Yesus Kristus telah mendirikan gereja-Nya dan mengutus para Rasul-Nya agar keselamatan yang sepenuhnya dapat diakses / dimasuki oleh umat manusia. Kita tahu bahwa, tujuan dari keberadaan gereja dan kelompok Rasul, seluruhnya adalah untuk memberikan keselamatan. Oleh sebab itu, merupakan suatu keharusan bagi kita untuk memahami dengan tepat apa saja yang tercakup dalam keselamatan ini.
Istilah ‘keselamatan’, sebenarnya merupakan gabungan beberapa aspek yang sangat berbeda. Ini dibuktikan oleh banyaknya istilah-istilah lain atau kosakata-kosakata, yang digunakan Alkitab untuk memberikan pemahaman kepada kita tentang makna sesungguhnya dari keselamatan. Baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru membicarakan tentang pembebasan, penyelamatan, pemeliharaan, pengampunan, kemenangan, dan bahkan penebusan. Aspek-aspek yang berbeda dari keselamatan ini, juga nyata di dalam perjalanan sejarah, yang nampak pada, bagaimana cara orang-orang Kristen – termasuk orang-orang di Gereja kita – memahami tentang makna keselamatan ini. Dan itu, tergantung dari masa / waktu serta tempat di mana mereka hidup, dan mereka pada umumnya menekankan aspek keselamatan ini, pada apa yang paling sesuai dengan harapan mereka – misalnya, keselamatan juga dimaknai sebagai pemeliharaan, penyelamatan, atau pengampunan. Hal yang sama / fenomena yang sama juga nyata pada saat ini. Saudara-saudari kita, terutama melihat keselamatan, tergantung pada situasi, kondisi atau keadaan mereka. Ada yang memahami keselamatan itu sebagai penyelamatan dari penderitaan, atau suatu sarana untuk lepas dari sebuah ancaman, atau sebuah kesempatan untuk melihat orang yang dikasihinya kembali. Pemahaman atau sudut pandang yang sedemikian ini, tidak seluruhnya salah dan masih / cukup bisa dibenarkan dan dipahami. Namun demikian, agar para Rasul dan rekan-rekan kerja mereka dapat memenuhi misi yang telah dipercayakan kepada mereka oleh Tuhan, saudara-saudari harus memiliki suatu gambaran yang menyeluruh tentang keselamatan, dan jangan pernah / tidak boleh kehilangan pandangan, pada apa yang sangat mendasar, yakni kehendak dan aktivitas Yesus Kristus, sebagai Juru Selamat dan Pelepas kita.
Keselamatan: penyelamatan dan pemeliharaan
Sesuai definisinya, keselamatan berasal dari Allah. Allah campur tangan dalam sejarah umat Israel, untuk menyelamatkan mereka dari perbudakan bangsa Mesir dan memampukan mereka untuk menyeberangi Laut Merah. Pada dimensi lain, Putra Allah datang ke bumi untuk menyelamatkan kita dari ikatan dosa dan untuk membukakan jalan masuk menuju Allah. Di Gereja kita, ada masa-masa, ketika kedatangan Tuhan kembali dilihat, terutama sebagai sebuah tindakan penyelamatan dan pemeliharaan: Contoh
- Kedatangan Tuhan kembali dimaknai, untuk menyelamatkan kita dari penderitaan;
- Ia akan memelihara dan melindungi kita dari kesesakan yang besar, waktu penderitaan di mana kejahatan akan mencapai puncaknya di bumi ini.
- Orang-orang yang mengambil bagian dalam kebangkitan pertama, tidak akan tampil di hadapan Allah pada Penghakiman Terakhir.
Kalau kita hanya memusatkan atau memaknai penyelamatan dan pemeliharaan, sebagai satu-satunya aspek keselamatan, ada risiko-risiko tertentu yang perlu kita waspadai:
- Orang-orang percaya mungkin tergoda untuk menutup diri mereka dari dunia luar. Mereka mungkin merasa bahwa hal terpenting dalam hidup mereka adalah untuk tetap setia kepada Allah, sehingga mereka dapat terhindar dan dapat terlindung dari penderitaan dan lepas dari bencana yang telah dinubuatkan. Jika pemahaman ini yang tertanam dalam diri mereka, maka mereka akan mengabaikan nasib sesama manusia, dan akan menempatkan nasib sesama ke latar belakang;
- Usaha-usaha misionaris mungkin tidak lagi didorong, semata-mata oleh kasih kepada sesama kita, melainkan oleh keinginan besar untuk lepas dari penderitaan duniawi secepat mungkin (“…Tuhan akan datang ketika jiwa yang terakhir dimeteraikan…”);
- Sakramen-sakramen mungkin juga akan dipahami hanya sebagai tujuan untuk dirinya sendiri. Mereka hanya berpikir, dengan menerima sakramen akan memberikan jaminan keselamatan bagi dirinya, padahal dalam penerimaan sakramen, juga terkandung aspek persekutuan.
- Kehidupan di bumi mungkin dipandang secara negatif. Bumi dianggap hanyalah sebuah tempat penderitaan, sehingga seseorang hendaknya harus segera melarikan diri secepat mungkin dari bumi ini.
Ketika Yesus Kristus berbicara tentang keselamatan, Ia seringkali menggunakan istilah ‘hidup yang kekal’. Sebenarnya, makna dari Hidup yang kekal ini, jauh melebihi dari sekedar makna keabadian. Tuhan tidak hanya berkata, bahwa orang-orang yang percaya kepada-Nya akan terus hidup. Tetapi Ia juga berjanji kepada mereka, bahwa mereka akan dapat ambil bagian dalam kehidupan ilahi, dan masuk ke dalam persekutuan yang kekal dengan Allah di dalam kerajaan-Nya. Perjanjian Baru menggunakan gambaran mempelai perempuan dan mempelai laki-laki dalam suatu pesta perkawinan, untuk menjelaskan persekutuan ini.
‘Kehidupan ilahi’ dan ‘persekutuan dengan Allah’ adalah istilah-istilah, yang mengacu pada gambaran esensi Allah sendiri. Allah adalah persekutuan Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Bapa, Putra, dan Roh Kudus senantiasa ada dan bekerja bersama-sama. Ketiga Pribadi ilahi ini berbeda satu dengan yang lain, tunggal, dan ada dalam / memiliki hubungan yang terus-menerus, satu dengan yang lain. Allah Bapa, Allah Putra, dan Allah Roh Kudus telah menciptakan manusia, menurut gambar-Nya (Kejadian 1:26) dan mengaruniakan kepadanya jalan masuk menuju persekutuan dengan-Nya. Oleh karena kejatuhan dalam dosa, manusia telah dikucilkan dari persekutuan ini. Tujuan aktivitas keselamatan Allah pada dasarnya adalah untuk memampukan manusia, layak dan patut untuk menerima kembali tempatnya atau berada kembali di hadirat Allah.
Hidup yang kekal, yang dijanjikan oleh Yesus, mencakup di dalamnya, adalah berbagi, dalam persekutuan dengan Bapa, Putra, dan Roh Kudus, atau – menaruhkannya ke dalam perkataan Yesus – di dalam Allah, sebagaimana Bapa di dalam Putra dan Putra di dalam Bapa (Yohanes 17:21-23).
Untuk berada dalam persekutuan dengan Allah, bukan berarti menjadi “Allah”. Di dalam kerajaan Allah, orang-orang yang terlepaskan akan tetap menjadi ciptaan-ciptaan Allah, dan Allah akan tetap berada di atas segala sesuatu mau pun setiap orang. Namun, mereka akan memiliki hidup kekal dan berada dalam keselarasan yang sempurna dengan-Nya. Mereka akan menyembah dan memuji Dia untuk selama-lamanya dan mereka akan terus-menerus menemukan aspek-aspek baru dari kemuliaan Allah tanpa henti.
Tuhan telah menjadikan jelas, syarat yang harus kita penuhi untuk memiliki jalan masuk, menuju hidup yang kekal:
- kita harus percaya kepada Yesus Kristus,
- dilahirkan kembali dari air dan Roh,
- menerima tubuh dan darah Kristus.
Orang-orang Kristen Kerasulan Baru tidak menunggu kedatangan Tuhan kembali, hanya untuk melarikan diri dari bumi ini. Sebab belum tentu mereka akan melihat keberadaan duniawi mereka sebagai suatu lembah air mata, di mana mereka ditakdirkan untuk berjalan, dan iman mereka sebagai sarana satu-satunya yang mungkin untuk lari darinya. Apa yang mereka inginkan adalah untuk hidup bersama Allah untuk selama-lamanya. Hidup mereka di bumi adalah suatu masa kemurahan yang Allah karuniakan kepada mereka, sehingga mereka dapat mempersiapkan diri mereka bagi persekutuan yang kekal dengan-Nya, baik dalam sukacita maupun dukacita. Bagi mereka, kebangkitan pertama jauh lebih daripada sekadar pelarian diri – ini adalah penyempurnaan!
Persekutuan dengan Allah dan persekutuan dengan manusia
Allah Tritunggal adalah kasih. Allah Bapa, Putra, dan Roh Kudus, mengasihi semua manusia dan sangat ingin menyelamatkan mereka. Kita dikatakan berada dalam persekutuan dengan Allah, jika hidup kita dipenuhi dengan hidup Allah dan patuh sepenuhnya pada kehendak-Nya. Esensi kehidupan ilahi adalah kasih. Jika kita ingin bersatu dengan Yesus Kristus seperti Ia satu dengan Bapa, kita harus memiliki hidup Kristus di dalam diri kita (Filipi 2:5).
Perjanjian Baru menjadikan jelas bahwa kehidupan ilahi memiliki kaitan yang sangat erat dengan kasih kepada sesama kita. Yesus melekatkan kepentingan yang sama banyaknya pada kasih yang kita miliki bagi sesama kita, dengan kasih yang kita miliki bagi Allah (Matius 22:37-39). Ia mendoakan kesatuan milik-Nya. Ia mendesak murid-murid-Nya untuk saling mengasihi dan melayani.
Dalam Roma 12:4-5, Rasul Paulus menggunakan gambaran tubuh Kristus, yang anggota-anggotanya terhubung erat dengan Kristus dan menunjukkan kesetiakawanan satu sama lain.
Mempersiapkan diri kita untuk hidup dalam persekutuan yang kekal dengan Allah, juga berarti mempersiapkan diri kita untuk hidup dalam persekutuan dengan orang lain. Sendirian, manusia tidak akan mampu hidup dalam keselarasan satu dengan yang lain. Mereka, pertama-tama harus menjadi suatu ciptaan baru dalam Kristus, dipenuhi dengan kasih Allah dan dituntun oleh Roh Kudus. Persekutuan yang sempurna di antara manusia hanya akan dimungkinkan di dalam kerajaan Allah, ketika kita semua dibebaskan dari dosa dan ketidak-sempurnaan manusiawi. Namun, kita harus belajar untuk hidup dalam persekutuan satu dengan yang lain saat ini, khususnya! Kita tidak dapat mempersiapkan diri bagi hidup yang kekal, sendirian. Itu hanya masuk akal di dalam komunitas orang-orang yang berjuang untuk persekutuan yang kekal dengan Allah.
Kebaktian: persiapan pribadi dan komunal (bersama-sama) bagi kedatangan Yesus kembali
Kebaktian-kebaktian memiliki tempat yang penting, yang khusus dalam persiapan para percayawan, bagi kedatangan Tuhan kembali. Dengan mengambil bagian dalam kebaktian, para percayawan mempersiapkan dirinya terutama sebagai seorang individu. Ia menguatkan hubungan pribadinya dengan Allah. Ia berupaya untuk melepaskan dirinya secara fisik dan mental dari kehidupan sehari-harinya, untuk menjumpai Allah.
Khotbah, yang diinspirasi oleh Roh Kudus akan menguatkan iman-Nya pada kedatangan Yesus Kristus kembali yang telah dekat. Dengan bergabung dalam Doa Bapa Kami, orang percaya menyatakan keinginan besarnya untuk berada dalam persekutuan dengan Allah: “Datanglah Kerajaan-Mu. Jadilah kehendak-Mu.”
Pengampunan dosa-dosa membebaskannya dari beban dosa-dosanya. Mengambil bagian dengan layak dalam Perjamuan Kudus menguatkan kembali pengharapannya dan memberi makan kehidupan ilahi yang telah ia terima di dalam kelahiran kembali.
Mengambil bagian dalam kebaktian juga mempersiapkan para percayawan untuk hidup dalam komunitas orang-orang kudus di dalam kerajaan Allah. Dengan datang ke dalam kebaktian, orang percaya memperllihatkan kepentingan yang ia lekatkan pada hubungannya dengan Allah: ia kini ingin sekali berkumpul dengan orang-orang yang tidak ia pilih, untuk berada bersama dengan Allah. Keinginan besarnya untuk memuji dan menyembah Allah, kebutuhannya untuk bersekutu dengan Allah dan berada dekat dengan-Nya, begitu kuat, sehingga ia berada berkumpul bersama orang-orang yang, jika tidak demikian, ia tidak akan pernah berhubungan.
Selain itu, perjumpaannya dengan saudara dan saudari kita memberinya kesempatan untuk memiliki minat, kepedulian, empati pada orang lain, untuk berbagi dalam sukacita dan kesedihan mereka. Dan karena tidak seorang pun sempurna, kehidupan sidang jemaat memampukan orang-orang percaya untuk belajar saling mengampuni, saling merukunkan diri, dan belajar untuk mengatasi perbedaan-perbedaan mereka. Ketika orang percaya datang ke dalam sidang jemaat, ia merasakan bahwa Allah mengatakan pesan yang sama kepada semua yang hadir – dalam hal ini Allah menggunakan pesan yang sama, ini untuk menguatkan orang-orang percaya dalam situasi-situasi yang berbeda sepenuhnya. Pengamatan sederhana ini memberi pemahaman, tentang kuasa dan keefektifan pemberitaan Injil. Dengan berdoa bersama secara lantang: “Ampunilah kami akan kesalahan kami”, orang-orang percaya, di hadapan umum mengakui bahwa mereka semua – tanpa kecuali – membutuhkan kemurahan.
Menerima sakramen Perjamuan Kudus adalah sebuah komponen mendasar dari persiapan kita bagi kedatangan Tuhan kembali. Dampak sakramen yang membawa keselamatan, tidak terwujud dengan sekadar menerima hosti yang telah disucikan, tetapi melalui perayaan Perjamuan Kudus secara keseluruhan. Perjamuan Kudus adalah juga sebuah ungkapan perjamuan persekutuan, yakni persekutuan Kristus dengan orang-orang percaya, tetapi juga persekutuan orang-orang percaya satu dengan yang lain. Perjamuan Kudus menghasilkan semua dampak ini, ketika orang percaya, menerima hosti yang telah disucikan sebagaimana mestinya, dari tangan seorang Rasul, atau seorang pemangku jawatan yang ditugaskan olehnya, dalam kehadiran sidang jemaat.
Pada pelembagaan Perjamuan Kudus, Tuhan memecah-mecahkan roti dan memberikannya kepada para Rasul. Ia kemudian memberi mereka sebuah cawan yang penuh dengan anggur dan meminta mereka untuk membagikannya satu dengan yang lain (Lukas 22:17). Saat ini, adalah seorang pemangku jawatan keimaman, yang membagikan hosti yang telah disucikan kepada orang-orang percaya. Namun, ketika kita merayakan Perjamuan Tuhan bersama-sama, masing-masing dari kita dapat melihat bahwa Tuhan menyambut setiap orang, yang berbeda-beda, dengan cara yang sama. Hal ini menunjukkan kepada mereka, kasih yang sama, dan memberi mereka hal yang sama, persis seperti yang Ia berikan kepada kita. Pengalaman ini adalah sebuah persiapan menakjubkan untuk pesta perkawinan Anak Domba.
Terakhir, hendaknya dicatat bahwa perayaan sebuah kebaktian biasanya mengharuskan sejumlah orang percaya untuk bekerja bersama. Sebagai contoh, pemimpin kebaktian, pemangku jawatan yang membantu melayani, anggota-anggota paduan suara, pemusik, mereka yang bertanggung jawab untuk menunjukkan tempat duduk, hiasan altar, kebersihan, dan lain-lain. Kerja sama ini, juga merupakan cara yang bagus untuk belajar bagaimana untuk hidup bersama.
Ringkasan
Pada kedatangan-Nya kembali, Tuhan akan menjemput kita. Kita diselamatkan dari dosa dan akibat-akibatnya, kita akan hidup dalam keselarasan yang sempurna dengan Allah, Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Kita juga akan berada dalam persekutuan yang sempurna satu dengan yang lain.
Saat ini kita masih harus mempersiapkan diri kita bagi kedatangan Yesus kembali. Persiapan ini mencakup menumbuhkan persekutuan dengan Allah dan dengan satu sama lain. Ambil bagian dalam kebaktian-kebaktian, memiliki makna yang istimewa dalam persiapan ini.
Selama pandemi, memang tidak dimungkinkan untuk merayakan kebaktian-kebaktain sebagaimana biasanya. Kita harus menemukan cara-cara baru untuk memungkinkan orang-orang percaya, mendengar khotbah dan menerima pengampunan dosa-dosa.
Kebaktian-kebaktian virtual adalah sebuah bantuan yang besar dalam periode yang sulit ini. Tidak dapat disangkal bahwa hal ini menawarkan banyak keuntungan, tetapi itu TIDAK memiliki dampak membawa keselamatan yang sama, seperti sebuah kebaktian yang dihadiri secara pribadi.
Pengalaman persekutuan adalah sebuah komponen mendasar dari persiapan pengantin perempuan. Demikian juga, menerima sebuah hosti yang disucikan tanpa dihadiri pemangku jawatan keimaman dan sidang jemaat, tidak dapat memiliki dampak membawa keselamatan yang sama seperti perayaan Perjamuan Kudus di sidang jemaat.
Salah satu tugas yang membentuk “kuasa penuh kunci” yang melekat dalam pelayanan Rasul Kepala adalah untuk menjamin kemurnian ajaran (KGKB 7.6.6). Oleh karena itu, Rasul Kepala memandang hal itu sebagai tanggung jawab Beliau untuk mengingatkan dengan sungguh-sungguh semua orang Kerasulan Baru yang percaya, bahwa mengambil bagian dalam kebaktian-kebaktian adalah sebuah komponen mendasar dari persiapan kita bagi kedatangan Yesus kembali.
Kalau secara sadar dan teratur, kita tidak menghadiri kebaktian-kebaktian, padahal sesungguhnya kita bisa atau mungkin untuk datang ke gereja maka hal itu akan dapat merugikan bagi kkta dalam upaya untuk memperoleh keselamatan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar