Spiritisme adalah suatu paham yang dianut dalam upaya untuk berkomunikasi dengan makhluk roh atau arwah (jiwa) orang-orang yang sudah meninggal. Biasanya upaya ini dilakukan, baik secara langsung maupun melalui perantara dukun, cenayang atau paranormal.
Kegiatan ini bukanlah sesuatu yang baru. Sejak zaman Perjanjian Lama hal ini sudah dilakukan. Dikitab Yesaya dapat kita baca, bahwa di Mesir, kegiatan dan paham ini sudah ada, "... maka mereka akan meminta petunjuk kepada berhala-berhala, dan kepada tukang jampi-jampi, kepada arwah dan kepada roh-roh peramal." (Yesaya 19:3).
Saat orang-orang Filistin akan menyerang Israel dan raja Saul melihat betapa kuat dan banyaknya kekuatan orang-orang Filistin, maka gemetarlah dia, sehingga ia berseru dan bertanya kepada Tuhan, tetapi Tuhan tidak menjawabnya, baik melalui mimpi, urim maupun melalui para nabi. Ditengah kekalutannya, raja Saul telah meminta untuk mendapatkan seseorang yang dapat memperantarakannya untuk dapat berkomunikasi dengan Samuel, yang pada saat itu telah meninggal. Padahal, sebelumnya raja Samuel telah mengusir para pemanggil arwah dan peramal dari Israel. Oleh para pembantunya, ia ditunjukkan bahwa di En-Dor ada seorang wanita yang dapat melakukannya. Setelah ia datang ke sana, bertemulah ia dengan perempuan yang dimaksud. Dan meski awalnya perempuan ini menolak, karena akhirnya ia tahu siapa yang dihadapannya, tetapi akhirnya si perempuan ini mau untuk memanggil arwah Samuel, sehingga raja Saul dapat berbicara dengan Samuel. (Yesaya 28).
Terakit dengan kejadian di atas, banyak teolog Kristen dan beberapa reformis, yang menolak pandangan atau pendapat bahwa perempuan tersebut benar-benar berjumpa dengan Samuel. Mereka berpendapat bahwa, yang dilihat wanita tersebut, hanyalah bayang-bayang dari Samuel atau khayalan saja.
Meski demikian, terlepas dari perdebatan tentang kemunculan Samuel, Allah melarang umat Israel untuk melakukan kegiatan ini. Pada bangsa Israel diajarkan untuk meminta petunjuk kepada Allah, bukan pada orang-orang yang sudah mati. (Yesaya 8:19). Dan Allah juga melarang kita untuk mempraktekan kegiatan spritisme ini. Di dalam kitab Ulangan 18:10-12 tertulis, "Diantaramu janganlah didapati seorangpun yang... menjadi petenung, seorang peramal, seorang penelaah, seorang penyihir, seorang pemantera, ataupun seorang yang bertanya kepada arwah atau kepada roh peramal atau yang meminta petunjuk kepada orang-orang mati. Sebab setiap orang yang melakukan hal-hal ini adalah kekejian bagi Tuhan, dan oleh karena kekejian-kekejian inilah Tuhan, Allahmu, menghalau mereka dari hadapanmu."
Dikitab Imamat, juga dijelaskan bahwa kegiatan atau paham spiritisme ini dilarang dan najis dihadapan Allah, "Janganlah kamu berpaling kepada arwah atau kepada roh-roh peramal; janganlah kamu mencari mereka dan demikian menjadi najis karena mereka; Akulah Tuhan, Allahmu." (Imamat 19:31). Selanjutnya dalam Imamat 20:6, tertulis, "Orang yang berpaling kepada arwah atau kepada roh-roh peramal, yakni yang berzinah dengan bertanya kepada mereka, Aku sendiri akan menentang orang itu dan melenyapkan dia dari tengah-tengah bangsanya."
Demikianlah, kita diharapkan agar tidak meminta seseorang untuk melakukan kegiatan spiritisme, dengan meminta petunjuk kepada roh-roh dari orang-orang yang sudah mati dan juga tidak melakukan kegiatan spiritisme. Melainkan sebagaimana yang telah dinasehatkan kepada untuk senantiasa meminta petunjuk kepada Allah kita, Allah Sang Bapa, Allah yang Maha Kuasa dan Allah yang Maha Tahu.
