Jumat, 06 Maret 2020

Tunggul Wulung, Sulitnya mencari Tuhan

Apakah kita pernah merasa ada sedikit perasaan malas dalam diri kita, saat akan beribadah, atau belajar mengenai Firman Tuhan atau berkebaktian sebagai suatu usaha kita untuk mendekatkan diri kepada Tuhan? Padahal, jarak antara rumah ke gereja hanya berapa kilometer dan bisa di tempuh dengan duduk beberapa menit saja.

Mari kita simak usaha penginjil pionir di Jawa yaitu Kyai Ngabdulah Tunggul Wulung.

Alkisah, Kyai Ngabdullah (1800-1884) dari Juwana yang saat itu sedang dalam perjalanan menuju ke tempat pembuangannya di Manado, oleh pemerintah Belanda, karena melakukan perlawanan, berhasil meloloskan diri ketika kapalnya bersandar di Surabaya dan melakukan pelarian ke daerah-daerah sekitarnya.

Dia adalah seorang Kyiai yang menekuni  ilmu kejawen, dicampur dengan mitos, legenda dan primbon dari Prabu Jayabaya. Di situ disebutkan akan datangnya Sang Ratu Adil.

Dengan usahanya yang keras, dalam pencariannya untuk menemukan Sang Ratu Adil tersebut, maka Kyai Ngabdulah, yang memanggil dirinya Tunggul Wulung melakukan pendakian ke Gunung Kelud. Berdasarkan petunjuk Jayabaya, Sang Ratu Adil akan turun di Gunung Kelud. Dan dalam pencariannya itu, Kyai Tunggul Wulung berjumpa dengan sesama pertapa yaitu Endang Sampurnawati, yang juga memiliki ilmu tinggi di bidang kejawen, maka saling adu tandinglah mereka dalam hikmat dan kecakapan, dengan saling memberikan cangkriman atau tebakan.

Endang S bertanya pada Tunggul W :
Apa yang kau cari wahai kisanak di Gunung Kelud nan angker ini?

Tunggul W menjawab:
Aku mencari jejek kedatangan Sang Ratu Adil yang menurut primbon Prabu Jayabaya katanya akan turun di Gunung ini.

Endang S:
Oh berarti sama tujuan kita.
Sekarang mari kita adu kepinteran.
Coba jawab pertanyaanku ini:

Ono woh kemiri tiba saiki, nanging wohe bisa diunduh wingi.
(Ada buah kemiri jatuh hari ini, tapi buahnya bisa dinikmati sejak kemaren)

Tunggul W menjawab : aaah gampang itu aku tau..

Sekarang coba jawab pertanyaan ku ini:

Sang Ratu Adil dadi dayoh, ananging malah mbageake kang ditamoni..
Ing kamangka Sang Dayoh ora nggawa biting sasada.
(Sang Ratu Adil datang sebagai tamu, tetapi malah menyilakan yang punya rumah, padahal Sang Tamu tidak membawa bekal suatu apa pun)

Dan akhirnya mereka berdua secara kompak menjawab: "NABI ISA AL MASIH"

LOH KOK BISA???

Adapun maksud atau penjelasan dari tebak-tebakan dua tokoh tersebut adalah sebagai berikut:

Buah kemiri jatuh hari ini, tapi buahnya bisa dinikmati sejak kemaren adalah bahwasanya Sang Ratu Adil atau Nabi Isa atau Yesus Juru selamat, yang datang jauh setelah jaman Abraham, Ishak, Yakub dan semua yang sudah menunggu kehadirannya, tetapi kuasa penyelamatan-Nya sudah bisa dinikmati oleh semua manusia, yang menantikan-Nya sejak jaman dulu, mulai dari Abraham sampai Salomo, para nabi dan umat manusia sebelumnya.

Sebagaimana dimaksud Yesus dalam ayat ini:

Yohanes 8:58
Kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada."

Dan Yesus yang datang sebagai tamu di dunia, di kalangan umat Israel justru ditolak, sehingga akhirnya mengundang siapa saja yang mau menerima kehadirannya dengan mengatakan, "marilah kepada-Ku, hai engkau yang letih lesu dan berbeban berat..."

Dan Yesus datang sebagai manusia lemah dan miskin, tidak membawa apapun juga.

Bayangkan, kedua orang ini mencari Tuhan Yesus tanpa di Injili oleh siapapun, dengan usahanya yang dituntun oleh Roh Kudus, dan melalui perjuangan yang sangat luar biasa dan berat, yaitu dengan bertapa di Gunung Kelud selama 7 tahun.

Konon, pada tahun 1847, Kyai Ngabdullah menerima sebuah wangsit berupa tulisan "sepuluh perintah Allah" yang tanpa disadarinya, telah muncul di bawah tikar semedinya. Memparalelkan dirinya sebagai Tunggul Wulung yang diutus untuk mempersiapkan kedatangan Raja Jayabaya, sejak itu Kyai Ngabdullah menemukan keyakinan bahwa dia juga diutus oleh Gusti Allah untuk menyebarkan lelaku hidup baru di kalangan masyarakat Jawa. Sejak itulah Kyai Ngabdullah berganti nama menjadi Kyai Tunggul Wulung.

Dia mendapatkan petunjuk Roh Kudus untuk menjumpai pendeta dari Belanda yaitu Jelesma. Tetapi sebagai Kyai Jawa yang sakti mandra guna, tentu merasa gengsi untuk menuntut ilmu pada orang Belanda. Maka dia datang dengan aji panglimunan yaitu ilmu menghilang dan dengan duduk santai di jendela kediaman Pendeta Jelesma. Namun sang pendeta rupanya sudah dibukakan matanya oleh Roh Kudus dan bisa melihat sang kyai, lalu mengatakan:

"Masuklah rumah ini terbuka untukmu"

Maka kagetlah sang kyai bahwa pendeta itu lebih tinggi ilmunya dari dia dan memutuskan untuk mempelajari tentang Nabi Isa atau Yesus Kristus dari pendeta Jelesma tersebut. Kisah selanjutnya adalah, Tunggul Wulung dibabtis oleh Jelesma dan akhirnya ketemu dengan FL Anthing yang adalah ketua pengadilan negeri Semarang, saat itu, yang sangat berhasrat untuk melakukan penginjilan di Jawa.

Dia diberi Alkitab terjemahan Bahasa Jawa dan akhirmya ketemulah dengan Keluaran pasal 20 yang isinya sama dengan sepuluh hukum Allah yang ditemukannya di bawah tikar semedinya di Gunung Kelud.

Salah satu murid dari Tunggul Wulung, bernama Radin Abas, yang kemudian di kenalkan kepada FL Anthing, dan kemudian dibaptis dan berganti nama Sadrach Soeropranoto.

Sadrach yang adalah lulusan salah satu pesantren di Jawa Timur, ingin berguru kepada salah seorang Kyai di Semarang, yang ternyata dalam suatu perdebatan terbuka sudah pernah dikalahkan oleh Tunggul Wulung. Sehingga Kyai tersebut mengatakan, "jangan engkau berguru kepadaku, karena aku sudah kalah debat oleh seseorang bernama Tunggul Wulung, maka bergurulah engkau kepadanya."

Sadrach bertanya perihal ilmu apakah engkau kalah dari orang lain? Maka dijawablah bahwasanya, "aku kalah dalam ilmu tentang Nabi Isa."
Maka jadilah Sadrach berguru kepada Tunggul Wulung, mengenai Nabi Isa atau Yesus Kristus perihal ajaran kekristenan.

Pelajaran yang dapat kita petik, dari cerits di atas adalah:

Luar biasa semangat seseorang yang sudah dituntun Roh Kudus dalam mencari Sang Juruselamat. Mudah-mudahan, ini menjadi semangat pula bagi kita yang sudah  berada di jalan keselamatan untuk bersyukur dan selalu memiliki tekad dan semangat menjalani dan semakin menambah hikmat dalam Tuhan Yesus.

Amin

Selesai
(Dari berbagai sumber)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Indahnya Memberi - Indahnya Berbagi. Bahagianya Memberi

Seorang dosen yang dikenal bijaksana, tengah berjalan santai bersama seorang mahasiswa di taman kampus. Tidak lama keduanya melihat ada sepa...