BACAAN ALKITAB
Maka segala pohon di ladang akan mengetahui, bahwa Aku, TUHAN, merendahkan pohon yang tinggi dan meninggikan pohon yang rendah, membuat pohon yang tumbuh menjadi layu kering dan membuat pohon yang layu kering bertaruk
kembali. Aku, TUHAN, yang mengatakannya dan akan membuatnya. (Yehezkiel 17:24)
PENGAJARAN
Yehezkiel 17 berisi sebuah kata-kata perumpamaan tentang dua ekor burung rajawali. Rajawali adalah gambaran kekuasaan suatu kerajaan. Yang satu melambangkan Babel dengan rajanya, Nebukadnezar, dan yang lain melambangkan Mesir, di mana Zedekia, diangkat oleh Nebukadnezar dan disumpah untuk menjadi raja di sana. Tetapi Zedekia melanggar sumpah ini dan mencari dukungan orang-orang Mesir untuk memberontak, melawan raja Nebukadnezar. Pemberontakan itu gagal, karena Allah tidak merestui dan tidak mendukung apa yang dilakukan Zedekia, karena ia telah melanggar sumpahnya. Di sini Allah ingin menunjukkan kepada manusia, bahwa Ia adalah Allah yang setia kepada janji-Nya dan berharap bahwa manusia pun juga dapat setia kepada janji yang telah dinyatakan kepada Allah. Allah juga ingin menunjukkan bahwa tanpa perkenan-Nya segala sesuatu tidak akan dapat diraih dan mencapai keberhasilan. Setiap manusia hendaknya mengenali, bahwa Allah adalah Tuhan.
Berkali-kali Yehezkiel dipanggil Allah untuk mengingatkan umat Israel, karena mereka sering kali melanggar perintah-perintah Allah (Yeh. 5:5,6). Oleh karena itu, pada Yehezkiel 17, Allah menggunakan sebuah kata-kata perumpamaan, yang hendaknya direnungkan oleh umat Israel. Ini dimaksudkan untuk membantu umat Israel agar berpaling kembali kepada Allah dan bersetia kepada-Nya. Di dalam kesabaran-Nya, Allah senantiasa menawarkan pertolongan dan membuktikan perjanjian-Nya (Yeh. 11:16–20). Apakah yang dapat kita pelajari dari sini?
Allah memilih
Meskipun Yerusalem telah ditaklukkan dan umat Israel diusir dan dibuang ke pembuangan, karena mereka telah melanggar perintah Allah dan tidak lagi memiliki kemenurutan kepada Allah, tetapi Allah tetap setia kepada para pilihan-Nya (Im. 26:42–45). Ia tidak membatalkan, baik perjanjian maupun kesetiaan-Nya. Siapa yang Allah telah pilih, ia dapat mengandalkan pada kesetiaan-Nya.
Bacaan Alkitab di atas menjadikan jelas, bahwa Allah, Sang Pencipta dapat melakukan segala hal yang Ia kehendaki. Ia mampu dan berkuasa untuk memberikan kehidupan yang baru pada sesuatu kehidupan yang sudah mati, tetapi sebaliknya, Ia juga berkuasa dan dapat mengambil kehidupan itu. Pada perumpaan di atas, Allah dengan jelas menunjukkan bahwa Ia berkuasa untuk merendahkan pohon yang tinggi dan meninggikan pohon yang rendah, membuat layu pohon yang hijau dan menghijaukan kembali pohon yang layu.
Kuasa ini pun nyata pada diri Tuhan Yesus, Allah, Sang Putra. Ia menyatakan kepada para murid-Nya, bahwa segala kuasa di bumi dan di surga telah diberikan kepada-Nya (Mat. 28:18). Kuasa ini Ia buktikan pada beberapa peristiwa, seperti saat Ia menenangkan badai (Mat. 8:23 dst.), membangkitkan orang mati (Yoh. 11:41–45) atau juga pada saat mengutuk pohon ara, sehingga menjadi layu (Mat. 21:18–21).
Dalam hal ini, kita diharapkan untuk mengenali akan kuasa Allah dan kesetiaan-Nya akan janji-Nya, meskipun umat-Nya seringkali mengingkari dan melawan akan perintah-Nya.
Dalam hal ini, kita diharapkan untuk mengenali akan kuasa Allah dan kesetiaan-Nya akan janji-Nya, meskipun umat-Nya seringkali mengingkari dan melawan akan perintah-Nya.
Firman Allah menjadi tindakan
Sejak kejatuhan manusia ke dalam dosa, Allah telah menyatakan dan merencanakan suatu pekerjaan Keselamatan bagi umat manusia. Dahulu rencana keselamatan ini dinyatakan dan dikabarkan melalui para nabi, kemudian Yesus Kristus sendiri juga menyampaikan akan hal ini. Saat ini rencana keselamatan Allah ini dikabarkan kepada umat manusia melalui firman yang dibangkitkan oleh Roh melalui utusan-utusan-Nya. Saat ini kita mendengarkan apa yang Allah ajarkan kepada umat perjanjian baru dan apa yang Ia harapkan daripada kita sebagai anak-anak-Nya. Firman-Nya dapat diandalkan: “Aku, TUHAN, yang mengatakannya dan akan membuatnya.”
Ketika umat pilihan-Nya memberontak terhadap perintah-perintah-Nya dan mengingkari perjanjian sumpahnya, Allah mengundang Nabi Yehezkiel untuk mengingatkan umat Israel pada perbuatan-perbuatan besar yang telah dilakukan Allah dan mendorong mereka untuk bertobat dan berpaling kembali secara baru kepada Allah. Pada saat ini, para Rasul Yesus yang hidup, mendapatkan tugas untuk mengingatkan manusia agar bertobat dan berpaling kembali kepada Allah, serta memberitakan kabar gembira dan mengundang setiap orang untuk mengikut Kristus.
Ketika umat pilihan-Nya memberontak terhadap perintah-perintah-Nya dan mengingkari perjanjian sumpahnya, Allah mengundang Nabi Yehezkiel untuk mengingatkan umat Israel pada perbuatan-perbuatan besar yang telah dilakukan Allah dan mendorong mereka untuk bertobat dan berpaling kembali secara baru kepada Allah. Pada saat ini, para Rasul Yesus yang hidup, mendapatkan tugas untuk mengingatkan manusia agar bertobat dan berpaling kembali kepada Allah, serta memberitakan kabar gembira dan mengundang setiap orang untuk mengikut Kristus.
Allah setia
Ketika nabi Yehezkiel dan para utusan-Nya mengingatkan kembali akan apa yang menjadi kehendak Allah, memang umat-Nya menjadi sadar dan kembali berupaya untuk bersetia kepada Allah. Meskipun demikian, ketika mereka sudah memiliki keinginan yang baik, untuk tetap bersetia dan membuktikan kesetiaannya kepada Allah, mereka juga harus sadar bahwa, betapa seringnya mereka gagal. Namun, Allah memiliki kesetiaan yang besar kepada manusia dan pada semua janji-janji yang diberikan-Nya. Kita juga didorong untuk terus mengingat perbuatan-perbuatan baik Allah, sehingga dengan mengingat segala perbuatan-perbuatan baik Allah, manusia dapat mengambil keputusan untuk terus berusaha bersetia kepada-Nya dan memuji Allah akan kasih dan belas kasihan-Nya, serta senantiasa dapat bersyukur kepada-Nya. Ini juga termasuk untuk tetap mengandalkan diri kepada-Nya, ketika suatu saat harapan-harapan kita tidaklah terpenuhi. Kita dapat yakin, bahwa setiap saat Ia bisa menciptakan dan memberikan hal-hal yang baru secara utuh, lengkap dan sepenuhnya, bahkan dengan cara yang tidak diperkirakan. Tetapi, Ia juga dapat menolak gagasan-gagasan kita dan mencegah harapan-harapan kita menjadi kenyataan.
Meskipun demikian, ketika kita menaruhkan pengandalan kita kepada Allah, bukan berarti, seolah-olah atau memberi kesan bahwa Allah memaksakan kehendak-Nya pada kita. Kita juga tidak ingin mencabut pengandalan kita kepada-Nya oleh karena tidak digenapkannya keinginan-keinginan kita. Pengandalan dan keyakinan kita bertumbuh dari pengalaman, bahwa Ia senantiasa menciptakan hal-hal yang baik bagi kita di dalam kasih-Nya, yakni apa yang tidak dapat kita ciptakan sendiri sebagai manusia: hal-hal yang memiliki keberadaan yang kekal.
Allah menghormati orang-orang yang setia
Allah menghormati orang-orang yang setia
Marilah kita pikirkan tiga laki-laki yang oleh karena kesetiaan mereka kepada Allah harus dimasukkan ke dalam perapian yang menyala-nyala (Dan. 3:18). Allah mengakui iman mereka dan melindungi mereka.
Oleh karena itu, kenalilah Allah dengan segala kasih-Nya, kuasa, karunia, kemurahan serta belas kasihan-Nya dan bersetialah kepada-Nya, karena Ia adalah setia. Taruhkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya.
Amin.
Oleh karena itu, kenalilah Allah dengan segala kasih-Nya, kuasa, karunia, kemurahan serta belas kasihan-Nya dan bersetialah kepada-Nya, karena Ia adalah setia. Taruhkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya.
Amin.