Senin, 29 Juli 2019

Akulah Terang Dunia

BACAAN ALKITAB

Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia. (Yohanes 1:9)

PENGAJARAN

Yoh. 1:1-18 adalah nyanyian bagi Kristus. Dan setelah sebuah sisipan prosa di Ayat 6-8, nyanyian itu berlanjut sebagai berikut.  Di ayat 9 tertulis: “Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia.”

Terang yang dimaksud di atas, adalah Tuhan Yesus, yang datang untuk menerangi semua manusia. Hal ini memberikan pengetahuan, yang mendasari pekerjaan kelepasan Tuhan.

Injil Yohanes selalu mengkaitkan, "kedatangan ke dunia" dengan Logos (=Firman), yang telah menjadi manusia (daging) dalam  diri Yesus Kristus, dan dengan demikian telah masuk ke dalam sejarah manusia (6:14; 9:39; 11:27; 16:28; 18:37). Dari sini dapat dipahami bahwa semua manusia, dapat menemukan jalan masuk kepada Logos, yaitu kepada Yesus, dan mereka akan mendapat terang.

Penjelasan-penjelasan di atas diambil dari pernyataan-pernyataan kristologi di dalam Pengakuan Iman Nicea-Konstantinopel.

Ketika kita datang ke rumah Allah untuk mendengar firman Allah, Allah akan menyambut kita. Melalui Roh Kudus, Ia akan berkata kepadamu: "Engkau adalah anak-anak-Ku. Aku mengasihimu!", karena "...kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak-anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru, Ya, Abba, ya Bapa!" Roh itu bersaksi bersama-sama roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allh (Rm. 8:15-16).

Firman Allah yang disampaikan kepada kita, memiliki daya cipta yang sedemikian luar biasa. Jikakita menerimanya dengan penuh kepercayaan, firman tersebut akan memberi dampak yang menakjubkan bagi kita. Firman itu akan dapat menjadi terang bagi kita. Melalui firman Allah ini, umat Kristen yang awal, mengenali bahwa Yesus Kristus adalah “Terang dari terang, Allah yang benar dari Allah yang benar, diperanakkan, bukan dibuat” (KGKB 2.2.2/KGKB-PJ 35).

Terang versus kegelapan

Dalam Injil Yohanes, dijelaskan bahwa, terang merupakan gambaran untuk kehidupan dan iman kepada Yesus Kristus, sedangkan kegelapan menggambarkan tentang kematian dan ketidakpercayaan.

Sebenarnya, pergantian antara terang dan gelap merupakan peristiwa alamiah. Siang dan malam saling bergantian. Sejak adanya listrik, yang saat ini sudah menjangkau sebagian besar wilayah-wilayah dunia yang ada penduduknya, maka perbedaan antara terang dan gelap tidak lagi begitu terasa atau mencolok, dibandingkan ketika masa Tuhan Yesus hidup. Dahulu tidak ada kota-kota yang terang, saat malam hari. Rumah-rumah menggunakan serutan kayu pinus atau lampu minyak untuk mendapatkan sedikit penerangan, saat malam hari tiba. Di lingkungan seperti ini, terang dan gelap, nampak jelas saling bertentangan, dan perbedaannya sangat kontras dan tidak mungkin saling bersatu, seperti halnya ke-
hidupan dan kematian, yang tidak mungkin bersatu.

Yesus adalah terang yang sejati

Yesus Kristus mengatakan: “...Akulah terang dunia, barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup." (Yoh, 8:12). Dan ia akan dikeluarkan dari kegelapan rohani, sebab: “Aku telah datang ke dalam dunia sebagai terang, supaya setiap orang yang percaya kepada-Ku, jangan tinggal di dalam kegelapan” (Yoh. 12:46).

Ada sesuatu yang istimewa tentang Tuhan Yesus, sebagai terang, karena Tuhan Yesus, sebagai terang, Ia :
  • tidak diciptakan. Justru Dia-lah yang menciptakan segala sesuatu, karena “oleh-Nya segala sesuatu dijadikan” (KGKB 2.2.2/KBGK PJ 35), juga terang yang ditulis dalam sejarah penciptaan (Kej. 1:3).
  • tidak berubah: Pada Dia tidak terjadi pergantian terang dan gelap, seperti yang kita kenali dari siang dan malam; terang-Nya terus-menerus (Yak. 1:17).
  • tidak pernah habis: Di dalam Dia, terang itu akan terus bersinar di antara umat manusia. Ia terus bersinar hingga saat ini, dan juga akan menerang i ciptaan yang baru (Why. 22:5).
Yesus menerangi semua manusia
    Ketika kita telah menerima Terang dan Hidup itu, Yesus juga mengharapkan dari kita untuk membagikan iman kita kepada Sang Terang, yaitu Yesus, kepada orang lain, karena, hal ini sangat penting bagi kehidupan sesama manusia, yang lain.

    Apabila kita percaya kepada Yesus, maka Ia akan tinggal di dalam hatimu (Ef. 3:17) dan akan mengubah hidupmu. Ia ingin melakukan sesuatu bersamamu: Ia ingin menerangimu, sehingga:
    • Engkau dapat membedakan kebaikan dari kejahatan.
    • Engkau dapat mengalahkan kejahatan dengan kebaikan (Rm. 12:21).
    • Engkau dapat menyalakan terang bagi orang lain.
    Yesus adalah sosok yang aktif, dan Ia juga akan mengaktifkan kita. Dengan terang yang diberikan oleh-Nya, kita dapat bersumbangsih menjadi terang bagi orang lain, melalui sifat, sikap, perkataan dan perbuatan kit. Mari kita mengakui iman kita dalam kehidupan kita sehari-hari!

    Amin.

    Kamis, 25 Juli 2019

    Keanakan Di Dalam Allah

    BACAAN ALKITAB

    Saudara-saudaraku yang kekasih, sekarang kita adalah anak-anak Allah, tetapi belum nyata apa keadaan kita kelak; akan tetapi kita tahu, bahwa apabila Kristus menyatakan diri-Nya, kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya. (1 Yohanes 3:2)

    PENGAJARAN

    Yesus memperkenalkan Allah sebagai Bapa dari semua manusia. Hal ini menegaskan bahwa Allah
    • adalah Pencipta manusia (Mat. 19:4);
    • dekat dengan setiap manusia dan mereka dapat berpaling dan mengandalkan diri, kepada Allah Sang Bapa, bagaikan seorang anak kepada bapanya (Mat. 6:9).
    • sangat menaruh perhatian kepada anak-anak-Nya dan Ia tahu akan kebutuhan mereka dan Ia menyediakan bagi mereka, apa yang dibutuhkan (Mat. 6:8).
    Sebutan “keanakan di dalam Allah” menunjukkan, bahwa :
    • kita “terlahir” dari Allah, dan Ia telah memilih kita, agar kita menerima karunia Roh Kudus (Rm. 8:15);
    • Allah memberikan kehidupan kepada kita, di mana Ia menjadikan kita ciptaan baru di dalam Kristus (2 Kor. 5:17);
    • Allah Sang Bapa menjadikan kita sebagai ahli waris-Nya (Rm. 8:17), sehingga kita memiliki kesempatan untuk mewarisi hidup yang kekal. Sebuah harta yang tidak dapat diwarisi melalui pekerjaan atau pun jasa kita. Ini adalah suatu rahasia yang ada pada keanakan di dalam Allah
    Itu semua terjadi oleh karena kelahiran baru dengan air dan Roh yang telah kita terima. Dampak-dampak dari kelahiran kembali dari air dan Roh memang sebagian besar masih tetap tersembunyi. Berikut adalah beberapa hal yang telah dan akan kita alami, yang sampai saat ini belum dapat sepenuhnya kita pahami.
    • Pilihan ilahi yang jatuh pada diri kita. Ini hanya dapat dijangkau dan dipahami melalui iman. Kita tidak tahu, mengapa ia memilih kita, para pendosa, untuk mendapatkan belas kasihan dan kemurahan-Nya, sehingga kita disucikan dan dicadangkan untuk menerima kemuliaan kekal dan menjadi ahli waris kerajaan sorga.
    • Ciptaan yang baru sudah ada pada diri kita dan masih terus berkembang, meski kita masih terus terjerat di dalam dosa. Marilah kita memohonkan pertolongan dan belas kasihan dari Allah untuk memampukan kita menjauhkan diri dari dosa dan melawan kejahatan yang akan memisahkan kita dari Allah
    • Warisan ilahi masih tersedia bagi mereka yang tetap setia sampai akhir dan akan dapat diperkenankan masuk ke dalam hidup kekal.
    Pernyataan keanakan di dalam Allah

    Ketika tiba saatnya kedatangan Yesus kembali, maka segala sesuatu tentang rahasia keanakan di dalam Allah yang sebelumnya belum dapat kita pahami sepenuhnya, akan menjadi nyata. Mereka yang diterima oleh Tuhan akan menjadi serupa dengan Dia dan akan diberi tubuh kebangkitan, yaitu tubuh yang sama dengan tubuh yang dikenakan Yesus Kristus, saat Ia dipermuliakan ini (Flp. 3:21). Saat itulah kita tidak akan lagi tunduk pada kecenderungan untuk berbuat dosa. Mereka akan “melihat
    Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya”, yang berarti bahwa mereka akan berada dalam persekutuan yang kekal dengan Allah.

