Selasa, 15 Oktober 2019

Gandum dan Lalang

BACAAN ALKITAB

Yesus membentangkan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya: “Hal Kerajaan Sorga itu seumpama orang yang menaburkan benih yang baik di ladangnya. Tetapi pada waktu semua orang tidur, datanglah musuhnya menaburkan benih lalang di antara gandum itu, lalu pergi. Ketika gandum itu tumbuh dan mulai berbulir, nampak jugalah lalang itu. (Matius 13:24-26)

PENGAJARAN

Ladang yang dimaksudkan dalam bacaan Alkitab di atas adalah hati umat manusia, dan orang yang menabur benih yang baik adalah Yesus Kristus. Benih yang baik, yang ditabur, adalah Injil Kristus, yang ditabur pada hati semua umat manusia, baik kepada orang yang jahat maupun pada orang yang baik. Mereka yang mau menerimanya dengan hati yang percaya dan memperkenankan benih itu tumbuh, akan menghasilkan buah.

Hamba-hamba dari Sang penabur terkejut dan takut ketika melihat adanya lalang di ladang. Sebaliknya, Sang penabur tetap tenang: ia tahu bahwa kejahatan yang dilakukan musuhnya tidak akan menghalanginya untuk dapat memperoleh tuaian atau panenan.

Ketika orang-orang melihat dan merasakan kejahatan di bumi yang semakin meningkat, mereka beranggapan bahwa Allah tidak ada. Namun, bagi para percayawan, anggapan ini adalah tidak benar. Sebenarnya kejahatan terjadi akibat dari kebebasan yang diberikan kepada umat manusia untuk memilih. Kejahatan terjadi karena manusia memilih untuk tidak menuruti dan menolak kehendak Allah, dan kejahatan ditabur oleh musuh dimana-mana. Musuh-musuh ini, menabur kejahatan persis bahkan sangat dekat dengan tempat-tempat dimana penabur telah menaburkan benih yang baik. Sebagai contoh, iblis menabur kejahatan, antara lain di rumah kita, di lingkungan tempat kerja kita, bahkan iblis juga menaburnya di dalam gereja, dalam sidang jemaat Tuhan.

Meskipun demikian, Tuhan menasihati kita untuk tetap tenang. Iblis tidak akan dapat membatalkan rencana kelepasan Allah, sebagai buah dari benih yang ditabur oleh Sang Tuan, karena Yesus Kristus telah mengalahkan kejahatan (1 Yoh. 3:8).

Meski musuh telah menaburkan benih lalang dan tumbuh di ladang, tetapi kualitas benih yang ditabur, tidaklah perlu diragukan dan pekerjaan dari mereka yang telah menaburnya, juga tidaklah dapat diragukan. Marilah kita mengandalkan diri pada Kristus. Injil-Nya berlaku kekal dan Ia akan mempertahankan gereja-Nya terhadap serangan-serangan si jahat. Pada masa ini penabur itu, termasuk di dalamnya adalah para Rasul Tuhan yang masih hidup saat ini, beserta dengan para pembantunya semua. Para percayawan, tidak hanya menjadi ladang bagi benih baik yang ditaburkan, tetapi mereka pun dapat juga menjadi penabur, benih yang baik tersebut, dan Tuhan Yesus akan tetap menyertai para Rasul-Nya dan para penabur, benih yang baik, tersebut

Ketika hamba-hamba Penabur ini datang dan menawarkan diri untuk mencabuti lalang-lalang tersebut, Penabur itu justru melarang hamba-hamba-Nya untuk mencabut lalang-lalang tersebut, sebab, mungkin gandum itu pun akan ikut tercabut. Mari kita ambil contoh, ketika kita akan menasehati seseorang yang telah berbuat jahat, berhati-hatilah. Jangan sampai orang tersebut, yang adalah sebagai tumbuhan gandum milik Allah, menjadi tersinggung, dan justru akan tercabut sehingga menjauhkan diri dari Allah atau menjauhkan diri persekutuan sidang jemaat Tuhan.

Misi kita bukanlah untuk menyingkirkan kejahatan dari bumi ini. Hanya Kristus-lah yang dapat mengikat Iblis, dan Ia akan melakukan hal tersebut pada waktu yang telah ditentukan. Kristus datang bukan untuk menghukum pendosa, melainkan untuk menyelamatkannya. Di dalam gereja-Nya, Ia menawarkan kelepasan kepada semua orang, baik kepada orang yang baik maupun orang yang jahat.

Tugas kita juga bukan untuk menghakimi orang lain (Luk. 6:37). Seandainya kita memang benar-benar melihat suatu kejahatan yang dilakukan oleh sesama kita, bukanlah tugas kita untuk menghakimi kesalahannya. Kita mungkin dapat melihat dengan baik, apa yang telah mereka lakukan, tetapi kita tidak tahu dengan sesungguhnya, motivasi apa yang menyebabkan orang tersebut melakukannya.

Meski demikian, jangan hanya karena kita tidak menghakimi atau menghukum orang yang bersalah, kemudian kita dianggap menyetujui perilakunya yang berdosa. Bukan demikian juga. Apa yang Tuhan harapkan dari kita adalah, untuk datang dan mengulurkan tangan kita, untuk mengasihi sesama kita dan mendoakan bagi mereka suatu kelepasan, meskipun mereka telah jatuh dalam dosa.

Kehadiran lalang di ladang tidaklah menghalangi benih yang baik untuk menghasilkan buah. Kelepasan atau keselamatan kita, tidak bergantung pada berapa jumlah “lalang” yang ada di sekitar kita, tetapi pada seberapa erat hubungan dan persekutuan kita dengan Yesus Kristus. Pada masa panenan, Allah akan menghakimi tingkat kematangan dan buah yang dihasilkan dari gandum-gandum itu. Ketika Yesus datang kembali, Tuhan akan menilai dan memutuskan apakah kita berada dalam posisi telah memenuhi misi yang Ia harapkan dan yang telah dipercayakan kepada kita. Ia akan menerima mereka yang dapat dipercaya dan mampu bersaksi tentang Injil-Nya dan kelepasan-Nya, di dalam kerajaan damai seribu tahun, dan mereka yang karena dorongan kasih, memiliki ketulusan, untuk menolong dan menyelamatkan semua manusia. 

Konteks
Injil Matius memberitakan bahwa Yesus men-
ceritakan dan mengartikan perumpamaan ten-
tang penabur begitu pula perumpamaan ten-
tang lalang di antara gandum (Mat. 13:3-42).
Kedua perumpamaan ini harus dilihat secara
terpisah satu dengan yang lain! Perumpama-
an tentang lalang berbicara tentang mereka
yang ingin mengikut Yesus dan tentang me-
reka yang ingin menolak Dia. Kejahatan tidak
dapat menghalangi orang-orang percaya un-
tuk meraih kelepasan. Di dalam gereja Kris-
ten, baik orang yang baik maupun orang
yang jahat ada berdampingan, dan tidak ada
orang yang dapat memisahkan mereka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Indahnya Memberi - Indahnya Berbagi. Bahagianya Memberi

Seorang dosen yang dikenal bijaksana, tengah berjalan santai bersama seorang mahasiswa di taman kampus. Tidak lama keduanya melihat ada sepa...