Kegiatan ini bukanlah sesuatu yang baru. Sejak zaman Perjanjian Lama hal ini sudah dilakukan. Dikitab Yesaya dapat kita baca, bahwa di Mesir, kegiatan dan paham ini sudah ada, "... maka mereka akan meminta petunjuk kepada berhala-berhala, dan kepada tukang jampi-jampi, kepada arwah dan kepada roh-roh peramal." (Yesaya 19:3).
Saat orang-orang Filistin akan menyerang Israel dan raja Saul melihat betapa kuat dan banyaknya kekuatan orang-orang Filistin, maka gemetarlah dia, sehingga ia berseru dan bertanya kepada Tuhan, tetapi Tuhan tidak menjawabnya, baik melalui mimpi, urim maupun melalui para nabi. Ditengah kekalutannya, raja Saul telah meminta untuk mendapatkan seseorang yang dapat memperantarakannya untuk dapat berkomunikasi dengan Samuel, yang pada saat itu telah meninggal. Padahal, sebelumnya raja Samuel telah mengusir para pemanggil arwah dan peramal dari Israel. Oleh para pembantunya, ia ditunjukkan bahwa di En-Dor ada seorang wanita yang dapat melakukannya. Setelah ia datang ke sana, bertemulah ia dengan perempuan yang dimaksud. Dan meski awalnya perempuan ini menolak, karena akhirnya ia tahu siapa yang dihadapannya, tetapi akhirnya si perempuan ini mau untuk memanggil arwah Samuel, sehingga raja Saul dapat berbicara dengan Samuel. (Yesaya 28).
Terakit dengan kejadian di atas, banyak teolog Kristen dan beberapa reformis, yang menolak pandangan atau pendapat bahwa perempuan tersebut benar-benar berjumpa dengan Samuel. Mereka berpendapat bahwa, yang dilihat wanita tersebut, hanyalah bayang-bayang dari Samuel atau khayalan saja.
Meski demikian, terlepas dari perdebatan tentang kemunculan Samuel, Allah melarang umat Israel untuk melakukan kegiatan ini. Pada bangsa Israel diajarkan untuk meminta petunjuk kepada Allah, bukan pada orang-orang yang sudah mati. (Yesaya 8:19). Dan Allah juga melarang kita untuk mempraktekan kegiatan spritisme ini. Di dalam kitab Ulangan 18:10-12 tertulis, "Diantaramu janganlah didapati seorangpun yang... menjadi petenung, seorang peramal, seorang penelaah, seorang penyihir, seorang pemantera, ataupun seorang yang bertanya kepada arwah atau kepada roh peramal atau yang meminta petunjuk kepada orang-orang mati. Sebab setiap orang yang melakukan hal-hal ini adalah kekejian bagi Tuhan, dan oleh karena kekejian-kekejian inilah Tuhan, Allahmu, menghalau mereka dari hadapanmu."
Dikitab Imamat, juga dijelaskan bahwa kegiatan atau paham spiritisme ini dilarang dan najis dihadapan Allah, "Janganlah kamu berpaling kepada arwah atau kepada roh-roh peramal; janganlah kamu mencari mereka dan demikian menjadi najis karena mereka; Akulah Tuhan, Allahmu." (Imamat 19:31). Selanjutnya dalam Imamat 20:6, tertulis, "Orang yang berpaling kepada arwah atau kepada roh-roh peramal, yakni yang berzinah dengan bertanya kepada mereka, Aku sendiri akan menentang orang itu dan melenyapkan dia dari tengah-tengah bangsanya."
Demikianlah, kita diharapkan agar tidak meminta seseorang untuk melakukan kegiatan spiritisme, dengan meminta petunjuk kepada roh-roh dari orang-orang yang sudah mati dan juga tidak melakukan kegiatan spiritisme. Melainkan sebagaimana yang telah dinasehatkan kepada untuk senantiasa meminta petunjuk kepada Allah kita, Allah Sang Bapa, Allah yang Maha Kuasa dan Allah yang Maha Tahu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar