Selasa, 14 Januari 2020

Menepis Keraguan

Nas Alkitab

Adapun ular ialah yang paling cerdik dari segala binatang di darat yang dijadikan oleh TUHAN Allah. Ular itu berkata kepada perempuan itu: “Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?” (Kejadian 3:1)

Pengajaran

Pada masa peciptaan, seperti yang tertulis dalam kitab Kejadian, pada dasarnya dapat dipisahkan menjadi dua kisah penciptaan. Yang pertama menceritakan kisah tentang penciptaan alam, yang terjadi dalam tujuh hari. Sementara yang kedua tentang Taman Eden, Adam dan Hawa, dan kejatuhan manusia lertama ke dalam dosa.

Kisah kedua dari sejarah penciptaan, menjelaskan hubungan yang erat, yang terjalin antara Allah dan manusia di Taman Eden. Namun, ular yang licik itu, juga hadir, dan si ular itu, berhasil menimbulkan keraguan tentang maksud baik Allah, bagi manusia.

Ular itu bertanya: “Tentulah Allah berfirman: "Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?” Perempuan itu menjawab dengan mengatakan bahwa mereka sebenarnya diizinkan untuk makan dari semua pohon di taman itu kecuali dari satu pohon. Jawaban ini benar, tetapi ular itu kemudian melanjutkan dengan mempertanyakan maksud baik Allah, yang tidak memperbolehkan manusia makan dari satu pohon yang ditelah ditentukan Allah. Ular itu mengklaim, bahwa Allah menyembunyikan sesuatu dari mereka: “tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi sama seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat.” (Kej. 3:5).

Meskipun pasangan manusia itu hidup dalam persekutuan dengan Allah, tapi mereka pada akhirnya melanggar kehendak ilahi. Apa yang nyata di sini adalah kurangnya pengandalan mereka pada kasih dan kebaikan Allah.

Di dalam kasus Adam dan Hawa, keraguan kepada Allah ini timbul karena mereka percaya pada kata-kata si ular: “Sekali-kali kamu tidak akan mati” (Kej. 3:4). Ular itu mengklaim bahwa Allah seolah-olah ingin mencegah mereka untuk menjadi seperti Dia dan menghalangi mereka memiliki pengetahuan akan yang baik dan yang jahat.

Keraguan kepada Allah telah merebak pada manusia, sejak si ular menyatakan pertanyaan itu. Sejak munculnya keraguan yang pertama ini, Alkitab menyebutkan ada beberapa orang yang mendapatkan janji untuk memperoleh pertolongan Allah, tetapi mereka memiliki keraguan, apakah Allah akan benar-benar mampu mempertahankan dan menggenapi janji-janji-Nya. Sebab apa yang dijanjikan Allah, seringkali berlawanan dengan pengalaman yang dialami manusia dan apa yang terjadi selama ini. Apakah Ia akan sungguh-sungguh menjaga janji-Nya.

Sebagai contoh

  • Abraham. Abraham ragu terhadap janji Allah bahwa ia dan istrinya akan memiliki seorang anak laki-laki di usia mereka yang sudah lanjut. Abraham dan Sarah bahkan menertawakan janji Allah ini (Kej. 17:17; 18:12).
  • Maria. Pada awalnya, Maria ragu ketika malaikat menjanjikan bahwa ia akan melahirkan seorang Anak laki-laki: “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” (Luk. 1:34).

Abraham, Sarah, dan Maria, semuanya sebenarnya tahu bahwa tidak ada yang mustahil bagi Allah (Luk. 1:37; Kej. 18:14). Tapi karena kurangnya pengandalan, timbullah keraguan dalam diri mereka. Pengandalan kepada Allah sebenarnya akan menolong mereka untuk mengatasi keraguan mereka.

Keraguan-keraguan kita

Iman seringkali menderita karena timbulnya keraguan, sebagai contoh, ketika kita mendapatkan pengalaman-pengalaman yang bertentangan dan tidak sesuai dengan harapan-harapan kita. Keraguan dapat timbul, misalnya, ketika kita menderita.

Jika saat itu terjadi, marilah kita ingatkan diri kita bahwa Allah tidak selalu menjanjikan bagi kita suatu kehidupan yang menyenangkan, tetapi Allah menjanjikan keselamatan. Jika kita percaya kepada Yesus Kristus, bersaksi tentang Dia di dalam perkataan dan perbuatan, dan jika kita mau menerima sakramen-sakramen, maka Ia akan berdiri menyertai kita untuk menolong kita meraih ke-
selamatan, meski segala penderitaan yang ada. Kita dapat mengandalkan pada ke-
nyataan bahwa Allah mengasihi kita seperti Ia mengasihi Yesus.

Allah sangat menginginkan keselamatan kita, khususnya ketika kita dihadapkan pada situasi-situasi di mana bencana dan kejahatan merajaĺela dan menguasai kita. Marilah kita tempatkan pengandalan kita kepada Allah. Maka beban-beban yang Ia taruhkan ke atas diri kita, akan lebih mudah untuk dipikul. Kita kemudian akan hidup dengan sudut pandang bagaimana kita hendaknya dapat memperoleh keselamatan dan persekutuan di dalam kerajaan Allah. Lalu kita tidak akan ragu lagi bahwa kebenaran Allah akan unggul pada akhirnya.

Saat hal itu terjadi, kita tidak akan lagi memiliki pertanyaan atau keraguan apa pun. Sampai saat itu tiba, pastilah kita masih akan berhadapan dan menangani keraguan dan pertanyaan-pertanyaan yang tak terjawab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Indahnya Memberi - Indahnya Berbagi. Bahagianya Memberi

Seorang dosen yang dikenal bijaksana, tengah berjalan santai bersama seorang mahasiswa di taman kampus. Tidak lama keduanya melihat ada sepa...