Senin, 30 September 2019

Tumben Kebaktian

BACAAN ALKITAB

Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan (Lukas 15:7)

RENUNGAN

Aldini yang sudah sekian tahun tidak aktif kebaktian, mendadak timbul kerinduan dalam hatinya untuk datang ke mezbah Allah. Selita, yang mengetahui Aldini datang, memasuki halaman gereja, spontan berlari dan berseru,

"Hallo, Aldini...!!!

"Tumben datang kebaktian."

"Mimpi apa nih...?"

Dengan tersenyum kecut, Aldini menjawab, "Ah nggak..., nggak mimpi apa-apa." Aldini pun langsung masuk ke ruang kebaktian. Aldini pun akhirnya dapat mengikuti kebaktian sampai selesai. Tetapi sungguh diluar dugaan Selita, minggu berikutnya, ia tidak menjumpai lagi Aldini, ia menyapukan pandangannya, baik saat sebelum kebaktian maupun saat setelah kebaktian usai. Ia tidak melihat Aldini. Dari informasi yang ia peroleh, ternyata Aldini merasa malu ketika mendengar kata-katanya, "Tumben datang kebaktian."

Kadang, tanpa kita sadari, terucap kata-kata dari mulut kita, yang menyinggung perasaan orang lain. Mungkin maksud kita hanya bercanda, mungkin bahkan itu hanya spontanitas keluar dari mulut kita tanpa ada tendensi apa pun. Dalam hal ini mari kita bisa bersikap bijak dan mencoba untuk mengendalikan diri dalam menyikapi suatu kejadian, meskipun itu suatu kejadian atau peristiwa yang menyukakan sekalipun.

Tuhan senantiasa mengundang kita untuk datang kepada beliau, "Marilah kepada-Ku, semua yang letih, lesu dan berbeban berat, Aku akan memberikan kelegaan kepadamu." (Matius 11:28). Oleh karena itu, ketika ada saudara- saudari kita yang sudah lama tidak kebaktian, dan kemudian dapat datang dan mengikuti kebaktian, sambutlah mereka dengan sukacita, "Aku kangen lho sama kamu, untuk kebaktian lagi bersama-sama seperti dulu. Anak-anak Sekolah Minggu sudah kangen juga lho"

Rayakanlah kehadirannya, bagaikan domba yang hilang ditemukan kembali, bagaikan dirham yang hilang ditemukan kembali, bagikan anak yang hilang, yang kembali pulang. (Lukas 15)

Menertawakan janji Allah

BACAAN ALKITAB

Selanjutnya Allah berfirman kepada Abraham: "Tentang isterimu Sarai, janganlah engkau menyebut dia lagi Sarai, tetapi Sara, itulah namanya. Aku akan memberkatinya, dan dari padanya juga Aku akan memberikan kepadamu seorang anak laki-laki, bahkan Aku akan memberkatinya, sehingga ia menjadi ibu bangsa-bangsa; raja-raja bangsa-bangsa akan lahir dari padanya." Lalu tertunduklah Abraham dan tertawa serta berkata dalam hatinya: "Mungkinkah bagi seorang yang berumur seratus tahun dilahirkan seorang anak dan mungkinkah Sara, yang telah berumur sembilan puluh tahun itu melahirkan seorang anak?" (Kejadian 17:15-17)

PENGAJARAN

Ketika Allah menemui Abram, Allah mengadakan suatu perjanjian dengannya. Allah berjanji kepada Abram, bahwa ia akan menjadi bapa dari sejumlah besar bangsa dan daripadanya akan berasal raja-raja. Dan sejak saat itu, namanya bukan lagi Abram tetapi Abraham. Ketika Abram mendengar dan menerima janji Allah ini, meski ia tidak tahu bagaimana hal itu akan terjadi, ia bisa menerima dan bersujud kepada Allah. Tetapi ketika ia sudah berumur sembilan puluh sembilan tahun, mendengar dan menerima janji Allah bahwa ia akan memiliki anak dari Sara yang telah berusia sembilan puluh tahun, dan menjadikan Sara sebagai ibu dari bangsa-bangsa dan raja-raja bangsa-bangsa akan lahir dari padanya, ia tertunduk dan menertawakan janji dan firman Allah tersebut. 

Meskipun sebelumnya Abraham begitu menaruhkan iman, kepercayaan dan pengandalan yang begitu besar kepada Allah, tetapi ketika pikirannya sebagai manusia begitu mendominasi, ia mempertanyakan bahkan menertawakan akan janji dan firman Allah. Ia lupa akan kemahakuasaan Allah, ia lupa akan kebesaran, keagungan dan kemuliaan karya ciptaan Allah. "Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.(Yesaya 55:8-9)

Manusia, tanpa disadari, seringkali menertawakan firman Allah. Mari kita ambil beberapa contoh.

1. Yesus, Sang Putra Allah. Banyak orang yang menertawakan, ketika mereka mendengar bahwa Yesus adalah Sang Putra Allah. Bagaimana mungkin Allah bisa melahirkan seorang anak. Ketika Yesus dibaptis di tepi sungai Yordan, Allah sendiri telah menyatakan, "Inilah Anak-Ku yang Kukasih, kepada-Nyalah Aku berkenan." (Matius 3:17)  Kepikiran yang mendominasi manusia, telah menjadikan manusia lupa akan kuasa, dan kebesaran Allah. Hanya imanlah yang akan membawa manusia untuk dapat percaya bahwa Yesus adalah Sang Putra Allah. 

2. Kelahiran baru dengan air dan Roh. 
Dengan kelahiran baru dengan air dan Roh, seseorang mendapatkan ke-anakan di dalam Allah, sehingga ia dapat menyebut-Nya, Ya Abba, Ya Bapa. "Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah. Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: "ya Abba, ya Bapa!" Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah. Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia. (Roma 8:14-17)

Dengan kelahiran baru dari air dan Roh, kita telah menjadi anak Allah dan menjadi ahli waris bersama-sama dengan Tuhan Yesus. Ketika kita menyatakan bahwa kita adalah anak-anak Allah, banyak orang akan menertawakan dan mungkin juga akan melecehkan kita, bahkan mungkin akan menganggap kita telah melecehkan Allah. "Bagaimana mungkin kita bisa mengaku-ngaku kita adalah anak Allah?"

Memang secara fisik kita tidak berbeda dengan umat manusia pada umumnya. Sama seperti Tuhan Yesus, ketika turun ke dunia, secara fisik Ia tidak berbeda dengan orang lain. Ia juga merasa lapar, Ia juga makan dan minum seperti orang lain. Ia juga bisa merasakan betapa sakitnya disiksa. Tetapi melalui aktivitas-Nya, kita dapat mengamini bahwa Ia adalah Allah Sang Putra, Ia adalah Tuhan. Demikian juga dengan kita, meski secara fisik, kita tidak berbeda dengan manusia pada umumnya, tetapi Roh Allah yang telah ditanamkan ke dalam diri kita itulah yang membuat kita berbeda dengan manusia pada umumnya, dan itu hendaknya nyata dalam kata, sikap dan perbuatan kita.

3. Firman Pengampunan Dosa

Dalam kebaktian, kita mendengar firman pengampunan dosa. Ketika kita merasa bahwa kita telah terlalu dalam tenggelam dan berlepotan lumpur dosa dan merasa dosa kita begitu besar, kita seringkali berpikir, masih layakkah aku untuk berdiri dihadapan takhta kemurahan-Nya, Menyadari akan hal ini, sering kali tanpa kita sadari, kita tersenyum kecut. Mungkinkah dosaku dapat diampuni? 
Janji Allah melalui nabinya, menyatakan bahwa, "...Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba." (Yesaya 1:18). 

Contoh yang diberikan oleh Tuhan Yesus tentang sikap pemungut cukai yang datang dengan kerendahan hati dan penuh penyesalan, ke bait Allah untuk memohonkan pengampunan, hendaknya juga dapat memberikan pemahaman dan pengertian akan besarnya kasih dan kemurahan Allah pada para pendosa. Oleh karena itu, datanglah dan mari kita mengakui akan kesalahan kita, bertobat dan memohonkan pengampunan dosa, maka Allah akan membersihkan jiwa kita dari lumpur dosa.

Kuasa dan kasih Allah-lah yang menjadikan segala sesuatu yang telah dijanjikan-Nya akan digenapi dan terjadi. Dan penggenapan janji Allah tidak hanya berlaku untuk janji-janji Allah yang terkait dengan kehidupan dan keselamatan jiwa kita saja, tetapi penggenapan janji-Nya juga berlaku dalam kehidupan jasmani kita sehari-hari. JANGAN PERNAH "MENERTAWAKAN" janji Allah, karena Allah adalah setia dan Janji-Nya adalah "Ya" dan "Amin". 

Gempa Bumi

Di beberapa tempat, baik di Indonesia maupun di Jepang dan di negara-negara lain, sering kali terjadi peristiwa bencana gempa bumi. Menurut para ilmuan, salah satu penyebab gempa bumi adalah adanya tumbukan antara 2 lempeng bumi, yang memiliki sifat  dan karakter yang berbeda, yang masing -masing memiliki dan membawa energi yang sangat besar. Itulah sebabnya, akibat peristiwa gempa bumi ini, tidak jarang menimbulkan kerusakan yang sedemikian hebatnya dan pada kondisi-kondisi tertentu disertai dengan bahaya ikutan yang tidak kalah besar dan menakutkan, yaitu tsunami. Kerusakan yang terjadi akibat tsunami sendiri, seringkali, juga tidak kalah hebatnya.

Mari gambaran ini kita bawa dalam kehidupan kita sehari-hari, baik dalam kehidupan rumah tangga, lingkungan pekerjaan, lingkungan dimana kita berada, kehidupan sidang jemaat Tuhan atau gereja, bahkan kehidupan sebagai suatu bangsa. Kita ambil contoh saja dalam lingkungan kehidupan yang kecil seperti lingkungan rumah tangga atau sidang jemaat (gereja).

Setiap manusia pastilah memiliki keinginan, kepikiran, kemauan, minat, harapan, cita-cita dan lain-lain. Pada saat sedemikian, sering kali kita berharap orang lain untuk bisa mengerti, memahami, dan kalau bisa mendukung apa yang menjadi keinginan dan harapannya, sehingga apa yang menjadi keinginan dan harapannya dapat terwujud. Tidak jarang, keinginan kita itu sedemikian besarnya, sehingga kita akan berusaha apa pun caranya, yang penting tujuan dan harapan kita dapat terpenuhi. Jika sudah demikian, pastilah untuk dapat merealisasikannya dibutuhkan energi dan usaha yang sangat besar, sehingga kadang-kadang, ketika kita berhasil meraih apa yang kita inginkan, kita merasa seolah-olah sudah loyo, kehabisan tenaga dan kelelahan. Ini menggambarkan betapa besar energi yang dibutuhkan untuk merealisasikan keinginan kita tersebut.

Di sisi lain, kita juga berharap, jangan sampai ada orang yang menghalangi atau menghambat keinginan kita tersebut. Kalau sampai terjadi hal itu, sedapat mungkin, ia akan berusaha untuk menggilasnya.

Demikianlah, dalam kehidupan rumah tangga atau dalam kehidupan sidang jemaat Tuhan, kadang ada satu pihak atau orang-orang yang berusaha untuk memaksakan keinginannya. Jika suami atau isteri memaksakan suatu keinginan atau kehendak dan itu berbenturan dengan keinginan dan harapan dari pasangannya, maka akan dapat terjadi suatu konflik dalam rumah tangga tersebut. Jika tidak ada pihak yang mau mengalah atau mau merendahkan diri, maka agar keinginan dan kehendaknya terpenuhi, maka mereka akan mencoba meningkatkan energinya agar keinginan dan kehendaknya dapat terwujud. Jika energi yang terpendam ini semakin tinggi, maka ketika terjadi benturan, maka akan kerusakan akibat tingginya energi benturan dalam rumah tangga tersebut. Dapat dibayangkan, betapa besar kehancuran dalam kehidupan rumah tangga tersebut, akibat benturan ini. Belum lagi kalau kedua pihak mengikut sertakan orang-orang yang ada di sekitarnya untuk mendukungnya, maka potensi kehancuran itu akan semakin besar, seperti halnya gempa bumi yang diikuti tsunami. Suatu kerusakan dan kehancuran yang sangat dasyat di dalam kehidupan rumah tangga kita. Demikian juga halnya dalam kehidupan sidang jemaat Tuhan dan lain-lain.

Supaya benturan ini tidak terjadi, maka dibutuhkan kerendahan hati dan sikap mengalah pada diri kita. Ketika kita merasakan adanya potensi benturan yang hebat, sikap pertama yang hendaknya disadari, adalah, kenali potensi kerusakan dan kehancuran yang mungkin bisa terjadi. Jika hal ini segera kita sadari, maka berlomba-lombalah untuk menjadi yang pertama dalam upaya merendahkan diri dan mengalah, maka kehancuran dalam kehidupan rumah tangga kita dapat dihindari.

Mengalah, tidak selalu berarti kalah. Merendahkan diri, tidak selalu berarti rendah diri atau hina. Bersikaplah bijak dalam menyikapi potensi benturan kepentingan, keinginan dan harapan dalam rumah tangga kita, agar tidak terjadi kerusakan atau kehancuran dalam rumah tangga kita, akibat benturan kepentingan diri kita masing-masing.

Rabu, 18 September 2019

Damai Sejahtera Sebagai Karunia

BACAAN ALKITAB

Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu. (Yohanes 14:27)

PENGAJARAN



Bacaan bagian Alkitab di atas diambil dari perbicaran Tuhan dengan murid-murid-Nya menjelang perpisahan-Nya untuk mempersembahkan kurban di atas kayu salib. Pembicaraan tentang perpisahan Yesus yang tertulis dalam Injil Yohanes dimulai dengan kata-kata, “Janganlah gelisah hatimu” (Yoh. 14:1) dan Yesus mengakhiri
pembicaraan-Nya tentang damai sejahtera, dengan kata-kata di atas untuk menguatkan dan menghibur mereka dengan mengatakan, "Janganlah ... gentar
hatimu." Perpisahan para murid dengan Yesus, seharusnya tidak perlu menimbulkan ketakutan apapun. Meskipun demikian Yesus tahu perasaan takut dan gentar itu akan tetap menghantui murid-murid-Nya. Untuk itulah, guna mencegah rasa takut itu muncul, Yesus memberi kita damai sejahtera-Nya, yang jauh melampaui semua kedamaian yang dapat diberikan oleh manusia. 

Dalam konteks ini, damai “seperti yang diberikan oleh dunia” adalah semacam
suasana damai yang diupayakan oleh kekaisaran Romawi waktu itu, dengan cara menaklukkan bangsa-bangsa disekitarnya dan membuat perjanjian-perjanjian
dengan musuh-musuh mereka, sehingga mereka lagi mengganggu pemerintahaan kekaisaran Romawi.

Sebenarnya manusia dikatakan memiliki perdamaian atau damai sejahtera ketika
  • mereka dapat hidup berdampingan dalam keharmonisan, keamanan dan tanpa konflik.
  • mereka hidup dalam kepuasan dan bebas dari rasa takut.
  • tidak ada seorang pun yang mengganggu kedamaian mereka.
Agar kedamaian itu ada dan dapat terjaga dengan baik, maka
  • dibuatlah berbagai peraturan dan setiap orang harus mematuhinya, sebab jika semua orang bertindak semau mereka sendiri, pastilah tidak akan ada kedamaian.
  • harus diupayakan adanya suatu keadilan. Suatu kelompok masyarakat yang tidak memerhatikan kebutuhan-kebutuhan dasar dari anggotanya, tidak akan dapat hidup dalam kedamaian.
  • harus ada sikap toleransi, saling mengharagai dan saling menghormati.
Sebenarnya Allah telah memberikan dasar kepada umat manusia agar mereka dapat membangun dan menjaga adanya kedamaian, yakni dengan diberikan-Nya hukum Sepuluh Perkara dan perintah-perintah yang tertulis dalam Injil Kristus. Di antaranya, Yesus pernah mengajar kita untuk tidak mengukur secara berlebihan, hal-hal yang bersifat material, dan agar kita hendaknya berbuat kepada orang lain, apa yang kita inginkan orang lain perbuat kepada kita.

Kedamaian di antara umat manusia, seperti yang diberikan oleh dunia, tidaklah sempurna, karena
  • kita sendiri tidaklah sempurna. Seringkali kita justru tidak berbuat hal-hal yang baik, yang kita inginkan, tetapi malahan kejahatanlah, yang kita tidak kehendaki (Rm. 7:19).
  • adanya rasa tidak puas dalam diri manusia dan ingin selalu mendapatkan lebih dari apa yang sudah diperolehnya.
  • adanya perasaan, ingin lebih dari orang lain
  • kita dihadapkan pada akibat dosa atau konsekuensi-konsekuensi dari perbuatan dosa, sehingga harus mengalami penderitaan, ketidakadilan, dan bahkan kematian. Akibatnya kedamaian itu justru hilang.
  • kita semua diberi kebebasan dalam mengambil berbagai keputusan sehingga kita juga tidak dapat memaksa orang lain untuk hidup dalam perdamaian dengan kita (Rm. 12:18).
Damai sejahtera sendiri, sebenarnya adalah suatu karunia Yesus, yang diberikan kepada mereka yang percaya dan yang mengikut kepada-Nya. Damai sejahtera Yesus yang dikaruniakan kepada kita menjadikan kita memiliki hubungan persekutuan yang erat dan tidak terganggu dengan Allah dan juga dengan Yesus, sebab, 
  • Ia adalah damai sejahtera kita, karena Ia telah memperdamaikan kita dengan Allah melalui kurban-Nya (Ef. 2:14-16).
  • Ia telah membebaskan kita dari dosa-dosa kita dan menghapus kesalahan-kesalahan kita di hadapan Allah.
  • Ia menjaga, merawat, dan menghibur kita (Yoh. 16:33).
Damai sejahtera Kristus adalah sebuah karunia kemurahan yang tidak dapat kita hasilkan sendiri dan juga bukanlah hasil dari karya kita. Meskipun demikian kita diharapkan untuk tetap memiliki kontribusi dalam mewujudkan dan menjaga damai sejahtera yang ada dalam hati kita. Marilah kita lipat gandakan karunia ini dengan pertolongan Roh Kudus. Damai sejahtera adalah salah satu dari buah-buah Roh (Gal. 5:22). Oleh karena itu, mari kita membiarkan diri kita dituntun oleh Roh Kudus, dimana Roh Kudus akan.
  • mendorong kita untuk dapat mengenali kesalahan-kesalahan kita dan menyatakan penyesalan sebagai suatu prasyarat untuk dapat memperoleh pengampunan dosa.
  • mengingatkan kita bahwa kita tidak perlu takut terhadap apapun: Yesus yang telah mengalahkan dunia, ada di pihak kita.
  • menunjukkan kepada kita, bagaimana kita dapat meningkatkan damai sejahtera di dalam lingkungan rumah tangga, sidang jemaat dan lingkungan masyarakat pada umumnya, melalui kerendahan hati, kelemahlembutan, kesabaran, dan toleransi (Ef. 4:1-3).
Mengikut Kristus tidak menjamin bahwa kita akan memiliki suatu kehidupan yang tenang dan penuh damai sejahtera. Seperti Yesus, murid-murid-Nya juga dihadapkan dengan kesengsaraan-kesengsaraan! Tetapi mereka yang bertahan sampai pada akhirnya akan masuk ke dalam kerajaan Allah, dimana damai sejahtera yang sempurna dan persekutuan yang sempurna dengan Allah dan juga dengan satu sama lain, akan berkuasa.

Amin.

Minggu, 15 September 2019

Hidup Dalam Kristus

BACAAN ALKITAB

...Aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya
untuk aku. (Galatia 2:20)

PENGAJARAN

Ketika kita hidup di muka bumi sebagai umat milik Allah dan anak-anak Allah, kita bukan tidak boleh untuk dapat menikmati hidup dan kesenangan yang ada di bumi. Perlu kita sadari, bagaimana pun kita adalah bagian dari masyarakat dan kita berada pada zaman di mana mereka hidup. Meskipun demikian kita juga harus tetap sadar siapakah diri kita, dengan demikian kita akan selalu ingat akan peran, tugas, tanggung jawab dan kewajiban kita selama ada di muka bumi. Dengan kesadaran ini akan mendorong kita untuk senantiasa berusaha hidup “oleh iman sebagai Anak Allah”.

Kita menjadi anak-anak Allah, karena Yesus Kristus telah memberikan hidup-Nya untuk kita. Yesus melakukan hal itu, karena Ia sangat mengasihi kita. Oleh karena itu, janganlah kita sampai menghinakan diri kita, jangan sampai kita menyia-nyiakan hidup kita. Kita telah ditebus oleh Tuhan sedemikian mahalnya. Pengorbanan yang Yesus berikan kepada kita, tidak hanya sekedar waktu, tenaga,dan kehormatan beliau, Ia bahkan telah menyerahkan nyawanya untuk menebus kita dari kuasa dan ikatan iblis. Oleh karena itu peliharalah dan rawatlah diri kita. Hargailah hidup kita. Isilah hidup kita dengan segala sesuatu yang berkenan di hadapan Allah. Hal itu akan senantiasa membawa kita dalam hidup yang penuh kebahagiaan, sukacita, keberhasilan dan kesuksesan, dengan mengembangkan karunia-karunia, talenta-talenta, bakat-bakat, serta kesempatan yang telah Allah berikan kepada kita.

Meskipun kita tidak dilarang untuk dapat memperoleh dan menikmati semua itu, tetapi kita hendaknya selalu ingat akan peran, tugas, tanggung-jawab dan kewajiban kita, serta sadar akan keberadaan kita. Kita hanya tamu di dunia ini. Marilah kita hendaknya ingat untuk senantiasa mengupayakan sesuatu yang lebih besar dari semua itu, yaitu harta kekayaan sorgawi, sukacita sorgawi dan keselamatan jiwa kita. Allah telah mencadangkan kita suatu warisan kemuliaan yang kekal. Melalui jasa kurban Tuhan Yesus di atas kayu salib, kita memiliki jalan masuk untuk menuju pada persekutuan yang kekal dengan Allah dan Tuhan Yesus! Keinginan untuk memiliki persekutuan dengan Allah dan Tuhan Yesus, akan sangat menentukan langkah dan arah kehidupan kita di atas bumi ini.

Persekutuan yang kekal dengan Allah dan Tuhan Yesus Kristus akan dapat terjadi jika kita mengasihi Allah dan Tuhan Yesus. Bagaimana kita menyatakan kasih kita? Tuhan Yesus mengatakan, "Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku." (Yohanes 14:15) Apa yang menjadi perintah atau kehendak Tuhan Allah? Perintah atau kehendak Allah dapat kita ketahui dan peroleh dalam setiap kebaktian. Dalam setiap kebaktian kita akan dapat menjumpai Tuhan dan Allah kita. Di sinilah kita dapat bertanya kepada Allah dan mendengar apa yang menjadi kehendak-Nya, melalui firman-firman-Nya. Ketika kita sudah ada dalam kebaktian, marilah kita juga dapat bersikap sebagaimana Samuel muda, "...Berbicaralah, sebab hamba-Mu ini mendengar." (1 Samuel 3:10) Salah satu kehendak Allah yang sangat penting untuk kita perhatikan adalah, agar kita mempersiapkan diri untuk kedatangan Tuhan Yesus kembali.

Kemampuan untuk menerima firman Allah, hanya dapat kita miliki serta dapat diukur, ketika kita mampu untuk merendahkan diri dan membuka pintu hati kita terhadap apa yang difirmankan Allah kepada kita dan melakukannya dengan penuh kepercayaan dan kemenurutan. Dengan menerima firman Allah, berarti kita membiarkan Tuhan ada dalam hati kita dan mengendalikan hidup kita. Firman di atas yang menyatakan, “Bukan lagi aku sendiri yang hidup”, bukan berarti Allah mengharapkan kita untuk melepaskan kepribadian atau keinginan kita. Tidak. Ia hanya menginginkan agar kita jangan mengagungkan atau memuji diri sendiri dan meninggalkan pemujaan terhadap diri sendiri. Beberapa hal yang terkait dengan pemujaan terhadap diri sendiri antara lain:

  • Egoisme: yaitu suatu sikap dimana orang berusaha untuk memenuhi keinginannya sendiri tanpa memerhatikan sesamanya.
  • Egosentris: yaitu suatu sikap dimana orang hanya berfokus pada diri sendiri. Ia akan menyaring segala sesuatu yang akan ia terima. Ia hanya menganggap hal-hal atau orang-orang di luar dirinya, baik, bila dapat memberi keuntungan kepada dirinya atau berguna bagi dirinya.
  • Individualisme: yaitu suatu sikap dimana orang merasa dirinya lebih penting daripada orang lain, dimana ia berada, bahkan kepentingannya sendiri juga ia anggap lebih penting dari kepentingan orang lain atau masyarakat
Sikap-sikap yang sedemikian ini tidak sesuai dengan iman Kristen. Jika kita ingin hidup di dalam Kristus, kita harus membuang sikap yang sedemikian dan memiliki pikiran yang sama sebagaimana Yesus (Flp. 2:5). Dengan sikap yang sedemikian, berarti kita hidup dalam Kristus. Ketika kita sudah bertekad untuk hidup dalam Kristus, maka hal itu hendaknya nampak dalam sikap, perbuatan dan perkataan kita, yang nyata dalam:

  • Kesadaran akan peran, tugas, tanggung jawab, kewajiban kita di dalam kehidupan bermasyarakat dan dengan senang hati melakukan bagian kita demi kebaikan bersama (Mrk. 12:17; Rm. 13:7).
  • Keinginan kita untuk menghilangkan sekat-sekat antara diri kita dengan orang lain. Dengan kata lain, janganlah kita justru membangun berbagai macam sekat yang menghalangi kita untuk dapat berinteraksi dan berperan serta dalam persekutuan dan kebersamaan atau kemanunggalan satu dengan yang lainnya. Jangan sampai perbedaan latar belakang, status sosial, pendidikan dan ras, menjadi suatu sekat-sekat yang menghalangi kita. Janganlah kita memiliki pemikiran bahwa kita tidak membutuhkan siapapun, atau mungkin justru sebaliknya, janganlah kita berpikir bahwa kita tidak berarti sama sekali bagi orang lain atau merasa bahwa orang lain tidak menunjukkan ketertarikan apapun pada diri kita. Yesus mengutus kita untuk berbuat baik kepada siapa pun, tanpa terkecuali.
  • Keharmonisan dan kebahagiaan hidup berumah tangga. Kita jangan pernah menganggap perkawinan sebagai suatu penyatuan minat bersama atau bahkan sebagai suatu usaha patungan, investasi atau dagang. Banyak perkawinan yang hancur karena salah satu pasangan memiliki pandangan, bahwa pasangannya sudah tidak lagi membawa keuntungan apapun bagi dirinya. Barangsiapa membiarkan Yesus hadir dalam kehidupan perkawinan kita, maka kita akan selalu berusaha untuk memikirkan cara-cara untuk membawa kebahagiaan bagi pasangannya, dan menghindari percekcokan. Mungkin kita akan mengatakan, bagaimana mungkin kita dapat menghindari percekcokan. Memang benar, kita tidak bisa menghindari percekcokan, tetapi kita bisa mencegah agar percekcokan itu tidak sampai terjadi bahkan mencegah terjadinya suatu kerusakan yang besar atau kehancuran suatu perkawinan, akibat suatu percekcokan. Semua itu dapat kita hindari, jika kita mampu untuk merendahkan diri dari pasangan kita dan berusaha untuk melayani pasangan kita. Ketika percekcokan itu akan terjadi, berlomba-lombalah untuk terlebih dahulu merendahkan diri, berlomba-lombalah untuk terlebih dahulu melayani, maka percekcokan dalam perkawinan akan dapat dihindari. Mari kita ambil contoh gempa bumi. Gempa bumi sering kali terjadi karena adanya tumbukan antara lempeng bumi yang mengandung suatu tenaga yang sangat besar, yang tidak mau saling "mengalah". Dan kita bisa melihat bagaimana kehancuran dan kerusakan yang terjadi akibat tumbukan lempeng bumi yang tidak mau saling "mengalah" ini. Demikian juga dengan kehidupan dalam suatu perkawinan, sungguh besar kerusakan yang akan terjadi, jika kita tidak mau saling mengalah, tidak mau saling merendahkan diri. 
  • Kehidupan sidang jemaat. Kita semua adalah bagian dari tubuh Kristus. Kesejahteraan tubuh Kristus, sangat tergantung pada seluruh anggota tubuh Kristus. Setiap anggota tubuh Kristus hendaknya berpikir bagaimana ia dapat memberikan kontribusi bagi kesejahteraan anggota tubuh Kristus yang lain atau secara keseluruhan. Kasih Kristus dan kasih kepada sesama, memungkinkan kita untuk tidak terlalu memperhatikan kepentingan pribadi kita sendiri, melainkan bagaimana kita dapat berperan serta bagi kesejahteraan sidang jemaat.
Jadi, hidup dalam Kristus dan mengikut Kristus, bukan berarti membuat kepribadian kita menjadi hilang atau menjadikan kita sebagai makhluk-makhluk yang seragam, tanpa memiliki keinginan, hasrat, kehendak dan motivasi atau memiliki kemauan dan tekad yang lemah. Sebaliknya, mari kita berlomba-lomba untuk bersumbangsih dan memaksimalkan potensi, talenta, bakat dan kepribadian kita, untuk kesejahteraan bersama serta kepujian dan kemulian nama Allah saja. Masing-masing dari kita tetap diperkenankan untuk menjadi dan tetap seperti kita, apa adanya dengan karunia-karunia yang kita miliki dan pilihan-pilihan kita. Tetapi kita juga juga harus mampu mengasihi orang lain dan menjalani hidup kita dengan kasih yang sejati, sehingga kita dapat menenjadi berkat bagi orang lain.

Amin.

Jangan Menjadi Lamban Dalam Pengharapan

BACAAN ALKITAB

Tetapi kami ingin, supaya kamu masing-masing menunjukkan kesungguhan yang sama untuk menjadikan pengharapanmu suatu milik yang pasti, sampai pada akhirnya, agar kamu jangan menjadi lamban, tetapi menjadi penurut-penurut mereka yang oleh iman dan kesabaran mendapat bagian dalam apa yang dijanjikan Allah.(Ibrani 6:11-12)

PENGAJARAN

Dalam kehidupan saat ini, banyak orang Kristen merasakan bahwa apa yang ada di depan, masa depan kita, terasa semakin tidak pasti. Banyak orang Kristen yang merasa diperlakuan semakin tidak adil. Kesengsaraan dan penderitaan semakin banyak dialami orang-orang Kristen. Banayk orang Kristen yang diperkusi, dianiaya dan diperlakukan tidak adil dan seenaknya. Tetapi kita tetap percaya bahwa Allah tidak diam dan Allah memberi kita kepastian, bahwa
  1. Yesus Kristus telah menang atas maut dan neraka dan Ia telah mematahkan kuasa Iblis melalui kurban kematian-Nya di atas kayu salib dan membebaskan kita dari ikatan dan kuasa iblis.
  2. Yesus akan datang kembali untuk membawa kita kepada-Nya dan menjadikan kita para sulung.
  3. Yesus juga telah berjanji bahwa Ia akan menyertai para Rasul-Nya sampai mereka memenuhi misi mereka.
Tetapi dalam kenyataannya, apa yang kita alami saat ini dan pengalaman hidup kita saat ini sering kali berbeda dengan apa yang disampaikan di atas.
Kenyataannya
  • kita masih menderita akibat dosa (penderitaan, kematian) dan kuasa si jahat. Memang iblis sudah kalah dengan Tuhan Yesus, tetapi belum tentu ia kalah dengan umat milik-Nya. Oleh karena itu, iblis tidak menyerang Tuhan Yesus, tetapi kitalah, sebagai anak-anak Allah, umat milik-Nya yang dijadikan sasaran. Dengan berbagai cara iblis berusaha untuk merebut kita kembali dari tangan Tuhan untuk menjadi budak-budak iblis. Meskipun demikian janganlah hal ini membuat kita menjadi lamban. Teruslah berjuang melawan dosa. "...lawanlah iblis, maka ia akan lari dari padamu" (Yakobus 4:17).

    Tugas kita adalah menjauhkan diri daripada dosa, untuk menjadikan diri kita senantiasa suci dihadapan-Nya (1Yohanes 3:3) dan melawan kejahatan yang kita alami, dengan kebaikan. Kita bahkan diajarkan untuk mengampuni mereka dan mendoakan musuh-musuh kita. Yakinlah bahwa kebaikan pasti akan mampu mengalahkan kejahatan.
  • meskipun Ia telah berjanji bahwa Ia pergi untuk menyediakan tempat bagi kita, dan jika tempat itu telah selesai, ia akan datang kembali menjemput para miliknya, supaya dimana Ia berada, di situ juga para milik-Nya. Tapi pada kenyataannya, Yesus sampai saat ini belum datang.
    Oleh karena itu, pada beberapa orang Kristen, penantian akan kedatangan Tuhan untuk membawa ke tempat dimana Ia berada, direduksi menjadi penantian kedatangan Tuhan ke dalam hati orang-orang yang percaya, hanya untuk memberkati mereka. Janganlah kita sampai mereduksi pengharapan kita dalam menantikan kedatangan Tuhan. Janganlah penantian kita menjadi redup dan lamban. Marilah kita senantiasa mengobarkan kerinduan kita untuk segera berjumpa dengan Tuhan.

    Perlu dipahami dan dimengerti, penantian kita untuk menantikan kedatangan Tuhan, buklanlah suatu penantian yang pasif, seperti orang yang hanya duduk diam, menantikan kedatangan kereta api. Penantian kita hendaklah menjadi suatu penantian yang aktif, dimana sambil menantikan kedatangan Tuhan Yesus, kita hendaknya bekerja dengan giat untuk mempersiapkan diri dan jiwa kita agar pada saat kedatangan Tuhan, jiwa kita akan dapat serupa dengan citra dan teladan dari Tuhan dan kita diperkenankan untuk ikut ambil bagian pada harinya Tuhan. Berjuanglah untuk melakukan segala sesuatu yang akan membawa kita pada suatu persekutuan yang kekal dengan Allah dan Tuhan kita Yesus Kristus.
  • pada masa ini para Rasul hanya diterima oleh sedikit orang, dan mereka yang mengikut mereka, termasuk para Rasul, juga bukanlah orang yang sempurna. Meski demikian janganlah kenyataan ini membuat kita menjadi lamban. Janganlah pernah kita menganggap bahwa para Rasul hanyalah sekedar pemimpin suatu lembaga keagamaan, sebagaimana yang lain. Tuhan Yesus sendiri telah mengutus mereka, sebagaimana yang tertulis dalam Matius 28:19-20, "karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptilah mereka di dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman."

    Sebagai para utusan Tuhan, pada masa ini, para Rasul terus bekerja untuk memberitakan dan mengajarkan Injil Kristus. Para Rasul tidak peduli dengan jumlah mereka yang mau mengikutinya. Tugas mereka adalah dan tetaplah untuk mengajar dan menjadikan mereka semua menjadi murid-murid Yesus dan membaptis mereka. Marilah kita mendoakan mereka (Kis. 4:29-30) dan marilah kita ikut bekerja dalam memberitakan Injil Kristus. Biarlah kita dapat menjadi bukti akan pengutusan mereka (2 Kor. 3:2-3) dengan bertumbuhnya dan berkembangnya kehidupan rohani kita, sehingga kita dapat menjadi surat yang terbaca, dalam sikap, perilaku dan perkataan kita.

    Beberapa hal yang hendaknya nyata dalam diri kita sebagai bukti hasil pengajaran dan pengutusan para Rasul, antara lain kemampuan kita untuk mengasihi, mengampuni dan menjaga suatu kebersamaan atau persekutuan satu dengan yang lainnya, dengan menghilangkan segala sesuatu perbedaan yang ada diantara kita sebagai murid-murid Yesus.

Tetap teguh di dalam pengharapan dan jangan menjadi lamban

Marilah kita tetap teguh dalam pengharapan pada janji Tuhan. Keyakinan kita akan tergenapinya pengharapan kita didasarkan pada suatu pemahaman dan pengertian bahwa
  • Allah Sang Bapa adalah Allah yang setia, Allah kebenaran. Ia tidak pernah mengingkari janjinya.
  • Yesus pun juga adalah kebenaran. Apa yang disampaikan adalah kebenaran, Karena Ia adalah Kebenaran itu sendiri. Ia pernah menyampaikan bahwa Ia akan mati dan akan bangkit dari kematian. Apa yang dijanjikan benar-benar menjadi kenyataan, dan dengan tubuh kebangkitan ini, Ia pun akan membangkitkan kita dan memberikan kepada kita tubuh kebangkitan.
  • Roh Kudus yang telah dijanjikan oleh Tuhan, saat ini telah bekerja untuk senantiasa menghidupkan pengharapan kita akan penggenapan janji Tuhan, Roh Kudus juga menumbuhkan suatu sukacita yang besar dalam persekutuan kita untuk menantikan kedatangan Tuhan. Sukacita ini merupakan rasa pendahuluan, sebelum kita mengalami persekutuan yang kekal dengan Allah dan tuhan kita Yesus Kristus.
Marilah kita berusaha dengan sungguh-sungguh dalam penantian akan penggenapan janji Tuhan dengan senantiasa menaruhkan iman-kepercayaan, pengahrapan dan pengandalan akan penggenapan janji Tuhan. dan perlu kita ketahui bahwa “dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu [kita] tidak sia-sia” (1 Kor. 15:58).

Amin

Kamis, 12 September 2019

Ekklesia

Ekklesia, berasal dari bahasa Yunani εκκλησία, dan merupakan gabungan dari kata ek berarti keluar; klesia dari kata kaleo, berarti memanggil. Jadi Ekklesia berarti dipanggil keluar. 
Istilah ini dalam bahasa Inggris, diterjemahkan sebagai Church, dan dalam bahasa Portugis diterjemahkan sebagai Igreja, sedangkan dalam bahasa Indonesia, kita kenal sebagai Gereja.
Ketika mendengar kata Ekklesia atau Gereja, orang pada umumnya mengaitkannya sebagai suatu bentuk bangunan yang dipakai orang-orang Kristen untuk beribadah. Istilah Ekklesia atau gereja ini, sebenarnya dimaksudkan sebagai sekumpulan orang yang dipanggil keluar dari warga duniawi untuk menjadi warga sorgawi atau dipanggil keluar dari kegelapan dosa kepada terang Kristus. Makna lain adalah sekumpulan orang-orang atau umat Kristiani. Dalam Alkitab Perjanjian Baru, istilah Ekklesia, diterjemahkan sebagai umat atau jemaat. 
Dengan berkembangnya waktu, istilah Ekklesia atau Gereja, memiliki arti
  1. Umat atau persekutuan orang-orang Kristen. Persekutuan ini dinyatakan dalam berdoa, memuji, memuliakan nama Allah secara bersama-sama. Orang-orang ini juga bersekutu dalam meraih berkat dan Sakramen yang dikaruniakan Allah kepada mereka. mereka pun bersekutu dalam menantikan kedatangan Tuhan Yesus untuk menjemput sidang jemaat pengantin perempuan Tuhan 
  2. Tempat atau bangunan, dimana orang-orang Kristen beribadah. Pengertian ini yang sering dipahami oleh orang awam. Meskipun sebenarnya, ibadah tidak selalu dilaksanakan dalam suatu bentuk bangunan tertentu. Ibadah bisa dilakukan di rumah, di lapangan terbuka, di salah satu ruangan hotel, dan lain-lain
  3. Denominasi dalam agama Kristen, misalnya Gereja Katolik, Gereja Anglikan, Gereja Kerasulan Baru, Gereja Protestan dan lain-lain
  4. Sidang, Majelis, Dewan atau Lembaga Kristen, misalnya, Gereja tidak menyetujui sikap hidup atau perilaku LGBT, dan lain-lain.


Rabu, 11 September 2019

Kasih dan Persaudaraan


BACAAN ALKITAB

Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat. Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan".(Roma 12:10)

PENGAJARAN 

Tuhan Yesus pernah berbicara kepada para ahli Taurat perihal arti penting kasih. Ia mengatakan, “Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi." 

Dari bacaan bagian Alkitab di atas, Rasul Paulus menekankan lagi apa yang diajarkan Tuhan Yesus, tentang arti kasih persaudaraan dan bagaimana kita hendaknya dapat menghargai orang lain dengan berusaha untuk terlebih dahulu memberi hormat. Diharapkan, dengan dapat tumbuh dan terjaganya kasih persaudaraan dan saling menghargai, pergaulan yang ramah dan penuh kasih, satu dengan yang lain, akan tercipta persekutuan, kebersamaan, kerukunan di dalam sidang jemaat Tuhan, meskipun anggota sidang jemaat Tuhan berasal dari latar belakang sosial dan ras yang berbeda-beda. Sikap ini adalah sikap yang selaras dengan apa yang diajarkan Tuhan. Jadi inilah sebenarnya dasar dari seluruh pengajaran Injil, yaitu kasih kepada Allah dan sesama.

Tidaklah senantiasa mudah untuk berpegang pada perintah ini, karena kita sebagai manusia, sering kali cepat sekali membuat keputusan yang tidak berdasar pada kasih. Padahal, Allah mengasihi setiap orang, sama. marilah kita memusatkan diri dan menjumpai sesama kita dengan penuh kasih, sebagaimana Allah mengasihi semua orang. Kita ingin memusatkan diri pada Tuhan Yesus Kristus, yang mengatakan dan mengajarkan kepada kita tentang, siapakah sesamamu manusia itu (band. Luk. 10:36,37).

Marilah kita berusaha untuk mempraktekkan dan melakukan hukum kasih ini yaitu mengasihi Allah dan sesama, dan mengusahakan perdamaian dengan setiap orang. Ini harus menjadi ciri khas kita, sebagai seorang anak Allah. 

Berikut adalah beberapa contoh sikap hidup yang hendaknya hidup dan tumbuh dalam diri kita sebagai perwujudan dan implementasi dari upaya kita untuk mengetrapkan kasih kepada Allah dan sesama

1. Penghormatan dan Penghargaan

Kita tidak ingin hanya melihat kepada diri kita sendiri saja, melainkan juga hendaknya dapat memberikan perhatian lebih pada kesejahteraan orang lain. Di dalam hal ini kita hendaknya dapat senantiasa berusaha menghadapi dan menjumpai orang lain dengan penuh pengertian, pemahaman, rasa empati dan penghargaan yang selayaknya kepada mereka.

Sikap hidup yang sedemikian ini hendaknya dapat ternyata dan dirasakan serta menjadi ciri khas dalam kehidupan bersama kita di dalam sidang jemaat Tuhan, meskipun kita semua berasal dari keadaan-keadaan dan altar belakang yang berbeda. Perbedaan-perbedaan yang ada tidak boleh memisahkan, melainkan hendaknya makin memperkaya kebersamaan kita. Hal ini akan berhasil, jika kita senantiasa berusaha memahami atau mengerti akan kekurangan dan kelemahan orang lain, serta mampu untuk menghargai keistimewaan-keistimewaan dan bakat-bakat orang lain, yaitu menjumpainya dengan penuh “penghormatan dan penghargaan”. 

Dengan demikian “saling mendahului dalam memberi hormat”, berarti juga, menghargai talenta-talenta dan kemampuan-kemampuan orang lain lebih tinggi dari pada diri sendiri. Selanjutnya penghormatan dan penghargaan yang sejati ini, akan memampukan dan mendorong kita untuk memiliki kerendahan hati, karena tanpa kerendahan hati, tidak mungkin kita akan dapat menghormati dan menghargai orang lain
.
Banyak pendapat bahwa ketika kita merendahkan diri kita sendiri, maka kita seolah olah telah memberikan terlalu banyak penghargaan kepada orang lain. Namun yang sebenarnya terjadi adalah sebaliknya, yaitu: Semakin banyak kita memberi penghargaan kepada orang lain, semakin banyak kita menerimanya kembali.

2. Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor

Banyak orang berpikir dan merasa, bahwa tidak ada gunanya untuk mengerahkan talenta-talenta yang kita miliki di dalam sidang jemaat Tuhan. Perasaan yang sedemikian itu dapat timbul karena kurangnya kerendahan hati. Bacaan bagian Alkitab di atas justru berkata sebaliknya. Nas itu dengan jelas menghimbau kita untuk tidak mengutamakan aktualisasi diri kita, melainkan lebih untuk dapat melayani di dalam sidang jemaat dan kepada Tuhan. Dalam hal ini bukan berarti kita tidak boleh memberikan apa yang terbaik dari talenta-talenta yang kita miliki, kepada sidang jemaat dan kepada Tuhan. Tetapi marilah, dalam upaya kita memberikan talenta yang terbaik yang kita miliki, hendaknya selalu dan tetaplah menaruhkan hormat dan penghargaan yang tinggi kepada talenta-talenta yang dimiliki oleh saudara-saudari yang lain, sehingga kita tidak mendominasinya sendiri. Jika kita dapat bersikap dengan cara yang sedemikian, dalam kehidupan sidang jemaat dan menggunakan talenta-talenta kita miliki untuk pelayanan dalam sidang jemaat dan melayani Tuhan, maka, begitulah sebenarnya cara melayani Tuhan, yang benar.

3. Menyala-nyala di dalam roh

“Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia” (Kol. 2:23). Jadi semua sukacita dan keikutsertaan kita, hendaknya berasal dari kasih kita kepada Allah dan pekerjaan-Nya, dan itu dinyatakan kepada kita melalui kinerja Roh Kudus.

Petunjuk-petunjuk ini hendaknya dapat menjadikan hubungan kita dengan Allah dan sesama menjadi semakin erat. Karena itulah kita tidak ingin menjadi kendor di dalam perbuatan. Di dalam hal ini kita juga tidak ingin membiarkan diri kita disimpangkan oleh keadaan-keadaan yang tidak menguntungkan
.
Demikianlah kita ingin melayani Tuhan dan saling melayani satu dengan yang lain, sehingga kehidupan dalam sidang jemaat akan dipenuhi dengan berkat ilahi dan menjadi suatu persekutuan yang bersukacita, dalam menantikan kedatangan Tuhan Yesus Kristus kembali.

Amin.

Selasa, 10 September 2019

Allah, Bapa kita

BACAAN ALKITAB

Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: "ya Abba, ya Bapa" Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah. Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia." (Roma 8:15-17)

PENGAJARAN

Melalui kelahiran baru dengan air dan Roh, seseorang mendapat keanakan di dalam Allah, dan oleh Roh itu, kita berseru: "ya Abba, ya Bapa". Keanak-Allah-an yang diberikan kepada kita, menjadikan hubungan kita dengan Allah tidak lagi seperti seorang hamba atau budak dengan majikan, yang selalu dihantui dengan perasaan takut, melainkan seperti seorang anak kepada bapanya.

Dalam kehidupan sehari-hari, akan sangat berbeda, hubungan antara majikan dengan seorang hamba dibandingkan hubungan seorang anak dengan bapanya. Secara psikologis, ada jarak yang memisahkan seorang hamba dengan majikan. Seorang hamba tidak memiliki hak untuk bertanya, tidak memiliki hak untuk memohonkan sesuatu, terlebih lagi, seorang hamba tidak memiliki hak untuk memperoleh warisan. Seorang hamba, seringkali diperlakukan semena-mena oleh majikannya, sehingga yang senantiasa ada dalam hati dan pikirannya, perasaaan takut dan penuh kekawatiran akan nasibnya.

Berbeda sekali dengan hubungan antara anak dan bapa. Disini ada hubungan yang begitu dekat, begitu erat, ada rasa kehangatan di dalamnya. Seorang anak dapat bertanya kepada sang bapa. Ia dapat dan boleh memohonkan apa yang menjadi keinginannya. Bahkan ia memiliki hak untuk memperoleh warisan dari bapanya. Kedekatan yang sedemikian ini, begitu hangat dan menyukakan, tidak ada ketakutan, tidak ada kekhawatiran dan tidak ada jarak diantaranya. Seorang bapa akan menjaga dan melindungi anak-anaknya. Ia akan senantiasa memperlakukan anaknya dengan penuh kasih. Seorang bapa, akan siap sedia untuk menolong dan membantu anak-anaknya

Setelah mendapatkan kelahiran baru dengan air dan Roh, hubungan kita dengan Allah, bukan lagi seperti seorang hamba atau budak dengan majikannya, melainkan lebih daripada itu, seperti seorang anak kepada bapanya. Terdapat kedekatan yang begitu erat dengan Allah, sehingga kita dapat menyebutnya, "ya Abba, ya Bapa".

Sebagai seorang anak Allah, kita dapat bertanya kepada Allah, kita dapat memohonkan apa yang kita inginkan, sebab Allah adalah Bapa yang maha baik, Bapa yang maha sayang kepada anak-anak-Nya. "Adakah seorang dari padamu yang memberi batu kepada anaknya, jika ia meminta roti, atau memberi ular jika ia meminta ikan? Jadi, jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya." (Matius 7:9-11). Oleh karena itu bermohonlah kepada Allah, karena Allah adalah Bapa yang maha kaya, Bapa yang maha baik.

Saat kita dalam ketakutan atau kekuatiran, berserulah kepada Allah, karena Ia adalah Bapa yang maha kuat. Dia-lah perisai dan pelindung kita. Ia akan menyertai kita. Oleh karena itu, taruhkanlah pengandalan dan pengharapanmu kepada Dia.

Dikala kita dalam kesesakan atau penderitaan, larilah  dan berserulah kepada Allah, karena Ia adalah Bapa yang maha penolong. Ia akan menolong kita dan Ia akan menguatkan kita. Oleh karena itu berpautlah kepada Allah Sang Bapa.

Lebih daripada itu semua,  bersama-sama dengan Kristus, sebagai yang sulung, Allah Sang Bapa mengaruniakan warisan kemuliaan bagi kita semua, anak-anaknya.

Semuanya itu akan kita alami, jika kita memiliki kemenurutan kepada Sang Bapa. Oleh karena itu, marilah kita memiliki kesukaan untuk melakukan apa yang menjadi kehendak-Nya. Allah adalah Bapa kita. Marilah kita tumbuhkan iman--kepercayaan, pengharapan dan pengandalan kita kepada Allah, Sang Bapa kita.

Bermohonlah, berserulah, dan larilah kepada Allah, karena Ia adalah Bapa yang maha baik, bagi kita semua, anak-anak-Nya.

Amin  

Minggu, 01 September 2019

Menghargai dan Menghormati

BACAAN ALKITAB

Dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama daripada dirinya sendiri dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga. (Filipi 2:3-4)

PENGAJARAN

“Setiap orang hanya memikirkan dirinya sendiri, hanya saya yang memikirkan diri saya…” Ungkapan sedemikian ini, merupakankan perilaku banyak orang sejak lama, dan sayangnya, banyak pemimpin negara dan pembentuk opini pada masa sekarang ini, justru seringkali memberikan contoh yang negatif.

Sikap mementingkan diri sendiri, tidak mau merukunkan diri, egoisme dan individualisme yang berlebihan, nampaknya juga membahayakan keharmonisan di dalam sidang jemaat Kristen yang masih muda, di Filipi (Flp. 1:17-27).

Hidup dalam persekutuan dengan Kristus

Rasul Paulus tahu dan sadar bahwa di dalam sidang jemaat, ada banyak karunia, tetapi ia menekankan bahwa semuanya dipimpin dan berada dalam satu Roh (1 Kor. 12:4). Dalam hal ini, Paulus tidak berbicara bagaimana untuk menyeragamkan semua orang atau menyeragamkan semua karunia itu, tetapi ia justru ingin melihat bagaimana keragaman karunia yang dimiliki oleh masing-masing individu, didorong untuk dapat lebih berkembnag. Setiap orang hendaknya menyumbangkan karunia-karunia dan kemampuan-kemampuan yang berbeda, yang dimilikinya untuk kepentingan seluruh sidang jemaat. Dengan demikian hidup dalam kebersamaan dan persekutuan dengan Kristus, akan dapat juga menjadi teladan bagi orang lain.

Kelemahan manusia

Paulus melihat dari dekat dan merasakan bahwa di sidang jemaat Efesus, kelemahan dan ketidak-sempurnaan manusiawi dapat menimbulkan dan menjadi penyebab ketegangan-ketegangan. Ia menunjuk dengan konkret beberapa hal yang dapat membahayakan kebersamaan dan persekutuan dalam sidang jemaat:
  • Egoisme, berarti menjadikan kepentingan pribadi sebagai sesuatu yang diutamakan. Orientasi pada kepentingan pribadi yang berlebihan, menjadikan seseorang mati rasa terhadap penderitaan sesama. Perilaku sedemikian menunjukkan egoisme yang tidak terkendali, dan hal ini merupakan musuh besar dalam hubungan antarpribadi dalam kemanusiaan. Terhadap hal itu Yesus menyerukan kasih kepada Allah dan kepada sesama – bahkan kepada musuh (Mat. 22:38-39; 5:44). Yesus peduli terhadap kesejahteraan semua orang. Ia berusaha menunjukkan dan mengajar mereka bagaimana mengasihi Allah dan sesama. Ia berpaling kepada orang-orang yang membutuhkan.
  • Kesombongan berarti penilaian berlebihan terhadap bakat dan kemampuan diri sendiri. Perilaku sedemikian, menjadikan orang lain sulit memiliki kesempatan untuk mempersembahkan bakat dan kemampuan mereka bagi kesejahteraan orang lain. Pendirian Yesus sangat jelas terhadap sikap yang sedemikian ini, dengan memberikan contoh dalam perumpamaan tentang orang Farisi dan pemungut cukai di Bait Allah (Luk 18:9-14).
Sebenarnya Yesus tidak melarang seseorang untuk mengungkapkan sukacita mereka atas bakat dan kemampuan yang dimilikinya. Tetapi Ia ingin menunjukkan suatu sikap hati yang benar:
  • Kerendahan hati - adalah suatu sikap yang berhubungan dengan kesiapsediaan untuk melayani. Seseorang tidak akan mungkin bisa melayani Allah dan sesama, jika ia tidak mampu untuk merendahkan diri. Tanpa kerendahan hati, tidak mungkin seseorang bisa menghargai dan menghormati orang lain. Yesus menjadikan diri-Nya sebagai contoh kerendahan hati dan memuji mereka yang berbahagia, yang suci hatinya (Mat. 11:29; 5:8). Sama seperti Yesus yang peduli terhadap kesejahteraan semua orang, kita hendaknya juga memiliki keinginan untuk memperhatikan dan menghormati sesama kita. Ini dapat dinyatakan dengan cara yang paling indah, ketika kita mampu untuk melayani Allah dan orang lain.
  • Menghargai sesama. Suatu sikap yang membutuhkan kemampuan untuk menerima orang lain, sebagaimana adanya. Yesus kembali memberikan contoh kepada kita. Ia mampu menerima setiap orang yang datang kepada-Nya. Sejelek dan seburuk apapun, sikap, karakter dan perbuatan seseorang, Yesus berkenan untuk menerima mereka yang datang kepada-Nya. Bahkan Ia berkenan untuk menyambut anak-anak yang datang kepada-Nya, meski orang banyak belum bisa menghargai seorang anak. Perlu kita sadari bahwa, sehina-hinanya seseorang, serendah-rendahnya seseorang, semiskin-miskinnya seseorang dan sebodoh-bodohnya seseorang, mereka tetap memiliki harga diri, yang perlu kita hargai. Sebagai umat milik Allah, perlu kita pahami bahwa apapun yang kita lakukan kepada seseorang, pada dasarnya kita memperlakukan hal itu kepada Tuhan Yesus. Ketika kita tidak bisa menghargai orang lain, berarti pada saat yang sama, kita juga tidak bisa menghargai Tuhan Yesus. Dengan kata lain, ketika kita merendahkan orang lain, pada saat yang sama kita juga merendahkan Tuhan Yesus, " Dan raja itu akan menjawab mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu kakukan untuk salah satu dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku." (Matius 25:40) Hal ini dapat kita lakukan, jika kita mampu untuk merendahkan diri. Penghormatan dan penghargaan kepada orang lain dapat kita lakukan, jika kita mampu untuk merendahkan diri.
Demikianlah, dengan kerendahan hati dan kemampuan untuk menghargai orang lain, akan senantiasa tercipta suatu persekutuan dalam Roh yang dapat menjadi kesaksian yang hidup dari murid-murid Kristus (Yoh. 13:34-35) Mari kita nyatakan hal ini dalam kata dan perbuatan.

Amin.

Indahnya Memberi - Indahnya Berbagi. Bahagianya Memberi

Seorang dosen yang dikenal bijaksana, tengah berjalan santai bersama seorang mahasiswa di taman kampus. Tidak lama keduanya melihat ada sepa...