Rabu, 04 Agustus 2021

Indahnya Memberi - Indahnya Berbagi. Bahagianya Memberi

Seorang dosen yang dikenal bijaksana, tengah berjalan santai bersama seorang mahasiswa di taman kampus. Tidak lama keduanya melihat ada sepasang sepatu yang sudah usang dan lusuh. Mereka berdua yakin kalau itu adalah sepatu milik pekerja kebun yang sebentar lagi akan menyelesaikan pekerjaannya. 

Sang mahasiswa melihat kepdaa dosennya dan berkata, "Bagaimana kalau kita candai tukang kebun ini dengan menyembunyikan sepatunya, kemudian kita bersembunyi di belakang pepohonan, nanti ketika dia datang, kita lihat bagaimana reaksinya, bagaimana dia akan kaget dan cemas karena kehilangan sepatunya.

Dengan tersenyum dosen itu menjawab, "mahasiswaku, tidak pantas kita menghibur diri dengan menyusahkan atau mengorbankan orang miskin. Kamu 'khan seorang yang kaya, dan kamu bisa saja menambah kebahagiaan untuk dirinya" 

"Bagaimana caranya?"  Jawab sang mahasiswa. 

"Sekarang, coba kamu masukkan beberapa lembar uang kertas ke dalam sepatunya, kemudian saksikan bagaimana respon dari tukang kebun miskin itu?"

Sang mahasiswa sangat takjub dan sepakat dengan usulan dosennya. Dia langsung memasukkan beberapa lembar uang ke dalam sepatu tukang kebun itu. Setelah itu ia bersembunyi di balik semak-semak bersama dosennya sambil mengintip apa yang akan terjadi dengan tukang kebun.

Tak berapa lama datanglah tukang kebun itu, sambil mengibas-ngibaskan kotoran debu dari pakaiannya. Dia menuju, tempat dimana dia meninggalkan sepatunya sebelum bekerja. Ketika ia memasukkan kakinya ke dalam sepatu, ia menjadi terperanjat, karena ada sesuatu yang mengganjal di dalamnya. Saat ia keluarkan ternyata, UANG..... !!! Dia memeriksa sepatu yang satunya lagi, ternyata juga berisi UANG.... !!!

Dia memandangi uang itu ber-ulang-ulang seolah ia tidak percaya dengan penglihatannya. Ia pun memutar pandangannya ke segala penjuru, namun ia tidak melihat seorang pun. 

Sambil menggenggam uang itu, lalu ia berlutut sambil menengadah ke langit ia berucap:

"...Aku bersyukur kepada-Mu, Ya Allah, Tuhanku, Yang Maha Pengasih dan Penyayang..."  

"... Wahai Yang Maha Tahu, Engkau tahu istriku sedang sakit dan Engkau tahu anak-anakku sedang kelaparan, mereka belum mendapatkan makanan hari ini.." 

"....Engkau telah menyelamatkanku, anak-anakku dan istriku dari penderitaan...”

Dengan kepolosannya dia terus menangis terharu sambil memandangi langit sebagai ungkapan rasa syukurnya atas karunia dari Allah Yang Maha Pemurah. Sang mahasiswa sangat terharu dengan pemandangan yang ada di depannya, yang  di lihatnya dari balik persembunyiannya. Air matanya menetes tanpa dapat ia bendung. 

Sang dosen yang bijak tersebut pun berkata pada mahasiswanya : "Bukankah sekarang kamu merasakan KEBAHAGIAAN yang lebih, dari pada seandainya kamu melakukan usulan pertama, dengan menyembunyikan sepatu tukang kebun miskin itu ...? ”

Sang mahasiswa menjawab : " Aku telah mendapatkan pelajaran yang tidak akan aku lupakan seumur hidupku."

"Sekarang aku paham makna kalimat : "Ketika kamu memberi, kamu akan memperoleh kebahagiaan yang lebih banyak, dibandingkan ketika kamu diberi .”

Sang dosen melanjutkan nasehatnya, "ketahuilah bahwa bentuk pemberian itu bermacam macam :
  1. * Memaafkan kesalahan orang di saat kamu mampu melakukan balas dendam, adalah suatu *Pemberian* 
  2.  * Mendoakan teman atau saudaramu, bahkan orang yang menyakitimu, di belakangnya (tanpa sepengetahuannya), itu adalah juga *Pemberian* 
  3.  * Berusaha berbaik sangka dan menghilangkan prasangka buruk, tetap rendah hati dan selalu menghargai orang lain, juga suatu *Pemberian* 
  4. * Menahan diri dari membicarakan aib dan keburukan sesama kita dibelakangnya, adalah *Pemberian* juga. 
Itu semua adalah *PEMBERIAN*.

* ....Marilah kita sebagai sesama anak Allah, hendaknya saling... " MEMBERI ", 
 
* ....Marilah kita sepakati hidup ini, dengan _*Saling Memberi........, hidup kita akan menjadi lebih indah.......*

Semoga Hidup kita *Bisa menjadi Saluran Berkat buat orang lain* 

*Teruslah untuk Mengalirkan Kebaikan* 

 *Hidup ini harus jadi Berkat* 

Selamat Berkarya untuk ALLAH dan SESAMA, hari ini.. *

TUHAN YESUS MENYERTAI DAN MEMBERKATI KITA, BERSAMA KELUARGA TERCINTA, 
AMIN πŸ™πŸ™πŸ™*

Indahnya Hidup, ...Indahnya Saling Memberi.






Keselamatan dan Kebaktian

Yesus Kristus telah mendirikan gereja-Nya dan mengutus para Rasul-Nya agar keselamatan yang sepenuhnya dapat diakses / dimasuki oleh umat manusia. Kita tahu bahwa, tujuan dari keberadaan gereja dan kelompok Rasul, seluruhnya adalah untuk memberikan keselamatan. Oleh sebab itu, merupakan suatu keharusan bagi kita untuk memahami dengan tepat apa saja yang tercakup dalam keselamatan ini. 

Istilah ‘keselamatan’, sebenarnya merupakan gabungan beberapa aspek yang sangat berbeda. Ini dibuktikan oleh banyaknya istilah-istilah lain atau kosakata-kosakata, yang digunakan Alkitab untuk memberikan pemahaman kepada kita tentang makna sesungguhnya dari keselamatan. Baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru membicarakan tentang pembebasan, penyelamatan, pemeliharaan, pengampunan, kemenangan, dan bahkan penebusan. Aspek-aspek yang berbeda dari keselamatan ini, juga nyata di dalam perjalanan sejarah, yang nampak pada, bagaimana cara orang-orang Kristen – termasuk orang-orang di Gereja kita – memahami tentang makna keselamatan ini. Dan itu, tergantung dari masa / waktu serta tempat di mana mereka hidup, dan mereka pada umumnya menekankan aspek keselamatan ini, pada apa yang paling sesuai dengan harapan mereka – misalnya, keselamatan juga dimaknai sebagai pemeliharaan, penyelamatan, atau pengampunan. Hal yang sama / fenomena yang sama juga nyata pada saat ini. Saudara-saudari kita, terutama melihat keselamatan, tergantung pada situasi, kondisi atau keadaan mereka. Ada yang memahami keselamatan itu sebagai penyelamatan dari penderitaan, atau suatu sarana untuk lepas dari sebuah ancaman, atau sebuah kesempatan untuk melihat orang yang dikasihinya kembali. Pemahaman atau sudut pandang yang sedemikian ini, tidak seluruhnya salah dan masih / cukup bisa dibenarkan dan dipahami. Namun demikian, agar para Rasul dan rekan-rekan kerja mereka dapat memenuhi misi yang telah dipercayakan kepada mereka oleh Tuhan, saudara-saudari harus memiliki suatu gambaran yang menyeluruh tentang keselamatan, dan jangan pernah / tidak boleh kehilangan pandangan, pada apa yang sangat mendasar, yakni kehendak dan aktivitas Yesus Kristus, sebagai Juru Selamat dan Pelepas kita.

Keselamatan: penyelamatan dan pemeliharaan 

Sesuai definisinya, keselamatan berasal dari Allah. Allah campur tangan dalam sejarah umat Israel, untuk menyelamatkan mereka dari perbudakan bangsa Mesir dan memampukan mereka untuk menyeberangi Laut Merah. Pada dimensi lain, Putra Allah datang ke bumi untuk menyelamatkan kita dari ikatan dosa dan untuk membukakan jalan masuk menuju Allah. Di Gereja kita, ada masa-masa, ketika kedatangan Tuhan kembali dilihat, terutama sebagai sebuah tindakan penyelamatan dan pemeliharaan: Contoh 

  • Kedatangan Tuhan kembali dimaknai, untuk menyelamatkan kita dari penderitaan;
  • Ia akan memelihara dan melindungi kita dari kesesakan yang besar, waktu penderitaan di mana kejahatan akan mencapai puncaknya di bumi ini.
  • Orang-orang yang mengambil bagian dalam kebangkitan pertama, tidak akan tampil di hadapan Allah pada Penghakiman Terakhir. 
Agar dapat diterima oleh Kristus pada kedatangan-Nya kembali, orang-orang percaya, dinasihati untuk menerima sakramen-sakramen dan senantiasa bersetia kepada kelompok Rasul. Pengetahuan ini masih berlaku. Namun, disarankan untuk menempatkannya ke dalam konteks Injil yang lebih luas sebagai suatu keseluruhan. 

Kalau kita hanya memusatkan atau memaknai penyelamatan dan pemeliharaan, sebagai satu-satunya aspek keselamatan, ada risiko-risiko tertentu yang perlu kita waspadai: 

  • Orang-orang percaya mungkin tergoda untuk menutup diri mereka dari dunia luar. Mereka mungkin merasa bahwa hal terpenting dalam hidup mereka adalah untuk tetap setia kepada Allah, sehingga mereka dapat terhindar dan dapat terlindung dari penderitaan dan lepas dari bencana yang telah dinubuatkan. Jika pemahaman ini yang tertanam dalam diri mereka, maka mereka akan mengabaikan nasib sesama manusia, dan akan menempatkan nasib sesama ke latar belakang; 
  • Usaha-usaha misionaris mungkin tidak lagi didorong, semata-mata oleh kasih kepada sesama kita, melainkan oleh keinginan besar untuk lepas dari penderitaan duniawi secepat mungkin (“…Tuhan akan datang ketika jiwa yang terakhir dimeteraikan…”); 
  • Sakramen-sakramen mungkin juga akan dipahami hanya sebagai tujuan untuk dirinya sendiri. Mereka hanya berpikir, dengan menerima sakramen akan memberikan jaminan keselamatan bagi dirinya, padahal dalam penerimaan sakramen, juga terkandung aspek persekutuan. 
  • Kehidupan di bumi mungkin dipandang secara negatif. Bumi dianggap hanyalah sebuah tempat penderitaan, sehingga seseorang hendaknya harus segera melarikan diri secepat mungkin dari bumi ini. 
Keselamatan menandai hidup yang kekal dan persekutuan dengan Allah

Ketika Yesus Kristus berbicara tentang keselamatan, Ia seringkali menggunakan istilah ‘hidup yang kekal’. Sebenarnya, makna dari Hidup yang kekal ini, jauh melebihi dari sekedar makna keabadian. Tuhan tidak hanya berkata, bahwa orang-orang yang percaya kepada-Nya akan terus hidup. Tetapi Ia juga berjanji kepada mereka, bahwa mereka akan dapat ambil bagian dalam kehidupan ilahi, dan masuk ke dalam persekutuan yang kekal dengan Allah di dalam kerajaan-Nya. Perjanjian Baru menggunakan gambaran mempelai perempuan dan mempelai laki-laki dalam suatu pesta perkawinan, untuk menjelaskan persekutuan ini. 

‘Kehidupan ilahi’ dan ‘persekutuan dengan Allah’ adalah istilah-istilah, yang mengacu pada gambaran esensi Allah sendiri. Allah adalah persekutuan Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Bapa, Putra, dan Roh Kudus senantiasa ada dan bekerja bersama-sama. Ketiga Pribadi ilahi ini berbeda satu dengan yang lain, tunggal, dan ada dalam / memiliki hubungan yang terus-menerus, satu dengan yang lain. Allah Bapa, Allah Putra, dan Allah Roh Kudus telah menciptakan manusia, menurut gambar-Nya (Kejadian 1:26) dan mengaruniakan kepadanya jalan masuk menuju persekutuan dengan-Nya. Oleh karena kejatuhan dalam dosa, manusia telah dikucilkan dari persekutuan ini. Tujuan aktivitas keselamatan Allah pada dasarnya adalah untuk memampukan manusia, layak dan patut untuk menerima kembali tempatnya atau berada kembali di hadirat Allah. 

Hidup yang kekal, yang dijanjikan oleh Yesus, mencakup di dalamnya, adalah berbagi, dalam persekutuan dengan Bapa, Putra, dan Roh Kudus, atau – menaruhkannya ke dalam perkataan Yesus – di dalam Allah, sebagaimana Bapa di dalam Putra dan Putra di dalam Bapa (Yohanes 17:21-23). 

Untuk berada dalam persekutuan dengan Allah, bukan berarti menjadi “Allah”. Di dalam kerajaan Allah, orang-orang yang terlepaskan akan tetap menjadi ciptaan-ciptaan Allah, dan Allah akan tetap berada di atas segala sesuatu mau pun setiap orang. Namun, mereka akan memiliki hidup kekal dan berada dalam keselarasan yang sempurna dengan-Nya. Mereka akan menyembah dan memuji Dia untuk selama-lamanya dan mereka akan terus-menerus menemukan aspek-aspek baru dari kemuliaan Allah tanpa henti. 

Tuhan telah menjadikan jelas, syarat yang harus kita penuhi untuk memiliki jalan masuk, menuju hidup yang kekal: 

  • kita harus percaya kepada Yesus Kristus, 
  • dilahirkan kembali dari air dan Roh, 
  • menerima tubuh dan darah Kristus. 
Prasyarat-prasyarat ini meski sangat diperlukan, tetapi itu saja tidak cukup. Dengan menerima sakramen-sakramen, memang akan terbuka kesempatan bagi kita untuk masuk ke dalam persekutuan yang kekal dengan Allah, tetapi tidak menjamin, bahwa hal itu akan menjadi jalan masuk yang final. Kita juga harus mempersiapkan diri kita secara intensif bagi kedatangan Yesus kembali, dan kita harus melakukannya sedemikian rupa, di masa kemurahan yang diberikan kepada kita. Persiapan ini mencakup antara lain menguduskan diri kita – atau lebih tepatnya, memperkenankan diri kita dikuduskan oleh Allah. Jika kita memperkenankan Roh Kudus bekerja di dalam diri kita, Ia akan membersihkan kita, memberi kita tenaga untuk melawan dosa, dan mengajar kita untuk meninggalkan segala sesuatu yang memisahkan kita dari Allah (misalnya, pendapat-pendapat yang keliru atau sifat karakter yang buruk). 

Orang-orang Kristen Kerasulan Baru tidak menunggu kedatangan Tuhan kembali, hanya untuk melarikan diri dari bumi ini. Sebab belum tentu mereka akan melihat keberadaan duniawi mereka sebagai suatu lembah air mata, di mana mereka ditakdirkan untuk berjalan, dan iman mereka sebagai sarana satu-satunya yang mungkin untuk lari darinya. Apa yang mereka inginkan adalah untuk hidup bersama Allah untuk selama-lamanya. Hidup mereka di bumi adalah suatu masa kemurahan yang Allah karuniakan kepada mereka, sehingga mereka dapat mempersiapkan diri mereka bagi persekutuan yang kekal dengan-Nya, baik dalam sukacita maupun dukacita. Bagi mereka, kebangkitan pertama jauh lebih daripada sekadar pelarian diri – ini adalah penyempurnaan! 

Persekutuan dengan Allah dan persekutuan dengan manusia 

Allah Tritunggal adalah kasih. Allah Bapa, Putra, dan Roh Kudus, mengasihi semua manusia dan sangat ingin menyelamatkan mereka. Kita dikatakan berada dalam persekutuan dengan Allah, jika hidup kita dipenuhi dengan hidup Allah dan patuh sepenuhnya pada kehendak-Nya. Esensi kehidupan ilahi adalah kasih. Jika kita ingin bersatu dengan Yesus Kristus seperti Ia satu dengan Bapa, kita harus memiliki hidup Kristus di dalam diri kita (Filipi 2:5). 

Perjanjian Baru menjadikan jelas bahwa kehidupan ilahi memiliki kaitan yang sangat erat dengan kasih kepada sesama kita. Yesus melekatkan kepentingan yang sama banyaknya pada kasih yang kita miliki bagi sesama kita, dengan kasih yang kita miliki bagi Allah (Matius 22:37-39). Ia mendoakan kesatuan milik-Nya. Ia mendesak murid-murid-Nya untuk saling mengasihi dan melayani. 

Dalam Roma 12:4-5, Rasul Paulus menggunakan gambaran tubuh Kristus, yang anggota-anggotanya terhubung erat dengan Kristus dan menunjukkan kesetiakawanan satu sama lain. 

Mempersiapkan diri kita untuk hidup dalam persekutuan yang kekal dengan Allah, juga berarti mempersiapkan diri kita untuk hidup dalam persekutuan dengan orang lain. Sendirian, manusia tidak akan mampu hidup dalam keselarasan satu dengan yang lain. Mereka, pertama-tama harus menjadi suatu ciptaan baru dalam Kristus, dipenuhi dengan kasih Allah dan dituntun oleh Roh Kudus. Persekutuan yang sempurna di antara manusia hanya akan dimungkinkan di dalam kerajaan Allah, ketika kita semua dibebaskan dari dosa dan ketidak-sempurnaan manusiawi. Namun, kita harus belajar untuk hidup dalam persekutuan satu dengan yang lain saat ini, khususnya! Kita tidak dapat mempersiapkan diri bagi hidup yang kekal, sendirian. Itu hanya masuk akal di dalam komunitas orang-orang yang berjuang untuk persekutuan yang kekal dengan Allah. 

Kebaktian: persiapan pribadi dan komunal (bersama-sama) bagi kedatangan Yesus kembali 

Kebaktian-kebaktian memiliki tempat yang penting, yang khusus dalam persiapan para percayawan, bagi kedatangan Tuhan kembali. Dengan mengambil bagian dalam kebaktian, para percayawan mempersiapkan dirinya terutama sebagai seorang individu. Ia menguatkan hubungan pribadinya dengan Allah. Ia berupaya untuk melepaskan dirinya secara fisik dan mental dari kehidupan sehari-harinya, untuk menjumpai Allah. 

Khotbah, yang diinspirasi oleh Roh Kudus akan menguatkan iman-Nya pada kedatangan Yesus Kristus kembali yang telah dekat. Dengan bergabung dalam Doa Bapa Kami, orang percaya menyatakan keinginan besarnya untuk berada dalam persekutuan dengan Allah: “Datanglah Kerajaan-Mu. Jadilah kehendak-Mu.” 

Pengampunan dosa-dosa membebaskannya dari beban dosa-dosanya. Mengambil bagian dengan layak dalam Perjamuan Kudus menguatkan kembali pengharapannya dan memberi makan kehidupan ilahi yang telah ia terima di dalam kelahiran kembali.

Mengambil bagian dalam kebaktian juga mempersiapkan para percayawan untuk hidup dalam komunitas orang-orang kudus di dalam kerajaan Allah. Dengan datang ke dalam kebaktian, orang percaya memperllihatkan kepentingan yang ia lekatkan pada hubungannya dengan Allah: ia kini ingin sekali berkumpul dengan orang-orang yang tidak ia pilih, untuk berada bersama dengan Allah. Keinginan besarnya untuk memuji dan menyembah Allah, kebutuhannya untuk bersekutu dengan Allah dan berada dekat dengan-Nya, begitu kuat, sehingga ia berada berkumpul bersama orang-orang yang, jika tidak demikian, ia tidak akan pernah berhubungan. 

Selain itu, perjumpaannya dengan saudara dan saudari kita memberinya kesempatan untuk memiliki minat, kepedulian, empati pada orang lain, untuk berbagi dalam sukacita dan kesedihan mereka. Dan karena tidak seorang pun sempurna, kehidupan sidang jemaat memampukan orang-orang percaya untuk belajar saling mengampuni, saling merukunkan diri, dan belajar untuk mengatasi perbedaan-perbedaan mereka. Ketika orang percaya datang ke dalam sidang jemaat, ia merasakan bahwa Allah mengatakan pesan yang sama kepada semua yang hadir – dalam hal ini Allah menggunakan pesan yang sama, ini untuk menguatkan orang-orang percaya dalam situasi-situasi yang berbeda sepenuhnya. Pengamatan sederhana ini memberi pemahaman, tentang kuasa dan keefektifan pemberitaan Injil. Dengan berdoa bersama secara lantang: “Ampunilah kami akan kesalahan kami”, orang-orang percaya, di hadapan umum mengakui bahwa mereka semua – tanpa kecuali – membutuhkan kemurahan. 

Menerima sakramen Perjamuan Kudus adalah sebuah komponen mendasar dari persiapan kita bagi kedatangan Tuhan kembali. Dampak sakramen yang membawa keselamatan, tidak terwujud dengan sekadar menerima hosti yang telah disucikan, tetapi melalui perayaan Perjamuan Kudus secara keseluruhan. Perjamuan Kudus adalah juga sebuah ungkapan perjamuan persekutuan, yakni persekutuan Kristus dengan orang-orang percaya, tetapi juga persekutuan orang-orang percaya satu dengan yang lain. Perjamuan Kudus menghasilkan semua dampak ini, ketika orang percaya, menerima hosti yang telah disucikan sebagaimana mestinya, dari tangan seorang Rasul, atau seorang pemangku jawatan yang ditugaskan olehnya, dalam kehadiran sidang jemaat.

Pada pelembagaan Perjamuan Kudus, Tuhan memecah-mecahkan roti dan memberikannya kepada para Rasul. Ia kemudian memberi mereka sebuah cawan yang penuh dengan anggur dan meminta mereka untuk membagikannya satu dengan yang lain (Lukas 22:17). Saat ini, adalah seorang pemangku jawatan keimaman, yang membagikan hosti yang telah disucikan kepada orang-orang percaya. Namun, ketika kita merayakan Perjamuan Tuhan bersama-sama, masing-masing dari kita dapat melihat bahwa Tuhan menyambut setiap orang, yang berbeda-beda, dengan cara yang sama. Hal ini menunjukkan kepada mereka, kasih yang sama, dan memberi mereka hal yang sama, persis seperti yang Ia berikan kepada kita. Pengalaman ini adalah sebuah persiapan menakjubkan untuk pesta perkawinan Anak Domba. 

Terakhir, hendaknya dicatat bahwa perayaan sebuah kebaktian biasanya mengharuskan sejumlah orang percaya untuk bekerja bersama. Sebagai contoh, pemimpin kebaktian, pemangku jawatan yang membantu melayani, anggota-anggota paduan suara, pemusik, mereka yang bertanggung jawab untuk menunjukkan tempat duduk, hiasan altar, kebersihan, dan lain-lain. Kerja sama ini, juga merupakan cara yang bagus untuk belajar bagaimana untuk hidup bersama. 

Ringkasan 

Pada kedatangan-Nya kembali, Tuhan akan menjemput kita. Kita diselamatkan dari dosa dan akibat-akibatnya, kita akan hidup dalam keselarasan yang sempurna dengan Allah, Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Kita juga akan berada dalam persekutuan yang sempurna satu dengan yang lain. 

Saat ini kita masih harus mempersiapkan diri kita bagi kedatangan Yesus kembali. Persiapan ini mencakup menumbuhkan persekutuan dengan Allah dan dengan satu sama lain. Ambil bagian dalam kebaktian-kebaktian, memiliki makna yang istimewa dalam persiapan ini.  

Selama pandemi, memang tidak dimungkinkan untuk merayakan kebaktian-kebaktain sebagaimana biasanya. Kita harus menemukan cara-cara baru untuk memungkinkan orang-orang percaya, mendengar khotbah dan menerima pengampunan dosa-dosa. 

Kebaktian-kebaktian virtual adalah sebuah bantuan yang besar dalam periode yang sulit ini. Tidak dapat disangkal bahwa hal ini menawarkan banyak keuntungan, tetapi itu TIDAK memiliki dampak membawa keselamatan yang sama, seperti sebuah kebaktian yang dihadiri secara pribadi. 

Pengalaman persekutuan adalah sebuah komponen mendasar dari persiapan pengantin perempuan. Demikian juga, menerima sebuah hosti yang disucikan tanpa dihadiri pemangku jawatan keimaman dan sidang jemaat, tidak dapat memiliki dampak membawa keselamatan yang sama seperti perayaan Perjamuan Kudus di sidang jemaat.

Salah satu tugas yang membentuk “kuasa penuh kunci” yang melekat dalam pelayanan Rasul Kepala adalah untuk menjamin kemurnian ajaran (KGKB 7.6.6). Oleh karena itu, Rasul Kepala memandang hal itu sebagai tanggung jawab Beliau  untuk mengingatkan dengan sungguh-sungguh semua orang Kerasulan Baru yang percaya, bahwa mengambil bagian dalam kebaktian-kebaktian adalah sebuah komponen mendasar dari persiapan kita bagi kedatangan Yesus kembali. 

Kalau secara sadar dan teratur, kita tidak menghadiri kebaktian-kebaktian, padahal sesungguhnya kita bisa atau mungkin untuk datang ke gereja maka hal itu akan dapat merugikan bagi kkta dalam upaya untuk memperoleh keselamatan. 










Senin, 02 Agustus 2021

Keinginan untuk menjumpai dan melihat wajah Allah

Bacaan Alkitab

"... Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah. Jiwaku haus kepada Allah, kepada Allah yang hidup. Bilakah aku boleh datang melihat Allah?" (Mazmur 42:1-2)

Pendahuluan 

Rasa haus pada dasarnya adalah sebuah sinyal atau alarm, dimana tubuh memberi tahu kita bahwa tubuh kita memerlukan air. Pemazmur menggunakan gambaran ini untuk menunjukkan keinginannya yang besar dan tulus untuk menjumpai Allah di Bait Allah. 

Marilah kita juga memiliki keinginan atau kerinduan yang besar untuk menjumpai Allah di Mezbah-Nya, sebagaimana rasa haus pada diri kita, yang sangat membutuhkan air untuk memuaskannya. 

Melalui pengajaran oleh Roh Kudus, kita mengetahui bahwa manusia telah diciptakan untuk hidup dalam persekutuan dengan Allah dan bahwa Ia hanya dapat bahagia dengan sempurna, kalau manusia dapat selalu bersama-Nya. Oleh karena itu, kita berjuang untuk dapat masuk ke dalam persekutuan dengan Allah di dalam kerajaan- Nya. 

Persekutuan dengan Allah di dalam kebaktian 

Seperti pemazmur, kita juga memiliki kebutuhan untuk pergi ke Bait Allah, dan untuk menjumpai Allah di sana. Melalui partisipasi dalam kebaktian, kita mengalami kehadiran Yesus di antara para milik-Nya. Yesus Kristus hadir di antara orang-orang yang berkumpul di dalam nama-Nya untuk berdoa (Mat. 18:19,20). 

Dalam kebaktian ,kita mendengarkan firman Allah. Sebagai pendengar, kita harus menunjukkan kerendahan hati, saat mendengarkan dengan sungguh-sungguh, firman yang diberitakan kepada kita. Khotbah yang diinspirasi oleh Roh Kudus menguatkan iman pendengar dan memelihara pengharapannya. Saat menerapkannya ke dalam perbuatan, orang-orang percaya memiliki kepastian akan berkat Allah. Kita juga diperkenankan untuk mengambil bagian dalam Perjamuan Kudus dan memperingati kurban Kristus, sambil mengalami persekutuan dengan-Nya dan dengan satu sama lain. Kita terutama menerima tubuh dan darah Yesus di dalam hosti yang telah disucikan. Dengan demikian,  Tuhan memperkenankan kita mengambil bagian dalam sifat-Nya dan memungkinkan kita untuk berada dalam persekutuan hidup dengan-Nya. Persekutuan dengan Allah dalam hidup sehari-hari. 

Rasa haus akan Allah, akan mendorong kita untuk mencari-Nya, juga dalam kehidupan sehari-hari. Apabila kita mengalami saat-saat yang berat, mungkin kepada kita juga ditanyakan: “Di manakah Allahmu sekarang?” Roh Kudus menolong kita untuk menjawab pertanyaan itu, di mana Ia mengingatkan kita pada rencana kelepasan ilahi. 

Allah sedang sungguh-sungguh bekerja untuk memimpin kita masuk ke dalam persekutuan yang kekal dengan-Nya dan agar semua manusia memiliki kesempatan untuk meraihnya. 

Persekutuan dengan Allah dalam pelayanan 

Pertanyaan “Di manakah Allahmu?” juga diajukan ketika usaha-usaha kita di gereja kelihatannya sia-sia. Dalam hal ini, Roh Kudus juga menolong kita untuk mengenali aktivitas Allah. Allah ingin sekali melakukan sesuatu pada kita, dan sekaligus Ia ingin melakukan sesuatu dengan perantaraan kita. Jika kita dapat menyelaraskan diri dengan pikiran dan sifat Kristus, kita juga akan dapat bertindak sesuai teladan-Nya. Marilah kita mengenali pekerjaan yang Allah lakukan pada kita, ketika kita bekerja bagi-Nya!

Amin.










Berjuang dan Memaksimalkan Talenta

Sang waktu itu, selalu dan terus berlalu.

Sekali lewat, ia tak pernah kembali, bahkan berhenti sesaat pun, ia enggan. 

Mungkin ada yang bilang, "Betapa angkuhnya Sang Waktu itu, ketika "dia" berlalu dan selalu berlalu."  

Bagi mereka yang sedang bergulat dengan pergumulan, ingin rasanya berhenti sejenak, 'tuk menarik nafas segar dari keadaan yang pengap dan menyesakkan. 

Tapi....

Bagi mereka yang sedang menikmati kesenangan dan kenikmatan hidup, sesaat pun mereka enggan 'tuk terhenti, apapun yang terjadi...

Tak adil..., Tapi itulah hidup. 

Ketika Sang Mentari muncul di ufuk Timur, Iman, Harap dan Kasih tetap kuat tertancap. Karena Dia Yang Adil telah berfirman: *"Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu."* 

Berserah BUKAN berarti Kalah. Berserah itu lebih kepada Percaya kepada Dia yang empunya hidup. Apapun yang terjadi hari ini, Perjuangan hidup harus dijalani.

*"Anda tidak tenggelam dengan jatuh di air*. 

Tapi ....

*Anda akan tenggelam jika tetap tinggal disana"* 

*Siapapun pernah jatuh ke dalam kegagalan, tetapi..... orang yang BENAR- BENAR GAGAL, hanyalah orang yang tetap tinggal di dalam kegagalan dan tidak pernah mau  mencoba untuk bangkit kembali.* 

Percayalah semua atas seizin Tuhan. TUHAN MENETAPKAN langkah-langkah orang yang hidupnya BERKENAN kepada-Nya; "apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab_ TUHAN MENOPANG TANGANNYA."

JANGAN MEMBANDING - BANDINGKAN 

*Kita selalu Membandingkan Diri kita atau Kemampuan kita dengan Kemampuan orang lain. Seringkali kita tidak Mensyukuri setiap Talenta, Kemampuan atau Karunia yang tlah TUHAN berikan kepada kita. Kita justru berusaha dan ingin menjadi seperti orang lain.*

*Mari mulai saat ini, jangan kita membanding-bandingkan kemampuan kita dengan orang lain, apalagi Bersikap Iri Hati, k a r e n a ..., setiap dari kita, Pasti mempunyai Kemampuan, Talenta & Karunia yang Khusus, yang telah TUHAN Berikan kepada kita*.

*“Setiap orang menerima dari Allah karunianya yang khas, yang seorang karunia ini, yang lain karunia itu.”* 

*TEMUKAN & KEMBANGKANLAH SETIAP TALENTA, KEMAMPUAN ATAUPUN KARUNIA KITA,* *S E H I N G G A .....KITA DAPAT MENJADI BERKAT BAGI ORANG LAIN,*  

*DAN PADA AKHIRNYA .......BIARLAH NAMA TUHAN YG DI PERMULIAKAN MELALUI KEHIDUPAN KITA.* 

Selamat Beraktivitas *TUHAN YESUS MENYERTAI DAN MEMBERKATI KITA dan KELUARGA TERCINTA, AMINπŸ™πŸ™πŸ™*









Alkitab

Alkitab adalah sekumpulan kitab yang dianggap suci, yang dipergunakan oleh umat Kristen dan Katolik sebagai pedoman dalam menjalankan kehidupan kepercayaannya. Kata Alkitab, sebenarnya berasal dari kata Yunani, "blibia" yang berarti kitab-kitab atau gulungan-gulunga. Alkitab terdiri dari kitab-kitab yang dikelompokkan dalam Kitab Perjanjian Lama yang ditulis dan disusun pada waktu yang berbeda, selama lebih dari 1000 tahun dan kitab-kitab yang dikelompokkan dalam Kitab Perjanjian Baru, yang disusun selama lebih dari 70 tahun. selain itu, Alkitab ini ditulis dan disusun oleh para penulis yang berbeda-beda, dan di tempat yang berbeda-beda pula. Umat Yahudi dan Kristiani memandang kitab-kitab yang ada dalam Alkitab sebagai catatan otoritatif mengenai hubungan manusia dengan Allah.

Selama berabad-abad manusia mengalami pernyataan-pernyataan Allah dan tindakan-tindakan-Nya. sejak masa setelah pengasingan di Babel, beberapa abad sebelum Yesus dilahirkan, tulisan-tulisan mengenai tindakan-tindakan Allah, janji-janji-Nya, perintah-perintah-Nya diberi otoritas yang besar di dalam agama Yahudi, sehingga kumpulan tulisan-tulisan itu disebut sebagai "Kitab Suci".

Pada surat 2 Tim 3:15-16, tertulis demikian, "...dari kecil, engkau sudah mengenal Kitab Suci, yang dapat memebri himat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus. Segala tulisan yang diilhamkan Allah, memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran." Pernyataan ini menegaskan bahwa kitab-kitab ini ditulis berdasarkan pernyataan Ilahi atau pengilhaman Ilahi.  

