Senin, 23 Desember 2019

Memeluk Kemarahan

Bacaan Alkitab

Janganlah lekas-lekas marah dalam hati, karena amarah menetap dalam dada krang bodoh. (Pengkhotbah 7:9)

Renungan 

Allah adalah kasih, begitu yang tertulis di Alkitab. Jika Bait Allah, dimana Allah tinggal di dalamnya, ada dalam diri setiap hati umat manusia, dan jika hal itu terus berdenyut bagaikan urat nadi kita, maka tidak akan ada yang lain, kita semua akan sennatiasa dipenuhi dengan kasih yang murni dari Nya.

Rumi, seorang penyair Persia, menyatakan “Your task is not to seek for love, but merely to seek and find all the barriers within yourself that you have built against it.”

Jadi sebenarnya, tugas kita bukan mencari kasih lagi, melainkan menghalangi jangan sampai kebencian, kemarahan dan aliran dendam masuk, mengaliri dan membanjiri hati kita.

Sayangnya kita jarang sekali diajar untuk bersikap preventif tehadap suatu kemarahan atau kebencian yang mendatangi kita. Kita jarang sekali diajar untuk mencegah sesuatu yang bisa menimbulkan kemarahan dan kebencian masuk ke dalam hati kita. Jarang sekali kita diajar bagaimana sikap yang tepat dalam menghadapi kemarahan dan kebencian yang membara di dalam hati.

Dipendam, dilupakan, dialihkan dan di lampiaskan, itu adalah cara yang selama ini paling banyak dipilih.

Tatkala ada yang bersedih, kita ingin menghiburnya agar tidak bersedih lagi, kita mengalihkan kesedihannya dengan mengajaknya jalan-jalan atau menonton bioskop. Tanpa disadari, mungkin kita sering mengatakan, "sudah..., biarkan saja, nanti Tuhan yang akan membalasnya" atau "jangan takut, labrak saja, kamu kan dipihak yang benar, ngapain takut?"

Terkesan bahwa tindakan kita adalah untuk membela dan menghibur teman yang lagi bersedih tersebut, namun kalau kita lihat lebih dalam lagi, kita akan menemukan bahwa apa yang kita lakukan itu adalah untuk menenangkan diri yang tidak nyaman dengan kehadiran teman yang bersedih itu.

Kita sering mengambil sikap atau tindakan kuratif atau pengobatan, ketika kemarahan atau kebencian itu sudah masuk dan membanjiri hati kita. Sebenarnya cara-cara di atas tidaklah menyelesaikan dengan tuntas emosi yang ada, bahkan tidak menutup kemungkinan telah menimbulkaan kerusakan dalam diri seseorang. Namun karena tidak tahu bahkan tidak terpikir cara yang lain, maka mau tak mau kita tetap menggunakannya.

Ada satu paradox kehidupan, "Setiap EMOSI yang kita tolak, akan kembali ke kita. Apa yang ingin kita hancurkan, akan semakin padat. Sementara untuk mencairkan dan mengalir, kita perlu menghadapinya, merawat bahkan memeluknya."

Selama ini banyak yang masih menganut pemikiran "yang baik diambil yang jelek dibuang". Dan kita menganggap kemarahan adalah sesuatu yang jelek dan patut di enyahkan.

Di masa yang dipenuhi dengan orang-orang yang sibuk, kita perlu untuk sejenak berhenti dan melihat ke dalam, apa penyebab kemarahan kita? Di permukaan, kita selalu saja menemukan kambing hitam. Orang lain atau situasilah yang menjadi penyebab kemarahan kita.

"Kalau dia tidak melakukan itu, kan saya tidak akan marah" begitulah pembenarannya.

Padahal kita juga tahu bahwa ada orang-orang yang mendapat situasi yang sama, namun mereka tidak bereaksi dengan cara marah.

Jadi, kita perlu menyadari bahwa penyebab primer dari kemarahan kita adalah keinginan-keinginan di dalam diri kita, yang muncul dari alam bawab sadar kita.

Kemarahan, kebencian, begitu pula dengan kesedihan adalah bagian dari diri kita. Ia lahir dari ketidaktahuan, persepsi yang keliru, kurangnya pengertian dan welas asih. Untuk itu ia memerlukan perhatian, sentuhan dan pelukan, bukan sebaliknya.

Master zen Thich Nhat Hanh menulis dengan apik di bukunya yang berjudul Anger, "Rangkulah kemarahanku dengan penuh kelembutan. Kemarahanmu bukanlah musuhmu, kemarahanmu adalah bayimu. Ia seperti perutmu atau paru-parumu. Setiap kali ada masalah dalam paru-parumu atau perutmu, pastilah kamu tidak akan berpikir untuk membuangnya."

Bagaimana caranya memeluk kemarahan?*

Pertama, berhentilah untuk mengarahkan perhatian ke orang lain atau situasi di luar. Tengoklah ke dalam dan rasakan bahwa ada bagian diri yang sedang marah, sedih atau gelisah.

Lalu, tariklah nafas perlahan dan hembuskan. Anda bisa menariknya lebih dalam selama beberapa kali diawal untuk membuat diri lebih tenang.
Selanjutnya katakan dalam hati selagi menarik nafas " nafas masuk, aku tahu bahwa ada kemarahan dalam diriku"
Sewaktu melepas nafas " nafas keluar, aku sedang menjaga kemarahanku dengan baik"

Kitab Pengkhotbah 7:9, menyatakan: "Janganlah lekas-lekas marah dalam hati, karena amarah menetap dalam dada orang bodoh." Oleh karena itu kendalikanlah keinginan kita untuk marah. Orang bijak akan mampu mengelola kemarahannya, sehingga api kemarahan itu tidak membakar dirinya.

Amsal 14:29, " Orang yang sabar besar pengertiannya, tetapi siapa cepat marah membesarkan kebodohan

Bukit Zaitun

Bukit Zaitun bahasa Ibraniהר הזיתיםHar HaZeitim (Har: "bukit", Ha-Zeitim:Zaitun);bahasa Arabجبل الزيتون, الطور‎, Jebel az-Zeitunbahasa InggrisMount of Olives atau Mount Olivet) adalah pengunungan di yang terletak di sebelah Timur Yerusalem, dan untuk sampai ke sana terlebih dahulu melewati lembah Kidron. Bukit Zaitun memiliki 3 puncak yang membentang dari utara ke selatan. Puncak tertinggi, at-Tur, 818 meter (2,683 ft). Dinamai demikian karena pada waktu itu terdapat perkebunan Zaitun, di lerengnya. Bukit ini mempunyai hubungan sejarah dengan agama YahudiKristen dan juga Islam. Di tempat ini terdapat kuburan Yahudi yang sudah ada sejak 3000 tahun lalu dan memuat sekitar 150,000 makam.

Dari bukit ini, seseorang dapat melihat kota lama, bukit-bukit Yudea sampai laut Mati dan pegunungan Moab.

Makam beberapa Nabi dan Rabi

Sejak dulu, di tempat ini banyak dijumpai pekuburan orang-orang Yahudi, terutama di bagian selatan. Di sini juga di dapat ditemui makam yang diduga makam dari nabi Zakharia dan makam Absalon anak Daud. Di lereng sebelah atas, terdapat makam nabi-nabi Hagai, Zakharia (yang lain) dan Maleakhi. Juga ada makam rabi-rabi terkenal bangsa Yahudi.

Selama pemerintahan Yordania dari tahun 1948 sampai 1967, penguburan Yahudi dihentikan dan banyak perusakan terjadi. 40,000 dari 50,000 makam dirusak. Raja Hussein dari Yordania mengizinkan pembangunan Seven Arches Intercontinental Hotel di puncak Bukit Zaitun beserta jalan yang melalui kuburan sehingga menghancurkan ratusan makam Yahudi, termasuk yang dari zaman Bait Suci pertama. Setelah "Perang 6 Hari", restorasi dimulai dan kuburan dibuka lagi untuk penguburan.

Perdana Menteri Israel, Menachem Begin, minta dikuburkan di Bukit Zaitun dekat makam Meir Feinstein, anggota Irgun Etzel, tidak di makam nasional Bukit Herzl.

Peristiwa dan Kegiatan

  • Ketika megepung Yerusalem tahun 70 M, tentara Romawi dari Legio X Fretensis bermarkas di bukit ini. 
  • Upacara keagamaan untuk menandai bulan baru pada zaman Bait suci Kedua, juga dilakukan di sini. 
  • Setelah hancurnya Bait Suci, orang-orang Yahudi merayakan Sukkot (Hari Raya Pondok Daun-daunan) di Bukit Zaitun. 
  • Tempat berziarah 
  • Karena bukit ini terletak 80 meter lebih tinggi dari Bukit Bait Suci maka dari tempat ini seseorang dapat melihat pemandangan ke seluruh bukit bekas Bait Suci dihancurkan dan di sana, secara tradisi, mereka menangis dan meratapi kehancuran Bait suci, terutama pada hari raya Tisha B'Av.
  • Tahun 1481, seorang Yahudi Italia, Rabbi Meshulam Da Volterra, menulis: "Dan seluruh masyarakat Yahudi, tiap tahun, naik ke gunung Zion pada hari Tisha B'Av untuk berpuasa dan berduka, dan dari sana mereka berjalan turun sepanjang lembah Yosafat dan naik ke atas Bukit Zaitun." 

Ayat Terkait di Alkitab Ibrani / Perjanjian Lama

- 2 Samuel 15:30
Daud mendaki bukit Zaitun sambil menangis, kepalanya berselubung dan ia berjalan dengan tidak berkasut. Juga seluruh rakyat yang bersama-sama dengan dia, masing-masing berselubung kepalanga, dan emreka mendaki sambil menangis."
Peristiwa ini terjadi saat Daud melarikan diri dari putranya, Absalom. Tempat pendakian itu diduga berada di Timur kota Daud, dekat desa Silwan, sekarang.

Yehezkiel 11:23
"Lalu kemuliaan Tuhan naik ke atas dari tengah-tengah kota dan hinggap di atas gunung yang di sebelah Timur kota."

1 Raja-raja 11:7-8
"Pada waktu itu Salomo mendirikan bukit pengorbanan bagi Kamos, dewa kejijikan sembahan orang Moab, di gunung di sebelah timur Yerusalem dan bagi Molokh, dewa kejijikan sembahan bani Amon."

2 Raja-raja 23:13
"Bukit-bukit pengorbanan yang ada di sebelah timur Yerusalem di sebelah selatan bukit Kebusukan dan yang didirikan oleh Salomo, raja Israel, untuk Asytoret, dewa kejijikan sembahan orang Sidon, dan untuk Kamos, dewa kejijikan sembahan Moab, dan untuk Milkom, dewa kekejian sembahan orang Amon, dinajiskan oleh raja." 

Pada jaman raja Yosia, bukit ini disebut sebagai bukit kebusukan (Har HaMashchit -bahasa Ibrani, Mount of Corruption-bahasa Inggris). Karena tempat ini dipakai untuk penyembahan berhala, oleh isteri-isteri Salomo, maka tempat ini dihancurkan oleh raja Yosia. 

Zakharia 14:3-4
"TUHAN akan maju berperang melawan bangsa-bangsa itu seperti Ia berperang pada hari pertempuran. Pada waktu itu kaki-Nya akan berjejak di bukit Zaitun yang terletak di depan Yerusalem di sebelah timur. Bukit Zaitun itu akan terbelah dua dari timur ke barat, sehingga terjadi suatu lembah yang sangat besar; setengah dari bukit itu akan bergeser ke utara dan setengah lagi ke selatan."

Ayat terkait dalam Perjanjian Baru

Bukit Zaitun disebutkan berberapa kali di Perjanjian Baru:

Lukas 21:37
"Pada siang hari Yesus mengajar di Bait Allah dan pada malam hari Ia keluar dan bermalam di gunung yang bernama Bukit Zaitun."

Lukas 22:39
"Lalu pergilah Yesus keluar kota dan sebagaimana biasa Ia menuju bukit Zaitun. Murid-murid-Nya juga mengikuti Dia."

Peristiwa di atas terjadi saat Yesus berdoa di taman Getsemani. Sayangnya murid-murid-Nya yang mengikuti-Nya tertidur. Di dalam doa-Nya, Yesus minta dan mohon kepada Allah, jika boleh cawan yang pahit itu lalu daripada-Nya. Di tempat ini pula Yesus ditangkap.

Markus 11:1 (lihat juga Lukas 19:29)
"Ketika Yesus dan murid-murid-Nya telah dekat Yerusalem, dekat Betfage dan Betania yang terletak di bukit Zaitun, Yesus menyuruh dua murid-Nya."

Lukas 19:37
"Ketika Ia dekat Yerusalem, di tempat jalan menurun dari bukit zaitun mulailan semua murid yang mengiringi Dia bergembira dan memuji Allah dengan suara nyaring oleh karena segala mukzizat yang telah mereka lihat."

Kedua peristiwa di atas terjadi saat Yesus akan memasuki Yerusalem dan menyuruh dua orang mutid-Nya untuk mengambil keledai. Ketika Ia masuk ke Yerusalem, banyak orang yang mengelu-elukan nama-Nya.

Lukas 24:50-51
"Lalu Yesus membawa mereka keluar kota sampai dekat Betania. Di situ Ia mengangkat tangan-Nya dan memberkati mereka. Dan ketika Ia sedang memberkati mereka, Ia berpisah dari mereka dan terangkat ke sorga."

Tempat dimana Yesus terangkat ke sorga ini, jauhnya hanya seperjalanan Sabat dari Yerusalem.

Setiap langkah adalah Anugerah

BACAAN ALKITAB

"Aku bersyukur kepada-Mu, sebab Engkau telah menjawab aku dan telah menjadi keselamatanku." (Mazmur 118:21)

Renungan

Seorang Profesor diundang berbicara disebuah basis militer.
Di sana berjumpa dengan seseorang yang tidak mungkin dapat ia lupakan, yaitu Ralph, orang yang kebetulan diberi tugas untuk menjemputnya di bandara.

Ketika berada di bandara, Ralph sering menghilang, bukan untuk melepaskan tanggung jawabnya, tetapi ada saja yang dilakukannya.
Ia membantu seorang wanita tua yang kopernya terjatuh dan terbuka, sehingga isi koper jadi berantakan. Ia lalu mengangkat dua anak kecil, agar mereka dapat melihat sinterklas. Ia juga menolong orang tersesat dengan mengantar dan menunjukkan arah yang benar. Namun selesai semua itu, ia selalu kembali ke sisi sang Professor dengan senyum lebar.

Waktu di dalam mobil, sang Profesor  pun tak dapat menahan rasa penasarannya.
“Darimana anda belajar melakukan semuanya ini?” tanya sang Professor.
"Melakukan apa?” tanya Ralph.
“Anda belajar bersikap seperti ini?” desak sang Professor.
“Oh…, saya kira peranglah yang mengajari saya banyak hal” jawab Ralph.

Lalu ia bercerita sewaktu ditugaskan di Vietnam dengan timnya membersihkan ladang ranjau dan harus menyaksikan satu persatu dari teman-temannya tewas, terkena ranjau.

“Saya belajar hidup di antara pijakan setiap langkah” cerita Ralph berbinar. “Merasakan ketegangan di setiap langkah, karena saya tidak tahu apakah langkah berikutnya adalah pijakan terakhir saya. Yang sanggup aku lakukan tatkala saya dapat mengangkat kaki dengan aman adalah :  mensyukuri langkah sebelumnya.
Saya kira, sejak itulah saya menjalani kehidupan seperti ini.
Setiap langkah yang saya ayunkan adalah merupakan anugerah dan kesempatan baru untuk saya lalui dengan penuh rasa syukur.”

Pembelajaran

KEMULIAAN HIDUP tidak ditentukan oleh berapa lama kita hidup, tapi sejauh mana kita menjalani kehidupan dan bermakna bagi org lain.

NILAI MANUSIA  tidak ditentukan bagaimana cara ia mati, tapi . . .                                   bagaimana cara ia hidup.

KEKAYAAN MANUSIA  tak ditentukan oleh apa yang ia telah peroleh, tapi apa yang ia telah bagikan.

"Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan dan perbuatan, lakukanlah semuanya itu dlaam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita." (Kolose3:117)

Selamat menikmati dan syukurilah setiap langkah hidup Anda...
Ingat!!!
Setiap langkah, setiap kesempatan adalah : ANUGERAH !!!!! 🌼💐🌸

Kamis, 19 Desember 2019

Belajar dari Thomas

Bacaan Alkitab

Maka kata murid-murid yang lain itu kepadanya: "Kami telah melihat Tuhan!" Tetapi Tomas berkata kepada mereka: "Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya." (Yohanes 20:25)

Renungan

Dibenak kita, sering kali tanpa disadari kita merendahkan ketidak percayaan Thomas, tetapi berbeda dimata Tuhan…. Allah tahu sifat terdalam Thomas, oleh karena itu DIA mau “merekrut” Thomas menjadi murid-Nya. Dan sesudah kenaikan Tuhan ke Surga, maka Thomas adalah pekabar Injil yang memberitakan injil sampai ke India. Sampai menjadi martir di sana dengan cara mati di tusuk tombak.

Sore itu Thomas sangat sedih dan kecewa. Sejak melihat Yesus ditangkap dan
disalibkan, ia menjadi putus asa. Thomas kehilangan pegangan hidup. Ia
merasa usahanya selama tiga tahun mengikuti Yesus seolah-olah tidak ada gunanya. Rencana untuk mendapatkan jaminan hidup yang lebih baik bagi masa depannya, seolah-olah menemui jalan buntu. Ia sangat kecewa. Selain itu, ia juga sangat takut terhadap penguasa Yahudi. Ia takut ditangkap, karena dianggap sebagai murid Yesus. Maka ia pergi meninggalkan teman-temannya, menghilang.

Namun di luar, dia tidak menjumpai seorang sahabat yang dapat menghilangkan
kekecewaannya. Hatinya tetap diliputi rasa kecewa dan hatinya terasa gelap. Itulah sebabnya ia memutuskan untuk kembali ke tempat dimana para murid Tuhan berkumpul lagi. Ia menjadi sangat jengkel dan marah kepada mereka, karena waktu bertemu, mereka semua dengan nada seakan-akan menyalahkannya dan mengatakan sesuatu yang tidak masuk akal. Mereka mengatakan bahwa Tuhan sudah bangkit. Itulah sebabnya Thomas meledak amarahnya dan berkata : "Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya.". Semua teman-temannya terdiam, tidak tahu lagi bagaimana cara meyakinkan Thomas.

Thomas memang punya watak yang keras. Dialah yang juga pernah berkata kepada
Yesus untuk pergi dan mati bersama dengan Dia. Itulah sebabnya, Thomas sering dijuluki Si Anak Halilintar. Ia juga punya watak yang spontan, langsung bicara bila
tidak setuju. Thomas juga punya sifat untuk tidak mudah percaya apa kata orang. Kalau sudah melihat bukti baru dia percaya. Mungkin karena wataknya itu, Yesus senang kepadanya dan ingin agar dia menjadi muridnya.

Menarik sekali apa yang dilakukan oleh Tuhan Yesus kepada Thomas seminggu 
kemudian. Tuhan menampakkan diri lagi kepada para murid-Nya dan kepada Thomas. 

Secara pribadi Yesus berkata kepada Thomas: "Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah_."  Yohanes  20:27

Thomas kaget. Tidak diminta untuk memasukkan tangannya saja, Thomas jelas sudah percaya, karena sudah melihat Tuhan. Tetapi sekarang Tuhan memintanya untuk memasukkan tangannya ke bekas paku itu. Thomas menjadi terharu, tertegun dan menyesal. Dia tidak dapat berbuat apa-apa lagi, kecuali mengatakan :"Tuhanku dan Allahku". (Yoh 20:28)

Menarik untuk kita perhatikan, bahwa Tuhan tidak memarahi dan mencela ketidakpercayaan Thomas, apalagi menghukum Thomas. Tuhan memenuhi keinginan Thomas, yaitu menampakkan diriNya dan menyuruh Thomas memasukkan tangannya ke bekas paku di tangan-Nya. Tuhan menggunakan watak dan pribadi Thomas yang ada, untuk lebih percaya.

Tuhan menyapa Thomas melalui situasi pribadi dan wataknya yang khas, yang kadang oleh orang lain dianggap kurang baik. Bagi Tuhan ternyata watak seperti apapun dapat disapa dan dipergunakan.

Kalau kita melihat sifat dan watak kita masing-masing dan juga melihat sifat dan watak teman-teman kita, nampak jelas bahwa kita masing-masing berbeda.

Kita masing-masing mempunyai kekhasan dan keanehan sendiri-sendiri. Tetapi yang menarik adalah bahwa Tuhan tetap mencintai, menyapa dan mau menggunakan kita masing-masing dengan kekhasan kita. Tuhan tetap menggunakan pribadi kita masing-masing dalam karyaNya.

Ini berarti bahwa, bagaimanapun sifat kita, kita tidak usah takut untuk mau
digunakan oleh Tuhan. Bagaimanapun keadaan kita, kita tetap boleh percaya
dan dapat dibimbing untuk lebih percaya kepada Tuhan. Satu point penting disini adalah bahwa kita mau berubah dan lebih percaya kepada Tuhan

Kasih Tuhan tidak dibatasi oleh keanehan sifat pribadi kita, karena Dia menguasai dan lebih agung dari itu semua. Seperti Thomas marilah kita buka hati dan pribadi dengan kekhasan kita masing-masing untuk semakin percaya.
Dan seperti Thomas…. Penjumpaan kita secara pribadi dengan Allah akan membuat kita bisa berseru  seperti Thomas : “Tuhanku dan Allahku”

Tuhan memberkati…. !!

Rabu, 18 Desember 2019

Hosana, "Tuhan, tolonglah"

Bacaan Alkitab

Dan orang banyak yang berjalan di depan Yesus dan yang mengikuti-Nya dari belakang berseru, katanya: “Hosana bagi Anak Daud, diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, Hosana di tempat yang mahatinggi!” (Matius 21:9)

Pengajaran

Nas Alkitab kita diambil dari kisah masuknya Yesus ke Yerusalem saat Ia mengendarai seekor keledai. Nabi Zakharia sudah mengabarkan hal ini dengan perkataan: “Bersorak-soraklah dengan nyaring, hai puteri Sion, …Lihat, rajamu datang kepadamu” (Za. 9:9). Peristiwa masuknya Yesus ke Yerusalem ini tidak hanya diperingati pada masa Minggu Palmira, tetapi juga sebagai gambaran yang berkaitan dengan masa Adven saat ini. 

Hal ini karena masuknya Yesus ke Yerusalem adalah juga merupakan tanda bahwa Penguasa, Sang Raja itu telah muncul dan hadir. Istilah Adven mengacu pada penantian akan kedatangan dan kehadiran Penguasa, Sang Raja ini.

Hosana, "Tuhan, tolonglah”

Saat Yesus masuk ke Yerusalem, sekumpulan orang banyak mengikuti Yesus dan berseru-seru, “Hosana bagi Anak Daud, diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, Hosana di tempat yang mahatinggi!”. Hosana, berarti "Tuhan, tolonglah"

Melihat apa yang telah dilakukan Yesus sebelumnya, bagaimana Ia mengajar, bagaimana Ia menyatakan kuasa dan belas kasihan-Nya, Ia menyembuhkan orang sakit, mengusir setan, membangkitkan orang mati, mencelekkan mata yang buta, bahkan angin ribut pun tunduk kepada-Nya dan berbagai mukzizat lainnya yang telah Ia lakukan, orang banyak itu tahu bahwa Dia-lah, Raja yang dinantikan. Raja itu telah muncul, datang dan hadir di tengah-tengah mereka. Wajarlah kalau mereka akhirnya berseru-seru “Hosana bagi Anak Daud, diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, Hosana di tempat yang mahatinggi!”.

Sukacita akan kehadiran Sang Raja ini sangatlah dapat dipahami dan dimengerti, mengingat saat itu mereka berada dibawah penjajahan bangsa Romawi dan sangat mendambakan suatu kemerdekaan. Sehingga ketika mereka mendengar dan melihat, bagaimana Yesus mengajar, menyatakan belas kasihan dan menyatakan kuasa-Nya, kenyataan itu sangat menggoda bagi rakyat untuk menjadikan-Nya sebagai seorang raja (Yoh. 6:15) dan membebaskan mereka dari penjajahan bangsa Romawi. 

Demikianlah, ketika mereka tahu bahwa Yesus akan masuk ke Yerusalem, maka mereka mempersiapkan sambutan kemenangan untuk Yesus dan menyapa-Nya de-
ngan permohonan, “Hosana!” (“Tuhan, tolong! Tolonglah kami.”)

Pertolongan utama

Memang benar, melalui para nabi, Allah telah menyatakan bahwa Allah akan menolong dan memerdekakan mereka, Allah akan mendatangkan Sang Raja yang akan memerdekakan mereka. Tetapi pertolongan Allah, tujuan utamanya bukan untuk memberikan solusi-solusi bagi masalah-masalah hidup sehari-hari. Meskipun Ia juga tidak mengabaikan kekhawatiran kita akan kehidupan kita sehari-hari sebagai manusia. Keinginan Allah untuk memerdekakan manusia, membentang jauh
melampaui apa yang dibayangkan, dipikirkan dan diharapkan manusia, jauh melampaui ekspektasi manusia. 

Keinginan Allah yang terbesar adalah untuk memerdekakan manusia dari dosa dan membawa manusia kembali ke dalam persekutuan dengan Allah. Keinginan Allah ini jauh melampaui ekspektasi manusia. Dengan kemenangan Yesus Kristus atas kejahatan, kemenangan atas maut dan neraka, terbukalah akeses bagi manusia untuk masuk ke dalam persekutuan dengan Allah. Pertolongan-Nya adalah keselamatan yang final bagi manusia.

Pertolongan melalui kurban Yesus

Masuknya Yesus ke Yerusalem telah memberi harapan kepada manusia untuk dapat memperoleh pertolongan dalam perjuangan melawan dosa dan memerdekakan manusia dari ikatan dosa. Sebagai Manusia yang tidak berdosa, melalui pengorbanan-Nya di atas kayu salib, Ia telah membukakan dan memberikan akses kepada manusia untuk memperoleh pertolongan yang menyeluruh serta dapat menyelamatkan mereka dari kematian yang kekal.

Hosana untuk menjadi patut

Masa Adven, kembali mengingatkan lagi akan penantian kita pada kedatangan Tuhan kembali. Marilah kita mempersiapkan suatu penyambutan yang patut bagi kedatangan Tuhan.

Meskipun kita dapat memohon pertolongan kepada-Nya dalam segala kekhawatiran hidup kita, dan dalam hal ini kita sudah banyak mengalami campur tangan-Nya, namun, seruan “Hosana” kita pada saat ini hendaknya lebih terkait pada sesuatu yang lebih dari itu. Seruan, "Tuhan, tolonglah..." hendaknya lebih ditujukan pada permohonan pertolongan agar:
  • Tuhan menjadikan kita patut pada hari pengangkatan sidang jemaat pengantin perempuan.
  • Ia segera datang
  • kita dapat diperkenankan untuk meraih hidup yang kekal dan masuk ke dalam persekutuan yang kekal secara langusng, dengan Allah.
Permohonan dan penyembahan

Seruan “Hosana” juga berkaitan erat dengan permohonan tolong penyembahan kepada Tuhan yang akan datang kembali: “Ya TUHAN, berilah kiranya keselamatan! Ya TUHAN, berilah kiranya kemujuran! Diberkatilah dia yang datang dalam
nama TUHAN!” (Mzm. 118:25-26).

Permohonan tolong ini hendaknya dapat kita sertai dengan penyembahan dan memuji serta memuliakan nama Allah. Jika kita tidak pelit untuk menyatakan penyembahan dan dalam memuji serta memuliakan nama Allah, kita boleh merasa yakin bahwa pertolongan Allah akan kita alami sesuai kehendak-Nya.

Amin


Sukacita menyambut kedatangan Tuhan

Bacaan Alkitab

Beberapa waktu kemudian berangkatlah Maria dan langsung berjalan ke pegunungan menuju sebuah kota di Yehuda. Di situ ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet. Dan ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabet pun penuh dengan Roh Kudus. (Lukas 1:39-41)

Elisabet, ibu Yohanes Pembabtis dan Maria, ibu Yesus adalah dua tokoh ibu yang dipakai oleh Allah dalam rangkaian rencana-Nya atas keselamatan bagi bangsa-bangsa.

Ketika Maria berkunjung ke tempat Elisabet, maka bayi Yohanes yang masih dalam kandungan Elisabet melonjak kegirangan memberi respons. Ini terasa bagi Elisabet, bahkan selanjutnya dikatakan saat itu Elisabet dipenuhi dengan Roh Kudus.

Tampaknya ada sebuah kontak getaran bagi bayi Yohanes dalam kandungan Elisabet merespon kunjungan bayi Yesus dalam rahim Maria.

Tentu ini sangat luar biasa.

Kita tidak memahami sepenuhnya bagaimana ekspresi Elisabet dan Maria waktu itu, namun pastilah saat itu mereka berdua diliputi suasana yang penuh sukacita. Bahkan di ayat-ayat selanjutnya, Maria mempersembahkan nyanyian-nyanyian untuk memuji-muji dan memuliakan Allah.

Terinspirasi oleh bayi Yohanes yang melonjak kegirangan menyambut bayi Yesus yang sama-sama masih dalam kandungan, maka dalam setiap kesibukan dan setiap situasi kita saat ini,

  • biarlah kita seperti halnya bayi Yohanes; melonjak kegirangan menyambut peringatan hari kelahiran Tuhan Yesus Kristus
  • biarlah hati kita dibangkitkan untuk senatiasa melayani Dia dalam rel panggilan hidup kita yang sangat bervariasi. "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu." (Lukas 1:38)
  • biarlah kita tetap taat, tunduk, patuh dan setia kepada apa yang diajarkan dan diperintahkan Yesus, meskipun berbagai kesulitan, halangan dan rintangan ada di depan kita.
  • biarlah kita tetap memiliki iman yang teguh dalam masa penantian akan kedatangan-Nya yang keduakalinya di penghujung akhir zaman sesuai janji-Nya, untuk menjemput kita, umat milik-Nya.
  • Biarlah sukacita dalam menyambut kedatangan Kristus ini menjadikan kita dapat dipenuhi dengan Roh Kudus.

Tuhan Yesus menyertai dan memberkati kita.  Amin.

Selasa, 17 Desember 2019

Bunga Mawar untuk Ibu

Bacaan Alkitab


Hormatilah ayahmu dan ibumu - ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi. (Efesus  6:2-3)

Renungan

Seorang pemuda pergi ke sebuah toko bunga. Seperti tahun-tahun sebelumnya, tahun ini, dia juga tidak bisa pulang untuk merayakan Natal bersama ibunya, yang sudah tingal sendiri, jauh dari tempat tinggalnya saat ini. Jadi dia pergi ke toko bunga, sama seperti tahun-tahun sebelumnya, untuk membeli dan mengirim bunga ke ibunya yang tinggal di Negara Bagian lain.

Seperti biasa, dia memilih bunga kesukaan ibunya dan membayar bunga tersebut serta meminta kepada karyawan disana untuk sekalian mengirimkan bunga tersebut ke ibunya.

Ketika dia akan keluar dari toko itu, dia mendengar seorang anak perempuan kecil sedang menawar untuk sekuntum bunga mawar dan sepertinya dia tidak memiliki uang yang cukup untuk membayar sekuntum bunga mawar tersebut. Pemuda ini mendekat dan berkata :

P    : bunga yang mana yang akan kau pilih?
AP : Tuan aku hanya punya uang 2 dollar, sedangkan harga bunga ini 7 dollar.
P    : kamu boleh ambil 10 tangkai, dan aku yang akan membayarnya.
P    : Tapi...., ngomong2 untuk siapa bunga ini...?
AP : untuk ibuku…. (dengan gembira) dia wanita yang paling cantik dan paling baik           di dunia……
P    : kalau begitu, aku antar ke tempat ibumu……. Dimana rumah ibumu?
AP : sambil menyebut nama tempat ibunya, dia pun ikut naik ke mobil pemuda ini.

Tidak jauh dari toko itu, sampailah mereka di tempat yang dituju, dan anak perempuan ini turun ……
P    : koq..., aku tidak melihat satu rumah pun di sini? Yang mana rumah ibumu?
AP : itu yang ditengah…. (sambil tersenyum riang, dia menunjuk salah satu pusara,             yang masih baru). Ibuku telah meninggal setahun yang lalu, sambil meletakkan           bunga mawar di atas pusara itu……. Terima kasih tuan…..

Melihat hal ini, pemuda ini termenung sejenak, dan memutuskan  untuk kembali ke toko bunga tadi. Dia mengambil bunga yang akan di kirim ke ibunya, dan memutuskan untuk mengirim sendiri bunga itu, walaupun harus berkendara sekitar 500km.

Aku masih beruntun dan bersyukur masih memiliki ibu, dan aku harus menemuinya di hari Natal tahun ini.

Indahnya Memberi - Indahnya Berbagi. Bahagianya Memberi

Seorang dosen yang dikenal bijaksana, tengah berjalan santai bersama seorang mahasiswa di taman kampus. Tidak lama keduanya melihat ada sepa...