Minggu, 15 September 2019

Hidup Dalam Kristus

BACAAN ALKITAB

...Aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya
untuk aku. (Galatia 2:20)

PENGAJARAN

Ketika kita hidup di muka bumi sebagai umat milik Allah dan anak-anak Allah, kita bukan tidak boleh untuk dapat menikmati hidup dan kesenangan yang ada di bumi. Perlu kita sadari, bagaimana pun kita adalah bagian dari masyarakat dan kita berada pada zaman di mana mereka hidup. Meskipun demikian kita juga harus tetap sadar siapakah diri kita, dengan demikian kita akan selalu ingat akan peran, tugas, tanggung jawab dan kewajiban kita selama ada di muka bumi. Dengan kesadaran ini akan mendorong kita untuk senantiasa berusaha hidup “oleh iman sebagai Anak Allah”.

Kita menjadi anak-anak Allah, karena Yesus Kristus telah memberikan hidup-Nya untuk kita. Yesus melakukan hal itu, karena Ia sangat mengasihi kita. Oleh karena itu, janganlah kita sampai menghinakan diri kita, jangan sampai kita menyia-nyiakan hidup kita. Kita telah ditebus oleh Tuhan sedemikian mahalnya. Pengorbanan yang Yesus berikan kepada kita, tidak hanya sekedar waktu, tenaga,dan kehormatan beliau, Ia bahkan telah menyerahkan nyawanya untuk menebus kita dari kuasa dan ikatan iblis. Oleh karena itu peliharalah dan rawatlah diri kita. Hargailah hidup kita. Isilah hidup kita dengan segala sesuatu yang berkenan di hadapan Allah. Hal itu akan senantiasa membawa kita dalam hidup yang penuh kebahagiaan, sukacita, keberhasilan dan kesuksesan, dengan mengembangkan karunia-karunia, talenta-talenta, bakat-bakat, serta kesempatan yang telah Allah berikan kepada kita.

Meskipun kita tidak dilarang untuk dapat memperoleh dan menikmati semua itu, tetapi kita hendaknya selalu ingat akan peran, tugas, tanggung-jawab dan kewajiban kita, serta sadar akan keberadaan kita. Kita hanya tamu di dunia ini. Marilah kita hendaknya ingat untuk senantiasa mengupayakan sesuatu yang lebih besar dari semua itu, yaitu harta kekayaan sorgawi, sukacita sorgawi dan keselamatan jiwa kita. Allah telah mencadangkan kita suatu warisan kemuliaan yang kekal. Melalui jasa kurban Tuhan Yesus di atas kayu salib, kita memiliki jalan masuk untuk menuju pada persekutuan yang kekal dengan Allah dan Tuhan Yesus! Keinginan untuk memiliki persekutuan dengan Allah dan Tuhan Yesus, akan sangat menentukan langkah dan arah kehidupan kita di atas bumi ini.

Persekutuan yang kekal dengan Allah dan Tuhan Yesus Kristus akan dapat terjadi jika kita mengasihi Allah dan Tuhan Yesus. Bagaimana kita menyatakan kasih kita? Tuhan Yesus mengatakan, "Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku." (Yohanes 14:15) Apa yang menjadi perintah atau kehendak Tuhan Allah? Perintah atau kehendak Allah dapat kita ketahui dan peroleh dalam setiap kebaktian. Dalam setiap kebaktian kita akan dapat menjumpai Tuhan dan Allah kita. Di sinilah kita dapat bertanya kepada Allah dan mendengar apa yang menjadi kehendak-Nya, melalui firman-firman-Nya. Ketika kita sudah ada dalam kebaktian, marilah kita juga dapat bersikap sebagaimana Samuel muda, "...Berbicaralah, sebab hamba-Mu ini mendengar." (1 Samuel 3:10) Salah satu kehendak Allah yang sangat penting untuk kita perhatikan adalah, agar kita mempersiapkan diri untuk kedatangan Tuhan Yesus kembali.

Kemampuan untuk menerima firman Allah, hanya dapat kita miliki serta dapat diukur, ketika kita mampu untuk merendahkan diri dan membuka pintu hati kita terhadap apa yang difirmankan Allah kepada kita dan melakukannya dengan penuh kepercayaan dan kemenurutan. Dengan menerima firman Allah, berarti kita membiarkan Tuhan ada dalam hati kita dan mengendalikan hidup kita. Firman di atas yang menyatakan, “Bukan lagi aku sendiri yang hidup”, bukan berarti Allah mengharapkan kita untuk melepaskan kepribadian atau keinginan kita. Tidak. Ia hanya menginginkan agar kita jangan mengagungkan atau memuji diri sendiri dan meninggalkan pemujaan terhadap diri sendiri. Beberapa hal yang terkait dengan pemujaan terhadap diri sendiri antara lain:

  • Egoisme: yaitu suatu sikap dimana orang berusaha untuk memenuhi keinginannya sendiri tanpa memerhatikan sesamanya.
  • Egosentris: yaitu suatu sikap dimana orang hanya berfokus pada diri sendiri. Ia akan menyaring segala sesuatu yang akan ia terima. Ia hanya menganggap hal-hal atau orang-orang di luar dirinya, baik, bila dapat memberi keuntungan kepada dirinya atau berguna bagi dirinya.
  • Individualisme: yaitu suatu sikap dimana orang merasa dirinya lebih penting daripada orang lain, dimana ia berada, bahkan kepentingannya sendiri juga ia anggap lebih penting dari kepentingan orang lain atau masyarakat
Sikap-sikap yang sedemikian ini tidak sesuai dengan iman Kristen. Jika kita ingin hidup di dalam Kristus, kita harus membuang sikap yang sedemikian dan memiliki pikiran yang sama sebagaimana Yesus (Flp. 2:5). Dengan sikap yang sedemikian, berarti kita hidup dalam Kristus. Ketika kita sudah bertekad untuk hidup dalam Kristus, maka hal itu hendaknya nampak dalam sikap, perbuatan dan perkataan kita, yang nyata dalam:

  • Kesadaran akan peran, tugas, tanggung jawab, kewajiban kita di dalam kehidupan bermasyarakat dan dengan senang hati melakukan bagian kita demi kebaikan bersama (Mrk. 12:17; Rm. 13:7).
  • Keinginan kita untuk menghilangkan sekat-sekat antara diri kita dengan orang lain. Dengan kata lain, janganlah kita justru membangun berbagai macam sekat yang menghalangi kita untuk dapat berinteraksi dan berperan serta dalam persekutuan dan kebersamaan atau kemanunggalan satu dengan yang lainnya. Jangan sampai perbedaan latar belakang, status sosial, pendidikan dan ras, menjadi suatu sekat-sekat yang menghalangi kita. Janganlah kita memiliki pemikiran bahwa kita tidak membutuhkan siapapun, atau mungkin justru sebaliknya, janganlah kita berpikir bahwa kita tidak berarti sama sekali bagi orang lain atau merasa bahwa orang lain tidak menunjukkan ketertarikan apapun pada diri kita. Yesus mengutus kita untuk berbuat baik kepada siapa pun, tanpa terkecuali.
  • Keharmonisan dan kebahagiaan hidup berumah tangga. Kita jangan pernah menganggap perkawinan sebagai suatu penyatuan minat bersama atau bahkan sebagai suatu usaha patungan, investasi atau dagang. Banyak perkawinan yang hancur karena salah satu pasangan memiliki pandangan, bahwa pasangannya sudah tidak lagi membawa keuntungan apapun bagi dirinya. Barangsiapa membiarkan Yesus hadir dalam kehidupan perkawinan kita, maka kita akan selalu berusaha untuk memikirkan cara-cara untuk membawa kebahagiaan bagi pasangannya, dan menghindari percekcokan. Mungkin kita akan mengatakan, bagaimana mungkin kita dapat menghindari percekcokan. Memang benar, kita tidak bisa menghindari percekcokan, tetapi kita bisa mencegah agar percekcokan itu tidak sampai terjadi bahkan mencegah terjadinya suatu kerusakan yang besar atau kehancuran suatu perkawinan, akibat suatu percekcokan. Semua itu dapat kita hindari, jika kita mampu untuk merendahkan diri dari pasangan kita dan berusaha untuk melayani pasangan kita. Ketika percekcokan itu akan terjadi, berlomba-lombalah untuk terlebih dahulu merendahkan diri, berlomba-lombalah untuk terlebih dahulu melayani, maka percekcokan dalam perkawinan akan dapat dihindari. Mari kita ambil contoh gempa bumi. Gempa bumi sering kali terjadi karena adanya tumbukan antara lempeng bumi yang mengandung suatu tenaga yang sangat besar, yang tidak mau saling "mengalah". Dan kita bisa melihat bagaimana kehancuran dan kerusakan yang terjadi akibat tumbukan lempeng bumi yang tidak mau saling "mengalah" ini. Demikian juga dengan kehidupan dalam suatu perkawinan, sungguh besar kerusakan yang akan terjadi, jika kita tidak mau saling mengalah, tidak mau saling merendahkan diri. 
  • Kehidupan sidang jemaat. Kita semua adalah bagian dari tubuh Kristus. Kesejahteraan tubuh Kristus, sangat tergantung pada seluruh anggota tubuh Kristus. Setiap anggota tubuh Kristus hendaknya berpikir bagaimana ia dapat memberikan kontribusi bagi kesejahteraan anggota tubuh Kristus yang lain atau secara keseluruhan. Kasih Kristus dan kasih kepada sesama, memungkinkan kita untuk tidak terlalu memperhatikan kepentingan pribadi kita sendiri, melainkan bagaimana kita dapat berperan serta bagi kesejahteraan sidang jemaat.
Jadi, hidup dalam Kristus dan mengikut Kristus, bukan berarti membuat kepribadian kita menjadi hilang atau menjadikan kita sebagai makhluk-makhluk yang seragam, tanpa memiliki keinginan, hasrat, kehendak dan motivasi atau memiliki kemauan dan tekad yang lemah. Sebaliknya, mari kita berlomba-lomba untuk bersumbangsih dan memaksimalkan potensi, talenta, bakat dan kepribadian kita, untuk kesejahteraan bersama serta kepujian dan kemulian nama Allah saja. Masing-masing dari kita tetap diperkenankan untuk menjadi dan tetap seperti kita, apa adanya dengan karunia-karunia yang kita miliki dan pilihan-pilihan kita. Tetapi kita juga juga harus mampu mengasihi orang lain dan menjalani hidup kita dengan kasih yang sejati, sehingga kita dapat menenjadi berkat bagi orang lain.

Amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Indahnya Memberi - Indahnya Berbagi. Bahagianya Memberi

Seorang dosen yang dikenal bijaksana, tengah berjalan santai bersama seorang mahasiswa di taman kampus. Tidak lama keduanya melihat ada sepa...