    Keanakan kita di dalam Allah saat ini

    Keanakan di dalam Allah bukanlah suatu upah atau sebuah jaminan keselamatan. Seseorang harus tetap berjuang untuk mendapat keselamatan, meskipun demikian, keanakan di dalam Allah ini sudah mempengaruhi dan menentukan kehidupan kita pada masa sekarang ini. Oleh karena itu, pada saat ini

    • Setelah menerima karunia Roh Kudus, kita dapat memanggil Allah, “ya Abba, ya Bapa” (Rm. 8:15). Hal ini membawa konsekuensi pada kita untuk memiliki ketaatan atau kemenurutan kepada Allah. Ketaatan kita terhadap kehendak Allah hendaklah merupakan ungkapan kasih kita kepada Allah (Yoh. 14:21).
    • Meskipun kita belum mencapai tujuan iman kepercayaan kita, tetapi marilah kita senantiasa mengarahkan diri kita sesuai dengan teladan Yesus, mencari persekutuan dengan-Nya, dan meninggalkan apa yang memisahkan kita dari-Nya.
    • Untuk dapat mewarisi hidup yang kekal, kita harus menderita bersama Kristus (Rm. 8:17). Sebagaimana Dia, kita tidak ingin menghakimi pendosa. Apabila kita juga dapat berbelas kasihan kepada para pendosa, maka kita akan mempermudah para pendosa untuk dapat memiliki jalan masuk kepada Allah.

    Kita sebagai anak-anak Allah ingin menyesuaikan diri dengan teladan Yesus, maka
    ciptaan yang baru dalam diri kita dapat ternyata.

    Rabu, 24 Juli 2019

    Melayani Sesama

    BACAAN ALKITAB

    "Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih." (Galatia  5:13.)

    Renungan 

    Ada sebuah kisah tentang kasih dan melayani, yang indah. Sayangnya tidak terjadi di gereja, tetapi di sebuah dept. store di Beverly Hills Amerika Serikat.

    Seorang Motivator sedang mencari dasi di sebuah toko yang mahal dan dia melihat seorang pengemis wanita yang dikenal dengan sebutan "Bag Lady" (karena segala harta bendanya hanya termuat dalam sebuah tas yang ia jinjing kemana-mana sambil mengemis) memasuki sebuah dept. store yang mewah sekali. Pengemis ini tanpa ragu-ragu memasuki toko ini. Bajunya kotor dan penuh lubang-lubang. Badannya mungkin sudah tidak mandi berminggu-minggu. Bau badan menyengat hidung.

    Pengemis ini dapat terus masuk ke bagian-bagian dalam toko itu. Tak ada petugas keamanan yang mencegat dan mengusirnya. Aneh ya?! Padahal, para pelanggan lain berlalu lalang di situ dengan setelan jas atau gaun yang mewah dan mahal.

    Rupanya pengemis itu mencari sesuatu dibagian 'Gaun Wanita;. Ia mendatangi counter paling eksklusif yang memajang gaun-gaun mahal bermerek dengan harga di atas puluhan juta. Baju-baju yang mahal dan mewah! Apa yang dikerjakan pengemis ini?

    Sang pelayan bertanya, "Apa yang dapat saya bantu bagi anda?"

    "Saya ingin mencoba gaun merah muda itu?"

    Kalau anda ada di posisi sang pelayan itu, bagaimana respon anda?

    Wah, kalau pengemis ini mencobanya tentu gaun-gaun mahal itu akan jadi kotor dan bau, dan pelanggan lain yang melihat mungkin akan jijik membeli baju-baju ini setelah dia pakai. Apalagi bau badan orang ini begitu menyengat, tentu akan merusak gaun-gaun itu. Tetapi mari kita dengarkan apa jawaban sang pelayan toko mewah itu.

    "Berapa ukuran yang anda perlukan?"

    "Tidak tahu!"

    "Baiklah, mari saya ukur dulu."

    Pelayan itu mengambil pita meteran, mendekati pengemis itu, mengukur bahu, pinggang, dan panjang badannya. Bau menusuk hidung terhirup ketika ia berdekatan dengan pengemis ini. Ia cuek saja. Ia layani pengemis ini seperti satu-satunya pelanggan terhormat yang mengunjungi counternya

    "OK, saya sudah dapatkan nomor yang pas untuk nyonya! Cobalah yang ini!"

    Ia memberikan gaun itu untuk dicoba di kamar pas.

    "Ah, yang ini kurang cocok untuk saya. Apakah saya boleh mencoba yang lain?"

    "Oh, tentu!"

    Kurang lebih dua jam pelayan ini menghabiskan waktunya untuk melayani sang "bag lady". Apakah pengemis ini akhirnya membeli salah satu gaun yang dicobanya? Tentu saja tidak! Gaun seharga puluhan juta rupiah itu jauh dari jangkauan kemampuan keuangannya.

    Pengemis itu kemudian berlalu begitu saja, tetapi dengan kepala tegak karena ia telah diperlakukan sebagai layaknya seorang manusia. Biasanya ia dipandang sebelah mata. Hari itu ada seorang pelayan toko yang melayaninya, yang menganggapnya seperti orang penting, yang mau mendengarkan permintaannya.

    Tetapi mengapa pelayan toko itu repot-repot melayaninya? Bukankah kedatangan pengemis itu membuang-buang waktu dan perlu biaya bagi toko itu? Toko itu harus mengirim gaun-gaun yang sudah dicoba itu ke Laundry, dicuci bersih agar kembali tampak indah dan tidak bau. Pertanyaan ini juga mengganggu sang hamba Tuhan yang memperhatikan apa yang terjadi di counter itu.

    Kemudian motivator ini bertanya kepada pelayan toko itu setelah ia selesai melayani tamu "istimewa"-nya.

    "Mengapa anda membiarkan pengemis itu mencoba gaun-gaun indah ini?"

    "Oh, saya adalah pelayan toko dan memang tugas saya adalah melayani dan berbuat baik!"

    "Tetapi, anda 'kan tahu bahwa pengemis itu tidak mungkin sanggup membeli gaun-gaun mahal ini?"

    "Maaf, soal itu bukan urusan saya. *Saya tidak dalam posisi untuk menilai atau menghakimi para pelanggan saya*. Tugas saya adalah untuk melayani dan berbuat baik."

    Motivator ini tersentak kaget.

    Di jaman yang penuh keduniawian ini ternyata masih ada orang-orang yang tugasnya adalah melayani dan berbuat baik, tanpa perlu menghakimi orang lain. sang motivator ini akhirnya memutuskan untuk membawakan materi hari berikutnya dengan thema "Service Excellent  Menurut Toko Serba Ada".

    Materi ini menyentuh banyak orang yang kebetulan adalah para Sales Manager , dan sepulang dari training mereka pada mencoba dan merasakan sendiri pelayanan yang diberikan oleh pelayan toko tadi. dan kemudian diberitakan di halaman-halaman surat kabar di kota itu. Berita itu menggugah banyak orang sehingga mereka juga ingin dilayani di toko yang eksklusif ini. Pengemis wanita itu tidak membeli apa-apa, tidak memberi keuntungan apa-apa, tetapi akibat perlakuan istimewa toko itu kepadanya, hasil penjualan toko itu meningkat drastis, sehingga pada bulan itu keuntungan naik 48 %!

    Jauhkan sifat menghakimi ketika kita melayani saudara-saudari kita…. Dia sangat jahat, dia tidak berguna di gereja, dia selalu curang… dia orang yang berdosa……

    tetapi ketika sedang melayani berarti kita sedang membantu menyiapkan apa-apa yang diperlukan tanpa melihat latar belakang atau perbuatan seseorang. Berikan pelayanan yang terbaik (service excellent). Dan orang yang kita layani mungkin tidak bisa memberikan "keuntungan" kepada kita, tetapi secara rohani kita akan bertumbuh dan berbuah berlipat lipat, suatu keuntungan yang akan di petik oleh Allah sendiri

    Dan sebagian jatuh di tanah yang baik lalu berbuah: ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat. (Matius 13:8)
    GBU

    :\noeng

    Sabar Menantikan Kedatangan Tuhan

    BACAAN ALKITAB

    Karena itu, saudara-saudara, bersabarlah sampai kepada kedatangan Tuhan!
    Sesungguhnya petani menantikan hasil yang berharga dari tanahnya dan ia sabar sampai telah turun hujan musim gugur dan hujan musim semi. Kamu juga harus bersabar dan harus meneguhkan hatimu, karena kedatangan Tuhan sudah dekat!
    (Yakobus 5:7,8)

    PENGAJARAN

    Suatu ketika Yesus menyatakan "Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada,kamupun berada." (Yohanes 14:2-3)

    Pernyataan Tuhan Yesus ini sudah dinyatakan lebih dari 2000 tahin yang lalu. Tapi sampai saat ini, apa yang dijanjikan oleh Tuhan Yesus belum juga digenapi. Dengan begitu lamanya waktu berlalu, bisa saja kerinduan dan iman akan kedatangan Tuhan Yesus akan jadi memudar atau luntur. Hal ini tentulah tidak boleh terjadi. Sangat dibutuhkan kesabaran untuk menantikan kedatangan Tuhan kembali.

    Untuk menjelaskan kesabaran yang diperlukan, dalam menantikan kedatangan Tuhan kembali, Yakobus menggunakan suatu contoh dari kehidupan sehari-hari pembaca, waktu itu. Rasul Yakobus menggunakan gambaran seorang petani yang dengan sabar menantikan hujan dan saat untuk menuai panenan, sebagai contoh untuk menunjukkan bagaimana kita hendaknya menantikan kedatangan Tuhan kembali. Petani itu harus sabar menantikannya. Itu tidak dapat memaksa agar hujan dapat turun sesuai dengan keinginannya. Satu-satunya yang dapat ia lakukan adalah tetap berharap dan sabar menunggu. Pengalaman mengajarkan bahwa suatu saat, hujan tersebut pasti akan turun, meski  si petani tersebut, tidak tahu, kapan hal itu akan terjadi.

    Pesan yang ingin disampaikan melalui surat Yakobus ini adalah untuk memberikan penghiburan, semangat serta seruan untuk tetap bersabar dan memiliki pengharapan yang tak terpatahkan dalam menantikan kedatangan Kristus kembali. 

    Di gereja, saudara dan saudari, hendaknya diberi semangat untuk memiliki dan mencontoh kesabaran yang sama. Seruan untuk kesabaran ini, diiringi dengan suatu nasihat, agar kita tetap dapat berdiri dengan teguh. Para percayawan hendaknya tetap teguh di dalam pencobaan, atau saat keraguan itu timbul (Yak. 1:2-4, 5-8,12) atau ketika ia menderita atau sedang sakit (Yak. 5:10,11,13-18).Surat itu juga menyerukan kepada para pengikut Kristus untuk mempertahankan iman mereka, agar kerinduan dan pengharapan akan kedatangan-Nya kembali tetap hidup dan tidak berputus asa.

    Selama masa penantian ini, persiapan dalam menyongsong kedatangan Kristus kembali, mengharuskan kita untuk terus-menerus menyibukkan diri dengan pasal kepercayaan kesembilan: “Saya percaya bahwa Tuhan Yesus pasti akan datang kembali sebagaimana Ia telah naik ke Surga dan Ia akan membawa kepada-Nya anak-anak sulung dari orang-orang mati dan hidup, yang menantikan dan dipersiapkan untuk kedatangan-Nya kembali...”

    Bersabar

    Kita tidak tahu kapan Tuhan Yesus akan datang kembali. "Sebab itu hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia, datang pada saat yang tidak kamu duga." (Mat. 24:44), Karena rancangan-Nya bukanlah rancangan kita (Yes. 55:8). 

    Di Palestina, hujan musim gugur biasanya jatuh setelah musim panas. Pada saat itu, para petani mengolah dan mempersiapkan tanahnya untuk masa penaburan. Sedangkan hujan musim semi, diperlukan agar tanaman dapat terus bertumbuh dengan baik dan subur, serta buah-buah yang dihasilkan menjadi matang. Para petani harus bersabar menantikan saat hujan itu tiba, karena mereka tidak bisa mengendalikan dan memiliki kuasa terhadap alam atau hujan atau perkembangan benih-benih yang ditaburnya hingga panen.

    Berkaca dari gambaran di atas, agar kita dapat memperoleh hasil yang berharga, maka pertumbuhan dan proses untuk menjadi matang itu, juga berlaku bagi diri kita. Meski kita tidak tahu, kapan hal itu akan terjadi, tapi kita menemukan suatu penghiburan karena kita tahu dan percaya bahwa kedatangan-Nya kembali sudah dekat dan Allah akan menyelesaikan pekerjaan baik yang telah Ia mulai pada diri kita (Flp. 1:6). Oleh karena itu, sangatlah dibutuhkan kesabaran untuk menantikan kedatangan Tuhan dan mengisi saat penantian ini dengan aktivitas yang mendukung pertumbuhan diri kita, untuk mengarah kepada suatu kematangan. Sekali lagi, dibutuhkan kesabaran

    Teguhkanlah hatimu

    Seandainya, oleh karena sesuatu sebab, petani itu menjadi tidak sabar, ia pun tidak bisa memaksakan proses pematangan. Dalam kehidupan sehari-hari, kadang-kadang kita sendiri mungkin kehilangan kesabaran terhadap diri kita sendiri, keluarga atau sidang jemaat, atau terhadap berbagai peristiwa dan persoalan dalam hidup kita. Meskipun demikian, kita ingin meneguhkan hati kita dan tetap berdiri teguh, terutama diwaktu-waktu:
    • ujian dan pencobaan – Rasul Yakobus bahkan menasihati untuk menganggap pencobaan sebagai “kebahagiaan”, karena ujian terhadap iman kita, akan menghasilkan ketekunan (Yak. 1:2-4).
    • keraguan – Selama masa penantian ini, keraguan dalam diri kita dapat saja timbul, bahkan bisa jadi berkaitan tentang, "apakah Tuhan benar-benar akan datang kembali? Dalam situasi seperti itu, mari kita sejenak menengok ke belakang dan mengingat apa yang sudah Tuhan lakukan bagi kita di masa lalu. Dari situ kita akan senantiasa mengingat kesetiaan Allah.
    • penderitaan – Bahkan ketika kesakitan dan penderitaan yang kita alami mencapai batas ketahanan kita, mari kita ingin mengingat kembali bahwa Kristus sendiri juga telah menderita bagi kita dan menderita bersama kita.
    Semoga, di dalam persekutuan Roh Kudus yang menghibur dan oleh pengetahuan bahwa kedatangan Tuhan kembali sudah dekat, hati dan penantian serta kesabaran kita,  diteguhkan.

    Amin

    Senin, 22 Juli 2019

    Pembangunan Bait Allah

    BACAAN ALKITAB

    “Camkanlah sekarang, sebab TUHAN telah memilih engkau untuk mendirikan sebuah rumah menjadi tempat kudus. Kuatkanlah hatimu dan lakukanlah itu.”
    1 Tawarikh 28:10

    PENGAJARAN

    Raja Daud menjelaskan kepada Salomo, putra dan penerusnya, bahwa ia telah dipilih oleh Allah untuk membangun Bait Suci. Meski keinginan untuk membangun bait suci itu berasal dari raja Daud, tetapi Allah telah menyatakan mepada raja Daud, bahwa bukan dia-lah yang akan membangun bait suci bagi Allah tersebut, melainkan anaknya, yaitu Salomo. (1 Tawarikh 28:3). Meskipun ditolak oleh Allah, tetapi raja Daud tetap berusaha memberikan yang terbaik untuk Allah. Ia menyiapkan segala sesuatu untuk pembangunan bagi rumah Allah dengan sedemikan baiknya. Ia tidak sayang untuk mempersembahkan apa yang dimilikinya dari Allah, untuk dipersembahkan kembali kepada Allah. Emas, perak, tembag dan besi dan berbagai kayu yang mahal disiapkan oleh raja Daud bagi pembangunan rumah bagi Allah tersebut.

    Demikian juga halnya dengan kita, Allah telah memilih dan mempercayakan sebuah tugas yang demikian agung kepada kita, yaitu pembangunan bait Allah. Karunia pilihan ini bukan didasarkan dari jasa-jasa maupun kemampuan kita, melwinkan murni karena katunia Allah dan itu tidak dapat dijelaskan dengan akal. Marilah kita memegang teguh karunia pilihan ini dan ingin menuruti panggilan Allah. Dan bait Allah yang kita bangun, tidak lain adalah diri kita masing-masing. "Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu? Jika ada orang yang membinasakan bait Allah, maka Allah akan membinasakan dia. Sebab bait Allah adalah kudus dan bait Allah itu ialah kamu." (1 Kor. 3:16-17).

    Pembangunan bait Allah pada diri kita, dimulai saat kita menerima kelahiran baru dengan air dan Roh. Sebagaimana raja Daud yang telah berkenan menyiapkan dan memberikan persembahan emas, perak, tembaga dan yang lainnya untuk membuat bait Allah yang megah dan indah, demikian juga halnya dengan kita, marilah kita menghias bait Allah yang sedang kita bangun dalam diri kita dengan emas kebenaran dan perak kasih yang telah diberikan Allah kepada kita, melalui firman-firman Allah, perkataan dan perbuatan kita.

    Bait Allah

    Setelah Allah memilih dan mempercayakan kepada kita suatu tugas untuk pembangunan sebuah bait Allah melalui Baptisan suci dengan air dan Roh, marilah kita berusaha sekuat tenaga, agar pembangunan bait Allah, yaitu kehidupan Ilahi, dalam diri kita masing-masing, dapat berkembang dengan baik. Dengan berkembangnya pembangunan bait Allah ini, akan menjadikan bait Allah sebagai tempat persekutuan untuk menyembah dan memuliakan Allah (Mazmur 106:47), serta tempat untuk saling membantu dan mendukung dalam upaya mempersiapkan diri bagi kedatangan Tuhan kembali. Dalam persekutuan ini, mereka juga saling memberikan sumbangsih kepada gereja di dalam segala hal, termasuk materi, dan secara bersama-sama memberitakan Injil untuk menuntun orang-orang kepada Kristus.

    Sebagaimana bangunan lainnya, agar bait Allah yang telah dibangun ini dapat tetap berdiri dengan kokoh, maka ke empat soko gurunya juga harus kokoh. Keempat soko guru itu adalah Iman, Pengharapan, Kasih dan Kemenurutan. Jika salah satu dari tiang sokoguru ini rapuh, maka bangunan bait Allah ini akan dapat roboh

    Firman Allah dan sakramen

    Dari bacaan Alkitab di atas, raja Daud telah memperingatkan Solomo, bahwa pembangunan bait Allah ini, tidaklah mudah dan membutuhkan waktu yang lama. Itulah sebabnya raja Daud menasihatkan, "Kuatkanlah hatimu dan lakukanlah itu.” Demikian juga halnya dengan pembangunan bait Allah pada diri kita masing-masing. Pembangunan ini tidaklah mudah dan kita tidak tahu kapan bangunan bait Allah ini akan selesai, karena Tuhan Yesus-lah yang menentukan dan waktunya hanya Allah yang tahu. Meskipun demikian, Allah tidak membiarkan kita sendiri dalam melakukan pembangunan bait Allah ini. Melalui Roh Kudus, Allah menyediakan tenaga yang kita perlukan untuk dapat memenuhi tugas kita dengan sukacita. Tenaga ini dapat diperoleh dengan:
    • mendengarkan dan meraih firman Allah dan menerima Perjamuan Kudus
    • merenungkan dan membiarkan firman serta Perjamuan kudus, yang telah kita terima, bekerja di dalam diri kita, sehingga kita akan menyadari betapa penting makna firman dan sakramen Perjamuan Kudus, bagi kita;
    • melalui doa-doa yang kita panjatkan dan doa-doa dari Roh Kudus. Doa-doa yang dikabulkan, akan memberikan pengalaman kepercayaan yang menguatkan iman kita. Demikian juga dengan doa-doa yang dilakukan oleh Roh Kudus, karena apa yang dimohonkan oleh Roh Kudus untuk kita, senantiasa selaras dengan kehendak Yesus Kristus, doa itu akan dikabulkan. Jadi tidak hanya kita yang berdoa untuk diri kita, tetapi Roh Kudus juga berdoa untuk kita. 
    Marilah kita membangun “bait”!,

    Dengan tenaga yang timbul melalui firman, sakramen Perjamuan Kudus, doa-doa kita dan doa dari Roh Kudus, kita akan dikuatkan, sehingga kita dapat bertindak dan membangun bait, yang sedemikian indah seperti yang dilakukan Daud dan Salomo yang menghias dengan emas, perak, tembaga dan besi. Marilah kita juga hendaknya dapat menghias bangunan bait Allah pada diri kita masing-masing dengan emas kebenaran dan perak kasih yang berasal dari firman Allah. Itulah wujud dari bagaimana kita menilaikan Allah, penghormatan kepada Allah dan penghargaan kita kepada Allah, sehingga nama-Nya dapat senantiasa di peragungkan dan dipermuliakan.

    Saat pembangunan bait Allah, janganlah ada sesuatu apa pun yang akan merusak apa yang sedang kita bangun. Jika hal ini sampai terjadi, bukan saja bait Allah yang tidak lain adalah diri kita, yang akan rusak atau roboh, tetapi tidak menutup kemungkinan, juga akan merusak bait-bait Allah lainnya. Jika hal ini terjadi, tentu bisa saja kita akan menjadi batu sandungan bagi yang lain, bahkan tidak menutup kemungkinan kita akan dicongkel oleh Allah, agar tidak mengganggu pembangunan bait Allah lainnya, sebagai bagian dari keseluruhan Gereja Kristus.

    Oleh karena itu marilah kita :
    • Senantiasa menekankan kasih Allah  kepada diri kita dan sesama pendosa. Janganlah kita gemar membicarakan tentang kebaikan yang kita lakukan atau tentang ketidakbaikan yang dilakukan pendosa.
    • Fokus pada prioritas tugas-tugas gereja, termasuk di dalamnya untuk menyalurkan karunia-karunia keselamatan. Pada dasarnya, sidang jemaat berkumpul untuk menerima keselamatan. Aspek-aspek lain dari kehidupan sidang jemaat tidak boleh menjadi lebih penting daripada persiapan akan kedatangan Kristus kembali! Termasuk dalam tugas kita adalah memberi semangat kepada saudara-saudari sekepercayaan dan untuk mengasihi mereka.
    • memiliki keinginan untuk mengakui iman kita di dalam perkataan dan perbuatan dan dengan demikian memberikan gambaran positif tentang Gereja Kristus
    • berlomba untuk mempersembahkan dan memberikan sumbangsih kita, karena hal itu pentingg untuk aktivitas fungsi Gereja kita.
    Semoga kita akan benar-benar menjadi bait Allah sesuai dengan apa yang menjadi kehendak Allah, sehingga Ia berkenan untuk tinggal di dalam hati kita dan hati sesama kita, sebagai bagian dari Gereja Kristus.

    Amin

    Minggu, 21 Juli 2019

    Seandainya bus ini aku cemplungin

    SEANDAINYA SAJA BIS INI AKU CEMPLUNGIN KE JURANG:
    ====≠===========≠=========≠============

    Seorang sopir bus yang beragama Nasrani,  suatu hari diminta perusahaannya untuk mengantar rombongan mahasiswa berziarah

    Di tengah jalan seorang mahasiswa menyodorkan kaset VCD untuk diputar di dalam bus.
    Sopir tadi meng-iya kan.

    Video pun diputar dan ternyata isinya mengolok-olok Yesus yang katanya matinya di salib dengan tangan terbentang dan hampir tanpa penutup tubuh.
    Apa nggak kedinganan, ya....?? Olok seorang mahasiswa.

    Seluruh penumpang tertawa dan ikut mengolok-olok

    Si sopir hatinya panas.... Meski si sopir ini tetap diam dengan memendam rasa amarah, tetapi sempat terlintas dalam pikirannya...... seandainya saja bus ini aku cemplungin ke jurang, semua penumpang yang mengolok-olok itu pasti mati..

    Tapi tiba-tiba Roh Kudus seperti mengingatkan dia tentang perkataan Yesus di atas salib.....Bapa ampunilah mereka sebab mrk tdk tahu apa yg mereka perbuat.... si sopir pun tersenyum...

    Pada saat makan siang, mereka berhenti di pinggir jalan dan membagikan nasi kotak ke masing-masing peserta, termasuk si sopir.

    Spontan si sopir membuat menundukkan kepala dan berdoa...lalu makan.
    Kontan suasana jadi hening...mahasiswa itu saling berpandangan dan berbisik....supirnya Nasrani...

    Sesudah acara ziarah selesai ketua rombongan mendekati sang sopir untuk memberikan tip sambil bertanya...bapak nasrani??...iya...jawab si sopir.
    Maaf pak, apakah bapak tidak marah dengan tayangan video  tadi??...Soalnya kami akan marah besar ketika nabi dan agama kami dihina...

    Sang supir tersenyum dan berkata...yang kalian olok-olok itu Tuhanku..nama-Nya TUHAN YESUS , dan Dia, ketika dihina di atas salib, Ia berkata..ampunilah mereka sebab mereka tidak tahu apa yg mereka perbuat....(Lukas 23:34)

    Sebuah kesempatan yang baik untuk mewartakan Injik...masukilah medan pertempuranmu dengan kasih...
    Jawablah pertanyaan mereka dengan cinta...
    Sorga tidak butuh Front Pembela Yesus...
    Justru kitalah yang sering dibela olehNya, jadilah terang Kristus🙏🙏🙏
    (ini sebuah renungan yang bagus yang saya dapat🙂)....Amin,!!
    (Bagikanlah, untuk jadi berkat)

    Pelayanan yang menumbuhkan kerinduan akan Kedatangan Tuhan

    BACAAN ALKITAB

    Ketika mereka mendengar hal itu hati mereka sangat terharu, lalu mereka bertanya kepada Petrus dan rasul-rasul yang lain: "Apakah yang harus kami perbuat, saudara-saudara?" Jawab Petrus kepada mereka: "Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus. Sebab bagi kamulah janji itu dan bagi anak-anakmu dan bagi orang yang masih jauh, yaitu sebanyak yang akan dipanggil oleh Tuhan Allah kita." Dan dengan banyak perkataan lain lagi ia memberi suatu kesaksian yang sungguh-sungguh dan ia mengecam dan menasihati mereka, katanya: "Berilah dirimu diselamatkan dari angkatan yang jahat ini. (Kisah Rasul-rasul 2:37-40)

    PENGAJARAN

    Pada hari Pentakosta, setelah peristiwa dicurahkannya Roh Kudus kepada murid-murid Tuhan, yang kemudian menjadi Rasul-rasul-Nya, mereka kemudian mulai berkhotbah. Khotbah yang disampaikan oleh para Rasul waktu itu memberikan dampak atau respon yang berbeda-beda pada orang-orang yang mendengarnya. Ada yang tercengang-cengang, tapi ada juga yang menyindir.
    "Mereka semuanya tercengang-cengang dan sangat termangu-mangu sambil berkata seorang kepada yang lain: "Apakah artinya ini?" Tetapi orang lain menyindir: "Mereka sedang mabuk oleh anggur manis."(Kisah Rasul-rasul 2:12-13).

    Kemudian, tampillah Petrus menyampaikan khotbahnya. Ketika mereka mendengar Rasul Petrus berkhotbah, hati mereka sangat terharu, lalu mereka bertanya kepada Petrus dan rasul-rasul yang lain: "Apakah yang harus kami perbuat, saudara-saudara?" Jawab Petrus kepada mereka: "Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan
    dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus. Sebab bagi kamulah janji itu dan bagi anak-anakmu dan bagi orang yang masih jauh, yaitu sebanyak yang akan dipanggil oleh Tuhan Allah kita." Dan dengan banyak perkataan lain lagi ia memberi suatu kesaksian yang sungguh-sungguh dan ia mengecam dan menasihati mereka, katanya: "Berilah dirimu diselamatkan dari angkatan yang jahat ini." (Kisah Rasul-rasul 2:37-40)

    Mereka pun memberi diri mereka dibaptis dan segera berdirilah sidang jemaat yang pertama di Yerusalem, di mana orang-orang berusaha untuk melayani Tuhan dan melayani sesama dengan ketekunan.

    Dari pelayanan dan khotbah para Rasul yang awal  kita dapat belajar, bagaimana para Rasul mengajar dan dan melayani. Contoh yang dapat kita teladani dari pelayanan para Rasul waktu itu adalah.
    • Mereka tidak  ingin menguasai atau menjadi penguasa atas orang-orang percaya, Mereka mjustru melayani dengan penuh kasih, sebagai saudara-saudara yang mengasihi, 
    • Mereka adalah orang-orang pemberani dalam bersaksi dan memberitakan Injil Kristus
    • Mereka melayani sidang jemaat tanpa memperhatikan kesejahteraan mereka sendiri.
    • Mereka ikut ambil bagian dalam kesusahan orang-orang Kristen awal 
    • Bahkan mereka tidak menyayangkan nyawanya sendiri.
    Dampak khotbah

    Setelah kematian para Rasul yang pertama, banyak dari para percayawan yang juga menyebar-luaskan  dan mengkhotbahkan Injil Kristus. Dampaknya adalah munculnya sidang-sidang jemaat yang baru dan berbagi pelayanan rohani dalam jumlah yang cukup besar, yang dilaksanakan di dalam gereja Kristus. Demikianlah berita tentang Kristus, sebagai Putra Allah yang telah mati, bangkit, naik ke surga terus bertumbuh di sepanjang abad-abad yang lampau dan meluas ke seluruh dunia. Sayangnya penantian akan Tuhan, yang akan datang kembali, justru memudar ke latar belakang.

    Pelayanan para Rasul saat ini.

    Dengan memudarnya pengharapan akan kedatangan Tuhan dan semakin berkembangnya pekerjaan keselamatan Allah, maka sejak pertengahan abad ke-19 hingga sekarang, para Rasul Tuhan kembali bekerja sesuai kehendak Allah. Mereka memberitakan Injil yang murni, menjunjung tinggi dan menumbuhkan kembali pengharapan akan kedatangan Kristus kembali ke dalam hati sidang jemaat.

    Para Rasul yang aktif pada masa sekarang terus berusaha melakukan pelayanan mereka di dalam gereja Kristus dengan cara yang sama seperti para Rasul yang awal (KGKB-PJ 453):


    • Yesus Kristus adalah Pengutus dan teladan mereka, sehingga para Rasul juga harus bekerja menurut kehendak-Nya dan hendaknya bergantung secara penuh kepada-Nya.
    • seperti Kristus, para Rasul adalah juga pelayan bagi semua dan ingin menjadi pekerja untuk sukacita orang-orang percaya (2 Kor. 1:24).
    • para Rasul dan sidang jemaat secara bersama-sama menanggung kesusahan-kesusahan yang sesuai dengan keadaan zaman.
    Pelayanan gereja

    Demikianlah para Rasul terikat erat dengan sidang jemaat. Pada masa ini, jika khotbah mereka dapat menyentuh hati sidang jemaat Tuhan, hal itu akan menimbulkan kesiapsediaan para rasul untuk melayani, seperti 
    • dalam kebaktian-kebaktian di seluruh dunia, sesuai dengan tujuan gereja Kristus, yaitu untuk menyembah, memuji dan memuliakan Allah Tritunggal (KGKB-PJ 370).
    • dalam sidang jemaat-sidang jemaat dan bahkan di tempat-tempat lain, dimana banyak kebaikan, dikerjakan, baik untuk kebaikan sesama maupun untuk kepujian dan kemuliaan nama Allah (Kol. 3:16,17).
    • di dalam kehidupan sehari-hari, orang-orang percaya menaruhkan suatu pengakuan pada Kristus di dalam perkataan dan perbuatan dan memberitakan perbuatan-perbuatan baik-Nya.
    Semua pelayanan ini adalah tanda-tanda bahwa kedatangan Kristus kembali dinantikan dengan penuh kerinduan di dalam gereja-Nya.

    Kamis, 18 Juli 2019

    Kenaikan Tuhan Yesus ke Sorga I

    BACAAN ALKITAB


    “Dan Aku, apabila Aku ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua orang
    datang kepada-Ku” (Yoh. 12:32).

    PENGAJARAN

    Tuhan Yesus, Sang Putra Allah, telah mendapatkan tugas dari Allah Sang Bapa untuk turun ke bumi, menjadi manusia dan pada akhirnya harus mati pada kayu salib. Ia kemudian bangkit dari kematiannya dan naik ke sorga.

    Setelah Yesus turun ke bumi dan memenuhi kehendak Sang Bapa, menjadi juruselamat bagi manusia, maka untuk dapat pulang kembali ke rumah Sang Bapa di sorga dan masuk ke dalam kemuliaan ilahi, maka Yesus harus:
    • mempersembahkan korban, menderita, diangkat dan ditinggikan dari bumi untuk disalibkan di atas kayu salib sampai pada akhirnya harus mati pada kayu salib, dimana sesuai yang diberitakan para nabi, akan bangkit pada hari ketiga. Kebangkitan Yesus dari kematian-Nya menunjukkan kemenangan dan kuasa atas maut, neraka dan kejahatan, sehingga tergenapkanlah perkataan Tuhan, "Hai maut dimanakah kemenanganmu? Hai maut dimanakah sengatmu? (1 Kor. 15:5)
    • menempatkan kehendak-Nya sendiri di bawah kehendak Bapa, untuk memenuhi tugas yang telah dipercayakan Bapa kepada-Nya.
    Kebangkitan dan kemenangan Yesus atas maut, neraka dan kejahatan, menjadi jalan bagi para pendosa untuk memperoleh keselamatan dan persekutuan kembali dengan Allah sang Bapa. Jasa korban Yesus di atas kayu salib, memiliki kuasa dan daya tarik yang sedemikian besar untuk membawa manusia, kembali memiliki persekutuan dengan Allah dan Kristus serta keselamatan kekal. “Dan Aku, apabila Aku ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua orang datang kepada-Ku” (Yoh. 12:32).

    Tuhan Yesus melakukan semua ini untuk membuktikan kasih-Nya, baik kepada manusia, sebagai pendosa, dan kepada Bapa-Nya (Yoh. 13:1). Dengan kenaikan-Nya ke surga, Yesus Kristus masuk ke dalam kemuliaan yang kekal, pada Bapa, sebagai Yang Sulung di antara banyak saudara (Rm. 8:29): Ia adalah yang pertama, yang dengan tubuh kebangkitanNya, masuk ke dalam kemuliaan Allah, dimana Ia akan datang kembali untuk menjemput para milik-Nya, agar mereka berada di tempat dimana Ia berada dan melihat kemuliaan-Nya (Yoh. 14:3, 17:24).

    Untuk meraih dan memperoleh keselamatan ini, manusia harus datang dan memandang kepada Kristus, yang telah ditinggikan pada kayu salib dan yang telah dimuliakan oleh karena kemenangan-Nya. Dalam percakapan-Nya dengan Nikodemus, Yesus menganalogkan hubungan antara peninggian diri-Nya pada kayu salib dengan kenaikan-Nya ke surga " Dan seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya  beroleh hidup yang kekal." (Yoh. 3:14-15).

    Pada kitab Bilangan 21:8-9 dituliskan, "Maka berfirmanlah Tuhan kepada Musa: "Buatlah ular tedung dan taruhlah itu pada sebuah tiang; maka setiap orang yang terpagut, jika ia melihatnya, akan tetap hidup. Lalu Musa membuat ular tembaga dan menaruhnya pada sebuah tiang, maka jika seseorang dipagut ular, dan ia memandang kepada ular tembaga itu, tetaplah ia hidup."

    Dengan datang dan memandang kepada Yesus, yang telah ditinggikan, manusia yang telah terpagut oleh dosa dan terancam akan mengalami kematian, yaitu terpisah dari Allah, memiliki kesempatan untuk dapat terselamatkan dan tetap memiliki hidup. Hal ini dapat dialami oleh seorang pendosa, jika ia memiliki iman kepada Kristus (Yoh. 3:15), bahwa Ia telah benar-benar telah mati untuk kita, bangkit dan naik ke surga, serta percaya bahwa pengajaran-Nya adalah kebenaran (Yoh. 14:6). Jika seorang pendosa memiliki iman yang sedemikian kepada Yesus, maka nanti pada saat kedatangan-Nya kembali ke muka bumi, ia dapat dijemput dan ditarik oleh Yesus kepada-Nya.

    Meskipun dengan memandang kepada Yesus kita akan tetap hidup, meski kita telah dipagut oleh sengat dosa, tetapi marilah kita tetap berwaspada dan berjaga-jaga agar jangan sampai kita terpagut oleh sengat dosa lagi. Hal ini dapat kita lakukan jika kita dapat senantiasa meneladani hidup Tuhan Yesus, menyesuaikan hidup kita dengan apa yang diajarkan Tuhan Yesus, melawan dosa dan menempatkan hidup kita dalam pelayanan Kristus. (Yoh. 12:26).

    Pelayanan dalam Kristus dapat kita lakukan dengan cara:  
    • menjadi saksi kebangkitan Yesus Kristus.
    • mengasihi Allah dan sesama dengan segenap hati! Biarlah Kasih ini menjadikan keinginan hati kita, terus berkobar-kobar untuk berada bersama Kristus. Kita ingin agar sesama kita juga dapat diselamatkan, sebagai wujud kasih kita kepada sesama, meskipun sesama kita mungkin tidak menunjukkan kasih yang sama kepada kita.

    Kepala dan anggota-anggota tubuh Kristus

    Ketika naik ke surga, Yesus ditutupi oleh awan. Di dalam beberapa bagian Alkitab, awan seringkali bermakna tanda kehadiran dan aktivitas Allah (Luk. 9:34). Pada kedatangan-Nya kembali, Yesus akan membawa milik-Nya, di mana mereka akan diangkat ke dalam awan. "Sesudah itu, kita yang hidup, yang masih tinggal, akan diangkat bersama-sama dengan mereka dalam awan, menyongsong Tuhan di angkasa (1 Tes. 4:17). Campur tangan ilahi dalam sejarah ini hanya dapat dijangkau oleh iman.

    Kedatangan Yesus adalah untuk menjemput umat milik-Nya, sidang jemaat perempuan Tuhan Yesus. Dalam kitab Perjanjian Baru, untuk menggambarkan umat milik Tuhan, sidang jemaat atau gereja-Nya, digunakan gambaran tubuh Kristus, dimana Yesus adalah kepalanya (1 Kol. 1:18), dan orang-orang percaya, umat milik-Nya, adalah anggota tubuh Kristus. Saati ini, Yesus sebagai Sang Kepala, sudah ada di dalam kemuliaan Allah, sedangkan gereja-Nya, masih ada di bumi. Dan ketika Yesus datang untuk kedua kalinya, Ia akan menarik umat-Nya. Dan agar dapat ditarik oleh Yesus, umat milik-Nya harus

    • bertekun dan memiliki keinginan untuk dipersekutukan, 
    • mau untuk dibentuk dan tumbuh ke arah Kristus, yang adalah Kepala (Ef. 4:15-16)
    • bertumbuh dalam kasih, 
    • mampu mengalahkan semua hal yang akan memisahkan kita, 
    • saling menasihati dan membangun (1 Tes. 5:11)
    Dengan berusaha melakukan semua itu, kita boleh memiliki pengaharapan, bahwa Tuhan akan menarik dan menjemput kita.


    Amin

    Link : www.klikjalankeselamatan.blogspot.com
    DONASI : BCA : 113 065 7182


    Selasa, 16 Juli 2019

    Adiafora

    Adiafora adalah suatu istilah etika, untuk menyebut suatu upacara atau ritual yang biasanya diadakan oleh orang-orang Kristen, meski sebenarnya dalam Alkitab tidak ada perintah untuk mengadakan upacara ini, tapi dalam Alkitab juga tidak ada larangan untuk mengadakan upacara ini. Upacara ini juga bukan suatu upacara penyembahan kepada Allah. Contoh : Ritual Jalan Salib.
    Jika ada suatu denominasi atau gereja mau mengadakan upacara Adiafora ini, mereka berhak untuk mengubah cara atau isi dari upacara tersebut. Beberapa aliran gereja Protestan, tegas menolak atau melarang diadakannya upacara Adiafora ini, karena memang tidak ada perintah dalam Alkitab untuk mengadakan upacara ini, sedangkan aliran gereja Anglikan mengkaitkan upacara Adiafora ini dengan tradisi yang ada dalam masyarakat.

    Filsafat Mazhab Stoikia

    Jauh sebelumnya, istilah Adiafora memiliki makna yang berbeda. Selain pengertian di atas, Adiafora merupakan istilah filsafat dari mazhab Stoika, yang menunjukkan sikap atau pandangan hidup yang acuh tak acuh terhadap segala sesuatu yang terjadi di dunia. Adiafora didirikan oleh Zeno dari Kitton pada masa Sebelum Masehi di Athena, Yunani.

    Mashab Stoika beranggapan bahwa jagat raya ditentukan oleh suatu kuasa yang disebut Logos (rasio). Semua kejadian berlangsung menurut ketetapan yang tidak dapat terelakkan. Jiwa manusia mengambil bagian dalam logos itu, sehingga mampu mengenal tertib universal dalam jagat raya ini. Manusia akan hidup bahagia dan bijaksana, kalau mereka hidup menurut rasionya dan mampu mnegendalikan nafsunya serta takluk pada hukum-hukum alam.

    Penganut filsafat stoikia ini tidak memperdulikan kematian, penderitaan atau malapetaka lain, karena mereka sadar bahwa semua itu terjadi oleh karena keharusan mutlak. Sikap inilah yang menyebabkan mereka seolah-olah acuh tak acuh. Stoisisme, banyak mendapat pengikut saat masa kerajaan Romawi. Pengikut faham Stoikia yang terkenal adalah Zeneca (tahun 2 - 65) dan Kaisar Marcus Aurelius (tahun 121 - 180)

    Masa Reformasi


    Selama masa Reformasi, istilah "adiafora" memiliki makna yang sangat luas, dan dipakai dalam lingkungan-lingkungan teologi, untuk menjelaskan kategori ritus  keagamaan dan kebiasaan yang umum dipraktikkan, tetapi tidak diperintahkan ataupun dilarang oleh teolog-teolog Lutheran. Halmiji terjadi selama pertengahan abad ke-16, pada saat gerakan Protestan terancam oleh kekuatan Katolik  di Jerman.

    Istilah Adiafora ini kemudian dikaitkan dengan status upacara dan ritual tertentu, baik yang bersifat umum maupun privat, tetapi ritual ini tidak diperintahkan dan juga tidak dilarang oleh Firman Allah dalam Kitab Suci. Meskipun demikian istilah ini telah diperkenalkan, dan diklaim atàu dimasukkan sebagai bagian dari upacara gereja, dengan maksud untuk menumbuhkan suati keteraturan, penyesuaian dan disiplin. Itulah sebabnya, di gereja gereja tertentu, istilah Adiafora ini  diperhitungkan sebagai bagian dari praktik-praktik keagamaan.

    Senin, 15 Juli 2019

    Pengurus Rumah yang setia

    BACAAN ALKITAB
    “Jawab Tuhan: ‘Jadi, siapakah pengurus rumah yang setia dan bijaksana yang akan diangkat oleh tuannya menjadi kepala atas semua hambanya untuk memberikan makanan kepada mereka pada waktunya? Berbahagialah hamba, yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu, ketika tuannya itu datang.’ Aku berkata kepadamu: ”Sesungguhnya tuannya itu akan mengangkat dia menjadi pengawas segala milik-Nya." (Lukas 12:42-43) 

    PENGAJARAN

    Yesus menggunakan gambaran pengurus rumah, untuk menjelaskan kepada para Rasul apa yang Ia harapkan dari mereka. Yang dimaksud pengurus di sini adalah hamba yang ditugaskan dan bertanggung jawab untuk mengurus harta benda tuannya  Gambaran ini diulangi di dalam surat Paulus ke sidang Korintus, Rasul Paulus menuliskan, "Demikianlah hendaknya orang memandang kami: sebagai hamba-hamba Kristus, yang kepadanya dipercayakan rahasia Allah." (1 Kor 4:1). Selanjutnya di 1 Petrus 4:10, Rasul Petrus juga menuliskan, "Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah."

    Pesan Rasul Paulus dan Rasul Petrus ini dimaksudkan untuk membangkitkan motivasi dan semangat para pekerja yang diberi tanggung jawab untuk mengelola Gereja Tentunya pesan ini juga berlaku dan dapat diterapkan sebagai pedoman bagi para hamba Allah dan para pekerja di kebun anggur Tuhan.

    Meskipun menempati sebuah kedudukan yang istimewa di rumah, bagaimanapun seorang pengurus rumah adalah dan tetaplah seorang hamba, bahkan mungkin adalah seorang budak, yang harus bekerja sesuai dengan apa yang menjadi kehendak tuannya. Demikian juga dengan hamba-hamba Allah, mereka harus benar-benar menyadari bahwa mereka bukanlah tuan dari anak-anak Allah, yang dipercayakan kepada mereka, tetapi mereka tetaplah seorang hamba. Dan sebagai seorang hamba, maka mereka harus tetap tunduk dan bergantung pada Tuhan Yesus, sebagai Sang Tuan, dan harus bekerja sesuai dengan kehendak-Nya.

    Salah satu tugas pengurus rumah adalah untuk menyediakan makanan bagi seisi rumah, pada waktu yang sudah ditentukan, "Siapakah hamba yang setia dan bijaksana, yang diangkat oleh tuannya atas orang-orangnya untuk memberikan mereka makanan pada waktunya? (Mat. 24:4 ). Makanan yang dimaksud di sini adalah firman Allah. Kita, para hamba Allah, dipanggil untuk menyalurkan firman kebenaran, makanan rohani, bagi anak-anak Allah. "Usahakanlah supaya engkau layak di hadapan Allah sebagai seorang pekerja yang tidak usah malu, yang berterus terang memberitakan perkataan kebenaran itu." (2 Tim. 2:15 ).

    Berikut adalah beberapa ciri seorang pengurus rumah atau hamba yang bijaksana, cerdas dan setia, termasuk kita semua yang menjadi hamba Allah
    • Dapat diandalkan – ia akan tetap secara konsisten melaksanakan tugasnya, baik di saat yang enak dan maupun saat yang berat, apakah dipuji atau dikritik, diberi ucapan terima kasih atau diabaikan.
    • Tanpa pilih kasih - mereka akan merawat semua yang telah dipilih  untuk menjadi bagian di dalam rumahnya, dan dijadikan anak-anak-Nya, oleh Sang Tuan. Mereka tidak memiliki hak untuk memilih, menerima atau menolak, siapa yang harus mereka rawat atau urus. "Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku." (Matius 25:40)
    • Menyediakan bagi seisi rumah, apa yang seharusnya dapat diharapkan dari seorang hamba dengan apa yang mereka berhak untuk harapkan dari seorang pengurus rumah – khotbah kita harus sesuai dengan Alkitab, tetapi juga dengan Pengakuan Iman dan ajaran Kerasulan Baru. 
    • Sadar bahwa mereka bertanggung jawab kepada tuannya, yaitu Tuhan Yesus sendiri
    • Mengetahui dan paham bahwa kebutuhan setiap orang tidaklah sama, dan sang hamba akan menyediakannya bagi mereka. Marilah kita kenali kebutuhan orang-orang percaya dan marilah kita menyediakan dan menyiapkan akan kebutuhan mereka. 
    • Mengetahui bagaimana karakter dan kebiasaan mereka yang ada dalam tanggung jawabnya, serta bijak dalam membaca situasi Kita tidak berbicara dengan kaum muda dengan cara yang sama seperti kita bicara dengan para senior. Menceramahi seseorang yang baru terjatuh dalam pencobaan adalah sesuatu tindakan yang sia-sia, bahkan dapat mematikan. Alangkah akan menjadi lebih baik, jika kita mampu mendorongnya untuk melakukan pertobatan, dan adalah lebih baik kalau kita justru dapat berbicara dengannya tentang betapa Allah mengasihi dirinya.
    • Tidak mencemari makanan dengan tubuh dan tangan kita yang kotor atau menyajikannya di atas piring yang kotor. Makanan rohani, firman Allah, yang kita siapkan, sajikan dan berikan, hendaklah dijaga "kebersihan" (kesuciannya), jangan sampai tercemar oleh sikap, perilaku dan perkataan kita yang tidak sesuai atau tidak pantas.
    • Mampu dan mengetahui bagaimana cara menyajikan makanan yang bisa menggugah selera. Firman Allah yang kita berikan, hendaknya diramu, dimasak dan disajikan sesuai dengan "resep" yang diajarkan Tuhan Yesus, sesuai dengan Injil Kristus dan dilengkapi oleh, setidak-tidaknya pengetahuan teologis yang memadai.

    Marilah kita berusaha untuk memenuhi tugas, kewajiban dan tanggung jawab kita sebagai hamba-hamba Allah secara bijak dan dengan menunjukkan kesetiaan kita kepada Sang Tuan, yang adalah Sang Tuan, yang mengutus kita.

    Tugas, kewajiban dan tanggung jawab kita sebagai pengurus rumah, atau hamba Allah antara lain
    • memberitakan Injil, di dalam nama Allah Tritunggal, yang berarti juga memberitakan berita kesukaan untuk memberikan dan menyediakan penghiburan bagi orang-orang percaya. Ini akan sangat berbeda ketika sebagai hamba Allah, mereka diminta untuk memberikan nasihat, saran atau pendapat pribadi. Tidak serta merta, apa yang disampaikan, pasti akan dipenuhi atau pasti terjadi. Tuhan Yesus sendiri, ketika bermohon kepada Sang Bapa, juga melandaskan diri pada kehendak Sang Bapa. "... tetapi jangan seperti Ku-kehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki." (Matius 26:39). Seorang hamba Allah hanya bisa bermohon kepada Sang Tuan, tetapi keputusan tetap pada Sang Tuan. Misalnya, ketika seorang hamba Allah diminta suatu pendapat tentang seseorang yang sakit parah, tidak bisa serta merta ia dapat mengatakan, "ia pasti sembuh". Karena belum tentu orang tersebut akan sembuh. Tapi apakah tidak mungkin, orang tersebut bisa sembuh?. Jawabannya bisa saja jika Alah mengehendaki. Jadi dalam hal ini otoritas ada di tangan Allah. Tugas kita sebagai seorang pengurus rumah, bukan untuk memperkirakan masa depan seseorang, tetapi lebih pada,  bagaimana seseorang dapat merasakan kasih Allah dan pengandalan kepada Allah.  
    • Ketika seseorang ditugaskan untuk mengelola dan memimpin pengurus rumah atau sebagai pimpinan suatu gereja atau sidang jemaat, keputusan-keputusan yang diambil, tidak bisa disejajarkan dengan suatu firman Allah, sehingga tidaklah pada tempatnya kalau seorang hamba Allah menggunakan nasihat, saran atau pendapat pribadinya untuk menakut-nakuti anak-anak Allah. " Kalau anda tidak melakukan seperti yabg saya katakan, anda akan berdosa , anda akan celaka." Hal ini tidaklah benar. Seorang peminpin dan pengurus rumah Allah, hendaknya senantiasa menggunakan karunia-karunia atau bakat-bakat yang dimilikinya, sesuai dengan pengajaran Yesus, yaitu digunakan dengan kerendahan hati dan kasih, tanpa ada maksud untuk tujuan-tujuan pribadi
    Semoga, siapa pun yang diserahi tugas dan tanggung jawab untuk menjadi pengurus rumah Allah (hamba-hamba Allah), dapat senantiasa menyadari bahwa mereka adalah dan tetaplah seorang hamba Tuhan yang mendapat tugas dan tangung jawab untuk melayani Tuhan dan sesama. Biarlah semua itu dapat dilakukan dengan konsisten, penuh kesetiaan, cerdas dan bijaksana, serta senantiasa menyelaraskan diri pada kehendak-Nya. Karena pada kedatangan Sang Tuan nanti, Ia akan menjadikan hamba yang setia ini, penguasa atas segala milik-Nya (ayat 44) dan mereka akan berbagi di dalam kemenangan Kristus atas kejahatan, di dalam pemerintahan-Nya dan kemuliaan-Nya.

    Amin

    Minggu, 14 Juli 2019

    Ekumenisme

    Ekumenisme menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti usaha untuk mendapatkan kembali persatuan penuh semua orang yang beriman Kristen. Istilah ini berasal dari bahasa Yunani, yaitu oikos, yang berati rumah dan menein yang berati tinggal, sehingga iokoumene berarti rumah yang ditingali atau dunia yang didiami.

    Istilah ini kemudian banyak dipakai sebagai istilah dalam kaitan dengan agama Krsiten, yang merujuk pada gerakan untuk mencapai suatu kemanunggalan atau persekutuan dari berbagai denominasi Kristen, yang saat ini terpecah-pecah karena berbagai kepentingan, latar belakang, doktrin, pengajaran, liturgi dan sejarah.

    Dari sejarah, kita dapat membaca, bahwa adanya Konsili Efesus (tahun 431), Konsili Khalsedon (tahun 451), Skisma Timur-Barat (tahun 1054), adanya reformasi pada abad ke-XVI dan lainnya, memiliki peran atau andil yang cukup besar pada terjadinya perpecahan dan munculnya berbagai denominasi-denominasi Kristen hingga pada masa sekarang ini

    Banyak upaya telah dilakukan untuk mencapai ekumeisme ini, yaitu kemanunggalan atau persekutuan, antara lain dengan cara meningkatkan upaya kerja sama, saling memahami antar denominasi, doa, dan dialog, dengan menghapus tembok-tembok pemisah.

    Di kalangan Kristen Protestan, gerakan Ekumenisme ini diawali pada tahun 1910 dengan diadakannya Konferensi Misionaris Edinburgh yang dipimpin oleh John R. Mott, seorang Methodis awam. Tujuan konferensi itu adalah sebagai upaya mengembangkan kerja sama lintas denominasi untuk mengadakan misi-misi sedunia.  Ekumenisme ini diwujudkan antara lain dengan dibentuknya Dewan Gereja-gereja, baik ditingkat nasional maupun internasional, seperti Dewan Gereja-gereja Sedunia, Gereja-gereja Menyatu di dalam Kristus, dan sebagainya. Dan berdasarkan dekrit unitatis Redintegratio oleh Konsili Vatikan II, Gereja Katolik juga membuka diri untuk bekerja sama dengan Dewan Gereja-gereja.

    Gerakan Ekumenisme ini didasari adanya suatu kesadaran bahwa perpecahan dalam gereja, merupakan suatu permasalahan yang besar dan juga didasari kesadaran dan pemahaman bahwa kita semua adalah satu tubuh Kristus. "Karena sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, dan segala anggota itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus" (1 Korintus 12:12). "Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya." (ayat 27).

    Karena kelompok Kristen Protestan sendiri terdiri dari berbagai macam aliran, maka pemahaman kelompok Kristen Protestan terhadap Ekuminisme juga berbeda-beda. Kalau toh beberapa aliran bisa menerima dan ambil bagian dalam gerakan Ekuminisme, hal ini sering hanya terbatas pada kegiatan-kegiatan tertentu, sebagai wujud toleransi, saling menghormati dan dalam bentuk kerjasama, penggunaan gedung gereja secara bergantian, bahkan pelayanan mimbar secara bergiliran. Jadi tidak menjadi satu denominasi, melainkan lebih pada kumpulan dari pluralisme denominasi-denominasi. 

    Di kalangan Dewan Gereja-gereja Sedunia, dikenal apa yang dinamakan dokumen Baptisan, Ekaristi dan Pelayanan, yang berisi dokumen tentang saling mengakui di antara anggota-anggotanya. Sedangkan di Indonesia sendiri, dikalangan Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), dikenal dokumen Piagam Saling Menerima dan Saling Mengakui, yang merupakan Lima Dokumen Keesaan Gereja.

    Oleh karena itu gerakan Ekuminisme lebih bertujuan sebagai upaya untuk meningkatkan hubungan yang lebih baik dan mempromosikan toleransi, saling menghargai antar denominasi mapun dengan agama-agama yang lain, dan bukan gerakan untuk mempersatukan para pengikut berbagai macam denominasi ke dalam satu denominasi tertentu. Selain itu, Ekuimenisme juga menjadi sarana untuk mempertemukan orang-orang dari berbagai denominasi agama Kristen. Dari hal ini sebenarnya dapat dilihat bahwa ada suatu kerinduan bagi orang-orang Kristen untuk berada dalam suatu kebersamaan dan persekutuan.

    Meski demikian gerakan Ekumineisme ini, dibeberapa negara memberikan dampak yang lebih positif, dimana gereja-gereja di negara tersebut membentuk  gereja bersatu dan menyatu, seperti Uniting church of Australia. Di tempat yang lain, meski keinginan untuk melakukan Ekimenisme ini cukup besar, tetapi karena adanya berbagai alasan yang terkait dengan doktrin, liturgi dan sebagainya, kesatuan yang formil belum dapat dilakukan.

    Sabtu, 13 Juli 2019

    Kitab Ulangan

    Kitab Ulangan adalah kitab kelima dari kitab Musa dalam kitab Tanakh dan Kitab Taurat. Dalam bahasa Ibrani, kitab ini disebut kitab Devarim (kata-kata), yang diambil dari kata permulaan Eleh ha Devarim (Inilah kata-kata). Dalam bahasa latin, kitab ini disebut kitab Deuteronomium atau Deuteronomy (Inggris -hukum kedua). Kitab ini berisi ulangan tentang hukum-hukum dan perintah-perintah yang diberikan Allah untuk umat Israel, melalui Musa di gunung Sinai, sebelum  mereka masuk ke Tanah Perjanjian. 

    Hukum-hukum dan perintah-perintah Allah ini, mulai disampaikan oleh Musa, pada tanggal 1, bulan sebelas tahun ke empat puluh dari perjalanan umat Israel menuju ke Tanah Perjanjian (Ulangan 1:3). Kitab ini selain berisi tentang pengajaran-pengajaran yang disampaikan oleh Musa, juga berisi tentang riwayat pengangjatan hakim-hakim, riwayat dua belas pengintai, tentang sepuluh firman, riwayat peperangan, persepuluhan, penunjukan Yosua sebagai pengganti Musa, dan nyanyian Musa. 

    Kitab ini ditulis ketika bangsa Israel telah mengakhiri perjalanan panjangnya melewati padang gurun dan berhenti di daerah negeri Moab, sebelum mereka masuk ke tanah Kanaan. Memang kitab Ulangan ini, tidak seluruhnya ditulis oleh Musa, sebab di bagian akhir dari kitab Ulangan ini juga dituliskan tentang berita kematian Musa.

    Jumat, 12 Juli 2019

    Air hidup

    BACAAN ALKITAB

    Maka sampailah Ia ke sebuah kota di Samaria, yang bernama Sikhar  dekat tanah yang diberikan dahulu kepada anaknya, Yusuf. Di situ terdapat sumur Yakub. Yesus sangat letih oleh perjalanan, karena itu Ia duduk di pinggir sumur itu. Hari kira-kira pukul dua belas. Maka datanglah seorang perempuan Samaria hendak menimba air. Kata Yesus kepadanya, "Berilah Aku minum." Sebab murid-murid-Nya telah pergi ke kota membeli makanan. Maka kata perempuan Samaria itu kepada-Nya, " Masakan Engkau, seorang Yahudi, meminta kepadaku, seorang Samaria?" (Sebab orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria). Jawab Yesus kepadanya: " Jikalau engkau mengetahui tentang karunia Allah dan siapakah Dia yang  berkata, "Berilah Aku minum! Niscaya engkau telah meminta kepada-Nya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup. Kata perempuan itu kepada-Nya: "Tuhan, Engkau tidak punya timba dan sumur ini amat dalam; dari manakah Engkau memperoleh air hidup itu? (Yohanes 4:5-11)

    Pengajaran

    Air adalah unsur yang sangat penting bagi kehidupan. Tidak ada  kehidupan tanpa adanya air. Ketika perempuan Samaria ini berbicara dengan Yesus, maka yang dimaksudkan oleh perempuan Samaria ini adalah air untuk kehidupan jasmani. Berbeda halnya dengan apa yang dimaksud Yesus. Dalam hal ini, Yesus menggambarkan air itu sebagai bentuk keselamatan yang Ia alirkan, Ia bawa dan Ia bagi-bagikan kepada manusia, termasuk untuk kita dan perempuan Samaria itu sendiri.

    Dalam percakapan selanjutnya, Yesus menunjukkan jati diri-Nya yang sesungguhnya, bahwa Dia-lah Sang Sumber Air kehidupan itu, dan barangsiapa mengambil air kehidupan yang mengalir daripadaNya, ia akan memperoleh hidup kekal.

    Banyak orang, untuk mendapatkan air kehidupan ini, mereka mencari dari berbagai sumber air yang lain. Ada di antara mereka yang mencarinya dari guru spiritual, dari kekuatan alam atau dari kekuatan-kekuatan esoterik lainnya dan beberapa di antaranya, mencarinya melalui dukun-dukun dan para ahli perbintangan atau Astrolog. Tetapi mereka kecewa karena mereka tidak menemukan air kehidupan itu, untuk memperoleh kehidupan yang kekal. Sebab hanya kepada Tuhan Yesus-lah, kita dapat menimba air kehidupan itu dan agar kita dapat memperoleh kehidupan. Karena Tuhan Yesus pun juga mengatakan sendiri: Akulah jalan dan kebenaran dan hidup."  (Yohanes 14:6).

    Sebagai sumber air kehidupan, Yesus mengalirkan air ini  tanpa pandang bulu. Ia mengalirkan air ini kepada siapa saja yang mau menimba dan mengambilnya, tidak peduli akan latar belakang dan asal usul mereka. Dan barangsiapa mau menimba dan mengambilnya, maka ia akan memiliki kehidupan.

    Air kehidupan itu tidak lain adalah setiap firman yang keluar dari mulut Allah dan sakramen-sakramen yang diberikan kepada kita. Marilah kita menimba dan mengambil air kehidupan ini, sebab tidak hanya kehidupan kekal yang akan kiita alami, tetapi ada beberapa manfaat lain dari air kehidupan yang dapat kita rasakan pada saat ini

    • Sebagaimana air itu juga dapat digunakan untuk membasuh segala kotoran pada tubuh kita, demikian juga dengan air kehidupan yang mengalir dari Yesus, akan dapat membasuh dosa-dosa kita, yang mengotori jiwa kita. Melalui firman pengampunan dosa dan sakramen yang kita terima, air kehidupan ini akan membasuh jiwa kita dan membersihkan dosa-dosa kita.
    • Sebagaimana air yang dapat melegakan dahaga seseorang, demikian juga air kehidupan ini, firman Allah, akan melegakan dahaga jiwa kita, akan memberikan penghiburan ilahi, akan memberikan sukacita dan damai sejahtera ilahi.
    • Sebagaimana air yang dapat menyegarkan kembali, demikian juga, firman Allah, air kehidupan yang mengalir dari Tuhan Yesus, "sumber air yang murni" dapat menyegarkan jiwa kita, sehingga memberikan tenaga, semangat dan kesegaran kembali dalam menjalani kehidupan kita sebagai anak-anak Allah, di atas jalan kebenaran Allah, menuju tujuan yang agung dan mulia, masuk dalam kerajaan sorga.
    Meskipun air kehidupan ini disediakan dengan cuma-cuma, tetapi agar dapat memberikan hasil dan manfaat sebagaimana yang diharapkan, seseorang harus datang dimana Sumber Air Kehidupan itu berada, yaitu di Mezbah Allah, di dalam kebaktian, dan mereka harus menimbanya. Jadi tetap dibutuhkan kemauan dan usaha untuk mendapatkan manfaat dari air kehidupan ini.

    Oleh karena itu, marilah kita datang ke Sumber Air Kehidupan ini, agar jiwa kita disegarkan, dibersihkan dan memperolah kehidupan dan keselamatan kekal. Dan satu hal yang tidak kalah pentingnya, adalah biarlah kita juga menjadi sumber air kehidupan ini, "... Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan  menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal." (Yohanes 4:11)

    Perempuan Samaria itu, setelah menerima pengajaran Tuhan  Yesus, ia pun kembali ke kota dan memberitahukan kepada orang-orang di sana apa yang telah ia alami. "Maka perempuan itu meninggalkan tempayannya di situ dan pergi ke kota dan berkata-kata kepada orang-orang yang di situ "Mari, lihat! Di sana ada seorang yang mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat. Mungkinkah Dia Kristus, itu?" Maka mereka pun pergi ke luar kota lalu datang kepada Yesus." (ayat  28 - 30). Dan di ayat selanjutnya dinyatakan, "Dan banyak orang Samaria dari kota itu telah menjadi percaya kepada-Nya, karena perkataan perempuan itu, yang bersaksi: "Ia mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat." (ayat 39).

    Perempuan Samaria ini telah menjadi mata air yang baru, yang memancarkan air kehidupan kepada orang-orang sekotanya. Demikianlah juga kita hendaknya, setelah kita memperoleh air kehidupan ini, kita pun dapat menjadi mata air yang baru, yang juga memancarkan air kehidupan, kepada semua orang yang ada di sekitar kita.

    Dengan demikian akan semakin banyak orang yang akan menikmati air kehidupan ini dan mereka pun juga akan menjadi mata air bagi orang lain.

    Amin.


    Indahnya Memberi - Indahnya Berbagi. Bahagianya Memberi

    Seorang dosen yang dikenal bijaksana, tengah berjalan santai bersama seorang mahasiswa di taman kampus. Tidak lama keduanya melihat ada sepa...