Senin, 30 September 2019

Menertawakan janji Allah

BACAAN ALKITAB

Selanjutnya Allah berfirman kepada Abraham: "Tentang isterimu Sarai, janganlah engkau menyebut dia lagi Sarai, tetapi Sara, itulah namanya. Aku akan memberkatinya, dan dari padanya juga Aku akan memberikan kepadamu seorang anak laki-laki, bahkan Aku akan memberkatinya, sehingga ia menjadi ibu bangsa-bangsa; raja-raja bangsa-bangsa akan lahir dari padanya." Lalu tertunduklah Abraham dan tertawa serta berkata dalam hatinya: "Mungkinkah bagi seorang yang berumur seratus tahun dilahirkan seorang anak dan mungkinkah Sara, yang telah berumur sembilan puluh tahun itu melahirkan seorang anak?" (Kejadian 17:15-17)

PENGAJARAN

Ketika Allah menemui Abram, Allah mengadakan suatu perjanjian dengannya. Allah berjanji kepada Abram, bahwa ia akan menjadi bapa dari sejumlah besar bangsa dan daripadanya akan berasal raja-raja. Dan sejak saat itu, namanya bukan lagi Abram tetapi Abraham. Ketika Abram mendengar dan menerima janji Allah ini, meski ia tidak tahu bagaimana hal itu akan terjadi, ia bisa menerima dan bersujud kepada Allah. Tetapi ketika ia sudah berumur sembilan puluh sembilan tahun, mendengar dan menerima janji Allah bahwa ia akan memiliki anak dari Sara yang telah berusia sembilan puluh tahun, dan menjadikan Sara sebagai ibu dari bangsa-bangsa dan raja-raja bangsa-bangsa akan lahir dari padanya, ia tertunduk dan menertawakan janji dan firman Allah tersebut. 

Meskipun sebelumnya Abraham begitu menaruhkan iman, kepercayaan dan pengandalan yang begitu besar kepada Allah, tetapi ketika pikirannya sebagai manusia begitu mendominasi, ia mempertanyakan bahkan menertawakan akan janji dan firman Allah. Ia lupa akan kemahakuasaan Allah, ia lupa akan kebesaran, keagungan dan kemuliaan karya ciptaan Allah. "Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.(Yesaya 55:8-9)

Manusia, tanpa disadari, seringkali menertawakan firman Allah. Mari kita ambil beberapa contoh.

1. Yesus, Sang Putra Allah. Banyak orang yang menertawakan, ketika mereka mendengar bahwa Yesus adalah Sang Putra Allah. Bagaimana mungkin Allah bisa melahirkan seorang anak. Ketika Yesus dibaptis di tepi sungai Yordan, Allah sendiri telah menyatakan, "Inilah Anak-Ku yang Kukasih, kepada-Nyalah Aku berkenan." (Matius 3:17)  Kepikiran yang mendominasi manusia, telah menjadikan manusia lupa akan kuasa, dan kebesaran Allah. Hanya imanlah yang akan membawa manusia untuk dapat percaya bahwa Yesus adalah Sang Putra Allah. 

2. Kelahiran baru dengan air dan Roh. 
Dengan kelahiran baru dengan air dan Roh, seseorang mendapatkan ke-anakan di dalam Allah, sehingga ia dapat menyebut-Nya, Ya Abba, Ya Bapa. "Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah. Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: "ya Abba, ya Bapa!" Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah. Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia. (Roma 8:14-17)

Dengan kelahiran baru dari air dan Roh, kita telah menjadi anak Allah dan menjadi ahli waris bersama-sama dengan Tuhan Yesus. Ketika kita menyatakan bahwa kita adalah anak-anak Allah, banyak orang akan menertawakan dan mungkin juga akan melecehkan kita, bahkan mungkin akan menganggap kita telah melecehkan Allah. "Bagaimana mungkin kita bisa mengaku-ngaku kita adalah anak Allah?"

Memang secara fisik kita tidak berbeda dengan umat manusia pada umumnya. Sama seperti Tuhan Yesus, ketika turun ke dunia, secara fisik Ia tidak berbeda dengan orang lain. Ia juga merasa lapar, Ia juga makan dan minum seperti orang lain. Ia juga bisa merasakan betapa sakitnya disiksa. Tetapi melalui aktivitas-Nya, kita dapat mengamini bahwa Ia adalah Allah Sang Putra, Ia adalah Tuhan. Demikian juga dengan kita, meski secara fisik, kita tidak berbeda dengan manusia pada umumnya, tetapi Roh Allah yang telah ditanamkan ke dalam diri kita itulah yang membuat kita berbeda dengan manusia pada umumnya, dan itu hendaknya nyata dalam kata, sikap dan perbuatan kita.

3. Firman Pengampunan Dosa

Dalam kebaktian, kita mendengar firman pengampunan dosa. Ketika kita merasa bahwa kita telah terlalu dalam tenggelam dan berlepotan lumpur dosa dan merasa dosa kita begitu besar, kita seringkali berpikir, masih layakkah aku untuk berdiri dihadapan takhta kemurahan-Nya, Menyadari akan hal ini, sering kali tanpa kita sadari, kita tersenyum kecut. Mungkinkah dosaku dapat diampuni? 
Janji Allah melalui nabinya, menyatakan bahwa, "...Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba." (Yesaya 1:18). 

Contoh yang diberikan oleh Tuhan Yesus tentang sikap pemungut cukai yang datang dengan kerendahan hati dan penuh penyesalan, ke bait Allah untuk memohonkan pengampunan, hendaknya juga dapat memberikan pemahaman dan pengertian akan besarnya kasih dan kemurahan Allah pada para pendosa. Oleh karena itu, datanglah dan mari kita mengakui akan kesalahan kita, bertobat dan memohonkan pengampunan dosa, maka Allah akan membersihkan jiwa kita dari lumpur dosa.

Kuasa dan kasih Allah-lah yang menjadikan segala sesuatu yang telah dijanjikan-Nya akan digenapi dan terjadi. Dan penggenapan janji Allah tidak hanya berlaku untuk janji-janji Allah yang terkait dengan kehidupan dan keselamatan jiwa kita saja, tetapi penggenapan janji-Nya juga berlaku dalam kehidupan jasmani kita sehari-hari. JANGAN PERNAH "MENERTAWAKAN" janji Allah, karena Allah adalah setia dan Janji-Nya adalah "Ya" dan "Amin". 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Indahnya Memberi - Indahnya Berbagi. Bahagianya Memberi

Seorang dosen yang dikenal bijaksana, tengah berjalan santai bersama seorang mahasiswa di taman kampus. Tidak lama keduanya melihat ada sepa...