Minggu, 05 Januari 2020

Halaman yang hilang

Renungan

Seorang guru bertanya kepada muridnya tentang pelajaran sejarah dunia.

Guru : "Adi, siapakah Barack Obama itu?"
Adi : "Penjual es krim, Pak."

Guru tersebut terkejut mendengar jawabannya. Ia pun bertanya sekali lagi, dan si murid tetap memberikan jawaban yang sama. Ia kembali mengulang, dan jawaban yang diberikan pun tetap sama. Sang guru akhirnya mengatakan,

"Adi, bukankah biografi Barack Obama ada di buku paket. Apa kamu sudah membacanya?"

Adi : "Sudah, Pak. Barack Obama adalah penjual es krim!"

Oleh karena jawaban yang diberikan tetap sama, Sang guru menjadi tersulut emosinya mendengar jawaban seperti itu. Dengan nada agak keras, Ia perintahkan si murid mengeluarkan buku paket miliknya, dan membuka halaman tentang Obama.

Dengan ketakutan dan tergopoh-gopoh, dikeluarkanlah buku yang diminta gurunya. Pada buku si murid, ternyata biografi Obama hanya ada satu halaman. Kisah hidup Obama berhenti pada saat masih remaja. Di usia 16 tahun ia memperoleh pekerjaan sebagai pelayan kedai es krim di kota Honolulu, negara bagian Hawaii.

Melihat kenyataan itu, sang guru tersebut akhirnya bisa menyadari, ternyata pada buku si murid, halaman kedua tentang biografi Obama, hilang.

Mungkin tersobek tidak sengaja, atau bisa jadi salah cetak. Pantas ia tidak tahu kelanjutan sejarah hidup Obama hingga menduduki kursi presiden ke-44 di Amerika.

Di satu sisi, Guru tersebut benar, ketika ia menganggap bahwa Barack Obama adalah presiden Amerika ke 44. Karena kenyataannya memang demikian.

Tetapi muridnya juga benar karena sejauh yang ia baca, Obama adalah penjual es krim.

Jadi dalam cerita tersebut, keduanya sama-sama benar. Lalu mengapa terjadi perselisihan ?

Karena sang guru tidak menyadari, bahwa ada halaman pada buku si murid yang hilang. Ketika ia tahu, ia menjadi tersadar dan memaklumi jawaban murid tersebut.

Apa yang terjadi dalam kehidupan kita, sejatinya tidak jarang, juga serupa dengan kisah ini.

Kalau kita renungkan, hampir semua perbedaan pendapat antara dua orang, sebenarnya hanya disebabkan karena adanya "halaman yang hilang", seperti adanya perbedaan pengetahuan dan pemahaman, atau adanya perbedaan sudut pandang.

Saat seorang suami berselisih dengan istrinya, redamlah dulu emosi. Sebab yang perlu kita cari tahu adalah di mana "halaman yang hilang" itu.

Ketika orang tua berseberangan dengan anaknya, carilah dulu "halaman yang hilang" tersebut. Bukan langsung melampiaskan kemarahan kepada anak.

Karena dalam perbedaan pendapat belum tentu ada yang benar dan ada yang salah. Bisa jadi kedua pendapat benar. Namun menjadi berbeda, karena ada "halaman yang hilang" di antara keduanya.

Saudara- saudaraku....
Mari kita mencoba untuk saling *5M*, saling bisa memahami, menyadari, memaklumi, memaafkan dan memperbaiki diri. Dan untuk dapat berhasil dalam hal ini, mari kita senantiasa mohon hikmat Ilahi agar Allah memampukan kita untuk melakukan hal ini. Karena manusia sering kali kekurangan hikmat, Rasul Yakobus menasehatkan kita, "Tetapi apabila diantara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah, - yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit, - maka hal itu akan diberikan kepadanya. (Yakobus 1:5).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Indahnya Memberi - Indahnya Berbagi. Bahagianya Memberi

Seorang dosen yang dikenal bijaksana, tengah berjalan santai bersama seorang mahasiswa di taman kampus. Tidak lama keduanya melihat ada sepa...