Bacaan Alkitab
Janganlah lekas-lekas marah dalam hati, karena amarah menetap dalam dada krang bodoh. (Pengkhotbah 7:9)Renungan
Allah adalah kasih, begitu yang tertulis di Alkitab. Jika Bait Allah, dimana Allah tinggal di dalamnya, ada dalam diri setiap hati umat manusia, dan jika hal itu terus berdenyut bagaikan urat nadi kita, maka tidak akan ada yang lain, kita semua akan sennatiasa dipenuhi dengan kasih yang murni dari Nya.Rumi, seorang penyair Persia, menyatakan “Your task is not to seek for love, but merely to seek and find all the barriers within yourself that you have built against it.”
Jadi sebenarnya, tugas kita bukan mencari kasih lagi, melainkan menghalangi jangan sampai kebencian, kemarahan dan aliran dendam masuk, mengaliri dan membanjiri hati kita.
Sayangnya kita jarang sekali diajar untuk bersikap preventif tehadap suatu kemarahan atau kebencian yang mendatangi kita. Kita jarang sekali diajar untuk mencegah sesuatu yang bisa menimbulkan kemarahan dan kebencian masuk ke dalam hati kita. Jarang sekali kita diajar bagaimana sikap yang tepat dalam menghadapi kemarahan dan kebencian yang membara di dalam hati.
Dipendam, dilupakan, dialihkan dan di lampiaskan, itu adalah cara yang selama ini paling banyak dipilih.
Tatkala ada yang bersedih, kita ingin menghiburnya agar tidak bersedih lagi, kita mengalihkan kesedihannya dengan mengajaknya jalan-jalan atau menonton bioskop. Tanpa disadari, mungkin kita sering mengatakan, "sudah..., biarkan saja, nanti Tuhan yang akan membalasnya" atau "jangan takut, labrak saja, kamu kan dipihak yang benar, ngapain takut?"
Terkesan bahwa tindakan kita adalah untuk membela dan menghibur teman yang lagi bersedih tersebut, namun kalau kita lihat lebih dalam lagi, kita akan menemukan bahwa apa yang kita lakukan itu adalah untuk menenangkan diri yang tidak nyaman dengan kehadiran teman yang bersedih itu.
Kita sering mengambil sikap atau tindakan kuratif atau pengobatan, ketika kemarahan atau kebencian itu sudah masuk dan membanjiri hati kita. Sebenarnya cara-cara di atas tidaklah menyelesaikan dengan tuntas emosi yang ada, bahkan tidak menutup kemungkinan telah menimbulkaan kerusakan dalam diri seseorang. Namun karena tidak tahu bahkan tidak terpikir cara yang lain, maka mau tak mau kita tetap menggunakannya.
Ada satu paradox kehidupan, "Setiap EMOSI yang kita tolak, akan kembali ke kita. Apa yang ingin kita hancurkan, akan semakin padat. Sementara untuk mencairkan dan mengalir, kita perlu menghadapinya, merawat bahkan memeluknya."
Selama ini banyak yang masih menganut pemikiran "yang baik diambil yang jelek dibuang". Dan kita menganggap kemarahan adalah sesuatu yang jelek dan patut di enyahkan.
Di masa yang dipenuhi dengan orang-orang yang sibuk, kita perlu untuk sejenak berhenti dan melihat ke dalam, apa penyebab kemarahan kita? Di permukaan, kita selalu saja menemukan kambing hitam. Orang lain atau situasilah yang menjadi penyebab kemarahan kita.
"Kalau dia tidak melakukan itu, kan saya tidak akan marah" begitulah pembenarannya.
Padahal kita juga tahu bahwa ada orang-orang yang mendapat situasi yang sama, namun mereka tidak bereaksi dengan cara marah.
Jadi, kita perlu menyadari bahwa penyebab primer dari kemarahan kita adalah keinginan-keinginan di dalam diri kita, yang muncul dari alam bawab sadar kita.
Kemarahan, kebencian, begitu pula dengan kesedihan adalah bagian dari diri kita. Ia lahir dari ketidaktahuan, persepsi yang keliru, kurangnya pengertian dan welas asih. Untuk itu ia memerlukan perhatian, sentuhan dan pelukan, bukan sebaliknya.
Master zen Thich Nhat Hanh menulis dengan apik di bukunya yang berjudul Anger, "Rangkulah kemarahanku dengan penuh kelembutan. Kemarahanmu bukanlah musuhmu, kemarahanmu adalah bayimu. Ia seperti perutmu atau paru-parumu. Setiap kali ada masalah dalam paru-parumu atau perutmu, pastilah kamu tidak akan berpikir untuk membuangnya."
Bagaimana caranya memeluk kemarahan?*
Pertama, berhentilah untuk mengarahkan perhatian ke orang lain atau situasi di luar. Tengoklah ke dalam dan rasakan bahwa ada bagian diri yang sedang marah, sedih atau gelisah.
Lalu, tariklah nafas perlahan dan hembuskan. Anda bisa menariknya lebih dalam selama beberapa kali diawal untuk membuat diri lebih tenang.
Selanjutnya katakan dalam hati selagi menarik nafas " nafas masuk, aku tahu bahwa ada kemarahan dalam diriku"
Sewaktu melepas nafas " nafas keluar, aku sedang menjaga kemarahanku dengan baik"
Kitab Pengkhotbah 7:9, menyatakan: "Janganlah lekas-lekas marah dalam hati, karena amarah menetap dalam dada orang bodoh." Oleh karena itu kendalikanlah keinginan kita untuk marah. Orang bijak akan mampu mengelola kemarahannya, sehingga api kemarahan itu tidak membakar dirinya.
Amsal 14:29, " Orang yang sabar besar pengertiannya, tetapi siapa cepat marah membesarkan kebodohan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar