Kamis, 27 Februari 2020

Bunga Bakung (Bunga Lili)

Kalau berbicara tentang kekuatiran, kita sering mendapatkan nasihat sebagaimana yang dikatakan Yesus dalam khotbah-Nya di atas bukit, yang dapat kita baca di Matius 6:25-29, "Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian? Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu? Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya? Dan mengapa kamu kuatir akan pakaian? Perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal, namun Aku berkata kepadamu: Salomo dalam segala kemegahannyapun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu.



Sebenarnya, amat banyak bunga yang tumbuh di Palestina, baik yang dapat tumbuh di bukit, di lembah, di taman, maupun di ladang terbuka. Namun Alkitab menyebut bunga bakung lebih sering daripada jenis bunga yang lain.
Tanaman Bakung memang memiliki bunga yang sangat indah dan memiliki berbagai warna. Bunga Bakung ada yang berwarna putih, kuning, jingga, merah muda, merah, ungu ada yang berwarna hampir kehitaman dan ada yang bercorak bintik-bintik dan beberapa diantaranya bunganya wangi
Tanaman bakung merupakan bagian dari genus Lilium. Nama tanaman ini dalam bahasa Inggris adalah lily. Ada sekitar 110 suku dalam keluarga bakung (Liliaceae).Bakung adalah tumbuhan tahunan dengan tinggi 60–180 cm. Bakung biasanya memiliki tangkai yang kokoh. Kebanyakan suku bakung membentuk umbi polos di bawah tanah. Di beberapa suku Amerika Utara, dasar dari umbi ini berkembang menjadi rizoma.
Bunga bakung yang besar memiliki tiga daun bunga, acapkali wangi, dan terdapat dalam berbagai warna dari putih, kuning, jingga, merah muda, merah, ungu, warna tembaga, hingga hampir hitam. Terdapat pula corak berupa bintik-bintik.
Tanaman bakung dapat tumbuh disebagian besar Eropa, sebagian besar Asia seperti Jepang, India, Indocina dan Filipina. Tanaman ini bisa menyesuaikan diri dengan habitat hutan, pegunungan, dan habitat rerumputan atau ladang. Beberapa mampu hidup di rawa. Pada umumnya tanaman ini lebih cocok tinggal di habitat dengan tanah yang mengandung kadar asam seimbang.
Selain bunganya, tanaman yang kerap dijadikan tanaman hias ini ternyata juga memiliki berbagai manfaat untuk kesehatan, terutama pada bagian daunnya.
Berikut beberapa Manfaat Daun Bakung
  • Membantu Meredakan Gejala Radang Tenggorokan dan Panas Dalam
  • Menambah Stamina dan Kekuatan Otot
  • Mengatasi Gangguan Tidur, Baik Sulit Tidur atau Mudah Tertidur
  • Membantu Menghentikan Pendarahan dan Mengobati Luka
  • Daun Bakung Efektif Mengobati Gangguan Mata

Rabu, 26 Februari 2020

Pengakhiran atau Penghentian Kehamilan (Aborsi)

Gereja Kerasulan Baru memahami dan memposisikan dirinya sebagai pembela kehidupan. Sel telur yang telah dibuahi (ovum) sudah merupakan individu yang hidup yang memiliki hak untuk hidup dan dilindungi.

Gereja Kerasulan Baru menolak penghentian kehamilan, karena itu merupakan pelanggaran dari perintah kelima. Rasa bersalah di hadapan Allah yang terkait dengan tindakan aborsi, dapat sangat bervariasi tergantung pada keadaan masing-masing individu. Meskipun ada alasan yang secara manusiawi dapat dipahami untuk mendukung suatu penghentian kehamilan, sudut pandang Gereja harus memiliki bobot tertentu dalam mempertimbangkan pentingnya keputusan tersebut.

Para ibu atau pasangan yang telah memikirkan secara serius dari sudut pandang medis, pribadi dan teologis, dapat mengandalkan pada rasa hormat dari Gereja terhadap tanggung jawab dna keputusan mereka sendiri untuk menerima atau menolak penghentian kehamilan dan perawatan pastoral yang tidak memihak.

Pernikahan Sang Anak Domba


Bagian Alkitab :

Marilah kita bersukacita dan bersorak-sorai, dan memuliakan Dia! Karena hari perkawinan Anak Domba telah tiba, dan pengantin-Nya telah siap sedia. (Wahyu 19:7)

Pengajaran

Tujuan kepercayaan kita, digambarkan sebagai perumpamaan tentang pernikahan Sang Anak Domba. Di dalam Wahyu 22:17 disebutkan: “Roh dan pengantin perempuan itu berkata: Marilah!” Mari kita menghubungkan seruan ini dengan tujuan kepercayaan kita. Setelah kita disentakkan pada saat Yesus (Pengantin Lelaki jiwa kita) menyatakan diri-Nya, kita ingin mengalami persekutuan yang membahagiakan bersama Pengantin lelaki jiwa kita tersebut. Janji ini dinyatakan Tuhan Yesus menjelang pengurbanannya di atas kayu Salib. “Ya Bapa, Aku mau supaya, dimana pun Aku berada, mereka juga berada bersama-sama Aku, mereka yang Engkau berikan kepada-Ku, agar mereka memandang kemuliaan-Ku yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab engkau telah mengasihi Aku sebelum dunia dijadikan.” (Yohanes 17:24). Penggenapan janji yang mulia dan luar biasa inilah, yang menjadi permohonan yang senantiasa kita panjatkan dengan penuh kerinduan.

Persekutuan dengan Tuhan digambarkan sebagai pernikahan Sang Anak Domba dan terdapat di kitab Wahyu 19:6-9, yang tertulis sebagai berikut: "Lalu aku mendengar seperti suara himpunan besar orang banyak, seperti desau air bah dan seperti deru guruh yang hebat, katanya: Haleluya! Karena Tuhan, Allah kita, Yang Mahakuasa, telah menjadi raja. Marilah kita bersukacita dan bersorak-sorai, dan memuliakan Dia! Karena hari perkawinan Anak domba telah tiba, dan pengantin-Nya telah siap sedia. Dan kepadanya dikaruniakan supaya memakai kain lenan halus yang berkilau-kilauan dan yang putih bersih! (Lenan halus itu adalah perbuatan-perbuatan yang benar dari orang-orang kudus). Lalu ia berkata kepadaku: Tuliskanlah: berbahagialah mereka yang diundang ke perjamuan kawin Anak Domba. Katanya lagi kepadaku: Perkataan ini adalah benar, perkataan-perkataan dari Allah.

Selain di kitab Wahyu, di bagian lain Alkitab, hanya sedikit yang menyebut Kristus sebagai Anak Domba. Yohanes Pembaptis adalah orang yangmengatakan: “Lihatlah Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia!” (Yohanes 1:29) Sebagai Anak domba Allah, Tuhan telah mengurbankan diri-Nya untuk sidang jemaat-Nya. Ia telah memberikan hidup-Nya untuk sidang jemaat-Nya dan memberikan tenaga untuk kita dapat menjadi pemenang, karena Ia telah menang atas setan dan pengikutnya.

Pada ayat-ayat yang telah disebutkan di atas, menunjuk bahwa Kristus adalah sebagai Sang Anak Domba, dan sekaligus sebagai Pengantin Laki-laki. Tuhan Yesus pun, secara tersirat juga telah menyatakan secara tidak langsung tentang diri-Nya sebagai Pengantin Laki-laki. Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka? Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka…” (bandingkan Matius 9:14-15).

Sekali lagi Yohanes Pembaptis menyebut Yesus sebagai Mempelai Laki-laki: “Yang empunya mempelai perempuan, ialah mempelai laki-laki, yang berdiri dekat dia dan mendengarkannya, sangat bersukacita mendengar suara mempelai laki-laki itu. Itulah sukacitaku, dan  sekarang sukacitaku itu penuh.” (Yohanes 3:29)

Pada saat pernikahan  Sang Anak Domba, Kristus bersatu dengan semua sidang jemaat-Nya, para sulung, yang di dalam alkitab dinyatakan dengan jumlah 144.000 orang, untuk selama-lamanya. Tergenapkanlah apa yang tertulis dalam Yohanes 17:24, “para milik-Nya akan berada bersama-sama dengan-Nya dan mereka akan memandang kemuliaan-Nya

Inseminasi Buatan, PID dan eSET

Kehidupan manusia dimulai dari penyatuan sel telur wanita dan sel sperma pria.

Gereja tidak keberatan terhadap inseminasi buatan, selama bisa dijamin bahwa tidak ada sel telur yang telàh dibuahi, yang sengaja dibunuh. Inseminasi buatan hanya boleh dilakukan dengan pasangan yang sudah menikah dan dengan sperma dan sel telur, suami isteri itu sendiri.

Gereja memiliki syarat-syarat keagamaan dan etis yang mendasar terhadap ibu pengganti.

Pada prinsipnya, Gereja menolak apa yang disebut Preimplantation Diagnostics (PID) atau yang lebih dikenal dengan istilah Preimplantation Genetic Diagnostic (PGD) (PID) dan transfer embrio tunggal (eSET), seperti halnya penolakan terhadap aborsi.

Pada PID atau PGD, embrio yang diketahui memiliki penyakit, kelainan atau kelainan genetik, sebelum dimasukkan ke rahim si ibu, maka embrio itu akan dihancurkan, dan itu adalah suatu pembunuhan atas suatu kehidupan.

Transfer embrio tunggal dimaksudkan untuk menghindari terjadinya kelahiran kembar, yang dianggap akan memberikan resiko lebih besar, baik terhadap ibu maupun bayinya. Pada proses ini, karena hanya satu embrio yang akan ditanamkan pada rahim ibu, maka biasanya akan dipilih embrio yang terbaik yang akan ditanamkan. Lalu dikemanakan dan bagaimana dengan embrio-embrio yang dianggap kurang baik. Di sinilah yang menjadi salah satu alasan penolakan gereja atas transfer embrio tunggal.

Pasangan suami isteri, sebenarnya masih memilikì dan masih terbuka opsi untuk melakukan adopsi.

Selasa, 25 Februari 2020

Ezra

Ezra (bahasa Ibrani: עזראEzra; ) adalah imam dan ahli Taurat Yahudi. Itu sebabnya dia disebut sebagai Ezra, si ahli kitab (bahasa Ibrani: עזרא הסופר,Ezra ha-Sofer). Ia seorang Lewi, keturunan dari Imam Besar Harun. Ia diperkirakan hidup dan berkarya tahun 480–440 SM.
Berikut adalah silsilahnya:
  • Ezra bin Seraya bin Azarya bin Hilkia bin Salum bin Zadok bin Ahitub bin Amarya bin Azarya bin Merayot bin Zerahya bin Uzi bin Buki bin Abisua bin Pinehas bin Eleazar bin Harun, yaitu Harun imam kepala.
Menurut Kitab Ezra di Alkitab Ibrani maupun kitab Perjanjian Lama di Alkitab Kristen, dialah yang menulis kitab Ezra, yang mencatat tentang kembalinya orang-orang Yahudi ke Yerusalem, pada tahun 459 - 458 SM, dari masa pembuangannya di Babel (Ezra 8:2-14). Ia memimpin rombongan kedua, berdasarkan surat tugas dari Artahsasta, raja Persia. Bersama-sama dengan mereka, juga ada para imam dan orang-orang Lewi. Di Yerusalem, Ia kemudian mengajar bangsa itu untuk menuruti hukum Taurat (Ezra7 -10 dan Nehemia 8) dan menyucikan diri dari perkawinan campur dengan bangsa-bangsa non Yahudi. Hal itu terjadi pada zaman pemerintahan Artahsasta, raja Persia tahun 458 SM. 
Menurut kitab 1 Esdras, suatu terjemahan Kitab Ezra dalam bahasa Yunani yang masih digunakan oleh Gereja Ortodoks Timur, dia juga dianggap sebagai seorang Imam Besar Yahudi. Sementara tradisi Rabinik berpandangan bahwa ia hanyalah seorang imam biasa.
Namanya diduga merupakan singkatan dari bahasa Ibrani: Azaryahu, "Allah menolong". Dalam Septuaginta Yunani, namanya ditulis Ésdrās (Ἔσδρας), yang merupakan asal mula nama Latin Esdras.
Para penulis Kristen awal, terkadang juga menyebut Ezra sebagai penulis kitab-kitab apokaliptik yang dikaitkan dengannya. 

Iman, Pengandalan dan Doa mematahkan Kekuatiran

Kekuatiran seringkali merupakan persoalan yang sangat mengganggu anak-anak Allah. Kekuatiran sebenarnya hanya merupakan suatu gejolak jiwa yang sementara. Kekuatiran timbul karena kita takut apa yang terjadi, tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan. Karena keinginan merupakan suatu siklus yang berputar terus, maka kekuatiran akan selalu membayangi kita. Ini tidak bisa dihindari, yang penting adalah bagaimana kita mengelola kekuatiran ini agar tidak menjatuhkan iman kita dan membawa kita ke dalam dosa. Kekuatiran ini sebenarnya juga sangat berkaitan atau berbanding terbalik dengan tingkat iman atau kepercayaan kita. Jika iman kita kuat, kekuatiran kita akan lemah atau sedikit, sebaliknya bila iman kita lemah, kekuatiran ini akan memberati diri kita.

Berikut adalah beberapa nas Alkitab yang dapat menjadi pedoman untuk mematahkan kekuatiran: 

  1. Matius 6:25-34, tentang Hal kekuatiran. "Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian? Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak   menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu? Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya? Dan mengapa kamu kuatir akan pakaian? Perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal, namun Aku berkata kepadamu: Salomo dalam segala kemegahannyapun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu. Jadi jika demikian Allah mendandani rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya?  Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu.Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari."
  2. Lukas 12:22-34 (lihat Matius 6:25-34, di atas)
  3. Filipi 4:6, “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucap syukur.”
Jadi dalam menghadapi kekuatiran, dapat kita simpulkan sebagai berikut.
  1. Nyatakanlah kekuatiran kita kepada Allah dalam doa yang sepenuh hati secara terus menerus dan dengan penuh rasa syukur.
  2. Taruhkanlah iman dan pengandalan kita kepada Tuhan
  3. Katakan dan yakinkan diri kita, bahwa kekuatiran adalah suatu kebiasaan yang buruk, dan kita akan mampu merubahnya dengan pertolongan Allah.
  4. Katakan dan yakinkan pada diri kita, bahwa Tuhan ada bersama-sama kita. Nyatakan hal ini sejak kita bangun tidur
  5. Letakkanlah kekuatiran kita hari ini dalam tangan Tuhan, apapun yang terjadi, karena semua yang terjadi adalah berdasarkan kehendak dan perkenan Tuhan, dan itu yang terbaik.
  6. Berlatihlah untuk senantiasa berpikir positif. Jangan pernah mengatakan “…Aah. Hari ini sulit, itu sulit…”, tapi nikmatilah hari ini. Dengan pertolongan Tuhan saya akan dapat mengatasi masalah atau tantangan ini.
  7. Bayangkan dan tanamkan dalam diri kita bahwa Tuhan adalah sahabat kita dan akan berjalan bersama-sama kita, di sisi kita

Keyakinan dan Pikiran Positif, membangkitkan rasa Percaya Diri

Suatu permasalahan / persoalan akan timbul, bila kita merasa rendah diri atau kurang percaya diri. Mari kita ingat akan 10 pengintai yang mendapat tugas dari Musa untuk mengintai tanah Kanaan. Delapan orang telah melaporkan hasil pengintaiannya dan merasa ngeri akan kekuatan musuh yang ada di depan mereka. Mereka  tidak mempunyai semangat lagi untuk melanjutkan perjalanannya. Mereka lupa bahwa Allah beserta mereka.

Lain halnya dengan kedua pengintai yang lainnya, Yusak dan Khaleb. Mereka memiliki rasa percaya diri yang sangat tinggi, bahwa Allah beserta mereka, sehingga mereka dapat melihat segi positif dari pengintaiannya serta menimbulkan semangat dalam diri mereka untuk segera masuk ke negeri Kanaan. Jadi, marilah kita senantiasa berusaha berpikir poisitif.

Yakinlah bahwa kita mampu mencapai apa yang kita harapkan. Keyakinan ini sangat penting untuk membangkitkan rasa percaya diri dalam diri kita. Dengan adanya rasa percaya diri ini akan memacu kita untuk mencari jalan dalam upaya mencapai apa yang kita harapkan. Tentunya keyakinan ini hendaknya didasarkan kepercayaan bahwa Allah akan menolong dan menyertai kita, dan bukan  karena kemampuan diri kita semata. Daud telah membuktikan akan hal ini ketika mengalahkan Goliat.

Beberapa nas dalam Alkitab dapat membantu kita untuk menumbuhkan rasa percaya diri.
  1. 1 Samuel 17:45, “....tetapi aku mendatangi engkau dengan nama Tuhan semesta alam, Allah segala barisan Israel yang kau tantang itu”
  2. Matius 17:20, “....Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja ....”
  3. Roma 8:31, “...., jika Allah dipihak kita, siapakah yang akan melawan kita?”
  4. Filipi 4:13, “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku”
Kesimpulan yang dapat diambil dari pelajaran di atas antara lain:
  1. Keyakinan akan firman Allah akan mampu menumbuhkan rasa percaya diri dalam menghadapi berbagai masalah atau persoalan. Baca dan ucapkanlah berulang-ulang firman tersebut untuk menumbuhkan rasa percaya dalam diri kita
  2. Senantiasa berpikir positif, meskipun saat itu segala sesuatu yang ada di depan tampak buruk.
  3. Janganlah sekali-kali menganggap apa yang kita hadapi sebagai suatu masalah / persoalan, melainkan jadikan semua hal tersebut sebagai tantangan.
  4. Kenalilah diri kita dan berlatihlah untuk meningkatkan rasa percaya diri, dan jangan sombong atau tinggi diri, karena orang sombong dibenci Allah
  5. Ketahuilah bahwa “…. Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman” (Matius 28:20)

Senin, 24 Februari 2020

Apokrief

Istilah Apokrief berasal dari kata dalam bahasa Yunani, Apokryphos, (atau dalam bahasa Ingris, Apocrypha), yang berarti tersembunyi, gelap, rahasia.

Sedangkan kitab apokrief berarti "kitab-kitab yang tersembunyi". Dikatakan demikian, karena kitab-kitab tersebut dianggap tidak kanonik, tidak termasuk ke dalam Kanon Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Meskipun demikian, kitab-kitab ini menunjukkan kaitan yang mengikat antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, dan berisi pernyataan-pernyataan iman yang penting untuk memahami Perjanjian Baru. Kitab-kitab ini, tidak terdapat pada semua terbitan Alkitab.

Gereja Kerasulan Baru memberikan nilai atau bobot yang sama pada kitab Apokrief, seperti halnya tulisan-tulisan lainnya dari Perjanjian Lama.

Di Indonesia, kitab-kitab yang termasuk pada Apokrief dan yang ada di Alkitab, ada 9 kitab yaitu, kitab :

  • Tobit
  • Yudit
  • Tambahan Ester
  • Kebijaksanaan Salomo
  • Sirakh
  • Barukh
  • Tambahan Daniel
  • 1 Makabe
  • 2 Makabe
Sedangkan di Alkitab King James Version yang juga terdapat kitab Aporkief di dalamnya, ada tambahan beberapa kitab seperti, 1 Ezra, 2 Ezra, Surat Nabi Yeremia dan beberapa lainnya.
Istilah yang umum digunakan sekarang untuk Apokrief adalah Deuterokanonika, yang berarti kanon yang kedua, atau kanon yang kurang begitu penting. Meskipun dianggap kurang begitu penting, kitab-kitab di dalam "Deuterokanonika" tetap bermanfaat karena memberikan banyak informasi mengenai tradisi hikmat dan sejarah Yahudi sekitar masa pembuangan di Babel hingga menjelang kelahiran Yesus.
Selain Gereja Kerasulan Baru, Gereja Katolik dan Gereja Ortodoks Timur, Deuterokanika tetap termasuk dalam Kanon Alkitab sejak awal. Kristen Protestan memandang kitab-kitab Deuterokanonika sebagai apokrif sejak terjadinya Reformasi Protestan.
Istilah Deuterokanonika juga digunakan dalam Alkitab bahasa Indonesia yang diterbitkan bersama oleh Lembaga Alkitab Indonesia dan Lembaga Biblika Indonesia.

Tuhan penolong bagi yang sengsara dan miskin

Bagian Alkitab

"Aku ini sengsara dan miskin, tetapi Tuhan memperhatikan aku. Engkaulah yang menolong aku dan meluputkan aku, ya Allahku, janganlah berlambat!" (Mazmur 40:18)

Renungan

Dari bagian Alkitab di atas, Pemazmur dapat menyadari dan mengenali bahwa dirinya sengsara dan miskin. Tetapi ia juga dapat mengakui dan percaya bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkannya dan bahkan senatiasa memperhatikannya. Hal ini berkebalikan dengan kebanyakan diantara kita yang menganggap, "...Aku kaya dan aku telah memperkayakan diriku dan aku tidak kekurangan apa-apa..." Padahal sebenarnya, "...engkau tidak tahu, bahwa engkau melarat, dan malang, miskin, buta dan telanjang." (Wahyu 3:17)

Kondisi seperti yang dirasakan oleh Pemazmur, sebenarnya tidak hanya terjadi pada dirinya sendiri. Banyak jiwa yang sebenarnya berada dalam keadaan sengsara, melarat, dan malang, miskin, buta dan telanjang. Dan itu tidak hanya terjadi pada mereka yang masih hidup di dunia ini, tetapi juga banyak dari antara mereka yang sudah ada di alam baka. Sayang, banyak diantaranya yang justru tidak mengerti, tidak mengenali dan tidak menyadari kondisi mereka.

Apa yang menjadi penyebab manusia menjadi sengasara, melarat, malang, miskin, buta dan telanjang? Bukan karena Allah kurang memperhatikan dan merawat manusia, tetapi oleh karena dosa, sebagai ulah dari si jahat. "Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah," (Rom 3:23). Dosa telah menguasai dunia, itulah akar penderitaan umat manusia. Dosa juga menyebabkan manusia menjadi buta, sehingga mereka tidak mengenali dan menyadari keadaan dirinya.

Kita dipilih dan dipanggil oleh Allah tidak hanya untuk menjadi anak-anak-Nya, menjadi ahli waris kerajaan sorga, tetapi juga untuk mengasihi mereka, menghibur dan untuk menjadi penolong-penolong bagi mereka. Tidak hanya melalui kotbah, doa-doa perantara kita (doa syafaat) dapat menjadi sarana untuk menggerakkan hati Allah, untuk menolong mereka yang sengsara dan misikin, sebagaimana yang dialami dan dirasakan oleh Pemazmur, terlebih bagi mereka yang sengsara dan miskin karena dosa yang menjerat mereka, yang menjauhkan diri mereka dari persekutuan dengan Allah yang Maha kaya dan Maha baik.

Persekutuan dengan Allah dan Tuhan Yesus Kristus, Sang Penebus dan Sang Pengantara kita, akan mampu melepaskan kita dari jerat dosa yang menyengsarakan manusia, tetapi juga menjadikan kita kaya dalam Kristus dan beroleh hidup kekal. "Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya...". (Yes 53:4). Hal itu dilakukan "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal." (Yoh 3:16)

Bagaimana manusia dapat beroleh hidup yang kekal, yang berarti juga memperoleh keselamatan, kemuliaan dan kekayaan dalam Kristus, sebagai ahli waris kerajaan sorga? Pertama-tama adalah percaya kepada Yesus Kristus. Meskipun demikian, Keselamatan adalah semata-mata berasal dan oleh karena INISIATIF dari Allah. Artinya, keselamatan yang diberikan kepada manusia merupakan KARUNIA atau KEMURAHAN Allah saja. Manusia diselamatkan KASIH KARUNIA oleh IMAN di dalam Yesus Kristus, "Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri."  (Ef 2:8-9). Yesus adalah JALAN satu-satunya, bukan salah satu, "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.  (Yoh 14:6);  bukan dari orang lain atau pun dengan usaha sendiri; bukan pula oleh perbuatan baik atau ketaatannya terhadap hukum Tuhan,   "...manusia dibenarkan karena iman, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat".  (Rom 3:10,28) Jadi syaratnya beroleh KESELAMATAN adalah IMAN pada Yesus Kristus. Menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamatnya.

Itu semua dapat dialami jika manusia dapat mengenali dan menyadari bahwa mereka melarat, dan malang, miskin, buta dan telanjang." (Wahyu 3:17) dan manusia membutuhkan pertolongan dan kemurahan Allah. "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya kerajaan sorga. (Matius 5:3)

Mari kita berdoa syafaat  untuk mereka para jiwa yang miskin dan menderita, baik bagi mereka yang masih hidup di muka bumi maupun bagi mereka yang sudah ada di alam baka, agar beroleh kemurahan dan kasih karunia  Allah. Amin.

Terapi Genetik

Awalnya, metode terapi genetik berfungsi untuk menyembuhkan penyakit dan oleh karenanya, sebenarnya menjadi suatu tanggung jawab khusus bagi para dokter, yang pada saat bersamaan juga harus berkomitmen untuk memberikan pengobatan yang terbaik bagi pasien mereka, serta memastikan adanya kepatuhan dengan standar etika.

Di sisi lain, metode ini ternyata juga memungkinkan untuk dilakukan manipulasi genetik dan bahkan  untuk "meng-optimalisasi" manusia yang akan "diproduksi" melalui metode manipulasi genetik, mulai pada tahap embrionik untuk menghasilkan "bayi-bayi yang sengaja dirancang" (desainer babies). Ini melanggar prinsip-prinsip perlindungan terhadap semua kehidupan sebelum kelahiran, seperti yang dipersyaratkan oleh etika Kristen dan dijamin oleh hukum.

Di bidang terapi genetik, ada tiga metode yang harus dibedakan:


  • Terapi genetik somatik (menggunakan pembawa (carriers) fisik dan virus sebagai vektor). Dipandang, berdasarkan pertimbangan moral dan etika, sebenarnya juga tidak dapat diprediksi. Meskipun demikian, terkait dengan harapan, ketakutan dan potensi penyalahgunaan, selalu timbul pertanyaan tentang penerimaan secara umum terhadap terapi genetik.
  • Manipulasi Germline. Metode ini ditolak, meski pada masa sekarang ini masih diperdebatkan, karena konsekuensi sosial dan biologis yang tidak terduga untuk generasi mendatang. Manipulasi Germline juga menimbulkan keraguan secara etis yang kemungkinan juga digunakan untuk menghasilkan apa yang disebut sebagai "bayi-bayi yang sengaja dirancang - designer babies" (eugenika positif).
  • Transfer nuklir.  Metode ini terkait erat dengan kloning (optimalisasi gen) dan karenanya harus ditolak, berdasarkan pertimbangan moral dan etika, sebagai intervensi dalam keutuhan fisik embrio manusia untuk keperluan reproduksi.


Dari perspektif Gereja Kerasulan Baru, secara prinsip tidak ada keberatan etis terhadap terapi genetik somatik, yang dapat dibenarkan secara medis. Namun manipulasi Germline harus ditolak karena alasan etis sesuai dengan kesepakatan atau persetujuan dengan gereja-gereja lain.

Kloning

Istilah Kloning atau Pengklonan (bahasa Inggrisː Cloning) dalam biologi adalah suatu proses untuk menghasilkan individu-individu yang identik secara genetik dari makhluk hidup yang sejenis (populasi yang sama). Kloning merupakan proses reproduksi aseksual (tanpa melalui proses perkawinan), yang sebenarnya sudah biasa terjadi di alam dan banyak terjadi pada bakteria, serangga, atau tumbuhan. Dalam bioteknologi, kloning merujuk pada berbagai usaha-usaha yang dilakukan manusia untuk menghasilkan salinan berkas DNA atau gen, sel, atau organisme.

Sikap dan pandangan gereja

Proses reproduksi secara kloning ditolak oleh Gereja karena alasan etis, terlepas dari metode apapun yang digunakan, karena gereja menghormati sifat unik kehidupan manusia.

Proses kloning untuk tujuan terapi hanya dapat diterima oleh Gereja, jika sel-sel induk embrionik tidak digunakan untuk tujuan ini (artinya tidak digunakan untuk mereproduksi individu manusia yang baru) dan kehidupan yang terjadi, yang berpotensi bernyawa, tidak boleh dibunuh.

Jumat, 21 Februari 2020

Menuju Persekutuan Kekal

Bagian Alkitab :

Dan Henokh hidup bergaul dengan Allah, lalu ia tidak ada lagi, sebab ia telah diangkat oleh Allah. (Kejadian 5:24)

Pesan :

Barangsiapa berjalan bersama Allah, ia dituntun ke dalam persekutuan yang kekal dengan-Nya.

Pengajaran :

Tujuan iman kita adalah untuk memperoleh persekutuan yang kekal dengan Allah (KGKB 10.6 / KGKB-PJ 567, 580). Untuk dapat memperoleh persekutuan yang kekal dengan Allah, kita perlu memiliki iman dan mau berjalan (=bergaul) bersama Allah, yakni mengikut Tuhan di dalam iman dan mengarahkan hidup kita sesuai dengan pengajaran-Nya (Mat. 10:38).

Berjalan dalam iman

Pada 2 Kor. 5:7 tertulis, "sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat." Pernyataan Rasul Paulus mengajarkan kepada kita bahwa pengikutan kita pada Tuhan dan apa yang kita lakukan dalam hidup kita sebagai pelaksanaan dari pengajaran Tuhan, hanya didasarkan pada iman. Sebab dalam kenyataan hidup kita, banyak hal yang tidak dapat kita mengerti dan itu terjadi dalam hidup kita. Dan itu adalah karunia Allah.

Iman sendiri, adalah juga karunia Allah

Pada kitab Ibrani 11:6, dinyatakan bahwa, "Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia." Terkait dengan apa yang dinyatakan oleh Rasul Paulus ini, Henokh, Abraham dan Elia dapat menjadi contoh bagi kita semua.

Di ayat sebelumnya (ayat 5), Rasul Paulus juga menuliskan, "Karena iman, Henokh terangkat, supaya ia tidak mengalami kematian, dan ia tidak ditemuka , marena Allah telah mengangkatnya. Sebab sebelum ia terangkat, ia memperoleh kesaksian, bahwa ia berkenan kepada Allah."

Iman sendiri, sebenarnya adalah pemberian dari Allah, suatu kerunia dari Allah. Manusia hanya perlu suatu keinginan untuk memperoleh iman tersebut dan menjadi percaya. Iman dikuatkan melalui khotbah, doa, dan pengalaman kepercayaan.

Selain Henokh, Kitab Suci juga memberitakan tentang pengangkatan Elia ke langit oleh suatu angin badai. Ia juga adalah seorang laki-laki yang memiliki iman dan pengandalan yang kuat pada pertolongan Allah (2 Raj. 2:11).

Demikian juga halnya dengan Abraham. Meskipun ia tidak terangkat ke sorga dan meskipun ia juga harus mengalami kematian sebagaimana manusia pada umumnya, tetapi karena iman dan kemenurutannya-lah, Allah berkenan kepadanya dan ia kemudian dikenal sebagai Bapak Kepercayaan.

Berjalan dalam perintah-perintah

Ketiga orang, contoh di atas, tidak hanya memiliki iman, kepercayaan dan pengandalan yang besar kepada Allah, tetapi mereka juga menunjukkan kasih yang besar kepada Allah, yang ternyata dalam pengikutan, kedekatan dan kemenurutan mereka dalam menjalankan perintah-perintah-Nya. Apa yang menjadi perintah-Nya, yaitu untuk mengasihi Allah dan sesama (Matius 22:37-40). Di sinilah Iman dan Perbuatan menjadi sesuatu yang saling berkaitan, sebab iman tanpa perbuatan adalah mati (Yak. 2:17). Hal inilah yang menyebabkan Henokh, Elia dan Abraham memiliki kedekatan yang sedemikian erat dengan Allah, bahkan sebagaimana yang telah disebutkan di atas, Henokh dan Elia dapat bergaul erat dengan Allah dan dapat terangkat ke sorga tanpa harus mengalami kematian.

Berjalan dalam terang

Kedekatan mereka dengan Allah, menempatkan mereka senantiasa dalam terang, karena Allah adalah Sang Terang, dan barangsiapa berjalan bersama Allah, ia tidak
berjalan di dalam kegelapan, melainkan memiliki terang hidup (Yoh. 8:12).
Barangsiapa berjalan dalam terang, ia akan dapat melihat dengan jelas, sehingga akan lebih aman bagi mereka. Ia dapat mengenali keadaan sekitarnya, lingkungannya dan jalan di mana ia berada.

Pengangkatan kita

Peristiwa pengangkatan Henokh dan Elia adalah peristiwa perorangan, diaman Allah menetapkan sebuah tanda yang istimewa. Ini menunjuk pada sebuah peristiwa yang jauh lebih besar, yakni pada titik pusat sejarah keselamatan.

Peristiwa pengangkatan sidang jemaat pengantin perempuan pada kedatangan Kristus kembali yang akan menjemput kita, tidak hanya berdampak pada beberapa individu, melainkan pada suatu kelompok manusia yang berjalan bersama Allah
(Flp. 3:20,21). Hal ini dapat terjadi  didasarkan di dalam kematian, kebangkitan, dan kenaikan Yesus Kristus ke surga (1 Kor. 15:20).

Sementara Henokh dan Elia “diberi upah” berupa pengangkatan, oleh karena pergaulan mereka yang erat dengan Allah dan rasa takut akan Allah, sehingga mereka tidak harus mengalami kematian, sidang jemaat pengantin perempuan akan diangkat untuk sebuah tugas tertentu, yakni untuk memberitakan Injil di da-
lam kerajaan damai seribu tahun.

Selasa, 18 Februari 2020

Bergaul erat dengan Tuhan

Bagian Alkitab :

Karena orang yang sesat adalah kekejian bagi TUHAN, tetapi dengan orang jujur Ia bergaul erat. (Amsal 3:32)

Renungan :

Selain ayat di atas, dikitab Mazmur 25:14 , tertulis, "TUHAN bergaul karib dengan orang yang takut akan Dia, dan perjanjian-Nya diberitahukan-Nya kepada mereka."

Alkitab mencatat, paling tidak ada 2 orang yang bergaul dan bergaul karib dengan Allah, yaitu : Henokh (Kej. 5:22, 24) dan Ayub (Ayub 29:4).

Mari kita perhatikan apa yang  dicatat dalam Alkitab, tentang Henokh. Memang kalau kita membaca dari kitab Kejadian 5:24, kita tidak mendapat penjelasan lebih jauh, bagaimana kehidupan Henokh, sehingga ia bisa bergaul erat dengan Tuhan. Tapi kalau kita merujuk pada 2 ayat di atas, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa Henokh dapat bergaul erat dengan Tuhan, bahkan sampai usia 300 tahun, karena ia memiliki kejujuran dan rasa takut akan Tuhan. Kedekatannya yang sedemikian erat dengan Tuhan, menjadikannya terangkat ke sorga tanpa mengalami kematian.

Demikian juga dengan Ayub. Meskipun ia harus mengalami penderitaan yang sedemikian hebat, kekayaan dan apa yang dimilikinya hilang dan musnah dalam 1 hari, tapi Ayub jujur dan dapat mengatakan, "... Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil, terpujilah nama Tuhan."(Ayub 1:21) dan ia memiliki rasa takut akan Allah. Meskipun ia juga didera penyakit kulit yang sedemikian menjijikkan, sehingga isterinya pun membujuknya untuk menghujat Tuhan, tapi karena Ayub memiliki rasa takut dan kesetiaan kepada Tuhan, ia bisa mengingatkan isterinya, meski dengan kata-kata yang agak keras, seperti yang tertilis dalam Ayub 2:9-10,  "Maka berkatalah isterinya kepadanya: "Masih bertekunkah engkau dalam kesalehanmu? Kutukilah Allahmu dan matilah!" Tetapi jawab Ayub kepadanya: "Engkau berbicara seperti perempuan gila! Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?" Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya. Rasa takut akan Tuhan inilah yang mendasari kehidupan Ayub sehingga ia menjadi seorang yang saleh dan selalu menjauhi kejahatan, seperti yang tertulis pada kitab Ayub 1:1, "Ada seorang laki-laki di tanah Us bernama Ayub; orang itu saleh dan jujur; ia takut akan Allah dan menjauhi kejahatan."

Sebagai kesimpulan, untuk dapat bergaul erat dengan Tuhan, beberapa hal yang perlu kita lakukan adalah:
- Hidup jujur
- Memiliki Rasa takut akan Tuhan
- Hidup saleh
- Menjauhi kejahatan

Semoga dengan melakukan semua itu, Allah, Tuhan kita gemar untuk bergaul erat dengan kita.

Amin.

Senin, 17 Februari 2020

Sabar menantikan Kedatangan Tuhan

Bagian Alkitab :

Karena orang yang sesat adalah kekejian bagi TUHAN, tetapi dengan orang jujur Ia bergaul erat. (Amsal 3:32)

Renungan :

Selain ayat di atas, dikitab Mazmur 25:14 , tertulis, "TUHAN bergaul karib dengan orang yang takut akan Dia, dan perjanjian-Nya diberitahukan-Nya kepada mereka."

Alkitab mencatat, paling tidak ada 2 orang yang bergaul dan bergaul karib dengan Allah, yaitu : Henokh (Kej. 5:22, 24) dan Ayub (Ayub 29:4).

Mari kita perhatikan apa yang  dicatat dalam Alkitab, tentang Henokh. Memang kalau kita membaca dari kitab Kejadian 5:24, kita tidak mendapat penjelasan lebih jauh, bagaimana kehidupan Henokh, sehingga ia bisa bergaul erat dengan Tuhan. Tapi kalau kita merujuk pada 2 ayat di atas, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa Henokh dapat bergaul erat dengan Tuhan, bahkan sampai usia 300 tahun, karena ia memiliki kejujuran dan rasa takut akan Tuhan. Kedekatannya yang sedemikian erat dengan Tuhan, menjadikannya terangkat ke sorga tanpa mengalami kematian.

Demikian juga dengan Ayub. Meskipun ia harus mengalami penderitaan yang sedemikian hebat, kekayaan dan apa yang dimilikinya hilang dan musnah dalam 1 hari, tapi Ayub jujur dan dapat mengatakan, "... Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil, terpujilah nama Tuhan."(Ayub 1:21) dan ia memiliki rasa takut akan Allah. Meskipun ia juga didera penyakit kulit yang sedemikian menjijikkan, sehingga isterinya pun membujuknya untuk menghujat Tuhan, tapi karena Ayub memiliki rasa takut dan kesetiaan kepada Tuhan, ia bisa mengingatkan isterinya, meski dengan kata-kata yang agak keras, seperti yang tertilis dalam Ayub 2:9-10,  "Maka berkatalah isterinya kepadanya: "Masih bertekunkah engkau dalam kesalehanmu? Kutukilah Allahmu dan matilah!" Tetapi jawab Ayub kepadanya: "Engkau berbicara seperti perempuan gila! Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?" Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya. Rasa takut akan Tuhan inilah yang mendasari kehidupan Ayub sehingga ia menjadi seorang yang saleh dan selalu menjauhi kejahatan, seperti yang tertulis pada kitab Ayub 1:1, "Ada seorang laki-laki di tanah Us bernama Ayub; orang itu saleh dan jujur; ia takut akan Allah dan menjauhi kejahatan."

Sebagai kesimpulan, untuk dapat bergaul erat dengan Tuhan, beberapa hal yang perlu kita lakukan adalah:
- Hidup jujur
- Memiliki Rasa takut akan Tuhan
- Hidup saleh
- Menjauhi kejahatan

Semoga dengan melakukan semua itu, Allah, Tuhan kita gemar untuk bergaul erat dengan kita.

Amin.

Minggu, 16 Februari 2020

Kirmizi

Di Yesaya 1:18, dituliskan “Marilah, baiklah kita berperkara! firman TUHAN Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba” (Yes. 1:18). Kirmiizi adalah sebutan untuk suatu jenis warna merah menyala. Ada beberapa ayat yang menyebutkan kata Krimizi, yaitu pada ayat-ayat, Kel. 25:4; 26:1, 31,36; 27:16; 28:6,8,15,33; Bil 4:8.
Dalam bahasa Ibrani, Kirmizi dipadankan dengan kata Shani, yang seringkali disandingkan dengan kata tola'at, seperti tola'at shani, yang diterjemahkan sebagai kain Kirmizi. Dalam bahasa Inggrisnya diterjemahkan dengan ‘scarlet yarn atau crimson‘.  Kirmizi juga ada yang menyebutnya sebagai Kerrmes
Warn merah menyala seperti warna Kirmizi
Bahan pewarna ini dikaitkan dengan sejenis serangga atau ulat (coccus ilicis) dari famili Coccidae. Warna merah menyala ini didapat dari telur-telur di dalam tubuhnya. Sewaktu sedang bertelur, serangga itu berbentuk seperti buah beri sebesar kacang polong, yang menempel pada daun dan ranting pohon ek kermes. Setelah dikumpulkan dan diremukkan, serangga itu menghasilkan warna merah menyala yang larut dalam air, dan cocok untuk mewarnai kain. Diduga kain yang dipakai untuk pembuatan kemah suci (Tabernakel) ataupun jubah para  imam mempergunakan pewarna tersebut. Warna merah menyala dari Kirmizi dipandang sebagai salah satu warna yang menggambarkan status sosial yang tinggi dalam masyarakat, bagi yang memakainya.
Serangga atau ulat ini biasanya hidup dan menempel di kulit pohon ek kermes (Qurcucus coccifera), yang banyak tumbuh di Timur Tengah dan pesisir Laut Tengah.

Berikut beberapa ayat dalam Alkitab yang mencantumkan penggunaan Kirmizi sebagai warna pilihan:

Coccus illicis
Kemah Suci itu haruslah kaubuat dari sepuluh tenda dari lenan halus yang dipintal benangnya dan dari kain ungu tua, kain ungu muda dan kain kirmizi (tola’at shani ); dengan ada kerubnya, buatan ahli tenun, haruslah kaubuat semuanya itu (Kel. 26:1)

Inilah pakaian yang harus dibuat mereka: tutup dada, baju efod, gamis, kemeja yang ada raginya, serban dan ikat pinggang. Demikianlah mereka harus membuat pakaian kudus bagi Harun, abangmu, dan bagi anak-anaknya, supaya ia memegang jabatan imam bagi-Ku. Untuk itu haruslah mereka mengambil emas, kain ungu tua dan kain ungu muda, kain kirmizi(tola’at shani) dan lenan halus (Kel. 28:4-5)
Pewarna dari darah ulat itu, juga seringkali dipakai untuk acara-acara seremonial, utamanya yang berhubungan dengan darah. Ketika pentahiran terhadap orang yang sakit kusta (Ima 14), salah satu alat yang dipergunakan sebagai medianya adalah kain kirmizi (ay. 4,6). Begitu pula yang dilakukan ketika terjadinya upacara penyucian (Bil. 19:6), kain kirmizi termasuk di dalamnya (ay. 6).
Di dunia kuno, benang yang berwarna kirmizi ini biasanya dipergunakan untuk menandai anak kembar yang lahir pertama. Contoh di Alkitab paling jelas tentang hal itu adalah kisah kelahiran Perez dan Zerah (Kej. 38). Dan ketika ia (Tamar) bersalin, seorang dari anak itu mengeluarkan tangannya, lalu dipegang oleh bidan, diikatnya dengan benang kirmizi (shani)serta berkata: "Inilah yang lebih dahulu keluar." Ketika anak itu menarik tangannya kembali, keluarlah saudaranya laki-laki, dan bidan itu berkata: "Alangkah kuatnya engkau menembus ke luar," maka anak itu dinamai Peres. Sesudah itu keluarlah saudaranya laki-laki yang tangannya telah berikat benang kirmizi (shani) itu, lalu kepadanya diberi nama Zerah (Kej. 38:28-30)
Warna kirmizi ini juga menjadi warna yang melambangkan kekuasaan, kemakmuran dan kemewahan di dunia kuno. Pertama kali pewarna kirmizi ini disebutkan pada abad ke-8 dengan nama Armenian Red dan hal itu tercatat dalam tulisan-tulisan orang Asyur dan Persia. Pewarna tersebut diimpor dari Persia menuju ke Roma. Selama era kekaisaran Roma, warna kirmizi menempati posisi kedua setelah warna ungu sebagai warna yang dipakai oleh para Kaisar. Para tentara Roma menggunakan baju berwarna kirmizi dan orang-orang yang memiliki pangkat yang tinggi merujuk pada sebutan coccinati ‘ people of red’.
Injil Matius mencatat bahwa ketika Yesus ditangkap oleh tentara Pontius Pilatus, mereka  mengenakan baju ungu (LAI) kepada Yesus (27:28). Bahasa Yunani mencatat bukan baju ungu melainkan baju berwarna kirmizi  kokkinos.  Dalam hal ini pemakaian baju berwarna kirmizi bukan untuk menghargai Yesus sebagai raja melainkan justru untuk mengejek Yesus (ay. 29).

Demikian sedikit pengetahuan tentang Kirmizi.

Jangan pernah meninggalkan Persekutuan

Bagian Alkitab

Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku. Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku, kamu tidak dapat berbuat apa-apa. Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar. (Yohanes 15:4-6)

Renungan

Saudara-saudari yang kekasih, tidak bisa kita pungkiri bahwa kita semua sebagai anak-anak Allah dan umat milik Allah, termasuk para hamba-hamba Allah yamg membantu dan bekerja di ladang Allah adalah manusia-manusia yang tidak sempurna dan masih saja belum mampu melepaskan diri dari dosa dan salah. Tetapi kita bersyukur dan berterima kasih kepada Allah Sang Bapa kita, bahwa sebagai para pendosa, kita telah dipilih dan dipanggil untuk menjadi anak-anak-Nya, menjadi umat milik-Nya dan bahkan beberapa diantara kita, diperkenankan untuk ikut melayani-Nya dan bekerja di ladang Allah. Suatu tugas yang agung dan mulia diberikan kepada kita. Allah tahu akan segala kekurangan dan kelemahan kita. Tetapi Allah tidak berdiam diri. Ia melengkapi apa yang menjadi kekurangan dan kelemahan kita. Oleh kerana itu, selalu dan selalu, mohonlah kepada Allah agar Ia berkenan melengkapi dan memberikan apa yang masih menjadi kekurangan dan kelemahan kita, baik sebagai anak-anak Allah maupun sebagai hamba-hamba Allah. Dan berdasarkan kasih-Nya yang sedemikian Agung dan Mulia, Ia akan dengan penuh sukacita untuk memberikan apa yang kita butuhkan.

Kasih dan kemurahan Allah, tidak hanya berhenti sampai di situ. Allah ingin selalu dan selalu memberikan belas kasihannya kepada kita, ketika oleh karena kelemahan dan kekurahan kita, kita melakukan kesalahan dan jatuh ke dalam dosa. Belas kasihan Allah diberikan kepada kita dengan memberikan pengampunan dosa, meski setelah kita mendapatkan pengampunan dosa, kita juga masih jatuh lagi dan jatuh lagi ke dalam dosa dan kesalahan.

Seperti yang telah disampaikan di atas, sebagai manusia-manusia yang belum sempurna, tidak menutup kemungkinan suatu kesalahan atau dosa itu, dilakukan oleh hamba-hamba Allah atau saudara-saudari dalam sidang jemaat Tuhan, terhadap diri kita atau kita melihat kesalahan mereka.

Kalau toh hal itu terjadi, JANGAN PERNAH hal itu menjauhkan diri kita dari Allah dan persekutuan kita satu dengan yang lainnya dalam sidang jemaat Tuhan. Kalau kita menjauh, bukannya kita menjadi untung, justru kita semakin dirugikan, dan kerugian kita justru semakin berlipat-lipat ganda.

Yakinlah bahwa ketika kita menjauh dari Allah dan dari persekutuan dalam sidang jemaat Tuhan, orang-orang atau para hamba yang membuat dosa atau kesalahan kepada kita dan menjadikan kita sangat marah atau jengkel, tapi kemudian mereka segera sadar akan dosa dan kesalahannya, mereka jauh lebih “beruntung” daripada kita yang menjadi “korban”nya.

Mengapa bisa demikian?

Jawabannya sangat sederhana.

Tidak menutup kemungkinan, ketika mereka baru saja melakukan dosa atau kesalahan, mereka segera dan langsung tersadar bahwa ia telah melakukan kesalahan dan dosa, sehingga mereka segera mohon belas kasihan dari Allah untuk mendapatkan pengampunan atas dosa dan kesalahannya. Sedangkan kita, karena kita marah, jengkel dan tidak bisa mengampuni, sehingga untuk melihat wajah mereka saja kita enggan, apalagi berjumpa dengan mereka dalam mezbah Allah yang berarti kita tidak mendapatkan kemurahan dan belas kasihan Allah, maka kita akan tetap dalam dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan kita. Sedangkan para hamba-hamba Allah, pekerja-pekerja dalam kebun anggur Tuhan atau saudara-saudari kita yang sadar akan dosa dan kesalahannya dan telah memohonkan belas kasihan Allah dalam pengampunan dosa, mereka mendapatkan kemurahan, belas kasihan, pengampunan dosa dan kesucian di hadapan Allah.

Sebagai kesimpulan.

Se”jelek-jelek”nya, se”buruk-buruk”nya, se”jahat-jahat”nya dan se”bodoh-bodoh”nya para hamba Allah, pekerja-pekerja di kebun anggur Tuhan atau saudara-saudari kita DAN se”marah-marah”nya kita kepada mereka, JANGAN PERNAH  meninggalkan atau menjauhkan diri kita dari persekutuan dengan Allah dan saudara-saudari kita dalam sidang jemaat Tuhan, karena pihak kita-lah yang justru paling dirugikan, bukan orang lain yang berbuat dosa atau kesalahan dihadapkan Allah atau kepada kita, yang telah menyadari akan dosa dan kesalahannya. Sebab meyika menjauh dari pada Allah kita akan mengalami kematian.

Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku. Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku, kamu tidak dapat berbuat apa-apa. Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar. (Yohanes 15:4-6)

Semoga dapat menjadi renungan dan bermanfaat bagi kita semua, untuk tidak dengan mudahnya meninggalkan persekutuan dengan Allah dan saudara-saudari semua dalam sidang jemaat Tuhan, oleh karena kelemahan dan kesalahan para hamba Allah atau saudara-saudari kita.

Senin, 10 Februari 2020

Keraguan, menghancurkan

BAGIAN ALKITAB: 

Adapun ular ialah yang paling cerdik dari segala binatang di darat yang dijadikan oleh TUHAN Allah. Ular itu berkata kepada perempuan itu: “Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?”
(Kejadian 3:1)

PENGAJARAN: 

Pada saat manusia berada di dalam taman Eden, hubungan manusia dengan Allah terjalin sedemikian erat dan mesra. Tetapi di situ juga ada si ular yang licik. Si ular merasa iri melihat manusia memiliki hubungan yang sedemikian eratnya dengan Allah. Si ular ingin mengganggu hubungan manusia dengan Allah. Tapi si ular tahu, bahwa ia tidak mungkin mempengaruhi Allah. Oleh karena itu manusialah yang jadi sasaran. Ia menumbuhkan  keraguan dihati dan kepikiran manusia, tentang maksud baik Allah, yang melarang mereka untuk makan buah pengetahuan yang baik dan yang jahat.

Ular itu mengatakan: “Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?” Perempuan itu menjawab dengan mengatakan bahwa mereka sebenarnya diizinkan untuk makan dari semua pohon di taman itu, kecuali dari satu pohon. Jawaban ini benar, tetapi ular itu ke-
mudian melanjutkan dengan mempertanyakan maksud baik Allah yang melarang mereka makan dari satu pohon tersebut. Ular itu mengklaim bahwa Allah sebenarnya menyembunyikan sesuatu dari mereka: “tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat.” (Kej. 3:5).

Meskipun pasangan manusia itu hidup dalam persekutuan dengan Allah, mereka pada akhirnya melanggar juga kehendak ilahi. Dalam hal ini menjadi nyata bahwa manusia kurang memiliki pengandalan pada kasih dan kebaikan Allah. Di dalam kasus Adam dan Hawa, keraguan kepada Allah ini timbul karena mereka percaya akan kata-kata si ular: “Sekali-kali kamu tidak akan mati” (Kej. 3:4). Ular itu menekankan bahwa Allah sebenarnya  ingin mencegah mereka untuk menjadi sama seperti Dia dan menghalangi mereka untuk memiliki pengetahuan akan yang baik
dan yang jahat.

Keraguan pada Allah ini mulai timbul dan telah menggangu kepikiran manusia sejak ular mengajukan pertanyaan itu. Sejak keraguan ini ditimbulkan dalam  diri Adam dan Hawa, di Alkitab, kita dapat membaca, ada beberapa orang yang mendapat janji dari Allah, tetapi mereka ragu, apakah Allah benar-benar akan dan dapat menggenapi janji-janji-Nya dan apakah Allah juga sungguh-sungguh menjaga dan melindungi mereka? Sebab apa yang dijanjikan Allah, sering kali bertolak belakang dengan apa yang telah dialami manusia sebelumnya, maupun pengalaman mereka. Sebagai contoh :


  • Abraham meragukan janji Allah bahwa ia dan istrinya akan memiliki seorang anak laki-laki di usia mereka yang sudah demikain lanjut, bahkan isterinya juga sudah dalam keadaan mati haid. Abraham dan Sarah bahkan menertawakan janji Tuhan ini (Kej. 17:17; 18:12).
  • Maria pada awalnya juga ragu, ketika malaikat menjanjikan bahwa ia akan melahirkan seorang Anak laki-laki: “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” (Luk. 1:34).

Abraham, Sarah, dan Maria, mereka semua pada akhirnya tahu bahwa tidak ada yang mustahil bagi Allah (Luk. 1:37; Kej. 18:14). Pengandalan kepada Allah menolong mereka untuk mengatasi keraguan mereka.

Keraguan-keraguan kita

Iman seringkali goyah ketika keraguan mulai merasuki diri seseorang, sebagai contoh, ketika kita mendapatkan pengalaman-pengalaman yang bertentangan dengan harapan-harapan kita. Keraguan juga dapat timbul, ketika kita mengalami, kesulitan, kesusahan dan penderitaan. Ketika hal itu terjadi, marilah kita hendaknya senantiasa ingat, bahwa Allah tidak menjanjikan suatu kehidupan yang menyenangkan, melainkan keselamatan bagi kita. Jika kita percaya kepada Yesus Kristus, bersaksi tentang Dia di dalam perkataan dan perbuatan, dan jika kita menerima sakramen-sakramen yang disediakan bagi kita, maka Ia akan berdiri menyertai kita, untuk menolong kita meraih keselamatan, meskipun harus juga mengalami segala penderitaan yang ada. Kita dapat meyakini dan percaya bahwa Allah mengasihi kita, seperti Ia mengasihi Yesus.

Allah sangat menginginkan keselamatan kita, khususnya ketika kita dihadapkan pada situasi-situasi, di mana bencana dan kejahatan menguasai. Marilah kita tempatkan pengandalan kita kepada Allah. Maka beban-beban yang Ia taruhkan ke atas diri kita akan lebih mudah untuk kita pikul dan kita akan lebih fokus lagi dalam menjalani hidup kita dengan sudut pandang akan keselamatan dan persekutuan di dalam kerajaan Allah. Dengan demikian kita tidak akan lagi ragu bahwa pada akhirnya kebenaran Allah pasti akan menang dan nyata. Saat hal itu terjadi, kita tidak akan lagi memiliki pertanyaan atau keraguan apa pun. Tapi sampai saat itu tiba, kita masih akan berhadapan dan menangani keraguan dan pertanyaan-pertanyaan yang mungkin tak terjawab. Meskipun demikian, TETAPLAH untuk menaruhkan Iman, Kepercayaan, Pengharapan dan Pengandalan kita kepada Allah. Dan kita akan mengalami penggenapan janji-Nya.

Amin.


Jumat, 07 Februari 2020

Melakukan yang terbaik

BAGIAN ALKITAB

Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia." (Kolose 3:23)

Pesan

Pernahkah kita terpikir untuk membeda-bedakan, ini pekerjaan dan pelayanan rohani dan yang itu bukan  rohani (sekuler)? Pernahkah kita juga berpikir, pekerjaan rohani harus diutamakan dan yang lain dikesampingkan!? Atau bekerja dan melayani  berdasarkan suka dan tidak suka?

Kalau melakukan pekerjaan yang disukai, seseorang dapat bekerja dengan sangat keras dan tekun, tetapi pekerjaan lain ia lakukan dengan bermalas-malasan. Bagian Alkitab di atas menasihatkan agar kita melakukan segala sesuatu dengan segenap hati, baik itu pekerjaan, pelayanan, studi, hidup berkeluarga, ibadah dan sebagainya, bukan dengan keluh kesah, menggerutu atau bersungut-sungut.

Di tempat kerja, ada saja hal yang kita keluhkan, mulai gaji, job description yang tidak jelas, si bos yang bertindak semena-mena dan sebagainya. Akibatnya kita pun mengerjakan setiap tugas atau pekerjaan kita tidak dengan segenap hati. Begitu juga dalam hal pelayanan, tidak jarang orang melakukannya sebagai sesuatu hal yang rutin, sebagai suatu yang biasa-biasa saja, tanpa semangat. Sesungguhnya Tuhan Yesus telah memberikan teladan bagi umat-Nya bagaimana Ia melakukan segala sesuatu dengan sepenuh hati. Apa pun yang menjadi kehendak Bapa dikerjakan-Nya dengan segenap hati, meski harus melewati segala penderitaan yang hebat, bahkan sampai harus mati di kayu salib.

Kalau hari ini kita diingatkan oleh firman untuk melakukan seperti yang telah Yesus lakukan dan ajarkan itu berarti kita juga harus melakukannya dengan segenap hati, sebab "Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup."  (1 Yohanes 2:6).  Kalau dalam kehidupan ini kita tidak menghasilkan buah dari apa yang kita lakukan, bisa jadi karena kita melakukannya tidak dengan segenap hati.  Sebab bila kita melakukan banyak hal tidak dengan segenap hati, maka hasilnya pun tidak akan bisa maksimal.

Maka lakukanlah segala sesuatu seakan hal itu kita lakukannya untuk Tuhan, yakni memberikan yang terbaik bagi kemuliaan dan keagungan nama-Nya. Jadikan hidup kita sebagai bejana berkat untuk menyatakan kasih dan pelayanan Tuhan bagi sesama. Lakukanlah segala sesuatu atas dasar kasih untuk  pelayanan  bagi Tuhan.

Amin.

Menantikan Tuhan, tidak akan malu

Bagian Alkitab

Maka engkau akan mengetahui, bahwa Akulah Tuhan, dan bahwa orang-orang yang menanti-nantikan Aku tidak akan mendapat malu. (Yesaya 49:23b)

Renungan

Banyak orang Kristen yang meyakini akan kebenaran ini, bahwa ketika kita berharap dan menanti-nantikan Tuhan, maka Dia tidak akan pernah mengecewakan. Ada berkat yang luar biasa disediakan Tuhan bagi orang-orang yang setia menanti-nantikan Dia. Sayang, kita sering kali tidak sabar dalam menantikan Tuhan.

Ketika permohonan kita akan pertolonganNya tidak segerà datang, seringkali dengan mudahnya kita menyerah dan berpaling ke illah yang lain. Kita seringkali menginginkan semuanya instan, serba cepat. Padahal Allah telah menyatakan, "Sebab rancangan-Ku, bukanlah rancanganmu, dan jalan-Ku bukanlah jalanmu, demikian firman Tuhan. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu." (Yesya 55:8-9)

Hal ini berbeda dengan Daud yang sangat percaya kepada Allah, ketika ia datang menjumpai Allah dan menaruhkan pengharapannya kepada-Nya. Daud menyatakan, "Kepada-Mu, ya TUHAN, kuangkat jiwaku; Allahku, kepada-Mu aku percaya; janganlah kiranya aku mendapat malu; janganlah musuh-musuhku beria-ria atas aku." (Mazmur 25:1-2). Pengandalan Daud akan pertolongan tidaklah sia-saia dan ia tidak mendapatkan malu. Ini terbukti, bagaimana Allah campur tangan dalam setiap pergumulan yang ia alami. Mengapa Daud bisa mengalami akan hal ini. Karena Daud percaya bahwa janji Tuhan adalah "Ya" dan "Amin". Daud juga tahu Tuhan adalah Allah yang setia.

Ketahuilah bahwa janji Tuhan 'ya' dan 'amin'.  Tidak ada janji yang tidak ditepati-Nya. Itu sangat berbeda sekali dengan manusia, yang dengan begitu mudah berjanji tetapi juga demikian mudahnya mengingkarinya

Mari belajar untuk menantikan Tuhan di segala keadaan.  Seperti mentari yang begitu setia memancarkan sinarnya dari ufuk timur, setiap pagi, yang menghadirkan kehangatan ke setiap helai dedaunan dan rerumputan, sama halnya Tuhan yang begitu setia menemui umatNya dalam kebesaran dan kelembutan kasih-Nya, kepada setiap anak-Nya yang setia menantikan Dia._

Menanti-nantikan Tuhan berarti juga berjalan dalam kebenaran dan iman.  Jika Tuhan belum menjawab doa-doa kita, jangan kecewa dan terpaku pada keadaan.  Sebagai orang percaya, "...sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat,"  (2 Korintus 5:7).

"Tuhan tahu keadaan kita karena Dia adalah Penjaga kita yang tidak pernah tertidur atau terlelap!"

Rabu, 05 Februari 2020

Kewajiban Menolong yang Miskin

BAGIAN ALKITAB

Apabila saudaramu jatuh miskin, sehingga tidak sanggup bertahan di antaramu, maka engkau harus menyokong dia sebagai orang asing dan pendatang, supaya ia dapat hidup di antaramu. (Imamat 25:35)

PENGAJARAN

Ketika Allah akan membawa umat Israel keluar dari Mesir menuju Tanah Perjanjian, Allah telah membuat sebuah perjanjian yang kekal dengan umat pilihan-Nya, bahwa Ia akan memelihara mereka, dan mendampingi mereka. Selanjutnya, ketika mereka akan memasuki Tanah Perjanjian, Ia juga telah memberi petunjuk-petunjuk kepada mereka tentang bagaimana mereka hendaknya menjalani hidup mereka dan berinteraksi satu sama lain. Prinsipnya adalah bahwa umat Israel hendaknya tidak memperkaya diri mereka sendiri dengan mengorbankan sesama mereka. Sebagai contoh mereka tidak diperkenankan untuk membeli atau menjual tanah di mana mereka hidup (ayat 36). 

Allah ingin mereka sadar bahwa adalah Dia-lah Sang pemilik tanah yang mereka tempati (ayat 23). Dia jugalah yang memberi mereka makanan, perlindungan, dan berkat.

Apabila saudara atau saudarimu jatuh miskin ...

Tidak kita pungkiri bahwa kemiskinan dapat terjadi pada siapa saja. Kemiskinan bisa terjadi pada saudara-saudari kita seiman, saudara-saudari kita yang lain dan lebih luas lagi, kemiskinan juga dapat terjadi pada sesama kita. 

Sepanjang sejarah, memang ada, orang-orang yang bergantung pada pertolongan orang lain, karena memang mereka dilahirkan dalam kemiskinan atau mungkin telah jatuh ke dalam kemiskinan. Tentulah hal ini tidak berbeda dengan saat ini. 

Bacaan Alkitab di atas memberi kita nasihat untuk merawat dan memelihara orang-orang yang miskin, yang lemah, dan yang memerlukan pertolongan.

Kalau kita mengingat kenyataan bahwa Allah telah menyediakan sarana-sarana untuk kehidupan kita, memberi makanan, perlindungan, dan tempat bernaung untuk kita, sungguh adalah tidak pada tempatnya jika kita mengeksploitasi kemiskinan sesama kita untuk mencari keuntungan sendiri, seperti misalnya me-
nyewakan rumah kepada mereka dengan harga yang tinggi dengan fasilitas yang tidak memadai.

... engkau harus menyokong dia ...

Kemiskinan memiliki banyak dimensi atau bentuk. Selain miskin atau kesulitan dalam hal keuangan, janganlah kita abaikan kenyataan bahwa
  • Ada orang-orang yang miskin dalam hal "interaksi sosial". Mereka akan merasa kesepian, merasa ditinggalkan, ditolak atau bahkan dikucilkan. Marilah kita juga berusaha meringankan “kemiskinan” semacam ini. Dekatilah orang-orang yang sedemikian, cobalah untuk menyediakan waktu bersama mereka, bersikaplah baik, dan tawarkanlah dukungan kepada mereka. Ajaklah mereka berbicara.
  • Ada orang-orang yang miskin dalam hal kemampuan "untuk mengampuni". Sebuah luka hati atau jiwa yang dalam dapat saja menjadi suatu kesalahan yang tak terampunkan bagi orang-orang tertentu. Tetapi Tuhan Yesus telah mengajarkan kepada kita, janganlah kita menghakimi atau menghukum dengan cara apa pun, melainkan tunjukkanlah belas kasihan dan berusahalah menolong mereka untuk menuju pada suatu jalan perdamaian. Tuhan Yesus sendiri telah memberikan contoh yang sangat baik, ketika Ia disalibkan. Meskipun harus mengalami kesengsaraan, penderitaan dan penghinaan yang sedemikian hebat, Ia masih memohon kepada Sang Bapa, "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat" (Lukas 23:34)
  • Ada orang-orang yang miskin dalam hal rasa percaya diri. Akibatnya mereka mengalami kesulitan dalam kehidupan sehari-hari. Bisa jadi hal ini akibat sesuatu "benturan" atau masalah yang memberi dampak besar pada mereka. Dalam keadaan seperti ini, marilah kita hadir dan sampaikanlah bahwa mereka tidak sendirian. Kita ada bersama-sama mereka. Ini akan memberi mereka kekuatan.
... supaya ia dapat hidup di antaramu

Tentunya apa yang diajarkan kepada kita di atas, merupakan tantangan yang besar bagi kita dan tidak mudah untuk melakukan dan menerapkan semua aspek yang telah disebutkan di atas.

Menjadi suatu pertanyaan, "Apakah kita mampu untuk berpaling kepada yang membutuhkan, pada saat itu juga, dan apakah kita bisa menggeser kepentingan ki-
ta sendiri? Tentunya tidaklah selalu berhasil dalam melakukannya, tetapi marilah kita mengambil perkataan Yesus sebagai suatu inspirasi: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (Mat. 25:40).

Kalau pada masa itu, kepada orang asing atau pelancong saja, orang Israel diharapkan untuk memberikan perlindungan, mereka diberi kesempatan untuk memenuhi kebutuhan makanan bagi dirinya sendiri, dihargai dan sebagainya terlebih bagi saudara seiman, kerabat sendiri dan sesama, kita diharapkan hendaknya lebih dapat memiliki kepedulian untuk menolong dan membantunya. Tidak seorang pun yang hidup di negeri perjanjian ilahi harus menderita kekurangan apa pun atau kehilangan hak untuk memperoleh penghidupan, dan jangan sampai seorang pun ditolak untuk mendapatkannya.

Apabila kita sedemikian peduli dengan perintah Kristus untuk mengasihi sesama kita, maka tentulah kita akan berusaha untuk menerapkannya ke dalam perbuatan.

Ada sebuah pepatah yang mengatakan: “Seorang yang kaya bukanlah dia yang memiliki banyak, tetapi dia yang memberi banyak.”

Untuk menjadi kaya di dalam Kristus, hendaknya kita belajar dari teladan Yesus tentang bagaimana kita hendaknya memperlakukan sesama kita.

Berbagi membuat kita kaya di dalam Kristus!

Amin.

Indahnya Memberi - Indahnya Berbagi. Bahagianya Memberi

Seorang dosen yang dikenal bijaksana, tengah berjalan santai bersama seorang mahasiswa di taman kampus. Tidak lama keduanya melihat ada sepa...