Istilah Apokrief berasal dari kata dalam bahasa Yunani, Apokryphos, (atau dalam bahasa Ingris, Apocrypha), yang berarti tersembunyi, gelap, rahasia.
Sedangkan kitab apokrief berarti "kitab-kitab yang tersembunyi". Dikatakan demikian, karena kitab-kitab tersebut dianggap tidak kanonik, tidak termasuk ke dalam Kanon Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Meskipun demikian, kitab-kitab ini menunjukkan kaitan yang mengikat antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, dan berisi pernyataan-pernyataan iman yang penting untuk memahami Perjanjian Baru. Kitab-kitab ini, tidak terdapat pada semua terbitan Alkitab.
Gereja Kerasulan Baru memberikan nilai atau bobot yang sama pada kitab Apokrief, seperti halnya tulisan-tulisan lainnya dari Perjanjian Lama.
Di Indonesia, kitab-kitab yang termasuk pada Apokrief dan yang ada di Alkitab, ada 9 kitab yaitu, kitab :
Sedangkan kitab apokrief berarti "kitab-kitab yang tersembunyi". Dikatakan demikian, karena kitab-kitab tersebut dianggap tidak kanonik, tidak termasuk ke dalam Kanon Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Meskipun demikian, kitab-kitab ini menunjukkan kaitan yang mengikat antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, dan berisi pernyataan-pernyataan iman yang penting untuk memahami Perjanjian Baru. Kitab-kitab ini, tidak terdapat pada semua terbitan Alkitab.
Gereja Kerasulan Baru memberikan nilai atau bobot yang sama pada kitab Apokrief, seperti halnya tulisan-tulisan lainnya dari Perjanjian Lama.
Di Indonesia, kitab-kitab yang termasuk pada Apokrief dan yang ada di Alkitab, ada 9 kitab yaitu, kitab :
- Tobit
- Yudit
- Tambahan Ester
- Kebijaksanaan Salomo
- Sirakh
- Barukh
- Tambahan Daniel
- 1 Makabe
- 2 Makabe
Istilah yang umum digunakan sekarang untuk Apokrief adalah Deuterokanonika, yang berarti kanon yang kedua, atau kanon yang kurang begitu penting. Meskipun dianggap kurang begitu penting, kitab-kitab di dalam "Deuterokanonika" tetap bermanfaat karena memberikan banyak informasi mengenai tradisi hikmat dan sejarah Yahudi sekitar masa pembuangan di Babel hingga menjelang kelahiran Yesus.
Selain Gereja Kerasulan Baru, Gereja Katolik dan Gereja Ortodoks Timur, Deuterokanika tetap termasuk dalam Kanon Alkitab sejak awal. Kristen Protestan memandang kitab-kitab Deuterokanonika sebagai apokrif sejak terjadinya Reformasi Protestan.
Istilah Deuterokanonika juga digunakan dalam Alkitab bahasa Indonesia yang diterbitkan bersama oleh Lembaga Alkitab Indonesia dan Lembaga Biblika Indonesia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar