Nas Alkitab
“Segala sesuatu diperbolehkan.” Benar, tetapi bukan segala sesuatu berguna. “Segalasesuatu diperbolehkan.” Benar, tetapi bukan segala sesuatu membangun. (1 Korintus 10:23)
Pengajaran
Oleh karena bujukan si ular, manusia yang pertama jatuh ke dalam dosa. Sebagai akibat jatuhnya ke dalam dosa, maka manusia kehilangan kebebasannya. Sejak saat itulah manusia menjadi tawanan si jahat. Tidak ada manusia yang dapat menemukan jalan untuk dapat kembali kepada Allah dengan usahanya sendiri.Oleh karena manusia telah terjerat dalam dosa dan harus dibebaskan, tetapi manusia tidak dapat membebaskan dirinya sendiri, maka Allah mengaruniakan kebebasan kepada manusia yang pertama, melalui jasa kurban kematian Tuhan Yesus pada kayu salib (Luk. 4:18-19, Gal. 5:1, Yoh. 8:36). Dengan cara inilah Kristus memberikan kemerdekaan kepada manusia.
Kemerdekaan dan kebebasan manusia dari dosa ini, hanya dapat dialami, jika mereka percaya kepada Yesus Kristus dan menerima sakramen-sakramen yang disediakan bagi mereka. Melalui baptisan, dosa asal kita dihapuskan dan terbukalah akses untuk dapat memiliki persekutuan dengan Allah Sang Bapa.
Tetapi, oleh karena kencederungan untuk berbuat dosa masih ada pada manusia, maka, kemerdekaan yang tiap kali diberikan Kristus kepada kita, dapat hilang dan hilang lagi. Barulah di dalam ciptaan yang baru, kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah, pada akhirnya akan menjadi kenyataan yang sempurna (Rm. 8:20-22).
Kemerdekaan = Egois, hanya untuk mengasihi diri sendiri?
Banyak orang berpikir bahwa kemerdekaan adalah suatu kesempatan untuk melakukan segala sesuatu semaunya sendiri, tanpa ada yang melarang dan bersikap egois, serta bebas menjalani semua hal yang mungkin, yang ditawarkan oleh dunia. Mereka berpikir bahwa mereka dapat melakukan apa pun yang mereka inginkan, tanpa berpikir tentang konsekuensi-konsekuensinya.
Mari kita ambil contoh tentang hubungan suatu pasangan. Dalam hal ini, seseorang dapat saja berkata, “Saya dapat dan boleh melakukan segala hal, karena pasangan saya mengasihi saya. Dan ia akan mengampuni saya, meski apa pun yang saya lakukan.”
Meski hal ini mungkin benar, tetapi sikap sedemikian tidaklah menunjukkan suatu hubungan yang dilandasi oleh kasih, melainkan mencerminkan adanya penyalahgunaan kasih oleh pribadi yang lain, dan justru akan dapat menghancurkan hubungan itu. Seseorang yang berusaha untuk memenuhi semua keinginan dan hasratnya secara sembrono, juga akan dapat menghancurkan hubungannya, baik dengan Allah dan sesama kita.
Kemerdekaan, untuk mengasihi
Allah telah memanggil kita untuk memperoleh kemerdekaan. Seperti halnya ikan yang membutuhkan air, manusia juga membutuhkan Allah. Allah merupakan suatu elemen yang oleh-Nya, manusia dapat hidup. Siapa pun yang ingin merdeka, pada akhirnya harus menjalani sebuah kehidupan bersama Allah! Jadi untuk dapat sungguh-sungguh merdeka dibutuhkan persekutuan yang penuh kasih dengan Allah, bukan dengan sikap egois. Kemudian ia harus menjadikan sifat Allah sebagai
gambar Allah dan wakil Allah di dalam ciptaan.
Kristus menunjukkan kepada kita, bagaimana kita dapat mengasihi orang lain dengan sungguh-sungguh. Di dalam prosesnya, menjadi jelaslah, bahwa kemerdekaan dan kasih saling berkaitan. Kapan pun, kita hendaknya selalu dapat bertanya, apakah kita sebaiknya melakukan sesuatu atau tidak. Untuk memutuskannya, marilah kita tanyakan pertanyaan-pertanyaan berikut ini kepada diri kita.
Di sinilah pentingnya dan perlunya, hikmat Allah.
Lebih jauh lagi, ketika dari pertanyaan-pertanyaan yang kita ajukan seperti di atas, kita berkesimpulan bahwa apa yang akan kita lakukan adalah sesuatu yang baik, masih diperlukan lagi-pertanyaan-pertanyaan berikutnya,
Mari kita ambil contoh. Ketika kita akan membuat roti, kita bisa saja menambahkan segala macam bahan yang menurut kita baik, ke dalam adonan. Tapi bagaimanakah nanti jadinya, kalau semua itu dilakukan dengan semaunya sendiri, tanpa memperhitungkan, takarannya, kapan diberikan dan bagaimana cara mencampurkannya? Apakah nanti akan menghasilkan roti dengan rasa yang enak?
Memamg kita dapat menjalani suatu kehidupan dengan ambisi-ambisi yang besar dan egoistis. Tetapi, jika hal ini dilakukan, sebagai hasilnya, akankah yang engkau harapkan akan terpenuhi? Kemungkinan besar, itu tidak akan dapat dinikmati baik untuk dirimu, maupun orang lain.
Ada resep-resep yang sudah dicoba dan diuji, yang menjamin roti yang akan dibuat menjadi enak. Demikian juga ada resep yang telah dicoba dan diuji untuk suatu kehidupan yang berhasil dan memenuhi apa yang kita harapkan, yaitu Injil Kristus!
Dalam resep itu tertulis "Kasihilah Allah dan kasihilah sesamamu, sama seperti engkau mengasihi dirimu sendiri", maka engkau akan melakukan hal-hal yang benar dan apa yang kita harapkan dalm kehidupan, akan berhasil kita raih.
Amin.
Kristus menunjukkan kepada kita, bagaimana kita dapat mengasihi orang lain dengan sungguh-sungguh. Di dalam prosesnya, menjadi jelaslah, bahwa kemerdekaan dan kasih saling berkaitan. Kapan pun, kita hendaknya selalu dapat bertanya, apakah kita sebaiknya melakukan sesuatu atau tidak. Untuk memutuskannya, marilah kita tanyakan pertanyaan-pertanyaan berikut ini kepada diri kita.
- Apakah ini akan meningkatkan persekutuan saya dengan Allah ataukah justru akan memisahkan saya dari Dia?
- Apakah ini mencerminkan pikiran dan roh Kristus?
- Apakah ini diinspirasi Roh Kudus?
- Apakah ini akan membangun sesama saya, dan akan bermanfaat baginya?
- Apakah ini berguna untuk kemajuan sidang jemaat saya?
Di sinilah pentingnya dan perlunya, hikmat Allah.
Lebih jauh lagi, ketika dari pertanyaan-pertanyaan yang kita ajukan seperti di atas, kita berkesimpulan bahwa apa yang akan kita lakukan adalah sesuatu yang baik, masih diperlukan lagi-pertanyaan-pertanyaan berikutnya,
- Bagaimana saya harus melakukannya?
- Kapan saya harus melakukannya?
- Dimana saya harus melakukannya?
Mari kita ambil contoh. Ketika kita akan membuat roti, kita bisa saja menambahkan segala macam bahan yang menurut kita baik, ke dalam adonan. Tapi bagaimanakah nanti jadinya, kalau semua itu dilakukan dengan semaunya sendiri, tanpa memperhitungkan, takarannya, kapan diberikan dan bagaimana cara mencampurkannya? Apakah nanti akan menghasilkan roti dengan rasa yang enak?
Memamg kita dapat menjalani suatu kehidupan dengan ambisi-ambisi yang besar dan egoistis. Tetapi, jika hal ini dilakukan, sebagai hasilnya, akankah yang engkau harapkan akan terpenuhi? Kemungkinan besar, itu tidak akan dapat dinikmati baik untuk dirimu, maupun orang lain.
Ada resep-resep yang sudah dicoba dan diuji, yang menjamin roti yang akan dibuat menjadi enak. Demikian juga ada resep yang telah dicoba dan diuji untuk suatu kehidupan yang berhasil dan memenuhi apa yang kita harapkan, yaitu Injil Kristus!
Dalam resep itu tertulis "Kasihilah Allah dan kasihilah sesamamu, sama seperti engkau mengasihi dirimu sendiri", maka engkau akan melakukan hal-hal yang benar dan apa yang kita harapkan dalm kehidupan, akan berhasil kita raih.
Amin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar