Rabu, 10 Juli 2019

Pengetahuan kita tidak lengkap

BACAAN ALKITAB

“Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti;
pengetahuan akan lenyap. Sebab pengetahuan kita tidak lengkap dan nubuat
kita tidak sempurna. Tetapi jika yang sempurna tiba, maka yang tidak sempurna itu akan lenyap” (1 Kor. 13:8-10).

PENGAJARAN

Rasul Paulus menjelaskan bahwa pengetahuan kita tentang Allah, tidaklah sempurna (ayat 12). Demikian juga dengan sifat dan aktivitas Allah, seringkali jauh melampaui akal kepikiran manusia. Dalam Yesaya 55:8-9, dituliskan, " Sebab rangcangan-Ku bukanlah rancanganmu dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman Tuhan. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancanganKu dari rancanganmu." Kalimat "rancangan-Ku bukanlah rancanganmu", dalam terjemahan lain diterjemahkan sebagai "pikiran-Ku, bukanlah pikiranmu".

Pemahaman dan pengertian ini  hanya dapat dijangkau dengan iman. Tetapi, jika kita memberi ruang yang luas bagi Dia, yaitu Roh Kudus yang telah ditanamkan kepada diri kita, untuk bertindak di dalam diri kita, maka Roh Kudus akan dapat memperdalam pengetahuan kita dan memimpin kita untuk dapat mengerti dan memahami akan kepikiran Allah. Sebab Roh menyelidiki segala sesuatu, bahkan hal-hal yang tersembunyi dalam diri Allah (1 Kor. 2:10).

Apa yang menjadi rancangan Allah dan kemana jalan yang akan ditunjukkan Allah untuk kita jalani?

Rancangan Allah adalah untuk menyelamatkan manusia dan membawanya kembali ke dalam persekutuan yang kekal dengan Allah. Sejak kejatuhan manusia ke dalam dosa, yang berakibat pada kematian manusia, terpisah dari Allah, adalah keinginan Allah yang besar untuk dapat membawa manusia kembali ke dalam persekutuan yang kekal dengan-Nya. Sejak itulah, Allah telah merancang sedemikian rupa akan rencana keselamatan-Nya. 

Rancangan Allah untuk menyelamatkan manusia dari dosa telah banyak dinubuatkan oleh para nabi.  Salah satunya apa yang dikatakan nabi Yesaya, "Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia, Imanuel." (Yesaya 7:14). Nubuat ini telah tergenapkan dengan lahirnya Tuhan Yesus ke dunia, melalui seorang perawan yang bernama Maria.

Selanjutnya, selama Yesus ada di dunia, Ia mengajarkan apa yang menjadi kehendak Allah, dan menyampaikan apa yang menjadi tujuan kedatangan-Nya ke muka bumi, yaitu untuk memenuhi kehendak Sang Bapa, untuk menjadi juruselamat dan penebus dosa umat manusia, dengan cara mempersembahkan kurban di atas kayu salib.

Sebenarnya bukan hanya kita saja yang seringkali tidak mengerti dan memahami sepenuhnya akan apa yang menjadi kehendak Allah. Murid-murid Tuhan Yesus sendiri, yang selama itu, hidup bersama-sama Yesus, dan mendengar langsung ketika Yesus mengajar atau saat berbicara langsung kepada mereka, seringkali mereka juga tidak segera memiliki pemahaman dan pengertian yang sepenuhnya akan apa yang diajarkan kepada mereka, atau apa yang menjadi kehendak Allah, termasuk apa yang akan dialami Tuhan Yesus. Itulah sebabnya ketika Yesus menyampaikan, bahwa Ia akan menanggung banyak penderitaan, sebelum Ia dibunuh di atas kayu salib, Petrus menjadi marah dan menegor Yesus, karena ketidak sempurnaan pemikirannya. " Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia, katanya: "Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu!  Hal itu sekali-kali tidak akan menimpa Engkau. Maka Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus, "Enyahlah iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku. Sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia. (Matius 16: 22-23).

Demikian juga ketika kedua orang murid Tuhan yang berjalan menuju ke Emaus. Mereka menjadi kecewa dan sedih, ketika Yesus akhirnya harus mati di atas kayu salib. Yesus, yang mereka harapkan untuk menjadi raja Israel dan membebaskan bangsa Israel dari penjajahan bangsa Romawi, akhirnya mati di atas kayu salib. Meskipun Tuhan Yesus sebenarnya sudah beberapa kali menyatakan bahwa kerajaan-Nya bukan dari dunia ini, tetapi hal ini belum juga dapat dimengerti dan dipahami oleh orang banyak, bahkan oleh murid-muridnya sendiri. Kesedihan dan kekecewaan yang mereka alami, terjadi karena mereka tidak mengerti dan memahami rencana Allah dan tujuan dari kedatangan Tuhan Yesus ke muka bumi, yaitu untuk menjadi juruselamat bagi manusia, dan bukan menjadi raja di dunia ini.

Kebangkitan Tuhan Yesus dari kematian dan tidak ditemukannya tubuh jenasah Tuhan Yesus, pada awalnya juga menimbulkan kesedihan pada murid-murid Yesus. Bahkan ketika setelah kebangkitannya dari kematian dan Ia menampakkan diri kepada murid-murid-Nya, bukannya mereka menjadi bersukacita, melainkan mereka justru mengalami ketakutan, karena mereka berpikir, orang yang dijumpai adalah setan. Bahkan Tomas sendiri tidak mempercayai akan kebangkitan Yesus, sebelum mencucukkan jarinya pada tangan dan lambung Yesus. Padahal semua itu sudah dinubuatkan oleh para nabi dan disampaikan oleh Tuhan Yesus sendiri.

Demikian juga dengan jalan yang ditunjukkan Allah untuk kita jalani. Sebenarnya Tuhan Yesus sendiri, sebagai Allah yang sejati dan manusia yang sejati, telah menyatakan-Nya, "Akulah, jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Sang Bapa, kalau tidak melalui Aku." (Yohanes 14:6).

Sayangnya manusia tidak bisa memahami dan mengerti akan rancangan dan jalan yang telah ditunjukkan Allah kepada manusia. Kepikiran manusia tidak bisa memahami dan mengerti akan hal ini, karena pengetahuan manusia tidak lengkap dan kita tidak bisa memamhami dan mengerti nubuat yang diberikan dengan sempurna.

Bersyukur, Allah tidak membiarkan kita dalam keadaan yang sedemikian terus. Sebelum Tuhan Yesus naik ke sorga, Ia telah menyatakan bahwa nanti akan ada Roh penghibur yang akan menuntun manusia ke segala jalan kebenaran. Roh Kudus inilah yang akan membawa kita ke dalam suatu pengetahuan yang benar tentang anak Allah, sebagaimana yang dinyatakan dalam Efesus 4:13-15, dinyatakan, "sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Yesus, sehingga kita bukan lagi anak-anak yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan, tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran, di dalam kasih kita bertumbuh  di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah kepala. 

Suapaya kita dapat sampai, sebagaimana yang dikatakan oleh Rasul Paulus dalam kitab Efesus di atas, kita hendaknya dapat senantiasa 

  • Memiliki keinginan untuk bertanya apa yang menjadi kehendak Allah
  • Mendengarkan apa yang diajarkan Allah melaui Roh Kudus dalam setiap kebaktian 
  • Memberikan ruang yang sepenuhnya kepada Roh Kudus untuk melakukan aktivitasnya dalam diri kita
  • Menyadari akan kurangnya hikmat yang kita miliki, sehingga mendorong kita untuk memohonkan hikmat Ilahi. (Yakobus 1:5)
  • Mampu menempatkan diri di bawah kehendak Allah, tidak sok tahu, tidak sok pandai
Semuanya itu akan dapat dilakukan bila kita memiliki kerendahan hati. 

Semoga pada akhirnya nanti kita semua dapat mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Yesus, serta bertumbuh  di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah kepala, sehingga ketika Yang Sempurna itu datang, kita akan dapat diperkenankan ikut ambil bagian, masuk ke dalam kemuliaan-Nya, untuk mengalami kasih Allah yang tidak berkesudahan. 

Pada saat itulah, nubuat akan berakhir, bahasa roh akan berhenti, karena kita akan dapat melihat Allah Tritunggal dalam keadaan sebenarnya dan kita tidak akan bertanya-tanya lagi.

Amin.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Indahnya Memberi - Indahnya Berbagi. Bahagianya Memberi

Seorang dosen yang dikenal bijaksana, tengah berjalan santai bersama seorang mahasiswa di taman kampus. Tidak lama keduanya melihat ada sepa...