Kamis, 29 Agustus 2019

Menjadi saksi-saksi Kristus

BACAAN ALKITAB

Sebab Aku berkata-kata bukan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang mengutus Aku,
Dialah yang memerintahkan Aku untuk mengatakan apa yang harus Aku katakan dan Aku sampaikan. Dan Aku tahu, bahwa perintah-Nya itu adalah hidup yang kekal. Jadi apa yang Aku katakan, Aku menyampaikannya sebagaimana yang difirmankan oleh Bapa kepada-Ku.” (Yohanes 12:49-50)

PENGAJARAN

Injil Yohanes mengisahkan tentang pengurapan Yesus di Betania dan perhentian-Nya di Yerusalem untuk mengikuti perayaan Paskah. Ia masuk ke Yerusalem dengan disambut sorak-sorai oleh orangorang Yahudi, bahkan orang-orang Yunani, yakni orang-orang kafir (non-Yahudi), juga ingin melihat Dia (Yoh. 12:1-26). Kemudian Yesus berbicara tentang kematian-Nya, yang berarti juga perpisahan dengan murid-murid-Nya, dimana melalui kematiaan-Nya Sang Putra Allah, akan ditinggikan dan sebagai bukti akan kedegilan hati umat Israel (Yoh. 12:27-44)

Bagian penutup pasal ini adalah perkataan Yesus yang menyatakan tentang firman-Nya sebagai penghakiman, dari mana nas Alkitab kita diambil (Yoh. 12: 44-50). Dasar pemikirannya adalah bahwa firman Yesus tidak lain adalah firman Allah; apa
yang Ia beritakan, Ia katakan di dalam na-
ma Bapa.

Pernyataan Allah Akan Pengutusan Yesus

Ketika manusia telah jatuh ke dalam dosa, Allah telah menyatakan kepada iblis, "Aku akan  mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya." Aku akan mengadakan permusuhan antara kamu dengan perempuan ini, dan di antara keturunanmu dan keturunanya. (Kejadian 3;15). Dari firman ini tersirat bahwa Allah akan mengutus seorang juruselamat, yang nyata dalam diri Tuhan Yesus, karena Allah tidak ingin manusia tetap dalam dosa, karena upah dosa adalah maut, terpisah dari Allah.

Pernyataan Allah ini tidak hanya dinyatakan Allah sendiri, setelah manusia jatuh dalam dosa, tetapi pada waktu selanjutnya, Allah juga menyatakan-Nya melalui para Nabi. Dan ketika Yesus sudah datang ke dunia, pesan keselamatan dalam diri Tuhan Yesus ini diulangi lagi oleh Allah, ketika Yesus mendapatkan karunia Roh kudus setalah dibaptis oleh Yohanes Pembaptis di tepi sungai Yordan. Saat itu Allah menyatakan, "...Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepadanya Aku berkenan." (Matius 3:17). Demikian juga saat Tuhan Yesus dipermuliakan di atas gunung, dihadapan Musa dan Elia, serta ketiga murid-Nya yaitu Petrus, Yakobus dan Yohanes, Allah sekali lagi menyatakan, "...inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia." (Matius 17:5). Di sini sekali lagi Allah menegaskan bahwa keselamatan hanya di dapat melalui iman kepada Tuhan Yesus dan mengikuti-Nya. Hadirnya Musa dan Elia yang mewakili mereka yang sudah di alam baka dan Petrus, Yakobus serta Yohanes yang mewakili mereka yang masih ada di bumi, bukan tanpa alasan. Dengan kehadiran-Nya saat Yesus dipermuliakan dan mereka mendengar dan melihatnya sendiri, dikemudian hari mereka pun diharapkan  untuk dapat menjadi saksi bagi rencana pekerjaan keselamatan dalam diri Tuhan Yesus. Dan memang, khususnya bagi murid-murid Yesus, mereka benar-benar menjadi saksi-saksi Kristus yang sejati dan setia.

Yesus sebagai saksi Allah 

Selanjutnya ketika Yesus membicarakan tentang rumah Bapa, dimana kemudian Thomas menyatakan bahwa ia tidak tahu jalan ke situ, Yesus mengatakan, "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang ke Bapa, jika tidak melalui Aku"(Yohanes 14:5-6). Di sini Yesus menyiratkan dan memberi kesaksian bahwa Dia-lah jalan untuk menuju persekutuan kembali dengan Allah agar manusia dapat memperoleh hidup yang kekal.

Kesaksian Yesus atas pengutusan-Nya dan apa yang dikatakan oleh Yesus adalah "Ya" dan "Amin". "Sebab Aku berkata-kata bukan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang mengutus Aku, Dialah yang memerintahkan Aku untuk mengatakan apa yang harus Aku katakan dan Aku sampaikan. Dan Aku tahu, bahwa perintah-Nya itu adalah hidup yang kekal. Jadi apa yang Aku katakan, Aku menyampaikannya sebagaimana yang difirmankan oleh Bapa kepada-Ku.” (Yohanes 12:49-50)

Yesus, adalah saksi sejati dari Sang Bapa. Ia diutus untuk membawa keselamatan bagi manusia. Berkat kurban-Nya, manusia yang telah terpisah dari Allah karena dosa, dapat kembali memiliki kemungkinan untuk datang kepada-Nya. Tetapi Ia memberikan prasyarat-prasyarat kepada manusia untuk dapat meraih keselamatan, yaitu :

  • Percaya kepada Yesus Kristus dan mengikuti-Nya, adalah syarat yang mutlak untuk dapat datang kepada Allah (Yoh. 14:6).
  • Menerapkan Injil dalam kata dan perbuatan. "Jawab Yesus: "Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi Dia dan kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia. Barangsiapa tidak mengasihi Aku, ia tidak menuruti firman-Ku; dan firman yang kamu dengar itu bukanlah dari pada-Ku, melainkan dari Bapa yang mengutus Aku." (Yohanes 14:23-24)
Kesetiaan dan ketekunan Yesus dalam melaksanakan tugas dari Allah Sang Bapa, sebagai saksi atas rencana pekerjaan keselamatan-Nya, sekaligus sebagai juruselamat dan jalan untuk dapat masuk ke dalam keselamatan kekal, termasuk saat Ia harus mengalami penderitaan dan kesengsaraan-Nya, adalah ungkapan kasih-Nya kepada Allah dan manusia. Ia ingin agar manusia dapat memperoleh kelepasan dari perhambaan dosa, sehingga Ia pun berkenan menunjukkan jalan kepada manusia untuk dapat meraihnya.

Roh Kudus sebagai saksi

Sebelum Yesus kembali kepada Sang Bapa dan meninggalkan murid-murid-Nya, Ia telah berjanji bahwa Ia akan meminta kepada Sang Bapa, Penolong yang lain dan Roh Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan mengajar dan mengingatkan kembali akan tugas atau misi Tuhan Yesus datang ke muka bumi, yaitu untuk menjadi juruselamat dan penebus bagi dosa-dosa manusia. "tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu" (Yohanes 14:26).

Tuhan Yesus juga menyatakan bahwa Roh Kudus akan memberikan kesaksian akan tugas dan apa yang diajarkan Tuhan Yesus. Roh Kudus juga akan membawa dan menuntun manusia kepada Yesus, Sang Kebenaran, "Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran, sebab Ia tidak berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang. Ia akan memuliakan Aku, sebab Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diteriman-Nya dari pada-Ku. Segala sesuatu yang Bapa punya, adalah Aku punya; sebab itu Aku berkata: Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterima-Nya dari pada-Ku." (Yohanes 16:13-15)

Janji Tuhan ini tergenapi saat Pentakosta. Roh Kudus turun dan memenuhi murid-murid Tuhan, yang kemudian menjadi rasul-rasul-Nya. Roh Kudus inilah yang memimpin para pendosa ke dalam seluruh kebenaran. Roh Kudus adalah Saksi yang setia dan benar dari Yesus Kristus:
  • Ia memberitakan keselamatan di dalam Yesus Kristus kepada manusia.
  • Ia memberitakan dan senantiasa mengingatkan manusia akan kedatangan Yesus kembali, agar kita sebagai calon para imam dan raja-raja dalam kerajaan damai seribu tahun, dapat mempersiapkan diri.
  • Ia mendampingi pendosa dan menuntunnya ke dalam kebenaran.
Kelompok Rasul sebagai saksi

Pada perayaan hari Pentakosta, Roh Kudus yang dijanjikan Yesus, datang dan memenuhi  murid-murid-Nya. Seketika itu juga para murid-Nya dapat berbicara dengan berbagai bahasa sesuai dengan bahasa masing-masing orang yang datang pada perayaan Pentakosta, saat itu. Mereka bersaksi dengan penuh keberanian dan semangat mengabarkan Injil Kristus dan pengajaran Yesus. Mereka bersaksi dengan penuh keberanian akan apa yang mereka lihat dan dengar, ketika bersama-sama dengan Yesus, tanpa memperdulikan resiko dan bahaya yang mengancam mereka. Bahkan Petrus dan Yohanes berani bersaksi akan hal ini dihadapan Mahkamah Agama, "dan keselamatan tidak ada di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolom langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan." (Kisah Para Rasul 4:12). Ketika mereka berdua dilarang untuk berbicara dan mengajar lagi dalam nama Yesus, mereka menjawab, "Sebab tidak mungkin bagi kami untuk tidak berkata-kata tentang apa yang kami lihat dan kami dengar."(Kisah Para Rasul 4:20)

Pada masa ini, kelompok Rasul masih bekerja di dalam kuasa Roh Kudus sebagai saksi Yesus yang setia dan sejati. Mereka memberitakan Injil Kristus, sebagaimana yang ditugaskan oleh Yesus, "Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman."(Yohanes 28:19-20)

Itulah sebabnya, sebagaimana halnya dengan para Rasul yang awal, para Rasul pada masa sekarang, bekerja dalam kuasa Roh Kudus untuk,
  • memberitakan Injil Kristus
  • menjadikan semua bangsa menjadi murid Yesus Kristus
  • menunjukkan jalan satu-satunya yang mengarahkan kepada persekutuan dengan Allah, melaui iman dan pengikutan kepada Yesus Kristus.
  • mempersiapkan, mereka yang telah dilahirkan kembali, untuk penyatuan mereka dengan Yesus Kristus pada kedatangan-Nya kembali
  • mempersiapkan orang-orang percaya, menjadi para imam dan raja-raja di dalam kerajaan damai.
Sidang jemaat sebagai saksi Yesus

Sebagai para pendosa, kita dipanggil dan dipilih, tidak hanya untuk menerima belas kasihan, kemurahan dan karunia kelepasan dan keselamatan, tetapi kita juga dipanggil dan dipilih untuk menjadi saksi Yesus Kristus yang setia dan sejati. Hal ini dapat kita lakukan, jika kita, 

  • memiliki pengakuan dan iman kepada Yesus Kristus, kurban-Nya, kebangkitan-Nya dan kedatangan-Nya kembali, yang nyata dalam kata dan perbuatan kita 
  • menyelaraskan hidup kita sesuai pengajaran Kristus;
  • tidak  menghakimi atau menghukum sesama (Luk. 6:37). 
  • sejak saat ini gemar dan suka memberitakan Injil Kristus dengan penuh keberanian dan semangat, dalam kata dan perbuatan, sebagai persiapan dan langkah awal untuk menerima suatu tugas yang agung dan mulia, yaitu memberitakan Injil Kristus dalam kerajaan Damai Seribu Tahun, dimana saat itu, tidak akan ada lagi hambatan untuk memberitakan Injil Kristus kepada semua manusia, tanpa terkecuali. 
Oleh karena itu, sejak saat ini, marilah kita gemar untuk bersaksi dan memberitakan Injil Kristus agar banyak jiwa dapat memperoleh kelepasan dan keselamatan melalui Tuhan Yesus.

Dengan demikian, pada akhir zaman, semua orang yang percaya kepada Yesus Kristus dan yang mengikut Dia, akan diizinkan untuk ikut masuk ke dalam ciptaan yang baru, langit yang baru dan bumi yang baru.

Amin.

Rabu, 28 Agustus 2019

Yesus, Tuhan

Banyak orang yang meragukan bahwa Yesus adalah Tuhan. Meski demikian, bagi orang pemeluk agama Kristen, iman kepada Yesus sebagai Tuhan adalah sesuatu yang mutlak, terlepas orang lain percaya atau tidak. Di sisi lain Yesus pun tidak mengharuskan seseorang untuk percaya kepada-Nya sebagai Tuhan atau Mesias. Manusia diberi kebebasan yang luas untuk percaya kepada-Nya dan menerima-Nya atau tidak.

Memang, sejak lama, keberadaan Yesus sebagai Tuhan telah menimbulkan pertentangan dan perbantahan. Simeon telah menyatakannya, ketika ia untuk pertama kalinya melihat Yesus, yang dibawa oleh orang tuanya ke bait suci: "... Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan." (Lukas 2:34).

Iman kepada Yesus sebagai Tuhan, sebenarnya bukan iman yang buta, sebab beberapa nubuat dan pernyataan-pernyataan dalam Alkitab menunjukkan Yesus adalah Tuhan. Berikut beberapa ayat dalam Alkitab yang menyatakan Yesus adalah Tuhan.

1. Yesaya 40:3

Ada suara yang berseru-seru: "Persiapkanlah di padang gurun jalan untuk Tuhan, luruskanlah di padang belantara jalan raya bagi Allah kita!

Nubuat ini tergenapkan dengan apa yang dilakukan oleh Yohanes Pembaptis, seperti yang tertulis dalam Matius 3:1-3, "Pada waktu itu tampillah Yohanes Pembaptis di padang gurun Yudea dan memberitakan: "Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!" Sesungguhnya dialah yang dimaksudkan nabi Yesaya ketika ia berkata: "Ada suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya.

Apa yang tertulis di Matius 3:1-3 di atas, disatu sisi menunjuk kepada Yohanes pembaptis yaitu orang yang berseru-seru, seperti yang dinubuatkan oleh nabi Yesaya dan penulis kitab Matius ini, di sisi lain menunjuk kepada Yesus, yang dimaksud dalalam kata-kata, "Persiapkanlah jalan untuk Tuhan"

2. Matius 3:1-3


Pada waktu itu tampillah Yohanes Pembaptis di padang gurun Yudea dan memberitakan: "Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!" Sesungguhnya dialah yang dimaksudkan nabi Yesaya ketika ia berkata: "Ada suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya.

Seperti yang tertulis di atas, ayat ini di satu sisi, penulis kitab Matius ini menunjuk kepada Yohanes Pembaptis dan di sisi lain, pernyataan yang menyebutkan "Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya", jelas dengan mudah dapat kita mengerti bahwa pernyataan tersebut menunjuk kepada kepada Yesus. Dan jalan yang dimaksud, tentulah bukan jalan secara harfiah, melainkan jalan untuk menuju kepada setiap hati umat manusia yang mau menerima dan merindukan-Nya.

3.  Lukas 2:11

Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan di kota Daud.

Tidak hanya nabi-nabi yang menubuatkan Yesus sebagai Tuhan. Malaikat yang menjumpai para gembala sesaat setelah Yesus dilahirkan juga menandaskan dengan jelas bahwa Yesus adalah Tuhan.

4. Lukas 1:33-34

Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya,

Malaikat Gabriel mendapatkan tugas dari Allah untuk menjumpai Maria dan menyampaikan bahwa ia akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki yang  akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Sebutan Anak Allah Yang Mahatinggi, sebagaimana yang diutarakan oleh malaikat Gabriel, menandaskan keilahian Yesus, Allah yang sejati. Pernyataan ini bukan dilontarkan oleh manusia, tetapi oleh Gabriel, malaikat Allah sendiri.

Kelahiran-Nya pun juga tidak seperti manusia pada umumnya yang terjadi sebagai hasil hubungan biologis manusia, melainkan Roh Kudus-lah yang turun atas diri Maria.


5. Lukas 1:41-43

Maria mengunjungi Elisabet, saudaranya, yang saat itu juga mengandung anak, yang nantinya dikenal sebagai Yohanes Pembaptis, Maria pun memberi salam kepada Elisabet. "Dan ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabeth pun penuh dengan Roh Kudus, lalu berseru dengan suara nyaring: "Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini, sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku." 

Ketika Elisabet menyatakan hal itu,  kita dapat menyakini, bahwa dorongan Roh Kuduslah, sehingga ia dapat mengatakan bahwa, "Siapakah aku ini, sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku."  Meskipun demikian Elisabet juga menyatakan bahwa, berbahagialah ia yang telah percaya. Ia juga tidak memaksa orang lain untuk percaya apa yang dikatakannya.

6. Yohanes 1

Kitab Yohanes 1, banyak menuliskan dan menyiratkan keilahian Yesus. Bukan hanya Yohanes, yang menulis kitab ini saja, tetapi Yohanes Pembaptis dan beberapa murid Yesus lainnya juga menyatakan akan keilahian Yesus.

7. Surat-surat tulisan Paulus

Meskipun kesaksian-kesaksian tentang Yesus ini dinyatakan oleh para nabi dan malaikat, masih saja banyak orang yang meragukan akan Yesus sebagai Tuhan. Apalagi ketika murid-murid-Nya dan para Rasul-Nya menyatakan bahwa Yesus sebagai Tuhan, banyak orang yang semakin tidak mempercayai Yesus sebagai Tuhan. Meskipun demikian Rasul Paulus dan para Rasul lainnya, tidak berhenti untuk mengabarkan dan memberitakan bahwa Yesus adalah Tuhan. Berikut adalah beberapa ayat yang ditulis murid-murid Yesus yang menyatakan dan menyiratkan bahwa Yesus adalah Tuhan.
  • Roma 9:5 ; Mereka adalah keturunan bapa-bapa leluhur yang menurunkan Mesias dalam keadaan-Nya sebagai manusia, yang ada di atas segala sesuatu. Ia adalah Allah yang harus dipuji sampai selama-lamanya. Amin!
  • 1 Korintus 8:6 ; namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari pada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup.
  • Filipi 2:5-8 ; Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.
  • Filipi 3:8-10 Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuany itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus, dan berada dalam Dia bukan dengan kebenaranku sendiri karena mentaati hukum Taurat, melainkan dengan kebenaran karena kepercayaan kepada Kristus, yaitu kebenaran yang Allah anugerahkan berdasarkan kepercayaan. Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya.

Senin, 26 Agustus 2019

Pemberitaan Salib - Kebodohan Bagi Dunia

BACAAN ALKITAB :  1 Korintus 1:18-31

Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah."  (1 Kor. 1:18)

PENGAJARAN :

Ketika seseorang membaca bacaan Alkitab di atas, khususnya pada bagian "Sebab, pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa...", di satu sisi memberi pengertian dan pemahaman bahwa orang-orang yang akan binasa, adalah orang-orang yang bodoh.

Tetapi mengapa, bagi mereka yang akan binasa, dikatakan bahwa pemberitaan tentang salib adalah suatu kehodohan? Ya, karena mereka tidak bisa mengerti dan memahami apa yang diajarkan dan dituliskan oleh para nabi melalui nubuat Allah yang telah disampaikan, termasuk pengajaran Yesus tentang rencana dan pekerjaan keselamatan Allah yang dinyatakan melalui Dia.

Sebenarnya banyak orang yang secara manusiawi memiliki kepandaian yang sangat tinggi dalam banyak hal. Tetapi, ketika mereka dihadapkan pada pemberitaan tentang salib, banyak dari orang-orang pandai tersebut justru menjadi orang-orang yang bodoh, padahal banyak diantara mereka yang memiliki gelar hasil dari pendidikan tinggi yang mereka tempuh. Padahal bahasa yang digunakan dalam Alkitab adalah bahasa Indonesia yang mudah untuk dibaca, dimengerti dan dipahami, apalagi oleh mereka-mereka yang berpendidikan tinggi. Sayang justru banyak di antara mereka tidak bisa mengerti dan memahami, bahkan mereka juga tidak bisa percaya bahwa Allah telah mengutus Sang Putra untuk turun ke dunia (Yoh. 3:16), sebagai wujud atau ungkapan kasih Allah kepada umat manusia yang telah jatuh ke dalam dosa, untuk menjadi jalan keselamatan bagi mereka.

Di sisi lain, dunia tidak hanya menganggapnya suatu kebodohan, tetapi dunia juga membenci salib! Ketika mendengar berita tentang salib, dunia selalu menghina, merendahkan dan mentertawakannya. Bagaimana mungkin pemberitaan salib dapat memberikan kekuatan bagi mereka yang akan diselamatkan? Natanael pun pernah mengajukan suatu pertanyaan yang mirip, "Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nasaret?". (Yohanes 1:46) Dunia mentertawakan, merendahkan dan menghinanya. Itulah sebabnya dunia menganggapnya, hal itu sebagai suatu kebodohan yang tidak masuk akal.

Tuhan Yesus pernah menyatakan, "Pada waktu itu berkatalah Yesus: "Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil". (Matius 11:25) Itulah sebabnya dikatakan bahwa, Pemberitaan tentang Salib adalah Kebodohan bagi mereka yang akan binasa, karena jika mereka tetap tidak bisa mengerti dan memahami atau tidak memiliki iman pada pemberitaan salib ini, mereka akan tetap dalam keadaan dosa dan itu akan membawa mereka kepada suatu kebinasaan.

Apa yang dapat kita petik sebagai suatu pelajaran bagi kita. Di dunia ini banyak orang berdosa, tetapi seringkali mereka tidak  menyadari dan mengerti apa arti dosa dan dampaknya. Dunia juga tidak mengerti bagaimana cara supaya dapat terlepas dari dosa? Akibatnya semua yang dikerjakan Tuhan bagi umat manusia di dunia ini dianggap sebagai suatu kebodohan yang tidak bisa mereka mengerti sama sekali.

Alkitab dengan jelas menyatakan bahwa  "...upah dosa ialah maut;  tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita."  (Roma 6:23). Banyak orang telah memilih jalan hidupnya sendiri, menurut keinginannya yang mengandalkan kekuatan, kekayaan dan kepintaran diri sendiri, sehingga mereka merasa tidak membutuhkan Tuhan.  Alkitab mengatakan bahwa orang yang merespons berita salib disebut sebagai orang yang bijak.  Sebaliknya orang yang meremehkan dan mentertawakan berita salib adalah orang yang bodoh.

IMAN kepada-Nya, termasuk iman kepada kurban-Nya yang tunggal dan sempurna, kematian-Nya di atas kayu salib, kebangkitan-Nya dari kematian dan kenaikan-Nya kembali ke sorga untuk nantinya akan datang lagi ke bumi menjemput para milik-Nya, adalah jalan untuk beroleh keselamatan dan hidup dalam persekutuan yang kekal dengan-Nya, sebab Tuhan Yesus telah menyatakan, "Akulah, jalan dan kebenaran dan hidup, tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, jika tidak melalui Aku" (Yohanes 14:6)

Di bagian selanjutnya, dituliskan, ...tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah." Mengapa bisa demikian? Bagi kita, yang telah menerima Yesus, pengikutan dan kesetiaan kepada Kristus, bukanlah suatu hal yang mudah. Yesus telah menyatakan, "... Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya,  memikul salibnya dan mengikut Aku". (Matius 16:23). Artinya, ketika kita mengikut Yesus, kita harus siap ketika kita harus memikul suatu beban yang berat. Tapi kita masih dapat bersyukur, kemenangan Yesus pada kayu salib dan kebangkitan-Nya dari kematian, telah menunjukkan kepada kita bahwa Yesus berkuasa atas maut dan neraka dan segala kuasa di langit dan di bumi, telah diberikan Allah kepada Tuhan Yesus, dan Dia ada dipihak kita.

Oleh karena itu, ketika kita harus memikul suatu beban berat dalam pengikutan kita kepada Yesus, kita akan dapat tetap bersetia dan bersuka cita, karena Tuhan Yesus berpihak kepada kita, sehingga kita dapat senantiasa menaruhkan iman, pengandalan dan pengharapan kepada-Nya untuk menolong dan menguatkan kita. Itulah sebab-Nya pemberitaan tentang salib, kemenangan-Nya atas maut dan neraka adalah kekuatan Allah, bagi kita yang akan diselamatkan

Melalui salib kita beroleh pengampunan dari Tuhan dan kita diperdamaikan dengan Allah.  Ketika kita mendengar kata “SALIB” kita diingatkan akan penyelesaian hukum terhadap dosa-dosa kita, karena Tuhan Yesus mati di atas kayu salib untuk menebus segala hutang dosa kita.  Tuntutan hukum yang seharusnya jatuh pada kita digantikan oleh Tuhan Yesus:  "ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya,..."  (Yesaya 53:5b).  Syukur dan puji Tuhan atas anugerah keselamatan bagi orang percaya melalui salib Yesus Kristus.

Amin.

Minggu, 18 Agustus 2019

Keindahan itu, tidak jauh dari kita

Pada tahun 2007, The Washington Post pernah melakukan sebuah eksperimen yang cukup menarik. Mereka meminta seorang pemain biola ternama, Joshua Bell, untuk menunjukkan kebolehannya di sudut sebuah stasiun.

Tidak tanggung-tanggung, sang violinis mempersembahkan lagu yang paling sulit dimainkan, berjudul Chaconne, Partita No 2 in D Minor karya maestro Sebastian Bach. Biola yang digunakan pun tidak main-main, yaitu biola termahal miliknya yang nyaris sempurna menghasilkan nada paling merdu.

Bagaimana hasilnya? Selama satu jam permainannya, dengan lebih dari seribu orang yang melewati jalan tersebut, namun hanya tujuh orang saja yang berhenti sejenak dan menikmati sajian indah dan gratis itu.

Padahal, tiga hari sebelumnya, Joshua Bell baru saja menggelar pertunjukan tunggal di sebuah teater musik yang kursi penontonnya terjual habis, meski tiket dijual seharga seratus dolar per lembar!

Eksperimen ini dilakukan untuk menunjukkan dan membuktikan kepada kita semua, bahwa sebenarnya keindahan itu dapat dengan mudah kita temui di mana saja, bahkan keindahan itu ada sangat dekat dengan kita. Namun, terkadang justru kita mengacuhkannya dan tidak menyadari keberadaannya.

Berapa banyak keindahan yang kita lewati. Kita sering kali menyangka apa yang ada di sekitar kita, tidak ada sesuatu yang berharga, padahal kenyataannya adalah kita yang tidak peduli. Hanya karena permainan biola itu dibawakan di stasiun, bukan berarti menjadi kehilangan keanggunannya.

Mari kita mulai belajar untuk menghargai. Temukanlah segala keindahan melalui segala apa yang diciptakan Allah, "Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik" (Kej. 1:31). Jika kita dapat mengamini apa yang dinyatakan Allah, maka pastilah dalam segala sesuatu yang menjadi ciptaan-Nya akan terdapat keindahan. Tugas kita adalah untuk menemukan keindahan tersebut.

Sadarilah, bahwa apapun yang kita temukan, dimana pun kita berada, baik di rumah, di tempat kerja, atau pun di tempat lainnya, sebetulnya punya keindahannya sendiri-sendiri. Mungkin karena kita yang terlalu banyak mengeluh, sehingga kita tidak menyadarinya.

Rasakanlah dalam wajah-wajah anggota keluarga kita di rumah, tersimpan keindahan yang kita butuhkan. Hanya saja waktu kita habis untuk smartphone, atau pun kesibukan kerja lainnya, sehingga kita tidak bisa lagi merasakannya.

Ketika kita membaca Alkitab, bernyanyi, bersenandung dan berdoa, terkandung keindahan yang sangat menentramkan hati bagi pembaca maupun pendengarnya. Sebagaimana yang banyak kita baca di kitab Mazmur dan Kidung Agung.

Dari sana kita akan kembali sadar bahwa keindahan hanyalah berasal dari Allah dan hanya kepada-Nyalah kita layak untuk memuji dan mengagungkan nama-Nya.

Semoga dengan renungan ini, kita akan senantiasa memperbaiki ibadah kita kepada Allah, yang hendaknya ternyata dalam tutur kata, cara berpikir dan berbuat yang baik dan benar di hadapan Allah.

Amin.

Rabu, 14 Agustus 2019

Menyembah Allah saja, dan tidak pada berhala

BACAAN ALKITAB

Ketika bangsa itu melihat, bahwa Musa mengundur-undurkan turun dari gunung itu, maka berkumpullah mereka mengerumuni Harun dan berkata kepadanya: "Mari, buatlah untuk kami allah, yang akan berjalan di depan kami sebab Musa ini, orang yang telah memimpin kami keluar dari tanah Mesir--kami tidak tahu apa yang telah terjadi dengan dia. Lalu berkatalah Harun kepada mereka: "Tanggalkanlah anting-anting emas yang ada pada telinga isterimu, anakmu laki-laki dan perempuan, dan bawalah semuanya kepadaku." Lalu seluruh bangsa itu menanggalkan anting-anting emas yang ada pada telinga mereka dan membawanya kepada Harun. Diterimanyalah itu dari tangan mereka, dibentuknya dengan pahat, dan dibuatnyalah dari padanya anak lembu tuangan. Kemudian berkatalah mereka: "Hai Israel, inilah Allahmu, yang telah menuntun engkau keluar dari tanah Mesir! Ketika Harun melihat itu, didirikannyalah mezbah di depan anak lembu itu. Berserulah Harun, katanya: "Besok hari raya bagi TUHAN!". Dan keesokan harinya pagi-pagi maka mereka mempersembahkan korban bakaran dan korban keselamatan, sesudah itu duduklah bangsa itu untuk makan dan minum; kemudian bangunlah mereka dan bersukaria.  Berfirmanlah TUHAN kepada Musa, “Pergilah, turunlah, sebab bangsamu yang kaupimpin keluar dari tanah Mesir telah rusak lakunya. Segera juga mereka menyimpang dari jalan yang Kuperintahkan kepada mereka; mereka telah membuat anak lembu tuangan, dan kepadanya mereka sujud menyembah dan
mempersembahkan korban, sambil berkata: Hai Israel, inilah allahmu yang telah menuntun engkau keluar dari tanah Mesir." (Kel. 32:1-8)

PENGAJARAN

Sementara Musa berada di gunung Sinai dan menerima dua loh batu yang berisi hukum-hukum yang diperintahkan Allah untuk dilaksanakan oleh umat Israel (Kel. 31:18), di kaki gunung bangsa Israel mendirikan patung anak lembu dari emas dan mengagungkan serta menyembahnya sebagai allah. Di dalam 1 Raj. 12:28 juga diberitakan kejadian yang sama, bahwa raja Kerajaan Israel Utara, yaitu Yerobeam, memerintahkan untuk mendirikan dua patung anak lembu jantan dari emas, yang satu diletakkan di Betel dan satunya lagi diletakkan di Dan. Perbuatan raja Yerobeam ini menyebabkan umat Israel yang ada di wilayahnya menjadi berbuat kejahatan di mata Allah, karena mereka menyembah patung yang telah dibuatnya dan menjadikannya sebagai berhala.

Pada kedua kasus ini, patung-patung yang mereka buat, hendak mereka gunakan untuk menggantikan Allah yang hidup. Harun mendirikan patung yang sedemikian itu, karena Musa, hamba Allah, pergi untuk waktu yang lama tanpa ada kabar berita dan kejelasan (Kel. 32:1). Sedangkan, Yerobeam ingin agar orang-orang yang ingin pergi ke Yerusalem untuk menuju Bait Allah, tidak perlu harus menempuh perjalanan yang jauh dan sulit, cukup di Betel dan di Dan saja. Hal ini juga dilakukan oleh Yerobeam, untuk mencegah jangan sampai orang-orang berbalik kepada raja Rehabeam dan juga berbalik untuk memusuhi dirinya.

Penyembahan pada patung-patung yang melambangkan kekuatan dan daya hidup, adalah hal yang biasa, baik di Mesir, Mesopotamia, maupun  di Kanaan. Penyembahan terhadap hewan-hewan atau anak lembu sebagai perwujudan yang ilahi, adalah merupakan pelanggaran terhadap Perintah Kesatu, dan itu adalah suatu kejahatan di mata Allah. Meski umat pilihan, seringkali melakukan kejahatan dan perbuatan buruk di mata Allah, tetapi Allah di dalam kesetiaan-Nya tidak berpaling dari mereka.

Ketika orang-orang menyembah berhala, secara otomatis
  • mereka akan mengabaikan Allah, mereka tidak lagi peduli akan kehendak Allah.
  • mereka tidak lagi mau untuk berusaha mengorientasikan hidup dan pandangannya pada Allah. Fokus mereka hanya akan ada pada patung berhala tersebut sebagai allah mereka.
Dan itu merupakan suatu kejahatan di mata Allah, yang pada akhirnya, kejahatan tersebut akan menentukan keputusan-keputusan dan perilaku mereka. Padahal di dalam Perintah Kesatu, dari 10 Perintah Allah disebutkan: “Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku”. Di sini Allah menegaskan bahwa Allah tidak memberikan alternatif kepada manusia. Ia adalah Tuhan atas kehidupan, dan hanya kepada-Nyalah kita berhutang atas keberadaan kita, kehidupan kita dan diri kita sebagaimana kita adanya saat ini, yaitu sebagai anak-anak Allah, sebagai ahli watis kerajaan sorga dan sebagai pengantin perempuan sidang jemaat Tuhan. Oleh karena itu, layaklah dan adalah menjadi hak Allah untuk dapat senantiasa dipermuliakan, diperagungkan. Segala puji dan kehormatan hanyalah bagi Allah. 

Yesus memberikan suatu contoh yang sedemikian agung, ketika Ia dicobai oleh iblis, "... Semua itu akan kuberikan kepada-Mu, jika Engkau sujud menyembah aku. Maka berkatalah Yesus kepadanya: "Enyahlah, Iblis. Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti! (Mat. 4:9-10). Hubungan kita dengan Allah Tritunggal hendaknya dibentuk sedemikian rupa, sehingga jangan sampai ada tempat bagi berhala-berhala apapun. Kita adalah anak-anak-Nya, kita mengasihi Dia dan mengandalkan diri kepada Dia.

Bahaya dalam kehidupan sehari-hari

Meski kita memiliki hubungan yang istimewa dengan Allah, tetapi kita harus tetap waspada, karena hubungan dan persekutuan kita dengan Allah, dapat saja terganggu. Harun dan umat Israel berpendapat, bahwa mereka sudah ditinggalkan begitu saja oleh Musa dan Allah, sehingga mereka mulai mencari sebuah alternatif.

Pada masa sekarang ini, ketika kita terkadang merasa sendiri, merasa ditinggalkan, merasa dipinggirkan, tidak bisa memahami tindakan Allah, atau memiliki perasaan bahwa Allah tidak lagi mau mendengarkan doa-doa kita, maka akan dengan mudah iblis masuk ke hati dan kepikiran kita, mengganggu dan mendorong kita untuk menjadikan keinginan-keinginan dan harapan-harapan kita, menjadi lebih
penting bagi kita daripada kehendak Allah, dan itu, bahkan dapat berkembang menjadi “berhala-berhala”, yang mungkin tidak kita sadari, sebagai contoh:
  • Keinginan-keinginan, ide-ide, gagasan-gagasan, harapan-harapan, dorongan-dorongan yang demikian kuat dan menggebu-gebu, bahkan mendominasi seluruh pandangan, fokus dan kepikiran kita, bisa menjadi berhala bagi kita sendiri. Kita tidak lagi bisa mengenali kehendak Allah, bahkan tidak menutup kemungkinan kita akan mengabaikan kehendak Allah. Tidak jarang, untuk "melegalisasikan" keinginan, ide, gagasan dan harapan kita tadi, kita menggunakan ayat-ayat dalam kitab Injil sebagai "pembenar" cara berpikir kita. Dan ini bisa berakibat fatal.
  • Harga diri dan kehormatan. Adalah sangat dipahami kalau ada seseorang yang ingin untuk dapat mencapai suatu posisi tertinggi dalam karir dan hidupnya. Karena kalau kita mengacu pada teori Maslow, maka puncak dari keinginan manusia adalah harga diri atau kehormatan. Hanya perlu kita sadari bahwa keinginan yang terlalu kuat untuk mencapai kehormatan diri dapat menjauhkan manusia dari Allah. Mereka mengabaikan kehendak Allah. Mereka akan menggunakan segala cara untuk mencapai. Mereka tidak peduli la. gi dengan sesamanya dan bahkan tidak peduli dengan Allah. Bila terjadi yang sedemikian, harga diri dan kehormatan dapat menjadi berhala bagi kita. Jika terjadi hal ini marilah kita senantiasa ingat firman Tuhan dalam Matius 16:24.
  • Kekayaan duniawi. Adalah tidak salah ketika seseorang ingin hidup enak, layak dan kaya. Tetapi marilah kita hendaknya dapat menempatkan prioritas hidup kita, pada tempat yang benar. Dalam kitab matius 6:33, dinyatakan, "Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu." Ketika kita berusaha untuk mendapatkan kekayaan dengan segala cara atau ketika kita sudah memiliki kekayaan yang sedemikian besar, sehingga menggunakan kekuatan harta ini untuk melakukan memenuhi keinginan kita, maka akan menjadi bahaya besar bagi kita, karena akan menjadikan harta kekayaan itu sebagai berhala. Kita menjadi tidak peduli lagi dengan kehendak Allah bahkan mungkin kita akan berpikir, bahwa kita tidak lagi membutuhkan Allah, kaena apa yang kita inginkan, semua dapat kita peroleh dengan harta kita.
Dari ketiga contoh di atas, kita jadi mengerti, mengenali dan bisa memahami, bahwa berhala pada masa sekarang ini, bukanlah semata-mata hanya berupa patung melainkan berbagai hal yang dapat mengalihkan fokus dan pandangan kita dari Allah dan menjadikan hal itu sebagai fokus dan perhatian utama dalam hidup kita, itulah berhala.

Tujuan kita

Tujuan kita mengikut Tuhan Yesus, sebenarnya adalah untuk masuk ke dalam per-
sekutuan yang kekal dengan Allah Tritunggal, yang diawali oleh para sulung pada peristiwa kedatangan Kristus kembali untuk menjemput umat milik-Nya, pengantin perempuan sidang jemaat Tuhan. Barangsiapa tetap memiliki dan dapat menjaga hubungan dan persekutuan yang erat dengan Allah, melalui firman dan sakramen, maka ia akan senantiasa dapat menempatkan Allah pada tempat yang utama dan pertama dan ia tidak akan berada dalam bahaya, untuk menggantikan Allah dengan berhala.

Amin.


Latria

Latria adalah suatu istilah teologis yang berasal dari bahasa latin. Istilah ini digunakan dalam teologi Orthodox dan Katolik Roma, yang berarti adorasi (bhs. Inggris "Adoration") atau ibadah atau penyembahan, yaitu suatu penghormatan yang mendalam yang ditujukan hanya kepada Allah Tritunggal yang Mahakudus. 
Pada umat Katolik, Latria juga mencakup perayaan Ekaristi dan adorasi Ekaristi (Sakramen Mahakudus)

Selain Latria, ada istilah lain yang terkait dengan penyembahan atau penghormatan, yaitu Dulia. Hanya saja pada istilah Dulia, dipakai sebagai istilah penyembahan atau penghormatan yang lebih ditujukan kepada orang yang dianggap suci (kudus) atau yang dihormati atau benda.

Ibadah Latria ini, lebih ditujukan pada kehidupan jiwa atau batiniah, bukan sekedar suatu perayaan atau tindakan lahiriah saja. Sebenarnya Latria adalah suatu implementasi dari perintah Allah yang pertama, “Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku”.

Latria bersifat pengurbanan dan sebagai wujud ketaatan atau bakti yang hanya dipersembahkan kepada Allah Tritunggal saja, karena keagungan-Nya, yang tentu saja tidak bisa disejajarkan dengan yang lain. Itulah sebabnya kepujian, penghormatan dan kemuliaan hanya kita berikan kepada Allah Tritunggal. 

Kemanunggalan

BACAAN ALKITAB

Semoga Allah, yang adalah sumber ketekunan dan penghiburan, mengaruniakan kerukunan kepada kamu, sesuai dengan kehendak Kristus Yesus, sehingga dengan satu hati dan satu suara kamu memuliakan Allah dan Bapa Tuhan kita, Yesus Kristus. Sebab itu terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk kemuliaan Allah. (Roma 15:5–7)

PENGAJARAN

Di dalam suratnya kepada orang-orang Roma, Rasul Paulus menunjukkan kepada kita cara, agar kita dapat benar-benar memiliki dan mewujudkan kemanunggalan, satu dengan yang lain. Sidang jemaat di Roma terdiri dari orang-orang percaya dengan latar belakang dan tradisi yang berbeda-beda. Beberapa orang, begitu kuat berakar di dalam kepercayaan Kristen, sementara yang lainnya, kurang. Paulus sebenarnya tidak berusaha untuk menghilangkan semua perbedaan (Rm. 14: 5) ataupun untuk memaksa mereka semua menjadi sama. Yang ia inginkan pada mereka adalah toleransi, untuk saling menerima satu dengan yang lainnya, dengan segala perbedaan latar belakangnya, seperti Kristus telah menerima mereka.

Pada masa sekarang, anak-anak Allah juga memiliki latar belakang yang sangat berbeda satu dengan yang lain. Marilah kita memuliakan Allah dengan karunia-Nya ini dan belajar untuk mengatasi perbedaan kita. Dalam hal ini, kita akan dapat berhasil, kalau kita mengalami dan dapat merasakan kasih, kesabaran dan penghiburan Allah.

Allah mengasihi semua manusia tanpa terkecuali

Perlu kita pahami bahwa, Allah Sang Bapa mengasihi setiap anak-Nya, sebagaimana Ia mengasihi kita – tidak lebih dan tidak kurang. Yesus, Sang Putra Allah, menyatakan, "Dan Raja itu akan menjawab mereka, ‘Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatau yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku." (Matius 25:40). Pengetahuan dan pemahaman ini merupakan fondasi untuk membangun kebersamaan, kemanunggalan dan persaudaraan diantara kita.

Allah memberikan hidup yang kekal

Perlu kita sadari bahwa kondisi kehidupan kita sangat berbeda. Beberapa diantara kita memiliki kehidupan yang sejahtera, sedangkan beberapa yang lainnya memiliki kehidupan yang miskin. Beberapa yang lainnya hidup dalam kesehatan yang baik, sedangkan yang lainnya berada dalam kondisi sakit. Perbedaan dan ketidaksetaraan ini dapat mengancam kemanunggalan kita. Tetapi kita tahu, bahwa kasih Allah tidak dapat diukur dengan hal-hal materi, dan Allah mengaruniakan kepada kita semua hidup yang kekal, dan itu sama bagi semuanya.

Jika hati kita dipenuhi dengan kebahagiaan karena dapat merasakan bahwa kita dikasihi oleh Allah, maka tidak ada tempat di hati kita untuk iri hati.

Warisan yang disediakan Allah tidak akan habis.

Kadang, anak-anak bertengkar memperebutkan warisan, mereka takut dirugikan. Ini sangat berbeda dengan harta warisan kekayaan surgawi. Harta kekayaan warisan yang dicadangkan Bapa surgawi kita tidak akan habis. Allah dapat memberikan segala sesuatu kepada setiap jiwa. Oleh karena itu, kita tidak perlu bersaing dengan sesama kita dalam upaya untuk mencapai keselamatan.

Kemurahan tidak terduga

Beberapa orang menjadi agak tidak nyaman dan agresif, ketika sesamanya mendapatkan sesuatu atau seolah-olah diperlakukan, tidak biasanya atau menyimpang dari norma yang biasanya. Dalam perumpamaan tentang pekerja di kebun anggur, para pekerja yang dipekerjakan pada jam-jam awal, merasa jengkel karena mereka yang dipekerjakan pada jam-jam berikutnya setelah mereka mulai bekerja, mereka ternyata menerima upah yang sama (Mat. 20:1–16).

Roh Kudus mengajar kita, bahwa keselamatan adalah kasih karunia ilahi yang diberikan kepada kita, sesuatu yang tidak dapat kita peroleh sendiri atau oleh kaena jasa kita. Kita tidak melayani Allah agar diselamatkan, tetapi karena Dia-lah yang menyelamatkan kita! Jika kita dapat memahami dan mengerti hal ini, maka kita tidak perlu marah atau jengkel, ketika kita mengetahui bahwa Allah menawarkan keselamatan kepada orang-orang percaya, yang pekerjaannya atau latar belakangnya mungkin sangat berbeda dengan kita.

Demikian juga dengan pengampunan dosa yang Allah karuniakan kepada kita, tidak tergantung pada seberapa besar hutang kita, tetapi pada iman dan ketulusan penyesalan kita. Oleh karena itu, akan menjadi bodoh untuk menunjukkan jari kita, pada sesama kita dalam usaha mengecilkan kesalahan kita.

Marilah kita muliakan Allah yang penuh kasih, kesabaran, dan penghiburan, dengan saling menerima satu eengan yang lainnya, sebagaimana Yesus menerima kita, yang dengan sabar menanggung kelemahan sesama, dan bermurah hati kepada mereka. Marilah kita jadikan sidang jemaat kita sebuah tempat di mana kasih, kesabaran dan kemurahan dapat dirasakan oleh setiap orang!

Amin.

Roh Kudus Sebagai Penolong dan Penghibur

BACAAN ALKITAB

Dan kalau Ia datang, Ia akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman; akan dosa, karena mereka tetap tidak percaya kepada-Ku; akan kebenaran, karena Aku pergi kepada Bapa dan kamu tidak melihat Aku lagi; akan penghakiman, karena penguasa dunia ini telah dihukum. (Yohanes 16:8-11)

PENGAJARAN

Injil Yohanes bab 16, berisi percakapan Yesus dengan murid-murid-Nya, tentang perpisahan-Nya dengan mereka, yang akan segera terjadi. Dalam pembicaraan tersebut, Yesus menjanjikan akan kedatangan Roh Kudus, sebagai “Paraklete” Penolong dan Penghibur. Pada  saat Yesus menyatakan kata-kata seperti di atas, Ia mengetahui, bahwa waktu-Nya untuk tinggal di bumi akan segera berakhir. Itulah sebabnya Ia mempersiapkan murid-murid-Nya untuk mengahadapi masa-masa setelah kematian-Nya. Ia melihat kebingungan, ketidakpastian dan kekhawatiran murid-murid-Nya, maka Ia ingin mengurangi kegelisahan, kekuatiran dan sedihan mereka dan menguatkan mereka untuk menghadapi dan menjalankan tugas-tugas mereka di masa depan.

Yesus kembali kepada Allah Sang Bapa

Yesus juga menjelaskan kepada murid-murid-Nya, adalah perlu, ya, bahkan baik bagi mereka, apabila Ia kembali kepada Sang Bapa, karena kemudian dari sana, Ia akan mengirimkan Roh Penghibur, yaitu Roh Kudus (Yoh. 16:7–10). Selanjutnya, Yesus juga menjadikan jelas bahwa:
  • Kepergian-Nya kepada Bapa merupakan suatu bukti bahwa maut dan neraka tidak mampu menahan-Nya, dan Ia kemudian duduk di samping Sang Bapa, sebagai Yang Ditinggikan.
  • Dengan turunnya Roh Kudus, para milik-Nya tetap memiliki dan berada dalam hubungan yang erat dengan-Nya (Yoh. 16:14).
  • Kepergian-Nya kepada Bapa adalah sangat penting, karena Ia ingin menyelesaikan pekerjaan-Nya di alam sini dan alam sana untuk menyediakan tempat bagi kita, dan jika tempat itu sudah selesai, Ia akan datang lagi untuk menjemput para milik-Nya. Saat ini, Ia terus bekerja melalui Roh Kudus, yang di dalam-Nya Yesus hadir.
  • Janji kedatangan-Nya kembali (Yoh. 14:3) tidak akan dibatalkan, meskipun Roh Kudus hadir di dunia ini. Sebaliknya, Yesus justru menegaskan kepada para murid-Nya bahwa Ia akan menjumpai mereka lagi (Yoh. 16:16,22,23).
Tugas-tugas Roh Kudus

Pada bacaan Alkitab di atas, Tuhan Yesus menyatakan bahwa, Roh Kudus akan menginsafkan dunia akan dosa. Disini ada tiga poin penting yang dapat kita pelajari dan kita renungkan: 
  • Roh Kudus mengajar, bahwa Yesus Kristus adalah Allah sejati dan sekaligus manusia sejati. Barangsiapa tidak percaya kepada-Nya dan tidak menuruti firman-Nya, ia tidak akan sampai kepada Sang Bapa (Yoh. 14:6).
  • Roh Kudus mengajar, bahwa kebenaran yang berlaku di hadapan Allah, berasal dari iman kepada Yesus Kristus. Sebagaimana halnya dengan penjelmaan Allah di dalam Dia, Kebangkitan Yesus adalah juga merupakan pekerjaan Roh Kudus (Rm. 8:11).
  • Roh Kudus menuntun kepada pengetahuan, bahwa Yesus Kristus adalah Hakim yang adil. Standar yang dipakai oleh Tuhan Yesus untuk menghakimi adalah Iman atau kepercayaan kepada-Nya dan perbuatan yang dihasilkan iman tersebut. Roh Kudus juga menegaskan, bahwa melalui kematian dan kebangkitan Yesus, “penguasa dunia ini” telah dihukum dan kuasanya telah dihancurkan (Yoh. 16:11).
Roh Kudus adalah Roh kebenaran, dan sebagai Roh Kebenaran, Roh Kudus menunjukkan kepada manusia, bahwa Yesus Kristus adalah jalan, kebenaran, dan hidup. Setiap orang yang sudah memiliki iman pada Kristus dan terbilang pada Kristus, harus memberikan ruang bagi Roh-Nya di dalam jiwanya, supaya hati nuraninya dapat dipertajam dan senantiasa dapat mengenali bahwa Yesus adalah jalan, kebenaran dan hidup dan imannya tetap dipertahankan.

Atas dasar ini, adalah penting untuk mendengarkan suara Roh Kudus, yang dapat ki-
ta dengar di dalam khotbah Injil, di dalam kebaktian dan di dalam setiap jawaban atas doa-doa kita, karena di sanalah dibicarakan tentang dosa, kebenaran, dan penghakiman.

Amin.


Kamis, 08 Agustus 2019

Allah Menuntun Menuju Tanah Perjanjian Yang Baru

BACAAN ALKITAB

Dengan kasih setia-Mu Engkau menuntun umat yang telah Kautebus; dengan kekuatan-Mu Engkau membimbingnya ke tempat kediaman-Mu yang kudus (Kel. 15:13)

PENGAJARAN

Sejarah perjalanan umat Israel keluar dari Mesir menuju tanah perjanjian, Kanaan, seolah-olah tidak ada habis-habisnya untuk dijadikan pelajaran bagi kita saat ini untuk memahami dan mengerti rencana pekerjaan keselamatan Allah, di dalam Yesus Kristus, yang saat ini dikerjakan oleh Roh Kudus, untuk membawa kita kepada tanah perjanjian yang baru, "tanah Kanaan yang baru" yaitu kerajaan Sorga. 

Allah Menuntun ke Tanah Perjanjian, Kanaan

Ketika Allah mendengar keluh kesah umat Israel atas penderitaan mereka semasa perbudakan di Mesir, tergeraklah Ia akan  kasih dan belas kasihan kepada umat Israel, sehingga Allah mengutus Musa untuk menyelamatkan dan mengeluarkan mereka dari Mesir dan membawa umat Israel menuju ke tanah perjanjian, Kanaan, suatu negeri yang penuh dengan "susu dan madu". Dengan kasih setia-Nya, Ia menuntun umat yang telah dipilihnya dan dengan kekuatan-Nya Ia membimbing mereka ke tempat Kediaman-Nya yang kudus.

Tentulah penguasa Mesir tidak rela kalau umat Israel keluar dari Mesir, sehingga meski orang-orang Israel telah keluar dari Mesir, para prajurit Firaun diperintahkan untuk terus mengejar orang-orang Israel untuk membinasakan mereka. Nampaknya itu akan berhasil, ketika umat Israel perjalanannya terhadang oleh adanya laut Merah yang ada di depannya dan sementara prajurit-prajurit Firaun terus bergerak semakin mendekat. 

Di sinilah kuasa Allah ditunjukkan kepada umat-Nya, dengan harapan agar umat Israel memiliki iman, pengharapan dan pengandalan kepada Allah dan kepada Musa, hamba yang diutus-Nya, di mana Ia membuat mereka berhasil menyeberangi Laut Merah dan melenyapkan pasukan Firaun.

Selanjutnya Allah menuntun umat itu ke padang gurun Syurk menuju Tanah Perjanjian. Selama dalam perjalanan ini, umat Israel belajar :
  • Untuk mengenali akan kemurahan Allah dan hendaknya merasa puas dengan kemurahan yang telah diberikan. Di padang gurun, umat pilihan-Nya sangat tergantung pada makanan yang diberikan Allah, yaitu manna, roti dari langit, yang diberikan kepada mereka secara cuma-cuma. Tetapi mereka harus mengikuti nasihat-nasihat ilahi pada saat mengumpulkannya dan belajar untuk puas dengan hal itu (Kel. 16:4,5; Bil. 21:4-6).
  • Untuk mengenali kehendak Allah. Untuk mencapai tujuan, mereka harus berjalan sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Allah. Di siang hari, mereka harus mengikuti tiang awan dan pada malam hari mereka harus mengikuti tiang api. Tetapi ketika awan tidak naik, maka mereka pun tidak berangkat, sampai hari awan itu naik. (Kel. 13:21; 40:36,37).
  • Untuk tetap setia kepada Allah, bahkan ketika Allah tidak menyatakan diri untuk beberapa lama (Kel. 32).
  • Untuk menerima Musa, utusan yang dipilih oleh Allah (Bil. 16), meskipun Musa sendiri bukanlah orang yang sempurna dan tanpa cela (Kel. 2:11-14).
  • Untuk tetap tegar dan terus berjuang, ketika Allah meminta mereka untuk berjuang, meskipun kemenangan nampaknya mustahil untuk diraih (Bil. 13;14).

Allah Menuntun ke Tanah Kanaan yang baru, Kerajaan Sorga

Dengan jatuhnya Adam dan Hawa ke dalam dosa, menjadikan seluruh umat manusia menjadi hamba dosa. Untuk membebaskan manusia dari kuasa dosa, Yesus Kristus telah diutus untuk memberikan hidup-Nya, yang akan membawa manusia ke tanah perjanjian hang baru, yaitu Kerajaan Sorga. Kemenangan-Nya atas maut dan neraka, memungkinkan kita untuk dilepaskan dari perhambaan dosa dan untuk datang kepada Allah, yang bersemayàm dalam Kerajaan Sorga. Allah ingin menuntun kita dengan kasih setia-Nya, umat yang telah ditebus-Nya, dan dengan kekuatan-Nya Ia membimbing kita untuk dibawa ke temlat kediaman-Nya yang kudus. Pada masa sekarang ini, untuk masuk ke tempat kediaman-Nya dan masuk kedalam kerajaan Allah, sebagaimana umat Israel, kita juga harus belajar :
  • Untuk mengenali dan mampu meraih karunia kemurahan, yang disediakan Allah, sebagai makanan jiwa kita, yaitu sakramen-sakramen, dan firman-firman Allah. Sebagaimana Tuhan Yesus katakan, "... makanan-Ku adalah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya" (Yoh. 4:34). Kehendak Allah yang tidak lain adalah firman Allah, diberikan kepada kita sebagai makanan rohani, dan itu dapat kita peroleh, di dalam kebaktian-kebaktian secara cuma-cuma. Tetapi kita harus mengumpulkan dan menerimanya, dan hendaknya merasa puas dengan apa yang telah diberikan Allah kepada kita. Marilah kita mengandalkan diri pada Allah. Di dalam kemurahan-Nya Ia mengaruniakan segala yang kita perlukan untuk keselamatan kita, sesuai dengan keadaan waktu.
  • Untuk mengikuti jalan yang telah Yesus tunjukkan. Roh Kudus sebagai tiang awan dan tiang api menuntun kita untuk terus berada di atas jalan yang telah ditentukan, dan jalan itu bernama jalan kasih, "kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama" (Matius 22:37-39). Seseoramg tidak akan sampai kepada tujuan, jika ia menyimpang dari jalan ini. Tuhan Yesus mengatakan, "Barangsiapa mengasihi Aku, ia akan menuruti perintah-perintah-Ku.".
  • Untuk tetap setia kepada Allah, bahkan ketika Ia seolah-olah melupakan kita, atau tidak memperdulikan kita dan tidak mengabulkan semua permohonan kita. Tetaplah setia, karena Allah kita adalah Allah yang setia.
  • Untuk menerima kelompok Rasul yang diutus oleh Yesus untuk menuntun kita dan menyalurkan makanan dan minuman sorgawi, yaitu firman-firman dan sakramen-sakramen, meskipun mereka juga tidak tanpa cela dan ada berbagai ketidak sempurnaan yang dapat kita lihat.
  • Untuk tetap tegar, terus berjuang, pantang menyerah dan berjuang tanpa lelah dalam upaya melawan dosa, meski kita kadang pesimis bahwa kita tidak akan menang melawan dosa. Tetspi kita memiliki keyakinan bahwa bersama Kristus kita akan menang melawan dosa.
Mereka yang mengikut dengan setia kepada Kristus sampai pada akhirnya, ia akan masuk ke dalam kerajaan-Nya!

Amin.

Sabtu, 03 Agustus 2019

Talita kum

BACAAN ALKITAB

Ketika Yesus masih berbicara datanglah orang dari keluarga kepala rumah ibadat itu dan berkata: "Anakmu sudah mati, apa perlunya lagi engkau menyusah-nyusahkan Guru?" Tetapi Yesus tidak menghiraukan perkataan mereka dan berkata kepada kepala rumah ibadat: "Jangan takut, percaya saja. Lalu Yesus tidak memperbolehkan seorangpun ikut serta, kecuali Petrus, Yakobus dan Yohanes, saudara Yakobus. Mereka tiba di rumah kepala rumah ibadat, dan di sana dilihat-Nya orang-orang ribut, menangis dan meratap dengan suara nyaring. Sesudah Ia masuk Ia berkata kepada orang-orang itu: "Mengapa kamu ribut dan menangis? Anak ini tidak mati, tetapi tidur!" Tetapi mereka menertawakan Dia. Maka diusir-Nya semua orang itu, lalu dibawa-Nya ayah dan ibu anak itu dan mereka yang bersama-sama dengan Dia masuk ke kamar anak itu. Lalu dipegang-Nya tangan anak itu, kata-Nya: "Talita kum," yang berarti:"Hai anak, Aku berkata kepadamu, bangunlah! Seketika itu juga anak itu bangkit berdiri dan berjalan, sebab umurnya sudah dua belas tahun. Semua orang yang hadir sangat takjub. Dengan sangat Ia berpesan kepada mereka, supaya jangan seorangpun mengetahui hal itu, lalu Ia menyuruh mereka memberi anak itu makan. (Markus 5:35-42)

PENGAJARAN

Kisah anak perempuan Yairus yang dibangkitkan dari kematian, adalah sebuah petunjuk tentang aktivitas Yesus Kristus yang menyelamatkan. 

Yesus mendengarkan kita. 

Yairus, adalah seorang kepala rumah ibadat (sinagoge). Ketika ia melihat Yesus di dekat danau Galilea, ia datang kepada Yesus, dan tersungkurlah ia di depan kaki-Nya. Ia memohon kepada-Nya, agar Yesus berkenan menolong anak perempuannya yang sakit dan hampir mati. Ia tersungkur di depan kaki Yesus untuk menunjukkan imannya bahwa ia percaya pada kuasa ilahi, yang ada pada diri Yesus. Yesus pun pergi bersama Yairus, dan sekumpulan orang banyak, mengikuti mereka.

Seorang perempuan yang telah menderita pendarahan selama bertahun-tahun, datang dari belakang dan menyentuh Yesus. Peristiwa ini menghambat perjalanan mereka, karena Yesus mempertanyakan, siapa yang melakukan hal tersebut. Yesus merasakan ada tenaga yang keluar dari tubuhNya. Peristiwa ini akhirnya juga memperlambat upaya penyembuhan yang diniatkan dan akan dilakukan Yesus kepada anak perempuan Yairus (ayat 25–34). Anak perempuan itu pun akhirnya meninggal dunia. Ketika Ia sampai di rumah, para pelayat sudah berkumpul. Tapi oleh karena kuasa ilahiNya, Ia membangkitkan anak perempuan itu dari kematian dan semua orang terkagum-kagum.

Peristiwa di atas menunjukkan bahwa, ketika kita memohon pertolongan melalui doa-doa kita, Yesus akan dengan sukacita untuk menindak lanjuti permohonan kita
Yesus mendengarkan doa-doa kita dan mendampingi kita di dalam ujian-ujian maupun kesulitan. Kehadiran-Nya di samping kita akan memberikan penghiburan dan menguatkan kita. Tetapi, Ia tidak selalu dengan segera, membebaskan kita dari penderitaan.

Kadang, kita mendapati bahwa Allah "seolah-olah sibuk"menyelesaikan permasalahan orang lain (ayat 25–34), sementara situasi kita sendiri, justru semakin memburuk. Tapi Yesus mengatakan, “Jangan takut, percaya saja!” (ayat 36). Allah akan menolong kita. Oleh karena itu, marilah kita bersabar dan mengandalkan diri pada pertolonganNya.

Pertolongan Allah melampaui imajinasi kita

Bagi mereka yang ada di sekitar Yairus, Yesus datang terlambat, dan tidak ada lagi yang dapat Ia lakukan (ayat 35). Beberapa orang bahkan mengejek-Nya, karena Ia mengklaim pernyataan yang sebaliknya (ayat 39,40).

Dari sudut pandang manusiawi, memang seringkali sulit untuk dijelaskan mengapa Allah tidak melakukan apapun untuk mencegah begitu banyak orang dari penderitaan, sakit-penyakit, peperangan, atau bencana-bencana alam.

Puncaknya adalah, ketika engkau menunjukkan bahwa, ada suatu kemungkinan bagi pendosa, untuk meraih jalan masuk pada keselamatan setelah kematian, maka tidak jarang engkau bahkan akan diejek. Namun kita percaya bahwa pertolongan Allah sering kali melampaui pemahaman manusiawi. Kematian, bukanlah suatu halangan bagi-Nya. Yang Mahakuasa dapat mengatasi kesulitan-kesulitan terbesar dan mengubah semua kesedihan menjadi sukacita yang kekal.

Yesus menyelamatkan

Yesus membangkitkan anak perempuan itu dari kematian, dengan memegang tangannya dan berbicara kepadanya (ayat 41). Dengan mukjizat ini, Yesus secara simbolis menyatakan akan kebangkitan-Nya sendiri dan kemenangan-Nya atas maut dan kematian. Ia ingin menunjukkan kepada orang-orang, bahwa Ia dapat membebaskan mereka dari kematian rohani, yaitu suatu keadaan terpisah dari Allah, dan memberi mereka hidup yang kekal, yakni persekutuan dengan Allah.

Ia mengaruniakan hidup yang kekal kepada mereka yang menerima firman-Nya dan sakramen-sakramen dengan hati yang percaya. Mengikut Kristus adalah jalan satu-
satunya untuk menuju hidup yang kekal

Arahan-Nya yang ketat kepada orang-orang untuk tidak mengatakan kepada siapapun tentang mukjizat yang telah Ia lakukan (ayat 43), jelas nampak aneh. Semua orang yang ada di situ tahu, bahwa anak perempuan Yairus itu sudah mati dan mereka melihat sendiri bahwa Ia juga telah menghidupkan kembali anak Yairus itu. Tetapi, Yesus tidak ingin orang-orang tersebut, melihat Dia sebagai pelaku mukjizat. Tuhan Yesus justru ingin, agar seorang Kristen yang mengikut Yesus, adalah untuk meraih hidup yang kekal dan bukan untuk melihat atau mendapatkan keuntungan dari mukjizat-mukjizat.

Memperantarakan bagi yang telah meninggal dunia

Banyak jiwa yang mendapati diri mereka dalam kondisi mati secara rohani, karena mereka tidak mengenal Yesus Kristus, atau karena mereka sengaja membiarkan jarak terus semakin menjauh, di antara mereka dengan Yesus. Belum terlambat. Adalah belum terlambat, bagi mereka. Kasih kita kepada sesama, hendaknya mendorong kita untuk memperantarakan mewakili mereka.

Kita dapat membawa mereka lebih dekat dengan Yesus, dengan cara memberitakan Injil Kristus kepada mereka dan membiarkan mereka menemukan dan dapat merasakan kasih Kristus. Yesus akan membebaskan mereka, yang menerima firman-Nya dengan penuh kepercayaan, dari kematian yang kekal. Di sisi lain, adalah tergantung pada gereja, yaitu komunitas orang-orang percaya, untuk memerhatikan kesejahteraan rohani mereka yang telah Yesus panggil menuju hidup yang kekal.

Amin


Mengatakan Kebenaran

BACAAN ALKITAB

Karena itu buanglah dusta dan berkatalah benar seorang kepada yang lain, karena kita adalah sesama anggota (Efesus 4:25).

PENGAJARAN

Bacaan Alkitab di atas menjelaskan, bagaimana hendaknya perilaku orang-orang Kristen, khususnya dalam kehidupan di sidang jemaat Kristen, dan dalam kaitannya dengan pelaksanaan Perintah Kedelapan.

Yesus  mengatakan, "...Akulah jalan dan kebenaran dan hidup..."(Yoh. 14:6). Di sisi lain, kita adalah anggota tubuh Kristus. Kita menjadi anggota tubuh Kristus melalui baptisan suci yang kita terima, dan pengakuan iman kita kepada Yesus Kristus. Dan oleh karena kita adalah anggota tubuh Kristus, maka secara khusus, adalah kewajiban bagi kita untuk bersikap, berperilaku dan hidup secara benar.

Kalau manusia konsekuen dan semakin konsekuen mengikut Kristus, maka akan tercermin dalam perkataan dan perbuatan mereka, yang semakin tulus dan benar.

Pada bacaan Alkitab di atas tertulis, "karena itu buanglah dusta..." Mengapa kita harus membuang dusta? Kaena dusta dapat merusak kehidupan dalam sidang jemaat. Kepercayaan dan kedekatan antara satu dengan yang lainnya dapat hancur oleh karena dusta atau ketidakbenaran. Karena itu buanglah dusta dan berkatalah benar seorang kepada yang lain, karena kita adalah sesama anggota

Dalam hubungan dan kebersamaan antar manusia, orang-orang Kristen memiliki
kewajiban moral kepada setiap orang. Hati nurani yang didukung oleh akal dan iman, akan membantu kita untuk mengarahkan diri kita sesuai kehendak Allah dan dengan demikian memberi diri untuk diarahkan pada kebaikan.

Tapi sayang, oleh karena kelemahan dan ketidaksempurnaannya, manusia seringkali sulit untuk mengatakan kebenaran. Meski demikian, Allah tetap menuntut kita ada dalam kebenaran, karena hal ini akan memungkinkan kita untuk menghindari dosa.

Kebenaran terhadap sesama

Dasar untuk hidup dalam kebenaran, adalah menuruti dan berorientasi pada kehendak Allah. Salah satu  yang menjadi kehendak Allah adalah, kasihilah sesamamu manusia. Perintah untuk mengasihi sesama ini, termasuk di dalamnya adalah untuk menyatakan kebenaran kepada sesama, dan kita hendaknya juga senantiasa berpikir serta memperhatikan perasaan orang lain. Ketika kebenaran itu harus dinyatakan seringkali akan membawa kita kepada situasi yang menyakitkan. Sebagai contoh:
  • LYesus, Sang Kebenaran dan Pemberita kebenaran itu sendiri, harus mati oleh karena kebenaran. Keberanian untuk berkata benar, bertumbuh dari pengandalan kepada Allah. Hal itulah yang juga dilakukan oleh para ? Rasul Tuhan ketika tampil dihadapan mahkamah agama (Kisah. 4:5-22). Keberanian para Rasul Tuhan untuk berkata-kata ini, sesuai dan selaras dengan apa yang menjadi kehendak Tuhan Yesus: “Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak” (Mat. 5:37).
  • Berbohong untuk menyembunyikan kesalahan sendiri begitu menggoda. Dari nasihat Rasul Petrus kepada Ananias dapat dikenali, betapa pentingnya untuk memikirkan dengan menyeluruh, sunguh-sungguh dan secara mendasar, akan tindakan-tindakan serta perkataan-perkataan kita (Kis. 5:4). Jangan sampai kita mengalami sebagaimana Ananias. Dusta yang dilakukan banyak orang saat ini, nampaknya sudah menjadi hal yang biasa dan banyak dilakukan oleh masyarakat pada umumnya, meskipun hal ini tetap melanggar perintah Allah.
  • Yesus juga tidak menyembunyikan terhadap murid-murid-Nya bahwa pengikutan kepada-Nya harus disertai dengan penyangkalan terhadap diri sendiri (Luk. 9:23). Dari apa yang disampaikan oleh Tuhan Yesus, Kita hendaknya juga harus bisa dan berani menyatakan kebenaran dan tidak menyembunyikannya, bahwa menjadi seorang Kristen, bisa jadi akan membawa kerugian-kerugian bagi kita.
Kebenaran di dalam iman?

Kebenaran tidak hanya diperlukan di dalam kehidupan sehari-hari, melainkan juga suatu kebutuhan iman. Sebagai contoh, iman kita, baru dapat dianggap benar, jika iman kita dibentuk oleh kebenaran dan ketulusan. Termasuk di dalamnya adalah, agar kita tidak memalsukan iman dan mencampuradukkan dengan unsur-unsur esoterik dan gagasan-gagasan agama atau pengajaran-pengajaran, yang bukan Kristen. Peringatan akan bahaya ini, sudah disampaikan sejak masa orang-orang Kristen yang awal (2 Tim. 4:4). Menyangkal kematian kurban Yesus atau ke-
bangkitan-Nya, dapat diartikan memalsukan Injil. Dam hal ini adalah juga suatu contoh tentang dusta (1 Kor. 15:15).

Jumat, 02 Agustus 2019

Iman pada Kristus, menyatukan

BACAAN ALKITAB

Paulus diakui oleh para rasul
Kemudian setelah lewat empat belas tahun, aku pergi pula ke Yerusalem dengan Barnabas dan Tituspun kubawa juga. Aku pergi berdasarkan suatu penyataan. Dan kepada mereka kubentangkan Injil yang kuberitakan di antara bangsa-bangsa bukan Yahudi -dalam percakapan tersendiri kepada mereka yang terpandang- ,supaya jangan dengan percuma aku berusaha atau telah berusaha. Tetapi kendatipun Titus, yang bersama-sama dengan aku, adalah seorang Yunani, namun ia tidak dipaksa untuk menyunatkan dirinya. Memang ada desakan dari saudara-saudara palsu yang menyusup masuk, yaitu mereka yang menyelundup ke dalam untuk menghadang kebebasan kita yang kita miliki di dalam Kristus Yesus, supaya dengan jalan itu mereka dapat memperhambakan kita. Tetapi sesaatpun kami tidak mau mundur dan tunduk kepada mereka, agar kebenaran Injil dapat tinggal tetap pada kamu. Dan mengenai mereka yang dianggap terpandang itu --bagaimana kedudukan mereka dahulu, itu tidak penting bagiku, sebab Allah tidak memandang muka--bagaimanapun juga, mereka yang terpandang itu tidak memaksakan sesuatu yang lain kepadaku. Tetapi sebaliknya, setelah mereka melihat bahwa kepadaku telah dipercayakan pemberitaan Injil untuk orang-orang tak bersunat, sama seperti kepada Petrus untuk orang-orang bersunat --karena Ia yang telah memberikan kekuatan kepada Petrus untuk menjadi rasul bagi orang-orang bersunat, Ia juga yang telah memberikan kekuatan kepadaku untuk orang-orang yang tidak bersunat. Dan setelah melihat kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, maka Yakobus, Kefas dan Yohanes, yang dipandang sebagai sokoguru jemaat, berjabat tangan dengan aku dan dengan Barnabas sebagai tanda persekutuan, supaya kami pergi kepada orang-orang yang tidak bersunat dan mereka kepada orang-orang yang bersunat; hanya kami harus tetap mengingat orang-orang miskin dan memang itulah yang sungguh-sungguh kuusahakan melakukannya.
Paulus bertentangan dengan Petrus
Tetapi waktu Kefas datang ke Antiokhia, aku berterang-terang menentangnya, sebab ia salah. Karena sebelum beberapa orang dari kalangan Yakobus datang, ia makan sehidangan dengan saudara-saudara yang tidak bersunat, tetapi setelah mereka datang, ia mengundurkan diri dan menjauhi mereka karena takut akan saudara-saudara yang bersunat. Dan orang-orang Yahudi yang lainpun turut berlaku munafik dengan dia, sehingga Barnabas sendiri turut terseret oleh kemunafikan mereka. Tetapi waktu kulihat, bahwa kelakuan mereka itu tidak sesuai dengan kebenaran Injil, aku berkata kepada Kefas di hadapan mereka semua: "Jika engkau, seorang Yahudi, hidup secara kafir dan bukan secara Yahudi, bagaimanakah engkau dapat memaksa saudara-saudara yang tidak bersunat untuk hidup secara Yahudi?" (Galatia  2:1-14)

PENGAJARAN

Nas Alkitab kita menunjukkan adanya sebuah masalah yang cukup serius, yang terjadi di sidang jemaat-sidang jemaat Kristen awal. Pada orang-orang Kristen Yahudi – termasuk para Rasul Kristen awal – mulanya terdapat suatu pemahaman bahwa orang-orang non Yahudi, yang ingin memberi dirinya dibaptis, harus mematuhi hukum Musa, misalnya sunat untuk laki-laki, dan berbagai hukum tentang makanan.

Petrus (Kefas), awalnya aktif di Yerusalem, dan sidang jemaat di Yerusalem seringkali dianggap atau ditempatkan sebagai suatu sidang jemaat yang ideal dan sebagai contoh bagi sidang-sidang yang lain (Kis. 2:46-47; 4:32-35). Akan tetapi, kalau diperhatikan, orang-orang Kristen di Yerusalem ini, meskipun mereka telah memiliki iman kepada Yesus Kristus, tetapi masih terikat erat dengan keberadaan mereka sebagai bagian dan anggota dari umat Yahudi secara keseluruhan, termasuk kepatuhan mereka terhadap hukum Musa dan pelestarian tradisi-tradisi Yahudi.

Petrus di Antiokhia

Seiring berjalannya waktu, masalah-masalah sidang jemaat di Yerusalem meningkat, sehingga Petrus mencari perlindungan di Antiokhia, dimana saat itu sudah ada sidang jemaat Kristen non-Yahudi. Petrus pun merawat persekutuan umat Kristen
non-Yahudi di sana dan berjamu bersama mereka, sesuatu yang sebenarnya dilarang oleh umat Yahudi yang saleh.

Tetapi ketika umat Kristen Yahudi dari Yerusalem yang memiliki reputasi ketaatan yang ketat pada hukum Musa, datang ke Antiokhia, Petrus justru menarik diri dari umat Kristen non-Yahudi itu, dan kembali  bergabung serta bergaul dengan umat Kristen Yahudi. Mengetahui apa yang dilakukan Petrus, maka Paulus meresponsnya dalam surat yang ia tulis kepada orang-orang Galatia dan menuduh Petrus munafik. Paulus sependapat dan percaya, bahwa iman kepada Kristus adalah jalaneselamatan, bukan hukum Musa, dan ia menuntut suatu pengakuan yang jelas atau ketegasan sikap pada kemerdekaan di dalam Kristus, dan jangan dicampur adukkan dengan hukum Taurat. (Gal. 5:1-4).

Sebelumnya Paulus juga menuliskan kepada orang-orang di Galilea tentang kemerdekaan di dalam Yesus, yang melepaskan kita dari pengawalan dan kurungan hukum Taurat: "Sebelum iman itu datang kita berada di bawah pengawalan hukum Taurat, dan dikurung sampai iman itu telah dinyatakan. Jadi hukum Taurat adalah penuntun bagi kita sampai Kristus datang, supaya kita dibenarkan karena iman. Sekarang iman itu telah datang, karena itu kita tidak berada lagi di bawah pengawasan penuntun. Sebab kamu semua adalah anak-anak Allah karena iman di dalam Yesus Kristus. Karena kamu semua, yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus. Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuankarena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus. Dan jikalau kamu adalah milik Kristus, maka kamu juga adalah keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah (Galatia 3:23-29).

Sulitnya berpaling dari hukum Taurat

Kita tidak bermaksud menilai atau menghakimi perilaku Petrus. Tetapi seseorang dapat dengan mudah mengenali dan memahami bahwa betapa sulitnya jalan pekerjaan Petrus pada masa-masa awal Kekristenan, ketika Injil datang kepada bangsa-bangsa non-Yahudi, sesuai dengan kehendak Allah. Di satu sisi ia harus mengajarkan pengajaran Kristus dan jalan keselamatan yang ada pada  Kristus, di sisi lain, pengaruh hukum Taurat masih begitu kuat, dalam kalangan orang Yahudi, termasuk dirinya. Mereka menempatkan hukum Taurat di atas kemerdekaan di dalam Kristus. Inilah yang ditentang oleh Palulus

Meski demikian, Rasul Petrus tetaplah menjadi alat di dalam tangan Allah, untuk me-
negaskan bagi umat Kristen Yahudi, bahwa orang-orang non-Yahudi juga dipilih untuk menjadi umat Allah dan bahwa hukum Taurat harus diletakkan di belakang iman kepada Kristus. Hal ini dibuktikan dengan kedatangannya ke rumah Kornelius.
Dengan dipimpin oleh Roh Kudus, Petrus masuk ke dalam rumah Kornelius, seorang
bukan Yahudi (Kis. 10:19,30-34,45-48) dan kemudian menegaskan sikapnya di hadapan orang-orang Kristen Yahudi (Kis. 11:17-18).

Sikapnya ini juga dinyatakan, ketika Petrus tampil untuk menyelesaikan dan mengakhiri perselisihan antara para penatua Yahudi dengan Paulus terkait dengan sunat dan hukum Taurat bagi orang Kristen Non Yahudi. Penyelesaian ini tertuang dalam dekrit rasuli (Kis. 15:7-12, 23-29).

Sayangnya perselisihan ini muncul kembali, ketika Petrus kembali kepada pola lamanya di Antiokhia. Akibatnya terjadilah perselisihan kembali di antara para Rasul, tentang hal itu! Contoh ini menunjukkan bahwa persekutuan dan kebersamaan serta kehidupan pada masa Kekristenan awal, bisa saja gagal karena adanya perbedaan yang mengakar kuat di dalam diri orang-orang percaya, baik pada orang Yahudi maupun orang bukan Yahudi. Bersyukurlah, hanya karena pekerjaan Roh Kudus-lah sehingga gereja Kristus tetap bertahan!

Injil menyatukan

Pada masa modern sekarang ini, ada permasalah-permasalahan yang sangat mirip dengan yang terjadi pada masa sidang jemaat-sidang jemaat Kristen awal. Pada masa ini, pekerjaan Tuhan sudah berdimensi internasional, sehingga sangatlah wajar jika karena adanya perbedaan-perbedaan budaya, terjadi benturan di sana-sini. Ju-
ga perbedaan pandangan antara generasi satu dengan generasi lainnya, dapat mengakibatkan konflik-konflik.

Dalam situasi yang sedemikian, marilah kita menempatkan pikiran dan perasaan yang terdapat dalam Kristus Yesus, seperti yang disampaikan, diajarkan dan diingatkan oleh Rasul Paulus, "karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga. Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus (Flp. 2:2-5).

Kepercayaan kepada Yesus Kristus, Sang Pelepas, dan kepada kedatangan-Nya kembali, hendaknya bisa menyatukan segala perbedaan. Marilah kita mengandalkan pada kuasa Roh Allah yang memelihara!

Indahnya Memberi - Indahnya Berbagi. Bahagianya Memberi

Seorang dosen yang dikenal bijaksana, tengah berjalan santai bersama seorang mahasiswa di taman kampus. Tidak lama keduanya melihat ada sepa...