Selasa, 15 Oktober 2019

Memuji Karya Allah

BACAAN ALKITAB

Menyanyilah bagi TUHAN, pujilah nama-Nya, kabarkanlah keselamatan yang dari pada-Nya dari hari ke hari. (Mazmur 96:2)

PENGAJARAN

Ketika melihat seseorang telah membuat suatu karya yang sangat indah, bagus, serta menakjubkan dan bahkan karya-karya yang spektakuler, apa pun itu bentuk dan wujudnya, pastilah seseorang akan berdecak kagum, dan seringkali tanpa disadari akan terungkap kata-kata yang menunjukkan akan kekagumannya. Ada yang awalnya duduk, akan bangkit berdiri dan bertepuk tangan untuk menunjukkan rasa kagum dan hormatnya, ada yang bersiul-siul, ada yang mengabadikan momen itu, dan lain-lain. Semua itu menunjukkan dan sebagai ungkapan akan rasa kagum, terpesona dan rasa hormat akan karya yang telah dihasilkan.

Pujian penulis Mazmur akan kuasa Allah yang nyata dalam ciptaan-Nya, dinyatakan di dalam Mazmur 96. Kenyataan bahwa Allah adalah Sang Pencipta dapat dibuktikan baik di dalam kitab Perjanjian Lama maupun kitab Perjanjian Baru, dan juga di semua pengakuan-pengakuan iman gereja awal. Selain itu, Allah adalah juga Pembawa dan Pekerja keselamatan, bagi manusia yang telah jatuh ke dalam dosa. Dan ini hendaknya juga dipuji dan diberitakan oleh setiap umat manusia, khususnya para percayawan di Israel, waktu itu.

Mempersembahkan pujian kepada Allah sebagai Pencipta adalah sangat penting bagi orang-orang percaya di antara bangsa Israel. Mereka mengungkapkan rasa syukur mereka atas tenaga dan kuasa Allah yang senantiasa memelihara dan merawat mereka. Sikap rasa syukur yang mendasar dari makhluk-makhluk ciptaan Allah kepada Penciptanya, juga merupakan suatu wujud dan objek pengakuan di dalam iman Kristen.

Nyanyikan dan pujilah nama-Nya. Mazmur mendorong masing-masing orang percaya untuk memuji Allah dan menyanyi bagi-Nya – dengan kata lain, sikap rasa syukur mereka yang mendasar tersebut, dapat juga terdengar oleh orang lain. Selain itu, sikap ini hendaknya juga menjadi pendorong bagi seseorang untuk bergabung dalam nyanyian dan pujian yang dinyanyikan oleh semua orang percaya. Dengan cara demikian, setiap hari, perbuatan-perbuatan baik Allah dapat bergaung ke segala arah dan dapat terdengar dengan jelas di seluruh bumi (Mzm. 34:4).

Nama Tuhan

Gagasan untuk memuji nama Tuhan, mengingatkan kita akan perjumpaan Allah dengan Musa di semak yang menyala-nyala (Kel. 3). Ketika Musa, yang awalnya ragu-ragu, mengajukan pertanyaan tentang apa yang hendak ia katakan kepada orang-orang tentang siapa yang telah mengutusnya, Allah berkata kepadanya untuk mengatakan: “AKU ADALAH AKU” (Kel. 3:14).

Dari teks asli yang berbahasa Ibrani, dapat disimpulkan bahwa sebutan ini bukanlah suatu nama atau sebutan yang seenaknya, tetapi justru untuk mengungkapkan sifat dan tindakan-tindakan Allah yang sesungguhnya. Pernyataan ini juga dapat diterjemahkan sebagai: “Akulah Dia yang ada”, atau juga, “Ia yang senantiasa hadir”. Allah senantiasa hadir, dan Allah ada.
  • pada saat awal masa penciptaan yang, Ia sebut sebagai sungguh amat baik. Namun, di sisi lain tampaknya Ia pun juga mengalami suatu momen kegagalan, yaitu pada momen dimana manusia menyadari bahwa mereka telah hilang dari hadapan Allah secara tragis. Meskipun demiian Ia masih merawat pendosa (Kej. 1:31; 3:21).
  • di sepanjang sejarah. Lagi dan lagi umat Israel mengalami bagaimana Allah menyertai mereka dan memelihara mereka dengan cara yang luar biasa, khususnya ketika Ia membebaskan mereka dari Mesir.
Allah hadir pada masa sekarang
  • di dalam Yesus Kristus, yang hidup di antara umat manusia, dan mempersembahkan kurban-Nya untuk keselamatan kita semua – dengan kata lain, kehadiran Allah dalam Yesus Kristus memungkinkan bagi semua manusia untuk dapat diselamatkan (Yoh. 1:14; 1 Tim. 2:4).
  • di dalam para Rasul. Pada masa sekarang seperti halnya pada masa dulu – keselamatan Allah dapat dialami di dalam setiap pemberitaan firman dan penyaluran sakramen-sakramen. Allah akan terus hadir, dan Ia akan senantiasa hadir, bahkan sampai pada akhir zaman (Mat. 28:20).
  • di dalam ciptaan yang baru. Yaitu ketika Ia akan menjadi “semua di dalam semua” (1 Kor. 15:28). Marilah kita beritakan kabar keselamatan dari Dia dari hari ke hari. Mereka yang tetap sadar bahwa Allah senantiasa hadir, tidak akan pernah melupakan Allah, meski dalam ketinggian kehidupan: baik di hari-hari yang baik maupun hari-hari yang sangat baik.
  • Jangan pernah meninggalkan Allah, meski kita berada dalam di dalam tingkat kehidupan yang sangat rendah, seperti pada waktu-waktu kesedihan, penderitaan, kesusahan, dan kekecewaan.
Selanjutnya, dari hari ke hari, mereka akan terus memberitakan dan mengabarkan kabar keselamatan dari Allah. Mereka juga akan berada dalam persekutuan yang kekal dengan Allah mereka, di dalam kemuliaan Allah (Why. 19:6-7).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Indahnya Memberi - Indahnya Berbagi. Bahagianya Memberi

Seorang dosen yang dikenal bijaksana, tengah berjalan santai bersama seorang mahasiswa di taman kampus. Tidak lama keduanya melihat ada sepa...