Jumat, 31 Januari 2020

Kehadiran Tuhan ditengah-tengah kita

Bagaian Alkitab

"Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka." (Mat.18:20)

Pesan

Tuhan berjanji pada para muridnya untuk menyertai dan selalu ada ditengah-tengah meraka. Rasul Paulus juga menyampaikan apa yang Tuhan nyatakan, "Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau." (Ibr.13:5b). Hal ini berarti bahwa Ia tidak hanya menyertai kita saja, tetapi kemuliaan, pemeliharaan, dan pertolongan-Nya juga akan selalu menyertai mereka yang percaya.

Apa prasyarat untuk dapat mengalami penyertaan / kehadiran Tuhan?

“Dua atau tiga orang berkumpul”. Jadi dari prasyarat ini, Tuhan tidak menyebutkan tempat, sebagai prasyarat untuk dapat mengalami kehadiran-Nya. Ini berarti kita dapat mengalami kehadiran Tuhan dimana saja. Hal ini juga ditegaskan Yesus, "...saatnya akan tiba, bahwa kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem.” (Yoh 4:21). Tuhan berjanji akan hadir di tengah-tengah orang yang berkumpul dalam nama-Nya. Tuhan akan hadir di tengah-tengah keluarga, di meja makan, tempat tidur, dalam perjalanan, tempat kita bekerja, dalam setiap pelayanan kita, di mana pun, asalkan kita bersepakat mengundang-Nya. Begitu dekatnya Tuhan sehingga ada ungkapan, *"Tuhan sangat dekat, hanya sejauh DOA."*

Lantas yang menjadi pertanyaan. Untuk apa kita ke gereja, untuk apa kita hadir ke hadapan takhta kemurahan Allah? Di Mezbah Allah, kita tidak hanya mengalami kehadiran Tuhan, tetapi kita juga dapat berjamu dan memperoleh sabda Pengampunan dosa. Di sinilah pentingnya kita hadir ketika Allah memanggil kita datang ke hadapan takhta kemurahan-Nya.

Nas menyatakan bahwa Tuhan akan hadir apabila ada dua atau tiga orang berkumpul "dalam nama-Nya".  Itu artinya, ketika kita berkumpul, dapat menghadirkan Tuhan apabila dilakukan "dalam nama Yesus Kristus". Ketika kita bersama-sama bersekutu untuk saling melayani, saling mengasihi, saling mengampuni dalam iman pada Yesus Kristus.

Prasyarat berikutnya untuk mengalami kehadiran Tuhan, adalah KEKUDUSAN. “...kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan.” (Ibr. 12:14). Untuk itu Rasul Paulus berkata pada jemaat di Korintus, “...marilah kita menyucikan diri kita dari semua pencemaran jasmani dan rohani, dan dengan demikian menyempurnakan kekudusan kita dalam takut akan Allah.” (2 Kor.7:1). Dunia penuh dengan dosa dan segala macam kecemaran, karena itu melalui karya penebusan-Nya, Tuhan hendak mempersekutukan kembali umat percaya dengan Allah yang kudus.

Amin.

Sabtu, 25 Januari 2020

Agape

Agape adalah istilah Yunani yang berarti 'cinta atau kasih. Cinta atau kasih dalam pengertian istilah Agape adalah cinta yang sifatnya tulus, tidak mengharapkan balas jasa, tidak mementingkan diri sendiri, cinta tanpa batas, atau cinta tanpa syarat (Inggris: unconditional love), tidak pernah egois. 

Dalam tradisi ke-Kristen-an, agape adalah cinta yang bersifat total, kerap diidentikkan dengan kasih Allah terhadap ciptaan-Nya. "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan memperoleh hidup yang kekal. (Yohanes 3:16)

Kasih Tuhan Yesus kepada Allah Sang Bapa dan kepada manusia, juga merupakan contoh tentang kasih yang dimaksudkan dalam Agape. Oleh kasih-Nya yang sedemikian besar kepada Allah Sang Bapa, Tuhan Yesus dengan penuh kemenurutan tetap memenuhi apa yang menjadi kehendak Allah, meski Ia tahu, bahwa Ia harus mengalami penderitaan yang luar biasa. Meskipun Yesus adalah Allah yang sejati, tetapi Ia yang juga adalah manusia sejati sebenarnya merasa miris, untuk dapat memenuhi kehendak Allah. "Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku..." Tapi oleh karena kasih Tuhan yang sedemikian besar kepada Allah, Beliau dapat mengatakan, "...tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki." (Matius 26:39). Dan kita tahu Yesus mengalami penderitaan yang sedemikian berat sebagai wujud kasih-Nya yang sedemikian agung (Agape) dalam memenuhi kehendak Allah untuk menjadi penebus dosa-dosa manusia. Akhirnya Ia pun  dapat mengatakan, "sudah rampung."

Tuhan Yesus juga menjadi teladan dalam kasih kepada manusia sebagaimana yang dimaksud dalam Agape. Hal ini Tuhan Yesus nyatakan ketika Ia mohon kepada Allah, "..., Ya Bapa, ampunilah mereka, karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat,..." (Lukas 23:34), meskipun Yesus mengalami penderitaan yang luar biasa akibat perbuatan mereka. Kasih Yesus juga dinyatakan melalui kepedulian Beliau, meski saat itu Yesus mengalami penderitaan yang berat. Ketika melihat Maria, ibu-Nya, Ia mengatakan dan menunjuk kepada murid-Nya, "Ibu, ini anakmu!"
Selanjutnya Ia berbicara kepada murid-Nya, "ini ibumu!" (lihat Yohanes 19:26-27)

Rasul Paulus juga menjabarkan, bagaimana hendaknya kasih yang diidentikkan dengan Agape dinyatakan. Pada 1 Korintus 13:4-7, dinyatakan sebagai berikut, "Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu." 

Semoga kita dapat mengambil pelajaran dari uraian di atas dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, meskipun hal ini tidak mudah untuk kita lakukan.

Rabu, 22 Januari 2020

Lobang Jarum

Pada masa dimana Tuhan Yesus hidup, maka untuk memberikan perlindungan bagi warga kota,  di kota-kota tertentu dibangunlah suatu tembok kota dengan pintu gerbangnya. Setelah jam tertentu, menjelang malam, pintu gerbang kota akan ditutup. 

Warga kota yang oleh karena kegiatannya, misalnya berdagang atau sedang dalam perjalanan, dan belum sempat masuk ke dalam kota setelah pintu gerbang utama ditutup, mereka masih dapat masuk ke kota dengan melewati sebuah pintu yang cukup sempit di sebelah atau di samping pintu gerbang utama, yang disebut pintu Lobang Jarum.


Jadi pintu Lobang Jarum, adalah pintu tambahan yang dibuat disamping atau disebelah pintu gerbang utama. Ketika sudah menjelang malam dan pintu gerbang utama ditutup, maka lewat pintu lobang jarum inilah, seseorang masih dapat masuk ke dalam kota. Karena pintu ini panjang dan cukup sempit, seperti halnya lubang jarum, dan hanya memiliki ketinggian sekitar 1 meter, maka orang hanya bisa melewatinya satu per satu dan unta yang sedang mengangkut beban atau kebetulan ada orang yang memiliki tubuh berukuran besar, tidak akan bisa melewatinya dan tidak bisa masuk ke dalam kota. Pintu Lobang Jarum ini dijaga oleh para penjaga, dan hanya warga kota saja yang diperbolehkan melewatinya.


Meski unta masih bisa lewat, tetapi untuk melewatinya, penumpang dan barang bawaannya harus diturunkan terlebih dahulu dan harus diperiksa oleh para penjaga. Setelah penumpang dan barang bawaannya diperiksa, si unta baru ditarik untuk dpat melewati pintu lobang jarum yang sempit itu.

Demikian sedikit tentang Lobang Jarum yang disinggung oleh Yesus. "Sekali lagi Aku berkata kepadamu, lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah." (Matius 19:24)

Selasa, 21 Januari 2020

Kristus Memerdekakan

Bagian Alkitab

“Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamupun benar-benar merdeka.” (Yohanes 8:36)

Penjelasan

Dalam pengertian modern, kata “merdeka” berarti
■ orang yang tidak ditawan
■ orang dapat berbicara dan berbuat sesuatu tanpa batasan.

Pada masa-Nya, Yesus menggunakan kata merdeka dengan mengkaitkannya antara seorang budak dengan orang yang bebas. Seorang budak, harus melakukan apa yang menjadi kehendak tuannya dan bekerja untuk mereka tanpa dibayar. Sebaliknya, seorang yang bebas atau merdeka, meskipun sejak kecil harus tetap menuruti kehendak ayahnya atau orang tuanya, tetapi mereka memiliki hak untuk memperoleh warisan. (Baca juga Gal. 4:1-7).

Suatu saat, orang-orang Yahudi marah, ketika Yesus berkata kepada mereka, bahwa Ia dapat memerdekakan mereka. Karena mereka berpikir, meskipun saat itu mereka hidup di bawah penjajahan bangsa Romawi, tetapi mereka cukup bebas dalam melakukan segala sesuatu, sehingga mereka tetap merasa seperti bangsa yang merdeka. Bahkan, mereka boleh tetap mempertahankan identitas mereka, tradisi mereka, tetap boleh percaya pada iman mereka dan pada hukum Yahudi.

Bagaimana dengan kita sebagai orang-orang Kristen Kerasulan Baru? Saat ini kita
hidup dalam sebuah kondisi masyarakat yang didominasi oleh materialisme, yang memberi sedikit dan makin sedikit perhatian dan kepentingan untuk Yesus Kristus dan pekerjaan keselamatan Allah.

Marilah kita tetap fokus untuk menjaga dan memelihara kemerdekaan yang diberikan kepada kita sebagai orang-orang Kristen, dengan tetap menjaga dan memelihara komitmen kita pada apa yang menjadi bagian identitas kita, yaitu iman kepada Yesus Kristus, nilai- nilai Injil, kebaktian, dan doa.

Tuhan menjelaskan kepada orang-orang yang mendengar pengajaran-Nya, bahwa mereka sebenarnya adalah budak-budak dosa. Sejak kejatuhan manusia ke dalam dosa, umat manusia telah menjadi tawanan kejahatan. Mereka kehilangan persekutuan dengan Allah. Itulah sebabnya Sang Putra Allah diutus dan datang ke bumi untuk membebaskan mereka dari tawanan dosa dan kejahatan mereka (Luk. 4:18-19). Berkat jasa kurban-Nya, Yesus dapat membebaskan para pendosa. Orang-orang percaya, yang dibaptis dengan air memiliki kesempatan untuk kembali memiliki kedekatan dnegan Allah dan menerima tenaga untuk melawan dosa (Rm. 6:6-7).

Melalui aktivitas Roh Kudus, pemberitaan Injil dan penerimaan sakramen-sakramen, kita dapat menjadi benar-benar merdeka di dalam Kristus (2 Kor. 3:17). Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita pada saat Kemeteraian Suci, merupakan wujud kasih Allah yang telah dicurahkan ke dalam hati kita dan memberikan kebebasan kita dari hukum Taurat (Rm. 7:6). Selanjutnya kita ingin menyelaraskan hidup kita dengan perintah-perintah Allah, sebagai wujud kasih kita kepada Allah, dan bukan karena paksaan. Kita memilih jalan kemenurutan ini karena memungkinkan kita untuk kembali berada dalam persekutuan dengan Allah (1 Yoh. 3:24).

Berdasarkan kasih kepada umat manusia, Yesus telah berkenan memberikan nyawa-Nya, secara sukarela (Yoh. 10:17-18). Kasih yang Ia tunjukkan kepada kita hendaknya menginspirasi kita untuk membalasnya dengan melayani Dia, sebagai hamba-hamba Kristus (1 Kor. 7:22), tanpa memperhitungkan upah yang akan diberikan kepada kita sebagai balasannya.

Kemerdekaan dikaruniakan oleh Yesus, Ia wujudkan di dalam kasih-Nya yang tanpa syarat. Kasih-Nya tidak terbatas. Kasih-Nya tidak melihat latar belakang orang yang menerimanya, tidak melihat sifat dan karakter seseorang. Kasih-Nya tidak melihat atau memperhitumgkan kesalahan mereka atau bahkan penolakan mereka untuk mengikut Dia, sebelumnya.

Roh mengajar kita untuk mengasihi sesama sebagaimana yang diteladankan Yesus, dengan membebaskan atau memerdekakan diri kita dari segala prasangka. Kasih kita kepada para pendosa dimaksudkan agar mereka dapat memperoleh keselamatan dan menunjukkan kepada mereka jalan untuk meraihnya.

Di dalam kasih-Nya, Yesus membasuh kaki para murid-Nya, suatu tugas yang biasanya dilakukan oleh seorang budak. Ia meminta kita untuk mengikuti contoh teladan-Nya (Yoh. 13:14).

Kemerdekaan kita di dalam Kristus bukan berarti hidup sedukanya, seperti yang kita
inginkan tanpa peduli dengan orang lain, melainkan untuk dapat saling melayani berdasarkan kasih (Gal. 5:13).

Pada saat kedatangan-Nya kembali, Kristus akan membebaskan mereka yang telah dengan setia mengikut Dia sejak mereka masih sebagai pendosa. Mereka akan mengenakan tubuh kebangkitan, mereka akan disempurnakan oleh kemurahan Allah, dan mereka akan mewarisi kerajaan Allah. Allah akan melanjutkan rencana
kelepasan-Nya selama kerajaan damai seribu tahun, sehingga semua manusia dapat
diselamatkan. Setelah Penghakiman yang Terakhir, yang diberi kemurahan akan diizinkan masuk ke dalam ciptaan yang baru, juga akan dibebaskan dari perbudakan kebinasaan, dan akan membawanya ke dalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah (Rm. 8:20-22).

Senin, 20 Januari 2020

Lebih dari sekedar Merdeka

BACAAN ALKITAB

“Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamupun benar-benar merdeka.” (Yohanes 8:36)

Renungan

Oleh karena melakukan suatu kejahatan, seorang terpaksa harus dimasukkan ke dalam penjara, menjadi tawanan  dan menghadapi ancaman maut yaitu, kematian. Ia masih dapat lepas dari ancaman itu, jika ada seseorang yang membayar uang tebusan. Beruntunglah dia. Ada seseorang Tuan, yang amat sangat kaya, yang memiliki belas kasihan yang sangat besar, yang mau menebusnya. Tidak tanggung-tanggung, Sang Tuan tersebut membayar tebusan itu dengan memberikan hartanya yang paling berharga, yang ia miliki. Oleh karena sedemikian besarnya nilai tebusan tersebut, bahkan seluruh penghuni penjara, jika mereka mau, dapat terbebas dan menjadi orang yang merdeka. Sang Tuan ini bahkan menawarkan, tidak hanya kebebasan dan kemerdekaan kepada orang-orang tawanan tersebut, lebih dari itu Ia menawarkan kepada orang-orang yang terbebas ini, untuk menjadi anak-anaknya, dan menjadikan mereka ahli waris.

Meskipun telah membayar tebusan yang sedemikian besar nilainya, tetapi Sang Tuan ini, tidak memaksa para tawanan ini untuk menerima tawaran yang telah disampaikan.

Bagi mereka yang tidak mau menjadi anak-anaknya, Sang Tuan ini menempatkan mereka di depan pintu penjara dan memberi kebebasan bagi mereka untuk pergi kemana mereka mau. Sekali lagi, Sang Tuan ini tidak mau memaksa, meski, Ia tetap memiliki keinginan besar untuk menjadikan mereka semua sebagai anak-anak-Nya, dan menjadikan mereka sebagai ahli waris-Nya.

Sedangkan bagi mereka yang mau menerima tawaran ini, mereka akan diberi meterai, sebagai tanda bahwa mereka telah menjadi anak-anak-Nya dan ahli waris dari Sang Tuan ini. Mereka juga harus mau mengikuti, menuruti dan mempercayai para utusannya, yang telah diberi tugas dan tanggung jawab untuk menuntun mereka ke rumah Sang Tuan, yang telah menjadi Bapa mereka.

Dari cerita di atas, orang yang berbuat kejahatan itu adalah kita. Dosa adalah suatu kejahatan dan upah dari dosa adalah maut. Karena kejahatan dosa ini, kita terancam kematian. Beruntung Allah yang Mahabaik, Allah yang Mahakaya, dan Allah yang Mahasayang telah berbelas kasihan kepada manusia. Ia menawarkan kemerdekaan, kebebasan kepada manusia.

Tidak tanggung-tanggung, tebusan yang Allah berikan merupakan harta Allah yang paling berharga, yaitu Anak-Nya yang tunggal, Tuhan Yesus Kristus. Jasa kurban Tuhan Yesus mampu untuk menebus dan memerdekakan semua manusia yang tertawan oleh dosa.

Melalui Baptisan Suci, mereka yang mau meraih jasa kurban Tuhan Yesus, dibebaskan dan dimerdekakan dari tawanan dosa. “Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamupun benar-benar merdeka.” (Yohanes 8:36)
Tetapi itu hanya membawa mereka keluar dan berdiri di depan pintu penjara.

Kemurahan dan belas kasihan Sang Tuan, tidak berhenti sampai di situ. Ia menawarkan ke-Anak-an di dalam Allah kepada manusia yang telah dibebaskan dari tawanan dosa ini, sehingga mereka dapat menjadi Anak-anak Allah dan menjadikan mereka ahli waris kerajaan sorga.

Mereka yang mau  menerima tawaran ini akan menerima karunia ROH KUDUS sebagai METERAI bagi mereka, bahwa mereka telah menjadi anak-anak Allah, sehingga mereka dapat menyebut-Nya, "Ya Abba, Ya Bapa" (lihat Roma 8:14-16) dan menjadi ahli waris kerajaan sorga (Roma 8:17). Karunia Roh Kudus ini dapat diterima manusia melalui tumpangan tangan Rasul Tuhan yang hidup dalam KETERAIAN SUCI.

Mereka yang telah menerima kemerdekaan dari tawanan dosa melalui Baptisan Suci dan ke-anak-an di dalam Allah melalui Kemeteraian Suci, selanjutnya harus menerima, percaya, mengikut dan menuruti para utusan-Nya yang akan membawa mereka pulang ke rumah Sang Bapa, di dalam kerajaan sorga. Di sanalah Kemerdekaan yang SEJATI akan dialami oleh setiap manusia.

Para utusan ini tidak hanya membimbing dan menuntun manusia menuju rumah Sang Bapa, tapi selama perjalanan menuju rumah Sang Bapa, mereka juga ditugaskan untuk merawat, memelihara dan menjaga mereka-mereka yang telah menjadi anak-anak Allah ini. Mereka juga ditugaskan untuk menjaga kebersihan anak-anak Allah, yang dengan kuasa yang diberikan, mereka dapat membersihkan dosa-dosa, yang mungkin kembali mengotori dan membahayakan anak-anak Allah. "Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jiaklau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada." (Yohanes 20:23).

Kesimpulan

Baptisan suci, akan membebaskan seseorang dari tawanan dosa-dosa asal (akibat kejatuhan Adam dan Hawa dalam dosa), tetapi, itu tidak otomatis akan membawa seseorang dapat masuk ke dalam sorga. Seseorang perlu dimeteraikan oleh Roh kudus, melalui penerimaan Kemeteraian Suci dari tangan seorang Rasul yang hidup, untuk menjadi seorang anak Allah dan diperkenankan untuk menjadi ahli waris kerajaan sorga. Selanjutnya, mereka harus mau menerima, percaya dan mengikut para utusan-Nya, yang akan menuntun, membimbing dan membawa mereka ke rumah Sang Bapa yang kekal di Sorga.


Sabtu, 18 Januari 2020

Membangun Rumah Tangga

Bagian Alkitab

Dengan hikmat rumah didirikan, dengan kepandaian itu ditegakkan, dan dengan
pengertian kamar-kamar diisi dengan bermacam-macam harta benda yang berharga dan menarik. (Amsal 24:3,4)

Inspirasi

Ketika seseorang akan membangun suatu rumah, pastilah dalam benaknya sudah terpikir, untuk apa membangun rumah dan seperti apa rumah yang akan dibuat. Kalau sudah jadi, masih mikir lagi, barang apa saja yang diperlukan untuk mengisi rumah kita, termasuk untuk mengisi kamar, dan yang tidak kalah pentingnya adalah bagaimana kita merawat dan memeliharanya. Oleh karena itu, seperti bacaan bagian Alkitab di atas, perlu hikmat, kepandaian dan pengertian, untuk membangun rumah beserta dengan isi-isinya.

Membangun suatu rumah tangga dalam suatu ikatan perkawinan, ibarat seseorang membangun rumah. Perlu dipikirkan, untuk apa kita menikah, bagaimana kita membangun rumah tangga yang baik dan dengan apa kita mengisi hari-hari (kamar-kamar) kita. Tentunya yang juga tidak kalah pentingnya bagaimana kita memelihara dan merawat rumah tangga kita.

Ketika kita mulai membangun rumah, tidak serta merta rumah itu langsung jadi dalam sehari, seperti kisah Roro Jonggrang, yang hampir saja bisa menyelesaikan pembuatan seribu candi dalam sehari. Dibutuhkan proses dan waktu yang tidak singkat. Demikian juga ketika membangun suatu rumah tanggga. Untuk membangun rumah tangga sebagaimana yang diharapkan, perlu proses dan waktu, yang kadang-kadang tidak bisa dalam waktu singkat.

Karena berasal dari bermacam-macam material bahan bangunan yang berbeda, maka dibutuhkan suatu keahlian atau seni untuk memadukan semua bahan yang ada, sehingga nantinya dapat menjadi bangunan yang indah. Ada yang perlu, diubah, dipotong, ada yang perlu dibuang, tetapi ada juga yang perlu diperhalus.

Pasangan yang akan membentuk rumah tangga yang baru, juga berasal dari kepribadian, karakter, latar belakang, lingkungan, pendidikan dan mungkin juga pengharapan yang berbeda, maka untuk dapat mebangun rumah tangga yang baik, dibutuhkan penyesuaian-penyesuaian. Sifat-sifat kita, perbuatan, perkataan, kesombongan, ego dan sikap kita selama masih membujang atau selama masa lajang, mungkin ada yang perlu diubah, dipotong, dibuang dan diperhalus. Dan ini juga membutuhkan waktu dan proses. Dalam hal ini ada satu hal yang sangat penting, yaitu komitmen bersama untuk mau berubah. Semakin cepat hal dapat dilakukan, maka rumah tangga tersebut akan semakin cepat mencapai keberhasilan.

“Rumus” “Saya + Saya = Kita”, dapat menjadi suatu tantangan yang mengasyikan, tapi juga bisa melelahkan, jika kita tidak memiliki komitmen bersama. Maka semakin pentinglah, seperti halnya pada pembangunan rumah, bahwa segala sesuatu perlu direncanakan dengan baik, dibangun sesuai aturan dan terus-menerus dipelihara!

Merencanakan dan membangun dengan hikmat

Sebagai kesimpulan, seperti pada pembangunan sebuah rumah, adalah juga penting untuk membangun satu perkawinan dengan hikmat:

  • Banyak hal tergantung pada perencanaan yang baik dan matang, baik secara umum maupun secara detail. Oleh karena itu dalam membangun rumah tangga, adalah suatu hal yang bijak kalau semuanya direncanakan dengan baik untuk meraih masa depan bersama. Meskipun sudah direncanakan dan dipikirkan dengan matang dan baik, selama masa pembanguan sebuah rumah, tidak jarang muncul dan masih saja ada hal-hal yang menimbulkan kejutan dan hal-hal yang tidak kita prediksi. Demikian juga dengan rumah tangga yang dibangun, meski juga sudah dirancang dan dibicarakan dengan baik dan matang, masih saja ada hal-hal yang diluar dugaan dan diluar prediksi masing-masing pasangan. Di sinilah kembali perlu saling memahami, saling mengerti, saling menghargai dan mencoba untuk saling kompromi. Kembali mungkin ada yang perlu dibuang, dipotong, dan diperhalus.
  • Pastilah kita ingin membangun rumah yang kokoh, dan untuk itu memerlukan material-material dan bahan-bahan yang baik, termasuk semen yang baik. Bangunan rumah tangga juga akan kokoh berdiri, jika dbangun dengan bahan-bahan yang baik yang kesemuanya direkatkan dengan rasa saling mengasihi, saling menghargai, saling mempercayai, saling mengerti dan ditopang dengan suatu kesetiaan.

Didirikan dengan pengertian

Setiap rumah juga memiliki "masa kadaluarsa”, baik oleh karena proses penuaan secara alami dari bahan-bahan bangunannya atau pengaruh internal, tetapi juga bisa oleh karena faktor eksternal, misalnya pengaruh-pengaruh iklim, cuaca dan lain-lain, itulah sebabnya diperlukan pemeliharaan dan perawatan yang baik, rutin dan teratur, untuk mengatasi dampak-dampak yang tidak kita inginkan.

Di dalam perkawinan juga terdapat pengaruh-pengaruh sedemikian. Pengaruh, ada tidaknya anak dalam perkawinan, pertambahan usia, kebosanan, kehidupan rumah tangga yang hambar dan monoton, merupakan faktor imternal yang bisa menjadikan suatu masalah dalam rumah tangga. Kasih, satu terhadap yang lainnya akan menjadikan mereka kreatif dalam upaya menjaga keharmonisan dan gairah dalam rumah tangga mereka.

Tidak ada manusia yang kebal terhadap pengaruh-pengaruh daya tarik di luar. Lingkungan eksternal seperti lingkungan kerja dan pergaulan, keadaan sosial- ekonomi, dapat memberi pengaruh buruk pada perkawinan, dan ini memerlukan pemeliharaan dan perawatan yang baik, melaui kesetiaan, kebaikan dan kasih. Jangan memberi tempat kepada iri hati, cemburu dan rasa tidak percaya satu dengan yang lain. Lebih-lebih karena perkawinan dimaksudkan untuk selamanya dan tidak terceraikan.

Kasih, pastilah mendapatkan satu tempat dan porsi yang sangat berbeda dalam perjalanan suatu perkawinan. “Proses penuaan” karena rumah tangga yang sudah berlangsung lama, dapat diatasi apabila api kasih senantiasa berkobar-kobar menjadi bara api kasih yang kekal dan setia.

Harta yang kekal berasal dari pengurusan yang teratur

Setelah rumah itu selesai dibangun, barang-barang yang bagus dan indah, perlu kita tempatkan di dalamnya, untuk menjadikan rumah kita nyaman dan menyenangkan. Demikian juga dalam rumah tangga. Beberapa barang atau harta yang perlu ditempatkan di dalamnya antara lain:
  1. “Peraturan emas”, yang diajarkan Tuhan Yesus, "Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi selurub hukum Taurat dan kitab para Nabi." (Matius 7:12). Jika kita menghendaki suami atau isteri untuk berbuat sesuatu kepada kita, lakukanlah demikian untuk isteri atau suami kita.
  2. Rasul Paulus menasihatkan, "Sebab itu terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk kemuliaan Allah." (Roma 15:7). Ini berarti untuk menerima dan mengasihi pasanganmu sebagaimana dia adanya, dan bukan seperti yang engkau inginkan.
  3. Kalau toh samapi terjadi masalah dalam kehidupan berumah tangga, Rasul Paulus juga menganjurkan, agar harta ini hendaknya ada dan tersimpan di dalam rumah yaitu “Janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu” (Ef. 4:26).

Kamar-kamar diisi dengan harta yang sangat berharga dan indah

“Kamar-kamar”, yakni setiap hari yang baru dalam kehidupan perkawinan, hendaknya diisi dengan harta yang berharga dan indah. Harta itu antara lain damai sejahtera, sukacita, kebahagiaan dan kesejahteraan. Jika semua harta ini, setiap hari dapat dikumpulkan, maka akan dapat membawa banyak kebahagiaan dan kepuasan dalam rumah tangga. Dan di dalam masa-masa penderitaan, "harta-harta" itu dapat dikeluarkan untuk mengatasi penderitaan tersebut, dengan saling berbagi dan membantu dengan "harta" yang telah dikumpulkan.

Semoga kita dapat melakukannya.

Amin

Jumat, 17 Januari 2020

Jalan menuju Hidup Baru

Bagian Alkitab

Karena kamu telah dilahirkan kembali bukan dari benih yang fana, tetapi dari benih yang tidak fana, oleh firman Allah, yang hidup dan yang kekal." (1Ptr 1:23)

PESAN

Lahir Baru atau Hidup Baru tidak hanya sebatas tindakan sakramental. Hidup baru ialah anugerah dari Allah yang diterima oleh manusia, sehingga diharapkan manusia dapat lebih dekat lagi  kepada Allah dan nantinya dapat hidup kekal bersama dengan Allah di dalam kerajaan-Nya.

Untuk dapat dilahirkan kembali dan memiliki hidup yang baru, syarat yang utama dan terutama adalah percaya pada Yesus, karena Yesus adalah Sang Kehidupan itu sendiri (lihat Yohanes 6:14). Iman kepada Yesus inilah yang akan membawa manusia dapat dilahirkan kembali dan memiliki hidup yang baru.

Kata Nikodemus kepada-Nya: "Bagaimanakah mungkin seorang dilahirkan, kalau ia sudah tua? Dapatkah ia masuk kembali ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan lagi?" Jawab Yesus: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah. (Yohanes 3:4-5)

Dengan kelahiran dengan air dan Roh inilah, manusia dimungkinkan untuk dapat memiliki kedekatan kembali dengan Allah. Tetapi sebagaimana yang disebutkan di atas, lahir baru atau hidup baru, tidak hanya sebatas tindakan sakramental. Manusia harus menjadikan Yesus Kristus sebagai orientasi hidupnya (teladan hidup). Manusia harus menjadikan Yesus sebagai juruselamat hidupnya, barulah ia dapat dikatakan telah memiliki hidup baru. Hidup baru atau lahir baru bukan hanya sekedar dapat mengenal Allah, tetapi benar-benar hidupnya telah berubah dari hidup yang sebelumnya, yang hanya mengutamakan hal-hal yang fana, menjadi hidup yang lebih rohani, yang menjadikan Yesus Kristus sebagai orientasi hidupnya (teladan hidup).

Di dalam kehidupan sekarang, di mana zaman semakin modern dan semakin canggih, membuat perilaku dan kehidupan manusia ikut berubah. Manusia sekarang semakin hari, semakin menjauh dari Allah, akibat dari semakin banyaknya dosa yang diperbuat manusia. Dosa inilah yang menjauhkan manusia dari Allah.

Disinilah manusia perlu memiliki hidup baru, dan mengisi hidupnya dengan menselaraskan hidupnya sesuai dengan teladan Yesus dan lebih mengenal Allah dengan lebih dekat. Manusia juga perlu senantiasa sadar akan dosa-dosa perbuatannya. Apalagi manusia sudah semakin banyak meninggalkan Allah, dan lebih dekat dengan dosa-dosa duniawi. Dengan hidup baru berarti orang  berjuang untuk melepaskan diri dari kecenderungan berbuat dosa,  dan menerima Kristus sebagai jalan, kebenaran dan hidup; Kristus sebagai Tuhan dan juruselamatnya. Proses perubahan hidup tersebut sangat membuthkan komitmen, kesetiaan, ketaatan dna kemenurutan kita.

Selamat "HIDUP BARU" dengan menjadikan Kristus sebagai model atau teladan hidup.

Selasa, 14 Januari 2020

Menepis Keraguan

Nas Alkitab

Adapun ular ialah yang paling cerdik dari segala binatang di darat yang dijadikan oleh TUHAN Allah. Ular itu berkata kepada perempuan itu: “Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?” (Kejadian 3:1)

Pengajaran

Pada masa peciptaan, seperti yang tertulis dalam kitab Kejadian, pada dasarnya dapat dipisahkan menjadi dua kisah penciptaan. Yang pertama menceritakan kisah tentang penciptaan alam, yang terjadi dalam tujuh hari. Sementara yang kedua tentang Taman Eden, Adam dan Hawa, dan kejatuhan manusia lertama ke dalam dosa.

Kisah kedua dari sejarah penciptaan, menjelaskan hubungan yang erat, yang terjalin antara Allah dan manusia di Taman Eden. Namun, ular yang licik itu, juga hadir, dan si ular itu, berhasil menimbulkan keraguan tentang maksud baik Allah, bagi manusia.

Ular itu bertanya: “Tentulah Allah berfirman: "Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?” Perempuan itu menjawab dengan mengatakan bahwa mereka sebenarnya diizinkan untuk makan dari semua pohon di taman itu kecuali dari satu pohon. Jawaban ini benar, tetapi ular itu kemudian melanjutkan dengan mempertanyakan maksud baik Allah, yang tidak memperbolehkan manusia makan dari satu pohon yang ditelah ditentukan Allah. Ular itu mengklaim, bahwa Allah menyembunyikan sesuatu dari mereka: “tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi sama seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat.” (Kej. 3:5).

Meskipun pasangan manusia itu hidup dalam persekutuan dengan Allah, tapi mereka pada akhirnya melanggar kehendak ilahi. Apa yang nyata di sini adalah kurangnya pengandalan mereka pada kasih dan kebaikan Allah.

Di dalam kasus Adam dan Hawa, keraguan kepada Allah ini timbul karena mereka percaya pada kata-kata si ular: “Sekali-kali kamu tidak akan mati” (Kej. 3:4). Ular itu mengklaim bahwa Allah seolah-olah ingin mencegah mereka untuk menjadi seperti Dia dan menghalangi mereka memiliki pengetahuan akan yang baik dan yang jahat.

Keraguan kepada Allah telah merebak pada manusia, sejak si ular menyatakan pertanyaan itu. Sejak munculnya keraguan yang pertama ini, Alkitab menyebutkan ada beberapa orang yang mendapatkan janji untuk memperoleh pertolongan Allah, tetapi mereka memiliki keraguan, apakah Allah akan benar-benar mampu mempertahankan dan menggenapi janji-janji-Nya. Sebab apa yang dijanjikan Allah, seringkali berlawanan dengan pengalaman yang dialami manusia dan apa yang terjadi selama ini. Apakah Ia akan sungguh-sungguh menjaga janji-Nya.

Sebagai contoh

  • Abraham. Abraham ragu terhadap janji Allah bahwa ia dan istrinya akan memiliki seorang anak laki-laki di usia mereka yang sudah lanjut. Abraham dan Sarah bahkan menertawakan janji Allah ini (Kej. 17:17; 18:12).
  • Maria. Pada awalnya, Maria ragu ketika malaikat menjanjikan bahwa ia akan melahirkan seorang Anak laki-laki: “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” (Luk. 1:34).

Abraham, Sarah, dan Maria, semuanya sebenarnya tahu bahwa tidak ada yang mustahil bagi Allah (Luk. 1:37; Kej. 18:14). Tapi karena kurangnya pengandalan, timbullah keraguan dalam diri mereka. Pengandalan kepada Allah sebenarnya akan menolong mereka untuk mengatasi keraguan mereka.

Keraguan-keraguan kita

Iman seringkali menderita karena timbulnya keraguan, sebagai contoh, ketika kita mendapatkan pengalaman-pengalaman yang bertentangan dan tidak sesuai dengan harapan-harapan kita. Keraguan dapat timbul, misalnya, ketika kita menderita.

Jika saat itu terjadi, marilah kita ingatkan diri kita bahwa Allah tidak selalu menjanjikan bagi kita suatu kehidupan yang menyenangkan, tetapi Allah menjanjikan keselamatan. Jika kita percaya kepada Yesus Kristus, bersaksi tentang Dia di dalam perkataan dan perbuatan, dan jika kita mau menerima sakramen-sakramen, maka Ia akan berdiri menyertai kita untuk menolong kita meraih ke-
selamatan, meski segala penderitaan yang ada. Kita dapat mengandalkan pada ke-
nyataan bahwa Allah mengasihi kita seperti Ia mengasihi Yesus.

Allah sangat menginginkan keselamatan kita, khususnya ketika kita dihadapkan pada situasi-situasi di mana bencana dan kejahatan merajaĺela dan menguasai kita. Marilah kita tempatkan pengandalan kita kepada Allah. Maka beban-beban yang Ia taruhkan ke atas diri kita, akan lebih mudah untuk dipikul. Kita kemudian akan hidup dengan sudut pandang bagaimana kita hendaknya dapat memperoleh keselamatan dan persekutuan di dalam kerajaan Allah. Lalu kita tidak akan ragu lagi bahwa kebenaran Allah akan unggul pada akhirnya.

Saat hal itu terjadi, kita tidak akan lagi memiliki pertanyaan atau keraguan apa pun. Sampai saat itu tiba, pastilah kita masih akan berhadapan dan menangani keraguan dan pertanyaan-pertanyaan yang tak terjawab.

Senin, 13 Januari 2020

Kebaikan kecil yang mengubah kehidupan

Bagian Alkitab

Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah. Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, ... (Galatia 6:9-10).

Renungan

Glen Oliver adalah seorang pria yang  berasal dari Kanada. Ia sering membeli kopi di drive thru Tim Horton di Durham, Ontario. Saat membeli kopi, ia sering membeli makanan ringan untuk pengemudi mobil dibelakangnya. Dan ia selalu menitipkan pesan hangat kepada pelayan drive thru untuk disampaikan kepada pengemudi mobil di belakangnya, "Semoga harimu menyenangkan."

Suatu hari, di bulan Nopember, ketika isteri Oliver sedang membaca koran, ada satu artikel yang menarik perhatiannya dan membuatnya menangis. Ia pun segera menyampaikan artikel itu kepada Oliver, suaminya. Artikel itu berjudul: "Secangkir kopi dan biskuit, menyelamatkan Hidup seorang pria."

Ceritanya sebagai berikut :

Pria, si penulis itu menceritakan dalam artikel tersebut, "Beberapa bulan yang lalu, hidup saya seperti berada dalam lorong yang gelap. Dan saya ingin untuk mengakhiri hidup saya. 18 Juli, hampir menjadi hari terakhir dalam hidup saya. Di hari yang sama, saya pergi ke drive thru Tim Horton, untuk membeli kopi. Tepat ketika saya akan membayar, dengan tersenyum ramah, pelayan di sana berkata bahwa "pengemudi mobil di depan anda, telah membayar untuk anda dan berharap, hari anda menyenangkan"

Saya bertanya-tanya dan benar-benar ingin tahu, mengapa ini terjadi pada saya. Mengapa hanya pada hari itu. Saya pun teringat pada Tuhan dan percaya pada mukjizat-Nya. Saya pikir itu adalah suatu pertanda, "Tindakan kebaikan ini terjadi pada saya, pasti ada alasannya."

Setelah pulang ke rumah, saya menangis dan memutuskan untuk menjadikan hidup saya berguna bagi orang lain, menggunakan hidup saya untuk membantu orang lain. Saya akan membantu tetangga saya memindahkan dan membongkar perabotan. Sejak hari itu, saya selalu berusaha untuk membantu orang lain. Sejak saat itu hidup saya berubah. Saya ingin mengatakan kepada orang baik yang mengendari mobil SUV di depan saya hari itu...., 

"Saya sangat berterima kasih pada Anda"

"Dan saya ingin Anda tahu bahwa kebaikan Anda, benar-benar telah menyelamatkan dan mengubah hidup saya..."

Pada tanggal 18 Juli 2017, saya mengalami hari yang sangat  menyenangkan dalam hidup saya. Saya tidak akan pernah melupakan hari itu seumur hidup saya.

Setelah membaca artikel itu, Gran Oliver terkejut. Dia seolah-olah tidak percaya. Sebenarnya, apa yang ia lakukan, hanyalah bantuan kecil, tapi ternyata memiliki dampak yang sangat besar pada kehidupan orang ini. "Ini sangat berarti bagi saya. Siapa bisa menyangka, hanya secangkir kopi dan makanan ringan, dapat memainkan peran yang sangat besar. Saya menjadi sangat tersentuh", kata Gran Oliver.

Pesan

Anda mungkin tidak terlalu memikirkan dan menyadari saat Anda menawarkan kebaikan pada orang lain. Tapi sebenarnya, pada saat itu Anda telah mengungkapkan kasih Anda, yang keluar dari dalam hati Anda. Tanpa kita sadari, sering kali kebaikan sekecil apa pun, bisa membantu dan menginspirasi orang lain di sekitar kita. 

Jadi, jangan pernah ragu untuk membantu atau menolong orang lain dan berbagi kebaikan Anda, dengan hati yang tulus, jujur dan terbuka. Karena semua itu, pada waktunya akan jatuh pada "tanah" yang baik, bisa menyentuh hati setiap orang dan memberikan yang terbaik dari kita semua. Saat itulah kita akan melihat dan menuai hasilnya. 
    

Tuhan, apa yang Engkau kehendaki untuk kulakukan bagi sesamaku hari ini? Utuslah aku, dan kiranya, orang itu dapat melihat dan merasakan kasih-Mu, lewat kata dan perbuatanku.

Pengharapan pada Allah

Bagian Alkitab

Pengharapan itu adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita, yang telah dilabuhkan sampai ke belakang tabir, di mana Yesus telah masuk sebagai Perintis bagi kita, ketika Ia, menurut peraturan Melkisedek, menjadi Imam Besar sampai selama-lamanya." (Ibrani 6:19-20).

PESAN

Sauh atau jangkar pada kapal yang dilemparkan di dasar laut berguna untuk mempertahankan kapal agar tetap pada posisi semula. Sehingga kapal tetap AMAN, tidak mudah terombang-ambing atau hanyut oleh karena ombak atau arus laut.

Bagian Alkitab di atas menyatakan bahwa PENGHARAPAN di dalam Yesus Kristus adalah SAUH yang kuat dan aman bagi kita. Jangan menaruh pengharapan pada manusia ataupun dunia, karena tidak ada yang tetap dan abadi  di dunia ini. Apabila seseorang tidak memiliki pengharapan, maka ketika ada ombak atau angin menerpa, hidupnya akan mudah terombang-ambing dan bahkan dapat hanyut terbawa arus.

Ketika kita sedang sakit, kita bisa berharap kepada KUASA dan KASIH SETIA Yesus Kristus untuk menolong dan menyembuhkan (1 Petrus 2:24). Ketika kita sedang kesulitan financial, kita bisa berdoa dengan PENGHARAPAN IMAN bahwa berkat Tuhanlah yang menjadikan kaya, susah payah tidak akan menambahinya (Amsal 10:22). Pengharapan, menolong kita untuk tetap setia dan fokus kepada JANJI Tuhan di dalam FIRMAN-Nya. Demikian juga pengharapan IMAN kita untuk dapat memiliki hidup kekal,  Yesus Kristus berjanji pada umat pilihan-Nya yang setia untuk mengalami PERSEKUTUAN kekal dalam rumah Bapa di sorga: "Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempatKu, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada."  (Yoh 14:3)

Mengapa kita harus berpengharapan pada Tuhan? Karena Kristus adalah “YA” bagi semua janji Tuhan dan itulah sebabnya oleh Dia kita mengatakan “AMIN” untuk memuliakan Tuhan (2 Korintus 1:20). Ia SETIA dan BERKUASA untuk menggenapi
janji-janji-Nya. Alkitab menyerukan: "Marilah kita teguh berpegang pada pengakuan tentang pengharapan kita, sebab Ia, yang menjanjikannya, setia." (Ibr 10:23).

Amin.

Waktu yang terbatas

Bagian Alkitab

Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya. Ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk meninggal, ada waktu untuk menanam, ada waktu untuk mencabut yang ditanam." (Pengkhotbah 31-2)

Renungan

Setiap kejadian peristiwa di muka bumi selalu ada masanya. Demikian juga dengan kehidupan manusia di muka bumi ini, ada masanya. Lebih jauh lagi, kehidupan manusia juga dibatasi oleh dimensi waktu.

Sampai saat ini, sehebat dan sepintar apa pun, seseorang belum ada dan takkan mampu menahan lajunya sang waktu yang terus berjalan tanpa kompromi, sampai pada akhirnya, manusia dihadapkan pada perhentian.  Oleh sebab itu jangan pernah sekalipun kita menyia-nyiakan waktu dan jangan biarkan waktu berlalu dengan sia-sia, tanpa makna.

Musa berdoa, "Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana." (Mazmur 90:12). Semakin kita menyadari betapa pentingnya waktu, maka kita akan semakin bijak dalam menjalani kehidupan ini. Kesadaran seseorang akan pentingnya waktu, akan semakin memengaruhi tingkat produktivitas dan kesungguhan dalam menggunakan waktu.

Dari pemahaman dan pengertian akan penting dan terbatasnya waktu, muncullah kalimat bijak: "Bekerjalah segiat mungkin, seolah-olah engkau akan hidup seribu tahun lagi, dan beribadahlah dengan sungguh-sungguh seolah-olah, esok engkau akan mati." Karena waktu itu sangat terbatas, kita harus bisa menggunakannya secara seimbang, antara bekerja dan beribadah.

Begitu jatah waktu dari Tuhan sudah habis, berakhir pula waktu kita untuk berjerih lelah di dunia ini.  Bukan berarti semuanya sudah tamat, justru saat itulah babak baru dimulai, kita harus memberikan pertanggungan jawab kepada Tuhan segala perbuatan kita selama di dunia._

Mumpung segala sesuatunya belum terlambat, maka selagi kita masih diberi kesempatan untuk hidup, buatlah pilihan hidup yang benar dan isilah hidupmu dengan perbuatan-perbuatan atau pekerjaan-pekerjaan baik, sesuai !”

Minggu, 12 Januari 2020

*DISELAMATKAN OLEH KEMURAHAN ALLAH

Nas Alkitab

Tetapi ketika nyata kemurahan Allah, Juruselamat kita, dan kasih-Nya kepada manusia, pada waktu itu Dia telah menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmatNya oleh permandian kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus,..." (Tit 3:4-5)

Pesan

Perikop ini menjelaskan, bahwa keselamatan adalah sepenuhnya karya Tuhan, dan manusia tidak melakukan satu perbuatan baik apapun untuk mendapatkannya.
Perikop ini menunjuk bahwa “hidup kekal itu sepenuhnya anugerah Tuhan.”

"Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.” (Ef 2:10).

Apa maksud ayat ini? Ini menegaskan, bahwa setiap orang yang diciptakan (diselamatkan) dalam Kristus harus melakukan pekerjaan baik dan harus berusaha hidup di dalamnya. Dengan kata lain, setelah seseorang diselamatkan ia harus melakukan perbuatan baik, yang harus menjadi bagian dari kehidupannya,  bukan untuk menyelamatkannya saja tetapi sebagai bukti bahwa ia sungguh-sungguh percaya pada Yesus.

Setiap orang percaya harus berkomitmen dan berdedikasi untuk itu. Semakin dewasa kerohanian seseorang akan semakin tinggi dedikasinya dalam melakukan perbuatan baik. Pekerjaan baik sedemikian merupakan suatu aplikasi ketaatan seseorang pada apa yang diterima dan dipelajari dari Firman Tuhan.

Ia sadar, bahwa sesulit apapun perintah itu, ia harus belajar menaatinya sesempurna mungkin, dan Roh Kudus akan memampukannya untuk terus menaatinya. Ini merupakan buah pembaharuan dalam diri seorang percaya.

Tetapi pada akhirnya yang dihitung oleh Tuhan bukan "HASIL", tetapi "NIAT atau USAHA" yang dilakukan dalam kasih, pengharapan dan iman dalam Kristus.

Meraih Kehidupan yang Berhasil

Nas Alkitab

“Segala sesuatu diperbolehkan.” Benar, tetapi bukan segala sesuatu berguna. “Segala
sesuatu diperbolehkan.” Benar, tetapi bukan segala sesuatu membangun. (1 Korintus 10:23)

Pengajaran

Oleh karena bujukan si ular, manusia yang pertama jatuh ke dalam dosa. Sebagai akibat jatuhnya ke dalam dosa, maka manusia kehilangan kebebasannya. Sejak saat itulah manusia menjadi tawanan si jahat. Tidak ada manusia yang dapat menemukan jalan untuk dapat kembali kepada Allah dengan usahanya sendiri.

Oleh karena manusia telah terjerat dalam dosa dan harus dibebaskan, tetapi manusia tidak dapat membebaskan dirinya sendiri, maka Allah mengaruniakan kebebasan kepada manusia yang pertama, melalui jasa kurban kematian Tuhan Yesus pada kayu salib (Luk. 4:18-19, Gal. 5:1, Yoh. 8:36). Dengan cara inilah Kristus memberikan kemerdekaan kepada manusia.

Kemerdekaan dan kebebasan manusia dari dosa ini, hanya dapat dialami, jika mereka percaya kepada Yesus Kristus dan menerima sakramen-sakramen yang disediakan bagi mereka. Melalui baptisan, dosa asal kita dihapuskan dan terbukalah akses untuk dapat memiliki persekutuan dengan Allah Sang Bapa.

Tetapi, oleh karena kencederungan untuk berbuat dosa masih ada pada manusia, maka, kemerdekaan yang tiap kali diberikan Kristus kepada kita, dapat hilang dan hilang lagi. Barulah di dalam ciptaan yang baru, kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah, pada akhirnya akan menjadi kenyataan yang sempurna (Rm. 8:20-22).

Kemerdekaan = Egois, hanya untuk mengasihi diri sendiri?

Banyak orang berpikir bahwa kemerdekaan adalah suatu kesempatan untuk melakukan segala sesuatu semaunya sendiri, tanpa ada yang melarang dan bersikap egois, serta bebas menjalani semua hal yang mungkin, yang ditawarkan oleh dunia. Mereka berpikir bahwa mereka dapat melakukan apa pun yang mereka inginkan, tanpa berpikir tentang konsekuensi-konsekuensinya.

Mari kita ambil contoh tentang hubungan suatu pasangan. Dalam hal ini, seseorang dapat saja berkata, “Saya dapat dan boleh melakukan segala hal, karena pasangan saya mengasihi saya. Dan ia akan mengampuni saya, meski apa pun yang saya lakukan.”

Meski hal ini mungkin benar, tetapi sikap sedemikian tidaklah menunjukkan suatu hubungan yang dilandasi oleh kasih, melainkan mencerminkan adanya penyalahgunaan kasih oleh pribadi yang lain, dan justru akan dapat menghancurkan hubungan itu. Seseorang yang berusaha untuk memenuhi semua keinginan dan hasratnya secara sembrono, juga akan dapat menghancurkan hubungannya, baik dengan Allah dan sesama kita.

Kemerdekaan, untuk mengasihi

Allah telah memanggil kita untuk memperoleh kemerdekaan. Seperti halnya ikan yang membutuhkan air, manusia juga membutuhkan Allah. Allah merupakan suatu elemen yang oleh-Nya, manusia dapat hidup. Siapa pun yang ingin merdeka, pada akhirnya harus menjalani sebuah kehidupan bersama Allah! Jadi untuk dapat sungguh-sungguh merdeka dibutuhkan persekutuan yang penuh kasih dengan Allah, bukan dengan sikap egois. Kemudian ia harus menjadikan sifat Allah sebagai
gambar Allah dan wakil Allah di dalam ciptaan.

Kristus menunjukkan kepada kita, bagaimana kita dapat mengasihi orang lain dengan sungguh-sungguh. Di dalam prosesnya, menjadi jelaslah, bahwa kemerdekaan dan kasih saling berkaitan. Kapan pun, kita hendaknya selalu dapat bertanya, apakah kita sebaiknya melakukan sesuatu atau tidak. Untuk memutuskannya, marilah kita tanyakan pertanyaan-pertanyaan berikut ini kepada diri kita.

  • Apakah ini akan meningkatkan persekutuan saya dengan Allah ataukah justru akan memisahkan saya dari Dia? 
  • Apakah ini mencerminkan pikiran dan roh Kristus?
  • Apakah ini diinspirasi Roh Kudus?
  • Apakah ini akan membangun sesama saya, dan akan bermanfaat baginya?
  • Apakah ini berguna untuk kemajuan sidang jemaat saya?

Di sinilah pentingnya dan perlunya, hikmat Allah.

Lebih jauh lagi, ketika dari pertanyaan-pertanyaan yang kita ajukan seperti di atas, kita berkesimpulan bahwa apa yang akan kita lakukan adalah sesuatu yang baik, masih diperlukan lagi-pertanyaan-pertanyaan berikutnya,

  • Bagaimana saya harus melakukannya?
  • Kapan saya harus melakukannya? 
  • Dimana saya harus melakukannya?

Mari kita ambil contoh. Ketika kita akan membuat roti, kita bisa saja menambahkan segala macam bahan yang menurut kita baik, ke dalam adonan. Tapi bagaimanakah nanti jadinya, kalau semua itu dilakukan dengan semaunya sendiri, tanpa memperhitungkan, takarannya, kapan diberikan dan bagaimana cara mencampurkannya? Apakah nanti akan menghasilkan roti dengan rasa yang enak?

Memamg kita dapat menjalani suatu kehidupan dengan ambisi-ambisi yang besar dan egoistis. Tetapi, jika hal ini dilakukan, sebagai hasilnya, akankah yang engkau harapkan akan terpenuhi? Kemungkinan besar, itu tidak akan dapat dinikmati baik untuk dirimu, maupun orang lain.

Ada resep-resep yang sudah dicoba dan diuji, yang menjamin roti yang akan dibuat menjadi enak. Demikian juga ada resep yang telah dicoba dan diuji untuk suatu kehidupan yang berhasil dan memenuhi apa yang kita harapkan, yaitu Injil Kristus!
Dalam resep itu tertulis "Kasihilah Allah dan kasihilah sesamamu, sama seperti engkau mengasihi dirimu sendiri", maka engkau akan melakukan hal-hal yang benar dan apa yang kita harapkan dalm kehidupan, akan berhasil kita raih.

Amin.

Jumat, 10 Januari 2020

Melayani Tuhan dan Sesama

NAS ALKITAB

“Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situpun pelayan-Ku akan berada. Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa” (Yoh. 12:26).

Pengajaran

Kita dipilih dan dipanggil oleh Tuhan, untuk mengikuti teladan-Nya. Pada kesempatan ini, teladan yang diajarkan kepada kita adalah dalam hal melayani:
Bagaimana Ia melayani Sang Bapa dan sesama?
Ketika Ia melayani Sang Bapa, Ia menyatakannya dengan cara melakukan kehendak-Nya, menyatakan firman-Nya, dan melakukan pekerjaan-pekerjaan-Nya.
Meski sebagai Allah yang sejati, Yesus pun adalah juga manusia yang sejati. Itulah sebabnya Ia pun memberi teladan kepada kita, bagaimana hendaknya kita melayani sesama. Pelayanan Tuhan Yesus kepada manusia yang paling agung adalah ketika Ia mengurbankan hidup-Nya untuk keselamatan mereka (Mat. 20:28).

Setiap anak Allah juga dipilih dan dipanggil untuk melayani Allah dan sesama, dan juga untuk bersumbangsih bagi rencana keselamatan ilahi. Yang perlu dipahami dan dimengerti adalah bahwa Yesus adalah Tuan kita, dan kita adalah hamba-hamba-Nya. Oleh karena itu, Dialah yang mengatakan dan memerintahkan kita tentang apa yang harus dilakukan, di mana, dan kapan kita harus mengerjakan dan melakukannya. Kita juga harus memberi pertanggungan jawab kepada-Nya. Mari kita ingat akan perumpamaan-perumpamaan tentang talenta (Mat. 25:14-30) dan uang mina (Luk. 19:13-26).

Kita hendaknya juga dapat mengabdikan diri kita sepenuhnya bagi pelayanan-Nya (Mat. 6:24). Kepedulian, kebutuhan dan perhatian kita terhadap yang jasmani hendaknya tidak boleh menghalangi kita untuk melayani Kristus.

Apakah tugas kita?
Tugas kita adalah :
  • Memberitakan Injil, dalam perkataan dan perbuatan. 
  • Mengakui dan menyatakan iman kita dengan menyelaraskan hidup kita pada hukum ilahi. 
  • Berbuat dan melakukan pekerjaan-pekerjaan baik dan berbagi kepada sesama dengan harapan, orang lain dapat menemukan dan merasakan kasih Yesus kepada mereka, yang dinyatakan melalui perkataan dan perbuatan kita.
  • Mendukung tugas para Rasul untuk memberitakan kedatangan Tuhan kembali yang tidak lama lagi. Kita bersaksi tentang kedatangan-Nya kembali yang tidak lama lagi, melalui semangat yang kita perlihatkan dalam menerapkan firman Allah dalam perbuatan dan kesediaan kita untuk merukunkan diri dengan orang lain;
  • Tidak boleh menghakimi atau menghukum dengan cara apapun (Luk. 6:37).
Di manakah hendaknya kita bekerja?
Kita bekerja :
  • di dalam Gereja – Tuhan meminta umat-Nya untuk saling melayani;
  • di dalam lingkungan masyarakat – kita harus menunjukkan bahwa adalah selalu mungkin, untuk menerapkan Injil dalam kehidupan sehari-hari.
  • dekat dengan yang membutuhkan, yang terlupakan, orang asing, dipinggirkan dan yang ditolak.
Kapan?
  • Di saat-saat kita hidup bahagia. Ketika Tuhan menghadiri pesta perkawinan di Kana, Ia tidak lupa akan misi-Nya.
  • Di saat-saat kita hidup dalam kesulitan. Meskipun saat itu Tuhan ada pada kayu salib, Yesus masih memerhatikan nasib sesama-Nya;
  • Sampai Tuhan datang kembali.
Mereka yang menjawab panggilan ilahi ini dan kemudian dapat melayani dengan cara ini, akan memungkinkannya untuk dapat dibawa Tuhan bersama-Nya pada kedatangan-Nya kembali!

Amin 

Rusa dan Singa - Fokus pada Keselamatan

Mari kita renungkan ilustrasi tentang  *RUSA dan SINGA*

● Kecepatan lari rusa, bisa mencapai 90 km/jam.
● Kecepatan lari singa sebenarnya cuma 58 km/jam.

Jadi sebenarnya kecepatan lari ke 2 binatang ini berbeda jauh sekali.
Anehnya justru seringkali, singa begitu gampang memburu rusa dan memangsanya.

Kok Bisa?

Ketika mengetahui seekor singa mengintai dan memburunya, seekor rusa berlari secepat angin untuk menyelamatkan dirinya. Tapi dalam waktu yang bersamaan, ada beberapa hal yang justru membuatnya dapat tertangkap dan dimangsa singa

  • rusa merasa yakin betul, bahwa singa akan dapat memangsanya.
  • rusa merasa bahwa dirinya lemah dibandingkan dengan singa.
  • rusa juga berpikir MUSTAHIL dirinya bisa lolos dari sergapan singa.


Ketakutan rusa pada singa dan keyakinan bahwa dirinya tidak akan lolos dari terkaman singa, menjadikan rusa, saat berlari, senantiasa melihat atau menoleh ke belakang, untuk memantau seberapa jauh jarak singa yang ada di belakangnya.

Kebiasaan menoleh ke belakang ini berpengaruh sangat negatif terhadap kecepatan lari rusa. Tanpa di sadari, kebiasàn itu menyebabkan lari rusa semakin melambat dan membuat jarak dengan singa menjadi semakin dekat.

Dan selanjutnya singa MENYERGAP dan MEMANGSAnya, lalu melahapnya.
MATILAH si rusa tersebut.

Andai saja rusa tersebut tidak sering-sering melihat atau menoleh ke belakang, tapi fokus untuk menyelamatkan diri dengan terus berlari, niscaya rusa tersebut tidak akan MATI.

Kalau saja rusa mengerti betul titik KEKUATANnya ada pada KECEPATANnya,
niscaya dia akan SELAMAT dari cengkraman singa.

RENUNGAN:

Gambaran di atas mengingatkan kita akan isteri Lut, andaikan isteri Lut tidak menoleh ke belakang, melainkan fokus untuk menyelamatkan dirinya, sesuai yang diperintahkan, pastilah ia tidak akan mati menjadi tiang garam. (Kejadian 19:26).

Demikian juga dengan perjalanan kita untuk memperoleh keselamatan dan sampai pada kerajaan Sorga, janganlah kita selalu menoleh ke belakang, melainkan fokuslah pada tujuan kita, yaitu untuk memperoleh ke selamatan.

Iblis tetap akan mencari kelengahan kita dan menerkam kita bagaikan singa menerkam mangsanya. Oleh karena itu, "Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya. (1 Petrus 5:8)

Marilah kita tetap fokus pada tujuan kita, yaitu untuk memperoleh keselamatan. Jangan menoleh ke belakang.

Amin.

Nilai Diri

ALKITAB

"... bersukacitalah karena namamu terdaftar di sorga." (Lukas 10:20).

RENUNGAN

Seorang murid sedang membersihkan aquarium gurunya, ia memandang ikan arwana merah dengan takjub..
Tak sadar gurunya sudah berada di belakangnya...

"Kamu tahu berapa harga ikan itu?". Tanya sang guru..
"Tidak tahu". Jawab si murid...
"Coba tawarkan kepada tetangga sebelah". Perintah sang guru...
Ia memfoto ikan itu dan menawarkan ke tetangga..
Kemudian, ia kembali menghadap sang guru..
.
"Ditawar berapa nak?" tanya sang guru..
"50.000 Rupiah, pak ". Jawab si murid mantap..
.
"Coba tawarkan ke toko ikan hias!!". Perintah sang guru lagi..
"Baik pak". Jawab si murid, dengan rasa penasaran. Kemudia ia beranjak ke toko ikan hias.
.
"Berapa ia menawar ikan itu?". Tanya sang guru..
"800.000 Rupiah, pak". Jawab si murid dengan gembira, ia mengira sang guru akan melepas ikan itu..
.
"Sekarang coba tawarkan ke Si Fulan (hobbi koleksi ikan hias), bawa sertifikat ini sebagai bukti bahwa ikan itu sudah pernah ikut lomba". Perintah sang guru lagi..
"Baik guru". Jawab si murid. Kemudian ia pergi menemui si Fulan yang dikatakan gurunya. Setelah selesai, ia pulang menghadap sang guru.
.
"Berapa ia menawar ikannya?".
"Woow, ditawar 50 Juta Rupiah, pak".
.
Ia terkejut sendiri, mengetahui harga satu ikan yang sama bisa berbeda-beda..
.
"Nak, aku sedang mengajarkan kepadamu bahwa, kamu hanya akan dihargai dengan benar, ketika kamu berada di lingkungan yang tepat."
.
"Oleh karena itu, jangan pernah kamu tinggal di tempat yang salah, lalu kamu marah karena tidak ada yang menghargaimu. Mereka yang mengetahui *nilai* kamu itulah yang akan selalu menghargaimu...."```

PESAN

Seringkali sebagai anak-anak Allah, ketika kita berada di lingkungan masyarakat pada umumnya, kita dinilai begitu rendah, bahkan mungkin tidak memiliki nilai sama sekali dihadapan manusia.

Di kalangan orang yang lebih mengerti arti iman kepada Kristus dan arti Baptisan Suci, sebagai anak-anak Allah kita akan memiliki nilai yang lebih tinggi dihadapan mereka.

Kemudian, mari kita lihat bagaimana nilai kita sebagai manusia di hadapan Allah. Lihatlah, betapa bernilainya kita sebagai ciptaan Allah, dihadapan-Nya. Meskipun kita masih banyak memiliki kekurangan dan kelemahan, Allah tidak segan-segan menebus kita dengan harga yang sedemikian mahalnya. Betapa tidak?

Untuk "mendapatkan kita", agar kita dapat menjadi milik Allah, Ia telah membayar dengan sedemikian mahalnya. Tidak tanggung-tanggung, Allah mengutus putra-Nya untuk mempersembahkan kurban di atas kayu salib, demi membayar lunas, kita semua. Tuhan Yesus, menyatakan, "... bersukacitalah karena namamu terdaftar di sorga." (Lukas 10:20). Itulah nilai diri kita,

Rabu, 08 Januari 2020

Terang yang menyelamatkan

BACAAN ALKITAB

Maka Yesus berkata pula kepada orang banyak, kata-Nya: "Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup." (Yoh 8:12.)
Oleh :\-noeng-

Renungan

Tersesat di hutan, berbeda dengan tersesat di kota. Meskipun saat ini sudah banyak peralatan elektronik yang canggih, sarana komunikasi yang canggih dan petunjuk satelit, tetapi di dalam banyak kasus, tempat atau pun wilayah, belum tentu perangkat-perangkat tersebut ada atau tersedia. Terlebih bagi para petualang atau pecinta alam tradisionil, banyak yang tidak memiliki, tidak bisa dan tidak menggunakan sarana-sarana seperti di atas. Mereka hanya menggunakan kompas dan sarana-sarana yang sangat terbatas dan mungkin sedikit teori maupn pengalaman. Ditambah lagi, di dalam hutan tidak ada petunjuk seperti di dalam kota. Semua tampak sama.

April 1987, tujuh anak STM Jakarta tewas di hutan gunung gede. Team pencinta alam tempat saya berkuliah diminta batuan sebagai salah satu team pencari. Setelah berhari-hari pencarian akhirnya team menemukan mereka dalam keadaan tewas karena kecapaian dan lapar.

Yang menjadi pertanyaan, mengapa mereka semakin menjauh berjalan ke utara? Padahal kalau mereka berjalan sedikit ke selatan, mereka akan menemui tempat sembahyang, dan mereka pasti akan selamat.

Kami baru mengerti, ketika kami masih berada di tempat evakuasi dan pada saat itu sekitar jam 6, kami mendengar suara sembahyang yang di perbesar dengan pengeras suara. Suara sembayang itu ternyata menggema kemana-mana. Ketika kami dengarkan dengan baik, pusat suara seakan-akan berada di utara, padahal sumbernya ada di selatan. Mereka tewas karena mengikuti sumber suara yang salah.

Berbeda dengan yang kami lakukan ketika tersesat di hutan. Sore hari pimpinan rombangan kami si Poltak memilih pohon yang paling tinggi dan kami beristirahat di situ. Ketika hari mulai gelap Poltak mulai naik sampai puncak pohon, ketika dia turun, dia katakan “kita selamat”
“Darimana kau tahu?” kataku
“Aku melihat cahaya, *Dimana ada cahaya, disitu pasti ada manusia, dimana ada manusia pasti ada KEHIDUPAN* .” katanya.
“Titik koordinat telah aku kunci di kompas” sekian lintang utara, lintang selatan, bujur barat dan bujur timur.

Akhirnya kami berusaha menuju ke titik koordinat itu. Dari titik koordonat itu, mestinya kami harus menuju ke barat. Tetapi karena ada hambatan sungai, jurang dan lainnya, membuat kami sementara harus memutar ke utara. Dan pada titik tertentu, setalah medan memungkinkan, kami kembali berusaha menuju ke barat lagi. Akhirnya kami menemui sebuah rumah yang dihuni satu keluarga. Kami bisa beristirahat, makan dan minum. Kesesokan harinya mereka memimpin kami ke posko terdekat.

PESAN

Dimana ada terang..., Disitu ada kehidupan.
Tuhan Yesus berkata “Akulah TERANG dunia”. Dalam hal ini, Tuhan Yesus sebenarnya menawarkan kepada kita, TERANG itu. Pernyataan ini berarti juga menawarkan KEHIDUPAN. Hanya saja tidak semua manusia menyukai terang yang Tuhan, tawarkan. Banyak manusia lebih menyukai kegelapan.

Dan inilah hukuman itu: “Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat.” (Yoh 3:19)

Dari Tujuh kalimat “Akulah...” dalam Injil Yohanes, tidak sekali pun, Tuhan mengatakan “Akulah suara...”

Melainkan :
"Akulah pintu..." (Yohanes 10:7, 9)
“Akulah gembala yang baik…..” , (Yohanes 10: 11, 14)
“Akulah jalan dan kebenaran dan hidup….. “, (Yohanes 14:6)
"Akulah pokok pohon anggur….”, (Yohanes 15: 1, 5)
“Akulah Roti hidup….” , (Yohanes 6: 35, 48, 51)
“Akulah terang dunia…..” (Yohanes 8:12; 9:5)
"Akulah Kebangkitan dan hidup..." (Yohanes 11:25)

Karena suara-suara dapat menyesatkan….. , bahkan Tuhan meminta kita waspada terhadap suara-suara yang mengatakan “mesias disini, mesias disitu….” Karena jika tidak memancarkan terang yang Allahi, maka mereka hanyalah mesias-mesias dan nabi-nabi palsu.

Markus 13
(21) Pada waktu itu jika orang berkata kepada kamu: Lihat, Mesias ada di sini, atau: Lihat, Mesias ada di sana, jangan kamu percaya.
(22) Sebab Mesias-mesias palsu dan nabi-nabi palsu akan muncul dan mereka akan mengadakan tanda-tanda dan mujizat-mujizat dengan maksud, sekiranya mungkin, menyesatkan orang-orang pilihan.

Suara dapat menyesatkan, tetapi TERANG akan menyelamatkan, akan membawa kita pada kehidupan. Dan selama Tuhan Yesus ada di dunia , maka Dia lah sang Terang itu.

“*Selama Aku di dalam dunia, Akulah terang dunia*." Yohanes 9:5

Dan Tuhan tahu bahwa tugasnya di dunia ini tidak lama, oleh karena itu Tuhan harus “mendelegasikan terangNya”, agar orang-orang yang tersesat dapat segera ditemukan. “Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi.” (Matius 5:14).

Saudaraku apakah kita sedang tersesat? Jika ingin selamat, carilah TERANG itu, carilah Tuhan Yesus, maka engkau akan hidup. Saat ini Tuhan telah mendelegasikan tugas dan wewenang-Nya kepada para Rasul-Nya. "Sama seperti Engkau telah mengutus Aku ke dalam dunia, demikian pula Aku telah mengutus mereka ke dalam dunia." (Yohanes 17:18) "...Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu." (Yohanes 20:21).

Pandanglah Tuhan Yesus di dalam para rasulnya. Karena Tuhan berfirman kepada para rasulNya. Tuhan telah mendelegasikan terang pada para RasulNya. Amin….

Maranatha…..

Minggu, 05 Januari 2020

"Legalisasi" Kebohongan

Kita mungkin pernah mendengar atau membaca kisah ini

Al Kisah, Abu Nawas berjalan di tengah pasar, sambil melihat ke dalam topinya, lalu tersenyum bahagia. Orang-orang pun heran, lalu bertanya;

“Wahai saudaraku Abu Nawas apa gerangan yang engkau lihat ke dalam topimu yang membuatmu tersenyum bahagia?”

“Aku sedang melihat surga yang dihiasi barisan bidadari.” Kata Abu Nawas dengan ekspresi meyakinkan.

“Coba aku lihat?” Kata salah seorang yang penasaran melihat tingkah Abu Nawas.

“Tapi saya tidak yakin kamu bisa melihat seperti apa yang saya lihat.” Kata Abu Nawas.

“Mengapa?” Tanya orang-orang di sekitar Abu Nawas yang serempak, karena sama-sama semakin penasaran.

“Karena hanya orang beriman dan sholeh saja, yang bisa melihat surga dengan bidadarinya di topi ini.” Kata Abu Nawas meyakinkan.

Salah seorang mendekat, lalu berkata; “Coba aku lihat.”

“Silahkan” kata Abu Nawas”

Orang itu pun bersegera melihat ke dalam topi, lalu sejenak menatap ke arah Abu Nawas, kemudian menengok ke orang di sekelilingnya.

“Benar kamu, Aku melihat surga di topi ini dan juga bidadari. Subhanallah!” Kata orang itu berteriak.

Orang-orang pun heboh ingin menyaksikan surga dan bidadari di dalam topi Abu Nawas, tetapi Abu Nawas mewanti-wanti, bahwa hanya orang beriman yang bisa melihatnya, tetapi tidak bagi yang kafir.

Dari sekian banyak yang melihat ke dalam topi, banyak yang mengaku melihat surga dan bidadari tetapi ada beberapa di antaranya yang tidak melihat sama sekali, dan berkesimpulan Abu Nawas telah berbohong.

Mereka pun melaporkan Abu Nawas ke Raja, dengan tuduhan telah menebarkan kebohongan di tengah masyarakat.

Akhirnya, Abu Nawas dipanggil menghadap Raja untuk diadili.

“Benarkah di dalam topimu bisa terlihat surga dengan bidadarinya?”

“Benar paduka Raja, tetapi hanya orang beriman dan sholeh saja yang bisa melihatnya.

Sementara yang tidak bisa melihatnya, berarti dia belum beriman dan masih kafir.

Kalau paduka Raja mau menyaksikannya sendiri, silahkan..” Kata Abu Nawas.

“Baiklah, kalau begitu saya mau menyaksikannya sendiri.” Kata Raja.

Tentu, Raja tidak melihat surga apalagi bidadari di dalam Topi Abu Nawas.

Tapi Raja lalu berpikir, kalau ia mengatakan tidak melihat surga dan bidadari, berarti ia termasuk tidak beriman.

Akibatnya bisa merusak reputasinya sebagai Raja.

Maka, Raja itu pun berteriak girang: “Engkau benar Abu Nawas aku menyaksikan surga dan bidadari di dalam topimu."

Rakyat yang menyaksikan reaksi Rajanya itu, lalu diam seribu bahasa dan tak ada lagi yang berani membantah Abu Nawas.

Mereka takut berbeda dengan Raja, karena khawatir dianggap dan di cap kafir atau belum beriman.

Akhirnya, konspirasi kebohongan yang ditebar oleh Abu Nawas, mendapat legitimasi dari Raja.

Boleh jadi, dalam hati, Abu Nawas tertawa sinis sambil bergumam; beginilah akibatnya kalau ketakutan sudah menenggelamkan kejujuran, maka kebohongan pun akan merajalela.

Ketika keberanian lenyap dan ketakutan telah menenggelamkan kejujuran, maka kebohongan akan melenggang kangkung sebagai sesuatu yang “benar.”

Ketakutan untuk berbicara jujur, juga karena faktor gengsi. Gengsi dianggap belum beriman, atau dengan alibi/alasan lainnya.

Padahal, label gengsi itu hanyalah rekayasa opini publik yang dipenuh kebohongan.

Kepercayaan diri sebagai pribadi yang mandiri untuk berkomitmen pada kebenaran berdasarkan prinsip kejujuran, telah dirontokkan oleh kekhawatiran label status yang sesungguhnya sangat subyektif dan semu.

Kecerdikan konspirasi (kebohongan) opini publik Abu Nawas, telah menumbangkan kebenaran dan kejujuran.

*_Akhirnya, kecerdasan tanpa kejujuran dan keberanian, takluk di bawah kecerdikan yang dilakonkan dengan penuh keberanian dan kepercayaan diri meski pun itu adalah kebohongan yang nyata._*

Kasus legitimasi kebohongan versi Abu Nawas, bisa saja telah terjadi disekitar kita. Tentu, dengan aneka versi dan berbagai alasan yang melatar-belakanginya.

Kalau kebohongan itu untuk suatu tujuan yang "baik", orang sering menyebutnya sebagai kebohongan putih. Sebagaimana Abraham (Kejadian 20), Iskhak (Kejadian 26) dan Petrus (Matius 26:69-75), dengan berbagai alasan yang melatar belakangi, seperti ketakutan, rasa sungkan dan lain-lain, jujur kita pun melakukannya. Nasihat Tuhan, "Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu" (Keluaran 20:16) tetaplah berlaku, termasuk juga untuk "kebohongan putih". Kesadaran bahwa kita telah melakukan suatu kebohongan termasuk kebohongan putih, dengan berbagai alasan yang melatar-belakangi, janganlah hal itu menjauhkan kita dari Allah. Datanglah kepada-Nya. Selain Tuhan, Allah Sang Bapa kita akan mengampuni kita, Ia pun menasihati, "...Jangan berbuat dosa lagi..." (Yohanes 8:11)

Tinggalkan kebohongan, termasuk di dalamnya, kebohongan putih. Masih ada waktu dan kesempatan untuk bertobat, maka bersegeralah kita bertobat.

Halaman yang hilang

Renungan

Seorang guru bertanya kepada muridnya tentang pelajaran sejarah dunia.

Guru : "Adi, siapakah Barack Obama itu?"
Adi : "Penjual es krim, Pak."

Guru tersebut terkejut mendengar jawabannya. Ia pun bertanya sekali lagi, dan si murid tetap memberikan jawaban yang sama. Ia kembali mengulang, dan jawaban yang diberikan pun tetap sama. Sang guru akhirnya mengatakan,

"Adi, bukankah biografi Barack Obama ada di buku paket. Apa kamu sudah membacanya?"

Adi : "Sudah, Pak. Barack Obama adalah penjual es krim!"

Oleh karena jawaban yang diberikan tetap sama, Sang guru menjadi tersulut emosinya mendengar jawaban seperti itu. Dengan nada agak keras, Ia perintahkan si murid mengeluarkan buku paket miliknya, dan membuka halaman tentang Obama.

Dengan ketakutan dan tergopoh-gopoh, dikeluarkanlah buku yang diminta gurunya. Pada buku si murid, ternyata biografi Obama hanya ada satu halaman. Kisah hidup Obama berhenti pada saat masih remaja. Di usia 16 tahun ia memperoleh pekerjaan sebagai pelayan kedai es krim di kota Honolulu, negara bagian Hawaii.

Melihat kenyataan itu, sang guru tersebut akhirnya bisa menyadari, ternyata pada buku si murid, halaman kedua tentang biografi Obama, hilang.

Mungkin tersobek tidak sengaja, atau bisa jadi salah cetak. Pantas ia tidak tahu kelanjutan sejarah hidup Obama hingga menduduki kursi presiden ke-44 di Amerika.

Di satu sisi, Guru tersebut benar, ketika ia menganggap bahwa Barack Obama adalah presiden Amerika ke 44. Karena kenyataannya memang demikian.

Tetapi muridnya juga benar karena sejauh yang ia baca, Obama adalah penjual es krim.

Jadi dalam cerita tersebut, keduanya sama-sama benar. Lalu mengapa terjadi perselisihan ?

Karena sang guru tidak menyadari, bahwa ada halaman pada buku si murid yang hilang. Ketika ia tahu, ia menjadi tersadar dan memaklumi jawaban murid tersebut.

Apa yang terjadi dalam kehidupan kita, sejatinya tidak jarang, juga serupa dengan kisah ini.

Kalau kita renungkan, hampir semua perbedaan pendapat antara dua orang, sebenarnya hanya disebabkan karena adanya "halaman yang hilang", seperti adanya perbedaan pengetahuan dan pemahaman, atau adanya perbedaan sudut pandang.

Saat seorang suami berselisih dengan istrinya, redamlah dulu emosi. Sebab yang perlu kita cari tahu adalah di mana "halaman yang hilang" itu.

Ketika orang tua berseberangan dengan anaknya, carilah dulu "halaman yang hilang" tersebut. Bukan langsung melampiaskan kemarahan kepada anak.

Karena dalam perbedaan pendapat belum tentu ada yang benar dan ada yang salah. Bisa jadi kedua pendapat benar. Namun menjadi berbeda, karena ada "halaman yang hilang" di antara keduanya.

Saudara- saudaraku....
Mari kita mencoba untuk saling *5M*, saling bisa memahami, menyadari, memaklumi, memaafkan dan memperbaiki diri. Dan untuk dapat berhasil dalam hal ini, mari kita senantiasa mohon hikmat Ilahi agar Allah memampukan kita untuk melakukan hal ini. Karena manusia sering kali kekurangan hikmat, Rasul Yakobus menasehatkan kita, "Tetapi apabila diantara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah, - yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit, - maka hal itu akan diberikan kepadanya. (Yakobus 1:5).

Kristus Memerdekakan

BACAAN ALKITAB

"Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan." (Gal 5:1)

PENGAJARAN

Moto  NAC Internasional th. 2020 adalah “Kristus Memerdekakan”. Apa sesungguhnya makna “merdeka" dalam Kristus dan mengapa hal ini penting bagi kita, sehingga dijadikan moto bagi Gereja? Berikut penjelasannya

Hanya Allah yang sungguh-sungguh "merdeka”. Allah adalah Maha Kuasa. Ia mampu melakukan apa saja yang dikehendak-Nya. Ia sempurna. Ia tidak berkekurangan sesuatu apapun. Kemerdekaan-Nya juga dinyatakan di dalam kasih-Nya yakni dengan mengasihi umat manusia tanpa syarat dan tidak menuntut balas.

Yesus Kristus di dalam kemanunggalan dengan Bapa-Nya juga memiliki kemerdekaan yang sempurna atau sejati. Ia merdeka atau bebas dari segala dosa, kejahatan tidak berkuasa atas Dia, Yesus berkata: “sebab penguasa dunia ini datang dan ia tidak berkuasa sedikitpun atas diri-Ku.” (Yoh. 14:30). Ia memberikan nyawanya untuk domba-domba-Nya dengan rela, “Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali. (Yoh.10:18b) Ia menyatakan kebenaran Injil kepada dunia, tanpa rasa takut. (Yoh.18:20) Setelah kebangkitan-Nya, Ia mengenakan Tubuh Kebangkitan yang sempurna dan abadi, sehingga Ia terbebas dari keterbatasan serta memiliki hidup kekal.

Karena Kristus sendiri adalah merdeka, maka Ia mampu memerdekakan setiap umat manusia. Semua orang pada dasarnya telah terbelenggu oleh dosa, dan manusia dengan kekuatannya sendiri tidak mampu untuk memerdekakan dirinya. Oleh karena seseorang tidak mungkin bisa memerdekakan dirinya sendiri dari dosa, apalagi memerdekakan orang lain. Yesus Kristus dengan kurbannya telah mengalahkan dosa dan maut. (bandingkan 1 Kor.15: Kebangkitan tubuh). Umat manusia telah ditebus atau dibeli dengan harga yang mahal, bukan dengan emas atau perak tetapi dengan darah-Nya. Kini orang yang percaya tidak lagi menjadi hamba atas dosa, tetapi menjadi "hamba Allah". Maka setelah kita dimerdekakan, Rasul Petrus menyerukan: "Hiduplah sebagai orang merdeka dan bukan seperti mereka yang menyalahgunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi kejahatan-kejahatan mereka, tetapi hiduplah sebagai hamba Allah."  (1 Petrus 2:16). Kemurahan atau rahmat Allah dilembagakan di dalam tindakan Baptisan Air dan Roh. Baptis Kudus membebaskan kita dari dosa asal dan mengaruniakan kita jalan masuk menuju persekutuan dengan Allah. Tuhan akan datang untuk memerdekakan dan memuliakan umat pilihan- Nya (2 Tim.4:18)

Kristus bekerja untuk memerdekakan umat-Nya melalui Roh Kudus. Kita dimerdekakan tidak hanya untuk diampuni dosanya, tetapi untuk dikembalikan pada tujuan penciptaan manusia, yakni hidup dalam “kebenaran Allah” dan segambar dengan Allah yang mulia di dalam persekutuan kekal dengan Allah”  (2 Kor.3:17-18). Kemerdekaan dan keselamatan bagi umat manusia hanyalah kemurahan Allah, tidak seorang pun layak mendapatkannya. Kemerdekaan yang sempurna bukan hasil perjuangan manusia. "...Dia telah menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmat-Nya oleh permandian kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus, yang sudah dilimpahkan-Nya kepada kita oleh Yesus Kristus, Juru Selamat kita, supaya kita, sebagai orang yang dibenarkan oleh kasih karunia-Nya, berhak menerima hidup yang kekal, sesuai dengan pengharapan kita." (Titus 3:5-7).

Kemerdekaan atau pembebasan umat manusia diperoleh melalui penderitaan dan kematian Yesus di salib.  Kemerdekaan tersebut ditawarkan secara bebas pada umat manusia, maskipun sering manusia justru lebih memilih menerima kuk perhambaan, yakni segala nafsu akan harta dunia (Gal.5;1).

Kinerja Roh Kudus melepaskan kita dari ikatan dosa. "Roh, yang memberi hidup telah memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum maut." (Roma 8:2) dan “Sebab Tuhan adalah Roh; dan di mana ada Roh Allah, di situ ada kemerdekaan.” (2 Kor.3:17-18) Roh Kudus mendorong kita untuk:

  1. Bertobat, agar dibebaskan dari segala  kesalahan
  2. Mengampuni, sehingga hati kita tidak dikuasai amarah, kebenciaan dan dendam
  3. Menundukkan atau mengendalikan kuasa  dosa, sehingga  menjadi tuan  atas sikap kemarahan, iri hati dan segala nafsu dunia.

Mari kita jadikan th.2020 sebagai moment untuk kemerdekakan bagi jiwa kita, yakni memperkenankan diri kita untuk dimerdekakan oleh kuasa Allah di dalam Roh-Nya.

Amin.

Sabtu, 04 Januari 2020

Menahan keinginan Daging

BACAAN ALKITAB

Maksudku ialah: hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging. Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging - karena keduanya bertentangan - sehinga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang kamu kehendaki. Akan tetapi jikalau kamu memberi dirimu dipimpin oleh Roh, maka kamu tidak hidup di bawah hukum Taurat. Perbuatan daging telah nyata, yaitu percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan. sebagainya. Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu, seperti yang telah kubuat dahulu - bahwa barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah. (Galatia 5:16-21)

Renungan

Suku Bashkir yang berada di Rusia memiliki tradisi yang aneh dalam menjual tanah mereka. Jika orang-orang di banyak belahan dunia menjual tanah menurut ukuran luas, namun mereka menjualnya menurut ukuran waktu.

Harga tanah di wilayah suku Bashkir adalah 1000 rubel per-hari. Unik kan? Bukan per-meter ataupun per-hektar.

Maksudnya begini, calon pembeli cukup membayar 1000 rubel kepada kepala suku, kemudian ia dipersilahkan berlari sejauh-jauhnya saat matahari terbit dan ia harus kembali lagi ke titik semula saat matahari terbenam. Maka luas tanah yang berhasil ia kelilingi sepanjang hari itu akan menjadi miliknya!

Suatu hari seorang lelaki bernama Pahom datang dari negeri jauh, demi mendapatkan tanah yang luas dengan harga yang terjangkau. Ia lantas melakukan transaksi kepada kepala suku sebesar 1000 rubel, lalu disepakatilah hari pengukuran tanahnya.

Pada saat hari yang ditentukan itu tiba, seluruh penduduk suku Bashkir berkumpul di titik awal. Tepat saat matahari terbit, Pahom mulai berlari. Ia bersemangat sekali karena sepanjang tanah yang ia pijak itu kelak akan menjadi miliknya. Alangkah mudahnya!

Lelaki itu sesekali melihat ke belakang, ternyata titik awal sudah begitu jauh. Betapa gembira rasanya melihat calon tanah kekayaannya akan seluas itu. Cukup untuk membangun rumah yang sangat besar dengan pekarangan yang amat lebar.

Pahom ingin mengakhiri perjalanannya. Ia tinggal berlari membentuk rute melingkar ke arah pulang. Tetapi dilihatnya di depan sana kebun-kebun suku Bashkir yang subur dan ranum buahnya. Bukankah ia cukup berlari melewati kebun itu, nanti secara otomatis akan menjadi miliknya?

Maka Pahom memutuskan berlari maju kembali. Semakin terkejut saat di depan kebun terhampar sungai indah yang jernih airnya. Tentu ia semakin tergiur. Rumah besar, kebun ranum, dan sungai jernih akan menjadi miliknya. Pahom terus berlari.

Di seberang sungai, berdiri kokoh bukit hijau yang sedap dipandang mata. Pahom masih punya waktu sampai matahari tenggelam, ia hanya perlu berlari lebih jauh lagi, maka ia akan menjadi pemilik bukit! Pahom terus berlari dan berlari. Hingga akhirnya napasnya tersengal-sengal. Ia terjatuh kelelahan. Tak lama kemudian ia meninggal dunia kehabisan napas!

Demikianlah ringkasan dari sebuah cerpen fiksi karangan sastrawan Rusia, Leo Tolstoy, yang berjudul How Much Land Does A Man Need. Nilai moral dari cerpen tersebut adalah manusia yang tidak pernah puas, ternyata justru tidak mendapatkan apa-apa.

Di sini adalah penting untuk memahami apa yang dimaksud dengan keinginan daging. Sebab dengan memahami maksud dari keinginan daging, maka kita akan mengerti bagaimana hidup menurut Roh. Dalam Roma 8:5-8, tertulis: "Sebab mereka yang hidup menurut daging, memikirkan hal-hal yang dari daging; mereka yang hidup menurut Roh, memikirkan hal-hal yang dari Roh. Karena keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera. Sebab keinginan daging adalah perseteruan terjadap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya. Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah."

Kata " keinginan" dalam teks aslinya adalah phroneo, yang berarti "the way of thinking" (cara berpikir) atau mindset (pola pikir), yaitu cara menerima sesuatu, memproses, menganalisa dan mempertimbangkan untuk selanjutnya membuat keputusan.

Selanjutnya, seperti yang telah tersebut di atas, yang dimaksud keinginan daging, tidak hanya dimaksudkan gairah, hasrat seksual, tetapi lebih pada cara bertindak sebagai tindak lanjut dorongan kebutuhan daging, jasmani atau nafsunya. Sebagai akibatnya, tindakan-tindakan yang dilakukannya tidaklah sesuai dan sejalan dengan kehendak dan pikiran Allah.

Orang yang hidup menurut daging, berarti tidak hidup dalam pimpinan Roh kudus, sehingga ia bukanlah atau tidak dapat disebut sebagai anak-anak Allah (Roma 8:14). Meskipun demikian bukan berarti bahwa mereka pasti orang jahat. Mereka mungkin masih bisa berbuat baik sesuai dengan norma yang ada atau adat-istiadat maupun tradisi yang ada. Tetapi apa yang dipikirkan, tidaklah sejalan dengan kepikiran Allah.

Sebenarnya kita semua bisa hidup bahagia dengan apa yang kita miliki saat ini. Namun karena keinginan daging yang tertuang dalam pola pikir atau cara berpikir yang tidak sejalan dengan kehendak Allah, maka yang muncul adalah sifat yang tak pernah merasa cukup, kita selalu menginginkan apa yang tidak kita miliki. Akibatnya, kebahagiaan tersebut menjadi pudar.

Oleh karena itu, mari belajar menghargai setiap karunia kenikmatan yang telah Allah berikan kepada kita. Jangan melihat besar kecilnya karunia kenikmatan tersebut, karena akan membuat kita tidak pernah bersyukur. Tetapi lihatlah siapa Sang Pemberi karunia kenikmatan itu, maka kita akan mengerti betapa besar karunia itu dan itu adalah bukti kasih sayang Allah kepada anak-anak-Nya. 

Jumat, 03 Januari 2020

Nabiah

Nabiah adalah sebutan bagi para nabi perempuan. Seperti halnya dengan para nabi, dimana ada yang disebut sebagai nabi-nabi palsu, yang  dimaksud di sini, adalah nabi-nabi yang tidak menyembah kepada Allah, seperti nabi-nabi baal dan nabi-nabi Asyer, ada juga nabiah-nabiah palsu yang tersebut dalam Alkitab, seperti Noaja dan wanita Izebel. 

Ada beberapa nama nabiah dan nabiah palsu, yang tercatat dalam Alkitab Ibrani dan Alkitab Perjanjian Lama. Sedangkan di Alkitab Perjanjian Baru hanya ada satu nama nabiah, yaitu Hana dan satu nabiah palsu, yaitu IzebelMereka memiliki cara hidup, peran dan fungsi yang sama sebagaimana para nabi laki-laki. 
Menurut tradisi Israel sendiri, dan menurut Talmud ada tujuh perempuan yang perannya dalam sejarah cukup menonjol, dan dihitung sebagai nabiah, yaitu: Sara, Miriam, Debora, Hana (ibu dari nabi Samuel), Abigail (istri Raja Daud), Hulda (zaman nabi Yeremia), dan Ester. Sedangkan di dalam tulisan Rashi ada beberapa wanita yang disebut sebagai nabiah seperti Ribka, Rahel, dan Lea.

Nabiah Dalam Perjanjian Lama

Dalam kitab Perjanjian Lama hanya ada 3 orang yang secara eksplisit disebut sebagai nabiah, yaitu: Miriam (Keluaran 15:20), Debora (Hakim-hakim 4:4), dan Hulda (2 Raja-raja 22:4).

1. Miriam

Miriam adalah salah satu nabiah yang tertulis dalam kitab Perjanjian Lama (Keluaran 15:20). Ia adalah anak dari Amram dan Yokhebed, kakak perempuan dari Musa dan Harun. Dialah yang memimpin kaum perempuan untuk mendukung !usa, saat perjalanan keluar dari mesir menuju kenegeri perjanjian, Kanaan. Seperti halnya Musa, ia juga meninggal sebelum ia bisa masuk ke negeri Kanaan. 

2. Debora

Debora adalah isteri Lapidot dan seorang hakim yang memimpin umat Israel ke medan peperangan bersama Barak (Hakim-hakim 4:4 ; 5:2-31)

3. Hulda

Hulda adalah  nabiah pada masa pemerintahan Yosua. Ia sering ditanyai oleh para pembesar kerajaan raja Yosua mengenai kehendak Allah yang berkaitan dengan kitab Taurat yang ditemukan di Bait Suci. Ia juga berperan sebagai pembawa berita penghukuman (2 Raja-raja 222 Tawarikh 34)

Nabiah Dalam Kitab Perjanjian Baru

Hana

Hana adalah seorang nabiah yang hidup pada masa Yesus Kristus masih kanak-kanak. Hanya Injil Lukas yang memuat tentang Nabiah Hana. Injil Lukas 2:36-38, memuat kisah seorang nabiah berusia 84 tahun, yang bernama Hana, anak Fanuel, dari suku Asyer, yang menyambut Yesus sebagai Mesias di Bait Allah di Yerusalem. Ia juga mengingatkan akan nubuat dan berbicara tentang Anak itu, kepada semua orang yang menantikan kelepasan untuk Yerusalem


Nabiah Palsu

Dalam Alkitab tercatat 2 nama nabiah palsu yaitu Noaja dan wanita Izebel. Nama Noaja tercatat di dalam kitab Nehemia 6:14. Ketika Nehemia sedang menyelesaikan pembangunan tembok Yerusalem, Noaja bersama-sama Tobia, Sambalat dan nabi-nabi yang lain berusaha menakut-nakuti Nehemia. 

Sedangkan  dalam kitab Wahyu 2:20, disebutkan Izebel sebagai seorang nabiah palsu, karena wanita Izebel ini mengajarkan dan menyesatkan hamba-hamba Allah supaya berbuat zinah dan makan persembahan-persembahan berhala.

Indahnya Memberi - Indahnya Berbagi. Bahagianya Memberi

Seorang dosen yang dikenal bijaksana, tengah berjalan santai bersama seorang mahasiswa di taman kampus. Tidak lama keduanya melihat ada sepa...