Bagian Alkitab
Dengan hikmat rumah didirikan, dengan kepandaian itu ditegakkan, dan dengan
pengertian kamar-kamar diisi dengan bermacam-macam harta benda yang berharga dan menarik. (Amsal 24:3,4)
Inspirasi
Ketika seseorang akan membangun suatu rumah, pastilah dalam benaknya sudah terpikir, untuk apa membangun rumah dan seperti apa rumah yang akan dibuat. Kalau sudah jadi, masih mikir lagi, barang apa saja yang diperlukan untuk mengisi rumah kita, termasuk untuk mengisi kamar, dan yang tidak kalah pentingnya adalah bagaimana kita merawat dan memeliharanya. Oleh karena itu, seperti bacaan bagian Alkitab di atas, perlu hikmat, kepandaian dan pengertian, untuk membangun rumah beserta dengan isi-isinya.
Membangun suatu rumah tangga dalam suatu ikatan perkawinan, ibarat seseorang membangun rumah. Perlu dipikirkan, untuk apa kita menikah, bagaimana kita membangun rumah tangga yang baik dan dengan apa kita mengisi hari-hari (kamar-kamar) kita. Tentunya yang juga tidak kalah pentingnya bagaimana kita memelihara dan merawat rumah tangga kita.
Ketika kita mulai membangun rumah, tidak serta merta rumah itu langsung jadi dalam sehari, seperti kisah Roro Jonggrang, yang hampir saja bisa menyelesaikan pembuatan seribu candi dalam sehari. Dibutuhkan proses dan waktu yang tidak singkat. Demikian juga ketika membangun suatu rumah tanggga. Untuk membangun rumah tangga sebagaimana yang diharapkan, perlu proses dan waktu, yang kadang-kadang tidak bisa dalam waktu singkat.
Karena berasal dari bermacam-macam material bahan bangunan yang berbeda, maka dibutuhkan suatu keahlian atau seni untuk memadukan semua bahan yang ada, sehingga nantinya dapat menjadi bangunan yang indah. Ada yang perlu, diubah, dipotong, ada yang perlu dibuang, tetapi ada juga yang perlu diperhalus.
Pasangan yang akan membentuk rumah tangga yang baru, juga berasal dari kepribadian, karakter, latar belakang, lingkungan, pendidikan dan mungkin juga pengharapan yang berbeda, maka untuk dapat mebangun rumah tangga yang baik, dibutuhkan penyesuaian-penyesuaian. Sifat-sifat kita, perbuatan, perkataan, kesombongan, ego dan sikap kita selama masih membujang atau selama masa lajang, mungkin ada yang perlu diubah, dipotong, dibuang dan diperhalus. Dan ini juga membutuhkan waktu dan proses. Dalam hal ini ada satu hal yang sangat penting, yaitu komitmen bersama untuk mau berubah. Semakin cepat hal dapat dilakukan, maka rumah tangga tersebut akan semakin cepat mencapai keberhasilan.
“Rumus” “Saya + Saya = Kita”, dapat menjadi suatu tantangan yang mengasyikan, tapi juga bisa melelahkan, jika kita tidak memiliki komitmen bersama. Maka semakin pentinglah, seperti halnya pada pembangunan rumah, bahwa segala sesuatu perlu direncanakan dengan baik, dibangun sesuai aturan dan terus-menerus dipelihara!
Merencanakan dan membangun dengan hikmat
Sebagai kesimpulan, seperti pada pembangunan sebuah rumah, adalah juga penting untuk membangun satu perkawinan dengan hikmat:
- Banyak hal tergantung pada perencanaan yang baik dan matang, baik secara umum maupun secara detail. Oleh karena itu dalam membangun rumah tangga, adalah suatu hal yang bijak kalau semuanya direncanakan dengan baik untuk meraih masa depan bersama. Meskipun sudah direncanakan dan dipikirkan dengan matang dan baik, selama masa pembanguan sebuah rumah, tidak jarang muncul dan masih saja ada hal-hal yang menimbulkan kejutan dan hal-hal yang tidak kita prediksi. Demikian juga dengan rumah tangga yang dibangun, meski juga sudah dirancang dan dibicarakan dengan baik dan matang, masih saja ada hal-hal yang diluar dugaan dan diluar prediksi masing-masing pasangan. Di sinilah kembali perlu saling memahami, saling mengerti, saling menghargai dan mencoba untuk saling kompromi. Kembali mungkin ada yang perlu dibuang, dipotong, dan diperhalus.
- Pastilah kita ingin membangun rumah yang kokoh, dan untuk itu memerlukan material-material dan bahan-bahan yang baik, termasuk semen yang baik. Bangunan rumah tangga juga akan kokoh berdiri, jika dbangun dengan bahan-bahan yang baik yang kesemuanya direkatkan dengan rasa saling mengasihi, saling menghargai, saling mempercayai, saling mengerti dan ditopang dengan suatu kesetiaan.
Didirikan dengan pengertian
Setiap rumah juga memiliki "masa kadaluarsa”, baik oleh karena proses penuaan secara alami dari bahan-bahan bangunannya atau pengaruh internal, tetapi juga bisa oleh karena faktor eksternal, misalnya pengaruh-pengaruh iklim, cuaca dan lain-lain, itulah sebabnya diperlukan pemeliharaan dan perawatan yang baik, rutin dan teratur, untuk mengatasi dampak-dampak yang tidak kita inginkan.
Di dalam perkawinan juga terdapat pengaruh-pengaruh sedemikian. Pengaruh, ada tidaknya anak dalam perkawinan, pertambahan usia, kebosanan, kehidupan rumah tangga yang hambar dan monoton, merupakan faktor imternal yang bisa menjadikan suatu masalah dalam rumah tangga. Kasih, satu terhadap yang lainnya akan menjadikan mereka kreatif dalam upaya menjaga keharmonisan dan gairah dalam rumah tangga mereka.
Tidak ada manusia yang kebal terhadap pengaruh-pengaruh daya tarik di luar. Lingkungan eksternal seperti lingkungan kerja dan pergaulan, keadaan sosial- ekonomi, dapat memberi pengaruh buruk pada perkawinan, dan ini memerlukan pemeliharaan dan perawatan yang baik, melaui kesetiaan, kebaikan dan kasih. Jangan memberi tempat kepada iri hati, cemburu dan rasa tidak percaya satu dengan yang lain. Lebih-lebih karena perkawinan dimaksudkan untuk selamanya dan tidak terceraikan.
Kasih, pastilah mendapatkan satu tempat dan porsi yang sangat berbeda dalam perjalanan suatu perkawinan. “Proses penuaan” karena rumah tangga yang sudah berlangsung lama, dapat diatasi apabila api kasih senantiasa berkobar-kobar menjadi bara api kasih yang kekal dan setia.
Harta yang kekal berasal dari pengurusan yang teratur
Setelah rumah itu selesai dibangun, barang-barang yang bagus dan indah, perlu kita tempatkan di dalamnya, untuk menjadikan rumah kita nyaman dan menyenangkan. Demikian juga dalam rumah tangga. Beberapa barang atau harta yang perlu ditempatkan di dalamnya antara lain:
- “Peraturan emas”, yang diajarkan Tuhan Yesus, "Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi selurub hukum Taurat dan kitab para Nabi." (Matius 7:12). Jika kita menghendaki suami atau isteri untuk berbuat sesuatu kepada kita, lakukanlah demikian untuk isteri atau suami kita.
- Rasul Paulus menasihatkan, "Sebab itu terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk kemuliaan Allah." (Roma 15:7). Ini berarti untuk menerima dan mengasihi pasanganmu sebagaimana dia adanya, dan bukan seperti yang engkau inginkan.
- Kalau toh samapi terjadi masalah dalam kehidupan berumah tangga, Rasul Paulus juga menganjurkan, agar harta ini hendaknya ada dan tersimpan di dalam rumah yaitu “Janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu” (Ef. 4:26).
Kamar-kamar diisi dengan harta yang sangat berharga dan indah
“Kamar-kamar”, yakni setiap hari yang baru dalam kehidupan perkawinan, hendaknya diisi dengan harta yang berharga dan indah. Harta itu antara lain damai sejahtera, sukacita, kebahagiaan dan kesejahteraan. Jika semua harta ini, setiap hari dapat dikumpulkan, maka akan dapat membawa banyak kebahagiaan dan kepuasan dalam rumah tangga. Dan di dalam masa-masa penderitaan, "harta-harta" itu dapat dikeluarkan untuk mengatasi penderitaan tersebut, dengan saling berbagi dan membantu dengan "harta" yang telah dikumpulkan.
Semoga kita dapat melakukannya.
Amin