Jumat, 29 November 2019

Mengenali Kebajikan-Nya

Seorang laki-laki berusia 78 tahun jatuh karena kelelahan dan dibawa ke salah satu Rumah Sakit di Arab Saudi (Riyadh). Untuk menolongnya dokter memberikan oksigen selama 24 Jam. Beberapa jam kemudian, kondisi pasien ini menjadi lebih baik.

Ketika esoknya kondisi pasien ini sudah semakin membaik dan diijinkan untuk pulang, RS, menunjukan tagihan sebesar 600 Sr, yang harus ia bayar. Ketika dia melihat tagihan itu, pria ini mulai menangis. Mengetahui pasiennya menangis, dokter yang telah merawatnya mengatakan dan memintanya untuk tidak usah menangis karena tagihan Ini.

Pria itu menjawab, "Saya tidak menangis karena jumlah tagihan ini, saya mampu membayar semua tagihan ini." Saya menangis karena, saya hanya menggunakan oksigen selama 24 jam, dan saya harus membayar 600 Sr, sementara saya telah menghirup udara segar yang Allah berikan selama 78 tahun, dan saya tidak pernah membayar apa-apa...

Tidakkah dokter tahu, berapa saya telah berhutang pada-Nya ...???", kata lelaki itu, sambil semakin mengguguk dia menangis.

Dokter itupun menghela napas panjang sambil menundukkan kepalanya, dan mulai menangis juga...!!!!

Berapa tahun kita semua telah menghirup oksigen yang Allah telah berikan kepada kita, tanpa harus membayar tagihan.

Puji syukur dan terima kasih, patutlah untuk kita persembahkan kepada Allah dengan cara yang layak atas Kebaikan-Nya dan Kebesaran Kasih-Nya ....!!!!!.

Mari kita luangkan sebentar waktu kita untuk merenungkan dan mengingat kembali kemurahan dan kebaikan-Nya yang telah memberikan oksigen yang kita semua telah hirup selama ini.

Untuk menyatakan rasa syukur dan terima kasih kita kepada Allah, kita ingin selalu mengatakan: "Terima Kasih Allah dan Terima Kasih Allah"

Penulis Mazmur menyatakan sebagaimana yang tertulis dalam Mazmur 116:12, "Bagaimana akan kubalas kepada Tuhan segala kebajikan-Nya kepadaku?

Semoga kita senantiasa mengenali dan merasakan akan kemurahan Allah serta dapat bersyukur dan berterima kasih atas kebaikan dan kebajikan-Nya.
Amin.

Epifani

Diperbarui : 041224


Epifani adalah Hari Raya Penampakan Tuhan, yaitu memperingati penjelmaan atau manifestasi Allàh menjadi manusia di dalam Yesus Kristus. Epifani, juga dikenal sebagai Hari Raya Epifani, atau Hari Raya Tiga Raja. Epifani berasal dari kata Yunani Koine : ἐπιφάνεια, epipháneia, yang berarti manifestasi fisik, penampakan, atau jelas atau wahyu dewa kepada manusia. Epifani juga sering disebut sebagai Teofani (Yunani kuno: Θεοφάνεια, Theophaneia)yang berarti penampakan Tuhan.

Perayaan Epifani di Gereja Ritus Timur

Perayaan Epifani, mulai dilaksanakan pada sekitar abad ke-3 oleh Gereja Ritus Timur, yang berada di sisi Timur Yerusalem. Perkembangan selanjutnya, perayaan Epifani ini dijadikan sebagai salah satu dari 3 festival gereja, selain perayaan Paskah dan Pentakosta. Saat penanggalan Paskah belum banyak diketahui oleh orang-orang awam, pada perayaan Epifani inilah diumumkan tanggal perayaan Paskah di tahun itu. Ini sekaligus sebagai tanda, agar umat mulai mempersiapkan diri menjelang hari Paskah. 

Bagi Gereja Ritus Timur, perayaan Epifani, mungkin dimulai sebagai perayaan pembaptisan Yesus atau lebih ditujukan pada peringatan Manifestasi Yesus saat Ia dibaptis oleh Yohanes Pembaptis dan memulai karya pelayanan-Nya sebagai Juruselamat dan Putra Allah, yang dikenal sebagai Teofani

Pada I Yohanes 1:1-3, dinyatakan oleh Yohanes bahwa Yesus adalah seorang Manusia sejati dengan tubuh yang sama seperti manusia lain pada umumnya. Ia adalah “Apa yang telah ada sejak semula, yang telah kami dengar, yang telah kami lihat dengan mata kami, yang telah kami saksikan dan yang telah kami raba dengan tangan kami tentang Firman hidup.” Ia adalah Manusia yang berada di antara manusia, namun Ia adalah juga Allah. Pada masa sekarang kita dapat merasakan Dia dengan indera-indera kita. Kita masih dapat mendengar, melihat, dan merasakan-Nya, penjelmaan Kristus saat ini di dalam firman dan sakramen.

Di Gereja Ritus Timur, perayaan Epifani juga menandai akhir, sekaligus sebagai puncak perayaan Natal, yang biasanya mereka rayakan mulai dari tanggal 25 Desember sampai 5 Januari, setiap tahunnya.

Perayaan Epifani di Gereja Ritus Barat

Pada Gereja Ritus Barat, perayaan Epifani lebih ditujukan pada peringatan akan kedatangan orang-orang Majus dari Timur, mengunjungi Yesus yang baru dilahirkan, yang pada pengajaran disebut sebagai Tiga Raja dari Timur. Ini sebagai suatu petunjuk dan renungan bagi umat Kristen tentang hakikat dari Manifestasi Bayi Yesus di dunia, pada orang-orang Yahudi maupun non Yahudi, sebagai Sang Putra Allah. Selain itu, perayaan ini juga sebagai penghormatan kepada tiga pengunjung penting dalam kisah Alkitab tentang kelahiran Yesus.

Di Gereja Ritus Barat, yang berada di sisi Barat Yerusalem dan berpusat di Roma, perayaan Epifani diawali pada abad ke-4. Referensi paling awal yang ditemukan tentang Epifani sebagai hari raya Kristen ditemukan pada abad ke empat, yang terdapat pada tulisan Ammianus Marcellinus, sejarawan Romawi, tepatnya tahun 361. Perayaan ini diperingati oleh sejumlah denominasi gereja Kristen, secara berbeda, setiap tangal 6 Januari, meskipun ada juga yang memperingatinya pada Minggu pertama bulan Januari.

Ia mendasarkannya pada tulisan teolog Clement dari Alexandria yang menyatakan bahwa sekte Kristen Gnostik Suriah, Basilidian, merayakan pembaptisan Kristus pada bulan Januari. Dan pada tulisan Ammianus Marcellinus tersebut, dinyatakan bahwa orang-orang Kristen pada masa itu menyebut festival Januari itu sebagai Epifani.

Di Barat, malam sebelum Epifani disebut Malam Kedua Belas atau juga dikenal sebagai Dua Belas Hari Natal, periodenya dimulai dari tanggal 25 Desember sampai 6 Januari. Sedangkan bagi banyak umat Kristen Ortodoks yang masih mematuhi kalender Julian, periode ini berlangsung sampai tanggal 19 Januari. Tetapi ada juga mereka-mereka yang merayakan epifani ini sampai Hari Lilin, hari raya, yang merayakan persembahan Yesus Kristus di bait suci dan yang biasanya dirayakan oleh umat Kristen pada tanggal 2 Februari.

Perayaan Epifani pada Tradisi Kristen Modern

Meskipun Gereja Ritus Barat maupun Timur, memiliki pemahaman yang sama mengenai perayaan hari Epifani ini, yaitu Penjelmaan, Penampakan dan Manifestasi Yesus di dunia, tetapi penghayatan akan peristiwa ini, berbeda.

Pada tradisi kekristenan di Timur Tengah dan beberapa negara Eropa, perayaan Theofani dilaksanakan dengan cara memberkati rumah dan sumber-sumber air yang digunakan oleh anggota sidang jemaat, yang melambangkan wujud nyata hadirnya Sang Kehidupan dalam kehidupan sehari-hari.

Pada tradisi kekristenan modern, perayaan Epifani tidaklah terlalu populer, meski beberapa kebiasaan klasik terkait perayaan ini masih dipertahankan. Sebagai contoh, pada saat perayaan Epifani, mereka membereskan kembali hiasan Natal baik di rumah maupun di gereja.

Di banyak negara, Epifani dirayakan dengan kue-kue khusus, dan anak-anak sering menerima hadiah kecil di dalam sepatu mereka. Di Gereja Timur, Epifani juga menjadi puncak perayaan masa Natal atau perayaan Kelahiran Yesus Kristus, yang diperingati mulai dari tanggal 25 Desember sampai dengan 5 Januari setiap tahun.Di Roma, perayaan Natal pada tanggal 25 Desember terpisah dari Epifani, yang mulai dirayakan pada tanggal 6 Januari pada abad keempat.

Beberapa Contoh Perayaan Epifani di seluruh dunia

Hadiah yang dibawa oleh orang dari Majus dan rumur tentang status kerajaan mereka, memunculkan berbagai adat istiadat yang berbeda-beda di negara-negara tempat Epifani biasanya dirayakan. Di Prancis, hari raya ini secara tradisional dirayakan dengan galette des rois, atau kue raja. Kue bundar ini dilapisi frangipane, pasta almond manis, dan para penikmat kue akan memeriksa potongan kue mereka untuk melihat apakah ada kacang panggang di dalamnya. Penerima kacang tersebut akan dimahkotai sebagai "raja" selama sehari.

Di Amerika Serikat, Epifani menandai dimulainya musim Karnaval. Selama Karnaval, orang-orang memakan kue raja yang dilapisi gula berwarna kuning, hijau, dan putih yang, alih-alih kacang, berisi figur bayi yang dianggap mewakili bayi Yesus. Meskipun kue ini sangat populer di Louisiana, tempat New Orleans terkenal dengan perayaan Mardi Gras-nya, kue ini dapat ditemukan di seluruh negeri.

Di Amerika Latin, orang memanggang rosca de reyes (roti raja), roti manis yang dipanggang membentuk lingkaran seperti mahkota. Meskipun tradisi sedikit berbeda di seluruh wilayah, beberapa anak meletakkan rumput dan air pada malam sebelum Epifani untuk hewan-hewan yang menemani ketiga raja dan menerima hadiah dari raja keesokan paginya atas perilaku baik mereka.

Tidak kalah menariknya, di Italia, misalnya, Epifani juga dikenal sebagai Befana, sebuah festival rakyat yang merayakan legenda seorang wanita tua atau penyihir yang memiliki nama itu. Menurut cerita, la Befana melindungi orang Majus dalam perjalanan mereka ke Betlehem. Setelah orang-orang bijak tersebut pergi, ia memutuskan untuk mengikuti mereka mencari bayi Yesus. Saat ia mencari, wanita tua yang baik hati itu membawa hadiah untuk anak-anak yang berperilaku baik di seluruh Italia—tradisi yang mirip dengan Sinterklas.

Tradisi bertema perjalanan lain yang dipraktikkan di seluruh Eropa dan semakin umum di beberapa bagian Amerika Utara dikenal sebagai "mengapungkan pintu dengan kapur." Kebiasaan ini melibatkan penulisan inisial dari orang-orang Majus, yang secara tradisional dikenal sebagai Caspar, Melchior, dan Balthazar, di atau di atas pintu rumah seseorang. Inisial tersebut—C.M.B.—juga merupakan singkatan dari frasa Christus mansionem benediciat, bahasa Latin yang berarti "semoga Kristus memberkati tempat tinggal ini." Orang-orang percaya juga menambahkan angka untuk tahun berjalan dan tanda tambah yang mewakili salib Kristen.


Sabtu, 16 November 2019

Memberitakan Injil Kristus

Beginilah firman TUHAN semesta alam: “Masih akan datang lagi bangsa-bangsa dan penduduk banyak kota. Dan penduduk kota yang satu akan pergi kepada penduduk kota yang lain, mengatakan: Marilah kita pergi untuk melunakkan hati TUHAN dan mencari TUHAN semesta alam! Kamipun akan pergi!” (Zakharia 8:20-21)

Pengajaran

Dari bacaan Alkitab di atas, Nabi Zakharia menunjukkan dengan jelas bahwa keselamatan tidak hanya berlaku bagi umat Israel, melainkan juga berlaku dan ditawarkan kepada banyak bangsa yang lain dan mereka akan menemukan jalan untuk menuju keselamatan Allah.

Ayat-ayat tersebut juga menjelaskan bahwa kabar keselamatan disebarkan dari satu kota ke kota lainnya, dan bahkan orang-orang bukan Yahudi pun akan bisa mendengar. Mereka juga diundang untuk bersama-sama pergi, mencari Tuhan, dan menyembah Dia. Tidak sedikit suku bangsa-suku bangsa yang merespon panggilan Allah ini,  "dan banyak suku bangsa akan pergi serta berkata: "Mari, kita naik ke gunung TUHAN, ke rumah Allah Yakub, supaya Ia mengajar kita tentang jalan-jalan-Nya, dan supaya kita berjalan menempuhnya; sebab dari Sion akan keluar pengajaran dan firman TUHAN dari Yerusalem." (Yesaya2:3)

Sebagaimana yang telah disampaikan oleh Zakharia bahwa keselamatan tidak hanya berlaku bagi umat Israel saja, dan karena kabar itu disebarkan dari kota ke kota, sehingga orang-orang bukan Yahudi pun akan bisa mendengar. Hal ini juga ditegaskan oleh Tuhan Yesus sendiri: "Kata Yesus kepadanya: "Percayalah kepada-Ku, hai perempuan, saatnya akan tiba, bahwa kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem. Kamu menyembah apa yang tidak kamu kenal, kami menyembah apa yang kami kenal, sebab keselamatan datang dari bangsa Yahudi. Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian. Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran."(Yohanes 4:21-24)

Nabi Zakaria juga menjelaskan bahwa mereka yang telah diperkenankan untuk mengalami kemurahan, pertolongan dan keselamatan Allah, hendaknya tidak hanya bisa menyampaikan suatu undangan kepada orang lain, tetapi hendaknya juga mau mendampingi sesama mereka di atas jalan yang telah ditunjukkan Allah kepada mereka untuk di jalani: "... Kamipun akan pergi!"

Marilah kita pergi ...

Kita hendaknya jangan merasa sudah cukup puas dengan hanya memiliki suatu keinginan yang besar untuk mengundang sesama kita berjalan di atas jalan iman, tetapi dalam melakukannya, kita hendaknya juga dapat mendukung pekerjaan para Rasul di dalam misi yang telah mereka terima dari Tuhan, yaitu untuk ikut mengajar dan menjadikan setiap bangsa menjadi murid Tuhan (Mat. 28:19-20).

Kita telah menerima karunia Roh Kudus pada saat kita menerima Kemeteraian Suci. Bersama-sama dengan Baptisan Suci, Kemeteraian Suci merupakan suatu prasyarat untuk menjadi yang sulung dan juga sebagai jaminan untuk dapat memliki persekutuan yang kekal dengan Allah. (Ef. 1: 13-14). Selain dipilih dan dipanggil untuk menjadi yang sulung dan memiliki persekutuan yang kekal dengan Allah, ada suatu tugas dan tanggung jawab dibalik panggilan dan pilihan Allah yang jatuh kepada diri kita, yaitu untuk ikut memberitakan Injil Kristus. Bagaimanapun juga, kasih kitalah yang hendaknya menjadi pendorong untuk mengabarkan dan mengenalkan Injil Kristus kepada sesama (Rm. 5:5).

Sejak kita menerima karunia Roh Kudus, Tuhan mengharapkan pada kita untuk mampu menuntun dan membawa orang lain kepada-Nya, untuk membawa Injil Kristus kepada mereka, dan untuk hidup dan mempraktikkan pengajaran-Nya dengan cara sedemikian rupa, yang sesuai dengan kehendak-Nya, sehingga dapat menjadi sarana untuk menyambut mereka, dan jangan sampai menyebabkan mereka tersinggung.

Kamipun akan pergi ...

Nabi Zakharia juga menyatakan: "... Kamipun akan pergi!" Ini menunjukkan kepada kita agar kita mampu untuk menyediakan waktu dan memiliki kesiap-sediaan untuk ikut mendampingi dan menyertai sesama kita berjalan di atas jalan kehidupannya.

Tidak kita pungkiri, ada beberapa orang diantara kita yang bersikap begitu tertutup terhadap orang lain, sehingga mereka terpaksa harus menanggung kesusahan dan beban mereka sendirian. Di sisi lain, ada orang yang sedemikian permisif dan terbuka terhadap segala macam tawaran dunia yang mampu mengalihkan pàndangan mereka dari pilihan, panggilan dan tawaran keselamatan Allah. Mereka hanya menunjukkan sedikit minat dan perhatian pada Allah dan tawaran keselamatan-Nya.

Sekali lagi, marilah kita bersiap sedia untuk dapat menyediakan, memberikan dan mengorbankan waktu kita untuk ikut memberitakan Injil Kristus, memberikan kesaksian perihal iman kita yang berharga dan mendampingi mereka.

Agar kita dapat menjadi penunjuk jalan bagi orang lain, sehingga orang lain dapat mengikuti, maka kita sendiri harus terlebih dahulu mengenal jalan itu dengan baik. Dan agar kita mampu menuntun orang lain kepada Allah, kita juga perlu untuk mengetahui jalan yang kita tempuh, sesuai yang diajarkan Kristus. Hal ini akan sangat membantu kita untuk dapat terus bertumbuh dalam pengakuan iman dan untuk dapat mengenali apa yang masih Tuhan inginkan, di masa depan, dalam kaitan keinginan Tuhan untuk memberikan keselamatan kepada setiap jiwa.

Sebagai para sulung dari Yesus Kristus, kita juga dipanggil untuk memberitakan dan mengabarkan kabar gembira ini, agar dapat diketahui di antara segala bangsa, pada masa kerajaan damai seribu tahun (1 Ptr. 2:5, 9; Why. 1:6).

Untuk dapat melakukan semua itu, sejak saat ini, diperlukan suatu kredibilitas (kemampuan agar dapat dipercaya) dan suatu kekuatan untuk dapat "membujuk" dan itu hendaknya nyata dan dipraktikkan. Kedua hal ini perlu didasari oleh suatu pengakuan iman yang penuh sukacita dan suatu perilaku iman yang dapat diteladani.

Marilah kita dengan senang hati mengembangkan dan melipat-gandakan karunia-karunia yang telah Allah berikan kepada kita, sehingga kita pun dapat memberikan kesaksian yang meyakinkan, dan agar kabar keselamatan semakin dapat menjangkau banyak orang.

Semoga di akhir kerajaan damai nanti, semua manusia yang pernah hidup, di segala periode waktu, akan mengenal Injil Kristus, dan kita bersyukur karena kita diperkenan dan telah diizinkan untuk ikut membantu!

Selasa, 12 November 2019

Rumah Seribu Cermin

🌹*_Selalulah Berbaik Sangka_*🌹
⛰⛰⛰⛰⛰⛰⛰⛰⛰⛰

"Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah. Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang..." (Filipi 4:4-5)

Ada seekor anjing kecil yang selalu bermuka muram sedang berjalan jalan sambil merengut dan bersungut-sungut. Tiba-tiba ia melihat sebuah rumah dan tertarik untuk masuk ke suatu rumah yang pintunya terbuka. Ia tidak tahu bahwa di dalam rumah tersebut terpasang 1000 cermin.* 🔎🌎🔍

Begitu anjing tersebut masuk ke dalam rumah, betapa kagetnya ia.
Ternyata ada 1000 anjing kecil dengan ekspresi merenggut marah memandang ke arahnya. Karena merasa terancam, ia pun menggonggong ke arah 1000 anjing tersebut. Rupanya gonggongan tersebut dibalas dengan gonggongan juga oleh 1000 anjing yang ia lihat, yang tak lain adalah pantulan dirinya sendiri di 1000 cermin. 🔎

Karena takut, dikelilingi sedemikian banyak anjing kecil yang lain, anjing kecil itu pun keluar dari rumah tersebut. Hati kecilnya berkata, " Rumah ini sungguh mengerikan."* 🔎🏢

Tak berapa lama, ada seekor anjing kecil lain yang berhati riang, juga sedang berjalan-jalan di sekitar tempat itu. Ia pun masuk ke rumah tersebut yang pintunya terbuka, di sana ada 1000 cermin dan sambil tersenyum ia pun memandang cermin itu………..*🐕😊

Betapa senangnya ia karena ia melihat ada 1000 anjing lain yang juga sedang tersenyum manis menatap dirinya. Ia pun meng-ibas-ibaskan ekornya dan melompat ke sana kemari dengan riangnya dan ia pun melihat 1000 anjing di hadapannya juga ikut-ikutan mengibas-ibaskan ekornya dan juga melompat-lompat kian kemari ………🐕🤾🏻‍♀

Didalam hatinya ia berkata:*
"Wah ....., menyenangkan sekali tempat ini" 🔎🏢🔍

Saudaraku ........., Sebenarnya kehidupan ini adalah rumah dengan 1000 cermin tersebut ...🔎🏢🔍

Hidup hanya merefleksikan apa yang ada pada diri kita sendiri.
Ketika kita berpikir bahwa kehidupan itu sulit, susah, maka kehidupan pun akan menjadi benar2 susah. Realita seperti itulah yang akan ditemukan.

Ketika kita hanya mengingat keburukan seseorang, maka yang muncul adalah hal-hal yang buruk saja. Berusahalah untuk mengingat kebaikan seseorang dan berusahalah untuk menemukan lebih banyak kebaikan-kebaikannya.

Demikian pula, tubuh kita. Bila kita selalu berfikir sakit, lemah, letih, lesu, maka benarlah yang terjadi, tubuh kita menjadi sakit, lemah, letih dan lesu …….*

Berhentilah meratapi diri sendiri, jangalahmuram wajahmu, jangan biarkan wajahmu murung, mengeluh dan " menggonggong " atas hal-hal di sekitar kita.

Sebaliknya, Berusahalah memperbaiki Mental dan Sikap, Berpikir Positif, Bersyukur dan Selalu Menebar Kebaikan.

Rasul Paulus menasihatkan kita: "Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah. Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang..." (Filipi 4:4-5)

Dan rasakanlah sensasi rumah 1000 cermin, serta dahsyatnya berbaik sangka ....

TETAPLAH BERSUKACITA ..., DAN SEMANGAT* 💪💪💪

💓🌹🌹🌹

Minggu, 10 November 2019

Roh kudus bekerja dengan Kuasa Penuh

Roh Kudus berkerja dengan penuh kuasa. Ini tidak hanya terjadi pada masa sekarang ini, tetapi juga terjadi pada masa sekarang dan juga untuk masa yang akan datang. Roh Kudus mengajar, menasihati, memperingatkan, menguatkan, menghibur, dan mengilhami, setiap anak Allah dan setiap orang yang mau menerimanya. Roh Kudus adalah teman yang tetap bagi kita dalam segala situasi kehidupan.

Kita mengenali Roh Kudus dalam kegiatan-Nya:

  1. Di dalam gereja Kristus, Roh Kudus selalu menumbuhkan dan menguatkan iman, kepercayaan, pengandalan dan pengharapan kepada Yesus, bahkan di saat mereka mengalami penganiayaan, kesulitan, dan penderitaan. Dan, saat ini, hari ini, seperti di masa lalu, Roh kudus mendorong dan memberi semangat bagi orang-orang percaya untuk menyebarkan Injil Kristus dan sebagai jaminannya adalah Yesus Kristus adalah Anak Allah.
  2. Melalui pekerjaan para Rasul yang hidup pada masa ini, Roh Kudus mempersiapkan orang-orang percaya agar dapat patut saat Yesus datang kembali menjemput para miliknya. Melalui tumpangan tangan seorang Rasul yang hidup, pada saat Kemeteraian Kudus, orang-orang percaya menerima karunia Roh Kudus, dan selanjutnya selanjutnya mereka akan berada dalam persekutuan satu dengan yang lainnya, termasuk saat mereka merayakan Perjamuan Kudus.
  3. Di setiap sidang jemaat, baik sidang yang besar maupun yang kecil Roh Kudus juga menyatakan aktifitas-Nya. Terlepas dari budaya atau kondisi kehidupan yang dialami, Roh Kudus selalu hadir.
  4. Dalam diri orang percaya, Roh Kudus memberikan kekuatan bagi anak-anak Allah untuk tetap setia kepada Yesus Kristus, untuk percaya kepada Roh Kudus dan untuk percaya kepada Allah. Roh Kudus memberikan kekuatan untuk memikul beban dan memampukan kita untuk melayani sesama kita baik dalam sidang jemaat maupun dimana pun kita berada.

Tidak ada yang bisa menghentikan aktifitas Roh Kudus. Tidak ada yang bisa menghentikan perkembangan kerajaan Allah. Roh Kudus bekerja dengan penuh kuasa! Oleh karena itu, marilah kita juga berupaya dengan sekuat tenaga dan memperkenankan Roh Kudus menyatakan akan kuasa dan aktifitasnya di dalam setiap sidang jemaat dan di dalam diri kita sendiri.

Marilah kita terus bersyukur kepada Allah, Roh Kudus, untuk aktifitas-Nya di gereja Kristus, dalam pelayanan Rasul, dalam sidang jemaat, maupun dalam setiap individu.

Sabtu, 02 November 2019

Perantara Keselamatan

BACAAN ALKITAB

Tetapi ibu Yesus berkata kepada pelayan-pelayan: “Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!” (Yohanes 2:5)

PENGAJARAN

Beberapa percayawan Yahudi, sadar, bahwa suatu perjamuan besar dikaitkan dengan tampilnya Mesias. Kitab Yesaya menjadi acuan untuk hal ini (Yes. 25:6-9). Di sana kita membaca bahwa ketika Juruselamat datang untuk menyelamatkan umat manusia, Ia akan mempersiapkan sebuah perjamuan besar bagi mereka dengan anggur yang baik. Dan, pada awal sekali aktivitas-Nya di muka umum, Yesus datang dan menunjukkan jatidiri-Nya: Ia mengadakan mukjijat, membuat anggur yang baik dari air, pada perjamuan kawin di Kana. Yesus menunjukkan: “Akulah Juruselamat yang diutus oleh Allah, yang telah datang untuk menyelamatkan umat manusia.”

Maria sebagai sebuah gambaran untuk gereja Kristus

Di sisi lain, dalam tradisi Kristen, Maria, ibu Yesus, dianggap sebagai suatu lambang gereja Kristus. Sikap dan tindakannya pada saat perjamuan kawin di Kana dapat menjadi contoh, bagaimana kita dapat bersumbangsih sebagai perantara untuk dapat menolong, menghibur dan berbagi sukacita dengan orang lain.

Ketika Maria melihat bahwa anggur untuk para tamu sudah habis,
  • Ia menunjukan kepedulian dan kepekaannya akan apa yang dibutuhkan tuan rumah dan ia ingin menolong mereka.
  • Ia tidak berusaha untuk mencari siapa yang bersalah, siapa yang bertanggung jawab atas kelalaian tersebut, dan ia juga tidak mencela siapa pun.
  • Tapi ia memperantarakan kepada Yesus, atas nama tuan rumah, dengan suatu keyakinan bahwa Yesus akan menolong mereka.
Apa yang dilakukan oleh Maria, hendaknya menjadi contoh bagi kita, bahwa kita hendaknya peka dan peduli akan kesulitan dan penderitaan sesama. Kesulitan dan penderitaan manusia, tidaklah hanya bersifat jasmani. Keadaan yang jauh dari Allah, juga dapat membuat manusia mengalami kesulitan dan penderitaan pada kehidupan jiwanya. Kesulitan dan penderitaan dalam kehidupan jiwa ini, sebagai akibat kondisi yang jauh dari Allah, tidaklah terbatas pada mereka yang masih hidup di bumi, tetapi juga dialami oleh mereka yang telah berada di alam barzakh. Mereka terpenjara dengan kondisi, kesulitan dan penderitaan mereka sendiri, mereka tidak memiliki sukacita, mereka tidak memiliki damai sejahtera, mereka tidak dapat memperoleh penghiburan yang dikaruniakan oleh Yesus.

Dalam hal ini, janganlah kita ikut menghakimi, mengapa mereka mengalami kesemuanya itu? Kita hendaknya mampu untuk menahan diri terhadap ucapan--ucapan yang mendakwa, mencela atau menghakimi mereka. Kita semua  dalam satu sidang jemaat, sebagai gereja Kristus, alangkah indahnya jika kita dapat bersikap dan bertindak sebagaimana Maria, yaitu untuk memperantarakan dan memohon kepada Allah untuk menolong mereka. Mengapa kita memohon pertolongan kepada Allah? Karena kita yakin dan percaya, Ia adalah Allah yang baik, Allah yang Mahakasih, Allah yang Mahamurah dan Ia mampu melakukan hal itu.

Memang ketika Yesus merespon apa yang diinginkan Maria, Yesus tampaknya bereaksi agak kasar.  Sebenarnya hal itu menunjukkan bahwa Yesus tidak dapat dipaksa. Demikian juga halnya dengan kita. Kita juga tidak bisa memaksa Allah untuk melakulan sesuatu. Kehendak-Nya-lah yang jadi. Semuanya hanya berdasarkan kasih karunia dan kehendak-Nya. Ia menawarkan keselamatan kepada siapa yang Ia inginkan, kapan pun yang Ia mau dan dengan cara yang Ia inginkan.

Seperti halnya Maria, kita hanya bisa memperantarakan permohonan-permohonan ini kepada Allah, melalui doa-doa perantara kita. Hal ini dapat terjadi karena kita memiliki kedekatan dengan Allah. Ia adalah Bapa kita, dan kita adalah anak-anak-Nya. Doa-doa perantara kita ini hendaklah benar-benar sebagai ungkapan kasih kita kepada sesama kita dan pengandalan kita pada kasih Allah.

Maria membedakan dirinya, melalui pengandalannya yang besar kepada Allah (Luk. 1:38). Ia yakin bahwa Yesus akan menolong. Itulah sebabnya ia mendesak pelayan-pelayan di tempat perjamuan kawin itu untuk melakukan apa pun yang akan Ia katakan kepada mereka. Pengandalan kita kepada Allah hendaknya juga harus tercermin di dalam perkataan dan perbuatan kita. Hanya dengan cara inilah kita dapat memberi semangat kepada sesama kita untuk menerapkan Injil, dalam kata, sikap dan perbuatan.

Keselamatan melalui kepercayaan kepada Yesus Kristus

Yesus meminta pelayan-pelayan untuk mengisi enam tempayan dengan air. Tempayan-tempayan tersebut biasanya digunakan untuk ritual pembersihan. Ketika mereka sudah melakukan hal ini, Ia berkata kepada mereka untuk mencedok air itu dan mereka sadar bahwa air itu telah berubah menjadi anggur yang baik. Kita melihat suatu makna yang lebih dalam pada peristiwa ini: bahwa kelepasan tidak dihasilkan dari menaati Hukum Musa, tetapi melalui kepercayaan kepada Yesus Kristus.

Untuk meraih hidup yang kekal, seseorang harus meninggalkan dosa, menyelaraskan
hidupnya sesuai Injil, mengikuti Yesus, dan menerima sakramen-sakramen. Bagi mereka yang percaya kepada Yesus Kristus dan mengikut Dia, Ia akan menyediakan segala sesuatu yang sungguh-sungguh mereka perlukan dalam hal tenaga, sukacita, dan keselamatan!

Marilah kita pastikan bahwa Injil sungguh-sungguh meresap dalam kehidupan kita!

Amin

Indahnya Memberi - Indahnya Berbagi. Bahagianya Memberi

Seorang dosen yang dikenal bijaksana, tengah berjalan santai bersama seorang mahasiswa di taman kampus. Tidak lama keduanya melihat ada sepa...