Rabu, 18 September 2019

Damai Sejahtera Sebagai Karunia

BACAAN ALKITAB

Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu. (Yohanes 14:27)

PENGAJARAN



Bacaan bagian Alkitab di atas diambil dari perbicaran Tuhan dengan murid-murid-Nya menjelang perpisahan-Nya untuk mempersembahkan kurban di atas kayu salib. Pembicaraan tentang perpisahan Yesus yang tertulis dalam Injil Yohanes dimulai dengan kata-kata, “Janganlah gelisah hatimu” (Yoh. 14:1) dan Yesus mengakhiri
pembicaraan-Nya tentang damai sejahtera, dengan kata-kata di atas untuk menguatkan dan menghibur mereka dengan mengatakan, "Janganlah ... gentar
hatimu." Perpisahan para murid dengan Yesus, seharusnya tidak perlu menimbulkan ketakutan apapun. Meskipun demikian Yesus tahu perasaan takut dan gentar itu akan tetap menghantui murid-murid-Nya. Untuk itulah, guna mencegah rasa takut itu muncul, Yesus memberi kita damai sejahtera-Nya, yang jauh melampaui semua kedamaian yang dapat diberikan oleh manusia. 

Dalam konteks ini, damai “seperti yang diberikan oleh dunia” adalah semacam
suasana damai yang diupayakan oleh kekaisaran Romawi waktu itu, dengan cara menaklukkan bangsa-bangsa disekitarnya dan membuat perjanjian-perjanjian
dengan musuh-musuh mereka, sehingga mereka lagi mengganggu pemerintahaan kekaisaran Romawi.

Sebenarnya manusia dikatakan memiliki perdamaian atau damai sejahtera ketika
  • mereka dapat hidup berdampingan dalam keharmonisan, keamanan dan tanpa konflik.
  • mereka hidup dalam kepuasan dan bebas dari rasa takut.
  • tidak ada seorang pun yang mengganggu kedamaian mereka.
Agar kedamaian itu ada dan dapat terjaga dengan baik, maka
  • dibuatlah berbagai peraturan dan setiap orang harus mematuhinya, sebab jika semua orang bertindak semau mereka sendiri, pastilah tidak akan ada kedamaian.
  • harus diupayakan adanya suatu keadilan. Suatu kelompok masyarakat yang tidak memerhatikan kebutuhan-kebutuhan dasar dari anggotanya, tidak akan dapat hidup dalam kedamaian.
  • harus ada sikap toleransi, saling mengharagai dan saling menghormati.
Sebenarnya Allah telah memberikan dasar kepada umat manusia agar mereka dapat membangun dan menjaga adanya kedamaian, yakni dengan diberikan-Nya hukum Sepuluh Perkara dan perintah-perintah yang tertulis dalam Injil Kristus. Di antaranya, Yesus pernah mengajar kita untuk tidak mengukur secara berlebihan, hal-hal yang bersifat material, dan agar kita hendaknya berbuat kepada orang lain, apa yang kita inginkan orang lain perbuat kepada kita.

Kedamaian di antara umat manusia, seperti yang diberikan oleh dunia, tidaklah sempurna, karena
  • kita sendiri tidaklah sempurna. Seringkali kita justru tidak berbuat hal-hal yang baik, yang kita inginkan, tetapi malahan kejahatanlah, yang kita tidak kehendaki (Rm. 7:19).
  • adanya rasa tidak puas dalam diri manusia dan ingin selalu mendapatkan lebih dari apa yang sudah diperolehnya.
  • adanya perasaan, ingin lebih dari orang lain
  • kita dihadapkan pada akibat dosa atau konsekuensi-konsekuensi dari perbuatan dosa, sehingga harus mengalami penderitaan, ketidakadilan, dan bahkan kematian. Akibatnya kedamaian itu justru hilang.
  • kita semua diberi kebebasan dalam mengambil berbagai keputusan sehingga kita juga tidak dapat memaksa orang lain untuk hidup dalam perdamaian dengan kita (Rm. 12:18).
Damai sejahtera sendiri, sebenarnya adalah suatu karunia Yesus, yang diberikan kepada mereka yang percaya dan yang mengikut kepada-Nya. Damai sejahtera Yesus yang dikaruniakan kepada kita menjadikan kita memiliki hubungan persekutuan yang erat dan tidak terganggu dengan Allah dan juga dengan Yesus, sebab, 
  • Ia adalah damai sejahtera kita, karena Ia telah memperdamaikan kita dengan Allah melalui kurban-Nya (Ef. 2:14-16).
  • Ia telah membebaskan kita dari dosa-dosa kita dan menghapus kesalahan-kesalahan kita di hadapan Allah.
  • Ia menjaga, merawat, dan menghibur kita (Yoh. 16:33).
Damai sejahtera Kristus adalah sebuah karunia kemurahan yang tidak dapat kita hasilkan sendiri dan juga bukanlah hasil dari karya kita. Meskipun demikian kita diharapkan untuk tetap memiliki kontribusi dalam mewujudkan dan menjaga damai sejahtera yang ada dalam hati kita. Marilah kita lipat gandakan karunia ini dengan pertolongan Roh Kudus. Damai sejahtera adalah salah satu dari buah-buah Roh (Gal. 5:22). Oleh karena itu, mari kita membiarkan diri kita dituntun oleh Roh Kudus, dimana Roh Kudus akan.
  • mendorong kita untuk dapat mengenali kesalahan-kesalahan kita dan menyatakan penyesalan sebagai suatu prasyarat untuk dapat memperoleh pengampunan dosa.
  • mengingatkan kita bahwa kita tidak perlu takut terhadap apapun: Yesus yang telah mengalahkan dunia, ada di pihak kita.
  • menunjukkan kepada kita, bagaimana kita dapat meningkatkan damai sejahtera di dalam lingkungan rumah tangga, sidang jemaat dan lingkungan masyarakat pada umumnya, melalui kerendahan hati, kelemahlembutan, kesabaran, dan toleransi (Ef. 4:1-3).
Mengikut Kristus tidak menjamin bahwa kita akan memiliki suatu kehidupan yang tenang dan penuh damai sejahtera. Seperti Yesus, murid-murid-Nya juga dihadapkan dengan kesengsaraan-kesengsaraan! Tetapi mereka yang bertahan sampai pada akhirnya akan masuk ke dalam kerajaan Allah, dimana damai sejahtera yang sempurna dan persekutuan yang sempurna dengan Allah dan juga dengan satu sama lain, akan berkuasa.

Amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Indahnya Memberi - Indahnya Berbagi. Bahagianya Memberi

Seorang dosen yang dikenal bijaksana, tengah berjalan santai bersama seorang mahasiswa di taman kampus. Tidak lama keduanya melihat ada sepa...