BAGIAN ALKITAB:
Adapun ular ialah yang paling cerdik dari segala binatang di darat yang dijadikan oleh TUHAN Allah. Ular itu berkata kepada perempuan itu: “Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?”(Kejadian 3:1)
PENGAJARAN:
Pada saat manusia berada di dalam taman Eden, hubungan manusia dengan Allah terjalin sedemikian erat dan mesra. Tetapi di situ juga ada si ular yang licik. Si ular merasa iri melihat manusia memiliki hubungan yang sedemikian eratnya dengan Allah. Si ular ingin mengganggu hubungan manusia dengan Allah. Tapi si ular tahu, bahwa ia tidak mungkin mempengaruhi Allah. Oleh karena itu manusialah yang jadi sasaran. Ia menumbuhkan keraguan dihati dan kepikiran manusia, tentang maksud baik Allah, yang melarang mereka untuk makan buah pengetahuan yang baik dan yang jahat.Ular itu mengatakan: “Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?” Perempuan itu menjawab dengan mengatakan bahwa mereka sebenarnya diizinkan untuk makan dari semua pohon di taman itu, kecuali dari satu pohon. Jawaban ini benar, tetapi ular itu ke-
mudian melanjutkan dengan mempertanyakan maksud baik Allah yang melarang mereka makan dari satu pohon tersebut. Ular itu mengklaim bahwa Allah sebenarnya menyembunyikan sesuatu dari mereka: “tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat.” (Kej. 3:5).
Meskipun pasangan manusia itu hidup dalam persekutuan dengan Allah, mereka pada akhirnya melanggar juga kehendak ilahi. Dalam hal ini menjadi nyata bahwa manusia kurang memiliki pengandalan pada kasih dan kebaikan Allah. Di dalam kasus Adam dan Hawa, keraguan kepada Allah ini timbul karena mereka percaya akan kata-kata si ular: “Sekali-kali kamu tidak akan mati” (Kej. 3:4). Ular itu menekankan bahwa Allah sebenarnya ingin mencegah mereka untuk menjadi sama seperti Dia dan menghalangi mereka untuk memiliki pengetahuan akan yang baik
dan yang jahat.
Keraguan pada Allah ini mulai timbul dan telah menggangu kepikiran manusia sejak ular mengajukan pertanyaan itu. Sejak keraguan ini ditimbulkan dalam diri Adam dan Hawa, di Alkitab, kita dapat membaca, ada beberapa orang yang mendapat janji dari Allah, tetapi mereka ragu, apakah Allah benar-benar akan dan dapat menggenapi janji-janji-Nya dan apakah Allah juga sungguh-sungguh menjaga dan melindungi mereka? Sebab apa yang dijanjikan Allah, sering kali bertolak belakang dengan apa yang telah dialami manusia sebelumnya, maupun pengalaman mereka. Sebagai contoh :
- Abraham meragukan janji Allah bahwa ia dan istrinya akan memiliki seorang anak laki-laki di usia mereka yang sudah demikain lanjut, bahkan isterinya juga sudah dalam keadaan mati haid. Abraham dan Sarah bahkan menertawakan janji Tuhan ini (Kej. 17:17; 18:12).
- Maria pada awalnya juga ragu, ketika malaikat menjanjikan bahwa ia akan melahirkan seorang Anak laki-laki: “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” (Luk. 1:34).
Abraham, Sarah, dan Maria, mereka semua pada akhirnya tahu bahwa tidak ada yang mustahil bagi Allah (Luk. 1:37; Kej. 18:14). Pengandalan kepada Allah menolong mereka untuk mengatasi keraguan mereka.
Allah sangat menginginkan keselamatan kita, khususnya ketika kita dihadapkan pada situasi-situasi, di mana bencana dan kejahatan menguasai. Marilah kita tempatkan pengandalan kita kepada Allah. Maka beban-beban yang Ia taruhkan ke atas diri kita akan lebih mudah untuk kita pikul dan kita akan lebih fokus lagi dalam menjalani hidup kita dengan sudut pandang akan keselamatan dan persekutuan di dalam kerajaan Allah. Dengan demikian kita tidak akan lagi ragu bahwa pada akhirnya kebenaran Allah pasti akan menang dan nyata. Saat hal itu terjadi, kita tidak akan lagi memiliki pertanyaan atau keraguan apa pun. Tapi sampai saat itu tiba, kita masih akan berhadapan dan menangani keraguan dan pertanyaan-pertanyaan yang mungkin tak terjawab. Meskipun demikian, TETAPLAH untuk menaruhkan Iman, Kepercayaan, Pengharapan dan Pengandalan kita kepada Allah. Dan kita akan mengalami penggenapan janji-Nya.
Amin.
Keraguan-keraguan kita
Iman seringkali goyah ketika keraguan mulai merasuki diri seseorang, sebagai contoh, ketika kita mendapatkan pengalaman-pengalaman yang bertentangan dengan harapan-harapan kita. Keraguan juga dapat timbul, ketika kita mengalami, kesulitan, kesusahan dan penderitaan. Ketika hal itu terjadi, marilah kita hendaknya senantiasa ingat, bahwa Allah tidak menjanjikan suatu kehidupan yang menyenangkan, melainkan keselamatan bagi kita. Jika kita percaya kepada Yesus Kristus, bersaksi tentang Dia di dalam perkataan dan perbuatan, dan jika kita menerima sakramen-sakramen yang disediakan bagi kita, maka Ia akan berdiri menyertai kita, untuk menolong kita meraih keselamatan, meskipun harus juga mengalami segala penderitaan yang ada. Kita dapat meyakini dan percaya bahwa Allah mengasihi kita, seperti Ia mengasihi Yesus.Allah sangat menginginkan keselamatan kita, khususnya ketika kita dihadapkan pada situasi-situasi, di mana bencana dan kejahatan menguasai. Marilah kita tempatkan pengandalan kita kepada Allah. Maka beban-beban yang Ia taruhkan ke atas diri kita akan lebih mudah untuk kita pikul dan kita akan lebih fokus lagi dalam menjalani hidup kita dengan sudut pandang akan keselamatan dan persekutuan di dalam kerajaan Allah. Dengan demikian kita tidak akan lagi ragu bahwa pada akhirnya kebenaran Allah pasti akan menang dan nyata. Saat hal itu terjadi, kita tidak akan lagi memiliki pertanyaan atau keraguan apa pun. Tapi sampai saat itu tiba, kita masih akan berhadapan dan menangani keraguan dan pertanyaan-pertanyaan yang mungkin tak terjawab. Meskipun demikian, TETAPLAH untuk menaruhkan Iman, Kepercayaan, Pengharapan dan Pengandalan kita kepada Allah. Dan kita akan mengalami penggenapan janji-Nya.
Amin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar