Bagian Alkitab
“Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamupun benar-benar merdeka.” (Yohanes 8:36)
Penjelasan
Dalam pengertian modern, kata “merdeka” berarti■ orang yang tidak ditawan
■ orang dapat berbicara dan berbuat sesuatu tanpa batasan.
Pada masa-Nya, Yesus menggunakan kata merdeka dengan mengkaitkannya antara seorang budak dengan orang yang bebas. Seorang budak, harus melakukan apa yang menjadi kehendak tuannya dan bekerja untuk mereka tanpa dibayar. Sebaliknya, seorang yang bebas atau merdeka, meskipun sejak kecil harus tetap menuruti kehendak ayahnya atau orang tuanya, tetapi mereka memiliki hak untuk memperoleh warisan. (Baca juga Gal. 4:1-7).
Suatu saat, orang-orang Yahudi marah, ketika Yesus berkata kepada mereka, bahwa Ia dapat memerdekakan mereka. Karena mereka berpikir, meskipun saat itu mereka hidup di bawah penjajahan bangsa Romawi, tetapi mereka cukup bebas dalam melakukan segala sesuatu, sehingga mereka tetap merasa seperti bangsa yang merdeka. Bahkan, mereka boleh tetap mempertahankan identitas mereka, tradisi mereka, tetap boleh percaya pada iman mereka dan pada hukum Yahudi.
Bagaimana dengan kita sebagai orang-orang Kristen Kerasulan Baru? Saat ini kita
hidup dalam sebuah kondisi masyarakat yang didominasi oleh materialisme, yang memberi sedikit dan makin sedikit perhatian dan kepentingan untuk Yesus Kristus dan pekerjaan keselamatan Allah.
Marilah kita tetap fokus untuk menjaga dan memelihara kemerdekaan yang diberikan kepada kita sebagai orang-orang Kristen, dengan tetap menjaga dan memelihara komitmen kita pada apa yang menjadi bagian identitas kita, yaitu iman kepada Yesus Kristus, nilai- nilai Injil, kebaktian, dan doa.
Tuhan menjelaskan kepada orang-orang yang mendengar pengajaran-Nya, bahwa mereka sebenarnya adalah budak-budak dosa. Sejak kejatuhan manusia ke dalam dosa, umat manusia telah menjadi tawanan kejahatan. Mereka kehilangan persekutuan dengan Allah. Itulah sebabnya Sang Putra Allah diutus dan datang ke bumi untuk membebaskan mereka dari tawanan dosa dan kejahatan mereka (Luk. 4:18-19). Berkat jasa kurban-Nya, Yesus dapat membebaskan para pendosa. Orang-orang percaya, yang dibaptis dengan air memiliki kesempatan untuk kembali memiliki kedekatan dnegan Allah dan menerima tenaga untuk melawan dosa (Rm. 6:6-7).
Melalui aktivitas Roh Kudus, pemberitaan Injil dan penerimaan sakramen-sakramen, kita dapat menjadi benar-benar merdeka di dalam Kristus (2 Kor. 3:17). Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita pada saat Kemeteraian Suci, merupakan wujud kasih Allah yang telah dicurahkan ke dalam hati kita dan memberikan kebebasan kita dari hukum Taurat (Rm. 7:6). Selanjutnya kita ingin menyelaraskan hidup kita dengan perintah-perintah Allah, sebagai wujud kasih kita kepada Allah, dan bukan karena paksaan. Kita memilih jalan kemenurutan ini karena memungkinkan kita untuk kembali berada dalam persekutuan dengan Allah (1 Yoh. 3:24).
Berdasarkan kasih kepada umat manusia, Yesus telah berkenan memberikan nyawa-Nya, secara sukarela (Yoh. 10:17-18). Kasih yang Ia tunjukkan kepada kita hendaknya menginspirasi kita untuk membalasnya dengan melayani Dia, sebagai hamba-hamba Kristus (1 Kor. 7:22), tanpa memperhitungkan upah yang akan diberikan kepada kita sebagai balasannya.
Kemerdekaan dikaruniakan oleh Yesus, Ia wujudkan di dalam kasih-Nya yang tanpa syarat. Kasih-Nya tidak terbatas. Kasih-Nya tidak melihat latar belakang orang yang menerimanya, tidak melihat sifat dan karakter seseorang. Kasih-Nya tidak melihat atau memperhitumgkan kesalahan mereka atau bahkan penolakan mereka untuk mengikut Dia, sebelumnya.
Roh mengajar kita untuk mengasihi sesama sebagaimana yang diteladankan Yesus, dengan membebaskan atau memerdekakan diri kita dari segala prasangka. Kasih kita kepada para pendosa dimaksudkan agar mereka dapat memperoleh keselamatan dan menunjukkan kepada mereka jalan untuk meraihnya.
Di dalam kasih-Nya, Yesus membasuh kaki para murid-Nya, suatu tugas yang biasanya dilakukan oleh seorang budak. Ia meminta kita untuk mengikuti contoh teladan-Nya (Yoh. 13:14).
Kemerdekaan kita di dalam Kristus bukan berarti hidup sedukanya, seperti yang kita
inginkan tanpa peduli dengan orang lain, melainkan untuk dapat saling melayani berdasarkan kasih (Gal. 5:13).
Pada saat kedatangan-Nya kembali, Kristus akan membebaskan mereka yang telah dengan setia mengikut Dia sejak mereka masih sebagai pendosa. Mereka akan mengenakan tubuh kebangkitan, mereka akan disempurnakan oleh kemurahan Allah, dan mereka akan mewarisi kerajaan Allah. Allah akan melanjutkan rencana
kelepasan-Nya selama kerajaan damai seribu tahun, sehingga semua manusia dapat
diselamatkan. Setelah Penghakiman yang Terakhir, yang diberi kemurahan akan diizinkan masuk ke dalam ciptaan yang baru, juga akan dibebaskan dari perbudakan kebinasaan, dan akan membawanya ke dalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah (Rm. 8:20-22).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar