Rabu, 30 Oktober 2019

Mengenali Kuasa Allah

BACAAN ALKITAB

Maka segala pohon di ladang akan mengetahui, bahwa Aku, TUHAN, merendahkan pohon yang tinggi dan meninggikan pohon yang rendah, membuat pohon yang tumbuh menjadi layu kering dan membuat pohon yang layu kering bertaruk
kembali. Aku, TUHAN, yang mengatakannya dan akan membuatnya. (Yehezkiel 17:24)

PENGAJARAN

Yehezkiel 17 berisi sebuah kata-kata perumpamaan tentang dua ekor burung rajawali. Rajawali adalah gambaran kekuasaan suatu kerajaan. Yang satu melambangkan Babel dengan rajanya, Nebukadnezar, dan yang lain melambangkan Mesir, di mana Zedekia, diangkat oleh Nebukadnezar dan disumpah untuk menjadi raja di sana. Tetapi Zedekia melanggar sumpah ini dan mencari dukungan orang-orang Mesir untuk memberontak, melawan raja Nebukadnezar. Pemberontakan itu gagal, karena Allah tidak merestui dan tidak mendukung apa yang dilakukan Zedekia, karena ia telah melanggar sumpahnya. Di sini Allah ingin menunjukkan kepada manusia, bahwa Ia adalah Allah yang setia kepada janji-Nya dan berharap bahwa manusia pun juga dapat setia kepada janji yang telah dinyatakan kepada Allah. Allah juga ingin menunjukkan bahwa tanpa perkenan-Nya segala sesuatu tidak akan dapat diraih dan mencapai keberhasilan. Setiap manusia hendaknya mengenali, bahwa Allah adalah Tuhan.

Berkali-kali Yehezkiel dipanggil Allah untuk mengingatkan umat Israel, karena mereka sering kali melanggar perintah-perintah Allah (Yeh. 5:5,6). Oleh karena itu, pada Yehezkiel 17, Allah menggunakan sebuah kata-kata perumpamaan, yang hendaknya direnungkan oleh umat Israel. Ini dimaksudkan untuk membantu umat Israel agar berpaling kembali kepada Allah dan bersetia kepada-Nya. Di dalam kesabaran-Nya, Allah senantiasa menawarkan pertolongan dan membuktikan perjanjian-Nya (Yeh. 11:16–20). Apakah yang dapat kita pelajari dari sini?

Allah memilih

Meskipun Yerusalem telah ditaklukkan dan umat Israel diusir dan dibuang ke pembuangan, karena mereka telah melanggar perintah Allah dan tidak lagi memiliki kemenurutan kepada Allah, tetapi Allah tetap setia kepada para pilihan-Nya (Im. 26:42–45). Ia tidak membatalkan, baik perjanjian maupun kesetiaan-Nya. Siapa yang Allah telah pilih, ia dapat mengandalkan pada kesetiaan-Nya.

Bacaan Alkitab di atas menjadikan jelas, bahwa Allah, Sang Pencipta dapat melakukan segala hal yang Ia kehendaki. Ia mampu dan berkuasa untuk memberikan kehidupan yang baru pada sesuatu kehidupan yang sudah mati, tetapi sebaliknya, Ia juga berkuasa dan dapat mengambil kehidupan itu. Pada perumpaan di atas, Allah dengan jelas menunjukkan bahwa Ia berkuasa untuk merendahkan pohon yang tinggi dan meninggikan pohon yang rendah, membuat layu pohon yang hijau dan menghijaukan kembali pohon yang layu.

Kuasa ini pun nyata pada diri Tuhan Yesus, Allah, Sang Putra. Ia menyatakan kepada para murid-Nya, bahwa segala kuasa di bumi dan di surga telah diberikan kepada-Nya (Mat. 28:18). Kuasa ini Ia buktikan pada beberapa peristiwa, seperti saat Ia menenangkan badai (Mat. 8:23 dst.), membangkitkan orang mati (Yoh. 11:41–45) atau juga pada saat mengutuk pohon ara, sehingga menjadi layu (Mat. 21:18–21).

Dalam hal ini, kita diharapkan untuk mengenali akan kuasa Allah dan kesetiaan-Nya akan janji-Nya, meskipun umat-Nya seringkali mengingkari dan melawan akan perintah-Nya.

Firman Allah menjadi tindakan

Sejak kejatuhan manusia ke dalam dosa, Allah telah menyatakan dan merencanakan suatu pekerjaan Keselamatan bagi umat manusia. Dahulu rencana keselamatan ini dinyatakan dan dikabarkan melalui para nabi, kemudian Yesus Kristus sendiri juga menyampaikan akan hal ini. Saat ini rencana keselamatan Allah ini dikabarkan kepada umat manusia melalui firman yang dibangkitkan oleh Roh melalui utusan-utusan-Nya. Saat ini kita mendengarkan apa yang Allah ajarkan kepada umat perjanjian baru dan apa yang Ia harapkan daripada kita sebagai anak-anak-Nya. Firman-Nya dapat diandalkan: “Aku, TUHAN, yang mengatakannya dan akan membuatnya.”

Ketika umat pilihan-Nya memberontak terhadap perintah-perintah-Nya dan mengingkari perjanjian sumpahnya, Allah mengundang Nabi Yehezkiel untuk mengingatkan umat Israel pada perbuatan-perbuatan besar yang telah dilakukan Allah dan mendorong mereka untuk bertobat dan berpaling kembali secara baru kepada Allah. Pada saat ini, para Rasul Yesus yang hidup, mendapatkan tugas untuk mengingatkan manusia agar bertobat dan berpaling kembali kepada Allah, serta memberitakan kabar gembira dan mengundang setiap orang untuk  mengikut Kristus.

Allah setia

Ketika nabi Yehezkiel dan para utusan-Nya mengingatkan kembali akan apa yang menjadi kehendak Allah, memang umat-Nya menjadi sadar dan kembali berupaya untuk bersetia kepada Allah. Meskipun demikian, ketika mereka sudah memiliki keinginan yang baik, untuk tetap bersetia dan membuktikan kesetiaannya kepada Allah, mereka juga harus sadar bahwa, betapa seringnya mereka gagal. Namun, Allah memiliki kesetiaan yang besar kepada manusia dan pada semua janji-janji yang diberikan-Nya. Kita juga didorong untuk terus mengingat perbuatan-perbuatan baik Allah, sehingga dengan mengingat segala perbuatan-perbuatan baik Allah, manusia dapat mengambil keputusan untuk terus berusaha bersetia kepada-Nya dan memuji Allah akan kasih dan belas kasihan-Nya, serta senantiasa dapat bersyukur kepada-Nya. Ini juga termasuk untuk tetap mengandalkan diri kepada-Nya, ketika suatu saat harapan-harapan kita tidaklah terpenuhi. Kita dapat yakin, bahwa setiap saat Ia bisa menciptakan dan memberikan hal-hal yang baru secara utuh, lengkap dan sepenuhnya, bahkan dengan cara yang tidak diperkirakan. Tetapi, Ia juga dapat menolak gagasan-gagasan kita dan mencegah harapan-harapan kita menjadi kenyataan.

Meskipun demikian, ketika kita menaruhkan pengandalan kita kepada Allah, bukan berarti, seolah-olah atau memberi kesan bahwa Allah memaksakan kehendak-Nya pada kita. Kita juga tidak ingin mencabut pengandalan kita kepada-Nya oleh karena tidak digenapkannya keinginan-keinginan kita. Pengandalan dan keyakinan kita bertumbuh dari pengalaman, bahwa Ia senantiasa menciptakan hal-hal yang baik bagi kita di dalam kasih-Nya, yakni apa yang tidak dapat kita ciptakan sendiri sebagai manusia: hal-hal yang memiliki keberadaan yang kekal.

Allah menghormati orang-orang yang setia

Marilah kita pikirkan tiga laki-laki yang oleh karena kesetiaan mereka kepada Allah harus dimasukkan ke dalam perapian yang menyala-nyala (Dan. 3:18). Allah mengakui iman mereka dan melindungi mereka.

Oleh karena itu, kenalilah Allah dengan segala kasih-Nya, kuasa, karunia, kemurahan serta belas kasihan-Nya dan bersetialah kepada-Nya, karena Ia adalah setia. Taruhkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya.

Amin.

Selasa, 29 Oktober 2019

Kecewa Pada Agama

Kalau sesorang ditanya, "Apa agamamu?" Mereka mungkin akan dengan cepat menyebut salah satu agama yang ada di Indonesia. Mengapa demikian? Ya karena Undang-undang di Indonesia mengharuskan setiap warga Indonesia untuk memeluk salah satu agama atau aliran kepercayaan yang diakui oleh pemerintah Indonesia dan menjalankan ajarannya dengan baik. Sungguh beruntung bagi kita, karena Pemerintah negara Indonesia tidak mengijinkan dan melarang seseorang untuk tidak memiliki agama atau menjadi Atheis. Banyak negara, yang juga melarang warga negaranya atau rakyatnya, untuk mengikuti paham atheis.

Tetapi kita dapat membaca dari banyak berita, bahwa paham atheis ini, akhir-akhir ini semakin berkembang demikian pesat. Di beberapa negara, bahkan pada tahun-tahun terakhir ini, pengikut paham atheis menjadi berlipat, dalam waktu yang sangat singkat.

Pertanyaannya, "Mengapa hal ini bisa terjadi?

Kalau diperhatikan pada masa-masa ini, dibanyak tempat ibadah, kita dapat melihat banyak sekali orang yang datang berbondong-bondong ke tempat ibadah. Tetapi di sisi yang lain, kita dapat melihat, bagaimana orang dengan mudahnya dan gampangnya memperlakukan orang lain seeenaknya, memperlakukan orang lain dengan tidak adil. Di beberapa belahan dunia, banyak orang melakukan kekerasan, penghinaan dan kejahatan kemanusiaan dengan mengatas-namakan agama. Mereka dengan mudahnya menyengsarakan orang lain, bagaimana mereka memperlakukan orang dengan demikian kejinya. Penyiksaan, pemaksaan kehendak, perampasan, pemerkosaan, bahkan pembunuhan mereka pertontonkan  dalam ke seharian mereka. Ujaran kebencian, fitnah, berita-berita bohong, terucap sedemikian derasnya.

Itukah pengajaran yang daiajarkan di dalam setiap ibadah?
Tapi, bukankah, setiap agama tidak pernah mengajarkan yang sedemikian? Tetapi mengapa mereka bertindak, berperilaku dan bersikap demikian kepada sesama manusia, sesama mahkota ciptaan Allah? Terhadap bumi dengan segala apa yang terkandung di atas dan di dalamnya serta berbagai tumbuhan dan hewan saja, Allah menugaskan manusia untuk menjaga dan memeliharanya secara bertanggungjawab, apalagi terhadap sesama manusia, sebagai mahkota ciptaan, Allah menghendaki untuk saling mengasihi diantara sesama umat manusia.

Dalam kenyataannya, hal itu sangat jauh dari apa yang dibayangkan oleh manusia. Berbagai kekerasan, pemaksaan kehendak, kebohongan, caci maki bahkan pemerkosaan dan pembunuhan manusia, dipertontonkan oleh manusia itu sendiri. Bahkan perintah Allah untuk menjaga bumi dengan segala isinya pun, tidak diindahkan oleh manusia. Dengan keserakahan yang dimilikinya, manusia mengekspolitasi dan melakukan eksplorasi besar-besar terhadap bumi dan segala isinya dengan secara tidak bertanggung jawab. Kerusakan yang terjadi akibat keserakahan manusia ini telah menimbulkan banyak kesengsaraan dan penderitaan bagi orang lain.

Semuanya itu menjadikan manusia menjadi skeptis terhadap agama dan yang lain bertanya-tanya, " Dimanakah agama itu? Apakah agama itu?  Dan apa gunanya agama? Dimanakah Allah? Dimanakah Tuhan? Mereka memandang agama hanya sebagai suatu ilusi, sesuatu yang hanya ada di angan-angan atau awang-awang. agama adalah sesuatu yang abstrak.

Agama dianggap tidak mampu untuk menyelesaikan permasalahan hidup mereka dan permasalahan dunia. Dengan perasaan kecewa, mereka pun meninggalkan agamanya, mereka tidak lagi percaya akan adanya Allah, mereka tidak lagi percaya akan adanya Tuhan dan mereka mengembangkan kepikirannya sendiri dalam menjalani kehidupan mereka. "Yang penting saya bisa hidup dengan senang, tidak memgganggu orang dan merugikan orang lain, cukuplah sudah. Masa bodoh dengan agama, masa bodoh dengan ibadah, masa bodoh dengan doa".

Pemahaman sedemikian ini pastilah sungguh memperihatinkan dan sangat menyedihkan dan disayangkan. Tetapi kita juga tidak bisa dengan serta merta dan mudahnya menyalahkan mereka.

Kesadaran kita semua untuk mengiplementasikan pengajaran agama kita dalam kehidupan sehari-hari, dengan menjunjung tinggi dan rasa penghargaan yang tinggi sebagai sesama mahkota ciptaan Allah, cukuplah untuk menjadi bukti akan nilai penting dari suatu agama dan keberadaan Allah. Oleh karena itu marilah kita berusaha untuk mengimplementasikan semua pengajaran agama kita, dengan baik dengan saling mengasihi, menghargai, berbagi dan melayani sesama kita.

Jangan Cemas dan Takut - Berjaga-jaga & Berwaspada

BACAAN ALKITAB

Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya. Lawanlah dia dengan iman yang teguh, sebab kamu tahu, bahwa semua saudaramu di seluruh dunia menanggung penderitaan yang sama. Dan Allah, sumber segala kasih karunia, yang telah memanggil kamu dalam Kristus kepada kemuliaan-Nya yang kekal, akan melengkapi, meneguhkan, menguatkan dan mengokohkan kamu, sesudah kamu menderita seketika lamanya. Ialah yang empunya kuasa sampai selama-lamanya! Amin. (1 Petrus 5:8-12).

PENGAJARAN

Ketika ada dua negara sedang terlibat dalam suatu peperangan, mereka akan senantiasa berjaga-jaga dan berwaspada. Mereka pun akan saling mengintai. Ketika ada di antara mereka yang lengah, maka bangsa atau negara tersebut akan dapat dihancurkan,  ditakhlukkan dan diduduki. Sayangnya mereka sering kali tidak tahu, kapan musuh akan menyerang. Karena mereka tidak tahu kapan musuh akan menyerang, maka mereka akan berusaha memasang berbagai radar dan alat pendeteksi dini, serta senantiasa bersiap siaga agar ketika sewaktu-waktu musuh menyerang, mereka akan dapat mengantisipasi dan menghadangnya, sehingga bangsa dan negara tersebut tidak mengalami kehancuran atau kebinasaan.

Demikian juga dalam kehidupan manusia. Manusia tidak tahu, kapan musuh yaitu iblis akan datang menyerang atau menyusup ke dalam hati dan jiwa kita.  "Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya. Lawanlah dia dengan iman yang teguh, sebab kamu tahu, bahwa semua saudaramu di seluruh dunia menanggung penderitaan yang sama. Dan Allah, sumber segala kasih karunia, yang telah memanggil kamu dalam Kristus kepada kemuliaan-Nya yang kekal, akan melengkapi, meneguhkan, menguatkan dan mengokohkan kamu, sesudah kamu menderita seketika lamanya. Ialah yang empunya kuasa sampai selama-lamanya! Amin. (1 Petrus 5:8-12)

Iblis akan berusaha membombardir kita dengan berbagai permasalahan, kesesakan, penderitaan, kesibukan dan bahkan mungkin dengan tawaran-tawaran dunia yang menggiurkan. Sayangnya kita juga tidak tahu, kapan iblis akan menyerang kita dengan kesemuanya itu. Kadang iblis datang menyerang dengan berbagai masalah, dan sejali lagi, kita juga seringkali tidak tahu, kapan hal itu akan datang dan terjadi? Salomo menasihatkan, "Janganlah memuji diri karena esok hari, karena engkau tidak tahu apa yang akan terjadi hari itu." (Amsal 27:1).

Meskipun Salomo menasihatkan kita seperti itu, namun kita boleh yakin dan percaya, sebagai anak-anak Allah, bahwa Ia tidak akan pernah meninggalkan anak-anak-Nya. Ia selalu ada untuk kita. Hidup kita selalu berada dalam pengawasan Allah. Kita senantiasa dijaga dan dipelihara-Nya. Adalah manusiawi jika suatu saat kita merasa takut dan kuatir ketika menghadapi suatu masalah. Tapi sebagai anak-anak Allah, milikilah dan tumbuhkanlah kebiasaan hidup rohani yaitu untuk senantiasa percaya dan memiliki iman kepada Allah sepenuhnya dan tidak lagi takut terhadap masalah yang ada.

Perlu kita tanamkan dan tumbuhkan di dalam diri kita, bahwa Allah kita adalah hidup dan setia! Ia tidak pernah mengingkari janji-Nya. Oleh karena itu, kita pun hendaknya tetap percaya bahwa Ia sanggup menyelesaikan masalah-masalah yang terjadi dalam kehidupan kita. Berhentilah mengeluh dan berputus asa. Ingat, Tuhan tahu apa yang terbaik dalam hidup kita.

"Serahkanlah segala kekuatiranmu kepadaNya, sebab Ia yang memelihara kamu." (1 Petrus 5:7), dan jangan sekali-kali mencari pertolongan kepada ilah yang lain!
Yesus, Tuhan kita, yang telah menang atas maut dan neraka, juga tidaklah jauh dari kita, melalui para malaikat-Nya. Ia berkata, "Tenanglah! Aku ini, jangan takut!". Ketakutan akan menimbulkan keraguan, dan itu adalah senjata utama yang digunakan Iblis untuk menghancurkan iman orang percaya. Bukankah banyak orang yang ketika mengalami ketakutan sering bertindak bodoh yaitu pergi ke dukun, bahkan ada yang bunuh diri?

Hidup kita ini lebih berharga dari burung di udara, Allah pasti bisa memberi jalan keluar yang terbaik untuk setiap masalah yang ada!. Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupakan apa yang hendak kamu makan, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Sebab hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian. Burung-burung gagak yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mempunyai gudang atau lumbung, namun demikian diberi makan oleh Allah. Betapa jauhnya kamu melebihi burung-burung itu! Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta pada jalan hidupnya? Jadi, jikalau kamu tidak sanggup membuat barang yang paling kecil, mengapa kamu kuatir akan hal-hal lain? Perhatikanlah bunga bakung, yang tidak memintal dan tidak menenun, namun Aku berkata kepadamu: Salomo dalam segala kemegahannyapun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu, Jadi, jika rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api demikian didandani Allah, terlebih lagi kamu, hai orang yang kurang percaya! Jadi, janganlah kamu mempersoalkan apa yang akan kamu makan atau apa yang akan kamu minum dan janganlah cemas hatimu. Semua itu dicari bangsa-bangsa di dunia yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu tahu, bahwa kamu memang memerlukan semuanya itu. Tetapi carilah Kerajaan-Nya, maka semuanya itu akan ditambahkan juga kepadamu. (Lukas 12:22--31)

Oleh karena itu, berjaga-jagalah, berwaspada dan janganlah khawatir, Allah Sang Bapa dan Tuhan Yesus akan selalu menyertai kita.

Amin.

Kamis, 24 Oktober 2019

Berlebih Menilai Diri

BACAAN ALKITAB

Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai. Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan. (Lukas 18:10-14)

Beberapa orang memiliki kemampuan bangun di tengah malam untuk dapat berlutut dan berdoa setiap malam, tetapi yang lain tidak dapat bangun meskipun  mereka sudah berusaha.

Namun, mereka dapat berdoa bersama-sama setiap hari, meski hanya sehari sekali.

Yang lain tidak bisa melakukan kedua hal di atas, tetapi di mana pun mereka berjalan, mereka mampu bersedekah dan mengulurkan tangan dengan kerendahan hati kepada mereka yang memerlukan.

Beberapa orang tidak memiliki kekuatan dan kemampuan untuk melakukan hal-hal di atas, tetapi mereka mampu menjaga hati yang bersih dan memberikan wajah yang tersenyum terhadap orang lain sepanjang waktu.

Yang lain lagi tidak melakukan apa-apa selain hanya membuat anak-anak tertawa ketika  bertemu dengan mereka.

Saudara-saudaraku,

Jangan pernah berpikir bahwa mereka yang tidak melakukan apa yang Anda lakukan, lebih rendah daripada diri Anda, atau tidak memiliki apa pun yang bisa dipersembahkan bagi orang lain atau sesama.

Jangan pernah berpikir bahwa tindakan Anda untuk beribadah, untuk menerapkan firman Allah, lebih baik daripada tindakan orang lain.

Jangan biarkan kesalehan Anda, menumbuhkan kebanggaan terselubung atau kesombongan dalam diri Anda.

Jangan biarkan kesalehan Anda mengisolasi diri Anda dari keluarga dan teman, jangan biarkan itu membuat Anda merasa "lebih suci dari orang lain."

Keturunan, kekayaan, kemampuan ilmiah, warna kulit Anda, kekuatan di medan perang bukanlah kriteria untuk menilai kualitas kedekatan, kemenurutan dan kasih Anda kepada Allah.

Ada banyak di Afrika, Eropa, Asia, Cina dan seluruh dunia yang mungkin lebih dekat dengan Allah daripada dirimu, karena fakta yang paling sederhana adalah bahwa mereka dapat menanggung kesulitan dan mengatasi cobaan, lebih baik daripada Anda*.

Penampilan dan pakaian Anda bukanlah kriteria untuk kesalehan Anda.

Ada banyak di dunia, yang lebih dekat dengan Allah, meskipun mereka tampaknya biasa-biasa saja.

Kekristenan Anda, afiliasi Anda dengan sebuah jamaah atau lembaga ilmiah mana pun, harus menjadi sarana untuk memusnahkan ego dan kebanggaan Anda, tanpa memandang rendah orang lain.

Ada banyak yang memiliki hati yang murni, ada banyak yang lebih berkenan dihadapan Allah dibanding Anda, meskipun mereka tidak berafiliasi dengan salah satu di atas.

Itu semua bukanlah paspor otomatis untuk dapat masuk ke Surga.*

Ada orang yang masuk surga hanya dengan segelas air putih untuk memuaskan dahaga orang yang paling hina, yang lain mendapatkannya dengan hanya memaafkan semua orang setiap hari sebelum tidur.

Mereka mungkin tidak memiliki banyak hal untuk ditampilkan, tetapi apa yang mereka lakukan, berkenan dan penting bagi Allah.

Seseorang mungkin berjalan melalui gerbang surga dengan modal sangat sedikit dan kehadirannya ketika hidup di muka bumi tidak dianggap penting, sementara yang lain dengan perbuatan yang jauh lebih besar justru binasa karena kesombongan mereka.

Janganlah heran dan terkejut, jika orang yang Anda hinakan itu menuntun Anda berjalan melewati gerbang Surga.

Cari dan lihatlah hal-hal yang baik yang ada dalam orang lain.
JADILAH ORANG BAIK, BERPIKIRLAH YANG BAIK, PIKIRKAN YANG BAIK, & LAKUKAN YANG BAIK.

Rabu, 23 Oktober 2019

Aku juga tidak menghukummu

Sekelompok anak muda menghadiri suatu resepsi pernikahan. Ketika mereka sedang asyik ngobrol sambil kadang bergurau, salah seorang di antaranya melihat dan mengenali guru SD nya, juga hadir dalam acara resepsi pernikahan tersebut.

Murid itu bergegas mendatangi dan menyalami gurunya dengan penuh penghormatan, seraya berkata:

“Masih ingat saya kan pak guru?”

Gurunya menjawab: “tidak”

Murid itu bertanya keheranan: “ masa sih pak guru tidak ingat saya? Saya kan murid yang mencuri jam tangan salah seorang teman di kelas. Dan ketika anak yang kehilangan jam itu menangis, pak guru menyuruh kami semua untuk berdiri, karena akan dilakukan penggeledahan pada saku murid.

Waktu itu saya berfikir bahwa pastilah saya akan dipermalukan di hadapan para murid dan para guru, dan akan menjadi bahan ejekan dan hinaan. Mereka akan memberikan gelar kepadaku "pencuri" dan harga diriku pasti akan hancur, selama lamanya.

Bapak menyuruh kami semua berdiri menghadap tembok dan menutup mata kami.
Bapak kemudian menggeledah kantong kami, dan ketika tiba giliran saya, bapak ambil jam tangan itu dari kantong saya, dan bapak terus lanjutkan penggeledahan itu sampai murid terakhir, padahal bapak telah mendapatkannya dari kantong sakuku.

Setelah selesai bapak suruh kami membuka penutup mata, dan kembali ke tempat duduk. Saya takut bapak akan mempermalukan saya di depan murid-murid yang lain. Tetapi ternyata tidak. Bapak hanya menunjukkan jam tangan itu dan memberikannya kembali kepada pemiliknya, tanpa menyebutkan siapa yang mencurinya.

Selama saya belajar di sekolah itu, bapak tidak pernah membicarakan tentang kasus jam tangan itu, dan tidak ada seorangpun guru maupun murid yang juga bicara tentang pencurian jam tangan itu.

Masih tidak ingatkah bapak pada saya?
Bagaimana mungkin bapak tidak mengingatku wahai guruku.
Aku telah melakukan perbuatan bodoh dan memalukan waktu itu.
Saya adalah murid bapak dan ceritaku adalah cerita pedih yang tak akan terlupakan.

Guru itu menjawab:

Nak..., ya bapak ingat peristiwa itu. Tapi sungguh bapak tidak mengingatmu, dan bapak juga tidak tahu siapa yang mengambil jam itu, karena pada saat penggeledahan itu, bapak sengaja menutup mata pula agar tidak mengenalmu, tidak mempermalukanmu dan menghukummu.

Tuhan Yesus juga mengajar kepada kita untuk tidak menghakimi dan menghukum orang lain. Tugas kita bukan untuk menghakimi dan menghukum orang lain. Sekalipun kita memang benar-benar melihat saudara-saudari atau sesama kita, melakukan kejahatan, kesalahan atau pun dosa, bukanlah tugas kita untuk menghakimi atau menghukum kesalahannya, karena kita tidak tahu apa yang melatar-belakangi ia melakukan kejahatan itu. Cobalah untuk mencari dan melihat sisi baik atau pekerjaan-pekerjaan baik yang telah ia lakukan, dan bersyukurlah akan sisi baik dan pekerjaan-pekerjaan baik yang telah ia lakukan.

Tetapi, karena kita tidak menghakimi atau menghukumnya, bukan berarti bahwa kita membenarkan atau menyetujui perbuatannya. Tugas kita adalah untuk mengampuni, mengingatkan dan mengatakan sebagaimana yang Yesus katakan kepada perempuan yang berzina, "...Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang." (Yohanes 8:11). Tuhan mengharapkan kepada kita untuk dapat mengasihi sesama kita dan mendoakan untuk kelepasan-Nya, meskipun kita tahu ia telah berbuat dosa.

Di dalam Lukas 6:37 dituliskan, "Janganlah kamu menghakimi, maka kamupun tidak akan dihakimi. Dan janganlah kamu menghukum, maka kamupun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni.


Amin

Ibuku, Alkitabku

BACAAN ALKITAB

Nah, sebagaimana tubuh tanpa roh adalah tubuh yang mati, begitu juga iman tanpa perbuatan adalah iman yang mati. (Yakobus  2:26)

Suatu saat, empat orang eksekutif muda sedang makan siang bersama. Sambil makan, mereka pun memperbincangkan hal-hal yang ringan-ringan. Tanpa disadari, siapa yang memulai, pembicaraan mereka tiba-tiba beralih topik mengenai Alkitab.

Eksekutif muda yang pertama berkata : “saya lebih suka terjemahan Alkitab King James Version. Soalnya lebih mendekati bahasa aslinya.”

Eksekutif muda yang kedua berkata : “kalau aku lebih suka terjemahan Moffat, bahasanya lugas….”

Sedangkan eksekutif muda yang ketiga mengatakan “aku lebih suka terjemahan Alkitab dengan bahasa sehari-hari, karena bagi saya, lebih mudah untuk dimengerti….”

Eksekutif muda yang ke empat hanya tersenyum saja, sambil mengatakan , “saya suka terjemahan Alkitab versi ibuku.”

Ketiga temannya terheran-heran dan bingung. Karena dalam sejarah tidak ada wanita yang telah menterjemahakan Alkitab. Dengan nada dan senyum sedikit mencemooh,  mereka pun bertanya “memang siapa ibumu?”

“Ibuku sih wanita biasa, dia bukan siapa-siapa. Tetapi dia tidak pernah berkata *kasihilah sesama mu manusia* , tetapi setiap kali  aku pulang sekolah, dia selalu tersenyum senang dan tangannya selalu terbuka untuk memelukku dengan penuh kehangatan,

Ibu ku tidak pernah mangatakan padaku *jangan engkau membunuh*, dan aku tidak melihat dan mendengar ibuku menyebarkan isu atau gossip sebagai media character assassination atau pembunuhan karakter.

Ibuku tidak pernah mengatakan padaku *kuduskanlah hari Sabbath*, tetapi setiap hari minggu dia bangun lebih pagi dan bersiap pergi ke gereja.

Ibuku tidak pernah mengatakan padaku *jangan menyebut nama Tuhan dengan sia-sia*, dan aku tidak pernah mendengar dia  mengumpat dengan menggunakan nama Tuhan, bahkan aku selalu mendengar ibu ku bersenandung menyanyikan lagu rohani.

Ibuku telah menterjemahkan Alkitab ke dalam perbuatannya, *aku rasa ibuku adalah terjemahan Alkitab terbaik yang mudah kubaca*



-anonim-

  

Selasa, 22 Oktober 2019

Teruslah Menabur dan Menanam

BACAAN ALKITAB

Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan. (I Korintus  3:6)

Seorang saudara bersaksi pada temannya mengenai gereja kita. Setiap bulan, dia selalu mengirim Majalah yang diterbitkan oleh gereja, dan rajin mengunjungi temannya ini untuk membicarakan berbagai hal tentang keselamatan yang dapat diperoleh melalui diri Tuhan Yesus. Selama bertahun-tahun dia melakukan hal ini. Tetapi sepertinya tidak ada respon dan sambutan dari temannya ini. Akhirnya, saudara ini mulai kecewa, putus asa dan mulai enggan untuk menabur benih pekerjaan keselamatan Tuhan pada temannya ini.

Setelah duapuluh tahun lewat, tiba-tiba temannya muncul di gereja, tetapi ia tidak sendiri. Ia hadir bersama istri dan anak-anaknya. Tentu saja dia merasa sangat gembira.

Setelah kebaktian usai, saudara ini pun bertanya, “hai…, bagaimana ceritanya engkau bisa hadir disini?”

Temannya menjawab : “aku telah pensiun, dan saat aku beres-beres meja kerjaku, aku melihat ada tumpukan majalah gerejamu yang kau kirim setiap bulan. Aku dan istriku setiap  ada waktu luang mulai membaca majalah ini. Sehingga aku dan istriku mulai tertarik dan memutuskan untuk mengenal lebih jauh gerejamu ini. Itulah sebabnya hari ini aku, isteri dan anak-anakku datang ke gerajamu”

Banyak diantara kita berharap bahwa benih yang kita sebar atau tanam hari ini, esok hari atau beberapa waktu berselang sudah mulai tumbuh. Tetapi alangkah kecewanya, ketika melihat kenyataan bahwa benih yang kita sebar seolah-olah tidak menunjukkan tanda-tanda adanya suatu pertumbuhan, meski sudah ada yang menyirami.  Demikian halnya ketika kita menabur benih sorgawi, firman-firman Allah. Seberapa sering kita menabur, dan seberapa sering pula saudara-saudari kita yang lain juga ikut untuk menyiramnya, tapi seringkali kita merasa kecewa, karena seolah-olah benih yang kita tabur, firman-firman Allah, tidak menunjukkan tanda-tanda adanya pertumbuhan pada diri hati mereka yang mendapat taburan benih ini.

Dari bacaan Alkitab di atas kita mendapatkan suatu penghiburan, Paulus menanam, Apolos menyiram, tetapi yang paling penting adalah Tuhan-lah yang memberikan pertumbuhan, perlu waktu yang berbeda-beda agar benih yang ditanamkan atau disebar dapat tumbuh dalam hati setiap umat manusia. Pada kasus di atas, membutuhkan waktu 20 tahun supaya bibit yang disebarkan oleh saudara ininuntuk dapat tumbuh. Jadi jangan menyerah ketika pengabaran injil kita seolah-olah tidak berdampak. Teruslah menabur. Teruslah menanam. Mungkin kita yang menabur benih ini, dan nanti akan ada saudara kita yang lain, yang menyiramnya, dan pada waktu Nya, Dia akan memberikan pertumbuhan. Tugas kita adalah teruslah menabur dan menanamkan benih Ilahi, setiap ada kesempatan.

Selasa, 15 Oktober 2019

Memuji Karya Allah

BACAAN ALKITAB

Menyanyilah bagi TUHAN, pujilah nama-Nya, kabarkanlah keselamatan yang dari pada-Nya dari hari ke hari. (Mazmur 96:2)

PENGAJARAN

Ketika melihat seseorang telah membuat suatu karya yang sangat indah, bagus, serta menakjubkan dan bahkan karya-karya yang spektakuler, apa pun itu bentuk dan wujudnya, pastilah seseorang akan berdecak kagum, dan seringkali tanpa disadari akan terungkap kata-kata yang menunjukkan akan kekagumannya. Ada yang awalnya duduk, akan bangkit berdiri dan bertepuk tangan untuk menunjukkan rasa kagum dan hormatnya, ada yang bersiul-siul, ada yang mengabadikan momen itu, dan lain-lain. Semua itu menunjukkan dan sebagai ungkapan akan rasa kagum, terpesona dan rasa hormat akan karya yang telah dihasilkan.

Pujian penulis Mazmur akan kuasa Allah yang nyata dalam ciptaan-Nya, dinyatakan di dalam Mazmur 96. Kenyataan bahwa Allah adalah Sang Pencipta dapat dibuktikan baik di dalam kitab Perjanjian Lama maupun kitab Perjanjian Baru, dan juga di semua pengakuan-pengakuan iman gereja awal. Selain itu, Allah adalah juga Pembawa dan Pekerja keselamatan, bagi manusia yang telah jatuh ke dalam dosa. Dan ini hendaknya juga dipuji dan diberitakan oleh setiap umat manusia, khususnya para percayawan di Israel, waktu itu.

Mempersembahkan pujian kepada Allah sebagai Pencipta adalah sangat penting bagi orang-orang percaya di antara bangsa Israel. Mereka mengungkapkan rasa syukur mereka atas tenaga dan kuasa Allah yang senantiasa memelihara dan merawat mereka. Sikap rasa syukur yang mendasar dari makhluk-makhluk ciptaan Allah kepada Penciptanya, juga merupakan suatu wujud dan objek pengakuan di dalam iman Kristen.

Nyanyikan dan pujilah nama-Nya. Mazmur mendorong masing-masing orang percaya untuk memuji Allah dan menyanyi bagi-Nya – dengan kata lain, sikap rasa syukur mereka yang mendasar tersebut, dapat juga terdengar oleh orang lain. Selain itu, sikap ini hendaknya juga menjadi pendorong bagi seseorang untuk bergabung dalam nyanyian dan pujian yang dinyanyikan oleh semua orang percaya. Dengan cara demikian, setiap hari, perbuatan-perbuatan baik Allah dapat bergaung ke segala arah dan dapat terdengar dengan jelas di seluruh bumi (Mzm. 34:4).

Nama Tuhan

Gagasan untuk memuji nama Tuhan, mengingatkan kita akan perjumpaan Allah dengan Musa di semak yang menyala-nyala (Kel. 3). Ketika Musa, yang awalnya ragu-ragu, mengajukan pertanyaan tentang apa yang hendak ia katakan kepada orang-orang tentang siapa yang telah mengutusnya, Allah berkata kepadanya untuk mengatakan: “AKU ADALAH AKU” (Kel. 3:14).

Dari teks asli yang berbahasa Ibrani, dapat disimpulkan bahwa sebutan ini bukanlah suatu nama atau sebutan yang seenaknya, tetapi justru untuk mengungkapkan sifat dan tindakan-tindakan Allah yang sesungguhnya. Pernyataan ini juga dapat diterjemahkan sebagai: “Akulah Dia yang ada”, atau juga, “Ia yang senantiasa hadir”. Allah senantiasa hadir, dan Allah ada.
  • pada saat awal masa penciptaan yang, Ia sebut sebagai sungguh amat baik. Namun, di sisi lain tampaknya Ia pun juga mengalami suatu momen kegagalan, yaitu pada momen dimana manusia menyadari bahwa mereka telah hilang dari hadapan Allah secara tragis. Meskipun demiian Ia masih merawat pendosa (Kej. 1:31; 3:21).
  • di sepanjang sejarah. Lagi dan lagi umat Israel mengalami bagaimana Allah menyertai mereka dan memelihara mereka dengan cara yang luar biasa, khususnya ketika Ia membebaskan mereka dari Mesir.
Allah hadir pada masa sekarang
  • di dalam Yesus Kristus, yang hidup di antara umat manusia, dan mempersembahkan kurban-Nya untuk keselamatan kita semua – dengan kata lain, kehadiran Allah dalam Yesus Kristus memungkinkan bagi semua manusia untuk dapat diselamatkan (Yoh. 1:14; 1 Tim. 2:4).
  • di dalam para Rasul. Pada masa sekarang seperti halnya pada masa dulu – keselamatan Allah dapat dialami di dalam setiap pemberitaan firman dan penyaluran sakramen-sakramen. Allah akan terus hadir, dan Ia akan senantiasa hadir, bahkan sampai pada akhir zaman (Mat. 28:20).
  • di dalam ciptaan yang baru. Yaitu ketika Ia akan menjadi “semua di dalam semua” (1 Kor. 15:28). Marilah kita beritakan kabar keselamatan dari Dia dari hari ke hari. Mereka yang tetap sadar bahwa Allah senantiasa hadir, tidak akan pernah melupakan Allah, meski dalam ketinggian kehidupan: baik di hari-hari yang baik maupun hari-hari yang sangat baik.
  • Jangan pernah meninggalkan Allah, meski kita berada dalam di dalam tingkat kehidupan yang sangat rendah, seperti pada waktu-waktu kesedihan, penderitaan, kesusahan, dan kekecewaan.
Selanjutnya, dari hari ke hari, mereka akan terus memberitakan dan mengabarkan kabar keselamatan dari Allah. Mereka juga akan berada dalam persekutuan yang kekal dengan Allah mereka, di dalam kemuliaan Allah (Why. 19:6-7).

Gandum dan Lalang

BACAAN ALKITAB

Yesus membentangkan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya: “Hal Kerajaan Sorga itu seumpama orang yang menaburkan benih yang baik di ladangnya. Tetapi pada waktu semua orang tidur, datanglah musuhnya menaburkan benih lalang di antara gandum itu, lalu pergi. Ketika gandum itu tumbuh dan mulai berbulir, nampak jugalah lalang itu. (Matius 13:24-26)

PENGAJARAN

Ladang yang dimaksudkan dalam bacaan Alkitab di atas adalah hati umat manusia, dan orang yang menabur benih yang baik adalah Yesus Kristus. Benih yang baik, yang ditabur, adalah Injil Kristus, yang ditabur pada hati semua umat manusia, baik kepada orang yang jahat maupun pada orang yang baik. Mereka yang mau menerimanya dengan hati yang percaya dan memperkenankan benih itu tumbuh, akan menghasilkan buah.

Hamba-hamba dari Sang penabur terkejut dan takut ketika melihat adanya lalang di ladang. Sebaliknya, Sang penabur tetap tenang: ia tahu bahwa kejahatan yang dilakukan musuhnya tidak akan menghalanginya untuk dapat memperoleh tuaian atau panenan.

Ketika orang-orang melihat dan merasakan kejahatan di bumi yang semakin meningkat, mereka beranggapan bahwa Allah tidak ada. Namun, bagi para percayawan, anggapan ini adalah tidak benar. Sebenarnya kejahatan terjadi akibat dari kebebasan yang diberikan kepada umat manusia untuk memilih. Kejahatan terjadi karena manusia memilih untuk tidak menuruti dan menolak kehendak Allah, dan kejahatan ditabur oleh musuh dimana-mana. Musuh-musuh ini, menabur kejahatan persis bahkan sangat dekat dengan tempat-tempat dimana penabur telah menaburkan benih yang baik. Sebagai contoh, iblis menabur kejahatan, antara lain di rumah kita, di lingkungan tempat kerja kita, bahkan iblis juga menaburnya di dalam gereja, dalam sidang jemaat Tuhan.

Meskipun demikian, Tuhan menasihati kita untuk tetap tenang. Iblis tidak akan dapat membatalkan rencana kelepasan Allah, sebagai buah dari benih yang ditabur oleh Sang Tuan, karena Yesus Kristus telah mengalahkan kejahatan (1 Yoh. 3:8).

Meski musuh telah menaburkan benih lalang dan tumbuh di ladang, tetapi kualitas benih yang ditabur, tidaklah perlu diragukan dan pekerjaan dari mereka yang telah menaburnya, juga tidaklah dapat diragukan. Marilah kita mengandalkan diri pada Kristus. Injil-Nya berlaku kekal dan Ia akan mempertahankan gereja-Nya terhadap serangan-serangan si jahat. Pada masa ini penabur itu, termasuk di dalamnya adalah para Rasul Tuhan yang masih hidup saat ini, beserta dengan para pembantunya semua. Para percayawan, tidak hanya menjadi ladang bagi benih baik yang ditaburkan, tetapi mereka pun dapat juga menjadi penabur, benih yang baik tersebut, dan Tuhan Yesus akan tetap menyertai para Rasul-Nya dan para penabur, benih yang baik, tersebut

Ketika hamba-hamba Penabur ini datang dan menawarkan diri untuk mencabuti lalang-lalang tersebut, Penabur itu justru melarang hamba-hamba-Nya untuk mencabut lalang-lalang tersebut, sebab, mungkin gandum itu pun akan ikut tercabut. Mari kita ambil contoh, ketika kita akan menasehati seseorang yang telah berbuat jahat, berhati-hatilah. Jangan sampai orang tersebut, yang adalah sebagai tumbuhan gandum milik Allah, menjadi tersinggung, dan justru akan tercabut sehingga menjauhkan diri dari Allah atau menjauhkan diri persekutuan sidang jemaat Tuhan.

Misi kita bukanlah untuk menyingkirkan kejahatan dari bumi ini. Hanya Kristus-lah yang dapat mengikat Iblis, dan Ia akan melakukan hal tersebut pada waktu yang telah ditentukan. Kristus datang bukan untuk menghukum pendosa, melainkan untuk menyelamatkannya. Di dalam gereja-Nya, Ia menawarkan kelepasan kepada semua orang, baik kepada orang yang baik maupun orang yang jahat.

Tugas kita juga bukan untuk menghakimi orang lain (Luk. 6:37). Seandainya kita memang benar-benar melihat suatu kejahatan yang dilakukan oleh sesama kita, bukanlah tugas kita untuk menghakimi kesalahannya. Kita mungkin dapat melihat dengan baik, apa yang telah mereka lakukan, tetapi kita tidak tahu dengan sesungguhnya, motivasi apa yang menyebabkan orang tersebut melakukannya.

Meski demikian, jangan hanya karena kita tidak menghakimi atau menghukum orang yang bersalah, kemudian kita dianggap menyetujui perilakunya yang berdosa. Bukan demikian juga. Apa yang Tuhan harapkan dari kita adalah, untuk datang dan mengulurkan tangan kita, untuk mengasihi sesama kita dan mendoakan bagi mereka suatu kelepasan, meskipun mereka telah jatuh dalam dosa.

Kehadiran lalang di ladang tidaklah menghalangi benih yang baik untuk menghasilkan buah. Kelepasan atau keselamatan kita, tidak bergantung pada berapa jumlah “lalang” yang ada di sekitar kita, tetapi pada seberapa erat hubungan dan persekutuan kita dengan Yesus Kristus. Pada masa panenan, Allah akan menghakimi tingkat kematangan dan buah yang dihasilkan dari gandum-gandum itu. Ketika Yesus datang kembali, Tuhan akan menilai dan memutuskan apakah kita berada dalam posisi telah memenuhi misi yang Ia harapkan dan yang telah dipercayakan kepada kita. Ia akan menerima mereka yang dapat dipercaya dan mampu bersaksi tentang Injil-Nya dan kelepasan-Nya, di dalam kerajaan damai seribu tahun, dan mereka yang karena dorongan kasih, memiliki ketulusan, untuk menolong dan menyelamatkan semua manusia. 

Konteks
Injil Matius memberitakan bahwa Yesus men-
ceritakan dan mengartikan perumpamaan ten-
tang penabur begitu pula perumpamaan ten-
tang lalang di antara gandum (Mat. 13:3-42).
Kedua perumpamaan ini harus dilihat secara
terpisah satu dengan yang lain! Perumpama-
an tentang lalang berbicara tentang mereka
yang ingin mengikut Yesus dan tentang me-
reka yang ingin menolak Dia. Kejahatan tidak
dapat menghalangi orang-orang percaya un-
tuk meraih kelepasan. Di dalam gereja Kris-
ten, baik orang yang baik maupun orang
yang jahat ada berdampingan, dan tidak ada
orang yang dapat memisahkan mereka.

Jumat, 04 Oktober 2019

Kasih yang tulus

BACAAN ALKITAB

Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing. Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama
sekali tidak berguna. Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada
padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku. (1 Korintus 13:1-3)

PENGAJARAN

Rasul Paulus berseru kepada orang-orang di Korintus, untuk terus mencari dan memperoleh karunia-karunia yang paling utama” (1 Kor. 12:31). Orang-orang  di sidang jemaat Korintus, merasa dan percaya bahwa mereka sebenarnya telah mendapatkan karunia-karunia yang paling penting itu, yaitu iman, pengharapan dan kasih. Dan yang paling besar diantaranya adalah kasih. Rasul Paulus berharap bahwa kasih ini hendaknya dapat diterapkan pada setiap kata dan perbuatan sebagai bentuk ungkapan iman dan kehidupan kristiani. Rasul Paulus juga menandaskan bahwa karunia-karunia itu hendaknya digunakan untuk kepentingan bersama (1 Kor. 12:7). 

Berkata-kata dengan bahasa Roh

Di sidang jemaat Korintus, ada orang-orang yang mendapatkan karunia untuk dapat berbicara dengan bahasa Roh, dan pada masa itu, praktek berbicara dengan bahasa Roh, boleh dikata sudah umum terjadi di sidang jemaat Korintus. Rasul Paulus menasehati mereka, jangan sampai mereka sombong dengan karunia Allah yang diberikan kepada mereka. Karena ada diantara mereka yang merasa bahwa mereka adalah kelompok elite, dan mereka merasa bahwa mereka adalah orang-orang Kristen yang lebih baik dibanding orang-orang Kristen yang tidak mendapat karunia untuk dapat berbahasa Roh. Mereka diharapkan sadar bahwa, ketika mereka berkata-kata dengan bahasa roh, mereka tidak berkata-kata kepada manusia, tetapi kepada Allah, sebab orang lain tidak mengerti bahasanya. (1 Kor. 14:2).

Selain itu, Rasul Paulus menandaskan, seperti yang tertulis di bacaan Alkitab di atas, “Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, maka sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing.” Di sini Rasul Paulis menekankan, betapa pentingnya kasih itu. Tidak ada gunanya, sesorang memiliki karunia berkata-kata dalam bahasa Roh, kalau itu hanya untuk kesombongan, sebab perkataan dalam bahasa Roh itu hanya akan menjadi ocehan kosong, omongan yang tidak berguna atau kata-kata yang tidak ada "jiwanya". Kesombongan akan menjadi penghalang atas karunia yang telah Allah berikan kepada mereka, sehingga karunia itu tidak akan bermanfaat bagi dirinya sendiri maupun orang lain. Sebaliknya, kalau karunia untuk dapat berkata-kata dalam bahasa Roh disertai adanya kasih, maka hal itu akan sangat bermanfaat untuk memperkuat iman mereka dan kedekatan hubungan mereka dengan Allah.

Bernubuat

“Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat ... tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna.”

Paulus menasehati orang-orang di sidang jemaat Korintus untuk memperoleh karunia-karunia Roh, terutama karunia bernubuat (1 Kor. 14:1). Mengapa demikian? Rasul Paulus menjelaskan, "Tetapi siapa yang bernubuat, ia berkata-kata kepada manusia, ia membangun, menasihati dan menghibur. Siapa yang berkata-kata dengan bahasa Roh, ia membangun dirinya sendiri, tetapi siapa yang bernubuat, ia membangun jemaat." (ayat 3-4).

Nubuat yang disampaikan akan dapat meningkatkan dan memperluas wawasan serta pengetahuan sidang jemaat Tuhan, akan apa yang menjadi kehendak Allah. Pada masa kini, nubuat tentang apa yang menjadi kehendak Allah, dapat kita kenali dan kita dengar di dalam setiap khotbah yang disampaikan di dalam rumah Allah

Dari apa yang disampaikan Paulus, kita dapat menarik kesimpulan bahwa karunia bernubuat, lebih besar nilainya dibandingkan karunia berkata-kata dalam bahasa Roh. Tetapi sekali lagi ia menyatakan, bahwa kalau karunia bernubuat ini, juga tidak disertai adanya kasih, itu pun tidak berguna sama sekali.

Kadang, nubuat yang disampaikan, berisi suatu petunjuk untuk meningkatkan kekuatan dan pertumbuhan iman kita, tetapi bisa juga suatu kritik terhadap perilaku kita. Kalau nubuat ini tidak disampaikan atas dasar kasih, bisa jadi malah menimbulkan pertengkaran, kemarahan, kejengkelan atau malah sakit hati. Oleh karena itu mohonlah hikmat dan kebijaksanaan Ilahi, agar nubuat ini dapat disampaikan dengan penuh kasih, menggunakan kata-kata yang tepat dan saat serta cara yang tepat, sehingga dapat diterima oleh orang lain.

Tindakan-tindakan kita

“Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku ... , tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku.”

Menolong orang-orang yang membutuhkan, adalah sebuah tugas yang telah ditentukan dan harus dilaksanakan oleh semua orang Kristen. Namun terkadang, keinginan seseorang untuk menolong ini, bukan benar-benar keluar dalam hatinya untuk menolong  orang yang membutuhkan atau orang miskin, melainkan hanya untuk mencari kemuliaan bagi dirinya sendiri. Pada beberapa orang, kegiatan ini justru seolah-olah menjadi beban dan menjadi suatu tugas yang tidak menyenangkan. Akibatnya, makna pertolongan yang diberikan, akan memudar dan mungkin malah tidak memiliki nilai sama sekali. Pertolongan yang sedemikian ini tidaklah keluar dari kasih melainkan hanya untuk kepentingannya sendiri.

Marilah kita berusaha untuk memastikan agar, kasihlah, yang menentukan cara kita berkata-kata dan bertindak. Kasih yang tulus akan memampukan kita untuk melakukan apa yang diajarkan kepada kira. Marilah kita ingat bahwa “kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus” (Rm. 5:5), dan biarlah itu nyata dalam kata dan perbuatan kita.

Amin.

Kamis, 03 Oktober 2019

Kamu Kafir

Banyak orang dengan mudahnya menyebut orang yang tidak seiman dengannya sebagai Kafir. Padahal sebenarnya sebutan kafir tidak hanya terbatas pada orang-orang yang tidak seiman. Kefas pernah ditegur oleh Paulus. "Tetapi waktu kulihat, bahwa kelakuan mereka itu tidak sesuai dengan kebenaran Injil, aku berkata kepada Kefas di hadapan mereka semua: Jika engkau, seorang Yahudi, hidup secara kafir dan bukan secara Yahudi, bagaimanakah engkau dapat memaksa saudara-saudara yang tidak bersunat untuk hidup secara Yahudi?" (Galatia 2:14).

Kata kafir pada ayat ini merupakan terjemahan dari kata "ethnikos", yang dimaksudkan sebagai pola hidup yang tidak sesuai dengan adat Yahudi, dengan kata lain, tidak sesuai dengan pengajaran Tuhan. Karena, pada masa itu, orang-orang Yahudi sangat ketat dalam pengetrapan pengajaran Tuhan. Sehingga ketika ada orang yang hidup tidak sesuai dengan pengajaran Tuhan, disebut sebagai kafir, meski orang tersebut berasal dari bangsa Yahudi sendiri.

Di kitab Bilangan 23:9, dituliskan, "Sebab dari puncak gunung-gunung batu aku melihat mereka, dari bukit-bukit aku memandang mereka. Lihat, suatu bangsa yang diam tersendiri dan tidak mau dihitung di antara bangsa-bangsa kafir." Dalam bahasa Ibrani, kata kafir diterjemahkan sebagai goyim, yang berarti bangsa-bangsa non Yahudi, atau bangsa-bangsa yang tidak dipilih oleh Allah Abraham.

Jadi, kata kafir merujuk pada orang yang tidak berada dalam kelompok yang sama, yang tidak menjalani hidup sesuai ajaran yang diterimanya, utamanya dalam kaitan iman kepercayaan kepada Allah. Jadi sebenarnya tidak hanya terbatas pada tidak seagama atau tidak seiman.

Lantas bagaimana kita menyikapi hal ini terkait dengan pengutusan Tuhan Yesus ke dunia dan misi-Nya, untuk membawa manusia kembali memiliki persekutuan dengan Allah. Kalau mereka yang tidak bisa menerima Yesus dan misi-Nya, dianggap sebagai kafir, lantas begaimana kita menyikapinya.

Ada pemahaman pada beberapa orang yang menyatakan bahwa, darah orang kafir adalah halal. Apa yang mereka miliki, adalah sah untuk dirampas, dimiliki atau dihancurkan. Orang kafir tidak ubahnya dianggap sebagai binatang, yang "bisa" dan "boleh" diperlakukan seenaknya. Itulah sebabnya orang-orang kafir seringkali dimusuhi, dianiaya, diperlakukan secara tidak adil, tidak berperikemanusiaan dan dianggap bukan milik Allah, sehingga mereka juga tidak berhak dan tidak bisa masuk surga. Mereka beranggapan bahwa hanya merekalah yang bisa masuk sorga.

Hal ini sangat berbeda dengan apa yang diiinginkan oleh Allah. Ketika manusia yang pertama jatuh ke dalam dosa, dan diusir dari taman Eden, maka manusia terpisah dari Allah. Ada jarak yang memisahkan manusia dengan Allah. Tetapi oleh karena kasih Allah yang sedemikian besarnya kepada manusia, Allah telah berjanji untuk mengutus Sang Juruselamat, dan Allah menginginkan agar setiap manusia, tanpa terkecuali, dapat ditolong dan diselamatkan dari dosa, sehingga dapat memiliki persekutuan kembali dengan Allah.

Tetapi, ketika Sang Juruselamat ini telah datang dan bekerja di buka bumi, ternyata tidak semua orang, percaya dan bisa menerimanya. Padahal, saat Yesus baru saja dibaptis oleh Yohanes Pembaptis di sungai Yordan, maupun saat Yesus dipermuliakan di atas gunung, Allah sendiri telah menyatakan kepada manusia, bahkan juga kepada dua wakil dari alam Barzakh, "Inilah anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia."(Matius 17:5). Banyak orang yang tidak mau mendengar akan suara dan apa yang diajarkan Yesus, tentang rencana keselamatan Allah, yang awalnya, dipahami hanya diberikan kepada orang-orang Yahudi. Sehingga mereka yang bukan orang Yahudi dan selanjutnya, yang juga tidak mengikuti kehendak Allah, dianggap sebagai kafir.

Tidak seperti yang dipahami beberapa orang pada umunya, bahwa orang kafir "boleh" diperlakukan seenaknya, ditindas, diperlakukan secara kasar, bahkan dibunuh, Allah justru mengajarkan sebaliknya, yaitu untuk mengasihi sesama, yang di dalamnya termasuk untuk mengasihi orang-orang yang dianggap kafir tersebut. Mengapa? Karena Allah menghendaki agar semua manusia dapat diselamatkan, termasuk orang-orang yang dianggap kafir tersebut.

Oleh karena itu, marilah kita mengundang mereka, orang-orang yang dianggap kafir ini, " Hai saudaraku, marilah datang ke takhta kemurahan Allah. Allah mengundang engkau. Allah mengasihi engkau. Allah menyediakan kemuliaan bagimu di dalam kerajaan-Nya, sama sebagaimana Ia mengundang aku. Mari kita datang ke takhta kemurahan-Nya."

Mereka jangan justru dibenci, dimusuhi, dianiaya atau dibunuh. Kabarkanlah Injil Kristus, kabar gembira, kepada mereka. Ulurkanlah tanganmu untuk mengundang mereka, untuk menolong mereka, karena Allah dan Tuhan Yesus juga mengasihi mereka. Allah menginginkan kita dan mereka untuk masuk dalam persekutuan dengan-Nya di dalam kerajaan sorga.

Semoga banyak jiwa, banyak orang-orang yang dianggap kafir, dapat merasakan dan memperoleh  kasih dan kemurahan Allah.




Selasa, 01 Oktober 2019

Untuk Apa Saya Hidup

Percayakah kita bahwa ada misi dibalik penciptaan segala sesuatu oleh Allah? Sebuah pertanyaan besar yang sederhana : "Lalu, kenapa kita harus diciptakan oleh Allahdihadirkan dan hidup di dunia iniUntuk maksud apa Allah menciptakan saya?" Jika pertanyaan ini, suatu saat muncul dalam benak kita, dan kita sulit untuk menjawabnya, kita boleh merujuk pada apa yang ditulis oleh Rasul Paulus dalam kitab Efesus 2:10, "Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Yesus Kristus, untuk melakukan pekerjaan baik yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau supaya kita hidup didalamnya".

Setelah tahu untuk apa kita diciptakan, yaitu untuk melakukan pekerjaan baik, lantas pertanyaan selanjutnya adalah, "Pekerjaan Baik" yang bagaimanakah yang harus aku kerjakan? Jawabannya adalah "Untuk Melayani". Jadi kita diciptakan oleh Allah di dalam Yesus Kristus, untuk melayani, "Melayani Allah dan melayani sesama". Matius 20:28 menyatakan, "Sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang", demikian juga kita hendaknya dapat meneladani sikap hidup Tuhan Yesus, yaitu untuk melayani Allah dan melayani sesama. meskipun demikian bukan berarti kita juga harus memberikan nyawa kita menjadi tebusan bagi banyak orang. Dalam hal ini kurban Yesus telah cukup dan bahkan melampaui yang dibutuhkan untuk menjadi tebusan bagi semua orang berdosa yang mau dan menerima Yesus. "Sebab jika oleh dosa satu orang, maut telah berkuasa oleh satu orang itu, maka lebih benar lagi mereka, yang telah menerima kelimpahan kasih karunia dan anugerah kebenaran, akan hidup dan berkuasa oleh karena satu orang itu, yaitu Yesus Kristus." (Roma 5:17)

Pekerjaan baik, yaitu untuk melayani, seperti yang telah disebut di atas, terbagi menjadi 2, yaitu melayani Allah dan melayani sesama.

Melayani Allah

Bukankah Allah telah memiliki berlaksa-laksa malaikat untuk melayani dan membantu-Nya, tapi mengapa kita masih diharapkan untuk melayani Allah? Tuhan Yesus menyatakan, "...Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit...(Lukas 10:2). Di dalam kitab 1 Petrus 2:9, juga dinyatakan, "Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Allah, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib.

Berdasarkan kasih, Allah telah mengutus Yesus, Sang Putra Allah untuk turun ke dunia dan telah menjadi terangnya dunia. Melalui Yesus, Ia telah memanggil kita dari kegelapan dosa dunia kepada terang-Nya yang ajaib, sehingga kita tidak lagi menjadi anak-anak kegelapan, melainkan telah menjadi anak-anak terang. Perbuatan besar inilah yang hendaknya kita kabarkan, kita beritakan. Biarlah kita dapat menjadi saksi-saksi Kristus. biarlah kita gemar untuk memberitakan Injil Kristus, dan itu hendaknya nyata dalam kata dan perbuatan.

Melayani Sesama

Melayani Allah juga dapat kita lakukan dengan cara melayani sesama. "...Aku berkata kepadamu, sesungguhnya, segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku." (Matius 25:40).

Ketika mendengar kata "sesama manusia", kita seringkali berpikir itu adalah orang lain. Pemahaman ini sebenarnya kurang tepat. Karena "sesama manusia" itu juga mencakup
- orang tua
- keluarga, suami, isteri dan anak-anak
- saudara-saudari dan orang-orang disekitar kita.

Melayani orang tua

Kita semua pasti sepakat, bahwa orang tua kita telah banyak berkurban dalam mendidik, merawat dan membesarkan kita. Tidak bisa kita pungkiri berapa banyak, tenaga, waktu, pikiran, perasaan, kasih dan lain sebagainya yang telah diberikan orang tua kepada kita. Seberapa banyak nasihat yang diberikan kepada kita, sebagaimana yang dapat kita banyak dalam kitab Amsal. Tetapi pada saat mereka sudah berusia lanjut, bagaimana sikap kita kepada mereka, yang telah begitu banyak berkurban untuk kita.

Tidak jarang kita merasa jengkel terhadap sikap orang tua kita, yang mungkin tidak sejalan dengan pemikiran dan pengharapan kita. Belum lagi ketika kita merasa, kita "tidak pernah" merasakan kasih orang tua. Maka yang ada dalam hati kita adalah kemarahan dan kejengkelan semata. Tetapi Allah telah menyatakan, "hormatilah orang tuamu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan Tuhan, Allahmu, kepadamu." (Keluaran 20:12). Tidakkah kita ingat semua yang telah diberikan orang tua kita kepada kita?

Pada saat orang tua kita telah berusia lanjut, adalah giliran kita untuk melayani mereka. Rawatlah mereka, layanilah mereka, sebagaimana engkau melayani Tuhan. Akan timbul masalah ketika kita sudah berniat untuk merawat mereka, untuk melayani mereka, dengan membawa mereka ke rumah kita, ternyata mereka menolak.  Jangan engkau marah, jangan engkau memaksa, tetap hormatilah mereka, tetap layanilah mereka sebagaimana engkau melayani Tuhan.

Melayani Keluarga

Suami, isteri dan anak-anak kita, juga termasuk dalam "sesama kita".
Sebagai seorang suami, sebagai kepala keluarga, mungkin kita akan berpikir, bahwa tugas isterilah yang semestinya melayani suami. Tetapi kalau kita mengingat akan apa yang diajarkan Tuhan Yesus dalam Matius 25:40, di atas, maka dengan melayani isteri kita, berarti kita juga melayani Allah, demikian juga sebaliknya. Di dalam hal ini  marilah kita berusaha untuk saling melayani sebagai suami-isteri, karena dengan demikian, berarti kita juga melayani Allah.

Kepada anak-anak, kita tidak hanya merawat, membesarkan dan mendidik mereka dalam kehidupan jasmani, lebih dari itu, pelayanan kita sebagai orang tua, hendaknya dapat membawa anak-anak kita, untuk dapat memiliki iman, kedekatan dan kemenurutan kepada Yesus. Teladan dalam sikap, perilaku dan perkataan kita yang sesuai dengan pengajaran Tuhan, adalah suatu bentuk pelayanan kepada anak-anak kita, yang sangat penting.

Melayani saudara-saudari dan orang lain

Ketika Yesus dicobai oleh seorang ahli Taurat dengan pertanyaan, "Dan siapakah sesamaku manusia?" Tuhan menerangkannya dengan perumpamaan yang sangat terkenal, yaitu Orang Samaria yang baik hati. (Lukas 10:29-37). Marilah kita berusaha untuk melayani sesama kita, tanpa memandang asal-usul, latar belakang, sifat dan karakter seseorang. Lakukanlah semua itu, seperti engkau melakukannya untuk Tuhan. Maka sukacita kita akan senantiasa menyertai hidup kita.

Amin

Terperangkap

BACAAN ALKITAB

Karena manusia tidak mengerti waktunya. Seperti ikan yang tertangkap dalam jala yang mencelakakan, dan seperti burung yang tertangkap dalam jerat, begitulah anak-anak manusia terjerat pada waktu yang malang, kalau hal itu menimpa mereka secara tiba-tiba. (Pengkhotbah 9:12)

PENGAJARAN

Banyak cara untuk menangkap ikan atau burung. Beberapa diantaranya menggunakan jala atau jaring, pukat (dilarang karena merusak ekosistem habitat laut), dan pukat kantong (tidak merusak ekosistem bahwah laut). Dengan cara ini ikan yang terjaring, sulit, dan bahkan tidak akan dapat lepas lagi. Juga ada cara lain, yaitu dengan menggunakan jebakan ikan berbentuk keranjang, yang dipasang mengikuti arah arus air. Tidak jarang, untuk memarik perhatian ikan, ditaruhkanlah makanan atau umpan yang menimbulkan daya tarik bagi ikan untuk masuk ke jebakan tersebut. Demikian juga halnya untuk menangkap burung. Ikan atau burung yang sudah terperangkap akan pasrah. "Beruntung" kalau hanya "ditawan" untuk dipelihara. Tidak jarang, burung atau ikan yang terperangkap akan mengalami kematian.

Sama halnya dengan yang dilakukan oleh iblis untuk menjerat manusia.

Perlu kita sadari, bahwa iblis memang sudah kalah dengan Tuhan Yesus. Iblis tidak bisa menjerat Tuhan Yesus, meski sudah memasang berbagai perangkap dan bahkan juga memasang umpan yang banyak diinginkan manusia. Hal ini dilakukan oleh iblis, setelah Tuhan Yesus berpuasa. Ternyata iblis idak bisa menjerat Yesus dengan tawaran atau umpan, yang banyak diinginkan manusia, maka iblis pun menggantinya dengan perangkap dan jerat yang mematikan. Ternyata cara ini, juga tidak berhasil menjerat Yesus. Bahkan maut dan neraka pun, tidak mampu menaklukkan Tuhan Yesus.

Meskipun iblis sudah kalah dengan Tuhan Yesus, iblis merasa bahwa belum tentu ia juga akan kalah dengan manusia. Itulah sebabnya iblis mencoba menebar berbagai macam perangkap atau jerat untuk menjebak manusia dan iblis melakukannya pada saat yang tidak kita duga.

Iblis tahu, manusia tidak sekuat dan secerdik Tuhan Yesus. Oleh karena itu jerat atau perangkap pertama yang dilakukan oleh iblis adalah dengan memberikan pencobaan seperti yang ia lakukan pada Ayub. Berbagai penderitaan, kesengsaraan, kesesakan, sakit penyakit, iblis tebar untuk menjerat manusia, dengan harapan agar manusia berbalik menghujat Allah dan kemudian meninggalkan Allah. Ketika manusia telah jauh dari Allah, maka akan lebih mudah bagi iblis untuk menaklukkan manusia.

Meskipun ada beberapa manusia yang akhirnya juga terperangkap dan terjerat dengan cara seperti ini, tetapi iblis belum puas, karena sekarang manusia justru lebih berusaha mendekat kepada Allah saat mengalami kesesakan, kesulitan, penderitaan dan sakit penyakit. Oleh karena itu iblis menggunakan umpan yang lain, yaitu dengan menawarkan apa yang selalu diharapkan manusia, yaitu kenikmatan dan kesenangan duniawi.

Beberapa kenikmatan dan kesenangan duniawi yang saat ini banyak ditawarkan iblis untuk menjerat manusia antara lain :

  • Harta kekayaaan. Dengan kekayaan manusia bisa membeli apa yang mereka inginkan, sehingga mereka tidak butuh Allah lagi. Mereka menjauh dari Allah.
  • Kepandaian dan Tehnologi. Dengan kepandaian dan tehnologi,  manusia merasa tidak perlu lagi bertanya kepada Allah.
  • Kekuasaan. Dengan kedudukan dan kekuasaan yang dimiliki, manusia merasa sudah bisa mengatur dirinya dan orang lain, sehingga mereka merasa tidak butuh campur tangan Allah lagi
Terbukti, dengan umpat dan jerat ini iblis lebih mudah dan lebih berhasil menjauhkan manusia dari Allah, sehingga manusia jadi lebih mudah ditaklukan untuk menjadi budak iblis, budak dosa, dan kita tahu akibat dosa adalah maut.

Bersyukurlah, karena kasih Allah dan Tuhan Yesus kepada manusia, maka melalui Tuhan Yesus, Ia telah memperingatkan kita sebagaimana yang Ia sampaikan kepada Petrus. "Sadarlah, si iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya." (1 Petrus 5:8) Oleh karena itu sadarlah dan berjaga-jagalah, agar kita tidak masuk perangkap atau jerat iblis.

Berpautlah kepada Tuhan, Allah Sang Bapa kita, "Tuhanlah Penjagamu, Tuhanlah naunganmu di sebelah tangan kananmu." (Mazmur 121:5).

Amin

Indahnya Memberi - Indahnya Berbagi. Bahagianya Memberi

Seorang dosen yang dikenal bijaksana, tengah berjalan santai bersama seorang mahasiswa di taman kampus. Tidak lama keduanya melihat ada sepa...