Apa itu dosa?.
Jika pertanyaan itu diajukan kepada kita, pasti akan banyak jawaban yang akan disampaikan, dengan berbagai versi dan pemahaman masing-masing. Mungkin seseorang akan mengatakan, dosa adalah jika kita berdusta, jika kita membunuh atau berzinah. Jawaban-jawaban yang sedemikian, benar adanya. Tetapi apakah hanya sebatas itu? Ternyata Tidak.
Di kitab 1 Yohanes 3:4 dinyatakan, "Setiap orang yang berbuat dosa, melanggar juga hukum Allah, sebab dosa ialah pelanggaran hukum Allah." Jadi pada dasarnya dosa adalah segala sesuatu yang bertentangan atau berlawanan dengan hukum Allah, yang tidak lain adalah juga kehendak Allah dan dengan keberadaan-Nya. Dosa dapat terjadi olehkarena perkataan, perbuatan dan kepikiran kita yang bertentangan dengan kehendak Allah dan keberadaan-Nya.
Lebih jauh lagi, dalam kitab Yakobus 4:17 dinyatakan, "Jadi jika seorang tahu, bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa." Di sini semakin jelas bahwa, kehendak Allah bukanlah hanya melarang kita untuk melakukan segala sesuatu yang bertentangan dengan kehendak-Nya. Tetapi kehendak Allah adalah untuk juga melakukan kebajikan-kebajikan yang Ia ajarkan dan Ia perintahkan.
Ketika kita tidak bisa memenuhi apa yang menjadi kehendak Allah, yang berarti kita melanggar larangan-larangannya dan kita tidak melakukan kebajikan-kebajikan, padahal kita tahu bagaimana kita harus melakukannya, pada dasarnya kita telah berdosa.
Lalu apa bedanya dosa dan kesalahan?
Dosa adalah bersifat mutlak, artinya dosa tidak bisa direlatifkan. Sedangkan kesalahan masih bisa direlatifkan. Sesuatu dianggap sebagai dosa, sudah jelas, yaitu jika melanggar kehendak Allah sebagaimana yang diuraikan di atas, dan Allah-lah yang menentukan seseorang itu telah berbuat dosa atau tidak, bukan manusia.
Sedangkan sesuatu dianggap suatu kesalahan sangat tergantung pada dari sudut mana seseorang memandangnya, Bisa jadi, sesuatu dianggap suatu kesalahan, jika tidak sesuai dengan kesepakatan, atau tidak sesuai dengan pendapat mayoritas, meskipun sebenarnya pendapat mayoritas tersebut belum tentu benar bahkan salah.
Sebagai contoh, menurut kesepakatan, setelah bulan Februari adalah bulan Maret. Ketika seseorang mengatakan setelah bulan Februari adalah bulan September, pastilah ia telah melakukan kesalahan, karena sesuai kesepakatan, setelah bulan Februari adalah bulan Maret. Tetapi itu bukanlah dosa.
Juga pendapat yang telah bertahan selama bertahun-tahun, bahkan berabad-abad, mayoritas manusia menganggap bumi itu datar. Tetapi ketika kelompok manusia yang lain mengatakan bumi bundar, maka kelompok kedua ini dianggap salah, karena mayoritas manusia mengatakan bumi datar. Bahkan ketika manusia bisa terbang keluar angkasa dan melihat bumi itu bundar, masih saja saat itu orang mengatakan bumi itu datar. Baru setelah berbagai bukti dan gambar ilmiah disajikan, barulah semua sependapat bahwa bumi itu bundar. Kesalahan demikian, bukanlah suatu dosa. Dalam hal menentukan suatu kesalahan, manusia masih memiliki peran, apakah sesuatu itu, suatu kesalahan atau bukan. Sedangkan untuk dosa hanya Allah-lah yang menentukan seseorang berdosa atau tidak.
Selanjutnya perbedaan antara dosa dan salah adalah, ketika seseorang melakukan suatu dosa pastilah orang tersebut juga telah melakukan suatu kesalahan. Tetapi ketika seseorang melakukan suatu kesalahan belum tentu orangg tersebut berdosa.
Oleh karena manusia sering kali tidak bisa menentukan, apakah suatu kesalahan itu suatu dosa atau bukan, itulah sebabnya Tuhan Yesus mengajarkan dalam doa Bapa Kami, bukan "... ampunilah dosa kami..." tetapi, "... ampunilah kesalahan kami..."
Bisa jadi kita beranggapam bahwa kita hanya melakukan kesalahan, tetapi Allah sudah mengatakan kita sudah melakukan dosa. Sebaliknya, pada masa sekarang ini, banyak manusia yang memposisikan dirinya seperti Allah, bahkan seakan-akan melebihi Allah, yang dengan mudahnya menghakimi seseorang bahwa ia telah melakukan suatu dosa, dan menjatuhkan hukuman yang sedemikian berat kepada orang tersebut, bahkan melenyapkannya atau membunuhnya. Padahal, belum tentu dimata Allah, ia benar-benar telah berbuat dosa. Oleh karena itulah kita diajarkan untuk jangan menghakimi, supaya kita tidak dihakimi. (baca juga Lukas 6:37)
Semoga penjelasan di atas dapat memberikan pemahaman dan pengertian yang lebih baik kepada kita terhadap pengertian dosa dan kesalahan.
Tuhan Yesus memberkati kita semua.
Oleh karena manusia sering kali tidak bisa menentukan, apakah suatu kesalahan itu suatu dosa atau bukan, itulah sebabnya Tuhan Yesus mengajarkan dalam doa Bapa Kami, bukan "... ampunilah dosa kami..." tetapi, "... ampunilah kesalahan kami..."
Bisa jadi kita beranggapam bahwa kita hanya melakukan kesalahan, tetapi Allah sudah mengatakan kita sudah melakukan dosa. Sebaliknya, pada masa sekarang ini, banyak manusia yang memposisikan dirinya seperti Allah, bahkan seakan-akan melebihi Allah, yang dengan mudahnya menghakimi seseorang bahwa ia telah melakukan suatu dosa, dan menjatuhkan hukuman yang sedemikian berat kepada orang tersebut, bahkan melenyapkannya atau membunuhnya. Padahal, belum tentu dimata Allah, ia benar-benar telah berbuat dosa. Oleh karena itulah kita diajarkan untuk jangan menghakimi, supaya kita tidak dihakimi. (baca juga Lukas 6:37)
Semoga penjelasan di atas dapat memberikan pemahaman dan pengertian yang lebih baik kepada kita terhadap pengertian dosa dan kesalahan.
Tuhan Yesus memberkati kita semua.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar