri.
Demikianlah, dengan kerendahan hati dan kemampuan untuk menghargai orang lain, akan senantiasa tercipta suatu persekutuan dalam Roh yang dapat menjadi kesaksian yang hidup dari murid-murid Kristus (Yoh. 13:34-35) Mari kita nyatakan hal ini dalam kata dan perbuatan.

Amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Indahnya Memberi - Indahnya Berbagi. Bahagianya Memberi

Seorang dosen yang dikenal bijaksana, tengah berjalan santai bersama seorang mahasiswa di taman kampus. Tidak lama keduanya melihat ada sepa...