Jumat, 28 Juni 2019

Spiritisme

Spiritisme adalah suatu paham yang dianut dalam upaya untuk berkomunikasi dengan makhluk roh atau arwah (jiwa) orang-orang yang sudah meninggal. Biasanya upaya ini dilakukan, baik secara langsung maupun melalui perantara dukun, cenayang atau paranormal.

Kegiatan ini bukanlah sesuatu yang baru. Sejak zaman Perjanjian Lama hal ini sudah dilakukan. Dikitab Yesaya dapat kita baca, bahwa di Mesir, kegiatan dan paham ini sudah ada, "... maka mereka akan meminta petunjuk kepada berhala-berhala, dan kepada tukang jampi-jampi, kepada arwah dan kepada  roh-roh peramal." (Yesaya 19:3).

Saat orang-orang Filistin akan menyerang Israel dan raja Saul melihat betapa kuat dan banyaknya kekuatan orang-orang Filistin, maka gemetarlah dia, sehingga ia berseru dan bertanya kepada Tuhan, tetapi Tuhan tidak menjawabnya, baik melalui mimpi, urim maupun melalui para nabi. Ditengah kekalutannya, raja Saul telah meminta untuk mendapatkan seseorang yang dapat memperantarakannya untuk dapat berkomunikasi dengan Samuel, yang pada saat itu telah meninggal. Padahal, sebelumnya raja Samuel telah mengusir para pemanggil arwah dan peramal dari Israel. Oleh para pembantunya, ia ditunjukkan bahwa di En-Dor ada seorang wanita yang dapat melakukannya. Setelah ia datang ke sana, bertemulah ia dengan perempuan yang dimaksud. Dan meski awalnya perempuan ini menolak, karena akhirnya ia tahu siapa yang dihadapannya, tetapi akhirnya si perempuan ini mau untuk memanggil arwah Samuel, sehingga raja Saul dapat berbicara dengan Samuel. (Yesaya 28).

Terakit dengan kejadian di atas, banyak teolog Kristen dan beberapa reformis, yang menolak pandangan atau pendapat bahwa perempuan tersebut benar-benar berjumpa dengan Samuel. Mereka berpendapat bahwa, yang dilihat wanita tersebut, hanyalah bayang-bayang dari Samuel atau khayalan saja.

Meski demikian, terlepas dari perdebatan tentang kemunculan Samuel, Allah melarang umat Israel untuk melakukan kegiatan ini. Pada bangsa Israel diajarkan untuk meminta petunjuk kepada Allah, bukan pada orang-orang yang sudah mati. (Yesaya 8:19). Dan Allah juga melarang kita untuk mempraktekan kegiatan spritisme ini. Di dalam kitab Ulangan 18:10-12 tertulis, "Diantaramu janganlah didapati seorangpun yang... menjadi petenung, seorang peramal, seorang penelaah, seorang penyihir, seorang pemantera, ataupun seorang yang bertanya kepada arwah atau kepada roh peramal atau yang meminta petunjuk kepada orang-orang mati. Sebab setiap orang yang melakukan hal-hal ini adalah kekejian bagi Tuhan, dan oleh karena kekejian-kekejian inilah Tuhan, Allahmu, menghalau mereka dari hadapanmu."

Dikitab Imamat, juga dijelaskan bahwa kegiatan atau paham spiritisme ini dilarang dan najis dihadapan Allah, "Janganlah kamu  berpaling kepada arwah atau kepada roh-roh peramal; janganlah kamu mencari mereka dan demikian menjadi najis karena mereka; Akulah Tuhan, Allahmu." (Imamat 19:31). Selanjutnya dalam Imamat 20:6, tertulis, "Orang yang berpaling kepada arwah atau kepada roh-roh peramal, yakni yang berzinah dengan bertanya kepada mereka, Aku sendiri akan menentang orang itu dan melenyapkan dia dari tengah-tengah bangsanya."

Demikianlah, kita diharapkan agar tidak meminta seseorang untuk melakukan kegiatan spiritisme, dengan meminta petunjuk kepada roh-roh dari orang-orang yang sudah mati dan juga tidak melakukan kegiatan spiritisme. Melainkan sebagaimana yang telah dinasehatkan kepada untuk senantiasa meminta petunjuk kepada Allah kita, Allah Sang Bapa, Allah yang Maha Kuasa dan Allah yang Maha Tahu.

Senin, 24 Juni 2019

Dipilih Sesuai Rencana Allah

BACAAN ALKITAB

Yaitu orang-orang yang dipilih, sesuai dengan rencana Allah, Bapa kita, dan yang dikuduskan oleh Roh, supaya taat kepada Yesus Kristus dan menerima percikan darah-Nya. Kiranya kasih karunia dan damai sejahtera, makin melimpah atas kamu. (1 Petrus 1:2)


PENGAJARAN

Sesuai dengan rencana keselamatan, yang telah dicanangkan oleh Allah untuk menyelamatkan setiap jiwa, maka Allah juga telah memanggil dan memilih kita, bahkan sebelum dunia dijadikan, untuk diselamatkan. "Sebab di dalam Dia, Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat dihadapan-Nya. Di dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya" (Efesus 1:4-5). 

Pilihan Allah yang jatuh pada diri kita, bukanlah oleh karena suatu kebetulan atau karena perbuatan-perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi lebih pada kasih karunia, kehendak dan sesuai dengan rencana Allah. Tidak ada seorang pun yang dapat menuntut Allah untuk memilihnya, karena mereka merasa telah berjasa atau telah melakukan perbuatan-perbuatan baik. Memang pilihan Allah yang jatuh pada diri kita adalah suatu misteri, tidak bisa dipahami secara akal. Pilihan atas diri kita hanya dapat dipahami melalui iman. Allah memberikan karunia pilihan atas diri kita berdasarkan kehendak-Nya sendiri. 

Meski Allah telah memilih kita, tetapi Allah tidak pernah memaksa seseorang. Adalah keputusan masing-masing orang untuk menerima atau menolak pilihan Allah, atas dirinya. Di sisi lain, tidak bisa kita memaksa Allah untuk tidak memilih seseorang, yang menurut kacamata kita, tidak layak untuk dipilih sebagai anak-anak Allah atau pilihan Allah. "Sebab Ia berfirman kepada Musa: "Aku akan menaruh belas kasihan kepada siapa Aku mau menaruh belas kasihan dan Aku akan bermurah hati, kepada siapa Aku mau bermurah hati." (Roma 9:15).

Ketika Allah telah memilih kita, Ia juga mengkuduskan diri kita melalui pekerjaan dan aktivitas Roh Kudus dalam firman dan sakramen-sakramen. Kekudusan yang kita terima, menempatkan diri kita di atas jalan yang telah diletakkan oleh Tuhan, untuk dapat sampai pada persekutuan yang kekal dengan Allah Tritunggal. Melalui aktivitas Roh Kudus ini, kita senantiasa diingatkan akan pengajaran dan perintah-perintah Tuhan Yesus, sehingga kita dapat memiliki ketaatan dan kesetiaan pada Kristus. Ketaatan dan kesetiaan pada Kristus ini, hendaknya bukan menjadi cermin dari ketakutan kita akan kuasa Allah, melainkan lebih karena kasih kita kepada Allah, dan biarlah hal ini juga tercermin dalam kasih, baik kepada Allah maupun pada sesama.

Kekudusan yang dikerjakan oleh Roh Kudus pada diri kita dalam Kemeteraian Suci, menjadikan kita layak untuk menerima percikan darah Tuhan Yesus dalam Perjamuan Kudus, sehingga kita menjadi suci dihadapan Allah dan kasih karunia serta damai sejahtera makin berlimpah pada diri kita dan menjadikan kita kaya dalam Kristus. Pada saat sebelum Tuhan Yesus Kristus mempersembahkan kurban di atas kayu salib, kekudusan, dapat diperoleh melalui darah domba jantan dan lembu jantan dan percikan abu lembu muda. Dengan cara demikian, manusia dapat dikuduskan dari kenajisan dan disucikan secara lahiriah. Tetapi setelah kematian Tuhan di atas kayu salib dan kemenangan-Nya atas maut dan neraka, kesucian hati nurani kita, dapat diperoleh melalui percikan darah Tuhan dalam Perjamuan Kudus. (Ibrani 9:13-14)

Sesuai rencana pekerjaan keselamatan Allah, dimana Allah ingin menyelamatkan setiap jiwa, maka ketika Allah memilih kita, Ia tidak hanya ingin menyelamatkan jiwa kita, tetapi Ia pun memberikan tugas kepada kita untuk mengabarkan Injil Kristus dan menjadi jalan bagi para jiwa untuk dapat memperoleh keselamatan. Kita dipilih untuk ikut bekerja di dalam rencana pekerjaan keselamatan-Nya. Sebab kalau kita cermati, ketika Allah menjatuhkan pilihan-Nya kepada seseorang, di dalamnya melekat akan tugas dan tanggung jawab yang menyertai akan pilihan Allah tersebut. Itulah sebabnya, ketika Allah telah memilih kita untuk menjadi anak-anak-Nya, tidak bisa kita hanya berdiam diri akan pilihan ini. Kita harus ikut bekerja untuk menjadi terang dan jalan bagi setiap jiwa yang mendambakan akan keselamatan.  Itulah sebabnya, kita disebar ke "ladang persemaian", agar dapat tumbuh, menghasilkan buah dan benih yang baru. Jangan takut, karena Tuhan Yesus mengatakan, "... Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman," meski di ladang persemaian itu, kita hanya sendiri dan sebagai pendatang.

Pada masa ini, ketika banyak sekali tawaran yang diberikan oleh dunia, pilihan Allah pada diri sesorang, menjadi terkaburkan. Banyak orang yang sudah tidak mengenali lagi akan pilihan Allah pada dirinya. Tuhan Yesus menjadi suatu contoh yang Agung bagi kita. Pada saat Yesus dicobai iblis, yang akan memberikan seluruh dunia ini asal Ia mau menyembah iblis, Yesus sadar akan pilihan Allah pada diri-Nya, dan Ia dapat senantiasa mengingat dan mengenali akan pilihan Allah ini, untuk melaksanakan suatu tugas yang sedemikian agung, menyelamatkan manusia dari dosa. Pengenalan dan kesadaran akan tugas yang diberikan Allah kepada diri-Nya, mendorong Yesus untuk menolak tawaran iblis.

Oleh karena itu, marilah kita senantiasa dapat mengenali dan menyadari akan pilihan Allah yang telah jatuh pada diri kita. Jangan sampai tawaran dunia yang sangat menggiurkan itu, dapat mengaburkan pandangan kita akan pilihan Allah pada diri kita. Marilah kita dapat senantiasa menjaganya dan bersetia hingga pada akhirnya. Dan janganlah kita melupakan akan tugas dan tanggung jawab yang melekat pada pilihan ini, untuk dapat menjadi jalan bagi para jiwa yang telah dipilih oleh Allah, domba-domba Kristus, yang saat ini masih ada di kandang lain, untuk dapat dihantarkan kepada Yesus.

Pemberitaan Injil Kristus dan kesaksian kita akan karunia, kemurahan dan kebaikan Allah yang menyertai pilihan Allah pada diri kita, hendaknya dapat dilihat, didengar dan dirasakan oleh orang lain, melalui sikap, sifat, perilaku dan perkataan kita.

Amin

Jumat, 21 Juni 2019

Satu Tubuh, Satu Roh

BACAAN ALKITAB

Sebab dalam satu Roh, kita semua, baik orang Yahudi maupun orang Yunani, baik budak, maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh. (1 Korintus 12:13)

PENGAJARAN

Setelah peristiwa turunnya Roh Kudus, seperti yang dijanjikan Tuhan Yesus, pada hari Pentakosta, Roh Kudus tetap bekerja hingga saat ini di dalam gereja Kristus. Sepanjang sejarah kekristenan, meski zaman telah berubah, tetapi kinerja Roh Kudus dalam memberitakan rencana dan pekerjaan keselamatan Allah di dalam diri Tuhan Yesus, sebagai Sang Putra Allah, terus dapat dirasakan. Roh Kudus tidak pernah berhenti untuk menabur benih iman, pengharapan dan kasih pada Yesus dan menempatkan mereka yang percaya, dalam gereja Kristus dan menjadi bagian dari tubuh Kristus, melalui Baptisan Suci dengan air dan Roh.

Aktivitas Roh Kudus juga terus berlanjut dari generasi ke generasi dan menyebar ke seluruh ujung penjuru dunia yang terpencil, untuk menanamkan benih iman, pengharapan dan kasih ini. Benih yang telah ditabur ini, dipelihara melalui pemberitaan Injil, firman dan sakramen yang kita terima dalam kebaktian. Melalui cara yang sedemikian ini, iman orang-orang Kristen diteguhkan terhadap berbagai pencobaan, penggodaan serta berbagai kelemahan dan kekurangan yang nampak dalam gereja Kristus dan hamba-hamba Allah yang melayani.

Melalui Roh yang satu, para hamba Allah, di dalam para Rasul Tuhan dan para pembantunya semua, menyatakan aktivitasnya untuk menyalurkan berbagai karunia Roh dan sakramen. Sesuai dengan apa yang ditugaskan oleh Yesus kepada para muridNya, "Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka di dalam nama Bapa, dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang Ku perintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertaimu sampai akhir jaman." Itulah sebabnya para Rasul terus bekerja ke seluruh ujung bumi, hingga pada masa sekarang ini. Mereka juga memberitakan akan kedatangan Tuhan Yesus yang segera, untuk menjemput pengantin perempuan Tuhan dan mempersiapkannya bagi hari-Nya Tuhan. Berita akan kedatangan Tuhan ini, senantiasa disampaikan untuk menumbuhkan dan mempertahankan kerinduan akan kedatangan Tuhan di dalam hati setiap anak-anak Allah.

Melalui Roh yang satu,  sidang-jemaat-sidang jemaat, kumpulan orang-orang percaya, yang memiliki karakteristik masing-masing, yang mencerminkan kehidupan bermasyarakat di tempat itu, mendapatkan pelayanan dari Roh yang sama. Roh Kudus bekerja melalui firman dan sakramen untuk menguatkan iman para percayawan dan memelihara kasih mereka kepada Kristus. Melalui pelayanan Roh yang satu ini, yang dikerjakan melalui para Rasul dan hamba-hamba Allah lainnya, menumbuhkan hubungan timbal balik, dimana para percayawan juga mendukung pekerjaan para Rasul dan hamba-hamba Allah lainnya melalui doa-doa, pelayanan dan kurban mereka.

Sebagai bagian dari tubuh Kristus, yang mendapatkan makanan dan aliran air kehidupan dari Roh yang satu, setiap pribadi para percayawan, juga dapat merasakan aktivitas Roh Kudus secara pribadi. Kelahiran baru dengan air dan Roh, telah menjadikan kita sebagai suatu ciptaan yang baru. Biarlah Roh yang satu, yang telah ditanamkan kepada kita, dapat bekerja untuk mengaliri, mengajar, memimpin dan mendorong kehidupan ilahi dalam diri setiap anak Allah dan memenuhi mereka akan kasih Allah. Pertumbuhan, pembaharuan dan perkembangan yang dilakukan oleh Roh Kudus hendaknya jangan sampai terhalang oleh berbagai kondisi yang mengelilingi kita. Meski demikian hal yang sangat penting, yang perlu dimiliki oleh setiap para percayawan adalah, sebagaimana manusia yang membutuhkan akan makan dan minum, demikian juga kebutuhan akan makanan rohani dan air kehidupan, hendaknya timbul dari diri setiap para percayawan dan anak-anak Allah.
Dengan cara sedemikianlah, seseorang akan benar-benar tumbuh sebagai suatu ciptaan yang baru oleh karena aktivitas Roh Kudus yang satu, yang akan membawa kita kepada suatu kedewasan yang sama, dalam Kristus.

Melalui Roh yang satu inilah, Tubuh Kristus dipelihara dan dirawat, tidak peduli ia berasal darimana dan peran kita apa, tetapi kita semua dirawat dan dipelihara oleh satu Roh, yang telah kita terima melalui Baptisan dengan Roh Kudus, dalam suatu Kemeteraian Suci, mengarah pada kedewasaan Kristus.

Amin

Senin, 17 Juni 2019

Kita adalah Anak-anak Allah

BACAAN ALKITAB


Semua orang yang dipimpin oleh Roh Allah, adalah anak Allah. Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima roh  yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh roh itu kita berseru: "ya Abba, ya Bapa!" Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah. Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang -orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia  (Roma 8:14-17)

PENGAJARAN

Sejak manusia terjatuh ke dalam dosa, manusia menjadi terpisah dari Allah. Namun berdasarkan kasih Allah, manusia tidak dibiarkan terus dalam keadaan yang demikian, melainkan melalui jasa kurban Yesus di atas kayu salib, manusia mendapat kesempatan untuk memilik persekutuan kembali dengan Allah. Bahkan melalui kelahiran baru dengan air dan Roh, manusia tidak hanya dapat dibebaskan dari dosa, melainkan dapat menjadi suatu ciptaan yang baru, memiliki ke-anak-an di dalam Allah dan menjadi anak-anak Allah, sehingga kita dapat berseru kepada Allah, "Ya Abba, ya Bapa". Seruan ini, bukanlah suatu seruan ketakutan dari seorang hamba yang teraniaya, melainkan suatu ungkapan pengandalan yang penuh, akan kasih dan kedekatan dari seorang anak kepada Bapa-Nya.

Setelah Tuhan Yesus dibaptis di sungai Yordan oleh Yohanes, Roh Kudus turun kepada-Nya dan terdengarlah suara dari sorga yang mengatakan: "Inilah anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan." (Maitus 3:17). Selanjutnya iblis mencobai Yesus di padang gurun, dengan mengatakan: "jika Engkau anak Allah.... (Matius 4:3-6). Di sini iblis menantang Yesus untuk membuktikan bahwa diri-Nya adalah, benar, anak Allah. Tetapi Yesus menolaknya. Bagi-Nya, pernyataan Allah Bapa sudah cukup, "Inilah anak-Ku ...."

Saat ini pun, kita juga dicobai oleh iblis, di padang gurun kehidupan. Penderitaan, kesesakan, kesusahan, kesulitan hidup dan kesedihan mengelilingi kita. Iblis pun hadir, mencibir dan menantang kita, "jika engkau sungguh-sungguh anak Allah mengapa Allah tidak datang untuk mengubah hidupmu?" Di saat-saat sedemikian, tidak menutup kemungkinan, kita akan meragukan ke-anak Allah-an yang telah diberikan kepada kita. Kita menuntut sang Bapa untuk memberikan mukzizat-mukzizat yang spektakuler, sebagai bukti bahwa kita adalah sungguh-sungguh anak Allah dan Allah mengasihi kita sebagai anak-Nya.

Sebenarnya, saat kita menerima karunia Roh Kudus atau Kemeteraian Suci, Roh Kudus tidak hanya menjadikan kita sebagai anak-anak Allah, tetapi Roh Kudus juga menjadi sumber penghiburan bagi kita dan Ia akan menuntun kita di atas segala jalan kebenaran, dan mengingatkan kembali akan apa yang telah diajarkan dan dijanjikan Allah kepada kita, melalui firman-firman-Nya. (Yohanes 14:26).

Disaat-saat pencobaan dan penggodaan, sehingga kita menjadi lemah, Roh Kudus akan membantu dan berdoa bagi kita. (Roma 8:26). Pengertian dan pemahaman akan hal ini memberikan tenaga, penghiburan dan memberi kepastian kepada kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah dan Allah adalah Bapaku, sehingga kita tidak memerlukan lagi mukzizat-mukzizat, karena bagi kita pernyataan Allah Sang Bapa, sudah cukup.

Roh Kudus juga mengaruniakan kepada kita pengertian dan pemahaman bahwa Allah tidaklah jauh dari kita. Allah hanyalah sejauh doa kita. Allah sedemikian dekatnya dengan kita. Pemahaman ini bukanlah sebuah fantasi. Yesus, yang telah menang atas maut dan neraka, juga ada dipihak kita. Pemahaman dan pengertian akan kedekatan dan kasih Allah Bapa dan Tuhan Yesus ini, hendaknya dapat memberikan penghiburan, tenaga dan menjadikan kita merasa aman, tenang dan tentram.

Pemahaman dan pengertian, bahwa kita adalah anak-anak Allah, dan Allah Tritunggal telah menyatakan kasih karunia-Nya kepada kita, hendaknya juga mendorong kita untuk senantiasa:

  • Bersyukur dan berterima kasih
  • Menaruhkan iman, kepercayaan, pengandalan dan pengharapan kita pada-Nya, seperti seorang anak, karena kita percaya, Ia akan memberikan yang terbaik untuk kita
  • Memiliki damai sejahtera dan sukacita, serta menjadikan sifat dan terang Kristus - Allah Sang Bapa, ada pada diri kita, sehingga kita juga dapat menjadi pembawa damai dan sukacita bagi sesama.
  • Mendengarkan firman-firman-Nya, perintah-perintah-Nya dan mencari kehendak-Nya di dalam setiap kebaktian, serta berpegang dan menempatkan diri di bawah kehendak Allah.
  • Merindukan akan kedatangan Tuhan Yesus dan persekutuan yang kekal dengan Allah, karena bersama-sama dengan Yesus, sebagai yang Sulung, kita juga menjadi ahli waris Kerajaan Sorga (Roma 8:17)
Amin

Jumat, 14 Juni 2019

Bersukacitalah I

BACAAN ALKITAB

Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: bersukacitalah! (Filipi4:4)

PENGAJARAN

Rasul Paulus menasihati kita, : Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: bersukacitalah! (Filipi4:4). Yang jadi pertanyaan, apa yang dapat menjadikan kita bersukacita? Pastilah kita semua sepakat, bahwa yang dapat menjadikan kita bersukacita adalah, kalau kita mendapatkan berbagai keberhasilan, kalau kita mendapatkan rejeki yang berlipat ganda, kalau apa yang jadi harapan, keinginan dan cita-cita dapat terpenuhi, kalau kita diberikan kesehatan, dan lain2 yang bersifat jasmani.

Tetapi, apa yang kemudian juga dinasihatkan Rasul Paulus di Efesus 1:3? Rasul Paulus mengatakan : "Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga."

Kembali pertanyaan diajukan, bisakah kita mengenali akan berkat rohani yang telah dan senantiasa akan diberikan Allah kepada kita? Apakah kita bisa menilaikan berkat rohani yang telah dan disediakan Allah bagi kita? Apakah justru kita akan berkata kepada Allah, " Ya Allah berkat rohani itu, nanti saja. Saya khan masih muda, masih banyak cita-cita dan harapan yang ingin saya raih. Toh hidup saya masih panjang. Berikanlah saya berkat-berkat jasmani dulu. Engkau lihat ya Allah, saya masih sangat kekurangan, saya masih banyak kebutuhan yang perlu dicukupi, tolonglah saya untuk menyelesaikan masalah-masalah kehidupanku, dulu. Berkat rohani, nanti saja!"

Apakah benar demikian?

Tuhan Yesus mengajar kita: " Tetapi carilah dahulu kerajaan Allah dan segala kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu." (Matius 6:33) Tuhan Yesus tidak hanya menasihati kita untuk mencari kerajaan Allah saja, tetapi juga mengatakan, "... Ada tertulis: "manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah." (Matius 4:4).

Allah, sebenarnya telah menyediakan dan mengaruniakan berkat rohani yang sedemikian besar dan agung kepada kita. Sayang, tidak banyak manusia yang dapat mengenali akan hal ini. Kalau toh mereka dapat menegenali, mereka masih merasa belum cukup, karena terhimpit oleh masalah-masalah dunia dan kehidupan mereka. Akibatnya, mereka terus menuntut kepada Allah dan tidak mampu untuk bersyukur bersukacita. Mereka bersungut-sunguy, wajah mereka kusut, muram dan tidak berseri. Mereka tidak mampu mengenali akan kasih, kemurahan dan karunia yang telah diberikan Allah kepada mereka.

Mari kita merenungkan sejenak, berapa banyak dan betapa besar, kasih karunia dan kemurahan yang telah Allah berikan kepada kita. Ia telah mengaruniakan kepada kita, berkat-berkat rohani. Tidakkah kita bersukacita oleh karenanya.
  1. Allah telah memilih kita berdasarkan kasih-Nya dan melalui karunia Roh Kudus yang telah ditanamkan kepada diri kita, menjadikan kita memiliki ke-Anak-an di dalam Allah, kita menjadi umat milik-Nya. Dengan ke-Anak-an di dalam Allah, yang telah diberikan kepada kita, kita dapat memanggil Beliau, ya Abba, ya Bapa dan menjadikan kita sebagai ahli waris kerajaan sorga, bersama-sama dengan Tuhan Yesus, sebagai yang sulung. Berdasarkan kasih, Allah juga telah membukakan jalan keselamatan bagi kita.
  2. Jasa kurban Yesus di atas kayu salib, adalah bukti akan kasih Tuhan Yesus, baik kepada Allah Sang Bapa mau pun kepada manusia. Berdasarkan jasa kurban Tuhan Yesus inilah, terbukalah jalan kelepasan bagi manusia dari jeratan ikatan dosa, sehingga memungkinkan manusia untuk memperoļeh kelepasan dan persekutuan kembali dengan Allah.
  3. Roh Kudus yang telah dikaruniakan Allah kepada kita, juga telah menuntun kita di atas segala jalan kebenaran dan melalui kinerja Roh Kudus, kita dipersiapkan bagi hariNya Tuhan, sebagai sidang pengantin perempuan Tuhan.
  4. Firman pengampunan dosa dan Perjamuan Kudus, dengan penerimaan tubuh dan darah Yesus, menjadikan kita memiliki persekutuan kembali dengan Tuhan Yesus, "Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku, dan Aku di dalam dia." (Yohanes 6:56)
Bisakah kita mengenali dan melihat hal ini sebagai alasan bagi kita untuk berukacita? Ataukah kita sudah dibutakan dengan segala beban keberatan dan kesesakan yang kita alami? Marilah kita kita merenungkan kembali seberapa banyak karunia dan berkat yang telah diberikan kepada kita, berkat rohani dari sorga yang telah diberikan dan dicadangkan bagi kita.

Jika kita sudah dapat mengenali berkat karunia Allah yang telah diberikan dan dicadangkan bagi kita, sehingga menjadikan kita bersukacita, janganlah hal itu kita simpan sendiri. Mari kita berbagi sukacita, sehingga sukacita itu dapat terdengar sampai jauh, seperti yang dilakukan oleh orang Israel, kita mereka merayakan dan pesta pora, bersorak sorai saat pembangunan tembok Yerusalem yang baru, telah selesai dan mereka melakukan pentabisan terhadap tembok itu, seperti yang tertulis dalam Nehemia 12:43, "Pada hari itu mereka mempersembahkan korban yang besar. Mereka bersukaria karena Allah memberi mereka kesukaan yang besar. Juga segala perempuan dan anak-anak bersukaria, sehingga kesukaan Yerusalem terdengar sampai jauh."

Ketika kita sudah dapat mengenali karunia rohani dari sorga yang telah diberikan kepada kita, yang melebih segala sesuatu yang diberikan oleh dunia, marilah kita senantiasa dapat bersukacita dan mari kita berbagi sukacita ini dalam kata perbuatan dan sikap kita, sehingga sukacita ini dapat juga dialami, dilihat, didengar dan dirasakan oleh orang lain.

Sukacita ini hendaknya

  • tampak dari raut wajah kita yang berseri, yang senantiasa tersungging senyum di mulut kita
  • terdengar melalui senandung dan doa kita
  • dirasakan oleh orang lain, dari keceriaan dan keramahan kita


Dengan berbagi sukacita ini,

  • Sukacita kita pun akan bertumbuh dan berkembang menjadi berlipat ganda
  • Kita bisa saling membantu dengan sesama untuk dapat bersukacita
  • Kita dapat mengajar anak-anak untuk senantiasa bersukacita
  • Timbul rasa syukur dan terima kasih kepada Allah yang mendorong kita untuk dapat mempersembahkan kurban dan melayani Dia.
Amin.


Sabtu, 08 Juni 2019

Pentakosta I: Satu Tubuh Dalam Roh

BACAAN ALKITAB

Sebab dalam satu Roh, kita semua, baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, baik budak maupun orang merdeka, telah dibaptis  menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh. (1 Korintus 12:13)

PENGAJARAN

Hari raya Pentakosta, memperingati hari pencurahan Roh Kudus dan sekaligus memperingati kelahiran Gereja Kristus. Saat-saat sedemikian ini, merupakan kesempatan bagi kita, untuk merayakan kuasa Allah, kuasa Roh Kudus dan memuliakan-Nya.

Sejak pencurahan Roh kudus kepada para murid Yesus, yang kemudian mejadi para Rasul-Nya, Roh Kudus bekerja dengan penuh kuasa di dalam gereja Kristus. Sepanjang sejarah kekristenan, meski telah terjadi banyak perubahan jaman, Roh Kudus masih senantiasa memberitakan bahwa Yesus Krrsitus adalah Sang Putra Allah. Roh Kudus juga tidak pernah berhenti, untuk mengaruniakan iman kepada setiap umat manusia dan membawa mereka masuk dan menjadi bagian dari gereja Kristus, melalui baptisan dengan air dan Roh.

Selain itu, Roh Kudus juga senantiasa berusaha untuk memastikan bahwa iman kepada Yesus Kristus dapat senantiasa diteruskan dan secara berkesinambungan terus berlanjut dan bertumbuh dari generasi ke generasi, sampai ke bagian terpencil dari dunia ini.

Melalui pemberitaan Injil, yang dikerjakan oleh Roh Kudus, iman orang-orang Kristen dipelihara, agar mereka dapat tetap setia kepada Kristus dan melayani Dia, meski banyak penggodaan-penggodaan dan adanya kekurangan-kekurangan yang dijumpai dan terlihat pada gereja Kristus.

Pada masa sekarang ini, aktivitas dan kuasa Roh Kudus dapat kita alami secara istimewa melalui aktivitas para Rasul yang hidup. Melalui otoritas yang dikaruniakan Roh Kudus kepada mereka, para Rasul hingga saat masih bekerja untuk memberitakan Injil Kristus, memberitakan firman pengampunan dosa dan menyalurkan sakramen-sakramen. Melalui aktivitas Roh Kudus ini, para rasul juga memberitakan akan kedatangan kembali Tuhan Yesus, yang sudah dekat, untuk menjemput sidang pengantin perempuan Yesus. Kelompok rasul ini juga mempersiapkan mereka yang percaya, untuk menjadi sidang pengantin perempuan Tuhan, untuk dapat ikut ambil bagian bagi hari-Nya Tuhan dan senatiasa menumbuhkan kerinduan dalam hati setiap anak Allah untuk dapat segera berada bersama-Nya, dalam suatu kemanunggalan yang kekal.

Orang-orang percaya berkumpul membentuk sidang jemaat-sidang jemaat Tuhan, dengan segala kebergamannya, yang mencerminkan aktiivtas kehidupan masyarakat di tempat itu. Di situlah para Rasul juga bekerja. Meski dengan adanya keberagaman tersebut, kesemuanya ada dalam satu Roh dan dirawat oleh Roh yang sama, yaitu Roh Kudus. Roh Kudus juga menguatkan iman mereka melalui Khotbah dan Perjamuan Kudus, serta memlihara kasih mereka kepada Kristus.

Sebaliknya, Roh Kudus juga mendorong dan menggerakkan setiap orang percaya untuk mendukung, mendoakan kinerja kelompok Rasul, dan membantu dalam pelayanan dan kurban.

Selain melalui sejarah gereja, aktivitas kelompok Rasul dan kehidupan sidang jemaat, kuasa serta aktivitas dan kinerja Roh Kudus, dapat kita alami dan rasakan sendiri secara pribadi. Kelahiran baru dengan air dan Roh menjadikan diri kita masing-masing, menjadi suatu ciptaan yang baru. Biarlah Roh Kudus senantiasa dapat memelihara kita, mengajar dan memimpin hidup kita, dan mendorong adanya suatu kehidupan ilahi dalam diri kita, serta memenuhi diri kita dengan kasih Allah.

Pembaharuan dalam diri kita hendaknya senantiasa dapat terus berlangsung, tanpa terganggu oleh apa pun yang terjadi di sekeliling kita. Hal ini akan dapat terjadi kalau kita senantiasa memiliki kerinduan untuk menjadi kaya di dalam Kristus.

 Marilah kita melakukan segala sesuatu agar hidup kita dapat sesuai dengan apa yang diajarkan kepada kita oleh Roh Kudus, sehinga ketika saatnya Tuhan Yesus datang menjemput kita, Ia, yang adalah Allah, juga akan membangkitkan kita melalui kuasa Roh Kudus. (Roma 8:11)

Amin.

Mengandalkan Diri pada Tuhan

BACAAN ALKITAB

Beginilah firman Tuhan: "Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada Tuhan! Diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan, yang menaruh harapannya pada Tuhan! (Yesaya 17:5 & 7)

PENGAJARAN

Saat kita mengahdapi berbagai kesulitan hidup, baik di lingkungan pekerjaan, sekolah, keluarga  atau yang lainnya, siapakah orang pertama yang kita datangi atau yang kita pikirkan untuk dapat membantu dan mencarikan jalan keluar atau solusi?
Mungkin kita akan datang pada orang tua, saudara, teman atau koneksi kita. Atau mungkinmencoba mengandalkan kemampuan kita untuk langsung membuat perencanaan yang spektakuler untuk dapat lepas dari masalah ini?

Firman Tuhan yang tertulis dalam kitab Yeremia di atas, meminta kita untuk menaruhkan dan menumbuhkan ketergantungan pada Dia. Kata "Ketergantungan" ini meningatkan kita akan para pecandu. Karena pada saat mereka mengalami kecanduan atau ketagihan, mereka akan berusaha entah bagaimana caranya untuk dapat memenuhi apa yang menjadi kecanduannya tersebut.

Marilah kita tumbuhkan "kecanduan" kita, akan pertolongan, belas kasihan dan kemurahan Allah. Bukan pada pada manusia, teman atau koneksi kita. Carilah Dia, entah bagaimana caranya, sehingga engkau akan dipuaskan.

Sikap untuk senantiasa menaruhkan pengandalan dan pengharapan akan pertolongan Allah, membutuhkan upaya dan kemampuan
  • kemampuan untuk merendahkan diri, 
  • kemapuan untuk menyadari ketergantungan kita pada Allah 
  • kemampuan untuk menyadari kelemahan kita.
Tuhan Yesus menasehati Rasul Paulus, "... sebab justru di dalam kelemahanlah, kuasa-Ku menjadi sempurna..." (2 Korintus 12:9)

Janganlah kita senantiasa menaruhkan pengandalan kita pada kemampuan atau kepikiran kita sendiri, atau menggantungkan hidup kita kepada manusia, melainkan marilah kita senantiasa untuk dapat menaruhkan Iman, Pengandalan, Pengaharapan pada Allah dan senantiasa berpaut kepada beliau.

Amin 

Indahnya Memberi - Indahnya Berbagi. Bahagianya Memberi

Seorang dosen yang dikenal bijaksana, tengah berjalan santai bersama seorang mahasiswa di taman kampus. Tidak lama keduanya melihat ada sepa...