Selanjutnya pada surat Rasul Petrus, yaitu 2 Petrus :20-21 dinyatakan bahwa, "yang terutama harus kamu ketahui, ialah bahwa nubuat-nubuat dalam kitab suci, tdiak boleh ditafsirkan menurut kehendak sendiri, sebab tidak pernah, nubuat dihasilkan dari kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus, orang-orang yang berbicara atas nama Allah.'

Di sini menujukkan bahwa para penulis dan penyusunnya adalah orang-orang yang diinspirasi oleh Roh Kudus. Melalui pertolongan Allah,mereka mampu untuk berkomitmen dalam menuliskan apa yang hendaknya diberitakan sesuai dengan kehendak Allah. Meskipun kitab-kitab ini bersumber dari Roh Kudus, tidak kita pungkiri bahwa bentuk dan gaya pengungkapannya tidak bisa lepas dari latar belakang dunia mereka. Meskipundemikian, kita patut bersyukur, bahwa pada kenyataannya teks-teks ini tetap tidak tercemar meski keberadaannya sudah sekian lama.

Jadi, Alkitab yang selanjutnya banyak juga dikenal dengan sebutan Kitab Suci, adalah merupakan kesaksisan dari pernyataan-pernyataan Allah, meskipun bukan merupakan catatan yang lengkap tentang semua perbuatan Allah (Yohanes 21:25).

Minggu, 01 Agustus 2021

Api Di atas Mezbah harus tetap menyala

Bacaan Alkitab :

Api yang di atas mezbah itu harus dijaga supaya terus menyala, jangan dibiarkan padam. Tiap-tiap pagi imam harus menaruh kayu di atas mezbah, mengatur korban bakaran di atasnya dan membakar segala lemak korban keselamatan di sana. Harus dijaga supaya api tetap menyala di atas mezbah, janganlah dibiarkan padam." (Imamat 6:12-13)

Penjelasan

Firman di atas merupakan sebagian hukum yang diberikan Allah melalui Musa, kepada Harun dan anak-anaknya, terkait korban bakaran. Allah menghendaki agar api di atas mezbah itu tetap menyala.

Dalam perspektif rohani, api ini di artikan atau dilambangkan sebagai keberadaan Allah. Keberadaan Allah di atas Mezbah-Nya, di dalam rumah-Nya, di dalam gereja-Nya dan di dalam sidang jemaat-Nya. Sebagai tempat dimana Allah berada dan bersemayam, tentulah tempat itu, juga merupakan suatu tempat yang suci atau yang kudus. Oleh kerena itu, siapa pun yang masuk ke tempΓ t itu, juga harus menjaga kekudusannya atau kesuciannya. Itulah sebabnya para imam agung, yang masuk ke Mezbah dan akan berada di tempat yang maha kudus, mereka harus berganti baju.

Selanjutnya kita akan mencoba memahami lebih jauh akan makna keberadaan Allah di atas mezbah-Nya, yang dilambangkan sebagai nyala api.

Allah sebagai Terang

Nyala api sebagai gambaran akan keberadaan Allah di atas mezbah-Nya, dapat menjadi sumber terang bagi kita semua, khususnya dimasa-masa yang "gelap", seperti masa pandemic Covid-19 saat ini. Melalui terang ini, kita dapat melihat, ternyata kita tidak sendiri. Boleh dikata, semua orang di dunia, juga mengalami hal yang sama. Ini memberi penghiburan kepada kita, bahwa ternyata kesulitan ("kegelapan") pada masa pandemic ini, bukan karena dosaku sehingga Allah menghukum aku, tetapi  Allah ingin menunjukkan bahwa Ia ada, Ia dekat, Ia menyertai dan Ia menolong kita dalam masa-masa yang sulit dan gelap ini. 

Pemahaman dan pengertian akan hal ini, hendaknya dapat memberikan kemampuan kepada kita untuk tetap menaruhkan iman, pengandalan dan pengharapan kita kepada Allah, bahwa bersama dengan Allah kita akan mampu menjalani dan melewati masa-masa yang berat di masa pandemic ini dengan penuh keyakinan, karena Allah terus menyertai dan menolong aku. Hal ini hendaknya juga dapat menimbulkan semangat dalam diri kita, untuk terus berjalan di atas jalan kebenaraan Allah. Melalui terang Ilahi ini, kita juga dapat lebih jelas lagi melihat, jalan dan tujuan kita yang agung dan mulia, yaitu persekutuan yang kekal dengan Allah Tritunggal.

Selanjutnya, Allah sebagai terang, yang nyata melalui firman-firman-Nya, dapat menjadi sarana bagi kita untuk bercermin dan melakukan instropeksi, akan apa yang masih menjadi kekurangan dan kelemahan kita, serta apa saja yang masih belum berkenan dihadapan Allah. Dari sinilah kita dapat belajar untuk lebih menyesuaikan hidup kita dengan apa yang telah diajarkan Allah kepada kita.

Kemudian, jika kita bertanya kepada seseorang, "lebih suka mana, berada pada situasi terang atau gelap." Pasti orang akan menjawab, "aku suka berada di lingkungan yang terang." Ini menggambarkan kepada kita, keberadaan Allah sebagai sumber terang yang keberadaan-Nya di dekat kita, hendaknya mampu memberikan rasa nyaman, rasa sukacita dan ketentraman bagi siapa pun yang ada disekitar-Nya.

Allah memberi Kehangatan

Bagaikan api unggun, kehangatan kasih Allah yang terpancar dari nyala api yaitu keberadaan Allah dalam sidang jemaat, hendaknya menjadi daya tarik bagi siapa pun untuk mendekat kepada Allah. Tidak peduli, asal-usul, latar belakang dan karakteristik dari mereka yang datang, kehangatan kasih Allah ini hendaknya benar-benar menjadi sarana daya tarik yang kuat untuk membawa kita pada satu persekutuan dan kebersamaan dan kemanunggalan dengan Allah. Allah tidak pernah melarang siapa pun untuk mendekat dan merasakan kehangatan kasih Allah.

