Kita sering mendengar apa yang diajarkan Tuhan Yesus kepada kita, "Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu." (Matius 6:3). Pengajaran Tuhan Yesus dibukit ini, dimaksudkan agar perbuatan baik yang kita lakukan, hanya Bapa di sorga yang melihatnya, sebab Bapa akan membalasnya (ayat 4).
Tetapi jika perbuatan baik yang kita lakukan diketahui orang lain dan hanya untuk mendapatkan kepujian bagi dirinya sendiri dan menimbulkan rasa kagum bagi orang lain, maka berlakulah apa yang dikatakan Tuhan Yesus, "... Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka telah mendapat upahnya."(Matius 6:16)
Pada saat ini, banyak diantara kita, ketika melakukan suatu kebaikan atau sedekah ke orang lain atau masyarakat luas atau saat kita berbagi kepada sesama, dengan dalih untuk dokumentasi, kemudian melakukan foto bersama, ditambah lagi dengan selfie dan lain-lain. Tetapi tidak lama kemudian foto-foto itu menyebar ke berbagai sosial media. Lalu bagaimana jika dikaitkan dengan ayat Matius 6:3, di atas? Apakah hal ini tidak bertentangan dengan pengajaran Tuhan?
Bukannya tidak boleh, kita mengabadikan kegiatan-kegiatan seperti di atas. Pada beberapa situasi, memang kita dituntut untuk menunjukkan bukti dan mempertanggung-jawabkan akan kegiatan-kegiatan sosial yang telah dilakukan. Tetapi biarlah berhenti sampai di sini. Tidak perlu kita menyebarkannya ke media sosial. Jika tujuan kita memang agar banyak orang tahu, tanpa kita sadari, pada dasarnya, kita telah menutup pintu berkat bagi diri kita sendiri. Karena kita telah menerima upahnya.
Oleh karena itu berhati-hatilah, jangan sampai kita justru menutup pintu berkat bagi diri kita sendiri.
Di sisi lain, ada juga saudara-saudari kita yang karena berusaha untuk dengan sungguh-sungguh menerapkan pengajaran Tuhan seperti di atas, justru mereka salah dalam menerapkan firman pengajaran Tuhan tersebut. Ketika kita akan berbagi, katakanlah untuk suatu kegiatan bakti sosial, justru kita menutup diri terhadap kepesertaan atau bantuan orang lain. Awalnya, maksudnya mungkin baik, yaitu supaya tidak banyak orang tahu sebagaimana yang diajarkan Tuhan, tetapi justru disinilah kita salah dalam menerapkan pengajaran Tuhan ini. Dengan menutup peran serta sauadara-saudari kita, pada dasarnya kita justru menutup pintu berkat bagi saudara-saudari yang akan dibantu dan yang lebih parah lagi, justru juga menutup pintu berkat Allah bagi saudara-saudari yang memiliki keinginan untuk berbagi.
Kita justru diharapkan dapat mengajak sebanyak mungkin saudara-saudari untuk berbagi, untuk berbuat kebajikan-kebajikan, karena dengan cara seperti inilah kita akan membuka pintu berkat baik bagi mereka yang diberi dan yang memberi.
Semoga renungan singkat ini dapat menjadi pembuka pintu berkat bagi kita dan sesama.
Selamat berbagi
Selamat berbuat kebajikan.
Selamat berkarya bagi Allah dan Sesama.
Tetapi jika perbuatan baik yang kita lakukan diketahui orang lain dan hanya untuk mendapatkan kepujian bagi dirinya sendiri dan menimbulkan rasa kagum bagi orang lain, maka berlakulah apa yang dikatakan Tuhan Yesus, "... Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka telah mendapat upahnya."(Matius 6:16)
Pada saat ini, banyak diantara kita, ketika melakukan suatu kebaikan atau sedekah ke orang lain atau masyarakat luas atau saat kita berbagi kepada sesama, dengan dalih untuk dokumentasi, kemudian melakukan foto bersama, ditambah lagi dengan selfie dan lain-lain. Tetapi tidak lama kemudian foto-foto itu menyebar ke berbagai sosial media. Lalu bagaimana jika dikaitkan dengan ayat Matius 6:3, di atas? Apakah hal ini tidak bertentangan dengan pengajaran Tuhan?
Bukannya tidak boleh, kita mengabadikan kegiatan-kegiatan seperti di atas. Pada beberapa situasi, memang kita dituntut untuk menunjukkan bukti dan mempertanggung-jawabkan akan kegiatan-kegiatan sosial yang telah dilakukan. Tetapi biarlah berhenti sampai di sini. Tidak perlu kita menyebarkannya ke media sosial. Jika tujuan kita memang agar banyak orang tahu, tanpa kita sadari, pada dasarnya, kita telah menutup pintu berkat bagi diri kita sendiri. Karena kita telah menerima upahnya.
Oleh karena itu berhati-hatilah, jangan sampai kita justru menutup pintu berkat bagi diri kita sendiri.
Di sisi lain, ada juga saudara-saudari kita yang karena berusaha untuk dengan sungguh-sungguh menerapkan pengajaran Tuhan seperti di atas, justru mereka salah dalam menerapkan firman pengajaran Tuhan tersebut. Ketika kita akan berbagi, katakanlah untuk suatu kegiatan bakti sosial, justru kita menutup diri terhadap kepesertaan atau bantuan orang lain. Awalnya, maksudnya mungkin baik, yaitu supaya tidak banyak orang tahu sebagaimana yang diajarkan Tuhan, tetapi justru disinilah kita salah dalam menerapkan pengajaran Tuhan ini. Dengan menutup peran serta sauadara-saudari kita, pada dasarnya kita justru menutup pintu berkat bagi saudara-saudari yang akan dibantu dan yang lebih parah lagi, justru juga menutup pintu berkat Allah bagi saudara-saudari yang memiliki keinginan untuk berbagi.
Kita justru diharapkan dapat mengajak sebanyak mungkin saudara-saudari untuk berbagi, untuk berbuat kebajikan-kebajikan, karena dengan cara seperti inilah kita akan membuka pintu berkat baik bagi mereka yang diberi dan yang memberi.
Semoga renungan singkat ini dapat menjadi pembuka pintu berkat bagi kita dan sesama.
Selamat berbagi
Selamat berbuat kebajikan.
Selamat berkarya bagi Allah dan Sesama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar