Rabu, 05 Februari 2020

Kewajiban Menolong yang Miskin

BAGIAN ALKITAB

Apabila saudaramu jatuh miskin, sehingga tidak sanggup bertahan di antaramu, maka engkau harus menyokong dia sebagai orang asing dan pendatang, supaya ia dapat hidup di antaramu. (Imamat 25:35)

PENGAJARAN

Ketika Allah akan membawa umat Israel keluar dari Mesir menuju Tanah Perjanjian, Allah telah membuat sebuah perjanjian yang kekal dengan umat pilihan-Nya, bahwa Ia akan memelihara mereka, dan mendampingi mereka. Selanjutnya, ketika mereka akan memasuki Tanah Perjanjian, Ia juga telah memberi petunjuk-petunjuk kepada mereka tentang bagaimana mereka hendaknya menjalani hidup mereka dan berinteraksi satu sama lain. Prinsipnya adalah bahwa umat Israel hendaknya tidak memperkaya diri mereka sendiri dengan mengorbankan sesama mereka. Sebagai contoh mereka tidak diperkenankan untuk membeli atau menjual tanah di mana mereka hidup (ayat 36). 

Allah ingin mereka sadar bahwa adalah Dia-lah Sang pemilik tanah yang mereka tempati (ayat 23). Dia jugalah yang memberi mereka makanan, perlindungan, dan berkat.

Apabila saudara atau saudarimu jatuh miskin ...

Tidak kita pungkiri bahwa kemiskinan dapat terjadi pada siapa saja. Kemiskinan bisa terjadi pada saudara-saudari kita seiman, saudara-saudari kita yang lain dan lebih luas lagi, kemiskinan juga dapat terjadi pada sesama kita. 

Sepanjang sejarah, memang ada, orang-orang yang bergantung pada pertolongan orang lain, karena memang mereka dilahirkan dalam kemiskinan atau mungkin telah jatuh ke dalam kemiskinan. Tentulah hal ini tidak berbeda dengan saat ini. 

Bacaan Alkitab di atas memberi kita nasihat untuk merawat dan memelihara orang-orang yang miskin, yang lemah, dan yang memerlukan pertolongan.

Kalau kita mengingat kenyataan bahwa Allah telah menyediakan sarana-sarana untuk kehidupan kita, memberi makanan, perlindungan, dan tempat bernaung untuk kita, sungguh adalah tidak pada tempatnya jika kita mengeksploitasi kemiskinan sesama kita untuk mencari keuntungan sendiri, seperti misalnya me-
nyewakan rumah kepada mereka dengan harga yang tinggi dengan fasilitas yang tidak memadai.

... engkau harus menyokong dia ...

Kemiskinan memiliki banyak dimensi atau bentuk. Selain miskin atau kesulitan dalam hal keuangan, janganlah kita abaikan kenyataan bahwa
  • Ada orang-orang yang miskin dalam hal "interaksi sosial". Mereka akan merasa kesepian, merasa ditinggalkan, ditolak atau bahkan dikucilkan. Marilah kita juga berusaha meringankan “kemiskinan” semacam ini. Dekatilah orang-orang yang sedemikian, cobalah untuk menyediakan waktu bersama mereka, bersikaplah baik, dan tawarkanlah dukungan kepada mereka. Ajaklah mereka berbicara.
  • Ada orang-orang yang miskin dalam hal kemampuan "untuk mengampuni". Sebuah luka hati atau jiwa yang dalam dapat saja menjadi suatu kesalahan yang tak terampunkan bagi orang-orang tertentu. Tetapi Tuhan Yesus telah mengajarkan kepada kita, janganlah kita menghakimi atau menghukum dengan cara apa pun, melainkan tunjukkanlah belas kasihan dan berusahalah menolong mereka untuk menuju pada suatu jalan perdamaian. Tuhan Yesus sendiri telah memberikan contoh yang sangat baik, ketika Ia disalibkan. Meskipun harus mengalami kesengsaraan, penderitaan dan penghinaan yang sedemikian hebat, Ia masih memohon kepada Sang Bapa, "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat" (Lukas 23:34)
  • Ada orang-orang yang miskin dalam hal rasa percaya diri. Akibatnya mereka mengalami kesulitan dalam kehidupan sehari-hari. Bisa jadi hal ini akibat sesuatu "benturan" atau masalah yang memberi dampak besar pada mereka. Dalam keadaan seperti ini, marilah kita hadir dan sampaikanlah bahwa mereka tidak sendirian. Kita ada bersama-sama mereka. Ini akan memberi mereka kekuatan.
... supaya ia dapat hidup di antaramu

Tentunya apa yang diajarkan kepada kita di atas, merupakan tantangan yang besar bagi kita dan tidak mudah untuk melakukan dan menerapkan semua aspek yang telah disebutkan di atas.

Menjadi suatu pertanyaan, "Apakah kita mampu untuk berpaling kepada yang membutuhkan, pada saat itu juga, dan apakah kita bisa menggeser kepentingan ki-
ta sendiri? Tentunya tidaklah selalu berhasil dalam melakukannya, tetapi marilah kita mengambil perkataan Yesus sebagai suatu inspirasi: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (Mat. 25:40).

Kalau pada masa itu, kepada orang asing atau pelancong saja, orang Israel diharapkan untuk memberikan perlindungan, mereka diberi kesempatan untuk memenuhi kebutuhan makanan bagi dirinya sendiri, dihargai dan sebagainya terlebih bagi saudara seiman, kerabat sendiri dan sesama, kita diharapkan hendaknya lebih dapat memiliki kepedulian untuk menolong dan membantunya. Tidak seorang pun yang hidup di negeri perjanjian ilahi harus menderita kekurangan apa pun atau kehilangan hak untuk memperoleh penghidupan, dan jangan sampai seorang pun ditolak untuk mendapatkannya.

Apabila kita sedemikian peduli dengan perintah Kristus untuk mengasihi sesama kita, maka tentulah kita akan berusaha untuk menerapkannya ke dalam perbuatan.

Ada sebuah pepatah yang mengatakan: “Seorang yang kaya bukanlah dia yang memiliki banyak, tetapi dia yang memberi banyak.”

Untuk menjadi kaya di dalam Kristus, hendaknya kita belajar dari teladan Yesus tentang bagaimana kita hendaknya memperlakukan sesama kita.

Berbagi membuat kita kaya di dalam Kristus!

Amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Indahnya Memberi - Indahnya Berbagi. Bahagianya Memberi

Seorang dosen yang dikenal bijaksana, tengah berjalan santai bersama seorang mahasiswa di taman kampus. Tidak lama keduanya melihat ada sepa...