Selasa, 04 Februari 2020

Antara Taurat dan Kebenaran oleh Yesus

BAGIAN ALKITAB

Sebab hukum Taurat diberikan oleh Musa, tetapi kasih karunia dan kebenaran datang oleh Yesus Kristus. (Yohanes 1:17)

Pengajaran

Sejak manusia jatuh ke dalam dosa dan dosa menguasai manusia, maka tidak ada seorang pun yang mampu melepaskan diri dari dosa.

Pada waktu seseorang dilahirkan, banyak orang yang beranggapan bahwa, ia adalah bayi yang suci. Tidak ada tanda-tanda atau petunjuk apa pun mengenai dosa atau kejahatan yang telah dilakukan dan sepertinya memang benar-benar tidak ada satu dosa pun yang kelihatan.

Tanpa disadari, sebenarnya sejak bayi, manusia sudah terbebani dan menanggung dosa-dosa asal, ditambah lagi dengan adanya kecenderungan manusia untuk berbuat dosa yang timbul dan diakibatkan oleh adanya dosa asal. Hal ini masih ditambah lagi dengan keberadaan manusia yang hidup dan tumbuh di lingkungan dan di antara orang-orang berdosa. Itulah sebabnya, dosa tidak hanya berdampak pada hubungan seseorang dengan Allah, tetapi juga pada hubungan antar sesama manusia.

Konsekuensi-konsekuensi dari kejatuhan manusia ke dalam dosa tidaklah dapat dianggap remeh.

Sebagai manusia, kita cenderung menolak kalau kita dikatakan salah atau keliru. Manusia akan berusaha untuk mencari alasan pembenar dan bahkan berusaha untuk membenarkan tindakan-tindakannya dan justru menjatuhkan kesalahan itu pada orang lain (Kej. 3:12-13). Kalau toh kita sadar dan menerima bahwa kita salah dan keliru, kita sendiri masih cenderung untuk menonjolkan jasa-jasa kita sendiri agar nampak seolah-olah kita dianggap dan terlihat lebih baik daripada orang lain. Akibatnya timbulah iri hati dan pikiran-pikiran persaingan, yang merupakan bagian dari kehidupan kita sehari-hari.

Pertolongan di dalam perjanjian lama

Ketika Adam dan Hawa telah melakukan dosa, mereka pada dasarnya telah berjalan diluar jalan persekutuan yang sempurna dengan Allah. Mereka telah menyimpang dari jalan Allah. Tapi oleh karena kasih dan kemurahan Allah, Ia memberi perintah-perintah yang baru bagi umat pilihan-Nya, melalui Musa, yang selanjutnya dikenal sebagai hukum Taurat.

Bagi orang Israel, Hukum Taurat adalah sebagai sumber kehidupan dan jalan masuk untuk kembali memenuhi dan melakukan kehendak Allah. Mereka diharapkan dapat menyelaraskan hidup mereka dengan hukum Taurat ini, karena hukum ini memberi petunjuk kepada mereka, bagaimana mereka dapat hidup diantara kuasa-kuasa dosa. Pada kenyataannya, mereka gagal menggenapi hukum Taurat.

Tetapi, Allah tidak membiarkan mereka, dan tetap selalu menyertai umat-Nya. Ia menerima mereka dengan segala kelemahan dan ketidak-berdayaan mereka. Melalui Nabi Yehezkiel, Allah memberikan suatu pendekatan baru untuk mendapatkan persekutuan dengan-Nya: “Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat” (Yeh. 36:26). Tetapi dengan ini pun, hasilnya masih belum sebagaimana yang diharapkan oleh Allah

Kasih karunia di dalam perjanjian baru

Sebelum Yesus memulai pekerjaan-Nya di bumi, dan ketika Yesus dipermuliakan di atas bukit, Allah telah menyatakan kepada manusia dan juga kepada ketiga murid yang mengikutinya serta Musa dan Elia yang mewakili para jiwa dari alam kematian, "Inilah anak yang Kukasihi, kepada-Nya, Aku berkenan, dengarkanlah Dia." (Matius 3:17 ; Matius 17:5). Melalui pernyataan ini, Allah ingin menekankan bahwa manusia, baik yang masih ada di muka bumi maupun yang sudah ada di alam baka, hendaknya mau mendengar apa yang dikatakan Yesus.

Kalau Hukum Musa, lebih menekankan pada bagaimana manusia dapat menggenapi perintah-perintah Allah dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, meskipun pada kenyataannya tidak ada satu pun manusia yang dapat menggenapinya kecuali Tuhan Yesus. Tetapi Tuhan Yesus juga menyatakan, "Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya" (Matius 5:17).

Selanjutnya Tuhan Yesus memberikan hukum yang baru, Hukum Kasih, yaitu untuk mengasihi Allah dan sesama. Tuhan Yesus juga menyatakan, " Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti  segala perintah-Ku" (Matius 14:15). Apa perintah Tuhan Yesus? "...Akulah jalan dan Kebenaran dan Hidup, Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa kalau tidak melalui Aku. (Yohanes 14:6). Sejak saat itulah untuk memperoleh persekutuan kembali dengan Allah, tidak lagi diukur berdasarkan jasa-jasa kita atau pekerjaan-pekerjaan baik yang kita lakukan saja, tetapi lebih pada bagaimana kita memiliki iman kepada Yesus, pada kematian-Nya di atas kayu salib, dan pada kebangkitan-Nya, yang membawa pendosa kembali
masuk ke dalam persekutuan yang sempurna dengan Allah. Sejak saat itulah bergema kasih karunia Allah ke seluruh ujung bumi.

Orang muda yang kaya menjadi contoh bagi kita, bagaimana pekerjaan-pekerjaan baik dan hukum Taurat belum dapat membantunya untuk memiliki persekutuan yang kekal dengan Allah. Ia tidak bisa meninggalkan segala apa yang dimilikinya untuk percaya dan mengikut Tuhan. (Matius 19:16-28). Kepercayaan dan Kemenurutan pada Yesus merupakan syarat yang mutlak untuk dapat memiliki persekutuan yang kekal dengan Allah. Dan ini adalah Kebenaran Tuhan yang dinyatakan Injil Kristus, karena Tuhan Yesus adalah Sang Kebenaran itu sendiri.

Kebenaran di dalam perjanjian baru

Kebenaran yang disampaikan Alkitab menunjuk pada suatu kenyataan bahwa, sifat sejati Allah, kembali dinyatakan kepada manusia melalui Yesus Kristus. Terkait dengan dosa, pemahaman dan pandangan kita sebelumnya tentang Allah, memberikan gambaran kepada manusia, bahwa Allah adalah Allah yang suka menghakimi dan menghukum para pendosa, Allah yang suka mengawas-awasi kita, Allah yang suka memata-matai kita.

Tetapi melalui pengutusan Sang Putra dan kematian-Nya di atas kayu salib, telah memutar balikkan pemahaman dan pengertian kita, bahwa ternyata Allah Sang Bapa bukanlah Allah yang sedemikian, melainkan Allah yang setia, Allah yang sangat mengasih manusia. Ia gemar mendukung dan mendampingi manusia dengan penuh belas kasihan dan kesabaran yang besar. Dan adalah suatu kebenaran, ketika kita mendengar bahwa Ia mengundang kita, sebagai anak-anak Allah, untuk menjadi seperti Putra-Nya dan untuk mewarisi persekutuan yang kekal dengan-Nya. Itu adalah sungguh-sungguh suatu kebenaran.

Amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Indahnya Memberi - Indahnya Berbagi. Bahagianya Memberi

Seorang dosen yang dikenal bijaksana, tengah berjalan santai bersama seorang mahasiswa di taman kampus. Tidak lama keduanya melihat ada sepa...