Api Kasih Allah Membakar dan Memurnikan

Api yang ada di Mezbah Allah digunakan untuk membakar korban bakaran. Ini juga dapat dimaknai bahwa api kasih Allah dalam sidang jemaat, mampu untuk membakar segala dosa dan kesalahan kita. Seberapa pun besar dosa kita, api kasih Allah akan mampu membakar habis dosa dan kesalahan kita tersebut, sehingga kita dapat dimurnikan lagi, bagaikan emas yang dimurnikan dalam api.

Kemurnian hati dan jiwa kita dapat terjadi kalau kita mau merendahkan diri, mau mengorbankan ego kita dan  kemunafikan diri kita, yang tercermin pada kesediaan kita untuk saling mengampuni, kesediaan kita untuk merukunkan diri, kesediaan kita untuk bertobat dan untuk dapat menyadari bahwa kita adalah pendosa yang membutuhkan kemurahan dan kasih Allah.

Kita sebagai Bait Allah

Kalau apa yang disampaikan di atas, mengajarkan kepada kita akan keberadaan Allah dalam Bait Allah, gereja Tuhan dan sidang jemaat Tuhan, mari hal ini kita coba tarik pada diri kita. 

Pada 1 Kor. 3:16, Rasul Paulus menyatakan, "Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah Bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?" Hal ini menandaskan kepada kita bahwa, Api itu, yaitu Keberadaan Allah, hendaknya juga dapat senantiasa menyala di dalam diri kita. Jangan sampai api itu padam dalam diri kita, yang berarti jangan sampai keberadaan Allah dalam diri kita menjadi hilang. 

Sebagai bait Allah, suatu tempat yang kudus atau suci, dimana Allah berkenan tinggal di dalamnya, maka mau tidak mau kita juga harus menjaga kekudusan dan kesucian diri kita yang dinyatakan pada sikap, perilaku, perkataan, dan kepikiran kita. 

Kita Sebagai Terang

Dengan keberadaan Allah dalam diri kita, terang Ilahi hendaknya juga dapat terpancar dari dalam diri kita, sehingga kita pun dapat menjadi pembawa terang dimasa yang gelap atau sulit ini, bagi sesama kita.

Selain itu, dengan terang yang terpancar, kita dapat menunjukkan bahwa mereka tidak sendirian melewati masa yang sulit ini. Kita hendaknya juga dapat jadi orang yang dapat diharapkan dan diandalkan untuk bersama-sama berjalan melewati masa yang sulit, tentunya juga bersama dengan Allah. Kita diharapkan untuk dapat tetap menunjukkan arah dan tujuan iman kepercayaan kita kepada sauadara-saudari kita. 

Sikap, tingkah laku dan perkataan kita hendaknya menjadi terang / cermin bagi sikap, perilaku dan perkataan saudara-saudari kita, tanpa kita harus menghakimi, menyalahkan dan merendahkan mereka.

Kehadiran kita menghangatkan 

Selain itu, kita sebagai Bait Allah, dimana api itu menyala di dalamnya, hendaknya senantiasa dapat menghangatkan persekutuan diantara kita sebagai anak-anak Allah. Kehangatan kasih kita hendaknya dapat dirasakan oleh saudara-saudari yang telah beku hatinya, yang putus asa, yang merasa sendiri. Kehangatan kasih kita hendaknya menjadi daya tarik bagi sesama untuk dapat membina suatu persekutuan dan kebersamaan diantara kita, tanpa melihat latar belakang dan asal usul mereka. Keberadaan kita hendaknya dapat menjadi daya tarik bagi sesama untuk dapat memiliki persekutuan dengan Allah Tritunggal.

Selain itu kehadiran kita hendaknya mampu membakar segala kesalahan yang dilakukan saudara-saudari kita. Kita hendaknya juga mampu membakar segala dendam yang ada pada diri kita terhadapa apa yang telah diperbuat oleh saudara-saudari kita, bahkan jangan sampai menyisakannya lagi dalam hati kita.

Firman Allah dan Sakramen-sakramen, sebagai "kayu bakar" 

Sebagaimana yang tertulis dalam nas Alkitab di atas, "...Tiap-tiap pagi imam harus menaruh kayu di atas mezbah...". Kayu-kayu inilah yang menjaga agar api di atas Mezbah Allah. Firman-firman Allah dan sakramen-sakramen yang kita terima setiap kali kebaktian adalah sebagai "kayu-kayu bakar" yang dapat menjaga api di atas Mezbah Allah dan di dalam diri kita dapat tetap menyala.  Di sini menunjukkan  kepada kita betapa pentingnya kehadiran kita dalam setiap kebaktian. Selain kita dapat merasakan kehadiran Allah sebagai api yang menyala, di sisi lain kita dapat mengumpulkan "kayu-kayu bakar", yaitu firman-firman Allah dan Sakramen-sakramen yang dapat kita pergunakan agar api dalam diri kita, yang berarti keberadaan Allah dalam diri kita,  juga dapat tetap menyala.

Demikianlah, keberadaan kita sebagai Bait Allah, dimana di dalamnya "Api" itu tetap menyala, hendaknya dapat menjadi Terang dan Berkat bagi sesama kita, khususnya dimasa-masa yang sulit dan gelap seperti saat ini. Selain itu, dengan keberadaan Allah di dalam diri kita, hendaknya juga memampukan diri kita untuk dapat melewati masa-masa yang sulit ini.

Yakinlah dengan keberadaan Allah di dalam diri kita, yang berarti juga bersama-sama dengan Allah, kita akan mampu untuk melewati masa-masa yang sulit dan gelap ini dan bahkan kita masih dapat menjadi terang dan berkat bagi sesama kita. 


Amin





Indahnya Memberi - Indahnya Berbagi. Bahagianya Memberi

Seorang dosen yang dikenal bijaksana, tengah berjalan santai bersama seorang mahasiswa di taman kampus. Tidak lama keduanya melihat ada sepa...