Adiafora adalah suatu istilah etika, untuk menyebut suatu upacara atau ritual yang biasanya diadakan oleh orang-orang Kristen, meski sebenarnya dalam Alkitab tidak ada perintah untuk mengadakan upacara ini, tapi dalam Alkitab juga tidak ada larangan untuk mengadakan upacara ini. Upacara ini juga bukan suatu upacara penyembahan kepada Allah. Contoh : Ritual Jalan Salib.
Jika ada suatu denominasi atau gereja mau mengadakan upacara Adiafora ini, mereka berhak untuk mengubah cara atau isi dari upacara tersebut. Beberapa aliran gereja Protestan, tegas menolak atau melarang diadakannya upacara Adiafora ini, karena memang tidak ada perintah dalam Alkitab untuk mengadakan upacara ini, sedangkan aliran gereja Anglikan mengkaitkan upacara Adiafora ini dengan tradisi yang ada dalam masyarakat.
Filsafat Mazhab Stoikia
Jauh sebelumnya, istilah Adiafora memiliki makna yang berbeda. Selain pengertian di atas, Adiafora merupakan istilah filsafat dari mazhab Stoika, yang menunjukkan sikap atau pandangan hidup yang acuh tak acuh terhadap segala sesuatu yang terjadi di dunia. Adiafora didirikan oleh Zeno dari Kitton pada masa Sebelum Masehi di Athena, Yunani.
Mashab Stoika beranggapan bahwa jagat raya ditentukan oleh suatu kuasa yang disebut Logos (rasio). Semua kejadian berlangsung menurut ketetapan yang tidak dapat terelakkan. Jiwa manusia mengambil bagian dalam logos itu, sehingga mampu mengenal tertib universal dalam jagat raya ini. Manusia akan hidup bahagia dan bijaksana, kalau mereka hidup menurut rasionya dan mampu mnegendalikan nafsunya serta takluk pada hukum-hukum alam.
Penganut filsafat stoikia ini tidak memperdulikan kematian, penderitaan atau malapetaka lain, karena mereka sadar bahwa semua itu terjadi oleh karena keharusan mutlak. Sikap inilah yang menyebabkan mereka seolah-olah acuh tak acuh. Stoisisme, banyak mendapat pengikut saat masa kerajaan Romawi. Pengikut faham Stoikia yang terkenal adalah Zeneca (tahun 2 - 65) dan Kaisar Marcus Aurelius (tahun 121 - 180)
Masa Reformasi
Selama masa Reformasi, istilah "adiafora" memiliki makna yang sangat luas, dan dipakai dalam lingkungan-lingkungan teologi, untuk menjelaskan kategori ritus keagamaan dan kebiasaan yang umum dipraktikkan, tetapi tidak diperintahkan ataupun dilarang oleh teolog-teolog Lutheran. Halmiji terjadi selama pertengahan abad ke-16, pada saat gerakan Protestan terancam oleh kekuatan Katolik di Jerman.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar