Jumat, 13 Maret 2020

Dosa dan Kesalahan

Apa itu dosa?.

Jika pertanyaan itu diajukan kepada kita, pasti akan banyak jawaban yang akan disampaikan, dengan berbagai versi dan pemahaman masing-masing. Mungkin seseorang akan mengatakan, dosa adalah jika kita berdusta, jika kita membunuh atau berzinah. Jawaban-jawaban yang sedemikian, benar adanya. Tetapi apakah hanya sebatas itu? Ternyata Tidak.

Di kitab 1 Yohanes 3:4 dinyatakan, "Setiap orang yang berbuat dosa, melanggar juga hukum Allah, sebab dosa ialah pelanggaran hukum Allah." Jadi pada dasarnya dosa adalah segala sesuatu yang bertentangan atau berlawanan dengan hukum Allah, yang tidak lain adalah juga kehendak Allah dan dengan keberadaan-Nya. Dosa dapat terjadi olehkarena  perkataan, perbuatan dan kepikiran kita yang bertentangan dengan kehendak Allah dan keberadaan-Nya.

Lebih jauh lagi, dalam kitab Yakobus 4:17 dinyatakan, "Jadi jika seorang tahu, bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa." Di sini semakin jelas bahwa, kehendak Allah bukanlah hanya melarang kita untuk melakukan segala sesuatu yang bertentangan dengan kehendak-Nya. Tetapi kehendak Allah adalah untuk juga melakukan kebajikan-kebajikan yang Ia ajarkan dan Ia perintahkan. 

Ketika kita tidak bisa memenuhi apa yang menjadi kehendak Allah, yang berarti kita melanggar larangan-larangannya dan kita tidak melakukan kebajikan-kebajikan, padahal kita tahu bagaimana kita harus melakukannya, pada dasarnya kita telah berdosa. 

Lalu apa bedanya dosa dan kesalahan?

Dosa adalah bersifat mutlak, artinya dosa tidak bisa direlatifkan. Sedangkan kesalahan masih bisa direlatifkan. Sesuatu dianggap sebagai dosa, sudah jelas, yaitu jika melanggar kehendak Allah sebagaimana yang diuraikan di atas, dan Allah-lah yang menentukan seseorang itu telah berbuat dosa atau tidak, bukan manusia. 

Sedangkan sesuatu dianggap suatu kesalahan sangat tergantung pada dari sudut mana seseorang memandangnya, Bisa jadi, sesuatu dianggap suatu kesalahan, jika tidak sesuai dengan kesepakatan, atau tidak sesuai dengan pendapat mayoritas, meskipun sebenarnya pendapat mayoritas tersebut belum tentu benar bahkan salah. 

Sebagai contoh, menurut kesepakatan, setelah bulan Februari adalah bulan Maret. Ketika seseorang mengatakan setelah bulan Februari adalah bulan September, pastilah ia telah melakukan kesalahan, karena sesuai kesepakatan, setelah bulan Februari adalah bulan Maret. Tetapi itu bukanlah dosa. 

Juga pendapat yang telah bertahan selama bertahun-tahun, bahkan berabad-abad, mayoritas manusia menganggap bumi itu datar. Tetapi ketika kelompok manusia yang lain mengatakan bumi bundar, maka kelompok kedua ini dianggap salah, karena mayoritas manusia mengatakan bumi datar. Bahkan ketika manusia bisa terbang keluar angkasa dan melihat bumi itu bundar, masih saja saat itu orang mengatakan bumi itu datar. Baru setelah berbagai bukti dan gambar ilmiah disajikan, barulah semua sependapat bahwa bumi itu bundar. Kesalahan demikian, bukanlah suatu dosa. Dalam hal menentukan suatu kesalahan, manusia masih memiliki peran, apakah sesuatu itu, suatu kesalahan atau bukan. Sedangkan untuk dosa hanya Allah-lah yang menentukan seseorang berdosa atau tidak.

Selanjutnya perbedaan antara dosa dan salah adalah, ketika seseorang melakukan suatu dosa pastilah orang tersebut juga telah melakukan suatu kesalahan. Tetapi ketika seseorang melakukan suatu kesalahan belum tentu orangg tersebut berdosa.

Oleh karena manusia sering kali tidak bisa menentukan, apakah suatu kesalahan itu suatu dosa atau bukan, itulah sebabnya Tuhan Yesus mengajarkan dalam doa Bapa Kami, bukan "... ampunilah dosa kami..." tetapi, "... ampunilah kesalahan kami..."
Bisa jadi kita beranggapam bahwa kita hanya melakukan kesalahan, tetapi Allah sudah mengatakan kita sudah melakukan dosa. Sebaliknya, pada masa sekarang ini, banyak manusia yang memposisikan dirinya seperti Allah, bahkan seakan-akan melebihi Allah, yang dengan mudahnya menghakimi seseorang bahwa ia telah melakukan suatu dosa, dan menjatuhkan hukuman yang sedemikian berat kepada orang tersebut, bahkan melenyapkannya atau membunuhnya. Padahal, belum tentu dimata Allah, ia benar-benar telah berbuat dosa. Oleh karena itulah kita diajarkan untuk jangan menghakimi, supaya kita tidak dihakimi. (baca juga Lukas 6:37)

Semoga penjelasan di atas dapat memberikan pemahaman dan pengertian yang lebih baik kepada kita terhadap pengertian dosa dan kesalahan.

Tuhan Yesus memberkati kita semua.

Minggu, 08 Maret 2020

Menutup Pintu Berkat

Kita sering mendengar apa yang diajarkan Tuhan Yesus kepada kita, "Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu." (Matius 6:3). Pengajaran Tuhan Yesus dibukit ini, dimaksudkan agar perbuatan baik yang kita lakukan, hanya Bapa di sorga yang melihatnya, sebab Bapa akan membalasnya (ayat 4).

Tetapi jika perbuatan baik yang kita lakukan diketahui orang lain dan hanya untuk mendapatkan kepujian bagi dirinya sendiri dan menimbulkan rasa kagum bagi orang lain, maka berlakulah apa yang dikatakan Tuhan Yesus, "... Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka telah mendapat upahnya."(Matius 6:16)

Pada saat ini, banyak diantara kita, ketika melakukan suatu kebaikan atau sedekah ke orang lain atau masyarakat luas atau saat kita berbagi kepada sesama, dengan dalih untuk dokumentasi, kemudian melakukan foto bersama, ditambah lagi dengan selfie dan lain-lain. Tetapi tidak lama kemudian foto-foto itu menyebar ke berbagai sosial media. Lalu bagaimana jika dikaitkan dengan ayat Matius 6:3, di atas? Apakah hal ini tidak bertentangan dengan pengajaran Tuhan?

Bukannya tidak boleh, kita mengabadikan kegiatan-kegiatan seperti di atas. Pada beberapa situasi, memang kita dituntut untuk menunjukkan bukti dan mempertanggung-jawabkan akan kegiatan-kegiatan sosial yang telah dilakukan. Tetapi biarlah berhenti sampai di sini. Tidak perlu kita menyebarkannya ke media sosial. Jika tujuan kita memang agar banyak orang tahu, tanpa kita sadari, pada dasarnya, kita telah menutup pintu berkat bagi diri kita sendiri. Karena kita telah menerima upahnya.

Oleh karena itu berhati-hatilah, jangan sampai kita justru menutup pintu berkat bagi diri kita sendiri.

Di sisi lain, ada juga saudara-saudari kita yang karena  berusaha untuk dengan sungguh-sungguh menerapkan pengajaran Tuhan seperti di atas, justru mereka salah dalam menerapkan firman pengajaran Tuhan tersebut. Ketika kita akan berbagi, katakanlah untuk suatu kegiatan bakti sosial, justru kita menutup diri terhadap kepesertaan atau bantuan orang lain. Awalnya, maksudnya mungkin baik, yaitu supaya tidak banyak orang tahu sebagaimana yang diajarkan Tuhan, tetapi justru disinilah kita salah dalam menerapkan pengajaran Tuhan ini. Dengan menutup peran serta sauadara-saudari kita, pada dasarnya kita justru menutup pintu berkat bagi saudara-saudari yang akan dibantu dan yang lebih parah lagi, justru juga menutup pintu berkat Allah bagi saudara-saudari yang memiliki keinginan untuk berbagi.

Kita justru diharapkan dapat mengajak sebanyak mungkin saudara-saudari untuk berbagi, untuk berbuat kebajikan-kebajikan, karena dengan cara seperti inilah kita akan membuka pintu berkat baik bagi mereka yang diberi dan yang memberi.

Semoga renungan singkat ini dapat menjadi pembuka pintu berkat bagi kita dan sesama.

Selamat berbagi
Selamat berbuat kebajikan.
Selamat berkarya bagi Allah dan Sesama.

Tuhan Allah, Sang Penolong

Bagian Alkitab

TUHAN dekat pada setiap orang yang berseru kepada-Nya, pada setiap orang yang berseru kepada-Nya dalam kesetiaan. Ia melakukan kehendak orang-orang yang takut akan Dia, mendengarkan teriak mereka minta tolong dan menyelamatkan mereka. (Mazmur 145:18-19)

Pengajaran

Para ahli statistik memperkirakan bahwa lebih dari 160.000 orang meninggal dunia setiap harinya. Tetapi tidak seorang pun dapat memperkirakan jumlah orang-orang yang menderita di seluruh muka bumi. Tidak seorang pun dapat mengukur atau memperkirakan derajat penderitaan fisik dan mental yang ada di antara manusia.
Penderitaan dan kemalangan yang mereka alami, mendorong banyak orang di bumi ini untuk mengajukan pertanyaan: “Jadi, di manakah Allah?”

Dalam hal ini, bukanlah tugas kita untuk menjawab pertanyaan ini. Tidak seorang pun dapat memberi sebuah penjelasan yang masuk akal atas semua penderitaan yang menimpa umat manusia. Jawaban-jawaban yang sering diberikan tidaklah memuaskan. Tetapi kita dapat memiliki kepastian sebagaimana yang tertulis dibagian Alkktab di atas, "TUHAN dekat pada setiap orang yang berseru kepada-Nya, pada setiap orang yang berseru kepada-Nya dalam kesetiaan. Ia melakukan kehendak orang-orang yang takut akan Dia, mendengarkan teriak mereka minta tolong dan menyelamatkan mereka." (Mazmur 145:18-19)

Allah membawa keselamatan

Tindakan-tindakan Allah seringkali berada diluar pengertian manusia. Allah sendiri, beserta dengan segala rencana, kehendak dan tindakan-Nya, hanya dapat dijangkau dengan iman.

Untuk meraih keselamatan, manusia sebenarnya tidaklah membutuhkan semua jawaban atas semua pertanyaan mereka. Yang dibutuhkan untuk mendapatkan keselamatan sebenarnya hanyalah Iman, kemenurutan, kerendahan hati, rasa takut akan Allah, keinginan dan kerinduan untuk memperoleh persekutuan dengan Allah. Umat Israel, untuk sampai ke negeri Perjanjian, mereka harus menyatakan Imannya, memiliki kemenurutan, menempatkan diri mereka dibawah kehendak Allah, memiliki rasa takut akan Allah, memiliki tekat, keinginan dan kerinduan untuk sampai ke tempat tujuan, meskipun mereka harus menempuh jalan memutar (Kel. 13:17-18). Semua itu atas kehendak Allah dan sesuai dengan rencana Allah, meskipun tidak semua mengerti.

Keinginan dan kehendak Allah sebenarnya adalah untuk memerdekakan semua manusia dari kekuasaan si jahat, Allah ingin membawa semua manusia pada suatu persekutuan dengan-Nya. Allah ingin menyelamatkan semua manusia dari kematian kekal. Dan untuk menolong mereka semua ini, Allah telah mengutus Putra-Nya. Jadi, keselamatan ditawarkan dan berlaku untuk semua orang, termasuk mereka, para jiwa yang sudah ada di alam baka.

Bagaimana kita bisa membantu sesama untuk memperoleh keselamatan?
  • menyampaiakan dan menyadarkan mereka akan adanya tawaran keselamatan dari Allah
  • menunjukkan jalan untuk menuju kesana.
  • memanjatkan doa-doa perantara bagi mereka, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal
Apa yang kita mohonkan kepada Allah?
  1. agar Allah berkenan memberikan belas kasihan kepada mereka
  2. agar mereka bisa mengenali keadaan diri mereka sendiri, sebagai yang berdosa
  3. agar mereka memiliki keinginan untuk memperoleh keselamatan yang ditawarkan
  4. agar mereka bisa mengakui dan menerima otoritas kelompok rasul yang diberi wewenang untuk menyalurkan sakramen-sakramen yang dibutuhkan.
Bagaimana dengan kita sendiri? Tugas kita adalah
  • memiliki dan mengakui Iman kepada Yesus Kristus
  • memiliki dan menumbuhkan keyakinan bahwa memiliki persekutuan dengan Yesus, merupakan harta yang sangat besar melampaui penderitaan yang paling mengerikan dan ketidak adilan yang terbesar.
  • Kedua hal di atas hendaknya mendorong kita untuk memiliki KESETIAAN kepada Kristus dan menumbuhkan kerinduan kita untuk memiliki persekutuan dengan Yesus.
Persekutuan dengan Allah adalah satu-satunya sarana untuk memerdekakan manusia dari penderitaan dan kesengsaraan. "Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan berkuasa lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu." (Wahyu 21:4)

Jadi untuk memperoleh keselamatan, baik yang hidup maupun yang sudah meninggal harus :
  1. Memiliki iman dan percaya kepada Yesus, mulai dari sejak kelahiran-Nya, penjelmaan-Nya sampai kedatangan-Nya kembali
  2. Menuruti dan menselaraskan diri dengan kehendak-Nya, karena Firman-Nya adalah Kebenaran yang memerdekakan manusia dari kebohongan Iblis.
  3. Melakukan pertobatan, mohon pengampunan dan berusaha mengampuni orang lain.
  4. Menerima Baptisan Suci, yang memerdekakan dari dosa-dosa asal
  5. Menerima kerunia Roh Kudus untuk menjadi ciptaan yang baru dalam Kristus
  6. Menerima Perjamuan Kudus sebagai sumber tenaga yang besar untuk menguatkan iman kita dan mempersiapkan diri bagi kedatangan-Nya kembali.

Amin
  

Sabtu, 07 Maret 2020

Apa cukup hanya dengan Percaya?

Bagian Alkitab

"Aku berkata kepadamu : Sesungguhnya barangsiapa percaya, ia mempunyai hidup yang kekal". (Yoh. 6:47)

Pengajaran

Jika suatu saat, ada seseorang yang kritis, yang bertanya,"Apakah sesederhana itu bahwa dengan hanya percaya kita bisa memperoleh hidup yang kekal? Disatu sisi, dapat dikatakan YA, hanya dengan percaya kita akan bisa memperoleh hidup kekal. Sebagai contoh adalah penjahat yang juga disalibkan saat Tuhan di salibkan, "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus." (Lukas 23:43) Tetapi kejadian atau peristiwa ini sangat tergantung pada otoritas / wewnang sepenuhnya dari Allah. Tidak semuanya berlaku demikian dan kita tidak bisa memperkirakan atau menduga, kepada siapa otoritas dan wewenang itu digunakan oleh Allah.

Disisi lain, untuk memperoleh hidup kekal tidaklah sesederhana itu. Iman atau kepercayaan memiliki beberapa aspek. Diambil sebagai contoh tentang apa itu arti percaya yang sesungguhnya, adalah Abraham. Abraham percaya kepada Allah. Dan oleh karena kepercayaannya yang demikian tangguh, ia dikenal sebagai Bapa Kepercayaan.

Ketika Allah memanggil dan menyuruh Abraham untuk pergi ke negeri yang akan ditunjukkan oleh Allah, maka dia mendengar panggilan tersebut. Disitulah kepercayaannya dimulai, dia MENDENGAR. Kemudian setelah itu dia pun MENERIMA panggilan tersebut, MENURUTI dan MEMENUHI sesuai dengan perintah Allah tidak menundanya dan pergi meninggalkan negerinya, sanak saudaranya dan rumah bapanya (baca Kej. 12:1-4)

Selama dalam perjalanan, Abraham menaruhkan PENGANDALAN SEPENUHNYA (tidak setengah-setengah) dan TAAT terhadap perintah Allah dalam setiap langkahnya. Selama dalam perjalanan tersebut, Abraham juga tetap SETIA kepada Allah. Jika Abraham tidak setia, mungkin akan berkata " baiklah ya Tuhan, sekarang sudah 10 hari, tunjukkan negeri yang Engkau janjikan tersebut sekarang", tetapi Abraham tetap setia memenuhi panggilan Allah sampai pada akhirnya.

Itulah bagian-bagian atau beberapa aspek dari Iman atau Kepercayaan (mendengar, menerima, menuruti, memenuhi, pengandalan yang sepenubnya, taat dan kesetiaan) yang hendaknya ada didalam diri kita dan kita ingin mempertahankan kepercayaan tersebut sampai pada akhirnya.

" Sudahkah kita percaya?"

Jumat, 06 Maret 2020

Pengutusan Tuhan Yesus, Sang Firman

Bagian Alkitab

Demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya. (Yesaya 55:11)

Pengajaran

Bagian Alkitab di atas menunjuk kepada Tuhan Yesus. "Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Firman itu telah menjadi manusia, dan diam diantara kita, dan kita telah melihat kemulian-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya, sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran (Yohanes 1:1 dan 14).

Tuhan Yesus yang telah menjadi manusia dan turun ke dunia, Ia datang untuk melaksanakan tugas dari Allah Sang Bapa untuk menjadi juru selamat manusia dari kuasa kejahatan dan dosa. Sejak manusia yang pertama jatuh ke dalam dosa, Alah telah berjanji, "Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu dan engkau akan meremukkan tumitnya. (Kejadian 3:15)

Janji Allah ini tergenapkan dengan kelahiran Yesus di dunia. "Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia (Yohanes 3:17). Oleh karena itu manusia diharapkan mau mendengar suara Tuhan, sebagaimana yang dinyatakan Allah saat Yesus dipermuliakan di atas bukit, "... Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nya Aku berkenan, dengarkanlah Dia." (Yoh. 17:5)

Dan tentang pengutusan-Nya ini, Tuhan Yesus mengatakan, "Sebab Aku telah turun dari sorga bukan untuk melakukan kehendak-Ku, tetapi untuk melakukan kehendak Dia yang telah mengutus Aku. Dan inilah kehendak Dia yang telah mengutus Aku, yaitu supaya dari semua yang telah diberikan-Nya kepada-Ku jangan ada yang hilang, tetapi supaya Kubangkitkan pada akhir zaman. Sebab inilah kehendak Bapa-Ku, yaitu supaya setiap orang yang melihat Anak dan yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal, dan supaya Aku membangkitkannya pada akhir zaman.  (Yohanes 6:38-40).

Beberapa kali Tuhan Yesus menyatakan bahwa Ia diutus oleh Dia, Allah Sang Bapa. Dalam Yohanes 7:28, juga tertulis, ...namun Aku datang bukan atas kehendak-Ku sendiri, tetapi Aku diutus oleh Dia yang benar, yang tidak kamu kenal.
Juga di Yohanes 8:16, Tuhan menyatakan sedemikian, "..., tetapi Aku bersama dengan Dia yang mengutus Aku." Selanjutnya kita juga dapat membaca tentang pengutusan-Nya secara berturut-turut di kitab Yoh. 8:42; 10:36;17:8,21,25.

Selama kehidupan-Nya di dunia, Yesus melakukan sepenuhnya apa yang menjadi kehendak Allah, bahkan Ia menjadikan hal itu sebagai "makanan-Nya", "... makanKu ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya." Meskipun dalam melaksanakan kehendak Allah Sang Bapa yang mengutus-Nya, Yesus banyak mengalami penolakan, dan juga harus mengalami berbagai penghinaan, penderitaan, dan kesengsaraan, bahkan harus mati di atas kayu salib, Yesqwus terus berusaha untuk memenuhi apa yang dikehendaki oleh Allah, sehingga Ia dapat mengatakan, "... bukanlah kehendak-Ku, tetapi kehendak-Mulah yang terjadi." (Lukas 22:42)

Yesus tahu dan percaya bahwa Ia tidak akan bekerja sendiri, itulah sebabnya Ia dapat menyatakan, "...bukan kehendak-Ku, tetapi kehendak-Mulah yang terjadi." Terbukti, setelah itu seorang malaikat dari langit menampakkan diri kepada-Nya untuk memberikan kekuatan kepada-Nya.

Keteguhan Yesus dalam melakukan apa yang dikendaki oleh Allah, tidaklah sia-sia. Meskipun Ia harus mengalami penderitàan yang sedemikian hebat dan bahkan harus mengalami kematian di atas kayu salib, pada akhirnya Ia dapat mengatakan, "..."sudah selesai" lalu Ia menundukan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya."(Yoh 19:30).

Setelah kebangkitan dan kenaikan-Nya kembali ke sorga, sekaligus bukti akan kemenangan Yesus atas maut dan neraka, jurang yang memisahkan Lazarus yang duduk dipangkuan Abraham dengan orang kaya, sudah terjembatani, sehingga terbukalah jalan bagi manusia untuk dapat memperoleh persekutuan yang kekal kembali dengan Allah Sang Bapa.

Dengan demikian tergenapkanlah apa yang dinyatakan Allah melalui nabi Yesaya, "Demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya." (Yesaya 55:11).

Amin.

Tunggul Wulung, Sulitnya mencari Tuhan

Apakah kita pernah merasa ada sedikit perasaan malas dalam diri kita, saat akan beribadah, atau belajar mengenai Firman Tuhan atau berkebaktian sebagai suatu usaha kita untuk mendekatkan diri kepada Tuhan? Padahal, jarak antara rumah ke gereja hanya berapa kilometer dan bisa di tempuh dengan duduk beberapa menit saja.

Mari kita simak usaha penginjil pionir di Jawa yaitu Kyai Ngabdulah Tunggul Wulung.

Alkisah, Kyai Ngabdullah (1800-1884) dari Juwana yang saat itu sedang dalam perjalanan menuju ke tempat pembuangannya di Manado, oleh pemerintah Belanda, karena melakukan perlawanan, berhasil meloloskan diri ketika kapalnya bersandar di Surabaya dan melakukan pelarian ke daerah-daerah sekitarnya.

Dia adalah seorang Kyiai yang menekuni  ilmu kejawen, dicampur dengan mitos, legenda dan primbon dari Prabu Jayabaya. Di situ disebutkan akan datangnya Sang Ratu Adil.

Dengan usahanya yang keras, dalam pencariannya untuk menemukan Sang Ratu Adil tersebut, maka Kyai Ngabdulah, yang memanggil dirinya Tunggul Wulung melakukan pendakian ke Gunung Kelud. Berdasarkan petunjuk Jayabaya, Sang Ratu Adil akan turun di Gunung Kelud. Dan dalam pencariannya itu, Kyai Tunggul Wulung berjumpa dengan sesama pertapa yaitu Endang Sampurnawati, yang juga memiliki ilmu tinggi di bidang kejawen, maka saling adu tandinglah mereka dalam hikmat dan kecakapan, dengan saling memberikan cangkriman atau tebakan.

Endang S bertanya pada Tunggul W :
Apa yang kau cari wahai kisanak di Gunung Kelud nan angker ini?

Tunggul W menjawab:
Aku mencari jejek kedatangan Sang Ratu Adil yang menurut primbon Prabu Jayabaya katanya akan turun di Gunung ini.

Endang S:
Oh berarti sama tujuan kita.
Sekarang mari kita adu kepinteran.
Coba jawab pertanyaanku ini:

Ono woh kemiri tiba saiki, nanging wohe bisa diunduh wingi.
(Ada buah kemiri jatuh hari ini, tapi buahnya bisa dinikmati sejak kemaren)

Tunggul W menjawab : aaah gampang itu aku tau..

Sekarang coba jawab pertanyaan ku ini:

Sang Ratu Adil dadi dayoh, ananging malah mbageake kang ditamoni..
Ing kamangka Sang Dayoh ora nggawa biting sasada.
(Sang Ratu Adil datang sebagai tamu, tetapi malah menyilakan yang punya rumah, padahal Sang Tamu tidak membawa bekal suatu apa pun)

Dan akhirnya mereka berdua secara kompak menjawab: "NABI ISA AL MASIH"

LOH KOK BISA???

Adapun maksud atau penjelasan dari tebak-tebakan dua tokoh tersebut adalah sebagai berikut:

Buah kemiri jatuh hari ini, tapi buahnya bisa dinikmati sejak kemaren adalah bahwasanya Sang Ratu Adil atau Nabi Isa atau Yesus Juru selamat, yang datang jauh setelah jaman Abraham, Ishak, Yakub dan semua yang sudah menunggu kehadirannya, tetapi kuasa penyelamatan-Nya sudah bisa dinikmati oleh semua manusia, yang menantikan-Nya sejak jaman dulu, mulai dari Abraham sampai Salomo, para nabi dan umat manusia sebelumnya.

Sebagaimana dimaksud Yesus dalam ayat ini:

Yohanes 8:58
Kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada."

Dan Yesus yang datang sebagai tamu di dunia, di kalangan umat Israel justru ditolak, sehingga akhirnya mengundang siapa saja yang mau menerima kehadirannya dengan mengatakan, "marilah kepada-Ku, hai engkau yang letih lesu dan berbeban berat..."

Dan Yesus datang sebagai manusia lemah dan miskin, tidak membawa apapun juga.

Bayangkan, kedua orang ini mencari Tuhan Yesus tanpa di Injili oleh siapapun, dengan usahanya yang dituntun oleh Roh Kudus, dan melalui perjuangan yang sangat luar biasa dan berat, yaitu dengan bertapa di Gunung Kelud selama 7 tahun.

Konon, pada tahun 1847, Kyai Ngabdullah menerima sebuah wangsit berupa tulisan "sepuluh perintah Allah" yang tanpa disadarinya, telah muncul di bawah tikar semedinya. Memparalelkan dirinya sebagai Tunggul Wulung yang diutus untuk mempersiapkan kedatangan Raja Jayabaya, sejak itu Kyai Ngabdullah menemukan keyakinan bahwa dia juga diutus oleh Gusti Allah untuk menyebarkan lelaku hidup baru di kalangan masyarakat Jawa. Sejak itulah Kyai Ngabdullah berganti nama menjadi Kyai Tunggul Wulung.

Dia mendapatkan petunjuk Roh Kudus untuk menjumpai pendeta dari Belanda yaitu Jelesma. Tetapi sebagai Kyai Jawa yang sakti mandra guna, tentu merasa gengsi untuk menuntut ilmu pada orang Belanda. Maka dia datang dengan aji panglimunan yaitu ilmu menghilang dan dengan duduk santai di jendela kediaman Pendeta Jelesma. Namun sang pendeta rupanya sudah dibukakan matanya oleh Roh Kudus dan bisa melihat sang kyai, lalu mengatakan:

"Masuklah rumah ini terbuka untukmu"

Maka kagetlah sang kyai bahwa pendeta itu lebih tinggi ilmunya dari dia dan memutuskan untuk mempelajari tentang Nabi Isa atau Yesus Kristus dari pendeta Jelesma tersebut. Kisah selanjutnya adalah, Tunggul Wulung dibabtis oleh Jelesma dan akhirnya ketemu dengan FL Anthing yang adalah ketua pengadilan negeri Semarang, saat itu, yang sangat berhasrat untuk melakukan penginjilan di Jawa.

Dia diberi Alkitab terjemahan Bahasa Jawa dan akhirmya ketemulah dengan Keluaran pasal 20 yang isinya sama dengan sepuluh hukum Allah yang ditemukannya di bawah tikar semedinya di Gunung Kelud.

Salah satu murid dari Tunggul Wulung, bernama Radin Abas, yang kemudian di kenalkan kepada FL Anthing, dan kemudian dibaptis dan berganti nama Sadrach Soeropranoto.

Sadrach yang adalah lulusan salah satu pesantren di Jawa Timur, ingin berguru kepada salah seorang Kyai di Semarang, yang ternyata dalam suatu perdebatan terbuka sudah pernah dikalahkan oleh Tunggul Wulung. Sehingga Kyai tersebut mengatakan, "jangan engkau berguru kepadaku, karena aku sudah kalah debat oleh seseorang bernama Tunggul Wulung, maka bergurulah engkau kepadanya."

Sadrach bertanya perihal ilmu apakah engkau kalah dari orang lain? Maka dijawablah bahwasanya, "aku kalah dalam ilmu tentang Nabi Isa."
Maka jadilah Sadrach berguru kepada Tunggul Wulung, mengenai Nabi Isa atau Yesus Kristus perihal ajaran kekristenan.

Pelajaran yang dapat kita petik, dari cerits di atas adalah:

Luar biasa semangat seseorang yang sudah dituntun Roh Kudus dalam mencari Sang Juruselamat. Mudah-mudahan, ini menjadi semangat pula bagi kita yang sudah  berada di jalan keselamatan untuk bersyukur dan selalu memiliki tekad dan semangat menjalani dan semakin menambah hikmat dalam Tuhan Yesus.

Amin

Selesai
(Dari berbagai sumber)

Rabu, 04 Maret 2020

Beberapa Kekayaan Rohani

Bagian Alkitab

Orang yang baik mengeluarkan barang yang baik dari perbendaharaan hatinya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan barang yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat. Karena yang diucapkan mulutnya, meluap dari hatinya. (Lukas 6:45)

Pengajaran

Allah telah menanamkan kehidupan yang baru di dalam diri kita melalui kelahiran baru dengan air dan Roh. Jika kita merawat, memelihara dan memperkenankan kehidupan ini tumbuh di dalam diri kita, maka kita akan menjadi kaya dan makin kaya di dalam Kristus. Kekayaan ini, yang merupakan kekayaan rohani, hendaknya dapat tercermin dalam kata, perbuatan dan sikap kita. 

Beberapa kekayaan rohani yang telah Allah karuniakan kepada kita, antara lain:

1. Pengenalan akan Kristus

Melalui kesaksian dan karunia Roh Kudus yang telah ditanamkan kepada kita, kita percaya bahwa 
  • Yesus Kristus adalah Putra Allah, 
  • Ia telah mengalahkan neraka dan maut,
  • Ia telah bangkit, dan akan datang kembali untuk membawa para milik-Nya ke tempat-Nya. 
Pengenalan akan Yesus Kristus ini, sebagai kekayaan rohani yang telah dikaruniakan Allah kepada kita, hendaknya dapat mendorong, menumbuhkan, membangkitkan dan meluap dalam bentuk puji-pujian dan pengandalan kita kepada Allah, meskipun kita berada di tengah-tengah penderitaan dan kesulitan yang terbesar. 

Mari kita ambil Paulus dan Silas sebagai contoh. Meskipun dipenjara, dipasung, dirantai dan didera sedemikian hebatnya, mereka masih mampu memuji dan memuliakan nama Allah,.(Kis. 16:22-34).

2. Penghormatan di hadapan Allah

Sesuai dengan contoh dari orang Samaria yang disembuhkan oleh Yesus dari penyakit kustanya (Luk. 17:15-16), kita hendaknya dapat mengenali dan mengakui pertolongan Allah, dengan memuliakan nama-Nya dan mengucap syukur kepada-Nya. 

Penghormatan pada Allah hendaknya kita nyatakan dengan menuruti dan menganggap serius firman-Nya. Daripada berpikir bahwa firman-Nya ditujukan kepada orang lain, akanlebih baik kalau kita bertanya seperti yang dilakukan murid-murid Tuhan, “Apakah itu aku ya, Tuhan?” (Matius 26:22 – “Lord, is it I?” Alkitab New King James Version).

3. Menjadi ahli waris bersama dengan Kristus

Pada kitab Roma 8:17 dinyatakan: “Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia”.

Paulus menyampaikan bahwa orang-orang Kristen, pertama-tama harus menderita terlebih dahulu, sebelum kemuliaan dapat dikaruniakan kepada mereka. Mengikut, juga mengharuskan kita untuk menjalani jalan yang ditunjukkan Kristus dan menerima penderitaan. "... Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. (Matius 16:24). Kemudian kita akan menerima warisan yang telah Ia janjikan, yakni kebangkitan tubuh dan persekutuan dengan Allah. Marilah kita berusaha untuk ini.

4. Janji kedatangan Yesus kembali.

Dalam pengharapan akan kedatangan Kristus yang telah dekat, marilah kita saling menyemangati: “Sebab sedikit, bahkan sangat sedikit waktu lagi, dan Ia yang akan datang, sudah akan ada, tanpa menangguhkan kedatangan-Nya” (Ibr. 10:37). 

Meskipun kita tidak secara terus-menerus mengungkapkan kerinduan kita akan hal ini, tetapi dalam setiap rencana-rencana kita untuk masa depan kita, hendaknya senantiasa memperhitungkan, dan mengingat kedatangan Tuhan kembali.

5. Kasih kepada sesama kita

Allah telah mencurahkan kasih-Nya ke dalam hati kita (Rm. 5:5). Kasih ini memungkinkan kita untuk memahami orang-orang yang berbuat jahat kepada kita sebagai para tawanan si jahat, dan bukan sebagai musuh-musuh kita. "Kamu telah mendengar firman: mata ganti mata, gigi ganti gigi. Tetapi Aku berkata kepadamu: kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu." (Matius 5: 38, 44).  Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan, tetapi mohonlah kepada Allah untuk memerdekakan mereka dari kuasa si jahat. (1 Kor. 4:11-13).

6. Menjadi milik Yesus Kristus

Di halaman kediaman imam besar, seorang hamba perempuan mengenali Petrus sebagai salah seorang murid Yesus karena ia berbicara dengan bahasa yang sama dengan Yesus. (Mat. 26:73). Demikianlah, kita hendaknya juga dapat dikenali sebagai murid-murid Tuhan Yesus, pengikut Yesus, milik Yesus, anak-anak Allah dan ahli waris kerajaan-Nya dari kata, perbuatan dan sikap kita.

Beberapa kekayaan rohani lain yang hendaknya juga dapat meluap dari perbendaharaan hati kita yang baik, antara lain  kesabaran, kerendahan hati, kemenurutan, kepekaan dan kepedulian terhadap sesama dan lain-lain

Biarlah kekayaan-kekayaan rohani yang telah diberikan kepada kita, tidak hanya menjadi milik kita saja, tetapi hendaknya dapat meluap dari hati kita sebagai perbendaharaan yang baik, untuk kita bagikan kepada sesama kita.

Indahnya Memberi - Indahnya Berbagi. Bahagianya Memberi

Seorang dosen yang dikenal bijaksana, tengah berjalan santai bersama seorang mahasiswa di taman kampus. Tidak lama keduanya melihat ada sepa...